GYU

Cast:

Kim Mingyu

Jeon Wonwoo

Wonwoo tahu bahwa ada yang salah dengan dirinya, bagaimana siang hari ini ia berdiri di tepi jalan hanya untuk bertemu pemuda itu. Mereka bahkan sudah jadi teman pinggir jalan, lucu bukan? . Bagaimana Wonwoo akan menunggu di tepi jalan, dan Mingyu yang sore hari menunggu di halte hanya untuk melihat Wonwoo yang pulang dari cafe tempat kerjanya.

Mereka hanya saling memandang di jalan itu, atau menyebrang bersama sambil bergandengan tangan, tak banyak percakapan karna Mingyu sangat pendiam dan Wonwoo yang menikmati moment kedekatan mereka dalam diam.

Mingyu bergantung pada Wonwoo, pemuda itu ingin Wonwoo menggenggam tangannya, menuntunya menyebrangi jalan hanya dengan alasan ke mini market untuk membeli coklat, dan meminta Wonwoo menemaninya di halte hingga jemputannya datang.

Dan Wonwoo ingin membantu Mingyu, menggengam tangan hangat Mingyu, menikmati coklat yang Mingyu beli dalam diam. Tidak sepenuhnya diam, karena sesekali Wonwoo pasti mengajukan pertanyaan basa-basi hanya untuk membuat Mingyu menoleh menatapnya dan tersenyum, Wonwoo jatuh pada senyum Mingyu.

~oo~

Wonwoo pulang dari Cafe Jun pukul sembilan malam, karna ini hari libur. Setiap hari libur Wonwoo kerja full time. Ini yang tidak Wonwoo suka. Jika seperti ini Wonwoo tak punya banyak waktu untuk bersama Mingyu.

Wonwoo tersenyum saat ia lihat Mingyu sedang duduk di halte, terlihat bosan karna pemuda itu sedang mengayun-ayunkan kakinya. Seperti biasa, jika Wonwoo pulang malam pasti Mingyu akan menunggunya dengan supirnya itu.

"Mingyu... "Panggil Wonwoo, dan Mingyu terlihat menunduk malu. Wonwoo menyadari sikap aneh Mingyu ini, Mingyu sangat pemalu. Tapi Wonwoo tak mempermasalahkannya karna ini yang membuatnya nyaman bersama Mingyu.

Mingyu berlari kecil menghampiri Wonwoo, menyodorkan kantung plastik putih itu, ya coklat. Sudah satu bulan ini hari-hari Wonwoo penuh coklat.

"Tuan... "Si supir memanggil Mingyu, membuat pemuda itu menunduk lesu.

"Hati-hati Mingyu, sampai jumpa besok... "Ucap Wonwol tersenyum manis.

"Dadah Bidadari... "

Selalu ada letupan-letupan menyenangkan saat Mingyu memanggilnya seperti itu, Wonwoo tak tahu apa alasan Mingyu memanggilnya bidadari walaupun ia sudah memberi tahu Mingyu nama aslinya, tapi pemuda itu tetap saja memanggilnya Bidadari, dan Wonwoo membiarkannya.

Hari minggu, saatnya ia kerja full time. Selama bekerja Wonwoo sebisa mungkin untuk tidak berdekatan dengan Dino, sebenarnya Wonwoo ingin bersikap biasa saja, tapi pasti ada kecanggungan saat Wonwoo bersama Dino. Berpapasanpun rasanya tak nyaman.

Cafe sudah ditutup, dan dengan berat hati Wonwoo ditugaskan menutup Cafe bersama Dino dan Seungkwan.

"Dino, Seokmin menunggumu... "Teriak Seungkwan membuat Wonwoo bergerak tak nyaman.

"Biar aku yang merapihkan dapur " Sentak Wonwoo saat Seungkwan hendak memasuki dapur.

"Baiklah, aku cek listrik dulu bersama Dino, kau yang tutup Cafe ya.. "Ucap Seungkwan melemparkan kunci pada Wonwoo.

Pemuda manis itu langsung memasuki dapur, sebisa mungkin ia harus menghindari Seokmin.

'Ceklek

"Nu... "

Wonwoo sibuk menata piring kedalam lemari, bertingkah seolah tak ada sosok lain yang bersamanya.

"Tolong lihat aku... "

"Aku sibuk Seokmin... "

"Aku akan bertunangan dengan Dino... "Ucap Seokmin.

'Deg

Wonwoo terdiam, ada denyutan sakit di dadanya, namun Wonwoo tak mau lemah. Si manis bersurai hitam itu membalik tubuhnya menatap Seokmin dengan senyum menawannya.

"Sebaiknya kau keluar, pasti Dino sudah selesai dan menunggumu di luar... "Jawab Wonwoo, lalu pemuda itu mengambil coatnya dan kunci yang Seungkwan berikan. Seokmin yang merasa di abaikan menghembuskan nafasnya pasrah.

"Oh ya, pastikan kau mengundangku, akan aku usahakan untuk datang ke acara pertunanganmu "

Wonwoo langsung keluar, dan benar saja Dino sudah menunggu di depan, Seokmin pun segera menyusul keluar.

"Ku dengar kau akan bertunagan... "Ucap Wonwoo sambil mengunci pintu.

"Ya, kau harus datang oke "Ucap Dino semangat, ada nada sinis yang terdengar.

"Akan aku usahakan, karna aku ingin melihat cincin pertunangan kalian, Zirconium, dengan mata saffir biru, dan gabungan DNA kalian? "

"Bagaimana kau- "

"Kau mewujudkannya Dino, ah... aku harus pergi, bye " Memainkan kunci di tangannya pemuda manis itu tersenyum miring. Hanya sebentar karena kini binar kekecewaan terlukis di mata indahnya.

Seokmin itu mantan kekasihnya dulu saat ia masih di Changwon, mereka sudah menjalin hubungan sejak menengah pertama, bahkan Wonwoo melanjutkan studinya ke Seoul untuk mengejar Seokmin yang saat itu kembali ke kampung halamannya. Banyak kenangan yang mereka ukir, mimpi-mimpi yang ingin mereka wujudkan. Pertunangan, Cincin dengan bahan Zirconium dan gabungan DNA mereka. Itu mimpi yang Seokmin ucapkan jika suatu saat Seokmin melamar Wonwoo.

Namun semuanya berubah saat Seokmin bertemu Dino, apalagi ayah keduanya menjalin hubungan bisnis. Seokmin dijodohkan dengan Dino, Dino tak tahu siapa Wonwoo bagi Seokmin, Wonwoo tak pernah memberi tahunya untuk menjaga perasaan pemuda manis itu. Walaupun Seokmin selalu bilang bahwa ia akan selalu mencintainya dan bersama Dino hanya karna perjodohan, tapi Wonwoo yakin bahwa Dino juga ada di hati Seokmin. Dan hubungan merekapun berakhir tiga bulan lalu.

~oo~

Wonwoo mengangkat sudut bibirnya saat ia lihat pemuda abu-abu dalam balutan sweeter putih musim dinginnya itu terlihat duduk bosan di halte yang sudah mulai sepi itu, Wonwoo tak memanggil Mingyu, pemuda manis dalam balutan coat hangatnya itu langsung melangkah mendekati Mingyu dan duduk di sebelah pemuda itu.

"Wonu... "

"Kau memanggilku Wonu? Mana panggilan Bidadari itu? "Rajuk Wonwoo, perasaan berkecamuk di hatinya perlahan menguap saat ia mencium aroma cologne dari tubuh Mingyu, seperti bayi. Reflek kepalanya bersandar pada bahu lebar Mingyu. Pemuda manis itu tersenyum saat ia mendengar detak jantung Mingyu yang berdebar.

"Mama bilang tak baik memanggil orang dengan nama lain... "

Wonwoo mengerenyit, sifat Mingyu sangat polos. Menurut Wonwoo orang tua Mingyu sangat memanjakannya sehingga Mingyu sangat kekanak-kanakan.

"Mingyu tatap aku... " Wonwoo merubah posisinya, tangan halusnya menyentuh pipi Mingyu, membawa pemuda itu agar menatapnya.

Lagi, Wonwoo merasakan debaran menyenagkan itu di dalam dadanya, bahkan perasaan kalutnya hilang entah kemana. Dan kini Wonwoo yakin bahwa bukan hanya mata itu, tapi Wonwoo jatuh pada sosok Mingyu.

"Apa dadamu juga berdebar Mingyu? "

Mingyu mengangguk.

"Pipiku terasa panas... "

"Apa kau suka padaku? "

Rona merah muda itu berubah jadi merah padam, pipi Mingyu benar-benar seperti saus tomat.

"Wonu bicara apa? Mingyu malu... "

'Grep

"Jadilah pacarku Gyu... "Wonwoo menarik Mingyu ke dalam pelukannya, Wonwoo tak perduli dengan keberadaan supir Mingyu.

"Pacar? Gyu? Wonu pacar Gyu? "Pertanyaan polos itu, Wonwoo melepaskan pelukannya memandang Mingyu bingung, ada yang aneh dengan Mingyu, tapi Wonwoo tak perduli. Ia sudah jatuh untuk Mingyu.

"Ya, Gyu tak mau? "

"Apa itu artinya nanti Gyu bisa menikah dengan Wonu? Jadi Mama dan Papa? "Lagi, rasa aneh itu membuat Wonwoo bingung, Wonwoo yakin ada yang salah dengan Mingyu. Ada yang tidak Wonwoo ketahui, dan Wonwoo akan mencaritahunya. Namun Wonwoo tersenyum dan mengangguk yakin.

"Ya... "

~000~

Wonwoo pulang siang hari karna tadi ia hanya ada kuliah pagi, pemuda itu tak berangkat ke cafe milik Jun karna ia memilih masuk sore, siang ini ia harus bertemu Mingyu setelah hari jadi mereka tadi malam.

Wonwoo menunggu di halte, karena sepertinya Mingyu belum pulang. Wonwoo tak tahu Mingyu sekolah dimana karna di daerah sini ada empat sekolahan, dan Wonwoo tak paham dengan identitas seragam mereka.

Sebuah mobil sedan hitam berhenti di hadapan Wonwoo, kaca mobil itu terbuka dan sosok Mingyu tersenyum padanya sambil melambaikan tangan.

Tiba-tiba supir Mingyu turun dan menghampiri Wonwoo.

"Bisa anda ikut kami? "

"Ya? Kemana? "Tanya Wonwoo bingung

"Nyonya ingin bertemu anda.. "

"Nyonya? "

"Ibu tuan Mingyu.. "

'Glup

Pasrah, Wonwoo menurut saja saat supir Mingyu membukakan pintu. Dengan keadaan bingung pemuda manis itu memasuki mobil dan duduk di belakang di samping Mingyu.

Pikiran Wonwoo campur aduk, jangan-jangan Mingyu anak konglomerat dan Ibunya tak suka dan akan menyuruhnya untuk menjauhi anaknya.

Ya Tuhan, Wonwoo tak siap jika itu yang benar terjadi.

"Wonu, sini, seperti semalam di sini... "Ucap Mingyu sambil menunjuk bahunya. Wonwoo menghentikan gerakan gugupnya yang sedang meremas tangannya. Pemuda manis itu mengerti apa maksud Mingyu, dengan senyum manisnya Wonwoo merebahkan kepalanya di bahu Mingyu. Dan entah mengapa perasaannya kini jauh lebih tenang.

.

.

.

.

Wonwoo menelan salivanya berkali-kali saat memasuki rumah yang lebih pantas disebut mansion ini.

Wonwoo sudah pasrah jika benar ia akan menerima amukan Ibu Mingyu. Tapi, bukan berarti ia akan menyerah begitu saja. Wonwoo sudah yakin bahwa ia jatuh cinta pada Mingyu, kalaupun masalah derajat yang dipermasalahkan Wonwoo siap karna ia juga datang dari kalangan berada di Changwon.

"Silahkan duduk, saya akan panggilkan Nyonya " Seorang pelayan wanita menghampirinya.

Walau kursi ini nyaman, tapi entah kenapa ini terasa seperti busa tebal yang siap menenggelamkannya. Di sampingnya Mingyu duduk menemaninya, tangan hangat pemuda itu bahkan menggengam jemari Wonwoo erat.

"Mingyu cerita pada Mamah yang semalam, Wonu peluk Gyu, Wonu bersandar di sini dan Wonu pacar Gyu "

Wonwoo tersenyum yang malah mirip seperti sebuah ringisan.

Pelayan wanita itu datang bersama wanita lainnya, wanita setengah baya dengan dress Khaki santainya itu duduk di sofa tepat di hadapan Wonwoo dan Mingyu, setelahnya pelayan wanita berpakaian maid itu meninggalkan mereka bertiga.

Wanita itu terus memandangi Wonwoo dan Mingyu bergantian, masih terlihat cantik, Wonwoo menafsir bahwa wanita ini seumuran dengan ibunya dan yang pasti beliau Ibu Mingyu.

Wonwoo menunduk bingung, sedangkan Mingyu mengeratkan genggamannya, pemuda itu terlihat tersenyum semangat menatap wanita di hadapannya.

"Kau Jeon Wonwoo? Bidadari yang Mingyu ceritakan? " Wanita itu buka suara.

"Ah i-itu a-anu Bidada- em Ya saya Jeon Wonwoo Nyonya "Gugup Wonwoo, jelas saja Wonwoo sangat gugup dan apa-apan itu Bidadari? .

"Apa benar kalian sedang berkencan? Atau Mingyu mengarang cerita? "Tatapan wanita itu beralih menatap Mingyu yang merengut tak suka.

"Tidak bohong! Wonu pacar Gyu! " Protes Mingyu tak suka membuat Ibunya itu terkekeh.

"Kim Min Yoong, Ibu Mingyu "

"Jeon Wonwoo, senang bertemu anda nyonya... "Ucap Wonwoo ramah, Min Yoong tidak seperti perkiraannya.

"Apa benar kau menjalin hubungan dengan anakku? "Tanya Min Yoong.

"Ya, baru tadi malam, tapi kami sudah saling mengenal selama satu bulan ini " Jawab Wonwoo.

"Apa kau serius? Kau tak bermain-main dengan anakku kan? Jika hanya untuk main-main sebaiknya akhiri saja "Jawab Min Yoong, nada suaranya berubah serius. Wonwoo terdiam, kenapa pembicaraan ini serius sekali? Bahkan mereka baru menjalin hubungan tadi malam, belum ada 24 jam!

"Tentu saya serius nyonya, sebulan ini mengenalnya, saya yakin bahwa hati saya jatuh untuk putra anda "Jawab Wonwoo yakin, ada perasaan konyol saat kalimat puitis itu keluar dari mulutnya, tapi Wonwoo serius!

"Apa kau tak menyadarinya? "

'Deg

Wonwoo terdiam, Wonwoo tak tahu arah pembicaraan Min Yoong, tapi nada dengan sorot kesedihan itu membuat Wonwoo terdiam.

Menyadari? Menyadari apa? Sifat Mingyu? Apa sesuatu yang salah tentang Mingyu itu memang benar adanya?

"Retardasi mental, keterbelakangan mental. My Son is retarded "

'Deg

Roh Wonwoo terasa dilempar entah kemana, Wonwoo merasa dirinya hilang, bahkan ia merasa jantungnya jatuh ke perutnya.

Menyebrang, Coklat, pendiam, pemalu, rona merah diwajahnya, kaki yang diayunkan.

Mingyu bingung, pemuda itu tak mengerti apa yang dibicarakan Ibunya dan Wonwoo. Tapi Mingyu merasakan kesedihan di manik mata ibunya, dan Wonwoo yang hanya terdiam. Mingyu tak tahu, tapi otaknya menyuruhnya untuk mengusap punggung tangan Wonwoo dengan ibu jarinya.

"Silahkan pergi, pelayan Kim akan mengantar- "

"Tidak! Izinkan saya menjalin hubungan dengan putra anda. Izinkan saya menjadi kekasih putra anda "

"Jangan bicara seperti itu, walaupun Mingyu tak tahu apa itu Cinta tapi ia tetap memiliki perasaan. Jangan buat Mingyu semakin bergantung padamu. Jangan sakiti anakku! "

"Tidak nyonya, aku serius. Aku tak perduli! A-aku ingin menemani hidup Mingyu "

"Anak muda to- "

"Jangan! Mama jangan memarahi Bidadari! " Tubuh Mingyu bergetar, pemuda itu bahkan mencengkram lengan Wonwoo erat.

"Mingyu ma- "

"Tidak! Jangan! Jangan marahi bidadari! Mingyu sayang bidadari "

Min Yoong terdiam, wanita itu memandang sendu saat ia lihat Wonwoo mengusap surai abu-abu putranya, membuat putranya itu menjadi lebih tenang. Lalu sebuah senyum tipis terukir di bibir wanita itu.

"Aku rasa aku bisa mempercayaimu, kumohon jangan sakiti putraku "

"Hukum aku jika aku menyakiti putramu... "

~000~

Wonwoo tak tahu kenapa ia bisa melangakah sejauh dan segila ini, sudah dua bulan ia menjalin hubungan dengan Mingyu. Wonwoo sering memikirkan setiap ucapannya, ia berjanji pada Kim Min Yoong agar tak menyakiti putranya. Mingyu benar-benar bergantung padanya, pemuda itu tak mau lepas dariWonwoo , bahkan sesekali Wonwoo menginap di mansion milik keluarga Kim karena Mingyu mengamuk jika Wonwoo pulang. Sesekali Wonwoo melihat Mingyu mengamuk dan menangis, itu menyakitkan. Bagaimana jika suatu saat ia harus meninggalkan Mingyu? Itu pasti menyakitinya, Wonwoo akan melanggar janjinya pada Min Yoong karena menyakiti putranya. Itu artinya, Wonwoo harus selalu ada di hidup Mingyu.

.

.

.

.

Menjalin hubungan dengan Mingyu selama beberapa bulan ini membuat Wonwoo perlahan mengerti tentang Mingyu, pemuda itu berusia 18 tahun. Lebih muda 1 tahun dibanding Wonwoo.

Mingyu sangat suka Coklat, Mingyu ternyata sangat crewet dan akan melakukan apapun untuk menarik perhatian Wonwoo, Tapi Mingyu sangat pendiam dan pemalu jika bertemu orang baru dan Mingyu terkadang masih di suapi saat makan.

~000~

Kini Wonwoo sedang berjalan menuju apartement Junghan yang tinggal bersama seungcheol. Wonwoo butuh bantuan pasangan itu.

Wonwoo mengajak Mingyu, pemuda cantik berpakaian santai itu butuh bantuan Junghan yang memang kuliah di jurusan Psikologi dan Seungcheol kekasih Junghan yang sudah bekerja menjadi seorang psikolog di rumah sakit swasta.

Mereka di dalam Lift, Mingyu menggenggam batang coklat di tangannya, terdapat beberapa lelehan coklat di sudut bibirnya, Wonwoopun dengan telaten membersihkan sudut bibir Mingyu dengan ibu jarinya. Ada sekitar tujuh orang lainnya di dalam Lift, berbagai macam pandangan Wonwoo terima. Ada pandangan terharu, mengejek dan kasihan.

Mingyu yang merasa tak nyaman dengan pandangan itu membuatnya bringsut ke sudut lift, Wonwoo yang merasakan tingkah tak nyaman Mingyu, segera pemuda manis itu menggenggam tangan Mingyu, memberitahunya bahwa semuanya baik-baik saja.

Saat pintu lift terbuka di lantai yang ditujunya segera pemuda manis dalam balutan kaos putih v-neck itu menarik tangan Mingyu keluar dalam lift menyebalkan itu.

Wonwoo menekan bel apartement Seungcheol, Mingyu sudah terlihat tenang, pemuda dengan pakaian kaos hitam polos ditutup dengan kemeja kota-kotak merah serta celana jeans yang membalut kaki panjangnya itu kembali menikmati coklatnya.

"Wonwoo! "Junghan berteriak semangat saat mengetahui temannya datang berkunjung.

Mingyu kaget, pemuda tampan itu menunduk, matanyapun bergerak gelisah.

"Won, kau ber- "

"Tumben kau berkunjung Wonwoo? " Seungcheol memotong ucapan Junghan, kekasih Junghan itu terdiam saat melihat seseorang di samping Wonwoo.

"Masuklah... "

.

.

.

.

"Autisme? " Seungcheol buka suara.

Mereka ber-empat kini duduk di sofa saling berhadapan, Mingyu sudah merasa tenang karen Wonwoo bilang ini rumah temannya, pemuda bersurai abu-abu itupun kembali menikmati sisa coklatnya yang hanya tinggal beberapa centi.

"Ya... "Lirih Wonwoo, tangannya pun bergerak meremas paha Mingyu.

"Jangan bilang bahwa dia- "

"Dia kekasihku Junghan hyung "Potong Wonwoo membuat Junghan dan Seungcheol terdiam seketika.

"Apa kau yakin Won? "Junghan berujar lembut, pemuda berambut panjang itu meraih sebelah tangan Wonwoo dan menangkupnya dengan kedua tangannya.

"Aku yakin hyung... "

"Won, kami saja yang sudah bertunangan, Terkadang aku tak yakin jika aku akan terus bersama Seungcheol. Apalagi kau Won, fikirkan baik-baik... "

"Jung! "Potong Seungcheol tak suka.

"Kita tak tahu apa yang akan terjadi ke depan Cheol! Bisa saja suatu saat kau meninggalkan ku atau mungkin aku yang meninggalkanmu! "Balas Junghan.

Wonwoo terdiam, hantinya bingung, bagaimana jika suatu saat ia meninggalkan Mingyu?

"hyung, aku butuh bantuanmu. Saran untuk menghadapi seseorang yang mengidap retardasi mental seperti Mingyu " Wonwoo mengalihkan ucapan Junghan.

"Buat ia percaya padamu.. "Jawab Junghan.

"Ya buat ia percaya padamu jika kau ingin membuatnya menjadi lebih baik "Lanjut Seungcheol.

"Mingyu sudah sangat percaya padaku hyung "

"Jangan tinggalkan dia "Lantang Seungcheol

"Ya? "

"Jangan tinggalkan dia saat ia sudah sangat percaya padamu! Kau akan menyakitinya! "

'Deg

"Aku tanya sekali lagi, apa kau yakin Won?" Tanya Junghan.

'Deg

Kebingungan kembali melanda dirinya, yakinkah? Apa ia yakin untuk menjalani hidupnya bersama Mingyu? Banyak pertanyaan yang mengitari otaknya. Mengambil nafas dalam lalu Wonwoo menghembuskannya seraca perlahan.

"Buat dia agar lebih mandiri, ajari dirinya untuk mandiri, dan tekan egonya. Biasanya seseorang seperti Mingyu akan sangat bersi keras jika menginginkan sesuatu "

"Apa ada lagi? "

"Kau hanya perlu mengajarinya secara perlahan agar lebih dewasa, jangan terlalu manjakan dia. Dan yang jelas kau harus sabar "Jelas Seungcheol.

"Terimakasih hyung, aku sangat berterimakasih atas saranmu, ah aku harus segera pulang "

"Jangan sungkan jika kau butuh sesuatu, Mingyu jaga Wonwoo ya... "Ucap Seungcheol.

"Tentu! I'm a big boy! "Jawab Mingyu semangat, membuat Seungcheol terkikik mendengarnya.

"Aku antar kedepan Won.. "Ucap Junghan.

Mereka sudah sampai di depan pintu, namun Junghan terus menatapnya.

"Ada apa hyung? "Tanya Wonwoo jengah

"Fikirkan lagi Won, aku saja tidak yakin kalau Seung- "

"Junghan! Bicara seperti itu lagi, aku akan mengikatmu menjadi milikku agar kau tak bisa pergi dariku! "Suara melengking Seungcheol terdengat dari dalam.

"Kekeke, ya sudah Won, hati-hati dijalan... "

'Mengikatmu menjadi miliku... '

~000~

"Gyu mau main ke taman? "

"Taman? Gyu tak pernah ke sana... "Jawab Mingyu lesu.

"Maka dari itu sekarang kita main ke taman... "

"Cepat! Ajak Gyu ke sana! "Wonwoo bersemangat.

"Ada syaratnya! Gyu lihat, sekarang kita ada di zebracross. Gyu harus menyebrang sendiri! "

Mingyu terdiam, wajahnya terlihat memucat.

"Ada Wonu di sini, Gyu tak perlu takut, lagipula bukan hanya Gyu yang menyebrang. Lihat ada banyak orang yang juga akan menyebrang "

"Lihat lampu itu bewarna merah Gyu perhatikan angkanya, tunggu sampai bewarna hijau "Tunjuk Wonwoo pada lampu lalu lintas.

"50, 49, 48... "Hitung Mingyu mundur.

"Jika lampunya sudah hijau Gyu lihat dulu kiri dan kanan. Jika tidak ada kendaraan yang melintas Gyu segera berjalan menyebrang "

"3, 2, 1... "Guman Mingyu

"Hijau ! Lihat kiri dan kanan, sepi! Lalu menye- "

'TapTapTapTapTap

Wonwoo terdiam, bahkan orang-orang di sekitar Wonwoo ikut terdiam saat melihat kejadian itu.

Mingyu berlari, sangat kencang! Kaki panjang itu melintasi zebracross sambil berlari.

Mingyu sudah berada diujung jalan, pemuda tampan itu tertawa, lalu tangannya melabai-lambai dengan semangat.

15, 14, 13...

Wonwoo tertawa lalu berjalan dengan cepat melintasi zebracross, orang-orang yang tadinya terdiam pun segera menyeberang karena waktu yang tinggal sedikit.

.

.

.

.

"Gyu bisa bahasa Inggris? "Wonwoo kembali bertanya, yang hanya di balas gelengan oleh Mingyu.

"Mingyu bodoh bahasa Inggris! Tapi Gyu mau belajar agar Gyu pintar! Wonu ajari Gyu! "

"Oke Wonu akan ajari Gyu, nah sekarang sudah senja. Ayo kita pulang nanti Mama Gyu mengomeli Wonu "

"Tidak! Mama tak boleh memarahi Wonu! Ayo cepat pulang! Nanti Mama marah kekeke " Mingyu tertawa lalu menarik tangan Wonwoo.

Mereka kini kembali berada di tepi jalan, berdiri di tepi Zebracross, berbeda dengan tadi yang ramai, kini hanya ada mereka berdua yang akan menyebrangi jalan.

"Wonu di sini dulu, Gyu akan menyebrang sendiri lagi "Ucap Mingyu memegang kedua bahu Wonwoo.

"Tapi hanya ada kita berdua, kalau Gyu takut tak usah, biar menyebrang bersama Wonu saja "

"Tidak! Gyu sudah besar! Oh ya Wonu mau dengar tidak? Gyu tahu sedikit bahasa Inggris "

"Boleh, tunjukan pada Wonu "

"Nah tunggu, Setelah Gyu menyebrang "

"Tapi jangan berlari seperti tadi... "Protes Wonwoo.

"Tidak, hanya sedikit berlari kekeke "

"Oke, hati-hati ya pacar Wonu... "Ucap Wonwoo kekanakan, membuat Mingyu menunduk malu. Beruntung sekarang sudah senja, warna jingga dari langit terpapar di wajah keduanya, membuat rona merah di wajah Mingyu tak begitu kentara.

"Wonwoo diam! Gyu akan bersiap menyebrang! "

Wonwoo menurut dan langsung diam.

"Merah, 20, 19, 18... "Hitung Mingyu semangat, mata tajamnya memandang timer lampu lalu lintas dengan fokus, membuat Wonwoo terdiam memandang wajah tampan dengan bias jingga langit senja.

Mingyu itu tampan, Mingyu tak terlihat seperti seorang yang memiliki kekurangan. Wonwoo sangat suka memandang wajah Tampan itu, apalagi wajah serius Mingyu.

"5, 4, 3, 2, 1 Hijau! Lihat kanan, lihat kiri... "

'Tap

.

.

'Tap

.

.

'Tap

Seperti Slowmotion, walau Wonwoo yakin langkah kaki Mingyu bukanlah langkah dengan kecepatan rendah.

Semuanya terasa bergerak lambat, bahkan Mingyu sudah sampai di ujung jalan sambil melompat-lompat semangat dengan kedua tangannya yang di lambaikan.

"I... "

"Love... "

"You! "

Ejaan itu, kata-kata yang terucap dengan nada kekanakan dari bibir Mingyu. Hati Wonwoo meletup-letup, rohnya terasa di lempat ke langit paling tinggi. Detak jantungnya, perasaan dalam hatinya, membawa kristal bening kebahagiaan itu menggenang di pelupuk matanya. Wonwoo Ingin menangis, menangis bahagia.

"Wonu I Love You!Wonu I Love You ! Wonu I Love You! "Wonwoo masih berdiri di seberang Mingyu yang sedang melompat-lompat sambil mengucapkan kata-kata itu.

Morogoh saku celananya Wonwoo mengambil ponselnya.

"Halo sayang? " Suara ibunya, Wonwoo tersenyum. Matanya masih memandang pemuda dengan suraiabu-abu yang makin bercahaya karna langit senja.

"Ma, aku akan menikah... "

.

.

.

.

~Bersambung~

sumpah ternyata cukup sulit buat remake FF apalagi beda cast, beda grup dan terlebih beda negara. ada scene yg harus dihilangkan contohnya scene:

"Wu Yi Fan, Fanfan dari China? "Tanya Zitao, keduanya kini sudah berada di taman dekat daerah rumah Yifan. Duduk santai berdua dengan kepalanya bersandar di bahu Yifan, menikmati suasana yang tenang, tidak terlalu banyak orang karna ini sudah sangat sore.

"Iya, Mama dan Baba dari China... "

nah saya bingung karena wonwoo dan mingyu kan dari korea paling beda daerah. terpaksa saya hapus scene itu dan jadinya bahasa inggris. scene yg yifan bilang Wo ai ni harus diganti dengan scene mingyu bilang i love u.

maafkan saya juga yang harus mengarang nama emaknya Mingyu, asli itu nama ga kreatif banget. Makasih juga buat yang udah review di part sebelumnya yang emang kebanyakan typo haha.

BYDSSTYN: hha gak usah belajar juga uda pasti lulus ntar. Iya gue tau typo semua isinya. Bodo ah.. hha

Firdha858: iya ini sebenernya ff taoris yang gue remake. Mingyu ga autis kok, Cuma agak gangguan mental aja haha

oomuoMingyu: kenapa mereka putus? Ada di part ini kok silahkan baca aja. kampret ah iya kenapa juga dino bisa berubah jadi dini -_-

Nichanjung: Wonwoo disini karakternya agak beda sih ya. Rada manis gimana gitu.

Tinkuerbxlle: maaciww ~

Monwii: iye elu ah capslock jebol woy. Gak lama kok updatenya, tunggu aja tahun depan /plak.

FoinChu: oke thanks untuk reviewnya yah~

Okwonn17: typo adalah seni, karena gue orang yang berjiwa seni typo adalah hal yang wajar /apaini

Svtvisual: padahal yang di wattpad udah selesai loh~

Alwaysmeanie: mungkin banyak typo karena keyboardnya kekecilan ajah kok /ngeles

sampai jumpa lagi di part selanjutnya.

Salam Meanie!