Meet Again

Cast : Byun Baek Hyun (GS), Park Chan Yeol, Do Kyung Soo (GS), Kim Jong In, and other EXO members.

Disclaimer : EXO members belong to God and their parents. The story is mine.

Warning : AU, school life, GS for uke, OOC, typos, abal, nista!Baekhyun and other.

Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfic ini, hanya untuk kepuasan pribadi

.

.

.

Don't like just click the 'Back' button. Please don't bash the casts cause I just use their names for the story.

.

.

.

Happy Reading~!


-Chapter 2: Hey, I'm Baekhyun!-

.

.

.

Mana yang harus kuutamakan lebih dulu? Kesukaan, hobi, atau cinta?

Aku tahu, semuanya memang mengisi hidup setiap orang, termasuk juga aku sendiri.

Tapi bila saatnya tiba nanti, mana yang harus aku utamakanatau bahkan pilih.

Kesukaanku, hobiku, atau cintaku?

Kalau mereka tak ada kaitannya sama sekali mungkin mudah memisahkannya.

Tapi, itu tak terjadi padaku.

Karena, ketiganya saling berkaitan dan aku sangat nyaman berada di ketiganya.

Jadi, mana yang harus kupilih?

Apa boleh ketiganya?

Aku tak mau egois, tapi aku juga tak sanggup harus melepas salah satu dari ketiga hal tersebut.

Yah, aku jalani dulu saja lah. Mungkin dengan begitu aku dapat tetap memiliki ketiganya, nanti.


July, 2013.

"Baek," Sebuah suara halus yang diyakini berasal dari mulut seorang yeoja mengalihkan perhatian Byun Baekhyun─nama yang dipanggil. Buku-buku dihadapannya masih terbuka dan tangannya juga masih menggenggam sebuah pensil mekanik; menandakan bahwa sebelum dipanggil Baekhyun tengah mengerjakan─atau mencatat─ sesuatu yang ada di buku-buku tersebut.

Kedua alis Baekhyun hampir tertaut saat teman satu kelasnya itu berdiri di sampingnya. Baekhyun mendongak. "Mwoya?" Jujur saja, Baekhyun kurang suka jika ada yang mengganggu aktifitasnya saat sedang berkencan dengan buku-bukunya.

Gadis yang masih berdiri di samping Baekhyun yang terduduk menarik sebelah lengan Baekhyun yang bebas. "Temani aku ke kantin," Ekspresi gadis itu lucu sekali. Baekhyun hampir terkekeh─ jika saja ia tidak ingin menggoda sahabatnya itu─ karena ekspresi manisnya saat kelaparan. "Aku malas pergi ke kantin sendirian." Gadis itu menggoyang-goyangkan lengan Baekhyun yang sedaritadi dipegangnya.

Karena masih ingin bercengkrama dengan buku-buku kesayangannya serta betah dengan ekspresi yang ditunjukkan gadis bermata bulat itu, Baekhyun menggeleng. "Tidak mau," Kemudian ia mengetuk-etukkan ujung pensilnya ke sebuah buku yang masih terbuka di hadapannya. "Kau tak lihat aku sedang apa, hm?" Baekhyun menaikkan kedua alisnya.

Si mata bulat merajuk. Perutnya sudah berdemo, bagaimana bisa ia menahan suara berisik dari perutnya lebih lama lagi? "Baek, ayolah~ Kau tak dengar suara perutku yang terus menerus menggelar konser rock?" Ia mengerucutkan bibirnya. Baekhyun sungguh gemar menggoda sahabatnya yang satu ini.

Baekhyun mencubit sebelah pipi temannya; ia gemas. "Baiklah, baiklah. Hentikan sikap manismu atau kau akan membuatku mati karena diabetes, Kyung." Baekhyun terkekeh sebentar sebelum menutup buku-bukunya dan memasukkan apa yang ada di atas mejanya ke dalam laci mejanya. Kemudian Baekhyun berdiri dan menggenggam tangan Kyungsoo─teman Baekhyun yang sedaritadi merajuk. "Ayo!" Baekhyun menarik Kyungsoo dan segera berlari sepanjang koridor menuju ke tangga untuk ke tempat tujuan mereka─kantin. Baekhyun memang suka menarik Kyungsoo seperti itu, tapi Kyungsoo tak pernah menolak─bahkan ikut berlari.

Mereka sudah berhenti di depan pintu yang menjadi akses mereka untuk menyambut makanan-makanan enak di dalam sana. Berusaha mengatur napas yang masih terengah-engah akibat berlari dari lantai dua menuju lantai satu─menuruni tangga pula. "Hosh, hosh, Kyung, kau ingin makan apa?" Baekhyun yang semula berdiri dengan bertumpu pada kedua lututnya sudah berhasil menstabilkan tarikan napasnya, begitu pula dengan Kyungsoo.

"Um, enaknya apa menurutmu?" Kyungsoo menoleh ke arah Baekhyun yang sudah memasuki area kantin yang cukup besar milik sekolah mereka. Kyungsoo mengekor Baekhyun sebelum keduanya berjalan bersisian.

"Steak?"

Kyungsoo memutar bola matanya. "Please, Baek, di kantin ini tak ada yang menjual steak," Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Dimsum bagaimana?"

"Dimsum rasa stroberi ada tidak?" Mata Baekhyun mengerling membuat Kyungsoo menjitak kepala gadis bersurai hazel tersebut. "Aw! Sakit! Kenapa kau jitak kepalaku, eoh?" Baekhyun meringis seraya mengusap kepalanya yang masih terasa berdenyut sampai sekarang.

"Kau ini suka belajar tapi bodoh, ya. Mana ada dimsum rasa stroberi?" Kyungsoo menghela napasnya lelah. "Dimsum itu gurih, tidak cocok dengan stroberi yang asam." Kyungsoo berjalan ke arah tempat penjualan dimsum. Baekhyun mengekor di belakang Kyungsoo yang sudah mengantri untuk membeli dimsum.

"Ya! Stroberi itu manis bukan asam!" Baekhyun protes kepada Kyungsoo yang menatap ke depan tanpa menoleh ke belakang sedikitpun karena mereka sedang mengantri. "Dan juga, gurih bisa digabungkan dengan manis, kok! Rasanya juga enak!" Baekhyun mengepalkan tangannya semangat.

"Baek, yang selama ini kaumakan itu hasil olahan stroberi saja, ya?" Kyungsoo membayar biaya makannya dan membawa nampannya. Setelah ia dan Baekhyun mengucapkan terima kasih kepada ajusshi penjual dimsum, mereka berjalan beriringan menuju sepasang kursi berhadapan yang terletak di samping jendela besar. "Rasa stroberi yang asli itu asam." Mereka telah sampai di tempat yang mereka tuju. Kedua gadis itu menyamankan posisi mereka lalu mulai mengambil sepasang sumpit untuk memulai makan. "Tunggu,"

Kedua alis Baekhyun terangkat. "Waeyo?"

Kyungsoo menepuk dahinya. "Omo! Kita ingin makan tapi tak membeli minuman?"

"Astaga!" Baekhyun ikut-ikutan menepuk dahinya. "Kenapa sampai lupa?"

"Itu karena kebodohanmu tentang dimsum rasa stroberi."

Baekhyun mencibir. "Ya sudah. Aku yang beli minumannya. Kau ingin minum apa?" Ia berdiri dari duduknya. Kyungsoo mendongak. "Aku ingin beli jus stroberi, seperti biasa."

Kyungsoo menempelkan salah satu jarinya di dagunya, tampak berpikir. "Apa, ya? Enaknya apa?"

Baekhyun menghela napas. "Kau ini selalu saja bertanya padaku 'enaknya apa?'. Setelah kujawab, kau malah memilih menu lain." Baekhyun menoleh ke arah kedai jus. Wajahnya panik saat kembali menatap Kyungsoo. "Kyung, cepat! Itu nanti kedai jusnya semakin ramai!"

"Tenang, Baek. Tak usah panik begitu." Kyungsoo memutar bola matanya lagi. "Oke, oke. Aku jus jeruk. Tak pakai lama, oke?" Kyungsoo menaikturunkan alisnya seraya menyerahkan selembar uang ke Baekhyun.

"Ya! Kau pikir antrian di kedai jus tidak ramai?!" Baekhyun berlalu dengan menghentak-hentakkan kakinya sepanjang menuju kedai jus. Kyungsoo tertawa karena ulah Baekhyun saat ngambek menurutnya menggemaskan.

"Baek, Baek. Aku heran. Kau manis tapi kenapa namja tak ada yang tertarik padamu, ya?"

─OoOoO─

-Baekhyun's PoV-

Oh, hai. Sebelumnya, namaku Byun Baekhyun. Kalau teman-teman sih memanggilku Baekhyun atau ByunBaek. Itu terserah mereka dan aku tak keberatan sama sekali. Aku bersekolah di Busan Junior High School, salah satu sekolah faforit di kota ini. Dari namanya saja sudah ketahuan bukan aku tinggal dimana? Yap, Busan, Korea Selatan.

Usiaku 14 tahun, usia seorang siswi yang menginjak kelas 9. Masih muda, ya? Tapi begitu lah kenyataannya. Karena wajahku yang imut ini─hei, aku tak bermaksud sombong─, banyak yang mengira kalau aku ini siswa kelas 7 bahkan parahnya ada yang mengira aku murid sekolah dasar yang meminjam seragam kakaknya yang dulu bersekolah di sekolah ini. Jangan bercanda.

Walaupun wajahku imut, tapi tetap saja tak ada yang mau mendekatiku─maksudku namja. Mereka terlalu perhitungan soal fisik. Sedangkan aku ini hanya seorang siswi pendek dengan tampilan kutu buku─dengan kacamata yang lumayan tebal─ dan sering meluangkan waktu untuk belajar. Kurang apa lagi? Jadilah aku dicap sebagai penyandang istilah nerd.

Tapi jangan salah, begini-begini aku masih punya teman, tahu. Dan beruntungnya lagi aku punya seorang sahabat yang selalu menemaniku dari kami masih seorang anak kecil. Berbeda denganku, ia tidak memiliki penampilan seorang nerd. Ia juga imut─maka dari itu banyak sekali yang menyatakan cinta kepadanya sejak kami sekolah dasar. Lalu.. nah, ia punya satu ciri yang mudah dikenali. Mata bulatnya. Apalagi kalau ia sedang melotot karena kesal dengan tingkahku atau sedang terkejut, aku takut kedua bola matanya jatuh. 'Kan sayang bola mata seindah miliknya kalau sampai mengelinding di lantai. Membayangkannya saja aku sudah─OMG. Seperti cerita horror.

Namanya Kyungsoo, Do Kyungsoo. Aku memanggilnya Kyung. Kadang Kyung-ie, kadang Kyung-ya, ya pokoknya sesukaku lah. Ia sendiri juga tak protes akan hal itu. Kyungsoo juga sama sepertiku, termasuk siswa kutu buku─walaupun ia tak pakai kacamata sepertiku dan tampilannya tak seabsurd milikku. Aku beruntung bisa memiliki sahabat seperti Kyungsoo. Ia selalu membantuku saat kesulitan, selalu ada saat aku ingin berbagi kebahagiaan, kesukaan kami juga sama, hobi kami juga sama, pokoknya aku sangat beruntung. Banyak hal yang membuat kami merasa sangat cocok.

Aku suka menyanyi, Kyungsoo juga. Aku suka biologi, Kyungsoo suka fisika. Selain banyak persamaan, kami juga saling melengkapi. Seperti pelajaran yang baru aku sebut tadi, itu saling melengkapi, bukan? Kalau soal idola, kami sama-sama mengidolakan Minseok eonnie─itu lho penyanyi yang sedang naik daun karena wajah imutnya dan suara tingginya. Minseok eonnie sangat sangat mengagumkan. Entahlah, pertama kali kami melihatnya, kami langsung mengidolakannya. Mungkin kami terpesona karena penampilan livenya yang tak sengaja kami tonton saat aku menekan random channel di remote TVku dan menontonnya? Berlebihan, ya? Biar saja, dong. Mulutku ini.

Idola kami memang seorang perempuan, tapi tak menghalangi kami untuk berfangirling dimanapun baik itu di sekolah, tempat umum, bahkan perpustakaan─yang melarang keras berteriak. Kalau kami sudah mengidolakannya, mau bagaimana lagi? Toh, gadis jaman sekarang kalau memiliki idola memang begitu, bukan? Kami hanya terbawa arus mereka yang suka berteriak saat melihat atau mendengar idolanya bernyanyi. Salah satu alasan kami mengidolakannya, karena cara bernyanyinya bisa kami jadikan panutan.

Aku terlalu banyak bercerita soal kehidupanku sepertinya─walaupun itu belum seberapa, sih. Baiklah. Kini aku sedang mengantri untuk membeli jus; di kedai jus, pastinya. Sebentar lagi giliranku untuk memesan. Aku akan membeli jus stroberi dan jus jeruk─pesanan Yang Mulia Kyungsoo. Sebenarnya ini bukan perintahnya, sih. Aku yang menawarkan diri. (Kau yang salah disini, Baek.) Jadi, dengan sukarela─berhubung aku orang baik─, aku yang mengantri disini sekarang.

Wah, saatnya membeli jus~

"Ahjumma, jus stroberi satu dan jus jeruknya satu." ucapku kepada ahjumma penjaga kedai.

"Baiklah. Tunggu sebentar," Ahjumma itu mengambil dua buah gelas plastik berisi pesananku. Sudah disiapkan rupanya. Kupikir aku harus menunggu lama karena harus dibuatkan terlebih dahulu. Pantas saja antrian terasa cepat sekali. "Ini pesananmu," ujar ahjumma itu kepadaku seraya memindahkan kedua gelas di genggamannya yang kini berada di atas meja. "Totalnya 1000 won."

Aku mengangguk. Kurogoh sakuku tempat biasa aku menyimpan uang. T-tunggu.. UANGKU DIMANA?! AKU HARUS BAYAR DENGAN APA!? Kujambak rambutku frustasi. Bodohnya aku sampai lupa kalau sebagian uang jajan kuletakkan di tas. Melihat itu ahjumma itu mengernyit bingung. "Ada apa?"

Aku membungkuk berkali-kali. Bodoh, bodoh, bodoh, kau ByunBaek! "Mianhamnida, ahjumma," aku berkata sesopan mungkin. "A-aku lupa membawa uang.." Lagi-lagi aku membunguk.

Sebuah tangan terjulur di belakangku memberikan selembar 1000 won kepada ahjumma di hadapanku. Oh, aku diselak. Sialan. "Ini bayaran dua jus itu, ahjumma," Ap- DEWI FORTUNA TERIMA KASIH! Tapi tunggu.. siapa yang rela membayarkan barang yang kubeli? Suaranya sih lelaki. Suara om-om yang familiar di indera pendengaranku. Jangan-jangan.. "ByunBaek, cepatlah bergeser dan bawa kedua jusmu itu. Aku juga ingin membeli." Ia berbisik di telingaku. Aku bergidik dan cepat-cepat menyingkir dari posisiku setelah membawa kedua gelas jus itu.

Saat aku berniat berterima kasih, ternyata.. "Chanyeol?" Sialan. Kenapa dia lagi, sih? Apa Dewi Fortuna tidak sungguhan membantuku atau bagaimana? "U..untuk apa membayar minumanku?" tanyaku tergagap. Bodoh sekali aku malah tergagap seperti ini.

"Habis kau membuat antrian panjang. Dan aku juga sudah haus. Jadi, itulah cara agar kau mau menyingkir," Chanyeol mengendikan bahunya. Mudah sekali. Aku lupa, Chanyeol kan putra Park Company, salah satu perusahaan terkenal di Korea. 1000 won apalah artinya untuk pewaris tunggal perusahaan Park.

Dengan kikuk, aku membungkuk berterima kasih. "Gomawo Chanyeol-ah," Aku tak sanggup menahan debaran ini lebih lama. Bisa-bisa jantungku benar-benar lepas dari tempatnya. "Aku duluan." Dan kutinggalkan Chanyeol. Dari sudut mataku, aku kembali melihat ke arah Chanyeol. Apa? Dia tersenyum kepadaku? Aku tak bermimpi 'kan? Itu bukan ilusi 'kan? Persetan dengan senyum Chanyeol, wajahku panas.

Aku sudah duduk kembali di hadapan Kyungsoo lalu meletakkan kedua gelas jus kami di sana. Kyungsoo yang menyadari keadaanku langsung bertanya dengan ekspresi bingungnya. "Ada apa, ByunBaek?"

Aku menggeleng dengan cepat. "B..bukan apa-apa! Cepat makan sebelum jam pelajaran dimulai!" Kuambil sumpitku dan mulai menyuapkan dimsum ke dalam mulutku. Kukunyah dimsum itu dengan cepat. Hampir saja aku tersedak jika Kyungsoo tidak dengan cepat menyodorkan jus stroberiku.

"Kau ini kenapa, sih? Datang dengan wajah merah begitu. Lagi, saat tiba tingkahmu jadi aneh, salting. Dan sekarang, kau sampai hampir tersedak. Kau bertemu Chanyeol, ya?"

"Uhuk!" Kali ini aku benar-benar tersedak. Kyungsoo langsung berdiri dan memukul punggungku pelan untuk menghilangkan ketersedakanku. "Uhuk uhuk!" Kyungsoo mengelus punggungku setelahnya. Kenapa dia harus bicara Chanyeol disaat aku sedang makan, sih?

"Tebakanku benar?" Kyungsoo kembali duduk di tempatnya dan menatapku dengan tatapan dua mata kebesarannya. "Kau bertemu dimana, Baek? Wah, selamat!" Kyungsoo menunjukkan ibu jarinya.

"I-iya, tebakanmu benar," Aku menunduk, menyembunyikan rona-rona sialan yang tak mau hilang dari wajahku ini. "Aku lupa bawa uang saat ke kedai jus tadi," Kyungsoo facepalm karenanya. "T-tapi, Chanyeol yang membayarnya." Aduh, kenapa telingaku sekarang ikutan panas!?

"KYAAAA!" Kyungsoo menjerit dengan ekspresi senang. Sangat senang. Ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. "Selamat, Baek. Dewi Fortuna sedang berada di pihakmu kini," Kyungsoo menatapku dengan pandangan aku-ingin-permen-ibu. "Aku menanti kapan kau akan mengungkapkan perasaanmu kepadanya," Ia tersenyum sampai-sampai dua mata besarnya bagai lenyap dimakan senyum yang terkembang di wajahnya. M..mengungkapkan perasaan?

"Jangan bercanda, Kyung," Aku menunduk dalam-dalam. "Yang ada sama saja dengan bunuh diri, bukan? Menerima rasa sakit hati saat ditolak, ejekkan teman-teman, apa lagi? Aku sudah cukup dengan keadaan seperti ini─menyukai Chanyeol diam-diam. Bisa berinteraksi senormal ini dengannya─walaupun jantungku rasanya selalu mau copot─, itu sudah lebih dari cukup untukku." Menghela napas sebelum kulanjutkan kalimatku. Sebuah senyum sinis entah kenapa tergores di kedua bibirku. "Lagipula, memangnya lelaki setampan dan setenar Chanyeol mau dicintai oleh seorang gadis yang maniak belajar dengan kacamata sebesar ini?" Kutunjuk bingkai kacamataku untuk menunjukkannya pada Kyungsoo setelah sebelumnya aku mendongak. "Jangan bercanda."

Kyungsoo menghela napas lelah. Aku tak mengerti kenapa Kyungsoo selalu saja seperti itu saat aku menyatakan deretan fakta yang seperti tadi. "Baek," Ia berdiri dari duduknya dan menepuk pundakku. "Kau ini imut. Sungguh," Tangannya bergerak untuk melepas kacamata yang terbingkai melindungi kedua mata bulan sabitku. Diletakkannya kacamata itu di meja. Setelah itu, Kyungsoo berjalan keluar dari posisi duduknya untuk menuju belakangku. Sepertinya aku tahu apa yang ingin dilakukannya.. 'kan benar, ia melepas kedua kuncir yang selalu aku gunakan untuk memisahkan kedua bagian rambutku dan membiarkannya di kedua bahuku. Jadilah sekarang rambutku tergerai sempurna, menampilkan rambut hazel hampir sepinggang yang sedikit bergelombang. Kyungsoo menatanya sedikit. Kemudian ia kembali ke tempat duduknya dan membenarkan poniku. Aku hanya pasrah saja dengan apa yang dilakukan Kyungsoo. Toh, tak ada ruginya untukku. Kini Kyungsoo tersenyum puas, ia menyodorkan handphonenya kepadaku. "Coba kau lihat dirimu yang sekarang."

Mengerti maksud Kyungsoo, aku ambil handphone Kyungsoo dan kugunakan untuk bercermin. Dan─ sosok di layar hitam ponsel Kyungsoo siapa? Aku? Kenapa imut sekali? ASTAGA. Aku terlalu percaya diri. Kusodorkan lagi ponsel Kyungsoo dan kerutan samar singgah di dahiku yang tertutup poni. Kedua alisku juga sedikit bertaut. "Lalu?"

Kyungsoo menghela napasnya panjang. Mungkin ia kesal dengan tingkahku yang kurang mengerti apa yang dimaksudnya atau hanya perasaanku saja? "Begini, Baek," Diletakkan kedua tangannya di atas meja dan keduanya terlipat; menumpuk. "Dengan tampilan seperti itu, kau terlihat sangaaat imut. Aku tak berbohong. Cobalah kau pertahankan penampilan seperti ini sampai seterusnya. Siapa tahu Chanyeol akan melirikmu, 'kan?" Alis Kyungsoo naik turun. Oh, jadi itu maksudnya. Get it.

Aku menangkat kedua bahu acuh. Kuambil kedua kuncir rambutku yang tergeletak di meja dan berniat untuk kembali menguncir rambutku─jika saja tangan Kyungsoo tak menahan. "Apa?" Kutatap Kyungsoo dengan tatapan malas.

"Jangan dikuncir lagi, ByunBaek!" Kyungsoo mengerang frustasi. "Ini juga demi kebaikanmu, bodoh. Kau mau sampai dewasa nanti tak ada yang mendekatimu karena penampilanmu yang nerd itu?"

"Kau sendiri mendekati nerd, Kyung."

"Astaga!" Kyungsoo membenamkan wajahnya di tumpukkan tangannya. Kurasa ia benar-benar frustasi sekarang. "Sekarang jangan pikirkan masalah penampilanku. Pikirkan masalah penampilanmu. Kau mau jadi perawan tua karena tak kunjung mendapat pernyataan cinta?"

"Ya! Tentu tidak mau! Aku juga butuh pendamping hidup!" Aku menaikkan nada bicaraku. "Tapi," Kuhela napasku perlahan. "Aku tak akan sampai tua jadi perawan, Kyung."

Kyungsoo mendongak. "Wae? Memangnya kau sudah memiliki kekasih atau bagaimana?" Kedua alisnya bertaut.

Aku menggeleng. "Bukan begitu maksudku," Aku beranjak dari dudukku dan kuisyaratkan Kyungsoo agar ikut berdiri serta mendekat. Kubisikkan sesuatu di telinganya. "Begitu." Kembali duduk setelah menyelesaikan apa yang ingin aku sampaikan.

Mata Kyungsoo melebar; seperti akan lepas dari kerangkanya. "Kau serius, Baek?" Ia menggenggam tanganku. "Kenapa kau tidak beritahu aku, sih? Kita ini sudah bersahabat sejak kecil. Kejamnya dirimu." Kyungsoo duduk perlahan. "Jadi selama ini..?"

"Yap," Aku menangguk lagi. "Kau benar."

"Ya ampun ByunBaek! Aku tak menyangka. Kalau ada apa-apa padamu harusnya kauceritakan padaku. Kalau kau menceritakannya sekarang, bukankan mendekati terlambat?"

"Belum," Kutatap mata Kyungsoo dalam. "Setidaknya sampai kita berada di tahun terakhir sekolah menengah atas itu belum terlambat."

"Tapi, Byun." Mata Kyungsoo mulai berkaca-kaca. "Kau tega padaku?" Air mata lolos begitu saja dari mata bulatnya.

"Hei, uljima," Kuusap air mata yang mengalir di pipi tembam Kyungsoo. Mata bulatnya terlalu berharga jika harus dipakai untuk menangisiku seperti itu. "Aku juga tak mau ini terjadi. Tapi, takdir berkata lain. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi."

Kyungsoo menggeleng cepat. "Kau tak boleh pesimis, Baek! Aku selalu ada disampingmu jika kau butuh sandaran. Aku selalu ada di dekatmu jika kau butuh meluapkan amarahmu. Aku ada untukmu, Baek. Kau sudah seperti saudaraku. Dan─" Sebuah isakan menjadi jeda. "Kau tega meninggalkanku sendirian, begitu?"

"Aku tak bisa berbuat banyak, Kyung." Aku menunduk. "Tapi, nanti pasti aku akan menghubungimu. Jangan ganti nomor ponselmu, ne?"

Aku mendongak. Kyungsoo mengangguk setelahnya. "Pasti, Baek. Pasti. Untukmu aku tak akan mengganti nomor ponselku." Ia tersenyum. Bibirnya membentuk hati. Aku sangat menyukai jika Kyungsoo sedang tersenyum, makin imut.

"Ayo kita ke kelas. Sebentar lagi istirahat usai." Kutarik tangan Kyungsoo agar keluar dari kantin. "Sebelumnya, cuci wajahmu dulu. Lihat, wajahmu jelek sekali kalau habis menangis." Aku terkekeh. Itu kenyataan. Kyungsoo kalau menangis jelekkk sekali, hehe~

"ByunBaek!" Ia mengejarku. Aku berlari duluan di depannya.

Tibalah kami di toilet perempuan. Kyungsoo mencuci wajahnya. Aku menunggu di sampingnya. A..astaga. Ya Tuhan. H..hentikan. S..sakit. Aku langsung masuk ke salah satu bilik kosong tanpa diaba-aba setelah kurasakan sesuatu mengalir keluar dari hidungku. A..aku mimisan lagi. Tapi... ini bukan mimisan biasa. A..aku penderita leukimia stadium 2. Iya, leukimia. Kanker darah. Aku menangis karena rasa sakit yang menderaku. Sakit sekali, sakit.

Kyungsoo langsung mengetuk pintu bilik yang kutempati dengan tak sabaran. "Baek! Kau kenapa? Baek! Buka pintunya! Aku disini!" Kepanikan terdengar jelas dari suaranya. Maaf, Kyung. Aku tak ingin kau melihat kondisiku saat ini.

Kenapa darahnya tak mau berhenti? Kenapa!? Air mata ini juga tak mau berhenti. Tuhan, cepatkanlah. Aku tak ingin membuat Kyungsoo tambah khawatir. Kumohon...

Aku membuang napas perlahan setelah darah yang keluar sudah berhenti. Terima kasih, Tuhan. Kucuci tanganku dengan air yang ada di bilik toilet ini. Guna menghilangkan darah yang semula berada di tanganku. Tak lupa juga kucuci bagian bawah hidungku dan juga wajahku. Setelahnya kubuka pintu bilik. Kyungsoo menangis lagi di hadapanku. Ia langsung memelukku. "Baek... Kenapa? Kenapa kau tak memberitahukannya kepadaku? Baek.." Sialan. Kyungsoo memangis lagi karenaku.

Aku tersenyum sedih karena isakan Kyungsoo. "Aku tak ingin membuatmu khawatir, Kyung. Lagipula, kau tak tahan untuk melihat darah, 'kan?" Kuusap punggung mungil Kyungsoo untuk memenangkannya. Aku tahu apa saja yang Kyungsoo takuti. Termasuk, melihat darah dalam jumlah banyak. Kyungsoo akan langsung menangis jika melihatnya. Kekanakan memang, tapi setiap orang punya phobia masing-masing, 'kan?

"T..tapi, Baek.." Kyungsoo masih terisak. Aku benci mendengar tangis orang yang menangis karenaku. Aku benci. "Kau pasti kesakitan di dalam tadi, 'kan? Kau pasti butuh seseorang untuk meluapkan rasa sakitmu, 'kan? Aku tak mau kau menahan rasa sakit itu sendirian, Baek.."

"Sttt! Aku tak mau melihat kau menangis karenaku lebih dari ini. Jadi, biar aku saja yang menanggung semua sakit ini, ne?" Aku tersenyum pada diriku sendiri. Karena Kyungsoo pasti tak dapat melihatnya. Kulepas pelukkan di antara kami. Dan kuusap lagi air mata yang membasahi wajah imut Kyungsoo. "Sudah, berhenti menangis, Kyung-ie. Aku akan membencimu jika kau terus menangis seperti ini karenaku, arra?" Aku terkekeh setelahnya.

Kyungsoo menangguk dan kembali membasuh wajahnya.

"Ayo kembali ke kelas. Bel sudah berbunyi." Kutarik tangan Kyungsoo dan kami berdua menuju kelas.

Saat kami berdua sampai di depan pintu kelas, pelajaran Kim songsaengnim sudah dimulai. Kenapa aku membiarkan Kyungsoo terlambat bersamaku, sih? Kyungsoo tak seharusnya begini. Biar aku sendiri yang menanggung semuanya. Kuketuk pintu kelas. Kyungsoo berada di belakangku. Ia bersembunyi dibalik punggungku. Kyungsoo belum pernah terlambat masuk kelas, beda denganku.

Langkah kaki terdengar mendekati pintu. Kemudian langkah itu terhenti dan pintu kelas kami bergeser tanda dibuka. Kim songsaengnim menatapku dan Kyungsoo bergantian. Kami pasti dimarahi. "Darimana saja kalian, Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo?" ucap Kim songsaengnim dingin. Ia marah betulan kepada kami, sepertinya.

Aku berdoa pada Tuhan untuk mengampuniku karena aku harus berbohong kali ini. "Kyungsoo tadi sakit perut setelah makan siang. Jadi aku harus menemaninya ke toilet dan ruang kesehatan, songsaengnim." ujarku berusaha tenang untuk menyembunyikan kegugupanku karena berbohong. Begini lebih baik daripada aku katakan yang sebenarnya, bukan?

"Do Kyungsoo, benarkah itu?" Kim songsaengnim melihat ke arah Kyungsoo yang masih bersembunyi di balik punggungku. Ia mengangguk pelan. Aku tahu Kyungsoo tak pernah berbohong. Mungkin ini sulit untuknya.

"Baiklah, kalian berdua boleh masuk," Kim songsaengnim bergeser dari posisi berdirinya yang sebelumnya. Kami berdua segera melangkah masuk dan menuju ke kursi kami. Kami memang duduk berdua dari awal. Dan tak ada yang protes akan hal itu.

"Baek, kenapa kau berbohong..?" Kyungsoo menatapku dengan tajam.

"Sudah, tak apa. Yang penting kita bisa belajar sekarang," Aku tersenyum sampai-sampai kurasakan pandanganku hilang. Mataku membentuk bulan sabit kalau tersenyum lebar.

"Tapi kau kan..." Kuletakkan jari telunjukku di depan bibirku mengisyaratkan agar ia tak melanjutkan kata-katanya. "Baiklah." Kyungsoo mengangguk dan mulai mengeluarkan buku pelajarannya, begitupula denganku.

Saat aku memutar tubuhku sedikit untuk menggapai tasku yang berada di belakang punggungku, tiba-tiba saja seseorang melemparkan gulungan kertas ke arahku. "Aduh!" Kuusap dahiku yang terkena kertas itu dan kulihat siapa yang melempar kertas barusan. C..chanyeol? Apa yang dia lakukan. Kuberi isyarat padanya dengan tatapan ada-apa.

Ia menjawab pertanyaanku juga dengan isyarat yang berarti baca-gulungan-kertas-yang-kulempar-padamu. Chanyeol melemparnya memang dari belakang karena ia duduk di pojok kanan kelas paling belakang di dekat pintu sedangkan aku duduk bersama Kyungsoo di barisan sebelah tempat duduk Chanyeol. Ya, nomor dua dari pintu. Aku duduk di barisan nomor dua dari depan. Jadi jika berbicara dengan Chanyeol secara langsung itu sulit, bukan?

Aku menangguk sebagai respon. Kubuka kertas yang barusan dilempar Chanyeol. Mataku terbelalak setelahnya. A..apa-apaan ini?

.

.

.

TBC


A/N : Ini chapter apaan yey~ Ancur banget TuT aduh aku gangerti lagi kenapa bisa-bisanya aku publish chapter absurd gini. ABSURD ABIS GUYS!

Semoga suka deh ya sama chapter 2 ini. Ini mendekati kelulusan mereka dan kenapa Baekhyun pindah belum aku kasih tahu di chapter ini. Tapi pasti kalian bisa nebak kalo udah baca chap ini.

Pasaran abis ah idenya aku gatau lagiiii~ /mojok/

Makasih buat segala review, fav, serta follow untuk chapter 1 kemarin~ Aku bener-bener usahain buat yang terbaik untuk fic ini karena masih ada yang respon chap 1nya. Dan pastinya chap ini aneh abis.. Duh pls aku gangerti lagi.

Btw, buat chap depan aku gabisa update cepet soalnya sibuk ujian. Jadi ini fic sebelum hiatus panjanggggg~

Oke, at last, mind to review? Gomawo~