Disclamer: Kuroko no Basuke (c) Fujimaki Tadatoshi
Note: AU. Insya Allah OOC (?). Gender bender. Alternate age; usia karakter rata-rata 23 ke atas. Awas ada typo. EYD yang tak rapih. Majas bertebaran. Bahasa porno /dor/
Pairing: AominexFem!Kise (main) and another pair, that you'll found them later.
Pregnant
II. Berita
.
.
.
Pria pemilik iris azure itu hanya menatap pria berkulit gelap yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan pria dengan kacamata dan majalah wanita di tangannya, yang duduk di samping si pemilik iris azure itu.
Sudah hampir sepuluh menit mereka berdua berdiam diri sambil memandangi Aomine Daiki daritadi hanya senyum-senyum sendiri. Bukan hanya senyum-senyum sendiri. Setiap kali ingin memulai pembicaraan, Aomine pasti selalu tertawa dulu. Dan setelah tertawa ia kembali tersenyum, kemudian lupa dengan apa yang ia ingin katakan.
Sebenarnya si pria berkacamata sudah menyarankan pria beriris azure di sampingnya untuk segera membawa Aomine ke rumah sakit jiwa. Tapi temannya itu malah bilang,
"Biarkan saja Midorima-kun. Aomine-kun selalu memasang wajah suram, biarkan saja dia tertawa dan tersenyum sendiri seperti itu."
Karena merasa muak dengan pria berkulit gelap di hadapannya, Midorima Shintaro—si pri berkacamata memutuskan untuk langsung memulai pembicaraan, dengan dehaman penuh arti.
"Ehem."
Mendengar dehaman itu, Aomine langsung bertanya pada Midorima, "Ada apa, Midorima? Tenggorokanmu kering? Mau ku pesankan minum?" Senyuman seperti orang yang sudah hilang kewarasan itu masih terpasang di wajahnya.
Sementara itu, pria yang duduk di samping Midorima menyodorkan sebungkus permen padanya.
"Buat apa ini, Kuroko?" tanya Midorima.
"Tenggorokanmu gatal 'kan?" balas Kuroko Tetsuya—si pria beriris azure.
Pada detik itu juga, Midorima ingin mengangkat meja yang ada tepat di hadapannya ke kedua temannya itu.
Seingatnya, dua temannya itu, waktu SMP dan SMA dulu tidak seidiot sekarang.
Helaan napas keluar dari mulut Midorima, ia frustasi.
Midorima membenarkan letak kacamatanya, yang memang sudah tidak beres sedari tadi. Lalu menatap Aomine dengan pandangan serius. "Langsung saja ke inti dari pertemuan kita ini, Aomine!" gertaknya. Terlihat ada empat sudut sembilan puluh derajat dengan sedikit lekukan di pelipisnya.
"Oh, hahaha. Soal itu. Aduh. Aku harus mulai darimana, ya? Aduh… Hahaha," balas Aomine sambil tertawa seperti orang autis.
"Kuroko, ayo bawa dia ke rumah sakit jiwa terdekat atau panti rehabilitas," ucap Midorima lalu berdiri dari kursi.
Aomine mengangkat kedua tangannya. "Wohoo, tenag-tenang. Aku masih normal 'kok," katanya. Midorima kembali duduk di kursinya. "Oke, aku akan mulai pembicaraannya."
"Sebenarnya aku memanggil kalian ke sini hanya untuk memberitahu kalian, kalau Ryuka hamil."
Hening.
Aomine tersenyum canggung.
Kuroko menatap Midorima.
Midorima menatap Kuroko.
Lalu mereka berdua menatap Aomine.
"APA!? KALIAN BERDUA 'KAN BARU NIKAH DUA BULAN!"
.:x:.
Ekspresi wajah dua pria dewasa itu tak beda jauh dengan ekspresi Aomine tadi pagi. Hanya saja kalau ekspresi Aomine 'kan terlihat seperti; seorang laki-laki bejat yang baru saja meniduri seorang perempuan, sampai membuatnya hamil.
Kalau ekspresi wajah Kuroko dan Midorima lebih seperti; dua orang laki-laki yang baru saja tahu kalau teman mereka adalah seorang homo-bajingan yang akhirnya insaf. Dan langsung meniduri seorang perempuan, sampai membuatnya hamil.
Terlalu panjang memang perumpamaannya. Tapi itulah kenyataannya.
Kuroko menarik napas dalam-dalam, lalu ekspresi nista di wajahnya. Ekspresi datar, seperti orang tak punya emosi kembali terpasang di wajahnya. "Aku benar-benar kaget, Aomine-kun. Aku saja sudah menikah dengan Satsuki selama lima bulan, masih belum dikaruniai anak," kata Kuroko, curhat.
"Akh, i-itu…" Aomine memandangi kedua temannya secara bergantian. "…itu semua berkat perjuangan kerasku menghamili Ryuka. Seharusnya kau juga mengikutiku Tetsu."
Mendengar Aomine mengatakan hal seperti itu. Kuroko mengangguk takzim. Midorima memasang wajah WTF.
"Terus kau mau punya anak apa?" tanya Midorima.
"Manusia lah," balas Aomine enteng.
"Maksudnya laki-laki atau perempuan, Aomine-kun," jelas Kuroko.
Aomine berpikir. "Perempuan saja."
"Supaya bisa kau hamili?" Peranyaan itu keluar dengan mudahnya dari mulut Midorima. Membuat Aomine kaget, dan terjatuh dari kursi. Reaksi yang terlalu hiperbolis memang. Walau pun begitu, Midorima tidak mempedulikannya.
"Sudahlah kalau begitu. Aku kembali ke kantorku." Midorima langsung berdiri, dan meninggalkan Aomine dan Kuroko.
"Aku juga kembali ke kantor, ya, Aomine-kun," kata Kuroko sambil membungkukkan tubuhnya. "Sampai jumpa."
Pria bersurai biru kelam itu melambaikan tangannya. "Oh, ya," ucapnya, lalu ia terdiam.
Berpikir dalam kesunyian suasana kafe.
Kenapa ekspresi dua orang itu tadi seperti itu? Dan kenapa mereka tidak mengucapkan selamat padaku dan Ryuka...?
.
.
.
.::To be Continued::.
Okki's note: Wow, abis nonton Psycho-pass malah bikin chapter ini [kebanting banget sumpah. Dari dark theme jadi ke porn theme (?)].
Ah, jadi chapter ini isinya cuma gitu-gitu doang. Nothing special in this chapter, except the relationship between Kuroko and Momoi. Seriusan...itu KuroMomoi tiba-tiba ngelintas begitu aja di otak. Malah niat awalnya saya mau nyelipin, MidoFem!Takao, tapi nggak jadi. Males -_-
Eniwei, lenght setiap chapter bakal beda-beda deh kayaknya. Tergantung ide yang ngelintas di otak gitu deh~
Review? /tebar doujin/
Balesan un-login:
Nen: NAMANYA JUGA AHOMINE! /eh/ Ah...iya! Aku lupa. Makasih udah ngingetin sekaligus review ;;
Meshi-chan: AI LAF YU TU, KAKAKKU ; v ; /peluk/ Omg, emang mereka berdua itu unyu! Aku aja yang bikin speechless sendiri pas ngere-read.
Eniwei, makasih review-nya. OKAY, I'LL TRY MY BEST TO KEEP WRITING, KAKAKKU! 3
ridermaleslogin: Emang, Mine emang oon-nya nggak ketolongan... Soal words... maaf bener-bener maaf, emang kedikitan. Belakangan ini lagi susah bikin yang wordsnya sampai 1k. Soal tanggung jawab...minta tanggung jawab sama Aomine sana 8DDD
Eniwei, makasih review-nya.
