Sakura bukan gadis yang biasa bangun sepagi ini jika tidak terpaksa. Hari ini adalah salah satu hari di mana ia terpaksa, karena jadwal shift kerjanya yang pagi.

Alarm yang masih berdering di nakas dekat tempat tidurnya itu diraih dengan satu tangan dan dimatikan tanpa perlu menengok. Jarinya sudah ingat benar bagaimana cara melakukan hal itu sekalipun tanpa dibantu indra penglihatan. Separuh malas separuh harus, gadis itu bangkit untuk duduk, jemari kedua tangannya bergerak menyisir helai-helai merah muda yang sedikit berantakan tipikal bangun tidur. Bersama dengan satu helaan napas keras, Sakura berdiri dan menguatkan hati untuk memulai hari.

Adalah ketika tangannya meraih kenop pintu kamar, ingatan tentang kejadian tadi malam menyerbu pikirannya. Apakah Sasuke masih di luar? Tunggu, yang lebih penting, apa penampilannya cukup pantas? Batal membuka pintu, Sakura mengambil langkah mundur untuk bercermin di meja rias. Rambutnya sudah cukup rapi karena tadi sempat disisirnya menggunakan jari, tapi untuk lebih aman, ia tetap menyisir rambutnya, kali ini menggunakan sisir sungguhan. Wajahnya sedikit berminyak, tapi sepertinya tidak terlalu parah dan tidak apa-apa.

Lalu Sakura kembali meraih kenop pintu setelah mengendalikan napas dan degup jantungnya.

Kenyataannya ruangan itu kosong saat ia mencapai ruang tamu.

Dengan sedikit kecewa, gadis itu mengerucutkan bibirnya dan melangkah mendekati sofa tempat Sasuke tertidur tadi malam. Ada dua hal yang langsung ditangkap matanya. Selimut yang sudah terlipat rapi serta secarik kertas yang sebagian ditindih buku yang semalam sepertinya sempat dibaca pemuda itu.

Hampir terburu-buru karena terlalu bersemangat, tangannya meraih kertas itu.

`Aku ketiduran. Nanti aku akan ke rumah sakit saat istirahat makan siang.`

Haruno Sakura bukan baru mengenal pemuda itu selama sepekan atau dua pekan.

Kalimat pertama mengindikasikan permintaan maaf, sekalipun tidak secara eksplisit dan kendati Sakura tidak mengerti bagian mana yang perlu dimaafkan dari ketiduran. Kalimat kedua mengindikasikan permintaan untuk bertemu, sayangnya, Sakura tidak berhasil menerjemahkan apakah pertemuan itu akan singkat dengan sedikit percakapan ringan atau pertemuan yang akan menyita seluruh jatah istirahat siangnya.

Tidak banyak berpengaruh juga, karena Sakura tidak keberatan dengan yang manapun.

.

.

Beruntung, karena Sakura tidak perlu menerka-nerka lebih lama. Sesosok Uchiha Sasuke mengetuk pintu ruangannya hanya tiga menit terhitung sejak jam istirahat makan siang dimulai. Dengan sebuah, "ayo makan," dan kepala yang mengedik ke luar rumah sakit, raut wajah gadis itu berubah menjadi lebih terang.

Pilihan mereka jatuh pada kedai udon tidak jauh dari rumah sakit. Pertimbangannya adalah agar mereka tidak membuang terlalu banyak waktu. Masih sama seperti malam sebelumnya, masih sama seperti saat-saat sebelumnya, keduanya tidak banyak bicara. Kendati keadaan itu tetap tidak semerta-merta membawa suasana canggung.

"Kau akan pergi?" tanya Sakura di sela-sela kegiatannya makan. Gadis itu menyadari tas yang terselempang di bahu Sasuke dan ia pun mengaku bahwa cukup sulit untuk bertanya begitu, karena pakaian yang dikenakan sang pemuda tidak menandakan sosok itu akan pergi jauh.

Yang ditanya sendiri, tidak nampak terkejut dengan pertanyaan yang diterimanya, lalu hanya menggeleng singkat. Sasuke mengulur sedikit waktu dengan menunggu makanan dalam dalam mulutnya selesai dikunyah dan ditelan sebelum membuka mulut. "Jam kerjamu selesai pukul berapa?" Dan suapan tadi adalah yang terakhir, membuat pertanyaannya barusan bersamaan dengan sumpit yang ia letakkan.

Gerakan Sakura yang baru saja akan menyuap itu berhenti di tengah jalan, kemudian tangannya kembali diturunkan. Pergelangan tangan kirinya sedikit diputar sebelum ditengok, menengok arloji sederhana yang melingkar di sana. "Setengah lima." Sakura hampir berhenti di sana. Sebelum akhirnya teringat bahwa ia sedang bersama Uchiha Sasuke dan Uchiha Sasuke tidak menanyakan hal-hal remeh seperti jam berapa pekerjaannya selesai. "Ada sesuatu?"

Kali ini bahu sang pemuda mengedik ringan. "Temani aku belanja, kalau mau." Kalimat itu hampir membuat bibirnya berkedut menyeringai menang. Jauh, jauh dalam dirinya, Sasuke tahu gadis di hadapannya itu tidak akan tidak mau.

Lihat, bahkan Haruno Sakura hampir tersedak mendengar ajakan sang pemuda. Kunyahannya melambat dan gadis itu menatap teman makannya itu lurus-lurus, mencari tanda-tanda apakah dirinya sedang dikerjai. Namun reaksi yang diterimanya hanya alis Sasuke yang terangkat samar, menunggu jawaban. Pipi gadis itu merona hampir menjadi warna yang sama dengan rambutnya. "Tentu," jawabnya pelan dengan anggukan kecil.

Sekarang Sakura hanya berharap semoga bayangan dirinya yang akan berbelanja dengan pemuda di hadapannya itu tidak akan mengganggu konsentrasinya bekerja lalu berakhir membuatnya pulang lebih lama. Hei, bagaimanapun juga pemuda di hadapannya itu adalah pemuda yang sudah disukainya sejak ia masih sangat muda.

Logika mengetuk kepalanya dan membuat sebuah pertanyaan menggelitik sang gadis. "Apakah itu berarti nanti aku menghampirimu ke rumahmu, atau..?" Sakura tidak sanggup melanjutkan pertanyaannya sendiri. Rasanya terlalu memalukan.

"Aku akan menjemputmu di rumah sakit." Terima kasih, Tuhan, karena Sasuke sendiri dapat menyelesaikan kalimatnya, sekaligus memberinya jawaban yang membuat perutnya terasa diaduk-aduk geli. "Kalau kau selesai lebih awal, tunggu saja di lobi."

Sakura tidak sanggup mengucapkan apapun. Memandang lawan bicaranya saja terasa sulit dan sekarang mangkok udonnya terasa jauh lebih menarik dibandingkan sepasang mata gelap Uchiha Sasuke. Dengan sisa kesadaran diri bahwa ia harus setidaknya memberikan respons, gadis itu mengangguk lagi, sebelum menyuap suapan yang terakhir. Kunyahannya jadi terasa lebih sulit dan menelan sesuap udon tiba-tiba terasa seperti harus menelan tiga takoyaki sekaligus dalam keadaan bulat-bulat—tanpa dikunyah. Semuanya salah Sasuke, rutuknya dalam hati.

Mangkoknya yang sudah kosong serta sumpit yang sebelumnya ia pakai itu disisihkannya ke tepi meja, lalu arlojinya dilirik lagi sambil meneguk air. Ia masih punya setengah jam sebelum jam kerjanya kembali dimulai dan perjalanan mereka hanya akan memakan waktu lima menit tanpa terburu-buru. Sederhananya, mereka masih punya banyak waktu. Biasanya Sakura akan bersyukur jika dirinya memiliki banyak waktu dengan Sasuke. Tapi tidak dengan saat ini. Tidak, saat hal yang ingin dilakukannya hanyalah mengeluarkan bunyi pekik-pekik kecil dan menepuk-nepuk pipi. Sambil melompat-lompat kecil juga, kalau boleh.

Tidak bisa, Sakura tidak sanggup seperti ini dan akhirnya gadis itu berdiri. "Aku akan pesan dango untuk kubawa ke rumah sakit, kau—" Setelah menit-menit sebelumnya dihabiskan dengan menunduk, pandangannya kembali diangkat untuk menatap sang pemuda. Ia sempat akan menawari, menjunjung basa-basi dan norma kesopanan. Tapi ia hanya akan membodohi diri sendiri karena Uchiha Sasuke tidak pernah menyukai makanan manis. "—pasti tidak mau, kan?"

Sudut bibir Sasuke sungguh berkedut sebelum akhirnya membentuk senyum geli yang terkulum. Lucu sekali melihat bagaimana Sakura hendak menawarinya, lalu berhenti untuk berpikir, kemudian mengubah pertanyaan menjadi lebih sesuai dengan dirinya. "Tidak mau," jawabnya singkat dengan sebuah anggukan. Haruno Sakura yang sekarang di hadapannya ini adalah perempuan dewasa yang sudah pandai membawa diri. Ada secercah rasa bangga menyusup dada pemuda itu saat menyadari ajakan sederhana darinya bisa membuat kendali diri seorang Haruno Sakura bergoyah.

Gadis itu, masih dan selalu sangat menyukainya, kan?

Anggukannya dibalas dengan anggukan yang sama singkatnya oleh Sakura, sebelum gadis itu berbalik untuk menuju tempat pesan. Gadis itu sempat melihat Sasuke mulai berkutat dengan tas yang dibawanya, tapi Sakura tidak begitu tertarik. Ia lebih tertarik untuk mengembalikan pola napasnya menjadi lebih teratur. Baru sekarang gadis itu sadar bahwa sedari tadi napasnya tertahan.

Saat Sakura kembali, peralatan makan yang sudah tidak dipakai sudah dibawa pergi. Ia tidak yakin apakah ini inovasi baru atau Sasuke yang meminta hal itu karena terakhir kali dirinya makan di sini, sistem pelayanan mereka belum seperti itu. Praktis, di meja mereka hanya tersisa dua cangkir, serta sebuah kotak berukuran sedang yang dibalut kain berwarna abu-abu dengan corak biru gelap yang minimalis. Kotak itu belum ada di sana saat ia meninggalkan meja mereka. "Apa ini?"

"Waktu aku pergi kemarin, aku sempat mendatangi toko tempat keluargaku biasanya membeli keperluan khusus. Buka saja," terangnya seraya melipat tangan di atas meja. Sakura bersumpah ia sempat melihat ada kilat gugup sekaligus harap di kedua mata kelam Sasuke, tapi gadis itu tidak berani menduga maupun mencari tahu lebih jauh.

"Jadi ini semacam oleh-oleh?" tanyanya lebih pada diri sendiri, paham benar bahwa seorang Uchiha Sasuke tidak akan menjawab pertanyaan remeh semacam yang baru saja diajukannya. Ujung-ujung jarinya mengusap kain pembungkus itu sambil ia mendudukkan diri di kursinya. "Naruto juga dapat?" tanyanya lagi, sekarang tangannya benar-benar bergerak itu membuka kemasan itu. Kainnya halus, batinnya.

"Buka saja," ulang Sasuke dengan nada yang bahkan terdengar lebih lembut sekaligus menahan sesuatu yang menyenangkan. Kalau yang duduk di hadapannya itu adalah Naruto atau Kakashi, gadis itu akan mulai menduga dirinya sedang dijahili. Tapi yang di hadapannya adalah Uchiha Sasuke. Uchiha Sasuke tidak jahil.

Kain pembungkus yang sudah terbuka dan masih terbentang di sekitar kotak itu ia biarkan. Pikirnya, nanti kotak itu akan dikemasnya lagi karena Sakura kemari tidak membawa tas. Kotak di dalamnya adalah kotak sederhana yang berwarna abu-abu, sama seperti kain yang menyertainya. Hanya saja kotak ini polos, alih-alih bercorak biru gelap. Kalau Sakura perlu mengeluarkan pendapat tentang kemasan bingkisan ini, adalah bahwa kemasan ini sungguh elegan sekaligus sederhana. Dengan hati-hati seakan takut kotak itu rusak, gadis Haruno itu mengangkat penutup kotak, untuk kemudian menemukan sesuatu yang sangat familiar di dalamnya.

Gadis itu mengangkat kembali pandangannya untuk memberi Sasuke tatapan bertanya sekaligus geli, kepalanya bahkan ikut sedikit terteleng. Tidak mendapat jawaban apapun membuat Sakura mengembalikan perhatiannya pada bingkisan yang ia terima.

Kotak itu berisi empat baju yang digulung dan dijajar rapi, memastikan keempatnya dapat dengan mudah terlihat ketika kotak itu dibuka. Baju berwarna merah, semerah baju yang biasa dipakai Sakura. Bahkan dua di antara memang terlihat luar biasa sama dengan bajunya sehari-sehari. Satu lagi mirip bajunya yang seperti rompi, yang biasa dipakainya untuk pergi cukup jauh atau untuk melaksanakan misi. Satu lagi sisanya adalah yang sedikit berbeda, sekalipun warna merahnya sama dan corak serta polanya pun tetap mirip dengan yang lain. Untuk saat ini, Sakura menduga bahwa yang satu itu adalah baju berlengan panjang.

"Sasuke?" gadis itu memanggil tanpa tahu yang ingin dikatakan. Tangannya meraih untuk mengambil salah satu baju kasual dan membentangkannya di meja. Ini persis seperti yang biasa ia pakai. Dengan pengecualian kain yang sepertinya lebih halus. Sakura menahan senyum yang hampir menguar menjadi tawa saat ia kembali mendongak untuk memberikan tatapan tanya pada Sasuke. "Aku tidak bermaksud menyinggungmu, sungguh. Aku pun berterima kasih." Pandangannya kembali pada baju yang direntangkannya di atas meja, lalu mengangkatnya untuk melihat baju itu lebih baik. Ini benar-benar sama, bahkan pola pengaitnya sekalipun. "Tapi aku sudah punya banyak seperti ini, Sasuke," tambahnya sambil sedikit menurunkan baju itu untuk kembali menatap Sasuke.

Yang mengejutkan adalah, gadis itu mendapati pemuda di hadapannya sedang tersenyum tipis, paduan senyum lembut serta senyum terhibur. "Kau melihatnya dengan terbalik."

Sakura memiringkan kepalanya tidak mengerti, alisnya pun berkerut tanpa ia sadari. Tapi pada akhirnya gadis itu pun tetap membalik pakaian yang digenggamnya, mengikuti petunjuk dari Sasuke. Selanjutnya, Sakura merasa jantungnya berhenti dan kedua matanya luar biasa panas.

"Aku tidak tahu pasti ukuranmu, jadi aku hanya mengira-ngira." Sasuke ada di hadapannya, ia tahu. Tapi suara pemuda itu terdengar sayup seakan berada jauh di ujung ruangan. Sakura sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.

Sakura, tentu saja, hafal pakaiannya sendiri. Dan sekalipun pakaian yang digenggamannya ini, pakaian pemberian Sasuke ini dari depan terlihat persis sama seperti pakaiannya, perbedaan mencolok ada di bagian belakang.

Tidak ada lingkaran putih dengan polos di bagian tengahnya.

Alih-alih, bagian itu ditempati sebentuk tanda kipas berwarna putih di bagian bawah, merah di bagian separuh atas. Sekalipun sama-sama merah, merah dalam kipas itu tidak bersatu dengan merah warna kain pakaian. Pakaian itu berwarna merah stroberi, sementara merah di kipas itu berwarna merah apel. Tentu, warna merah tanda kipas itu terlihat lebih mencolok.

Kipas yang sama dengan yang bisa dengan mudah ditemui di sudut-sudut pakaian Sasuke, seringnya di bagian punggung. Kipas yang akan dengan mudah ditemui jika berkunjung ke tempat tinggal Sasuke.

Kipas lambang garis keturunan Uchiha.

Haruno Sakura akan mengaku kalau dirinya tidak jauh berbeda dengan perempuan pada umumnya, yang banyak membayangkan hal-hal indah seputar orang yang ia sukai. Seperti tadi malam, saat ia menyiapkan makan malam untuk Sasuke, lalu saat keduanya bersama-sama membereskan cucian piring, kemudian saat menyelimuti pemuda yang semalam sempat tertidur di ruang tamunya itu. Haruno Sakura akan mengaku kalau dirinya pernah membayangkan dan memimpikan hal-hal itu. Tapi untuk memiliki, lebih-lebih mengenakan baju dengan bordir lambang kipas kebanggaan keluarga Uchiha itu—Sakura bersumpah, ia tidak pernah membayangkan sejauh itu.

Sudah lama sejak senyum di wajah Sakura memudar hilang. Emosi yang tergambar di wajahnya adalah murni terkejut, tidak ada yang lain. Matanya terbuka lebih lebar dan Sasuke yakin gadis itu bahkan tidak menyadari bahwa kedua belah bibirnya tidak terkatup. Mengenal Sasuke, gadis itu hampir mengerti apa maksud pemberian ini, hanya saja ia masih belum percaya sekaligus belum berani untuk percaya kalau ini adalah seperti yang dipikirkannya.

Jemarinya bergerak mengusap lambang itu perlahan. Halus, dibuat dengan presisi sehingga tidak ada bagian yang cacat, semua benang tertambat dengan teratur. Sekarang saat ia sudah mengerti apa yang harus ia cari, Sakura meletakkan baju itu kembali pada meja, lalu berkutat dan tiga gulungan baju yang lain yang masih rapi di dalam kotak.

"Aku berpikir untuk memberikannya pada orang tuamu atau di hadapan orang tuamu, tapi kurasa kau berhak tahu lebih dulu." Suara Sasuke masih terdengar sayup-sayup dan tidak seluruh kalimat itu berhasil ditangkap otaknya dengan baik.

Baju yang masih di dalan kotak itu tidak direntangkannya secara penuh, melainkan hanya membuka sedikit gulungan lipatan baju-baju itu, untuk memeriksa bagian punggung. Semuanya sama, memiliki simbol kipas milik Uchiha tertanam di sana. Baju keempat yang sempat diduganya baju berlengan panjang tadi ternyata adalah terusan formal tanpa lengan. Sakura menggulung ketiganya kembali seperti bentuk semula. Sementara satu yang masih terbentang di meja itu kemudian digenggamnya, semakin lama semakin erat.

Pandangannya diangkat menatap lurus sosok yang memberinya bingkisan itu. Yang ternyata tidak hanya bingkisan semata, melainkan juga marga dan—keluarga. "Sasuke, in-ini—?" Sakura tidak tahu bagaimana harus melanjutkan pertanyaannya, tidak tahu bagaimana harus memastikan dugaannya.

Sedangkan Sasuke menunggu kalimat itu selesai, mengira sang gadis hanya terbata kecil seperti biasa. Saat menit sudah berlalu dan tidak ada kelanjutan, pemuda itu menghela napas dan mengangguk tenang. Senyumnya ikut surut, tidak untuk berubah menjadi raut terkejut seperti Sakura, melainkan raut wajah serius. Bukan, bukan raut serius yang penuh fokus seperti yang bisa dilihat jika Sasuke sedang berada dalam arena bertarung. Melainkan serius yang tenang, mengandung kesungguhan yang teramat dalam.

"Saat ini hanya aku yang mengenakan lambang itu," ujarnya tenang, matanya hampir menerawang, mengingat di dunia ini hanya dirinyalah satu-satunya sosok bernama dan berdarah Uchiha yang tersisa. "Temani aku, Sakura."

Perasaan Sakura yang sudah menggunung di kalimat pertama Sasuke itu pecah dan meluap pada kalimat kedua. Panas yang sedari tadi menaungi matanya itu beralih wujud menjadi air mata yang meleleh. Awalnya satu demi satu bergantian, kelamaan menjadi anak sungai yang tidak berhenti. Bahu gadis itu berguncang sementara tangannya membawa pakaian yang digenggamnya itu ke dalam rangkulan. Kepalanya tertunduk, membuat surai-surai merah mudanya menjadi tirai yang membingkai wajah mungilnya.

Keseluruhan kejadian ini terlalu banyak untuk dipahami Sakura sekaligus. Uchiha Sasuke, sosok di hadapannya itu, adalah pemuda yang disukainya bahkan sejak umurnya belum terdiri dari dua angka, adalah pemuda yang meninggalkannya di ujung jalan dekat gerbang sekaligus pemuda yang kemarin disambutnya di sekitar gerbang yang sama, adalah pemuda yang pernah hampir membunuhnya sekaligus pemuda yang saat ini meminta untuk menemani sosok itu, selamanya. Bersisian, bersama. Dadanya seperti bergetar dan berawal dari tengkuk, tubuhnya bergidik ringan saat memahami kenyataan bahwa perasaannya selama ini, akhirnya benar-benar berbalas. Haruno Sakura sedang berusaha mati-matian agar tidak mengeluarkan bunyi isak tangis yang memalukan, mengingat keduanya masih di rumah makan. Dan untuk saat ini, itu adalah hal yang sangat sulit.

Sasuke tidak terkejut dengan reaksi gadis di hadapannya. Ia selalu tahu bahwa Sakura adalah gadis berhati lembut yang tidak bisa sekaligus tidak suka memendam apa yang dirasakannya. Dadanya hampir nyeri melihat gadis itu menangis lagi untuk kesekian kalinya, karena dirinya, tapi sebuah senyum tipis penuh perhatian justru terpulas di wajahnya saat mengingat gadis itu bukan menangis karena duka.

Pemuda itu bangkit dari kursinya untuk beralih tempat dan duduk di sisi Sakura. Dengan hati-hati seakan tidak ingin mengejutkan dan melukai, tangannya terjulur meraup bahu gadis itu untuk ditenggelamkan dalam dekapannya. Telapak Sasuke mengusap penuh perhatian bahu feminin dalam rengkuhannya itu beberapa kali, sebelum berpindah dan mengusap helai-helai pendek warna merah muda yang beraroma sama seperti nama pemiliknya, bunga sakura.

Haruno Sakura belum pernah merasakan luapan emosi sedahsyat ini sejak melihat pemuda yang mendekapnya itu sekarat dengan lengan terpotong berdarah-darah setelah perang beberapa waktu lalu. Napasnya berantakan dan keluar sebagai isak tertahan yang syukurlah sekarang teredam dada tempat kepalanya bersandar. Sakura tahu keduanya sudah tahu apa jawabannya atas permintaan Sasuke sebelumnya. Tapi sebagaimana sang pemuda bersedia berusaha untuk bertanya, ia pun akan berusaha untuk menjawab. "Ak—aku," Napasnya tidak membantu, sulit sekali untuk bicara dalam keadaan seperti ini.

Susah payah, gadis Haruno yang cepat atau lambat akan melepaskan marga Harunonya itu berusaha mengendalikan napas. "Aku—" Ia hampir tersedak lagi. "—mau. Tentu saja aku mau," ucapnya lirih, pada akhirnya.

Suara Sakura sangat pelan dan bahkan teredam karena dirinya benar-benar diliputi tubuh Sasuke yang seiring berjalannya waktu, tumbuh semakin lebih besar dari tubuhnya. Tapi tentu saja jawabannya itu tidak lolos dari pengetahuan sang pemuda. Tentu tidak mungkin lolos jika jawaban itu dijanjikan tepat di dadanya.

Rasanya sudah lama sekali sejak Sasuke melakukan hal dengan penuh afeksi seperti ini dan ia bertanya pada dirinya sendiri apakah rasanya juga senyaman ini saat memeluk ibunya dulu, dulu sekali.

Tangannya tidak berhenti mengusap kepala Sakura, bahkan saat jawaban gadis itu ditanggapinya dengan anggukan kecil yang menurutnya dirasakan Sakura dari bagaimana dagunya menyinggung kepala merah muda itu. "Terima kasih," gumamnya pelan, tidak lebih keras dari sebuah bisikan.

Sasuke menundukkan kepalanya sedikit untuk mengecup sekilas puncak kepala Sakura, kemudian meletakkan dagunya di sana, menimpakan berat kepalanya pada kepala gadis yang akan menjadi pendamping hidupnya itu. Seketika, bahu dalam dekapannya itu berguncang lebih hebat dan Sakura yang sebelumnya sudah mulai tenang itu justru kembali terisak. Pemuda Uchiha itu hampir tertawa akan betapa sensitifnya gadis itu akan gestur-gestur kecil seperti yang baru saja ia lakukan. Namun berhenti saat teringat bahwa itu berarti seorang Haruno Sakura sangat, sangat menyayanginya.

Di saat seperti ini kadang Sasuke ragu apalah dirinya pantas mendapatkan luapan rasa kasih sang gadis.

Terima kasih, Sakura, sungguh.

Sasuke ingin terus seperti ini sampai entah kapan. Mungkin sampai Sakura berhenti mengisak. Atau mungkin sampai Sakura tertidur. Atau mungkin sampai ia bosan, yang berarti tidak akan pernah terjadi. Tapi tidak bisa. Selain mereka masih berada di bilik rumah makan, cepat atau lambat gadis penyembuh ini harus kembali ke rumah sakit untuk melakukan tugasnya. Ah, baiklah, kalau begitu ia hanya perlu menunggu sampai Sakura sedikit lebih tenang sebelum mengingatkannya kalau jam istirahat gadis itu terbatas.

Paling tidak, mereka tak lagi perlu mengkhawatirkan batas di antara keduanya.

.

.


an:

Sedari dulu sampai sekarang, aku masih sering kecewa dengan ending cerita yang aku tulis dan Over Again ini adalah salah satunya. Maka maafkan aku T_T Aku pun merasa tulisanku sangat kaku dan kasar tapi aku memang udah lama banget nggak nulis fiksi, maka aku sungguh berharap kalian yang membaca ini nggak mengalami kendala (?) apapun dan bisa menikmati ceritanya dengan baik.

Terima kasih sudah membaca dan berikanlah pendapat serta kritik yang membangun, serius, makasih banget

.

Harayosaki Ochi