You're Not A Monster
Naruto © Masashi Kishimoto
Story by C.M.A
Sejak hari itu, Naruto tidak lagi memakai wax di rambutnya dan itu membuat pesonanya yang dulu tersembunyi terpancar bebas sehingga menyebabkan merebaknya demam cinta di kalangan siswi KEBS. Beberapa bahkan mulai bertingkah ekstrem seperti mencegat pemuda itu di tengah jalan untuk meminta nomer HP atau alamat surelnya.
"Kau ternyata lebih mengerikan ya," ucap sebuah suara dari arah samping saat Naruto sedang berusaha menikmati makan siangnya dengan tenang. Ia pun menoleh dan mendapati teman sekamarnya sudah duduk di sebelahnya dengan nampan makan siang terhidang di depannya.
"Bagaimana latihannya?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan. Ia sudah mengerti maksud ucapan si Uchiha berambut aneh itu tanpa harus bertanya. Terakhir kali, mereka terpaksa bangun saat ada seorang siswi berusaha menyusup ke kamar mereka untuk mencuri barang pribadi milik Naruto.
Wajah stoic pemuda di sebelahnya berubah masam dan gerakan tangannya terhenti. Dengan kesal ia melempar sumpitnya. "Aku akan membalasnya." Geramnya dengan gigi bergemeletuk.
Naruto mengulum senyum. Bagaimana tidak lucu jika teman satu klub—sekaligus satu-satunya—sejak ia SMP itu yang juga berada setingkat di bawahnya dalam urutan kemampuan dalam karate, dikalahkan oleh seorang gadis. Yap. Gadis. Tentu saja itu membuat si Uchiha meledak—di dalam tentu saja, ia terlalu cool untuk mengumbar emosi sembarangan.
"Jadi kalah lagi ya?" Naruto menumpuk piring makannya dan menghabiskan susunya. "Ya sudah kalau begitu. Mungkin sudah takdirmu dikalahkan olehnya."
SRINGGG
"Aku seorang Uchiha—"
"Harga dirimu terlalu tinggi? Ya ya, aku tahu." Naruto memotong ucapan temannya itu. "Memang apa salahnya sih dikalahkan perempuan?"
"Mudah bagimu bicara." Sasuke menyuap dengan gerakan kaku. "Kuharap kau kena karma. Sudah waktunya kau dikalahkan seseorang."
"Hei! Aku kan cuma mencoba menghibur!"
"Sudahlah! Kita bicarakan yang lain! Kau juga hanya menghindari topik pembicaraanku tadi kan?!" Sasuke mendelik kesal. "Aku jadi ikut kesusahan tau akibat kepopuleranmu yang tak wajar itu. Aku sampai harus membeli gembok untuk melindungi lemariku."
Naruto mengerutkan alis. Temannya ini bicaranya semena-mena. Memangnya hanya dirinya saja yang dikerumuni fans? Coba lihat ke meja sebelah sana. Hampir dua lusin siswi menatap kagum dengan aura lovey dovey menguar ke arah Sasuke. Huh.
"Ini pasti ada alasannya dengan penampilan barumu. Siapa yang menyuruhmu ganti gaya? Hanata?"
"Hinata." Naruto membenarkan. Ia mendengus pelan. Memang benar ini karena saran gadis itu. Naruto juga tak mengerti mengapa mudah sekali dirinya terpengaruh ucapan gadis itu. Yang ia tahu ia merasa lega—entah mengapa—saat gadis itu bilang kalau matanya sangat indah.
"Yang mana sih orangnya? Aku tidak tahu." Sasuke melirik ke arah sekitar seolah ia tahu seperti apa orang yang dicarinya.
"Dia anak pendidikan, bukan olah raga." Kata Naruto sambil menoleh ke arah Sasuke. Yang dipandang ternyata sedang menatap ke arah lain. Tepatnya ke arah seorang gadis pembawa petaka dalam karir olah raganya. Matanya semakin terbelalak besar saat dilihatnya gadis itu melangkah mendekat ke arah meja mereka.
Naruto yang mengikuti arah pandang Sasuke terkejut mendapati Sakura yang sudah berdiri di hadapan mereka. Gadis itu menoleh ke belakang punggungnya dan melempar death glare entah pada siapa sebelum kembali menatap mereka.
"Apa kursi ini kosong?" tanyanya cepat sambil menunjuk kursi-kursi yang mengitar meja Sasuke dan Naruto.
"Apa?" Sasuke setengah yakin ia mendengar dengan jelas ucapan Sakura. Lagipula ini pertama kalinya ia mendengar Sakura bicara.
"Apa kursi ini kosong?" ulang Sakura dengan rahang mengeras.
"O-oh? Y-ya, kosong kok," terbata, Naruto menjawab pertanyaan Sakura sebelum gadis itu melempar nampan di tangannya ke wajahnya. Wajah jutek gadis itu terlihat tenang sedikit. Ia meletakkan nampannya dan berbalik pergi sementara Naruto mencuri pandang ke sekitar dan menemukan bahwa memang hanya kursi di mejanya saja yang kosong.
"He-hei, kenapa menatapku begitu?" Naruto merinding sendiri melihat temannya menatapnya dengan tajamnya.
"Pengkhianat." Desis Sasuke rendah sebelum kembali ke nampannya.
Belum sempat Naruto membalas ucapan Sasuke, Sakura sudah kembali dengan dua orang lain. Salah satunya membuat mata Naruto membelalak lebar.
"Hinata!" serunya keget, meski pelan. Di sebelah Naruto, Sasuke juga kaget. Jadi Hinata temannya gadis itu?
"Ha-hai, Naruto-kun," Hinata tersenyum canggung ke arahnya. Di sebelah gadis itu ada gadis pirang berkuncir yang menarik dua kursi untuk mereka.
"Ayo duduk Hime," Ino memegangi nampan Hinata sementara nonanya itu memosisikan diri dan meletakkan nampan itu di atas meja. Sakura mengikuti gerakan keduanya. Sialnya, ia harus duduk berhadap-hadapan dengan Sasuke yang mengalihkan pandangan dengan wajah juteknya yang biasa. Diam-diam Sakura tersenyum mengejek pemuda yang dengan sombongnya menantang dirinya di hari pertama. Rasakan.
"Kenapa makan di sini? Ada apa?" tanya Naruto.
"Mulai hari ini kantin jurusan pendidikan direnovasi. GOR juga. Jadi anak jurusan olah raga akan berbagi dengan anak jurusan pendidikan selama renovasi dilakukan." Ino, dengan mata terfokus pada makanannya, menjawab pertanyaan Naruto cepat seolah tidak rela nonanya berbicara dengan pemuda itu.
"Oh, begitu ya?"
"Mo-mohon bantuannya," Hinata membungkuk dengan senyum tipis.
"Nona, rambutnya diikat saja ya? Tadi hampir kena makanannya." Sakura yang tanggap langsung menahan rambut panjang nonanya dan mengikatnya menjadi ekor kuda.
"Terima kasih Sakura-chan," ucap Hinata disertai senyuman yang membuat Sakura senang.
"He. Kau ini kacung ya?" tapi suara Sasuke langsung memecah senyumannya.
"Diam kau." Sakura melempar death glare-nya dan pertarungan death glare pun terjadi antara keduanya. Membuat Naruto diam-diam merinding. Bisa-bisanya ada orang yang berani melawan Sasuke. Apalagi seorang gadis.
"Sakura-chan, sudah." Hinata menarik lembut tangan Sakura dan menuntunnya duduk. Secara ajaib, gadis itu menurut dan duduk manis di kursinya. Sasuke sampai dibuat pangling. Ah ini seperti pawang dan peliharaannya, pikirnya.
"Sakura, tolong jangan ribut." Ino menimpali, masih sambil makan. "Kita masih harus mengantar nona kembali ke asrama dan membereskan kamar jadi jangan habiskan waktumu dengan percuma."
Dengan sudut bibir tertarik ke bawah, Sakura mengikuti perintah Ino. Di sebelahnya, Hinata juga mulai makan. Sepertinya tidak bisa bicara karena pasti dipotong oleh keduanya padahal ia ingin sekali bicara dengan Naruto.
"Ck." Sasuke tiba-tiba bangkit dan pergi. Sepertinya ia tidak tahan bertatapan muka dengan Sakura sementara Sakura sendiri tak mau ambil pusing lagi dan meninggalkan Naruto yang sebenarnya juga sudah selesai.
Merasa canggung, Naruto pun membereskan nampannya. Namun sesaat sebelum berdiri, ia menatap lagi ke arah Hinata. "Bagaimana keadaanmu? Sudah tidak pernah pingsan lagi?"
"A-apa?" Hinata terkejut bukan hanya karena pertanyaan Naruto tapi juga karena tatapan menyelidik dua pengawalnya. Pasalnya, ia tidak pernah cerita. "Ba-baik. Aha-ha… terima kasih atas bantuannya waktu itu."
Naruto hanya tersenyum dan mengangguk lantas ia pun berlalu. Sama sekali tidak sadar telah meninggalkan Hinata dalam keadaan terjepit di belakang sana.
"A-aku bisa jelaskan." Hinata memaksakan sebuah senyum saat kedua pengawalnya—terutama Ino, menatapnya tajam.
"Jelaskan. Sekarang. Juga."
.
.
.
.
"Nona awas!"
Duakkk—
Ino yang berjaga di tepi lapangan langsung melesat ke arah Hinata yang nyaris menjadi korban salah lempar bola voli teman-temannya. Hinata memang sengaja tidak ikut—atas paksaan Ino dan Sakura tentu saja, setelah terakhir kali ia beralasan karena kecapekan hingga pingsan. Tapi tetap saja itu tidak menjamin keselamatannya. Bola yang nyasar itu pada akhirnya berhasil dihalau oleh Hinata dan mental entah ke mana.
"Astaga Nona! Nona tak apa-apa?!" Sakura yang baru datang panik melihat nonanya terduduk di tepi lapangan dengan wajah pucat dan tatapan mata kosong sementara kerumunan orang mulai menyesaki ruang gerak ketiganya.
"Apa ada yang sakit?" Ino bertanya sambil mengusap lengan bawah nonanya yang memerah dan tercetak bekas bola di sana. Hinata menggeleng, membuat keduanya menghela napas lega.
"A-apa bolanya melukai yang lain?" tanya Hinata saat Ino memapahnya berdiri. Ino memutar kepala tapi tak berhasil menemukannya.
"Tak apa," bohongnya, "sebaiknya nona menepi lagi."
Hinata mengangguk pasrah saja saat Ino menuntunnya ke tepi, agak dekat dengan dinding GOR. Sakura sendiri langsung pergi mencari handuk dan minuman untuk nonanya.
Orang-orang masih mengerumuni mereka. Samar, Hinata mendengar seseorang mengucapkan maaf padanya. Tapi kepalanya terlalu pusing sehingga mengabaikannya saja.
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Ino mengehela napas kesal. Ke mana pelatihnya itu lima menit yang lalu? Kalau saja tidak lalai mengawasi muridnya, pasti tak begini kejadiannya. "Nona jangan ke mana-mana, tunggu di sini." Pesannya sebelum berbalik untuk mengomeli pelatih itu.
Hinata tidak sanggup menjawab atau mengangguk. Hal yang lebih gawat sedang terjadi. Kerumunan yang menghalau udara sejuk bagi Hinata mulai mendatangkan masalah. Apalagi jika dua pertiganya adalah laki-laki. Jenis yang membuat Hinata mual sekarang ini.
"Hyuuga-san? Apa kamu baik-baik saja?"
"Hyuuga-san?"
Mual… tidak tahan lagi…
Hinata bangun dengan susah payah dengan tangan membekap mulutnya erat dan langsung melesat menyeruak kerumunan, meninggalkan GOR itu secepatnya sebelum isi perutnya tumpah ruah saat itu juga.
"Hyuuga-san!"
.
.
.
.
Seingat Hinata ada toilet di belakang GOR tapi itu terlalu jauh untuk dijangkau. Akhirnya Hinata melangkahkan kakinya menuju keran air yang berjejer di samping GOR dan memuntahkan cairan menjijikan dari dalam mulutnya di antara semak yang mepet ke dinding luar GOR.
"Ohok! Ohok!"
Setelah terbatuk di tengah sesi muntahnya yang menyakitkan, Hinata meludah dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan. Sekilas ia melihat bekas merah yang tercetak jelas di kulit putihnya.
Terlalu keras…
Dengan langkah sempoyongan, ia mencapai keran air dan membersihkan mulut dan tangannya. Tak lupa ia juga membasuh wajahnya agar ia tak lagi terlalu mual. Cukup berhasil, apalagi dengan ketiadaan makhluk berbeda jenis kelamin dengannya itu.
Sebenarnya beberapa hari ini menjadi lebih sulit. Hampir setiap saat Hinata dikerumuni oleh para fans-nya. Kebanyakan adalah siswa jurusan olah raga yang menggunakan celah 'renovasi kantin' untuk lebih dekat dengannya. Untungnya kehadiran Ino dan Sakura meminimalisir itu semua.
Kehidupan SMA yang normal… apa ia akan bisa merasakannya?
Hinata mendengus dan membersihkan mulutnya sekali lagi sebelum menegakkan tubuh. Ia harus segera kembali jika tak ingin membuat kegaduhan. Dua pengawalnya itu pasti akan ribut apalagi setelah ia nyaris terluka begini.
BRUK—DAK—DAK—
"Argh!"
"Brengsek kau!"
"Dasar bocah sialan!"
Siapa…?
Hinata mengurungkan niatnya kembali ke GOR dan malah memutar tubuhnya 180 derajat mendekati arah suara ribut itu berasal. Semakin ia melangkahkan kaki ke bagian belakang GOR, semakin jelas suara itu terdengar.
"Ha, jadi hanya segini kemampuanmu?!"
Hinata semakin mempercepat langkahnya, entah mengapa perasaannya tak enak. Siapa yang berkelahi? Atau lebih buruk, siapa yang dibully?
Berjarak sekitar dua meter darinya, sesosok pemuda berambut pirang berdiri dengan kuda-kuda siap menjejak tanah dan mata siaga menatap tiga orang lain yang berdiri di hadapannya. Pakaian keempatnya sudah tak rapi lagi bahkan ada noda darah yang tercetak di dekat bagian kerah. Beberapa kancing juga sudah terlepas. Wajah mereka juga sudah dipenuhi lebam yang mulai membiru. Tapi boleh dibilang jika Naruto lah yang menguasai pertarungan karena minimnya luka dan kerusakan yang diterimanya.
Hinata menutup mulutnya sendiri agar tidak berteriak saat satu orang menyerang Naruto dengan kalap yang langsung menerima tendangan di bagian leher lantas tersungkur sambil bersumpah serapah. Dua yang lain bertambah geram melihat temannya dihajar sedemikian rupa lantas berpencar ke dua arah untuk menyerang Naruto.
Naruto masih terlihat tenang dengan kepalan teracung di depan dada. Ia sudah biasa dengan hal ini bahkan sejak ia SD. Naruto yakin sudah menjaga sikap namun entah mengapa tetap ada banyak orang aneh yang mengajaknya adu kekuatan. Bahkan yang kelewatan seperti ini—tiga melawan satu. Tapi sebenarnya Naruto pernah mengalami yang lebih parah.
Satu orang maju, melayangkan satu pukulan yang ditujukan ke ulu hati Naruto sayangnya ia kalah cepat dan Naruto sukses membantingnya ke atas tanah yang keras.
"Brengsek!"
Orang terakhir menyerang. Kali ini ia berhasil merenggut ujung kemeja Naruto dan menariknya kasar lantas menyarangkan satu jab di pelipis si pemuda pirang.
"Naruto!"
Hinata berteriak tanpa sadar. Suara melengkingnya mendistraksi perhatian Naruto yang tadinya sudah bersiap membalas dan malah menatap ke arah Hinata. Matanya terbelalak dan gerakannya terhenti sebentar.
'Hinata?'
Kelengahan Naruto dengan segera dimanfaatkan oleh penyerangnya untuk menendang perut Naruto hingga pemuda itu tersungkur. Tak cukup sampai di situ, kedua temannya yang sudah bangkit pun ikut menambah siksaan pada tubuh Naruto yang ambruk dengan darah menetes-netes dari sudut bibir.
"Naruto!" Hinata berteriak lagi. Kali ini teriakannya membuat ketiga orang yang sedang memukuli Naruto berbalik, menghentikan sejenak kegiatan mereka.
"Heh," satu orang yang tadinya menginjak bahu Naruto meludah ke samping dan melangkah maju. Sekarang setelah bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, Hinata yakin mereka kakak kelas. Ternyata benar yang namanya bullying itu terjadi di sekolah ini.
Hinata menahan napas dan meneguk ludahnya susah payah. Ia mencoba mengatur napasnya dan berpirir. Meskipun sekarang posisinya yang sedang terancam karena ketiganya beralih mendekatinya dan meninggalkan Naruto begitu saja.
"Pacarmu, eh?" yang berdiri paling dekat dengan Naruto menendang kakinya, membuat pemuda itu meringis kesakitan dengan mata masih terpancang pada sosok Hinata.
"Cantik juga," dua yang lain mulai memendekkan jarak dengan Hinata. Wajah mereka membuat mual yang sempat hilang muncul lagi dan mengaduk-aduk lambung Hinata.
"APA YANG KAU LAKUKAN?! PER—"
"DIAM BRENGSEK!"
DUAKK
"Naruto!" Hinata maju selangkah namun terhadang dua tubuh besar yang berdiri menjulang di hadapannya. Terpaksa ia hanya bisa melihat Naruto batuk-batuk darah sambil memegangi perutnya.
"Eh, bukannya kau si Hyuuga itu?" siswa yang bagian pipinya membiru parah mengerutkan alis, pura-pura berpikir. "Kukira mereka bohong mengatakan anak kelas satu tahun ini ada yang manis. Ternyata benar…"
"Apa kau temannya?" sementara itu yang berdiri di sebelah kiri dengan kurang ajarnya meremas bahu Hinata yang langsung ditepisnya. Berdekatan saja sudah membuat mual, apalagi jika bersentuhan.
"Ugh." Hinata menutupi mulutnya dengan punggung tangan. Bau keringat keduanya semakin membuatnya pusing.
"Hoi!" orang ketiga mendekat saat Hinata berjongkok di depan mereka karena lututnya lemas dan perutnya bergejolak. Mualnya semakin kuat terasa saat satu tangan besar menyentuh bahunya.
Tidak tahan lagi…
Dengan terpaksa, Hinata mengangkat satu tangan untuk menyingkirkan tangan kakak kelasnya dari bahunya. Tapi cengkraman itu berubah menjadi tarikan kasar yang menyentak, membuat perut Hinata bergejolak ganas.
Maaf senpai, ini bukan sepenuhnya salahku… lirih Hinata dalam hati sebelum tubuhnya terenggut berdiri dan…
"HOEEEEKKK—"
Limbah yang Hinata kira sudah habis dikurasnya tadi ternyata masih tersisa banyak dan sekarang berpindah menjalari kemeja kusut senpainya. Sedangkan yang dimuntahi hanya bisa kicep di tempat—terlalu shock mendapat salam perkenalan seperti ini dari seorang gadis yang kelewat menawan.
"OI!"
Ternyata muntahannya menyiprati sepatu senpai lain yang berdiri di depannya. Dengan ekspresi marah, ia menarik kerah seragam Hinata—yang mana itu sangat bodoh dan tidak dianjurkan untuk dilakukan karena detik berikutnya satu semburan lain tercipta.
"HOOEKKKH—"
Tidak ada yang lebih hebat dari pada dimuntahi tepat di muka.
"DASAR SIALAN!"
Satu kepalan teracung lurus ke arah Hinata dan Hinata pun menanggapinya dengan satu silangan tangan dan kaki yang bersiap menendang, namun sebelum itu terjadi, seseorang sudah lebih dulu menarik orang itu dan membantingnya sekaligus ke tanah.
Hinata menatp kaget dan mendapati Naruto yang sudah berdiri lagi dengan sigap membereskan dua sisanya. Tanpa terlihat kesulitan sama sekali, Naruto meringkus ketiganya dan membuat mereka saling berpelukan erat dengan penyesalan yang besar karena berani menantang seorang Namikaze Naruto.
Naruto hanya berdiri saja setelahnya. Matanya masih tidak fokus dan darahnya masih mengalir cepat, mengantar adrenalin yang barusan membuatnya hilang sadar. Sekali lagi ia kelepasan. Padahal ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyerang siapa pun, meski itu artinya ia babak belur. Tapi rasanya, saat ia melihat Hinata tadi, saat wajah gadis itu pias dengan tubuh gemetar, Naruto tak lagi ingat dengan tekadnya.
"Ayo pergi."
"E-eh?" Hinata terseok saat Naruto sekali lagi mengejutkannya, menariknya dengan satu tangan dan membawanya menjauh dari tempat itu.
Anehnya, mual Hinata menghilang detik itu juga.
.
.
.
.
"Maaf." Gumam Naruto pelan yang terdengar jelas dalam keheningan ruang UKS KEBS. Sekali lagi mereka ada berdua saja di tempat itu untuk mengobati luka-luka yang dialami Naruto.
Hinata hanya tersenyum tipis sambil melumuri kapas di tangannya dengan alkohol.
"Aw!"
"Ma-maaf!" Hinata menarik tangannya lagi dari atas luka robek di pelipis Naruto begitu pemuda itu mendesis rendah. Dengan tatapan tak enak, Hinata melanjutkan lagi pekerjaannya dengan lebih lembut. Meski begitu ia masih melihat Naruto menggigit bibirnya menahan perih.
"Kenapa kau ada di sana?" tanya Naruto tiba-tiba setelah keheningan di antara mereka tak lagi bisa ia tanggung. Ia juga sedikit mengerti sifat Hinata yang tidak enakan. Mungkin ia segan bicara duluan.
"Aku sedang ada kelas olah raga." Jawab Hinata yang menghasilkan satu kernyitan di dahi Naruto.
"Tapi kenapa sampai bisa ke belakang GOR?"
"Ah… i-itu," Hinata tertawa gugup. "Hanya jalan-jalan. Lalu aku mendengar suara ribut-ribut, kenapa Naruto-kun berkelahi?"
Naruto mendengus tidak suka, membuat Hinata kembali menggigit bibir. Merasa bodoh karena menanyakan hal yang sifatnya pribadi.
"Ma—"
"Mereka yang mulai."
"A-apa?"
"Mereka duluan yang mengajakku berkelahi." Geram pemuda itu sambil memalingkan wajah. "Aku sudah berusaha tidak terpancing, tapi mereka tidak pernah berhenti."
Tiba-tiba saja rasa simpati terbit dalam hati Hinata. Ya, ia mengerti. Naruto hanya ingin menjalani hidupnya dengan biasa saja tapi julukan yang sudah lengket dengan namanya selalu mendatangkan masalah.
Rasanya tak beda jauh dengannya.
"Naruto-kun boleh marah pada mereka. Boleh juga membenci. Tapi apakah itu penting?" ujar Hinata pelan yang membuat iris safir Naruto terpaku padanya. "Berubah itu… perubahan itu, akan terjadi jika kita berusaha dan tidak takut menunjukkan siapa diri kita sebenarnya."
Naruto memalingkan wajah. Agak kesal sebenarnya. Apa dia pikir mudah menghilangkan cap buruk yang disematkan padanya selama bertahun-tahun? Bahkan ia hanya memiliki satu teman, Sasuke.
"Monster atau bukan… kau adalah dirimu. Tidak ada yang lain." Hinata menyambung ucapannya meski sadar Naruto memalingkan wajah. Namun ia hanya ingin menyampaikan isi pikirannya. "Lagi pula bagiku Naruto tidak menyeramkan. Sama sekali tidak membuat kesal."
Cukup. Naruto bangkit berdiri dan memakai jersey-nya.
"Aku… sudah berusaha." Ujarnya lirih yang lagi-lagi memancing senyuman Hinata.
"Ya. Aku tahu."
Naruto melirik ke gadis yang lebih pendek darinya itu dengan ekor mata lantas mendengus, sama sekali tidak berniat mendebatnya. "Lain kali menjauhlah kalau ada yang berkelahi dan lari secepat mungkin. Kenapa tadi kau malah berjongkok?"
Nah.
"I-iya." Hinata tersenyum canggung. Mana bisa ia bilang kalau tadi mendadak alerginya kambuh dan membuat kakinya lemas?
"Bagaimana lambungmu? Masih mual?"
Pertanyaan yang sudah pernah dilontarkan Naruto setengah jam lalu itu sekali lagi membuat bahu Hinata terlonjak.
"Kau sering sakit ya?"
Dan komentar barusan jelas membuatnya tambah berdebar. Untungnya pemuda itu tidak membahas adegan Hinata yang memuntahi senpai mereka lebih lanjut atau ia bisa mati saking malunya.
"Ha-ha-ha…"
"Sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri. Tadi kau bilang sedang ada kelas olah raga kan? Mungkin tubuhmu kelelahan."
Hinata ingin menjawab dengan sebenar-benarnya bahwa ia bahkan tidak diizinkan menyentuh bola. Tapi mendengar nada khawatir Naruto yang terselip di ucapan pemuda itu membuatnya sedikit senang.
"Sebenarnya aku punya alergi." Alis Naruto tertaut mendengarnya. "Aku mudah mual…" dan Hinata yang menggantung ucapannya sama sekali tidak membantu. Rasa penasaran pemuda itu semakin bertambah saat Hinata membiarkannya menunggu dan malah merapikan kotak P3K yang habis dipakainya.
"Alergi apa?" Naruto mengejar Hinata hingga ke dekat lemari penyimpanan. Melihat gadis itu salah tingkah membuat Naruto mulai berpikir aneh.
Hinata akhirnya berbalik dengan mata menatap ujung sepatunya. Sekali lagi ia menimang keputusannya untuk memberi tahu Naruto. Apa pemuda itu akan menertawakannya? Tapi mungkin ia tidak akan percaya sama sekali. Habisnya… Hinata bahkan tidak menolak berdiri sedekat itu dengan pemuda pemilik iris yang menakjubkan itu.
"A-aku sebenarnya—"
"HIMEEEE! ANDA DI MANAAA?!"
Glek. Hinata dan Naruto serentak menatap langit-langit. Suara yang keluar dari pengeras suara tadi sangat menggelegar hingga terasa menggetarkan dinding.
Hinata kenal suara itu.
"HIME. KEMBALI. KE. ASRAMA. SEKARANG!"
Dan suara itu juga.
"Itu…" sepertinya Naruto juga mengenali suara barusan.
Dengan raut wajah pucat, Hinata mendengus kecil dan berjalan menuju pintu. "Aku harus pergi." Katanya sambil membuka pintu UKS. "Sampai jumpa." Ia pun membungkuk ke arah Naruto sebelum berbalik dan berlari menuju asramanya. Serangkaian alasan yang sekiranya masuk akal tengah terangkai cepat dalam otaknya.
"Tunggu!"
Hinata berbalik dengan mata terbelalak melihat tangan besar sewarna tan mencengkram pergelangan tangannya. Dan saat tatapannya merambat naik hingga kedua iris berbeda warna mereka bertemu, Hinata hanya bisa membatu.
"Terima kasih."
Ah…
"Ti-tidak masalah." Hinata menyahut gugup dan langsung menarik tangannya ke depan dada begitu Naruto melepaskannya.
"Terima kasih untuk bantuannya," ia menunjuk wajahnya yang dipenuhi tempelkan plester di sana-sini. "Dan juga sarannya."
Sudut bibir Hinata perlahan tertarik dan mereka berpandangan selama beberapa detik sebelum satu suara menginterfensi.
"HIMEEEE! ANDA DI MANAAA? APA ANDA BA—"
"Diam! Apa yang kalian lakukan?! Jangan memakai ruang siaran seenaknya!"
"HIME!"
"HEI! Siapa namamu?! Cepat keluar!"
"HIMEEE!"
"SAKURA! SUDAH!"
"Ta-tapi… AW!"
"KELUARRR!"
"A-ha-ha-ha-ha…" Hinata tertawa dangan awkward-nya mendengar gelut suara itu. Memang sebaiknya ia bergegas dan menghentikan acara tatap-mata-saya ini.
"Temanmu lucu." Komentar Naruto yang bisa saja Hinata percayai. Sayangnya pemuda itu berwajah datar saat mengucapkannya.
"Aku pergi." Hinata berlari cepat setelah menerima anggukan Naruto. Diam-diam ia memikirkan ucapannya pada Naruto saat di UKS tadi dan tiba-tiba saja ia merasa bodoh.
Seberapa pantas aku mengucapkan hal itu padanya?
.
.
.
.
A/N : Oke. Fix. Gampar saja saya atas fic tak jelas arah tujuan ini. Saya mikir apa sih pas nulisnya? Heran. Pas baca ulang kok kayak gak inget pernah nulis itu atau yang ini atau yang ono. Please!
*Sigh
Akhir kata, terima kasih bagi readers yang sudi menerima fic ini dengan lapang dada seluas lapangan bola. Btw, chapter depan terakhir *maunya.
Dan untuk HYUGAZAN yang nge-review fic saya yang judulnya Just an Ordinary Family life of Uzumaki, just in case kamu baca fic ini juga—andai kamu punya akun, saya akan langsung PM kamu karena saya mau bilang : status saya masih MAHASISWA bukan IBU RUMAH TANGGA. Saya tidak tahu harus senang atau sedih dengan review anda. Tapi thank's.
Jaa na~~
