Mungkin gadis itu gila. Tidak, Sasuke yakin dia gila.
Naruto © Masashi Kishimoto
a sasusaku au fanfiction by sugirusetsuna
a/n: kali ini saya pake author pov, orang ketiga serba tahu, gomen kalo sensasinya(?) beda dari chap 1 dan rada ngawur serta lawak.
maybe, i'm crazy :: i need you
.
.
.
There's a reason after all
For the fields that I have gone
Pump the blood and leave it alone
Far away take me
(M83 - I Need You)
Bukannya Sasuke tidak tahu, hanya saja pikirnya menolak untuk mau tahu. Walau nyatanya, tak jarang merah muda tersebut tertangkap oleh kelamnya dalam satu dua kedipan. Sasuke tahu ia akan selalu berada di sana, mengamati dirinya dalam diam dan buku tebal yang menutupi sebagian wajah yang terbingkai kuncir dua. Sasuke tahu merah muda yang satu ini bukanlah permen kapas yang sewaktu kecil pernah membuatnya terbatuk mual, bukan juga merah muda mencolok yang membuat matanya menyipit ketika melewati toko kue di seberang tempatnya tinggal. Namun, merah muda ini membalikkan fakta 'mengganggu' yang di benamkan dalam diri Sasuke, karena nyatanya, kehadiran sosok tersebut tanpa sadar membuat onyxnya mengerling seakan meminta untuk ditemukan.
Akan tetapi, Sasuke sama sekali tidak berpikir bahwa merah muda tersebut mengembuskan semilir cinta. Jadi, ketika gadis itu menghampirinya dengan tubuh gemetar dan keringat yang menguar, ia pikir gadis itu memang gila.
.
Sekarang, saat ini, detik ini, kala ini, Sasuke menemukan dirinya mematri sosok di hadapannya dengan pandangan datar. Sasuke menatapnya lebih dari tigapuluh tiga detik, sekedar untuk memastikan bahwa merah muda yang berdiri di sisinya ini bukanlah khayal yang sempat menjamahi otaknya, bukan pula kekeliruan lensa matanya untuk membentuk objek nyata pada retina.
Sasuke mengerjap. Gadis itu berwujud. Sasuke mengalihkan kelamnya. Ini tidak lucu.
"Hn?"
"Ayo makan siang bersama, Uchiha-san."
Makin tidak lucu.
.
Uchiha Sasuke menyembunyikan onyxnya sesaat. Ia tidak suka mengingat hal tidak penting di hari lalu, namun kali ini ia berusaha untuk mengingat sesuatu, setidaknya sepintas kepingan yang membuatnya dapat memahami arti dari kehadiran eksistensi itu, serta ajakan makan siang darinya yang sempat membuat Sasuke terpaku. Sasuke menghela, menutup mata sama sekali tidak membantu. Ia buntu, pikirnya tak kunjung menemukan jawaban atas sikap dari gadis itu.
Yang sudah tidak lucu, makin tidak lucu dan semakin tidak lucu.
"Kenapa aku harus makan siang denganmu?"
"Memangnya salah kalau sepasang kekasih makan bersama?"
"Tidak."
Kemudian, gadis musim semi itu tersenyum tipis sembari membawa tungkainya mendekati tempat Sasuke sedari tadi duduk termangu.
Helaan terdengar lagi. Manik pemuda itu kembali tertutup untuk sekedar menyesap dingin dan aroma musim semi yang membaur bersama angin.
Memang tidak ada yang salah.
Tidak ada yang salah.
Tidak ada yang salah, hingga Sasuke mendengar suara berisik dari sisinya dan ketika maniknya terbuka, pemuda itu menemukan merah muda dan kotak bekal yang terbuka serta, sumpit yang tergapit pada jemari gadis berambut sebahu itu—yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya.
Lalu, segaris senyum membingkai merah mudanya yang terkuncir dua.
Tunggu, sepertinya ada yang salah.
"Ayo makan."
Sasuke merasa pening. Ia merasa sinting.
.
Pemuda itu mengakui bahwa ia memang tak mahir dalam menghitung rumus kalor, logaritma maupun termokimia, ia juga terlalu malas untuk membaca sejarah kekaisaran negerinya dan menghapal deratan puisi kuno yang membuat matanya melayu terbawa kantuk. Nyatanya, ia tak pintar atau kasarnya terlalu malas untuk mengikuti pembelajaran. Namun, untuk yang satu ini, persoalan yang mengusiknya kini, ia yakin seyakin yakinnya tidak terlalu bodoh untuk tidak memahaminya. Tapi, mengapa Sasuke menemukan dirinya bertanya-tanya? Terperangkap dalam kebingungan yang tak seharusnya?
"Sejak kapan kita pacaran?"
"Eh? Bukannya kemarin Uchiha-san bilang akan mengingat namaku, l-lalu..."
"Lalu?"
"Uchiha-san m-me..."
"Me?"
"M-Menepuk pelan kepalaku."
"Lalu?"
"Lalu apa? Bukannya semenjak hari itu kita resmi pacaran?"
"..."
Uchiha Sasuke gagal paham.
Sasuke tahu betul bahwa semenjak gadis merah muda itu mulai mencuri pandang ke arahnya diam-diam, kemudian menghampirinya untuk mencurahkan deretan kalimat tidak masuk akal, Sasuke tahu gadis itu gila. Terlalu gila dan benar-benar gila.
Ia yang begitu kelam, dengan anyir merah yang didapati sering kali mengalir dari luka yang menghiasi, yang belum juga berganti kulit lalu terbuka lagi, yang membuat dirinya dicibir dan dimaki. Mengapa bisa dicintai? Bukannya bertemu pandang dengan dirinya saja harus dihindari? Tidakkah gadis itu mendengar perkataan teman-temannya akan sosok kelam di Sekolahan ini yang harus dijauhi?
"Dengar, kau salah paham, hubungan kita tidak seperti itu."
"Lalu, kenapa kemarin Uchiha-san berkata akan mengingat namaku sembari menepuk-nepuk kepalaku—seperti ini?"
Sasuke menemukan dirinya mematung ketika sebuah tangan lentik mendarat di atas kepalanya. Satu, dua. Sasuke menghitung. Satu, dua... ia tak menemukan tiga dan empat. Satu, dua, sial, ia merasa hangat yang menguar takkala jemari itu menepuk pelan ravennya. Satu, dua, sial, ia masih menghitung untuk kali ketiga dan keempat yang tak kunjung terasa menghampiri.
"Uchiha-san? Kenapa diam?"
Sasuke tersadar. Ia mengerjap sesaat sebelum akhirnya memusatkan kembali onyxnya pada emerald yang juga mematrinya sedari tadi.
Mengapa?
Mengapa kemarin ia melakukan hal itu?
Mengapa seorang Uchiha Sasuke bersikap layaknya sosok yang dirinya sendiri tak mengenali?
Mengapa?
Sasuke menemukan dirinya membisu dengan tanya yang mengitari.
.
.
Ada kala di mana pemuda itu menginjakkan kaki ke Sekolah dengan bercak merah dan tanah yang menghiasi seragam putihnya. Kemudian, Sasuke menemukan merah muda menghampirinya dengan ekspresi yang tak ia mengerti. Sasuke mendapati dirinya berpaling, enggan bertatap dan mendecih kesal.
Jadi, mengapa gadis itu tak berlari? Berlarilah, menjauhlah, menghilanglah! Tidakkah sosoknya membuat bulu kudukmu bergidik ngeri? Tidakkah ia layaknya monster yang pantas untuk diludahi?
Tapi mengapa?
Gadis itu malah mengulurkan tanggannya ke arah Sasuke.
"Sakit?"
"Hn."
"Mau kuobati?"
"Tak perlu."
"Tunggu, aku akan mengambil peralatan kesehatan di ruang UKS."
"Sudah kubilang tak perlu!"
Hening.
Sasuke bergeming. Helaian hitamnya yang berantakan menutupi sebagian wajahnya.
Hening.
Sasuke masih bergeming.
Kerena entah mengapa, ia merasa tak seharusnya memaki. Tanpa alasan yang jelas ia tak ingin dibenci, oleh gadis ini. Tapi, bukankah tadi ia berharap gadis itu menjauh pergi?
"Kenapa aku..."
"Heh?"
"Kenapa kau harus menyukai orang sepertiku..."
"..."
"Kau tahu aku brengsek, hampir setiap malam aku berkelahi, hidupku kelam, kau tahu itu... tapi kenapa..."
Karena seharusnya gadis itu menatap takut ke arahnya. Karena seharusnya tidak ada ruang untuk orang sepertinya. Tidak pada gadis itu atapun gadis lainnya.
"Bukannya itu keren?"
Kemudian Sasuke mendapati segaris senyum terpeta di wajahnya.
Ah, Sasuke lupa kalau gadis itu gila.
.
.
Pemuda itu mungkin tidak menyadari berapa hari yang telah terlewati dan minggu yang telah ia singgahi. Ia dan waktunya bersama gadis itu seakan merupakan bagian yang sudah seharusnya ada untuk menghiasi hari. Karena tanpa Sasuke sadari, ia terbiasa untuk melihat helaian merah muda berada di sisi kiri, tempat onyxnya biasa mencari.
Sasuke tidak lagi mendapati dirinya terkurung dalam tanya. Ia telah menemukan jawaban untuk setiap resah dan rasa yang dulu sempat mengusiknya.
Karena kini ia telah mengetahui, lebih dari apapun ia pahami, arti dari gejolak yang entah sejak kapan mulai menghantui, kala sang malam menguar menutupi dan sang pagi dengan mentari yang mulai merayap tinggi, lalu ia akan mendapati dirinya kembali mencari.
Ini gila, betapa Sasuke membutuhkan sosok itu untuk hanya sekedar mematri. Karena ia menyadari, kekosongan di dalam ruang hatinya mulai terisi. Karena lebih daripada siapapun, ia membutuhkan gadis itu untuk berada di sisi.
"Sasuke, siapa gadis yang berdiri di depan gerbang Sekolah dan tersenyum ke arahmu itu?"
"Dia adalah..."
.
"Uchiha-san!" gadis bersurai merah muda itu tersenyum cerah ketika mendapati pemuda yang dikenalnya menghampiri koordinat tempat dirinya sedari tadi berdiri, menunggu kedatangan pemuda bersurai kelam tersebut.
'Pulang bersama.' Gadis itu mengingat dengan jelas betapa debaran di jantungnya yang tak menentu dan panas yang mengitari tubuhnya ketika mendengar pemuda tersebut mengucapkan deretan kata yang selama ini ia harap mengalun mencapai inderanya.
Karena ini merupakan kali pertama.
"Maaf, sudah membuatmu menunggu."
"Tidak, aku juga baru saja selesai piket," Gadis itu menggeleng pelan, masih dengan senyum yang terpeta di sana.
"Ayo kita pulang, Uchi—"
"Sasuke... panggil saja aku Sasuke, Sakura."
Kemudian pemuda itu menggenggam jemari gadis di hadapannya dan memasukannya ke dalam saku jaketnya.
Dan Sakura merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia.
.
.
Awalnya, semua memang terasa absurd. Sakura mendapati dirinya jatuh cinta pada orang gila kemudian, Sasuke yang dicintai oleh sosok gila berakhir dengan mendapati dirinya mencinta dengan begitu gila.
Karena mereka tidak butuh cinta yang biasa-biasa saja.
.
.
.
"Sasuke, siapa gadis yang berdiri di depan gerbang Sekolah dan tersenyum ke arahmu itu?"
"Dia adalah..." Sasuke tersenyum angkuh.
"...gadisku."
Karena yang namanya cinta, kalau tidak gila mana seru.
.
.
.
*The End*
Dan yeeeeeey selesai dengan kegajeannya XD
Makasih buat yang udah baca di chap sebelumnya, Mia Rinuza, Minako Sakuraba, Motoharunana, Hadni, NurulKNLoversSasuSaku, saya cinta kalian(?) /apaan
Mungkin di chap 1 banyak yang ga ngerti ya? Maklum yang bikin kan rada-rada gila dan semoga chap 2 ini cukup jelas dan ga terlalu berbelit serta alay(?) /gayakin
Akhir kata, selamat ya buat yang udah selesai UN, semoga hasilnya memuaskan :D
Oh ya, daripada manggil nama saya pake penname yang ribet itu, cukup panggil saya Hana aja ya /wink
RnR jika berkenan~
Pontianak, 17 April 2014.
