Malam semakin larut, deritan ranjang dan juga alunan suara desahan merdu mengalun bagaikan symphoni milik Wolfgang Amadeus yang jari tangannya bergitu terlatih membuat rentetan nada. Peluh, menghiasi tubuh terhentak seorang pria bersurai coklat yang entah— sejak kapan sudah tak berbusana dan sibuk melenguh karena perbuatan orang diatasnya.
"Jungh— ahh.."lenguhnya tertahan kala sesuatu menghentak tepat pada titik tersensitif didalam sana.
Matanya terpejam kuat, tangannya sibuk meremat apapun yang berada disana. Bibir semerah kelopak rose dengan campuran tetesan darah itu tak lelah meneriakan kata nikmat dengan alunan menyayat hati. Lengkungan tubuh dengan hentakan yang semakin kuat ia rasakan, nikmat dan perih bercampur aduk dibawah sana.
"How beautiful my bitch, tonight."seringai penuh ia lontarkan sembari terus meringsek keluar dan masukkan kejantanannya. Hentakan demi hentakan ia berikan, matanya terpejam nikmat kala lubang nan sempit itu semakin menyempitkan jalannya.
" Jungh— akuhh ahh—.."
"Bersama hyung—"
"Jungh... / taehh.."
Lenguhan panjang terdengar sebagai tanda klimaksnya kegiatan panas mereka. Sosok yang sejak tadi sibuk membuat orang yang dibawahnya mendesah ambruk. Matanya terpejam kuat menikmati sisa-sisa percintaan mereka. Nafas terengah menghiasi keheningan diruangan temaram yang ditemani sinar rembulan itu.
Hazel sehitam gelap malam itu bertemu dengan manik serupa lelehan coklat yang menenangkan itu. Keduanya terdiam, lalu kemudian saling memeluk satu sama lain. Mendekap erat seakan tiada hari esok untuk saling berbagi kehangatan serta kenyamanan yang mereka hantarkan melalui pelukan itu. Mencoba berbagi duka lara yang tiba-tiba menghantam tepat di jantung mereka. Dekapan itu semakin erat, diselingi dengan pergerakan lembut dibawah sana. Mencoba menghapus kenyataan pahit yang menerpa keduanya.
"J-junghh ahh—" lagi lenguhan itu tertahan kala Taehyung menarik tengkuk Jungkook; meraup bibir candu yang ia yakini sebagai penawar yang ampuh. Tubuhnya ikut bergerak berlawanan arah mencoba menyelaraskan gerakan yang lebih muda.
"Mpckhh— mhhh.." hisapan bernafsu itu mereka berdua layangkan. Saling memagut, menghisap bahkan menggigit bibir sang pasangan dengan luapan nafsu yang semakin melambung naik itu. Taehyung bergulir mengubah posisinya berada diatas Jungkook. Tautan itu terlepas, Taehyung memimpin permainan super panas itu dengan terus menggerakan pinggulnya berlawanan dengan gerakan brutal Jungkook dibawah sana yang tengah mengejar kenikmatan yang sempat didapatkan tadi.
"Ashh— eratkan lagi sayang. Akhh— rasakan aku didalammu." Ujar Jungkook seraya meremat pinggul Taehyung dan semakin mempercepat gerakan penisnya. Taehyung mengetatkan rektumnya lalu menghentakkan dalam penis Jungkook tepat pada sweetpotnya.
"Anghh, kookie-ah hentakan lebi—ah dalam— ahhh.."Taehyung berujar susah payah kala Jungkook semakin mempercepat gerakannya dalam memasuki Taehyung dengan gerakan sedikit brutal. Mampu memberikan sensasi perih sekaligus nikmat tiada tara pada lubang Taehyung.
Jungkook mengerang frustasi merasakan kenikmatan yang menghantam akal sehatnya dengan seketika, ia meringsekkan lebih cepat dan tepat kejantannya hingga menyentuh prostat Taehyung. Membuat Taehyung menjerit nikmat kala sweetpot nya dihentak begitu keras oleh kejantanan Jungkook.
Tangannya bergerak aktif, menyusuri rahang Jungkook; mengusapnya sayang. Mengulum senyum puas manakala melihat tanda yang ia buat begitu kentara, ia berpikir akan menambah tanda kepimilikannya disana.
Kemudian tangannya kembali beranjak naik; menuju hidung Jungkook ―mengusapnya pelan lalu berakhir pada mata Jungkook; bergerak maju mencium kedua mata itu bergantian. Pandangannya menyendu, setelah pergulatan panas ini mereka akan kembali pada kenyataan menyakitkan.
"Akh! Akhhh!" Taehyung menjerit nikmat, kala Jungkook kembali membaringkan dirinya.
Kejantanan itu semakin meringsek masuk; bahkan menyentuh titik kejut Taehyung berulang kali. Taehyung merasa pusing —akibat rasa nikmat yang menghantam kewarasannya. Ia sudah tidak waras, dia gila; sungguh gila. Menggilai bagaimana tubuh pemuda diatasnya ini begitu pas untuk memeluknya; menggilai sensasi panas yang diberikan dari bibir tipis yang sejak tadi mengecupi seluruh tubuhnya ―meninggalkan jejak basah yang selalu mampu membuat Taehyung terngiang-ngiang; Taehyung juga menggilai bagaimana kesejatian Jungkook yang begitu pintar menggempur analnya, membuat ia merasa pening dan juga candu yang sebegini hebat. Memikirkan itu, membuat Taehyung merasa dirinya sebagai pendosa sekaligus penikmat dosa yang ia perbuat.
"Apa yang kau pikirkan, hm?" tanyanya, membuat Taehyung terkesiap akan hawa panas yang menerpa wajahnya yang sudah merah padam.
Ia tersenyum, mengalihkan pandangannya pada pemuda didepannya ini; mengusap wajah itu sayang. Hatinya menghangat, manakala mendapati tatapan Jungkook yang nampak begitu mengkhawatirkannya.
Taehyung tersenyum, mengecup sekilas bibir Jungkook. "Aku tak apa, sayang."
Membuat Jungkook mengangguk paham, kemudian mereka menepis jarak dan menyatukan bibir mereka kembali. Saling memagut, menghisap, menggigit bahkan bertarung lidah; dengan pergerakan Jungkook yang bertambah kasar dan nikmat.
Tubuh Taehyung melengkung bagaikan busur, melepaskan pagutan; kemudian memeluk tubuh Jungkook begitu erat. Terhentak-hentak dibawah Jungkook dengan begitu hebat; ia terus bergumam pelan, "Akh! Akh! Sedikit lagi— akh! A - aku kelu―" belum benar ia berucap, kini pandangannya memutih; berbarengan dengan Jungkook yang menghentak dalam; menyemburkan spermanya kedalam sana dan Taehyung yang melepaskan spermanya diatas perut Jungkook.
"Bersama— akhh." Lenguh keduanya,
Keduanya terengah, terdiam; menikmati euforia yang mereka rasakan. Jungkook menyatukan kening mereka, menutup tubuh polos keduanya dengan selimut. Tanpa melepas penghubung badan keduanya; ia membaringkan diri disamping Taehyung —memeluknya erat. Mengecup pundak Taehyung sayang, membuat Taehyung yang sejak tadi sibuk mengatur nafas tersenyum.
"Istirahatlah, kau pasti lelah." Ujar Taehyung.
Jungkook hanya bergumam malas, kemudian semakin menelusupkan wajahnya pada ceruk leher Taehyung. Matanya benar-benar berat, dan dia ingin segera tertidur. Meskipun otaknya berputar begitu keras; menampilkan kejadian apa saja yang akan terjadi saat pagi menjelang. Ia mencoba tak peduli, meskipun nyatanya ia tak bisa mengacuhkan gejolak ini begitu saja.
Sadar akan Jungkook yang bungkam, Taehyung mencoba menarik perhatiannya dengan memeluk lengan posesif Jungkook yang melingkari perutnya; mengusap lengan kekar itu sayang.
"Mau berbagi cerita? Sepertinya kau sedang banyak pikiran, saat ini." Taehyung berucap lembut, tangannya tak pernah berhenti mengusap.
Jungkook menggeleng, membuat sensasi geli karena anak rambutnya yang menggesek leher Taehyung. "Aku tak apa, hanya ingin memelukmu sembari tidur. Apa boleh?"
"Tentu saja, kalau begitu ayo kita tidur." Memilih mengalah, ia semakin merapatkan diri pada dada bidang Jungkook.
Meringkuk imut, "Selamat tidur, Jungkook-ah." Ucap Taehyung, Jungkook tersenyum lembut kemudian mengeratkan pelukannya dan menyusul Taehyung kealam mimpi; membiarkan pikiran yang ruwetnya melebur bersama mimpi, dan biarkan besok ia menghadapi kenyataan.
"Selamat tidur juga, Tae. Mimpi indah, aku mencintaimu, sangat mencintaimu, eomma."
Karena kenyataannya, mereka berdua adalah sepasang ibu dan anak. Taehyungnya; atau Jeon Taehyung adalah ibu kandungnya sendiri. Dan dirinya ―Jeon Jungkook adalah anak dari hasil percintaan Aldrian Jeon dan Kim —Jeon Taehyung yang telah menikah 20 tahun yang lalu.
...
review?
—; Owner by; Muffluousse.
