Chapter 1

Jongin's POV

Aku berjalan sepanjang lorong WSU kembali ke ruangan audio visual. Rutinitas yang selalu kulakukan setiap hari selain bersama Sehun.

Sehun dan aku.

Dua anak manusia yang sangat berbeda, dia yang berandalan, aku yang polos. Tapi apa boleh buat kalau tentang hati, semua menjadi berubahkan. Sebagai pacarnya aku senang menjelaskan dia seperti apa, Oh Sehun yang penuh tattoo di sepanjang lengan tangannya, dan tindikan di bibir, membuat dirinya lebih seksi dari pada lelaki lain. Rahangnya yang mengatup kuat, wajahnya yang datar, oh pikiranku penuh dengan Sehun. Hubungan kami selayaknya manusia berpacaran saja, dia memelukku saat aku kedinginan, selalu bersamaku. Setidaknya meluangkan waktunya untuk tinggal di flatku. Kami sebenarnya tidak tinggal bersama. Rumahku ada di Los Angeles dan dia berada di New York. Tapi, kenapa dia tidak kuliah di sana padahal NYU juga kampus yang baik. Ia tidak pernah bercerita tentang itu. Sehun adalah seorang brengsek yang berlakuan baik. Hey, don't judge a book by its cover. Kalian pasti sering mengenal pepatah itu bukan, Sehun bukan orang jahat yang orang – orang pikir karena tampang Sehun yang seperti itu. Dia baik. Dan kalian tau selama kami pacaran Sehun belum pernah menyentuhku. Dalam kata lain, aku masih virgin. Ups…

"Kau sedang memikirkanku, sayang." Desau angin di tengkuk leherku. Aku tahu suara berat itu yang membuatku ingin terbang melayang.

Aku tertawa melihat dirinya, di belakangku. "Mengapa kau di sini, bukannya kelasmu masih satu jam lagi?" dia tersenyum hangat padaku.

"Aku bosan berada di sana. Kurasa aku akan pindah jurusan yang sama denganmu. Lagipula aku tak bisa jauh – jauh dari mu." katanya, sambil mencolek hidungku.

Aku menggigit bibirku sekilas. "Jangan menggodaku, Jongin." Kecupnya seduktif.

"Romeo & Juliet lagi," ia mendengus bosan melihat materi sastra ku hari ini. "—aku sudah membacanya beratus – ratus kali, dan aku menyesal dengan cerita itu."

"Cinta sehidup semati, heh?" katanya dengan enteng.

"Apa salahnya dengan itu? Cinta itu butuh pengorbanan, Hun. Hingga nyawa pun menjadi taruhanya. Bagaimana kalau aku yang berada di situasi yang seperti itu, apa kau tetap menutup jiwamu untuk menolongku."

"Stop untuk terlalu melankolis, Jongin." Sehun mendengus sebal.

Ya, coba kalian pikirkan saja, apa salahnya Shakespeare menulis buku seperti itu. Memang buku itu tidak terlalu masuk akal. Tapi setidaknya kita mengambil positifnya saja. Bahwa cinta itu butuh pengorbanan.

Apanya yang melankolis? Aku hanya beropini tentang ketidaksetujuannya tentang cerita itu. Tapi ia menanggapinya seperti itu. Oh Sehun tidak ada peka – pekanya sama sekali.

Ia tersenyum melirikku sebentar, lalu tersenyum. Oh Tuhan, aku kan sedang kesal dengannya, tapi kenapa dia berlaku seperti itu. Persetan, dengan Oh Sehun.

"Apa kau sebegitu kesalnya denganku, Jongin?" katanya memajukan wajahnya kepadaku, sehingga aku bisa merasakan deru nafasnya. Oh untungnya dosenku berada jauh, jadi ia tak mungkin melihat keberadaanku yang seperti ini. Lagipula aku mengambil tempat duduk yang berada di sudut. Ruangan audio visual di WSU lumayan besar jadi dosen tidak begitu aware dengan apa yang terjadi pada mahasiswanya.

"Stop, Sehun." Mendorongnya lalu merapikan diriku. "30 detik lagi jam kuliahmu akan selesai, Jongin." Degup jantungku tidak karuan, aku bisa merasakan aliran darahku yang melambat. Desiran yang ia berika membuat diriku ingin dan ingin lagi. Sehun mencium beberapa saat sebelum bel.

Mahasiswa yang lain keluar. Aku merapikan barang untuk bersiap, mahasiswa lain sudah berhamburan keluar, mungkin mereka sibuk.

"Ayo, Hun." Aku berdiri bersiap meninggalkan ruangan. Sehun menarikku hingga duduk kembali, oh kata lainnya adalah Sehun membantingku duduk kembali. Di tempat ini hanya tinggal kami berdua.

Sehun mendekatkan wajahnya ke arahku, aku bisa mendengar desau tarikan napasnya yang berada di tengkukku. Mendengarkan dan merasakan deru napasnya membuatku geli. Sehun menciumku dengan dalam, dan makin memperdalam ciumannya. Aku hanya diam merasakan ciuman dalamnya, lalu ia tanpa ragu menggigit bibirku menggodaku untuk membuka mulut. Ia masuk ke dalam dinding – dinding mulutku. Rasanya geli, tapi aku menyukai cara ia memperlakukanku. Tanganku menjalar dengan liarnya menjambak rambut Sehun, layaknya aku akan terbang ke langit ke tujuh. Aku mendesah merasakan cumbuan yang dibuatnya semakin dalam. Oh Sehun, kau membuatku gila. Oh ya, Tuhan. Persetan dengan ciuman itu, aku ingin lebih. Tapi aku masih takut.

"Jongin kau membuatku gila," katanya dengan nada rendah dan suara serak basahnya.

Aku menatapnya dengan sayu, kehabisan napas karena ciumannya yang brutal itu. "Se-sehun…."

"Ayo, kita pulang, Jongin." Ajaknya menggandeng tanganku. Wajahnya terlihat biasa seperti tidak melakukankan apa – apa. Apa iamelupakan ciuman tadi? Padahal kami sering melakukan ciuman itu.

"Sehun, kau kena—"

"Diam Jongin, aku ingin pulang sekarang, kan kau tadi meminta untuk pulang." Bentaknya. Aku mengbungkam, merasakan genggaman tangannya yang sangat kuat.

Ini seperti bukan Sehun, ia kenapa memperlakukan seperti itu tadi? Seperti tidak terjadi apa – apa kepada kami. Ia kenapa? Aku bertanya dengan otakku sendiri. Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Ia tidak seperti Sehun, pacarku. Ia membentakku. Bukannya Sehun tidak pernah membentakku, ia pernah. Tapi tidak seperti tadi, ia sangat menakutkan tadi. Sehun kau kenapa?

"Jongin, ayo naik. Aku sudah lelah ingin pulang." Wajahnya terlihat sendu, matanya yang gelap semakin menggelap. Biasanya Sehun saat bersamaku matanya itu selalu menaruhkan keterangan, maka dari itu aku suka melihat Sehun menatapku tajam. Tapi tidak dengan sekarang, ia terlihat sendu.

Ia mengantarku ke flat. Sehun seperti biasa saat mengendarai motornya, ugal – ugalan. Seperti berpacu dengan angin. Aku mengeratkan pelukanku kepadanya.

Sampai di flatku, ia mendahuluiku masuk ke kamarku, ia terlihat marah. Tapi aku taka tau penyebab dirinya seperti itu. selama aku bersamanya ia memang sangat sulit di tebak. Lalu membaringkan dirinya di kamarku. Aku menyiapkan diri untuk membersihkan ruangan, menyiapkan makanan, lalu mandi. Aku membersihkan ruangan yang penuh dengan kertas – kertas, aku menulis makalah untuk tugas dari dosenku. Dan sudah beberapa kali ku refisi, karena katanya makalahku masih kurang. Menjadi sastrawan itu harus memakai kata – kata atau kalimat yang baku. Katanya. Persetan dengan dosenku. Menyiapkan makanan untuk makan malam, kurasa Sehun lelah, karena mata kuliahnya yang sedikit bagaimana gituh… kuharap Sehun bangun lalu memakan masakanku

Aku menyiapakan diriku untuk mandi. Membawa handuk. Lalu menyiram diriku di bawah guyuran shower, sambil memikirkan Oh Sehun. Pikiranku tak bisa jauh – jauh dengannya, layaknya aku tergila – gila dengannya. Ciuman dari bibirnya, masih terasa dibibirku. Rasanya beda dari ciuman – ciuman sebelumnya. Aku tak pernah ciuman sedalam itu. Aku masih bisa merasakan deru nafasnya yang berat itu dan desahanku yang keluar saat kami berciuman panas. Ku harap tak ada yang melihat ciuman kami saat itu. Aku ingin sentuhan Sehun yang seperti itu lagi.

Aku pergi ke kamar untuk melihat Sehun, setidaknya mengetahuinya sudah bangun atau belum.

Wajahnya yang sangat polos saat ia tidur, seperti anak kecil. Aku suka menatapnya dalam tidur. Aku mengelus poni rambutnya yang berwarna blonde. Lalu menyentuhnya menuruni alisnyanya, bulu matanya yang begitu lentik, hidungnya, ke pipinya yang tirus dengan rahang yang mengatup kuat. Lalu tempat yang selalu ingin kusentuh, bibirnya yang sangat tipis. Aku menyusuri tulang pipinya, lalu—"Sudah puas menyentuhku, Kim Jongin?" Mataku membulat menatapnya, ini di luar ekspetasiku. Ku kira ia tak akan bangun.

Sekarang ia berada di atasku, mengunci pergerakan tubuhku. Matanya yang menatapku dengan tajam, rahangnya mengatup kuat. "Kim Jongin sekali lagi kukatakan, sudah puas menyentuhku?" tanyanya seduktif, di dekat telingaku. Aku bisa merasakan deru nafas dinginya.

"Jawab Jongin." Ia menciumku dengan mulutnya lagi. Sehun bodoh,bagaimana aku bisa menjawabnya. "Se-Sehun." Ia menciumku kasar, aku menatap mata kelamnya.

"Kau ingin menggodaku, dengan desahanmu, Hm?" aku menggelang, kenapa dengan Sehun. Ia membuatku takut. Ia masih menciumku, dirinya seperti ingin melahapku dengan bulat – bulat. Aku mendorong bahu bidangnya. Aku bingung dengan jalan pikiran Sehun sekarang.

"Sehun, please." Aku memohon kepadanya.

Sehun menatapku tanpa arti. "Sehun," panggilku tersenyum kepadanya. Menganggap tidak terjadi apa – apa denganku.

Ia membenarkan dirinya lalu duduk di pinggir kasurku. "Sehun, aku tidak apa – apa."

"Jongin apa yang kau bilang? Kau mengatakan tidak apa – apa, aku hamper kelewatan, Jongin, kalau kau tak memanggilku tadi." ia menjambak rambutnya frustasi, mengerang kuat. Ia terlihat bingung. "Jongin, maafkan aku."

"Shhh… aku tidak apa – apa. Apa yang kau takutkan." Aku menatapnya dengan senyum. Wajahnya terlihat frustasi.

Aku memeluknya menenggelamkan kepalaku ke dadanya yang bidang. Aku tersenyum mendengarkan detak jantungnya yang berdegup keras, aku tersenyum tanpa di ketahui olehnya.

Baekhyun's POV

Chanyeol tidak pulang ke rumah hari ini, mungkin dia sibuk. Tapitidak biasanya ia tidak pulang tanpa sepengetahuanku. Aku sudah menghubunginya tapi teleponya tidak diangkat olehnya. Dia kenapa…

"Baekhyun," panggil seseorang dari belakang. Aku menoleh, mendapati Dylan melambaikan tangannya. Aku tersenyum kepadanya.

"Tidak bersama Chanyeol hari ini?" aku menggeleng sendu, memikirkan Chanyeol yang hilang satu hari tanpa kabar.

"Ayo, ke kantin, kuharap kau lapar." Aku tersenyum membalasnya. Lalu ia menggandengku ke sana. Di WSU banyak mahasiswa pertukaran, tapi tidak dengan aku. Aku mempunyai impian untuk kuliah di sini. Tidak seperti yang kalian pikirkan, di WSU mereka sangat ramah dengan satu sama mahasiswa, meski banyak juga yang berkelakuan berkuasa di tempat ini. Tapi kurasa seharusnya menjadi mahasiswa mereka tidak seharunya memikirkan ke populeran atau apalah itu. Di sini menjadi indivilis wajar, karena WSU kampus terkenal di seluruh dunia, bukan? Mereka harus mengejar tugas – tugas yang begitu menumpuk untuk dikerjakan, dosen yang kadang menyebalkan karena menyuruh kita untuk mengulang perkerjaan dua tiga kali untuk membuat makalah, di setiap bab. Tapi apa boleh buat, kalian harus menanggung sendiri. Kalau tugas tidak dikerjakan siap – siap menjadi mahasiswa abadi di sini.

Dylan menceritakan banyak pengalamanya saat ia naik gunung bulan kemarin, kami sering menjadimenjauh karena sibuk dengan kuliah. Ia menaiki gunung Bromo yang berada di Indonesia. Ia menceritakan kawahnya yang bisa memasak telur rebus. Meski ia tak sampai ke puncak, karena erupsi gunung Bromo yang semakin lama semakin parah. Lalu ia menceritakan orang – orang Indonesia yang sangat ramah – ramah. Dan katanya saat menaikki gunung tersebut, jalannya sangat terjal, jadi ia sering terjatuh. Jangan ditanya Dylan itu anak gunung, ia selalu naik gunung jika ada waktu kosong. Boro – boro Chanyeol mengajakku naik gunung, paling – paling ia mengajakku menonton balapan liarnya. Jadi keinget Chanyeol yang paling – paling sibuk.

Selesai makan Dylan masih harus mengejar mata kuliahnya yang kurang sebulan lalu, karena ia naik gunung Bromo. Lalu ia memelukku sekilas, setelah itu pergi untuk belajar.

Dari kejauhan di luar kantin aku melihat seseorang yang tinggi, menatap kearahku tajam, aku yakin itu Chayeol, karena bibirnya yang ada tindikan. Ia menatapku tajam, aku bisa merasakan ia mengatup rahangnya kuat. Seperti sedang menahan amarah. Chanyeol berjalan ke arahku dengan cepat seperti melayang. "Baru kutinggal sehari, kau sudah mulai main di belakangku, Baekhyun." Bisiknya di telingaku, aku bisa mendengar deru napasnya yang seperti menahan amarahnya kepadaku.

"Kami hanya mengobrol."

"Sudah cukup, Baek. Aku melihatnya sendiri."

"Apa kau bilang Chanyeol, kami tidak melakukan apa – apa."kataku menjelaskan.

"Apa yang kau bilang tak melakukan apa – apa, kau memeluknya, dank au bilang tidak apa – apa? Kau bermain di belakangku, Baekhyun." Singgungnya. Aku tak tau kalau hari ini Chanyeol akan pulang.

"Aku tak bermain di belakangmu, kami hanya berteman." Sergahku.

"Omong kosong, Baekhyun."apa yang dia bilang, omong kosong. Persetan dengan kejadian tadi. Aku ingin mati, karena berurusan dengan ini.

"Ayo, kita pulang."

Begitulah dia, selalu berpikiran negative saat aku bersama dengan orang lain. Apa dia saja yang boleh dekat dengan orang lain? Persetan dengan Park Chanyeol.

Chanyeol mengendarai mobilnya dengan cepat, lalu membawaku pulang ke rumah kami. Selama ini kami sudah memiliki rumah sendiri, untuk berdua. Orang tuaku sudah meninggal, jadi aku hidup dengan bibiku. Bibiku selalu menyayangiku, ia yang selalu menghidupi kebutuhanku. Suaminya kerja serabutan, lalu ia pergi tanpa kabar meninggalkan bibiku dengan anaknya. Suami yang tidak bertanggung jawab.

"Jelaskan Baekhyun tentang kejadian itu, sekarang!" pintanya dengan wajahnya yang mengatup kuat.

Aku tak suka dengan Chanyeol yang sedang marah, ia bisa menghancurkan sesuatu jika ia mau.

"Kan, sudah kukatakan, lagipula kau kan tau kalau aku dengan Dylan berteman."

"Tapi tidak seharusnya kau berpelukan dengan pria brengsek seperti itu." ucapnya marah.

Apa yang ia katakana tadi, brengsek. Chanyeol bisa – bisanya berbicara seperti itu. Dirinya lebih brengsek dari pada pria lain di dunia ini. Dia itu sangat brengsek. "kau mengatakan kalau ia brengsek. Padahal kau lebih brengsek, Chan. Dari mana saja kau. Pergi tidak mengatakan penjelasan apa – apa. Lalu hilang selama satu hari. Kau kira aku tak khawatir. Aku menghubungimu tapi kau tak menjawab teleponmu, kau pergi ke mana? Wajar saja kalau Dylan memelukku. Ia hanya memberiku kekuatan untuk tegar, tapi kau pergi keluyuran tanpa kabar, saat pacarmu mencarimu. Aku lelah, Chan." Kataku panjang lebar, meredam isakkan tangisku.

Ia merengkuh tubuhku, lalu mengusap air mataku dengan jarinya. "Maafkan aku."

"Jangan tinggalkan aku sendirian lagi. Aku takut."

Ia tersenyum melihat wajah sendu saat menangis. "Aku menyukaimu saat menangis." Aku mencubit perutnya dengan keras, lalu ia mengerang kesakitan.

TBC:) Reviews 20++