Chapter II
Berkali-kali Hinata melemaskan otot-otot lehernya yang setiap menitnya terasa nyeri. Jari-jarinya juga ia lemaskan dengan mengibas-ngibaskannya setelah lima menit. Helaian ungunya ia gelung tinggi hingga membentuk satu cepolan diubun-ubunnya. Sesekali manik lavendernya menatap seorang pria yang tengah duduk dimejanya dengan lembaran-lembaran kertas di depannya. Saat keduanya tak sengaja bertatapan, Hinata akan memfokuskan lagi matanya pada lembaran-lembaran yang sama didepannya.
Dirinya sedang membantu Gaara -guru Bahasa Inggris- mengoreksi ulangan kelas dua yang berjumlah lima kelas dengan total sekitar seratus lebih murid. Katanya sebagai hukuman tempo hari saat Hinata memandangi Gaara di kelas.
Rasa-rasanya Hinata ingin menangis karena lehernya sudah sangat sakit untuk menunduk terus. Salahkan kursi dan meja yang tingginya hampir sama.
"Hyuuga," panggil Gaara.
"Ya, Sir," jawab Hinata lesu.
"Kemari."
Hinata menurut, mendekati meja sang guru dengan wajah lecek.
Gaara menarik laci meja kerjanya. Mengambil sesuatu di dalamnya dan meletakkan di meja dekat Hinata berdiri. "Pakai saja."
"Koyo?"
"Lehermu pasti pegal."
"Tapi, kenapa harus koyo?"
Gaara mendesah pasrah dan mengambil kembali koyo kemasan itu. Namun, ujung kemasan dengan cepat ditarik oleh Hinata.
"Lepaskan," perintah Gaara.
"Anda sudah memberikannya padaku, Sir." Hinata menarik koyo ke arahnya.
"Bukannya kau tidak mau." Gaara menarik ke arahnya.
"Jangan berlebihan begitu, Sir."
Hinata menggunakan sedikit tenanganya untuk menarik koyo itu. Memang sih Hinata yang menang dan mendapatkan koyo itu. Tapi, resikonya, Ia jadi terjengkang hingga terduduk di lantai.
Entah kenapa wajah Gaara memerah seperti rambutnya.
TBC
Thanks for ripiu, fave and follow.
Big Thanks for: dawnstory'shinata, oomirwa, Anggi575, Candybar-honey, Megumi Amethyst, SapphireOnyx Namiuchimaki, pinky lav, Saskia19250 (hah? cengo). (maaf untuk kesalahan penulisan)
