Pagi hari esoknya aku bangun lebih pagi dari biasanya. Aneh. Aku tidak pernah bangun terlalu pagi atau kesiangan. Waktu bangunku selalu pas. Lalu kenapa hari ini rasanya aku bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah…?
Kuputuskan untuk tidak menggubris hal itu. Aku beranjak dari kasurku dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah selesai bersiap-siap, aku melihat jamku. Masih pukul 05.00. Sekolah masuk pukul 07.00. Masih ada waktu banyak, tapi yasudahlah. Aku berjalan keluar dan kemudian mengunci pintu kamarku. Aku sedang memasukkan kunci kamarku ke dalam tasku saat suara yang sudah kukenal itu memanggilku.
"Sasori-san?"
Aku menoleh ke arah suara tersebut.
"Deidara." Jawabku. Dia tersenyum dan berlari ke arahku.
"Selamat pagi, un! Kau mau berangkat ke sekolah? Tidak kepagian?"
Aku menguap. "Hmm. Pagi. Ya, ntah kenapa aku bangun lebih pagi dari biasanya. Kau sendiri?"
Dia tertawa kecil. "Aku? Aku berangkat pagi untuk berkeliling melihat isi sekolah. Kemarin aku langsung belajar di kelas, jadi tidak sempat, un."
Aku dan Deidara berjalan bersampingan menuju sekolah. "Kenapa tidak kemarin pas pulang sekolah saja?"
Kali ini Deidara terlihat ragu untuk menjawab pertanyaanku. Dan semburat merah apa itu di pipi dia?
"O-oh. Umm. Kemarin aku kan ingin pulang bersamamu, dan rasanya tidak enak kalau memintamu menunggu, un."
Aku menaikkan alisku. Ingin pulang bersamaku? Kenapa? Tapi aku tidak bertanya padanya. Aku hanya menghela nafasku.
"Yasudah. Kita juga kepagian, masih banyak waktu. Mau kutemani keliling sekolah?" Aku tidak mengerti kenapa aku menawarinya. Aku berencana untuk tidur lagi di bangkuku begitu sampai. Tapi entah kenapa kata-kataku terselip begitu saja…
Deidara tersenyum ceria dan menganggukan kepalanya dengan semangat. "Mau, mau, un!" kemudian dia berhenti menganggukan kepalanya dengan tiba-tiba, semburat merah kembali muncul di pipinya. "t-tapi tentu saja kalau kau tidak repot, un."
Aku tertawa kecil. Bagaimana tidak? Deidara terlihat manis kalau mencibir begitu.
"A-ah! Kau tertawa, un!" Aku segera berhenti tertawa, menyadari apa yang barusan kulakukan. Sial, kenapa aku malah ketawa-
"S-siapa yang ketawa? Jangan mimpi deh.." Aku berkata se-casual mungkin, menyembunyikan rasa malu ku. Deidara tertawa lagi, berteriak dan menunjukku sambil berlari mendahuluiku.
"Sasori-san ketawa, un~! Hahahaha!"
Kali ini semburat merah menghampiri pipi ku. Aku berlari mengejarnya.
"D-deidara! Diam kau, anak brandal!" Tapi tentu saja Deidara tidak berhenti. Akhirnya kita sampai di sekolah seperti sehabis lari marathon. Berkeringat dan terengah-engah. Aku menjitaknya, dan dia hanya tertawa lagi. Tawa yang tanpa kusadari sangat kusukai.
…
"So, Sasori. " Ucap Hidan, sambil duduk di sampingku. "Kau harus memberi tahu kita soal si pirang ini."
Aku mengerutkan alisku ke Hidan. Sekarang waktunya istirahat, dan kebanyakan anak-anak sudah bergegas ke kantin. Kecuali teman-teman satu kelompokku, yang saat ini sedang meng 'interogasi' ku.
"Apaan?" Jawabku dengan polos. Aku tahu maksud mereka siapa, tapi enggak ngerti maksudnya apa.
Hidan menepuk kepalanya sendiri. "Sasori oh Sasori, ternyata pinter-pinter-bego juga." Ucapnya dengan dramatis. Aku menggeplak kepalanya.
"Maksud si Hidan," Ucap Konan. "Kau kasih tau siapa si Deidara ini sama kita. Aku liat lho, tadi pagi kau jalan berduaan sama dia, keliling sekolah. Emangnya kamu tipe yang bisa diajak jalan sama orang ga dikenal?"
Kisame menganggukan kepalanya. "Iya, rasanya aneh begitu datang pagi-pagi Sasori enggak ada. Dia kan on time terus. Eh tau-tau ternyata habis jalan berduaan sama si pirang itu. Hahaha!" Semua tertawa kecil. Semburat merah menghampiri pipiku.
"Dia bukan siapa-siapa…" Jawabku, mencibir. Sementara Tobi menyahut. "Tobi tahu Sasori-san bohong! Tobi lihat Sasori-san dan Deidara-san tertawa dengan mesra di koridor menuju kelas tadi pagi!" Kali ini semua tertawa terbahak-terbahak. Aku yang sudah tidak mampu menahan rasa malu ku, akhirnya menyerah dan menyahut balik kepada mereka.
"Arggh, fine, terserah! Kalian bahkan lebih cerewet dari ibuku! Dan Tobi, aku TIDAK tertawa mesra dengannya." Aku berusaha untuk terlihat galak, tapi gagal karena semburat merah sial itu yang tidak meninggalkan pipiku.
Itachi, yang daritadi hanya tersenyum kecil saja, berbicara. "Jadi ceritakan pada kami."
Aku menghela nafasku. Untuk apa juga kusembunyikan? "Dia anak pindahan baru di kos-an ku. Aku berangkat ke sekolah bersama dia secara ke-be-tu-lan dan ke-be-tu-lan aku menawarkan diri untuk menemani dia berkeliling sekolah. Puas?" Ucapku tanpa henti. Mereka terdiam beberapa saat, sampai akhirnya Hidan memecahkan keheningan dan tertawa keras.
"KAU? KE-BE-TU-LAN MENAWARKAN DIRI? HAHAHAHA" Aku menahan amarahku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk melempar buku ku ke Hidan, tetapi sayangnya bisa dia hindari dan buku tersebut... melayang ke orang yang baru saja masuk ke kelas.
"Buku siapa ini, un?" Deidara menangkap buku itu sebelum mengenainya.
'Sial!' pikirku. Aku segera beranjak ke arahnya. "Maaf Deidara, itu buku ku. Kau tidak kena, kan?" Aku bertanya dengan khawatir. Deidara kelihatan kaget dengan aku yang tiba-tiba menanyainya.
"T-tidak apa-apa, un. Kenapa buku mu dilempar?" Tanyanya, sambil mengembalikan bukuku.
Aku menghela nafas. "Bukan ap—" Kata-kata ku di hentikan oleh Hidan yang sudah berada di sampingku.
"Halo, pirang~" Deidara menatap Hidan. Raut wajahnya sedikit bingung.
"Halo, umm…?" Deidara terlihat berpikir. Tentu saja dia belum tahu nama Hidan. Aku menghela nafas lagi. Sudah berapa kali aku menghela nafas hari ini?
"Deidara, ini Hidan." Kataku sambil mengarahkan tanganku ke Hidan. Deidara tersenyum dan mengangguk.
"Halo, Hidan-san, aku Deidara! Salam kenal!" Deidara menjulurkan tangannya, maksudnya untuk menjabat tangan Hidan. Tapi sepertinya Hidan punya pikiran lain. Dia menarik tangan Deidara dan membawanya ke tempat anak-anak yang lain duduk. Aku baru sadar dari lamunanku setelah diteriaki Hidan.
"Oi Sasori! Sini! Ngapain bengong? Kenalin si pirang ini ke yang lain!" Aku tidak gagal melihat senyum jahil di wajah Hidan. Sial. Lihat saja, suatu saat akan kubalas dia. Ugh. Dengan malas aku berjalan kembali ke tempat anak-anak yang lain duduk.
Deidara kelihatan kebingungan dan tidak tahu harus ngapain. Yah, kasihan juga sih dia. Lebih baik aku cepat selesaikan kejahilan si Hidan ini…
"Deidara, itu Pein, Konan, Itachi, Kisame, Tobi, Zetsu, Kakuzu, dan kau sudah tahu Hidan." Ucapku ke Deidara, sambil menunjuk mereka satu-persatu. Deidara mangut-mangut, kelihatan sibuk menghafalkan nama-nama yang baru kusebut. "Halo semua! Aku Deidara, un! Salam kenal!"
Konan kemudian berbicara. "Salam kenal, Deidara-kun! Aku belum pernah melihatmu, tapi sepertinya Sasori-kun sudah mengenalmu duluan ya, hmm?" Ucapnya sambil melirik ke arahku. Sialan, pasti dia sengaja. Aku membuang mukaku ke arah lain.
Deidara mengangguk, dengan innocent-nya tidak menyadari niat jahil teman-temanku "Aku satu kos-an dengan Sasori-san, un. Dia sangat baik, dia mau mengantarku keliling sekolah, un!"
Semua tersenyum menyeringai. Aku mulai memainkan pensil ku dengan grogi. Berharap ada keajaiban terjadi untuk segera mengentikan pembicaraan memalukan ini. Lalu seperti menyadari rasa malu ku, Kali ini Pein berbicara.
"Kenapa kau mau diantar Sasori? Dia kelihatan tenang dan pendiam, tapi sebenarnya dia itu cerewet dan bermulut tajam, lho."
Deidara menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak, un! Sasori-san baik sekali! Memang sih, awalnya aku juga berpikir dia itu dingin, tapi sebenarnya hatinya hangat kok! Kalian harus liat saat dia tertawa, manis sekali, un!"
Hening.
Ctak.
Aku mematahkan pensilku.
"DE-I-DA-RA….." aku mendesis ke Deidara. Dia terlihat bingung, kemudian membulatkan bibirnya dan menggumam 'oops'.
Kali ini bukan semburat merah lagi, tapi seluruh wajahku warnanya sudah sama seperti rambutku sendiri.
Hidan yang segera menyadari aura mematikanku segera menarik tangan Deidara dan membawanya lari, disusul oleh yang lain sambil tertawa.
"Pirang! Lebih baik kencangkan larimu atau kau akan dibunuh Sasori!" Deidara ikut tertawa. "Tapi memang benar kok, tawa Sasori-san itu manis!" Dan seluruh grup yang ikut berlari bersama mereka tertawa terbahak-bahak lagi.
Aku bangkit dari bangkuku untuk mengejar mereka, tidak lupa membawa kamus 'Cara Efektif dan Menyakitkan Untuk Membunuh Orang' milikku.
