A Taste of Your Love
Chapter 2
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Genre : Romance, Drama
Rated : T
Warning :
AU!, Typo(s), gaje
.
Present~
.
.
Pukul 20.00
Malam yang terlalu dingin untuk nekat berjalan kaki 15 menit dari kampus menuju rumah. Namun, malam ini rupanya tidak terlalu buruk karena lampu hias dari berbagai toko di pinggir jalan membuatnya tak terasa sepi.
Terlebih saat baru saja melewati halte di persimpangan jalan, seorang pemuda dengan seragam sekolah mencolok perhatian terus saja mengikuti, entah angin apa yang membuat pemuda itu hanya duduk saja tanpa berniat naik bus terakhir yang telah lewat lima menit lalu.
Malam itu benar-benar tidak sepi, tapi akan lebih baik jika harus berperang dengan kesepian di sepanjang jalan daripada harus terus-menerus dibuntuti, bukan?
"Aku sudah sampai, kau bisa pergi."
Pemuda itu mundur selangkah, mendapati gadis dengan jaket tebal menoleh ke arahnya.
Angin kencang berhembus menggantikan keheningan diantara keduanya.
"Siapa yang mengikutimu? Aku mau pulang." Lelaki itu berjalan melewati Ino.
"Astaga, Kiba! Ku kira siapa tadi."
Kiba terkekeh geli. "Rupanya kau penakut."
Ino hanya diam tidak menanggapi.
"Ayo pulang?" Kiba hendak menggandeng tangan Ino, namun perempuan itu menepisnya.
"Sana pulang sendiri!"
"Ih dasar, cuma gara-gara begitu saja kau marah?"
Ino menyilangkan tangannya, kini ia dalam mode serius. "Buat apa aku marah hanya karena diledek begitu?"
"Lalu kenapa, hmm?" Kiba kemudian memberanikan diri meletakkan kedua tangannya di bahu Ino, pacarnya.
"Kau mana mungkin bisa pulang denganku? Pulang saja sendiri, nanti aku menyusul. Kalau ibumu marah-marah,aku juga yang repot."
"Ah," Kiba menurunkan tangannya.
"Iya, sudah sana pulang."
"Ibu dan ayahku tidak akan pulang malam ini. Mereka sedang pergi, nenekku sakit."
Ino mengerjap sesaat, terlebih ketika Kiba tiba-tiba menggenggam tangannya lagi. Ino tidak menolak kali ini. Kemudian ia hanya menantikan Kiba yang mungkin akan memberinya sedikit penjelasan tentang berlangsungnya malam ini bagi mereka, tanpa ada gangguan sama sekali.
"Kamu tidak terburu-buru pulang, kan? Atau ada tugas kuliah?"
Ino meneguk ludah, ia khawatir karena nyatanya ada setumpuk tugas yang belum ia sentuh sama sekali. Terlalu sibuk pergi ke sana sini dengan Kiba akhir-akhir ini. Kalau kalian tanya bagaimana caranya mereka sering pergi, itu karena Kiba selalu mengelabuhi ibunya dengan dalih ingin mengerjakan tugas sekolah di rumah teman.
Meski begitu, menghabiskan waktu dengan Kiba adalah hal yang sulit, belum lagi ditambah ibunya yang selalu menelepon ketika Kiba pergi terlalu lama. Jadi, mau tidak mau Ino merelakan tugasnya terlantar berhari-hari.
Tapi untuk malam ini, ia tidak ingin melewatkan kesempatan emas begitu saja.
"Tidak ada tugas kok."
"Mau pergi denganku?" Tawar Kiba.
Ino mengangguk, balas menggenggam erat tangan Kiba.
.
.
.
Pukul 21.00
"Dasar sialan, kenapa bawa aku ke pantai malam-malam begini?" Ino terkekeh, ia heran saja anak itu bisa membawanya pergi agak jauh dari rumah mereka.
"Aku biasa ke sini kalau sedang stress dimarahi ibuku." Kiba menatap laut lepas.
"Malam-malam begini?"
"Tidak juga, biasanya siang juga mampir."
Ino mengangguk, membiarkan pacarnya itu mengeluarkan keluh kesahnya yang tidak pernah ia ceritakan ke orang lain selama ini. Kiba bilang, ia orang pertama yang jadi tempat curhatnya.
"Aku hanya tidak mengerti dengan jalan pikiran ibuku, atau mungkin malah aku yang tidak bisa memahami setiap permasalahan dari sudut pandangnya."
Ino menepuk-nepuk punggung pemuda itu, berusaha menenangkan.
"Kau terkadang dengar, bukan? Masalah kami sebenarnya sepele, tapi karena ibuku sudah buka suara, masalahnya jadi membesar dan kadang ayahku ikut turun tangan memarahiku."
Mungkin ibu Kiba hanya ingin dikenal tegas oleh tetangganya saat bisa memarahi anaknya setiap waktu, begitu pikir Ino.
"Pernah waktu itu, mungkin kau belum pindah ke depan rumah kami. Tapi karena aku tidak mau belajar karena lelah sekali diminta menjaga toko dari pulang sekolah sampai setengah sebelas malam, aku justru dimarahi. Aku sudah ingin mengakhiri pembicaraan dengan pergi ke kamar, tapi bajuku justru diseret dari belakang dan aku dilempar begitu saja ke pintu. Kau tahu, bahkan pintu rumah kami tidak terbuat dari kayu, tapi dari besi. Arrgh, aku benci sekali mengingatnya."
Bulir-bulir air mata keluar dari mata Kiba, membuat Ino tak tega juga untuk tidak menenangkannya. Pasti berat, ia tahu pasti berat menjalani semuanya sendirian. Tapi kini, ia ingin Kiba tahu bahwa dirinya tidak sendirian lagi. Ada Ino yang siap mendengar semua keluh kesahnya.
Ino merengkuh tubuh Kiba, membiarkan pemuda itu terisak mengeluarkan semua bebannya. Ino masih menepuk-nepuk puggungnya sesekali.
Hanya tinggal menunggu waktu sampai Kiba benar-benar pulih dari rasa sedihnya.
.
.
Ino menatap ponselnya sembari berbaring di atas pasir. Sudah jam 10.30.
"Hei," Ia menepuk pipi Kiba.
Kiba yang terpejam langsung membuka mata.
"Kapan kita pulang?"
Kiba memiringkan badannya hanya untuk menatap Ino, tidak berniat menjawab. Sementara itu, Ino melakukan hal yang sama, hanya menatap Kiba untuk menunggu jawaban.
"Kapan?" Perempuan itu bertanya lagi.
"Bagaimana kalau tidak usah pulang?"
"Eh, mana mungkin? Nanti kala-"
"Ibuku? Sudah ku bilang dia tidak akan pulang malam ini. Ku pikir kau justru lebih takut dengan ibuku daripada aku sendiri."
"Enak saja, aku hanya berpikir tidak mungkin kita bermalam di sini."
"Kenapa tidak mungkin? Orang lain banyak yang seperti itu."
Ino lantas bangkit, memperhatikan sekitar. Ya, memang ada beberapa orang yang tiduran juga sama seperti dirinya dan Kiba. Huh, kenapa juga ada orang-orang aneh yang mau bermalam ditemani angin kencang seperti ini? Seperti tidak punya rumah saja.
Kiba lantas menarik Ino untuk tiduran lagi. "Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan begitu, aku hanya meras-"
Ino bungkam ketika Kiba mengelus surainya, kemudian merambat ke pipi. Ino dengan gerakan patah-patah menoleh ke arah Kiba yang nyatanya tengah berusaha mendekatkan diri. Wajah Kiba semakin mendekat.
Hanya tinggal menunggu detik berjalan saja hingga akhirnya mereka bisa merasakan deru napas masing-masing.
"Sekarang sudah boleh, kan?"
Ino diam saja, tidak mau menjawab. Perlahan ia menutup mata, menerima belaian lembut bibir Kiba yang menekan bibirnya. Rasanya asing, entah karena Ino yang minim pengalaman pacaran atau entah karena yang menciumnya saat ini adalah lelaki muda. Tapi ia tetap menikmatinya, seperti orang pacaran kebanyakan.
Baru ketika oksigen semakin menipis, mereka melepaskan diri. Kiba kembali mengecupnya sekilas, kemudian tersenyum.
.
.
.
Ino tersenyum di sepanjang jalan menuju kampus, bahkan masih tersenyum ketika ada bus yang berhenti tepat di sampingnya yang masih melangkah dengan ringan. Ia hanya melambaikan tangan, tanda ia tak bermasalah meski hampir tertabrak.
"Aku lihat semuanya." Tenten, teman Ino yang baru saja masuk kelas itu langsung menyerbu Ino dengan suara lantangnya.
"Apa sih?" Ino mengeluarkan ponselnya, mengetikkan beberapa pesan dengan Kiba.
"Aku lihat semuanya, kau dan anak sma itu. Aku tahu apa yang kalian lakukan tadi malam."
What?
Ino meletakkan ponselnya dengan kalem. "Apa yang kau lihat?"
Sebenarnya, Tenten itu orang yang tidak terlalu peduli tentang percintaan, apalagi masalah percintaan orang lain. Tapi entah ada angin apa hingga perempuan bercepol dua itu begitu penasaran di depan Ino, menuntut ingin tahu.
"Aku lihat kalian bicara serius sekali, sambil berpegangan tangan. Saat itu aku hampir ke rumahmu, tapi kau malah sudah pergi dengannya."
Ino berdehem sebentar. "Umm, ya… Lalu kau tahu kami pergi kemana?"
"Mana aku tahu, kau saja tidak menoleh padaku. Memangnya kalian pergi kemana, hmm? Dia pacarmu?" Tenten tersenyum mengerikan.
Benar, Tenten sungguh mengerikan kalau sudah penasaran.
"Asal kau tidak bocor kemana-mana, akan ku ceritakan sedikit tentang anak itu."
.
.
.
"Kemarin kan ibu sudah bilang, habis sekolah langsung pulang. Bajumu kotor begini, kamu yang pakai enak tinggal pakai, lah tangan ibu bisa patah kalau harus mencuci bajumu yang begini."
"Ya sudahlah, aku bisa mencuci sendiri."
"Kamu berani jawab ibu?! Eh, ibu sedang bicara, dengar dulu kalau orang tua sedang bicara padamu!"
Hening sesaat, untuk selanjutnya dilanjutkan keributan yang sudah biasa terdengar sampai ke pojok komplek perumahan yang Ino tinggali.
Ino ada di kamarnya, sedang mengerjakan tugas dengan kusyuk. Ia sudah biasa mendengar pertengkaran di depan rumah yang ia tinggali. Ia tidak kaget ketika bunyi gedebuk atau pecahan gelas kadang menghiasi keributan itu.
Bohong. Sebenarnya Ino sudah mengepalkan tangan sejak tadi. Ia berusaha menahan diri sampai pertengkaran benar-benar selesai, dan ia akan keluar dari kamar untuk menemui Kiba dengan membawa perlengkapan P3K, siapa tahu dibutuhkan.
Dering telepon yang baru saja berbunyi jadi pertanda ia harus segera keluar, menemani Kiba yang tidak akan tidur di rumah lagi.
"Kau tidak apa?" Ino menatap wajah Kiba yang tidak terluka sedikitpun.
"Mana mungkin tidak apa-apa?" Kiba mendongak dan langsung meraih tangan Ino.
"Duduk," Perintah Kiba.
"Aku tahu kau pasti sudah terbiasa, tapi kalau begini terus juga tidak bisa. Kau harus bertindak."
"Bertindak apa? Ayahku saja ikut membenciku kalau aku sudah ribut dengan ibu. Tidak ada yang berpihak padaku."
"Tapi kan,"
"Sudahlah, ada kau saja malam ini sudah cukup."
Ino lantas menaikkan alisnya sambil menatap Kiba. Pemuda itu balik menatap, bingung.
"Memangnya siapa yang mau menemanimu? Aku mau pulang."
"Eh kenapa? Ayolah, temani sebentar lagi."
"Kau harus pulang, minta maaflah pada ibumu. Kurasa hanya itu yang bisa membantumu."
Kiba mendesah lelah. "Tidak, kau tidak tahu ibuku. Sudahlah, temani aku sebentar saja."
"Tidak mau, aku harus kembali. Ada tugas."
"Kalau begitu aku ikut denganmu." Kiba tersenyum menggelikan.
"Heh, mana mungkin?"
"Iya, lebih bagus kalau aku ikut denganmu, jadi aku tidak perlu kedinginan di sini. Kalau aku dimarahi ibuku, kau juga akan dimarahi. Malah nanti semakin ramai suasana komplek ini." Kiba lanjut tertawa.
Ino berdecih, tapi ikut tertawa juga. "Baiklah, aku temani. Semalaman juga aku temani."
Mereka mengakhiri perdebatan kecil malam itu dengan sebuah ciuman singkat.
.
TBC
.
A/N : Sudah baper belum? Atau masih belum ngefeeel?
Buat my real life friends yang nggak sengaja buka akun ffnku, atau yang mungkin memang bermaksud menguntit, jangan kaget ya liat tulisanku yang nista banget ini. Salah gitu gue nulis yang beginian? Terserah gw kan ya, ehe, kan yang punya ide juga gw, yang capek nulis juga gw. Sekian, tidak terima makian.
Somehow, teman-teman, ini mau diterusin gak? :p
Oh iya, aku mau kenalan dulu sama temen-temen baruku. KibaIno lovers cintaku~
Lin Xiao Li : Ini udah aku lanjut, jadi gimana kesan setelah baca chapter kedua ini? Yakin masih mau lanjut? :(
qwrtyhawkeye : Siap sudah dilanjut, qaqa!
Raawrr : Aduduh, panjang juga ya ternyata, tapi aku malah suka yang panjang /dor/ komen kamu maksudnya. XD
Aduh jeng, iya nih kebetulan lagi ngebet nulis tentang berondong. Aku juga pengennya Kiba suka beneran lah sama Ino, masa cuma dijadiin mainan? Sok banget padahal dia kan cuma naks sma. Iuwh.
Hikseu, aku memang tukang typo. Nama asli Kiba di orific gw itu si yuda, jadi ketauan deh. u,u
Terimakasih ya kalian sudah mau menyempatkan diri mampir di ff KibaIno pertamaku. Aku terhura :')
Sampai jumpa di chapter selanjutnya ya, dan jangan lupa ingetin aku buat update. Ya itu sih juga kalau kalian suka sama ff ini. :')
