Summary : Dari khayalan teraman bagi seorang Aomine saat membayangkan Kagami, hingga khayalan berating M yang tidak bisa ditulis Author di cerita ini. Aomine Daiki dan khayalannya bersama dengan Kagami di hari keduanya bersama Kagami di Amerika. [AoKaga Centric this chapter]
.
.
"Kalau Kagami perempuan, mungkin dadanya akan sebesar itu juga…"
"AHOMINE, JANGAN KATAKAN KAU SEDANG MELIHAT DADA IBUKU BRENGSEK!"
"—bertahanlah Aomine Junior…"
Himuro Tatsuya sama sekali tidak menyangka jika ia harus lelah secara fisik dan mental hanya dengan menghabiskan waktu seharian bersama dengan semua orang disini.
Keep Setronk Himuro Tatsuya.
.
.
Kiseki no Kagami
Genre : Romance/Humor (Friendship)
Pairing : GOM x Kagami Taiga
Warning : BrotherComplex!Himuro, Innocent!Kagami, Fujo!Alex+Satsuki, BL, Yaoi, Typo, OOC, sedikit OC yang tidak merusak pairing.
Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi; tidak ada keuntungan yang didapatkan dalam pembuatan ffic ini. Pembuatan ffic ini hanya diperuntukkan untuk kesenangan belaka.
Chapter 2 : Ahomine Dirty Mind
.
.
Aomine Daiki benar-benar bermimpi buruk semalam.
Oh tidak, ini bukan salah jetlag yang masih menyerang setelah berjam-jam mereka berada di pesawat menuju ke Amerika. Bukan juga karena homesick karena berada di rumah orang lain selama beberapa jam. Tidak, ia bukan anak kecil yang merengek minta pulang karena semua itu.
Ini lebih karena ia terpaksa tidur bersama dengan si maniak Oha-asa, si model narsis, dan juga Titan Ungu dalam satu kamar.
Kalau mereka berada di kamar Kagami, itu tidak akan jadi masalah terlebih jika ia bisa berada disamping belahan hati#uhuknya. Tetapi, kenyataannya mereka kalah berdebat dan undian kemarin sehingga dapat giliran tidur di kamar tamu yang sebenarnya masih berada disamping persis kamar Kagami.
Tetap saja, cintanya terhalang oleh lapisan dinding tebal berwarna krem muda itu.
Beuh.
'Yang curang itu si mata sipit sialan itu, bisa-bisanya mencuri start mendahului semuanya,' sebenarnya Takao sendiri juga hanya ingin mengerjai mereka. Namun tentu Takao sama sekali tidak mengatakan itu, dan sama sekali tidak menyangka jika Kagami Taiga akan menyetujui semua permintaannya.
Orang baik memang beda.
.
.
Flash Back
.
.
"Kita tentukan dengan undian."
Entah sudah berapa lama mereka berada di ruang keluarga dan bersitegang ingin berada satu kamar dengan Kagami. Namun, tentu tidak akan ada yang mau mengalah bahkan Midorima Shintarou sekalipun dan Kuroko sekalipun.
"Baiklah, itu akan adil. Tujuh kertas untuk tujuh undian. Yang dapat kertas dengan tanda silang maka dia yang akan tidur di kamar Kagami," semuanya bertatapan sebelum mengangguk. Akashi yang membuatnya agar tidak ada yang protes dan satu per satu mereka mengambilnya tanpa membukanya terlebih dahulu.
"Takao, ambil kertasmu," Midorima yang menyangka Takao ada di belakangnya memberikan kertas terakhir. Namun, entah karena tiba-tiba Akashi sekalipun terkena penyakit lola atau terlalu terfokus dengan apa yang mereka lakukan, mereka baru menyadari Takao tidak ada di belakang Midorima. Tepatnya, tidak ada dimana-mana.
…
"Kyaaaa! Kagami-kun, aku boleh pakai kolam renang di belakang rumahmu?" Satsuki sendiri yang sudah mengepack barangnya di kamar yang disiapkan Kagami tampak sudah turun dan melihat kearah halaman belakang Kagami.
"Pakai saja, tempat itu tidak sering digunakan. Anggap saja rumah sendiri Momoi-san," Kagami tampak berbicara dari tangga menuju ke lantai dua rumahnya.
"Satsuki! Dimana bocah Shutoku itu?!" Aomine menoleh pada Satsuki yang sudah menggunakan topinya dan hendak menuju ke halaman belakang rumah Kagami.
"Maksudmu Takao-kun? Dia kan sudah berada di kamar Kagamin dari tadi," Satsuki yang tampak menghela napas dan menyadari kelemotan mantan anggota yang ia manajeri tampak ingin sekali facepalm di tempat, "kalian terlalu sibuk dengan undian bodoh itu sih, Takao-kun sudah meminta Kagami untuk tidur di kamarnya dari awal."
Kembali hening.
"Takao, apakah kau sudah nyaman disana? Kaa-san membuatkan sedikit minuman untukmu," suara Kagami terdengar, membuat semuanya menoleh kearah kamar dan saling bertatapan.
"TAKAO!"
.
.
"OI TAKAO!"
"SSSH!" Baru saja mereka tampak masuk ke dalam kamar saat Kagami menghentikan mereka berteriak lebih kencang sambil meletakkan telunjuknya didepan bibir, "ia baru saja tidur kalian jangan berisik."
Dan mereka (kecuali Akashi) mengangguk.
"Tadi ia terlihat tidak sehat kurasa karena jetlag jadi kubiarkan dia tidur dulu," Kagami tampak meletakkan minuman yang sebelumnya dikatakan sebelum membenahi selimut Takao, "kurasa biarkan saja dia istirahat disana dulu. Jadi, siapa yang akan tidur disini? Aku sudah menyiapkan kasur tambahan disini dan di ruang tamu sebelah. Kalau sudah kau tentukan, kaa-san sudah menyuruhku untuk menyiapkan bak mandi jadi aku sudah menyalakan untuk kalian jika memang ingin mandi terlebih dahulu."
…
"Ah aku juga masih harus membantu membuatkan makan malam nanti. Maaf aku tidak bisa menemani kalian dulu hari ini, bersantailah dan berkelilinglah dirumah ini dulu," Kagami tersenyum lebar kembali kearah mereka yang memalingkan wajah masing-masing, "eh?"
'Uke idaman…'
Benar-benar, yang lebih 'mengerikan' adalah Kagami melakukannya tanpa sadar dan dengan ikhlas tanpa ada pikiran negatif sedikitpun. Mereka jadi terharu sendiri. Bahkan Takaopun dirawat dengan baik dan dibiarkan tertidur diatas satu-satunya ranjang yang ada di ruangan itu.
…
…tunggu, ranjang?
"Kagami-kun," Kuroko memberanikan diri untuk bertanya meskipun beribu kemungkinan terburuk sudah dipikirkan oleh Kuroko, "kalau Takao-kun berada di tempat tidurmu, dimana kau akan tidur?"
"Huh? Tempat tidurku kan ukuran Queen Size, Alex juga sering tidur disini diam-diam dan muat untuk dua orang. Tentu saja aku akan tidur di tempat tidurku juga," Kagami tampak berbicara dengan nada bingung dan menatap kearah mereka yang sudah terdiam mematung, "dan jangan mengganggu Takao, ia benar-benar tidak sehat sedaritadi."
'SIAL TAKAOOOO!'
Ingin membangunkan tetapi pada akhirnya tidak bisa karena permintaan langsung dari Kagami.
.
.
'Bukan hanya itu saja, tetapi karena si mata elang itu mencuri start, Akashi mengatakan tidak ada gunanya untuk melakukan undian dan malah seenaknya mengatakan ia yang akan tidur di kamar Kagami bersama dengan Kuroko—katanya demi keselamatkan Kagami lah, padahal dia sendiri cari kesempatan,' Aomine masih menggerutu sambil menguap sekali lagi dan berjalan kebawah.
"Oh," suara itu membuat Aomine menoleh dan menemukan perempuan paruh baya yang mengenalkan dirinya sebagai ibu Kagami tampak sudah bersiap dengan pakaian yang tampak rapid an khas wanita kantoran, "kalau tidak salah Daiki-kun? Selamat pagi!"
"Oh pagi Kagami…-san," apakah dunia ini akan kiamat?! Aomine yang kurang ajar dengan senpainya sekarang malah bersikap sopan didepan orang lain?! Tetapi wajar sih karena yang ada di depannya adalah uhukcalonmertuauhuknya kelak.
Entah kenapa Dejavu.
"Apakah tidurmu nyenyak? Taiga sedang menyiapkan makan pagi untuk kalian. Maaf karena tidak bisa menemani kalian karena pekerjaanku banyak hari ini," Rinka tampak tertawa pelan dan melihat kearah jam tangannya yang ada di pergelangan tangan kiri, "—ah sudah jam segini, aku harus cepat-cepat. Sampai jumpa nanti malam Daiki-kun, salam untuk yang lainnya!"
Dan Aomine ditinggalkan begitu saja sendirian didekat dapur.
'Dada ibu Bakagami itu besar juga—kalau kulihat sih mungkin ukurannya cup D,' demi kami-sama, pikiran Aomine bahkan membuat Author sendiri tepuk jidat. Wanita bersuami saja masih dilihat baik-baik bagian dadanya. Dasar Aho, "mungkin kalau dia perempuan juga dadanya akan sebesar itu."
Dia? Tentu saja Kaga—
"Siapa yang dadanya sebesar itu?"
Uh oh, suara itu membuat Aomine menoleh dan menemukan Kagami yang berdiri di belakangnya entah sejak kapan. Yang pasti, pemuda itu mendengar saat ia sedang bergumam tidak masuk akal tadi, "kau tidak sedang melihat dada ibuku kan Ahomine?!"
"Tentu saja tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh Bakagami! Dan kudengar kau akan membuatkan sarapan?"
Mencoba untuk mengalihkan pembicaraan, Aomine melihat dengan teliti kembali lawan bicaranya sebelum mulutnya menganga lebar dengan apa yang ia lihat. Pemandangan tidak biasa, Kagami Taiga dengan menggunakan kaus putih oblong lengan panjang dan juga celemek putih memakai celana pendek selutut dan juga membawa sendok sayur.
Itu terdengar biasa, namun tidak untuk Aomine yang segera membayangkan Kagami yang menyambutnya pada pagi hari—
.
.
Aomine (Dirty) Mind (1)
.
.
Aomine membayangkan pagi harinya hanya berada berdua dengan Kagami. Saat bangun pagi, pemuda itu akan masuk ke dapur saat mendengar suara potongan di talenan yang menunjukkan jika seseorang sedang memotong sesuatu. Dan ia akan melihat punggung pemuda itu membelakanginya dengan menggunakan pakaian seperti di kenyataan.
Atau lebih bagus jika Kagami tidak menggunakan apapun dibalik celemek putih itu. Mungkin tambahkan dengan renda-renda putih akan lebih bagus untuk dilihat.
"Ohaiyou Daiki, aku tidak membangunkanmu karena kau lelah semalam. Tetapi tunggulah sebentar lagi, aku akan selesai memasakkan makan pagi untukmu."
Lalu ia akan mendekat, memeluk pemuda itu dari belakang dengan wajah mengantuk dan meletakkan kepalanya diatas bahu bidang dari pemuda yang lebih pendek 2 cm darinya itu membuat Kagami Taiga terkejut.
"Hei Daiki, aku sedang memasak sarapan. Jangan memelukku seperti ini!"
"Kalau berpakaian seperti itu yang ingin kumakan bukan sarapan yang kau buat Taiga, tetapi kau," Aomine akan membisikkan kata-kata itu dengan suara yang berbisik tepat di depan telinga Kagami yang pasti dengan segera berwajah merah dan tidak berani untuk menatapnya. Ah, Aomine akan membayar apapun untuk melihat hal itu.
"Kalau begitu sadarlah sekarang…"
"Huh?"
"Kubilang—sadarlah!"
Dan sebuah sendok sayur mengarah padanya dan sukses memukul kepalanya dengan keras.
.
.
End Aho!
.
.
DHUAK!
"APA-APAAN KAU BAKAGAMI!"
Sadar dari lamunan kotornya, Aomine menoleh pada kenyataan dimana Kagami masih berada didepannya dan sendok sayur dari kayu itu adalah satu-satunya yang nyata di pikirannya tadi. Yang sukses membuat benjolan di kepalanya saat ini.
"Kau yang apa-apaan Ahomine! Kupanggil berkali-kali dan kau hanya melamun sambil memikirkan sesuatu dan menatapku," Kagami tampak menghela napas sambil berkacak pinggang sebelah dan sebelahnya lagi yang memegang sendok kayu ia letakkan di bahu, "yang lain belum bangun?"
"Belum," sebenarnya ia bukan tipikal orang yang bangun pagi-pagi, tetapi kenyataan ia tidak bisa tidur nyenyak dan berakhir bangun terlalu pagi.
"Kalau begitu tunggu yang lainnya saja dulu," Kagami tampak berbalik dan mencari sesuatu di kulkas. Kembali dengan segelas besar minuman berwarna krem muda yang tampak membuat Aomine mengerutkan dahinya, "susu pisang, kau suka itu kan? Kemarin ada pisang yang tidak termakan jadi aku mencampurnya dengan susu, kurasa rasanya lumayan."
"…darimana kau tahu aku suka ini?" Dan sungguh, Aomine ingin membenamkan wajahnya di tanah. Imayoshi pernah mengatakan kalau ia jadi imut dan lucu jika sedang meminum susu rasa pisang yang diberikan padanya.
"Momoi-san yang mengatakannya kemarin. Tadinya sih mau kubuang pisang yang tidak habis itu, tetapi Momoi-san datang dan mengatakan kalau kau suka. Daripada kubuang lebih baik kubuat lebih berguna bukan?" Kagami tampak tersenyum lebar kembali sambil berbalik dan akan kembali di depan kompor untuk kembali membuat sarapan.
…
'Mau sampai kapan ia membuatku jatuh cinta, Bakagami brengsek!'
Wajahnya benar-benar memerah saat itu, ia bahkan tidak bisa mengatakan apapun lagi. Bahkan ia tidak sadar kalau sebenarnya Kagami memberikannya makanan sisa yang tidak ingin dibuang. Dengan segera mencicipi minuman itu, yang membuatnya segera berada dalam mood yang bagus dan berbunga-bunga.
"Lumayan…"
Yah walaupun ia tidak mengakuinya.
Saat ia sedang menikmati susu buatan Kagami, pemuda itu sudah selesai membuat sarapan dan meletakkan semuanya di meja. Porsi untuk 10 orang atau lebih—mengingat jatah makannya dan juga Kagami itu tidak normal jika dibandingkan jatah lainnya. Dan semuanya bahkan sanggup membuatnya berliur.
"Oh sepertinya Tamagoyaki ini enak," saat tangan Aomine tampak akan mengambil sepotong Tamagoyaki, dengan segera Kagami memukul tangannya dengan sendok kayu yang masih dibawanya.
"Tunggu yang lainnya Ahomine."
"Dasar cerewet," Aomine menggerutu dan melihat kearah Kagami yang bersiap untuk mencuci peralatan yang tadi dipakai untuk memasak, "kau bisa mencucinya nanti kan?"
"Kebiasaan, ibuku tidak suka tempat yang berantakan. Dari dulu seperti ini," Aomine berpikir mungkin itu yang membuat apartment Kagami rapi dan bersih untuk ukuran kamar laki-laki yang tinggal sendirian, "—ah."
Aomine menoleh pada Kagami yang tampak kewalahan karena lengannya yang basah dan beberapa busa sabun cuci yang mengenai wajah dan juga tangannya.
"Puh—AHAHAHA! MEMANGNYA KAU ANAK KECIL BAKAGAMI!? Lihat, busa sabun saja sampai ada di hidungmu!" Aomine tertawa puas melihat Kagami yang tampak kesusahan membuat yang bersangkutan tampak menggerutu kesal.
"Gh—jangan hanya tertawa, bantu aku Aho!" Kagami mencoba untuk menggulung lengan pakainnya tanpa mencuci tangannya, membuat Aomine kembali menahan tawanya. Namun kali ini, ia berdiri dan membantu menggulung lengan baju Kagami dari belakang.
Yah, lebih terlihat seperti sedang memeluk Kagami sih. Entah cari-cari kesempatan atau memang ia tidak sadar.
"Seperti ini saja kau tidak bisa."
"Seperti kau bisa saja Ahomine, jangan membuatku kesal pagi-pagi seperti ini!"
Aomine tertawa lebih santai kali ini, sebelum menyadari posisi mereka sekarang. Wajahnya saat itu perlahan memerah dan memerah—hingga menyerupai tomat. Oke, awalnya ia sama sekali tidak memiliki maksud memeluk Kagami seperti ini.
'Posisi ini… benar-benar tidak bagus untuk Aomine Junior dibawah… masih pagi lagi.'
Sementara mereka sedang asik berbincang (bertengkar mulut) dalam posisi yang sama, tampak dua orang yang baru saja bangun—Midorima dan juga Akashi melewati pintu dapur.
…
Dan tentu seperti yang sudah terduga, mereka melihat pemandangan ambigu dan mereka segera sadar akan posisi itu yang malah membuat mereka salah paham karena itu.
(—kacamata Midorima patah karena terlalu kuat ditekan oleh pemiliknya, dan Akashi…)
"GAH!" Aomine yang hampir saja menjadi mayat disana segera menghindar saat sebuah gunting merah hampir menusuk kepala belakangnya. Dengan segera, keduanya menoleh dan menemukan Akashi yang tampak memegang gunting itu dan menatap mereka tajam.
"Apa yang kau lakukan pada Taiga, Dai~ki~?"
*snip* *snip*
"Ka—kau salah paham Akashi, aku tidak melakukan apapun pada Bakagami," inginnya melakukan sesuatu, kalau saja tidak ada ancaman dari Akashi dan juga Himuro yang mungkin radar brother complexnya sudah membaca apa yang dipikirkan Kagami saat ini.
"Oh, haruskah aku percaya padamu Daiki?"
"Ah Akashi, walaupun kesal karena ejekannya tadi—tetapi Ahomine hanya membantuku kok," Kagami yang tampak melupakan lengan pakaiannya yang basah tampak berbalik dan menatap kearah Akashi dan juga Midorima disana, "—aku sedang mencuci alat memasak dan lengan pakaianku basah makanya dia membantuku."
"Memangnya harus membantu dari belakang," Midorima tampak menatap kesal kearah Aomine yang hanya diam membatu, "seharusnya kau lebih berhati-hati pada orang ini… bukan berarti aku khawatir, tetapi cuma orang bodoh yang tidak tahu kalau dia berbahaya."
"Hei!"
"Sudahlah, pakaianku jadi basah karena ini," Kagami menghela napas dan tampak menyelesaikannya cuciannya dengan cepat kali ini tidak peduli dengan pakaian yang basah atau busa sabun yang mengenai wajahnya, "ah kalau sudah berkumpul semua, tunggu aku selesai mandi. Dan Midorima, aku mencoba membuat sup kacang merah karena ada bahannya. Kurasa aku sering melihatmu meminum itu."
Midorima yang tersentak hanya diam sambil menundukkan kepalanya dan menutupi wajah merahnya dengan menaikkan bingkai kacamatanya. Tidak memperdulikan dua tatapan tajam dari Aomine dan juga Akashi.
"Lalu untuk Akashi ada sup tofu juga, dan Kuroko sudah kubuatkan vanilla shake, Murasakibara dan juga Momoi-san pudding cherry, tetapi akan kusembunyikan sampai mereka makan yang benar dulu. Untuk Kise ada sup bawang dan aku tidak bisa membuat kimchi untuk Takao, tetapi ia bilang tidak apa-apa jadi hanya kubuatkan karage saja," Kagami bergumam sambil melihat meja yang ada di depannya.
"Uh, Kagami-kun membuat semuanya?"
"GAH! Kuroko, sejak kapan kau ada disini?!" Kagami tampak mundur beberapa langkah sebelum menatap kearah Kuroko yang menatapnya datar.
"Sejak tadi Kagami-kun, jadi?"
"Yah, karena kukira kalian akan merasa home sick dan tidak biasa memakan sarapan ala barat, makanya aku membuatkan masakan Jepang untuk kalian. Momoi-san dan Takao yang menyarankan masakan ini," jawab Kagami sambil menatap semuanya.
'Kau malaikat Satsuki!'
Lihat saja, bahkan Kagami susah-susah bangun pagi untuk membuatkan mereka sarapan. Terlebih makanan yang mereka sukai, walaupun ia tidak begitu yakin apakah Kagami menyadari apa yang disuruh oleh Satsuki masak adalah makanan kesukaan mereka semua.
'Kalau saja saat ini hanya ada aku dan dia saja…'
.
.
Ahomine dirty mind (2)
.
.
"Oh kau membuat burger teriyaki sendiri? Apakah tidak susah membuatnya?"
Dengan makanan dan minuman kegemaran Aomine, ia akan duduk di kursi makan sementara Kagami meletakkan makanan di depannya—makanan kegemarannya. Dibuatkan khusus oleh Kagami hanya untuknya.
"Tentu saja tidak, lagipula inikan khusus untukmu," Kagami tampak menatap kearah Aomine dengan tatapan polosnya namun semburat merah muda di pipinya tidak bisa dihilangkan begitu saja, "yah sebenarnya walaupun aku tahu yang kau inginkan bukan itu sih…"
"Eh?"
"Makanan yang sebenarnya… kau bisa menunggu nanti malam kan?" Wajah Kagami yang semakin memerah saat itu sepertinya sudah cukup untuk membuat Aomine terdiam dengan panah cupid yang menombak kokoronya, "sebenarnya apa yang kubicarakan, hahaha… baiklah aku akan membereskan—"
"Aku ingin makanan penutup…"
"Eh, tetapi aku tidak membuat dessert hari ini," Kagami terkejut saat Aomine berdiri dari tempatnya tiba-tiba.
"Sudah kok, akukan ingin Kagami untuk dessertku hari ini," dan tidak mengenal tempat, Aomine segera menyerang pemuda itu dan mereka melakukan nananini di meja makan saat itu #uhuk.
.
.
End Aho!
.
.
'Oh, yeah…'
Wajah mesum Aomine terlihat jelas. Sungguh, kalau saja semua orang tidak dibutakan oleh sesuatu yang lebih menarik daripada Aomine yang berwajah mesum. Kagami yang masuk kembali beberapa saat kemudian, dengan rambut yang masih basah dan handuk yang tersampir di lehernya, sudah cukup sebagai pemandangan indah pagi hari.
Ia masih pakai pakaian kok.
"Maaf lama, aku sekalian membangunkan Takao dan juga Momoi-san," yang berkata tampak berjalan dan di belakangnya sudah ada Takao dan juga Momoi yang mengikuti, "aku tidak menyangka kalau membangunkanmu itu cukup susah Takao."
"*yawn* Ini karena aku masih mual Kagamiii~ tetapi lebih baik dibangunkan olehmu daripada dibangunkan oleh Shin-chan sih," Takao tampak tertawa dan duduk di salah satu kursi sementara yang lainnya menatap kearah Takao.
'Ka—kalau dibangunkan Kagami itu—jangan-jangan seperti…'
.
.
Ahomine (+other ) Dirty Mind (3)
.
.
"Daiki, sudah saatnya bangun."
Suara itu malah membuatnya ingin kembali tidur, dan menarik paksa pemilik suara itu bersama dengannya. Sungguh, Aomine tidak butuh membuka mata untuk tahu suara manis yang terdengar di telinganya seperti sebuah Serenade yang mengiringi paginya.
(Oke, sejak kapan Ahomine menjadi puitis seperti ini?)
"—lima menit Taiga…"
"Kau sudah mengatakan itu sejak 15 menit yang lalu, kita bisa terlambat berangkat bekerja dan makananku akan dingin kalau tidak dimakan," Kagami tampak berkacak pinggang dan menatap kearah Aomine yang masih membuka setengah matanya. Menatap Kagami yang memakai apron itu lebih baik daripada bermimpi indah sekali lagi.
Tetapi tentu lebih baik lagi jika—
"AH!" Kagami terkejut saat tangannya ditarik dan membuatnya membungkuk dengan Aomine yang melingkarkan tangannya di lehernya. Menahan wajahnya berada hanya beberapa centimeter dari wajah pemuda berkulit tan itu, "—A—aho!"
"Naa Taiga, kau mau aku bangun kan?" Kagami tampak menatap bingung Aomine sebelum mengangguk. Lebih tepatnya ia ingin Aomine melepaskannya—pinggangnya sepertinya akan encok sebentar lagi, "kau lupa sesuatu sampai aku tidak mau bangun sih."
"Huh?"
"Mor-ning kiss?" Kagami terdiam mendengar suara Aomine yang berbisik di telinganya, sebelum wajahnya memerah, dan semakin memerah, "dan karena kau lupa, kali ini aku akan menghukummu dengan menyuruhmu menciumku terlebih dahu—"
CUP!
Sebuah ciuman, bukan—bukan ciuman yang dalam dan panas, lebih seperti ciuman yang dilakukan oleh malaikat yang terlalu polos dan tidak mengerti gelapnya kulit Aomine #uhuk maksudnya gelapnya dunia. Kagami hanya menyentuhkan bibirnya pada bibir Aomine dan menjauhkannya lagi.
"Seperti itu?" Kagami merasa wajahnya benar-benar panas. Ini memalukan, namun Aomine berkata lain, ciuman itu sudah cukup untuk membangunkannya sepenuhnya. Hingga ia ingin memakan bulat-bulat Kagami saat itu juga.
.
.
End, Aho!
.
.
'Takao!'
Tatapan tajam diberikan pada Takao yang tersentak dan tidak mengerti apapun. Padahal yang dilakukan oleh Kagami untuk membangunkan Takao hanyalah dengan membisikkan iming-iming makanan pada pemuda berambut belah tengah itu.
"A—ahaha…"
Sepertinya Takao harus menjaga diri untuk tetap selamat saat kembali dari Amerika.
"Maaf ya aku tidak bisa membuat Kimchi untukmu. Aku akan mencoba mencari bahannya hari ini," Kagami tampak tidak enak dengan Takao sambil memberikan sepiring karage hangat padanya. Takao yang sebenarnya masih gugup dengan tatapan para mantan anggota Kiseki no Sedai itu, tentu saja tertawa canggung.
"A—ahaha, tidak apa-apa Kagami, kau tidak perlu repot-repot!"
"Baiklah," Kagami sedikit bingung namun segera melepaskan apronnya dan duduk sambil menatap kearah seluruh sisi meja, "hm, Tatsuya belum datang ya?"
"Sudah kok," suara itu membuat semuanya menoleh dan menemukan Himuro yang tersenyum dan masuk begitu saja. Tentu menjadi teman Kagami membuatnya mendapatkan akses keluar masuk rumah kediaman Kagami dengan mudah.
"Tatsuya, aku sudah membuatkan acar timun untukmu, tunggu akan kukeluarkan," Kagami bangkit lagi dari bangkunya dan berjalan kearah kulkas sebelum Himuro yang masih tersenyum menoleh kearah semua yang ada di meja makan termasuk Takao dan juga Satsuki.
"Jadi, apakah kutinggal 12 jam ada sesuatu yang harus kuketahui?"
Tatapannya bisa diartikan sebagai : "Berbohong, dan sampaikan selamat tinggal pada juniormu."
Cukup bisa dimengerti oleh semua orang.
"Atsushi?" Tentu saja yang pertama kali ditanya adalah sang titan ungu yang tampak terkejut hampir tersedak oleh Maibou yang ia bawa dari Jepang.
"Aku tidak melakukan apapun Muro-chin~ bahkan aku tidak sekamar dengannya. Aka-chin dan juga Kuroko-chin yang satu kamar dengannya," Murasakibara mencoba untuk meloloskan diri sebelum Himuro menanyakan lebih banyak lagi padanya.
"Aku dan Tetsuya tidak melakukan apapun. Yang bersama dengannya satu ranjang hanyalah Kazunari," Akashi tampak menjawab dan Kuroko mengangguk sebelum Himuro menoleh pada Takao yang tersentak karena diperhatikan dari atas hingga bawah oleh kapten Yosei itu.
"Kalau tidak aku tidak akan khawatir."
Takao menghela napas, Himuro tampak menatap kearah yang lainnya lagi yang tampak hendak protes kecuali Akashi, "ada lagi?"
"Mungkin Daiki? Pagi tadi aku melihatnya mencoba memeluk Taiga," Akashi angkat bicara sambil menyesap teh yang juga disiapkan di atas meja oleh Kagami tersebut. Dan Himuro menatap kearah Aomine bersama beberapa pasang mata yang menatapnya tidak percaya—yang tidak mengetahui kejadian waktu itu.
"Butuh penjelasan disini…"
"A—aku tidak melakukan apapun! Tanya saja pada Bakagami itu!"
"Tanya apa?" Kagami yang kembali dengan sepiring acar timun itu tampak menoleh dan menatap kearah semuanya yang menggeleng dengan segera. Oke, sepertinya kali ini Aomine selamat karena setelah itu Himuro menanyakan hal itu pada Kagami secara langsung dan ia segera membantahnya.
"Aku sudah katakan kalau ia hanya membantuku menggulung lengan baju kan?" Kagami tampak menatap semuanya dengan wajah heran sebelum menoleh kearah Himuro, "lagipula, bukankah berpelukan seperti itu adalah salam yang biasa dilakukan disini? Alex sering melakukannya bahkan sampai menciumku."
'Tidak dengan Aomine/Aomine-kun/Dai-chan/Daiki/MEREKA!'
.
.
Mereka lelah. Ah tidak, mungkin yang lebih melelahkan adalah Himuro—
Seharian mencoba untuk mengelilingi California, tempat Kagami dan juga Himuro tinggal, mulai dari pantai Marina Bay, hingga jembatan Golden Gate. Butuh waktu seharian penuh hingga waktu menunjukkan pukul 8 malam saat mereka kembali ke kediaman Kagami.
Apakah karena lelah perjalanan membuat Himuro tumbang?
Tentu saja tidak,
Karena mantan anggota Kiseki no Sedai yang mencoba beberapa kali untuk menyentuh Kagami (lebih tepatnya bokongnya) tanpa sepengetahuannya, dan juga beberapa tatapan mesum dari Aomine serta Murasakibara yang mencoba untuk memeluk Kagami setiap saat dan tidak ingin melepaskannya.
Tambahkan beberapa pertengkaran lainnya seperti demi untuk duduk di samping Kagami atau sekedang menemani Kagami untuk membeli minuman, hingga menemani Kagami saat ia akan pergi ke toilet.
Demi gusti, Kagami bukan anak usia 5 tahun yang tidak bisa pipis sendiri oke?
Dan dari semua itu, yang membuat Himuro harus extra waspada adalah kenyataan bahwa Kagami sama sekali tidak berpikiran negatif pada setiap tingkah teman-temannya yang kelewat tidak rasional itu.
…oke—Himuro lebih tepat disebut lelah secara mental.
Keep setronk Himuro Tatsuya.
"Etto kurasa malam ini aku akan tidur di kamar tamu saja."
Takao tampak mencoba untuk menghindar dari masalah. Sungguh, ia merasa ada di mulut lubang buaya dan ada enam orang yang siap untuk mendorongnya masuk ke dalam lubang itu untuk dimakan hidup-hidup.
Himuro yang sebenarnya mengandalkan Takao untuk menjauhkan Kagami dari perbuatan asusila saat malam hari menatapnya dengan tatapan : penghianat.
Dan dijawab Takao dengan tatapan : Aku masih ingin hidup!
"Kalau begitu malam ini kurasa aku yang akan menemani Taiga," Akashi bersabda, namun kali ini semuanya tidak akan setuju dengan itu.
"Tidak, yang kemarin pengecualian karena kondisi Takao-kun yang tidak memungkinkan Akashi-kun, sekarang akan kita tentukan dengan undian saja," Kuroko tampak menoleh dengan tatapan datar kearah Akashi yang membalas tatapannya.
"Apakah kau membantahku Tetsuya?"
"Untuk kali ini (dan demi bersama Kagami-kun) kurasa aku harus melakukannya Akashi-kun," dan tampak percikan listrik diantara mereka berdua yang tampaknya akan membuat pertengkaran baru jika tidak segera dihentikan oleh Himuro.
"Kalian—"
"Huh? Kau akan pindah kamar Takao?"
Kagami menoleh kearah Takao yang mengangguk sambil tersenyum lebar dan akan pergi ke lantai dua untuk membereskan barang-barangnya. Sepertinya Kagami baru selesai membuatkan minuman untuk semuanya dan melihat Takao yang akan naik ke atas dan menanyakan kenapa.
"Ah begitulah Kagami, terima kasih sudah merawatku kemarin!"
"Ah, apakah kau pindah karena cara tidurku yang tidak bagus?" Kagami terlihat merasa bersalah dengan apa yang didengar olehnya, "Alex memang sering mengatakan kalau aku tidak bisa tenang saat tidur. Apakah karena tidak sengaja dan sadar aku menendangmu ataukah karena aku mengorok dengan keras hingga mengganggumu?"
Dengan wajah seperti anak kucing kelaparan, bahkan Takao dan Himuropun tampak berdoki ria. Bahkan mereka seolah melihat telinga kucing yang menekuk di kepala Kagami membuat mereka benar-benar merasa bersalah.
"A—aaaah kau tahu Kagami, aku hanya bercanda saat mengatakan akan pindah kamar. Aku hanya akan mengambil beberapa barang di kamar!" Takao segera memperbaiki kata-katanya dan menatap kearah Kagami yang menatapnya balik, "aku tidak akan pindah! Dan cara tidurmu sama sekali tidak jelek, aku tertidur sangat pulas karena perawatan dan juga minuman yang kau berikan! Tidak pernah terganggu sedikitpun karena dengkuran ataupun gerakanmu!"
Tidur berdua dengan Kagami pada satu ranjang sementara yang lainnya memperebutkan posisi itu memang seperti berada di ujung lubang buaya, tetapi sampai membuat Kagami terlihat kecewa seolah ingin menangis seperti tadi, ia yakin bahwa ia tidak akan bisa melihat matahari terbit besok.
"Kalian sudah pulang?" Suara itu membuat semuanya menoleh dan menemukan nyonya Kagami yang tampaknya sudah datang sebelum mereka dan sudah mengenakan pakaian rumahnya, "bagaimana perjalanan kalian? Kurasa Tatsuya-kun yang terlihat paling lelah."
"Kau tidak akan tahu apa yang terjadi Rinka-san…"
"Nah karena Taiga sedang sibuk menyiapkan makanan, bagaimana kalau kita mengobrol sedikit?" Rinka tampak tersenyum dan duduk di sofa tunggal yang ada pada salah satu sisi dari sofa yang ada disana, sebelum menunjukkan buku album yang ada disana, "ada yang ingin melihat album foto Taiga-kun?"
"OKAA-SAN AKU BISA MENDENGARNYA! JANGAN MEMALUKAN ANAKMU INI KUMOHON!" Suara Kagami yang panik terdengar dari dapur yang ada di dekat sana, membuat yang bersangkutan tampak tertawa, Himuro yang menghela napas lega—karena ia tahu bahwa mereka akan semakin menggila jika melihat foto Kagami Taiga dulu—dan enam helaan napas kecewa dari mantan Kiseki no Sedai itu.
"Aku hanya bercanda Taiga-kun, sedikit—" Rinka tampak berteriak balik dengan kata terakhir yang sedikit ia bisikkan, "—sebagai gantinya, aku akan menceritakan hal menarik yang bahkan Taiga sendiri tidak mengetahuinya."
"Huh?"
"Sebelumnya, aku penasaran apakah kau masih ada hubungan darah dengan Saizoku, Sei-kun?" Rinka menoleh pada Akashi, begitu juga yang lainnya yang segera menoleh langsung kearah Akashi.
"Itu adalah nama ayahku…"
"Ah, sudah kuduga! Kau benar-benar mirip dengan ayah dan ibumu," Rinka tersenyum sambil menepuk kedua tangannya membuat Akashi dan yang lainnya mengerutkan dahinya, "yah kau tahu, ayah Taiga adalah konsultan di salah satu perusahaan besar disini."
'Pantas saja…'
"Dan perusahaan itu bekerja sama dengan Akashi Company. Kau tahu bukan yang memiliki cabang di New York dan California?" Akashi tampak mengangguk. Satu alasannya disini tentu saja untuk melihat keadaan villa dan perusahaan disana, "perusahaan tempat ayah Taiga bekerja juga memiliki cabang di Jepang. Jadi, karena saat itu ayah Taiga harus sering menemui klien perusahaan, aku sering sekali bertemu dengan ayah dan ibumu. Ia adalah wanita yang cantik, dan kau sangat mirip dengannya."
Akashi tampak terdiam dengan sedikit semburat merah di pipinya.
"Kami berteman baik, dan saat aku hamil Taiga, dan 4 bulan kemudian aku mendengar kalau ibumu hamil—kami cukup senang karena artinya anak kami mungkin akan berteman jika sudah besar," Rinka tertawa dan menatap kearah Akashi dengan senyuman penuh arti, "bahkan, sebenarnya—jika kau atau Taiga terlahir sebagai perempuan kami akan menjodohkan kalian kau tahu~?"
…
Hening. Satu detik. Dua detik.
"EEEEEEEEEEEEEEEEEH!?"
Teriakan dari semua orang (selain Akashi yang—oh, apakah itu adalah senyuman penuh kemenangan? Dan Satsuki serta Takao yang menikmati bagaimana pricelessnya wajah mereka saat itu—bahkan Midorima sekalipun) terdengar membuat Kagami yang baru saja selesai memasak dan baru saja akan memanggil mereka bingung.
"Ada apa dengan mereka Momoi-san?"
"Tidak apa-apa Kagami-kun, sama sekali tidak ada masalah…"
Takao menepuk pundak Kagami penuh simpati.
.
.
To Be Continue
.
.
Ahaha :'D chapter ini AoKaga dulu ya, chapter depan akan ganti pairing dulu~
Ada yang mau request pairing centric setelah ini siapaxKagami? Saya akan buatkan :')
Dan BTW, karena FFN sedang dalam masalah, saya cuma bisa lihat dari email yang login pake akun TT jadi yang ga login saya ga keliatan tuh review kalian…
Tapi, saya tetap berterima kasih untuk review, follow, dan fave kalian untuk cerita ini :D
Terima kasih untuk krisyeol77, anis . dayah . 3, AoKagaKuroLover, suira seans, Fumiko23, Rena Shimazaki (namanya hampir sama kaya nama wattpadku mbak :'D), ChienYHanHun, Shirouta, Axerleoulus Xenon Xelvarixion, Ai Chan Phantomhive, dan semua tamu yang belum bisa dilihat reviewnya karena keeroran FFN beberapa hari ini :'(
.
.
Sampai jumpa chapter depan :D
(Ga janji bakal secepat ini update sih)
