Casts: Kwon Soonyoung, Lee Jihoon, Kim Mingyu—and others.
Rate: T
(o)
Soonyoung tengah berada di dalam kelas seni saat tiba-tiba ia melihat Jihoon melewati kelas seni. Pemuda mungil itu nampak tergesa.
"Mau kemana anak itu?" Batin Soonyoung. "Kamar mandi, kah?"
Tak lama berselang, ia memutuskan menyusul Jihoon ke kamar mandi—tentunya dengan ijin guru seni terlebih dahulu.
"Ada apa dengannya?" Entah kenapa kecemasan melanda dirinya. Dan firasat buruk mulai menghampiri.
"Itu dia." Jihoon berada tak terlalu jauh didepannya. Namun pemuda mungil itu nampak memegangi perutnya, dan wajahnya terlihat memucat.
Bruk.
Jihoon tiba-tiba ambruk. Soonyoung membulatkan matanya. "Ji—"
"JIHOON!" Teriakan seseorang membuat Soonyoung tersentak. Dari belakang Jihoon, seorang pemuda tinggi berdiri disana. Menolong pemuda mungil bersurai oranye itu— lalu menggendongnya dan berjalan tergesa melewati Soonyoung. Soonyoung hanya melihat pemandangan itu dengan pandangan nanar.
"Ji..hoon.." Rasa perih menyergap dadanya. Harusnya.. harusnya dia yang menolong Jihoon, bukan? Harusnya dia yang menggendong Jihoon. Bukan, bukan pemuda tadi. Kwon Soonyoung bodoh, kenapa kau biarkan pemuda itu menggendong Jihoon? Kenapa? Kenapa kau hanya diam tadi? Kau kalah cepat, bodoh.
Dan tinggallah Soonyoung seorang diri. Merutuki kebodohannya.
(o)
"Ngh.." Jihoon menggeliat dan mengucek matanya. Rasanya ia tertidur dan terbangun di ruangan serba putih. "Ini.. dimana?" Gumamnya pelan.
"Sudah bangun, hyung?" Seorang pemuda tinggi menghampirinya. "Kau berada di UKS. Aku yang membawamu."
"Ah, terimakasih—aww," Pemuda bersurai oranye itu meringis. Perutnya terasa sangat perih. "Bisa.. kau ambilkan obat maag di kotak obat?" pintanya.
"Tentu," Berjalan menuju kotak obat dan mengambil sebuah obat berwarna hijau. "Ini." Menyodorkan obat itu pada Jihoon.
"Terimakasih." Dengan segelas air yang berada di meja nakas sebelahnya, Jihoon meminum obatnya. "Oh ya, kau siapa? Aku dengar kau memanggilku hyung tadi,"
"Kau melupakanku, hyung?"
"Maksudnya?"
"Aku Mingyu. Kim Mingyu. Kau lupa padaku?"
Kim Mingyu. Rasanya tak asing. Jihoon mencoba mengingat siapa sosok Kim Mingyu yang sekarang berdiri dihadapannya.
"Mingyu? Anak ingusan itu?" Jihoon menunjuk Mingyu dengan pandangan tak percaya. Mingyu adalah adik kelas dan tetangganya saat SD, mereka selalu bermain bersama dan Mingyu juga pernah menolongnya saat ia tenggelam di sungai saat bermain.
Mingyu tertawa. "Sekarang aku bukan anak ingusan, hyung. Lihat, sekarang aku tampan, bukan? Aku juga lebih tinggi darimu, hehe." Pemuda itu memuji dirinya sendiri dengan bangga.
"Benar, benar. Dulu kau bahkan lebih pendek dariku," Tawa Jihoon. "Bagaimana Bibi Kim? Lalu, kenapa aku tak pernah melihatmu di sekolah ini sebelumnya?"
"Ibuku sudah meninggal tiga bulan yang lalu," Raut wajah Mingyu berubah agak sedih. Dia mengembuskan nafas pelan, "Aku pindah kemari semenjak ibu meninggal, dan tinggal dengan nenek yang tinggal di dekat sekolah ini. Soal kenapa hyung tak pernah melihatku di sekolah ini sebelumnya, mungkin karena hyung sibuk dengan pemuda blonde itu."
"Pemuda blonde?" Rasanya Jihoon tahu siapa yang dimaksud Mingyu.
"Ya, pemuda yang selalu bersamamu itu, hyung. Pacarmu ya, hyung?" Jihoon tersentak seketika.
"Bu—bukan! Tentu saja bukan! Mana mungkin aku mau berpacaran dengannya!" sangkal Jihoon. Meskipun hatinya merasa bahwa ucapannya salah. Benar-benar berlawanan dengan hatinya.
Mingyu tersenyum penuh arti.
"Baguslah."
(o)
Peristiwa beberapa jam lalu masih saja terbayang di benak Soonyoung. Ia terus-menerus memikirkan siapa pemuda itu dan menyalahkan diri sendiri. Bahkan sekembalinya ia dari kamar mandi, ia hanya melamun menatap jendela. Beruntunglah guru seni tidak menyadarinya. Dan sekarang jam pulang sekolah, ia ingin pulang dengan Jihoon. Namun pemuda mungil kesayangannya itu tak dapat ia temukan di kelas. Soonyoung memutuskan untuk menunggu Jihoon di gerbang, karena ia masih mengkhawatirkan pemuda itu.
"Oh Tuhan." Pemuda blonde itu merasakan sesak di dadanya. Tanpa sengaja ia melihat Jihoon berjalan dengan pemuda tinggi yang tadi. Mereka berdua berjalan melewati Soonyoung tanpa menengok kearahnya.
Bukan hanya itu yang ia persoalkan. Satu hal yang membuatnya semakin merasa sesak; Jihoon tertawa lepas. Nampaknya mereka berdua sangat akrab. Sekarang, Soonyoung benar-benar penasaran siapa pemuda itu dan apa hubungan pemuda itu dengan Jihoon.
"Kau lihat itu? Bukankah itu Kim Mingyu, anak baru dari kelas 2-C? Siapa yang bersamanya?"
"Si aneh? Kenapa Jihoon dan si aneh itu berjalan berdua? Mereka sepertinya akrab."
Beberapa orang siswa membicarakan mereka. Soonyoung merasa telinganya panas. Meski begitu, satu pertanyaannya terjawab dengan tidak sengaja.
"Siapa sebenarnya kau, Kim Mingyu?"
(o)
Jihoon memandangi langit-langit kamarnya. Melamun. Dia senang akan pertemuannya dengan Mingyu, namun entah kenapa ada rasa bersalah bersarang di hatinya. Rasa bersalah pada siapa, diapun tak yakin.
Drrrrt.
Benda hitam di sampingnya bergetar. Ada pesan masuk dari Soonyoung.
From: Kwon Soonyoung
Kau dirumah?
Aku ingin mengajakmu ke taman.
Aku jemput, ya?
"Taman?" Gumam Jihoon.
To: Kwon Soonyoung
Taman? Baiklah.
Tidak usah menjemputku. Aku akan berjalan sendiri kesana.
Tak lama handphonenya bergetar kembali.
From: Kwon Soonyoung
Aku memaksa.
Dan aku sudah didepan rumahmu. Jadi jangan menolak.
Mata sipitnya membulat seketika. "Apa-apaan anak ini." Meskipun begitu, ia menyegerakan diri keluar rumah setelah mengambil hoodie merah kesayangannya.
(o)
"Lagi-lagi kau mengajakku kemari lalu mendiamkanku," cibir Jihoon. Soonyoung mengajaknya ke taman dan pemuda itu hanya diam sedari tadi. "Kenapa kau mengajakku kemari?"
"Bisakah.." Soonyoung berucap pelan, mendekatkan diri pada Jihoon. Pemuda mungil itu tepat di depannya.
"Aku.." Semakin dekat—Jihoon membulatkan matanya. "..meraihmu?"
"Apa?" Pemuda mungil itu menggeser tubuhnya—sedikit menjauhi Soonyoung.
"Tatap mataku, Lee Jihoon." Soonyoung memegang kedua pundak Jihoon. Kedua onix mereka saling beradu pandang. Mata Soonyoung yang tajam itu memandangi obyek didepannya. "Bisakah aku meraihmu?"
Jihoon memalingkan pandangannya. "Jangan membicarakan hal yang tak aku mengerti."
"Aku menyukaimu, kau tahu itu. Dan kau tahu aku menunggu jawabanmu, bukan?"
"…" Pemuda bersurai oranye itu hanya terdiam.
"Kau menyukaiku, 'kan?" Jihoon tersentak—refleks ia menatap Soonyoung.
"A..aku.."
"Jihoon hyung!" Sebuah suara yang familiar—bagi Jihoon—terdengar. Kedua pemuda itu refleks menoleh ke asal suara. Oh, pemuda itu lagi—Soonyoung menggeretakkan giginya. Benar, Mingyu tiba-tiba datang entah darimana.
"Hyung sedang apa?" Mingyu seakan tak mempedulikan keberadaan Soonyoung. Jihoon tak tahu harus menjawab apa. Entah kenapa dia merasa bersalah pada Soonyoung—pemuda itu melirik Soonyoung. "Hyung, temani aku jalan-jalan, ya!" Pemuda yang lebih tinggi itu menarik tangan Jihoon. Jihoon yang kebingungan, melirik Soonyoung dan Mingyu bergantian. Soonyoung nampak tak perduli dan memalingkan pandangannya.
"Tak apa?" Jihoon menarik ujung jaket yang dikenakan Soonyoung. Pemuda itu hanya berdehem kecil tanpa sedikitpun menengok kearah Jihoon.
"Baiklah, ayo, hyung!" Mingyu menarik tangan mungil Jihoon, mengajaknya pergi meninggalkan Soonyoung.
Dan Jihoon semakin merasa bersalah.
(o)
"Hyung?" Mingyu melambaikan tangannya didepan wajah Jihoon. Pemuda mungil itu sepertinya melamun.
"…" Alih-alih menjawab, Jihoon hanya diam. Pandangannya kosong.
"Hyung kenapa?"
"…"
"Hyung!" Yang lebih muda mencubit pipi yang lebih tua. Jihoon tersentak.
"…apa—"
"Barusan hyung melamun, apa yang hyung pikirkan?" Mingyu menyesap americano yang baru saja ia pesan. Mereka berdua memang berada di kafe setelah berkeliling di lingkungan sekitar—tentu saja itu ide Mingyu.
"Tidak ada," Pemuda bersurai oranye itu menghembuskan nafas pelan. "Aku ingin pulang."
"Benar ingin pulang?"
"Ya." Jihoon berdiri dari duduknya, menatap Mingyu. "Aku akan pulang sendiri, dan kau—sebaiknya tak usah mengikutiku," Dan setelah Mingyu mengiyakan, pemuda itu beranjak. Meninggalkan Mingyu.
(o)
"Bodoh—" Jihoon memukul-mukul bantalnya kesal. "..kau hanya bisa menyakiti Soonyoung, bodoh."
"Bisakah aku meraihmu?"
"Aku menyukaimu, kau tahu itu. Dan kau tahu aku menunggu jawabanmu, bukan?"
Dan ucapan Soonyoung tadi berputar-putar di kepalanya. Dia—Jihoon benar-benar merasa bersalah pada Soonyoung.
Tanpa ia sadari, airmata mengalir. Dia menangis. "E-eh.." Jihoon mengusap airmata di pelipisnya.
"Aku.. aku harus meminta maaf padanya,"
"Dan—bersikap seperti biasa,"
"Atau mungkin aku harus membalas perasaannya?"
Pemuda itu bermonolog. Yang ada di kepalanya saat ini hanyalah Soonyoung.
"…kau membuatku gila," Sebuah senyum terukir di wajah manisnya.
"Ini yang dinamakan cinta?"
─baiklah, mari tinggalkan sejenak tsundere yang tidak peka ini.
(o)
Bahkan setelah kepergian Jihoon dan Mingyu beberapa jam yang lalu, Soonyoung masih berada di taman, sendirian—merenungkan apa-apa saja yang terjadi hari ini. Hatinya sakit. Pemuda bernama Mingyu itu benar-benar merusak semuanya. Sialan, ia ingin sekali memukul pemuda itu.
Ia hanya menginginkan satu hal. Ia hanya ingin meraih Jihoon, itu saja. Kenapa sesusah ini, Tuhan?
"Apa aku terlalu cepat menyatakan perasaanku? Atau aku yang bodoh karena tidak membuatnya menjawab saat itu juga?—kalau saja ia menjawab saat itu juga, tak akan mungkin begini, 'kan?" Pemuda blonde itu tertunduk lesu. Tenggelam dalam pikirannya yang kalut saat ini.
Pemuda itu tak menyadari seseorang yang mengintipnya dari balik semak belukar tak jauh dari taman.
"Jihoon sialan itu, tak akan kubiarkan kau menyakiti Soonyoung."
(o)
Jihoon ingin sekali absen hari ini. Ia merasa sangat gugup untuk bertemu Soonyoung—bahkan untuk membayangkannya saja, rasa gugup itu semakin bertambah. Dia tidak bisa bertemu pemuda itu hari ini—meskipun ia ingin memperbaiki kesalahannya.
"Lee Jihoon." Sebuah suara terdengar dari balik punggungnya. Jihoon menoleh dan mendapati seorang pemuda berdiri di belakangnya. Pemuda itu mendekat, lalu mencengkeram kerah bajunya—hampir saja ia terangkat.
"Sebaiknya kau jauhi Soonyoung." Mata tajam pemuda itu mendelik pada Jihoon. "Kau hanya bisa menyakitinya, kau tahu,"
"A—aku.." Jihoon tercekat—tak dapat berkata-kata. Siapa pemuda ini dan kenapa pemuda ini menyuruhnya menjauhi Soonyoung? Menyakitinya? Apa maksudnya?
"Sunbae, bisa hentikan ini?" Mingyu—lagi-lagi datang entah darimana. "Kau mau aku laporkan guru?"
Pemuda itu melepaskan Jihoon, namun matanya masih menatap Jihoon, tajam. "Jauhi dia."
