Label:

angst, hurt/comfort, paseo, taekook, jikook, sope, yoonseok, genderswicth, female!jungkook, female!yoongi

Sinopsis:

Taehyung mengingat kembali kenangannya bersama Jungkook. Ada banyak hal yang belum sempat Taehyung ungkapkan, Taehyung tidak berharap dia akan mengatakan semuanya di saat seperti ini, tetapi jika Jungkook bahagia, semua kenangan itu, Taehyung akan membiarkannya menghilang seperti kembang api di langit malam.

Bab 2: Things I Couldn't Say – Bagian Dua

[Hangang, Ilchon il-dong, Seoul]

Sungai Han yang mengalir dari Gangwon-do menuju ke Gyeonggi-do sampai ke Laut Kuning menjadi salah satu tempat yang menarik dikunjungi bagi para turis maupun warga lokal yang ingin menikmati angin sore di taman Hangang. Biasanya taman Hangang mulai dipenuhi anak muda sore hari menjelang malam, pamer aksi bermain skateboard atau menari di jalan-jalan. Kebanyakan orang datang bersama teman, kekasih, atau mungkin keluarga, tetapi bukan berarti tidak ada yang datang sendiri, seperti Taehyung misalnya.

Hangang tempat yang populer, tentu saja Taehyung pernah membawa Jungkook kemari dulu saat mereka masih sepasang kekasih. Taehyung masih ingat kali pertama dan terakhir mereka menghabiskan malam di Hangang menikmati atraksi pertunjukan kembang api yang menari-nari di langit. Semuanya indah, tetapi tidak bertahan lama dan hilang begitu saja, entah kenapa kedengarannya seperti hubungannya dan Jungkook.

Drrt drrt

Ponselnya bergetar keras di dalam saku celana. Taehyung mengeluarkannya dan melihat nama Hoseok berkedip-kedip di layar.

"Hmm?"

"Kau di mana?" Suara Hoseok terdengar cemas, "Yoongi bilang dia melihatmu di Rose Rosa, tapi kau tidak menemui Jungkook?"

"Eoh."

"Kenapa?"

"Aku datang hanya untuk memastikan apa Jungkook masih punya tempat untukku di hatinya. Aku sudah mendapat jawabannya."

"Kau bahkan tidak bicara padanya, apa maksudmu?"

Taehyung mengingat kembali kedatangannya ke salah satu bridal shop ternama di Seoul beberapa jam lalu. Dia menanyakan pelanggan dengan nama Jungkook pada bagian receptionist dan seorang pegawai mengantarnya langsung ke lantai di mana ruangan fitting Jungkook berada. Saat itu pintunya tertutup, tetapi tidak terlalu rapat, mungkin seseorang menutupnya terburu-buru. Taehyung tidak tahu kenapa dia tidak mengetuk pintu saja dan masuk, tangannya sudah terangkat namun tiba-tiba saja kaku ketika mendengar suara tawa yang familiar dari dalam ruangan.

Dari celah pintu yang terbuka Taehyung melihat semuanya.

Bagaimana Jungkook tampak bahagia dalam pelukan pria lain.

Bagaimana pria itu mencium kedua pipi Jungkook dengan mesra.

Bagaimana tangan pria itu menyentuh rambut Jungkook dengan penuh kasih sayang.

"Mereka tampak sangat bahagia."

Jungkook tampak sangat bahagia.

Karena itu Taehyung memutuskan untuk pergi.

"Kau baik-baik saja?"

"Hmm...sekarang? Tidak. Besok? Aku tidak tahu. Entah itu besok, minggu depan, bulan depan, atau mungkin tahun depan, aku tidak tahu tapi aku yakin aku akan baik-baik saja suatu hari nanti. Jungkook bahagia dengan pilihannya, jadi aku juga harus mencari kebahagiaanku sendiri kan?"

"Taehyung, maaf aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu."

Taehyung menggeleng dan tersenyum, seolah lupa Hoseok tidak akan bisa melihatanya. "Hyung, beri tahu padaku, pria itu orang yang baik kan? Dia akan menjaga Jungkook dengan baik, kan?"

Hoseok terdiam beberapa saat, Taehyung pikir dia mungkin berusaha menyusun kata.

"Eum. Jimin orang yang baik. Dia mengerti Jungkook dan bahkan bisa menjinakkannya, kau tahu Jungkook bisa jadi sangat kekanakan kadang-kadang kan."

Lagi-lagi Taehyung tersenyum, kali ini dia mengangguk, meskipun Hoseok tetap tidak akan melihat. "Itu bagus. Aku tidak perlu khawatir."

"Ma, jangan melakukan hal yang aneh, kau paham?"

"Hh. Memangnya Hyung pikir aku akan melakukan apa?"

"Entah. Melompat dari jembatan mungkin?"

"Kebetulan sekali, aku ada di Hangang sekarang."

"Mwo? Yah! Jangan melompat! Kau tahu masih banyak gadis di luar sana selain adikku yang gendut itu kan? Dia pemalas dan cengeng, kau bisa dapat gadis yang lebih baik dari pada bocah itu."

"Eiii Hyung! Jungkook akan marah kalau dia mendengarnya. Lagipula aku memang tidak berniat melompat, kau tenang saja Hyung, aku bukan orang yang berpikiran pendek."

"Geuchi! Jangan berpikiran pendek. Kau masih muda, masih banyak yang bisa kau lakukan. Kudengar kau bekerja di kantor kejaksaan kan? Masih muda dan seorang jaksa, aku yakin gadis-gadis akan mengantri untuk jadi pacarmu."

"Hyung tahu darimana aku bekerja di kejaksaan?"

"Namjoon. Dan aku yang memberi tahu Jungkook. Yah, kau boleh putus dengan Jungkook tapi kenapa kau juga memutuskan hubungan denganku bocah?!"

"Hyung kakaknya Jungkook, aku merasa canggung."

"Aigoo bocah ini banyak gaya. Setelah ini traktir aku minum! Anggap saja untuk menebus dosa-dosamu."

Taehyung tertawa kecil. "Hmm. Hyung, terima kasih sudah menemaniku bicara, aku merasa lebih baik."

"Jinjja?"

"Yaa...sedikit?"

"Bagus kalau begitu. Cepat pulang dan jangan berkeliaran di jalan. Aku akan meneleponmu lagi besok untuk memastikan kau masih hidup."

"Ne."

Taehyung memutus sambungan, senyum di wajahnya menghilang.

"Haa..."

Langit mulai gelap, matahari mulai tenggelam, bersamaan dengan sinarnya yang perlahan menghilang, Taehyung meneteskan air matanya sekali lagi.

"Aku tidak pernah tahu akhirnya akan seperti ini. Seharusnya aku memperlakukanmu dengan lebih baik."

[Nick and MJ Duplex Gangnam Apartment, Gangnam-gu, Seoul]

Jungkook sudah tinggal bersama Jimin sejak tiga bulan lalu, mereka memang belum menikah tetapi hal seperti ini bukan hal yang aneh di Korea. Meskipun begitu, Jungkook tidak pernah melakukan lebih dari sekedar benar-benar tidur di atas satu tempat tidur yang sama dengan Jimin. Setiap pagi, Jungkook akan membuat sarapan dan ketika Jimin pulang dari studio musik tempatnya bekerja di malam hari wangi makanan buatan Jungkook juga akan menyambutnya, anggap saja seperti latihan jadi istri. Jungkook bukan koki yang luar biasa, tetapi makanan buatannya juga tidak buruk, dan belakangan Jungkook semakin sering belajar masak dari istri Namjoon yang memang jago masak, namanya Seokjin. Oh, Namjoon teman sekelas Hoseok waktu SMA ngomong-ngomong, mereka masih berteman sampai sekarang.

Plop

Jimin membaringkan badannya di sofa dan menumpukan kepalanya pada paha Jungkook yang empuk, Jungkook tidak menunjukkan reaksi apa-apa, matanya memandang lurus ke arah TV tetapi Jimin tahu dia juga tidak benar-benar sedang menonton TV.

Jimin menghela napas.

Kemudian mengangkat badannya dan mencuri satu ciuman di bibir plum Jungkook yang berwarna merah muda. Pada akhirnya dia berhasil mendapatkan perhatian Jungkook, plus membuatnya tersipu malu sampai kedua pipinya memerah menggemaskan.

"Kenapa melamun hmm? Apa kau memikirkan Kim Tae Hyung?"

"Eoh."

Jimin mendudukkan diri dengan benar di samping Jungkook, mata sipitnya dibuat melotot lebar. "Yah, bagaimana bisa kau mengatakannya terang-terangan di hadapanku?"

Jungkook tersenyum menggoda. "Wae? Apa Minimin cemburu?"

"Hh." Jimin mendengus dan memalingkan wajahnya, Jungkook tahu betul itu cuma pura-pura, Jimin tidak pernah bisa marah kalau Jungkook sudah pasang muka imut. Meskipun begitu, Jungkook pikir tidak ada salahnya bermanja-manja sedikit supaya Jimin berhenti pura-pura merajuk. Jadi Jungkook menyandarkan kepalanya di bahu Jimin. "Aku hanya...dia datang tapi tidak menemuiku, aku jadi kepikiran."

"Apa kau mencemaskannya?"

"Eoh. Sejujurnya aku tidak tahu bagaimana perasaannya padaku setelah dua tahun kami tidak berkomunikasi, bagaimana kalau ternyata dia masih...masih—"

"Jika dia masih mencintaimu apa kau akan kembali padanya?"

Jungkook menarik kepalanya secepat kilat, duduk menghadap ke arah Jimin dan menatapnya tak percaya. "Mwo? Yah! Mana mungkin begitu, aku kan sudah punya Minimin." Jungkook meletakkan kedua tangannya di pipi Jimin, memastikan kedua pasang mata mereka saling memandang, agar Jimin bisa membaca bahwa tidak ada kebohongan yang keluar dari mulutnya. "Ya, aku mencemaskannya, aku takut aku melukainya, tapi aku tidak akan pernah meninggalkanmu untuknya. Karena bagiku Taehyung adalah masa lalu, dan kau...Park Ji Min adalah masa depanku."

Jimin mengangkat kedua tangannya, menggenggam kedua telapak tangan yang bertengger di pipinya. "Aku percaya padamu. Jadi tolong jangan buat aku patah hati. Arasseo?"

Jimin tersenyum.

"Arasseo."

Jungkook tersenyum.

[]

Tiba-tiba saja Taehyung berada di apartemen lamanya, sebuah unit di Micasa, pemandangan langsung ke sungai Han. Dia tidak sendiri, ada Jungkook di sana, duduk di sofanya, menatap layar TV dengan ekspresi wajah yang dingin.

"Kali ini apalagi alasanmu?"

Jungkook menoleh, menatap Taehyung sedikit mendongak, kemudian raut wajahnya berubah, alisnya menukik saat dia bertanya, "Jamkanman. Apa ini bau parfum wanita?"

"M-mwo?"

Taehyung terkejut, bicaranya mendadak gagap seperti penjahat tertangkap basah, seharusnya tidak begitu, toh Taehyung tidak melakukan kesalahan, maksudnya bukan kesalahan yang berhubungan dengan wanita lain atau orang ketiga.

"Yah, jangan salah paham, aku—aku pergi ke karaoke dengan teman-temanku dan kebetulan ada dua teman perempuan mereka—"

"Ah, jadi itu alasan kenapa kau lupa dengan janjimu? Apa kau menikmati waktu dengan teman-temanmu?"

Taehyung mengacak rambutnya frustasi, kesal kenapa dia malah semakin menjerumuskan dirinya dalam masalah. Dia memang salah karena pergi karaoke dengan teman-temannya di saat seharusnya dia menemui Jungkook karena mereka telah membuat janji hari sebelumnya. Tetapi dia tidak melakukannya dengan sengaja, Taehyung lupa, hari yang buruk, tugas ditolak dan terancam mengulang satu semester, otaknya mumet dan sulit untuk fokus, itu sebabnya Taehyung ikut-ikut saja saat ditarik ke tempat karaoke.

Sejujurnya ini bukan pertama kalinya Taehyung melupakan janjinya, tetapi kali ini Jungkook sangat marah lebih dari biasanya, ketika menerima sebuah kado berisi album foto yang dibuat sepenuh hati bertuliskan 'Happy 4th Anniversary', Taehyung paham betul kenapa Jungkook berhak marah.

"Kau salah paham."

Jungkook berdiri, tangannya dilipat di depan dada, matanya menatap Taehyung tajam. "Geurae? Kalau begitu jelaskan, jelaskan padaku kenapa kau memilih pergi karaoke dengan teman-temanmu daripada bertemu denganku? Kau bilang kau sibuk dengan tugas-tugasmu kan? Itu sebabnya kau selalu membatalkan janji. Lalu, kau sibuk tapi punya waktu untuk pergi ke karaoke?"

Tanpa bisa dicegah, wajah Taehyung mengeras. "Kau pikir aku berbohong?"

Jungkook tidak tahu ke mana saja Taehyung mencarinya selama berjam-jam, stress karena takut terjadi sesuatu dengan Jungkook, stress karena Hoseok terus meneleponnya sambil marah-marah karena menghilangkan adiknya setelah tidak datang menepati janjinya dan ternyata Jungkook malah ada di apartemennya. Mungkin itu sebabnya Taehyung jadi begitu emosi mendengar ucapan Jungkook, yang menyiratkan seolah semua ucapan Taehyung selama ini tentang betapa sibuknya dia dengan tugas kuliah semata-mata hanya alasan agar dia bisa membatalkan janji, padahal Taehyung tidak serendah itu.

"Apa aku salah?"Jungkook bertanya, nada bicaranya terdengar mengejek di telinga Taehyung, seolah tuduhannya sudahlah pasti benar.

Taehyung meletakkan tangan kirinya di pinggang sementara tangan kanannya mengusap wajah dengan kasar, sesuatu yang dia lakukan saat sedang menahan emosi. "Jungkook, aku capek, lebih baik kita bicara lagi saja besok, sekarang pulang dan dinginkan kepalamu."

Jungkook mendengus, sebelah ujung bibirnya terangkat sinis. "Lihat. Sekarang kau mengusirku. Aku memang tidak penting kan? Dibanding kertas tugas atau teman-temanmu, aku sama sekali tidak lebih penting. Kau bisa meluangkan waktu untuk mereka tapi tidak untukku. Aku yakin kau bahkan sama sekali tidak ingat apa-apa soal hari jadi kita sampai kau lihat hadiah dariku, apa aku benar?"

Sisanya hanya ingatan kabur, umpatan-umpatan penuh emosi, saling menunjuk, berteriak.

Lalu Taehyung duduk di dalam mobilnya, tepat di belakang kemudi, tetapi mobil itu tidak berjalan, tepatnya baru saja dihentikan secara mendadak saat pedal rem diinjak kuat-kuat.

"Lagi? Kau tahu ini konyol kan? Kenapa kau selalu saja minta putus setiap kali kita bertengkar? Kau pikir itu akan menyelesaikan masalah?"

Suara Taehyung meninggi, lagi-lagi ada Jungkook di sisinya, dan lagi ekspresi wajah keduanya sama-sama tak terlihat bersahabat.

"Ani. Kali ini aku serius. Kita putus. Aku sadar kita tidak cocok untuk satu sama lain. Aku mencintaimu, kau mencintaiku, tapi cinta saja tidak cukup. Aku tidak bisa terus bersama orang yang bahkan tidak bisa menyisihkan waktunya untukku, itu mungkin kekanakan, manja, tapi itu aku. Taehyung-ssi, waktu bukan sesuatu untuk dicari, tetapi untuk dibuat, itu jika memang aku cukup penting. Jika kau tidak bisa memahamiku, itu artinya kita tidak untuk bersama. Jadi kita akhiri saja di sini. Semoga kau bisa menemukan orang yang bisa menerimamu apa adanya, mungkin bukan aku. Tolong jangan temui aku lagi mulai saat ini."

Jungkook keluar dari mobil dan menutup pintunya dengan keras. Taehyung tidak keluar untuk mengejarnya, kata-kata Jungkook yang membuatnya kehabisan kata-kata dan mematung. Ketika Jungkook telah jauh di depan, Taehyung ditinggal sendiri, berteriak kesal dan frustasi.

Kemudian terbangun dengan napas terengah.

Semuanya hanya mimpi. Tetapi itu nyata, tepatnya kilas balik pada putus terakhir Taehyung dan Jungkook. Mereka putus berkali-kali, tetapi yang terakhir rupanya tidak bisa disambung lagi, bagaimana mungkin ketika Jungkook telah menemukan pria lain yang sepertinya bisa memahaminya lebih baik dari Taehyung.

Ngomong-ngomong, sudah satu bulan berlalu sejak undangan pernikahan Jungkook sampai ke tangannya. Taehyung mengulangi kembali semuanya, apa yang dia lakukan ketika Jungkook memutuskan untuk benar-benar berhenti menemuinya, mengurung diri dalam dunianya sendiri. Panggilan masuk terus berdatangan dari Namjoon dan Hoseok, tetapi Taehyung tidak pernah mengangkatnya. Sebulan Taehyung menenggelamkan diri dalam pekerjaannya, berharap setidaknya tumpukan kertas di meja kerja yang tidak pernah berkurang bisa membuatnya lupa akan kisah cintanya yang sebentar lagi akan habis tak bersisa seperti debu ditiup angin.

Namun hari ini semuanya usahanya sia-sia karena mimpi yang datang tanpa diundang.

Dan lagi, Taehyung punya banyak kenangan dengan Jungkook, buruk ataupun manis mereka sudah melaluinya, dari semuanya malah kenagan paling pahit yang muncul dalam mimpi. Oh, mungkin tidak ada bedanya sekarang, buruk ataupun manis dua-duanya hanya akan membuat Taehyung semakin patah hati.

Taehyung mengusap wajahnya, kemudian membuka laci meja nakas di samping tempat tidurnya, mengambil kertas undangan yang diletakkan paling bawah, sengaja ditutup dengan buku bertumpuk-tumpuk. Taehyung membuka undangan itu lagi setelah sebulan terabaikan, memeriksa tanggal yang tertera di dalamnya, itu adalah besok.

Besok Jungkook mantan pacarnya akan resmi jadi milik orang lain.

Besok...apa Taehyung sanggup datang?

Haruskah dia datang memberi restu atau datang untuk menghentikan pernikahannya.

[Wedding Hall]

Jungkook tidak pernah segugup ini dalam hidupnya, tidak bahkan saat pengumuman kelulusan saat SMA. Hari ini Jungkook akhirnya mengenakan gaun impiannya, melekat pas di badan setelah diet ketatnya yang sukses, rambutnya digulung rapi dan dihias dengan jepit rambut berbentuk bunga putih besar. Jungkook paham mengapa anak perempuan harus dituntun oleh ayahnya saat berjalan menuju altar, kalau tidak ada ayahnya mungkin Jungkook sudah terjatuh setengah jalan karena kakinya berubah jadi jelly.

Tetapi ketika melihat Jimin menunggunya di depan altar, dengan setelan jas hitam dan rambut yang disisir rapi ke belakang, tersenyum manis ke arahnya, anehnya Jungkook merasa lebih tenang, padahal biasanya Jungkook pasti akan berdebar dan merona.

Meskipun wajah Jimin sangat tampan, Jungkook menemukan dirinya tak bisa fokus dan terus menatap ke arah bangku-bangku tamu yang akan menjadi saksi pengucapan janji sucinya, mungkin jauh di dalam hati Jungkook sangat berharap bisa menemukan Taehyung di antara orang-orang itu, karena dengan begitu Jungkook bisa meyakinkan dirinya sendiri bahwa Taehyung akan baik-baik saja tanpanya.

"Shinbu, Jungkook-yang, akan menjadi pendamping Jimin-goon, apakah Anda berjanji untuk mencintai Jimin-goon dan menghormatinya, menjaganya, membantunya, dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, sampai maut memisahkan?"

Jungkook menyadari dirinya terlalu banyak melamun, tidak sadar kapan dia sampai di depan altar, berdiri di samping Jimin, tangan Jimin menggantung di depannya siap dengan cincin pilihannya sementara MC membacakan janji pernikahan.

"Saya—"

Creak

Seseorang membuka pintu, di tengah pembacaan janji, semua orang jelas saja menoleh ke belakang, menyoroti orang yang berdiri di depan pintu. Orang itu membungkukan badan beberapa kali, wajahnya sampai tidak terlihat, tetapi Jungkook sangat mengenalnya untuk bisa menebak siapa yang berdiri di sana tanpa perlu melihat wajahnya.

"Taehyung..."

Itu hanya ucapan yang lirih, tidak akan terdengar sampai ke ujung, tetapi di saat yang bersamaan Taehyung mengangkat kepalanya, menatap tepat ke arah Jungkook dalam diam, sebelum senyum tulus berkembang dari bibirnya.

Taehyung tersenyum.

Jungkook membalas senyumannya.

Ketika Taehyung melangkah menuju kursi pada barisan terbelakang, Jungkook memutar badannya menghadap Jimin, menyodorkan tangannya untuk disemati cincin sebagai bentuk kebersediaan.

"Saya bersedia."

Jimin tak bisa menahan senyumnya ketika akhirnya cincin itu melingkar indah di jemari lentik Jungkook. MC mengumumkan dengan bahagia sepasang suami istri baru, para tamu bertepuk tangan gembira, dan Jimin menutupnya dengan satu kecupan manis di bibir mempelai wanita.

[]

Taehyung menunggu di akhir barisan untuk memberi ucapan pada pasangan pengantin, tamu yang datang tidak banyak, beberapa Taehyung kenal sebagai teman sekolah Jungkook, sisanya tampak asing mungkin kenalan Jimin atau teman kuliah Jungkook. Oh, bahkan di saat beginipun Taehyung kembali dipukul telak ketika sadar dia tidak tahu apa-apa soal teman kuliah Jungkook.

Ketika akhirnya Taehyung berdiri di hadapan Jungkook, Taehyung tidak bisa untuk tidak mengagumi penampilannya dengan balutan wedding dress yang anggun, masih ada penyesalan kenapa bukan dirinya yang berdiri di samping Jungkook. Melihat Taehyung yang memandangi Jungkook terlalu intens, Jimin berdeham keras dengan sengaja, menyadarkan Taehyung bahwa sekarang dia tidak bisa lagi seenaknya memandangi Jungkook karena Jungkook sudah jadi istri orang. Tetapi, Jimin cukup baik hati untuk pergi mengobrol dengan Hoseok dan teman-temannya, memberikan waktu untuk Taehyung, mungkin yang terakhir.

"Terima kasih sudah datang." Jungkook tersenyum manis, Taehyung baru sadar dia merindukan senyuman itu, sangat.

"Eum."

Taehyung sempat mematung, sebelum kemudian ingat ada sebuket bunga di tangannya yang dia siapkan untuk Jungkook. Jungkook menerima bunga itu seraya tertawa kecil. "Yah, cuma kau yang datang ke pernikahan dan memberi hadiah sebuket bunga untuk pengantin. Minimin akan cemburu kalau dia lihat."

"Minimin?"

Pipi Jungkook bersemu merah. "Ah...itu panggilanku untuk Jimin."

Taehyung tersenyum tipis. "Kau masih melakukannya? Kau sama sekali tidak berubah ya."

Jungkook mengusap tengkuknya seraya tertawa, Taehyung bertanya, "Apa kau bahagia?", namun sejujurnya Taehyung bisa lihat jawabannya.

Tentu saja Jungkook mengangguk dengan yakin. "Eum."

Taehyung masih mempertahan senyumnya, sebelum sadar tangan kanannya sudah terangkat dan mengusap pipi halus Jungkook yang tertutup make up, membuat Jungkook menahan napas terkejut.

"Lupakan bagaimana aku tidak bisa memperlakukanmu dengan baik...dan semua kenangan menyedihkan, mulai sekarang kuharap hanya kebahagiaan yang menghampirimu, jangan pernah menangis lagi karena pria. Maafkan aku."

Cup

Dan Jungkook tidak tahu lagi bagaimana harus menggambarkan keterkejutannya ketika Taehyung mencium keningnya, di depan semua orang, di hari pernikahannya.

"Aku pergi."

Taehyung berbalik pergi, Jungkook menatap kepergiannya tanpa berkedepi dengan mulut terbuka, beberapa orang berbisik tentang Taehyung, tetapi tampaknya Taehyung sama sekali tidak peduli, atau malah tidak mendengar.

Sementara itu Hoseok, berdiri di samping Jimin, menyaksikan adegan barusan, menatap Taehyung tak percaya dan melirik Jimin tak enak hati. "Yah, bocah gila, bagaimana bisa dia mencium istri orang di pesta pernikahannya meskipun itu hanya di kening."

Jimin tersenyum, "Gwaenchana," tetapi Hoseok merasa senyum Jimin kali ini sedikit menyeramkan, "karena Jungkook sudah memilihku. Dia milikku."

Saat Jimin berjalan menghampiri Jungkook, Hoseok menerka-nerka drama apa lagi yang akan terjadi di hari pernikahan adiknya, tetapi dia yakin Jimin tidak akan sampai minta cerai, itu tidak lucu kan.

Jungkook tidak berani menatap Jimin di matanya, bahkan bicarapun dia tergugup. "J-Jimin, itu tadi—"

"Ara."

Jungkook terdiam. Meski ragu Jungkook mengangkat kepalanya dan menatap wajah Jimin, sedikit tidak percaya saat melihat wajahnya yang begitu tenang. "Kau tidak marah?"

"Eum."

Jungkook berkedip, dua kali. "Serius?"

Jimin menyilangkan tangan di depan dada. "Kau mau aku marah?"

"Aniyo!"

Kemudian tersenyum jahil. "Kalau begitu panggil aku Yeobo."

Jungkook kembali dibuat tertunduk, tetapi kali ini karena malu, wajahnya memerah saat Jungkook mengucapkan, "Y-yeobo," dengan terbata.

Jimin tersenyum puas, dengan tangannya dia mengangkat wajah Jungkook, sekali lagi mencium pengantinnya hari itu, tepat di bibir dengan sedikit lebih basah.

Orang-orang berseru panjang, "Ooooooohhhhh~", kompak seperti paduan suara.

Keduanya menyudahi ciuman mesra dan sama-sama tertawa, sedikit malu tetapi lebih bahagia. Jimin berdeham sebelum menunjuk buket bunga yang masih ada dalam genggaman Jungkook. "Bunganya bagus."

"Geuchyeo? Hehe."

Jungkook mengangkatnya ke hadapan wajah Jimin, seperti bocah yang ingin memanas-manasi temannya dengan mainan baru. Kemudian sadar ada sebuah kartu ucapannya diselipkan di dalamnya. "Eoh?"

Hanya ada tiga kata tertulis di sana.

To my bestfriend

Things I Couldn't Say – Tamat

Makasih buat semua yang udah review, maaf kalo ga sesuai harapan hhe

Ni bukan chaptered fic yang berepisode-episode(?), dari awal emang cuma oneshot yang dibagi dua karena kepanjangan.

Dan ini series, jadi ke depannya kalo ada songfict lagi bakal di post di buku ini getooo