Warning!
Cerita mengandung unsur BxB
Cerita murni hasil otak sendiri
.
DL!DR!
~ Enjoyed ~
.
.
~ Chapter 2 ~
.
.
.
"apa kau takut Tae-ah?" khawatir Jimin menatap Taehyung yang masih menundukkan wajahnya, Taehyung mendongakkan kepalanya menatap Jimin yang berdiri didepannya,
"em, aku masih terlalu takut dengan suasana baru Jim, aku takut kalau mereka akan menyakiti Ryu nantinya" Jimin bisa melihat kedua mata Taehyung yang sudah berbendung,
Jimin menarik Taehyung masuk kedalam pelukannya dan mengusap lembut punggung belakang Taehyung. Jimin tidak perduli dengan sekertaris appa-nya yang berada didekat mereka di dalam lift ini dengan perlakuannya yang memeluk Taehyung.
"tenanglah Tae-ah, aku bersama mu dan selalu menjaga mu" setidaknya Taehyung masih memiliki Jimin bersama dengannya. Taehyung mengeratkan pelukannya memeluk pinggang Jimin dan menenggelamkan wajahnya di pundak ber abs milik Jimin.
Ting
Pintu lift terbuka di lantai enam belas, lantai yang menjadi tujuan mereka. Lantai khusus yang hanya terdapat ruangan sang appa yang akan menjadi ruangan Jimin. Jimin melepaskan pelukannya pada Taehyung dan keluar dari lift diikuti Taehyung yang masih memegang erat Ryu dan sekertaris appa-nya yang bernama 'Lee Sae Ron' mengikutinya dibelakang.
"aku tahu kau pasti bingung dengan hubungan ku dan namja manis ini" Saeron yang mendengar ucapan Jimin tersentak kaget dari lamunannya, memang Saeron dari tadi melamun dan bertanya tanya tentang hubungan Sajangnim-nya dengan namja tampan yang berpaduan manis disamping sang Sajangnim,
"ah, maafkan aku Sajangnim, aku ti_" ucapan Saeron terpotong
"Taehyung adalah sekertaris pribadi ku di Busan dan juga tunangan ku" Jimin sekilas menatap Saeron yang tersentak kaget, dan tersenyum lembut ke Taehyung yang semakin menundukkan wajahnya ke dalam,
"Taehyung akan membantu ku selama beberapa bulan ke depan di sini sebelum appa kembali"
"aku harap kau bisa membantunya dan mengajari beberapa hal padanya yang tidak dimengertinya, dan gadis kecil yang imut ini" Jimin mengulurkan tangannya kedepan Ryu yang dari tadi hanya diam dengan sedikit menundukkan badannya, Ryu yang mengerti langsung melepaskan pegangan Taehyung dan memeluk leher Jimin,
"namanya Ryu, anak kandung Taehyung dan juga calon anak ku" ucap Jimin dan menggendong Ryu dalam gendongannya,
"kau bisa menganggap kami sebagai pasangan yang aneh, aku tidak perduli, tapi jangan sampai membuat mereka tersakiti, karena aku bisa saja melakukan apa pun terhadap mereka yang menyakiti orang yang ku sayang" Jimin tidak tahu kenapa ia berkata seperti ini kepada Saeron, tapi setidaknya apa yang dikatakan Jimin bisa membuat Taehyung tidak perlu merasa takut dengan tatapan aneh dari mereka yang tidak menyukainya. Jimin hanya ingin selalu menjaga Taehyung dan Ryu.
Saeron yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dalam hatinya, tidak, Saeron bukan mengejek hubungan atasannya, hanya saja Saeron merasa bangga pada atasannya ini yang mau menceritakan masalah pribadinya kepadanya. Dan untuk alasan apa Saeron menyakiti Taehyung, dilihat dari penampilan Taehyung saja ia bisa menebak bahwa Taehyung memang pantas mendapatkan sang Sajangnim dan menjadi namja yang special.
.
Kini mereka sudah berdiri diruangan yang mereka tuju sebelumnya, yaitu ruangan sang appa yang akan menjadi ruangan Jimin. Jimin menyuruh Taehyung dan Ryu masuk terlebih dahulu sebelum dirinya meminta ke Saeron untuk memanggil orang kepercayaan appa-nya agar segera menemuinya, yang langsung dilakukan Saeron, sebelumnya ia membungkukkan badannya sembilan puluh derajat dan pergi dari hadapan Jimin.
.
Tok tok tok
"masuk!" Jimin sedikit berteriak menyuruh si pelaku pengetok pintu untuk masuk kedalam ruangannya,
Ckleak
Seorang namja tampan yang tadi mengetuk pintu, berjalan mendekat ke meja sang atasan, namja tampan ini bisa melihat punggung namja sempit yang duduk membelakanginya dan seorang anak kecil yang sedang bermain di sofa yang ada di dalam ruangan sang atasan.
"selamat pagi Sajangnim" ucap namja tampan ini dan membungkukkan badannya kearah Jimin, bentuk rasa hormatnya kepada sang atasan.
Deg
'perasaan apa ini' batin Taehyung yang tiba tiba berdetak cukup kencang, Taehyung merasakan seperti mengenali suara yang barusan didengarnya, suara seseorang yang ingin sekali Taehyung lupakan walaupun itu terasa sulit baginya, bahkan suara ini sangat mirip dengan suara yang selalu ada di dalam mimpinya setiap malam,
"duduklah Jungkook-ssi" Taehyung membelalakkan matanya sempurna mendengar nama Jungkook yang disebutkan oleh Jimin,
't-tidak mungkin J-Jungkookie' Taehyung mencoba memberanikan dirinya untuk menoleh ke namja yang tadi dipanggil Jimin yang sudah duduk disebelahnya,
Deg deg deg
Jantung Taehyung seperti akan meledak akibat detak jantungnya yang berpacu sangat kencang, hanya karena melihat wajah namja yang duduk disebelahnya ini,
"Jungkookie" gumamnya dan menahan air matanya yang ingin terjun bebas, Taehyung bahkan menahan isakan tangisnya agar tidak keluar dan tidak ingin membuat Jimin mengkhawatirkannya,
Sungguh kalau bisa Taehyung ingin sekali memeluk Jungkook yang duduk disebelahnya, mengumamkan kata 'aku merindukan mu Kookie, aku sangat merindukan mu' tapi tidak mungkin, bahkan tubuhnya menolak untuk melakukannya, tubuhnya terasa kaku untuk bergerak. Padahal banyak hal yang ingin ditanyakan Taehyung padanya.
Taehyung benar benar tidak bisa menahan getaran tubuhnya karena ia yang menahan isakan tangisnya. Taehyung semakin mengigit bibir dalamnya, mengepalkan kedua tangannya hingga buku buku dijemarinya terlihat,
"maafkan aku Jim, a-aku harus pergi ke kamar mandi" Taehyung dengan cepat berdiri dari posisi duduknya dan berlari kecil keluar dari ruangan Jimin, mengabaikan tatapan heran Jimin yang memandanginya dan tatapan sendu Jungkook yang melihat kearahnya.
.
.
di Toilet
"kenapa?! hikss Kenapa Kookie?! hikss " isakan tangis Taehyung menggema di dalam toilet yang sunyi ini,
"kenapa kau harus kembali, setelah aku mencoba membuka hati ku untuk Jimin" air matanya dibiarkannya mengalir begitu saja tanpa niat menghapusnya,
"apa yang harus ku lakukan, aku ingin sekali memeluk mu" tubuh Taehyung merosot jatuh,
"apa yang harus ku lakukan Kookie" Taehyung memeluk erat kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya di kedua lututnya.
.
.
"kumohon bantuannya Jungkook-ssi" Jimin mengulurkan tangannya dan berdiri dari posisi duduknya, Jungkook pun melakukan hal yang sama dan menyambut uluran tangan Jimin,
"selamat datang Di JM Corp Pusat Park Jimin Sajangnim" Jimin hanya bisa tersenyum menanggapi ucapan Jungkook, dan melepaskan tautan tangan mereka,
"Jimin appa~" Jimin beralih ke Ryu yang sedang menarik narik ujung jasnya, entah sejak kapan Ryu berdiri disampingnya,
"em wae-yo sayang?" Jimin mengelus lembut surai Ryu ketika bertanya,
"kenapa eomma lama sekali perginya" Ryu mengerucutkan bibirnya lucu,
'eomma?' batin Jungkook bertanya, kalau Jungkook tidak salah ingat, tidak ada yang datang keruangan Jimin sebelum dirinya datang, dan tidak ada yang datang bersama Jimin kecuali 'Tae-hyung' gumamnya dengan membelalakkan kedua matanya tidak percaya,
"sabarlah sayang, eomma hanya pergi ke toilet, Ryu bisa bermain dengan appa di sini sambil menunggu eomma kembali" Jimin mengangkat Ryu dan mendudukkan Ryu dalam pangkuannya,
'eomma? Appa? Itu artinya..' Jungkook tidak melanjutkan gumamnya dan menatap sendu kearah Ryu yang sedang tertawa riang di atas pangkuan Jimin, menampilkan dua gigi kelincinya yang terlihat lucu,
Ckleak
Mereka yang berada diruangan Jimin menoleh ke suara pintu yang di buka, Taehyung yang muncul dari balik pintu itu,
"eomma" teriak Ryu turun dari pangkuan Jimin dan berlari menerjang tubuh taehyung,
"kalau begitu saya permisi Sajangnim" Jungkook berucap dan membungkukkan badannya,
"eh, tunggu Jungkook-ssi" ucap Jimin dengan berlari kecil kearah sofa, Jungkook dan Taehyung mengikuti arah Jimin yang sekarang berdiri di dekat sofa,
"bisa tolong antarkan Taehyung ke ruangannya" Taehyung tersentak kaget atas ucapan Jimin yang meminta Jungkook mengantarnya,
"Jim" panggil Taehyung dan menghampiri Jimin yang lagi membereskan mainan Ryu ke dalam tas kain yang berisi mainan Ryu,
"aku sudah mengatakan pada Jungkook bahwa kau juga akan bekerja di sini sebagai sekertaris ku, dan aku sudah menyiapkan ruangan mu dan tempat bermain Ryu di dalam ruangan mu Tae-ah, maaf masih ada yang harus aku selesaikan" Jimin mengelus lembut pipi Taehyung yang sudah berdiri didepannya,
"ahjussi~ gendong~" entah sejak kapan Ryu berada di depan Jungkook dan merentangkan kedua tangannya meminta Jungkook menggendongnya,
Taehyung yang mendengar suara Ryu, menoleh ke Ryu yang sekarang sudah di dalam gendong Jungkook,
tidak! Taehyung tidak ingin putrinya berada di dekat Jungkook, kalau bisa Jungkook jangan menyentuh putrinya. Taehyung yang ingin mengambil Ryu dalam gendongan Jungkook mengurungkan niatnya karena Jimin menarik lengannya dan mendekap tubuhnya,
"aku tidak akan lama Tae-ah, setelah selesai aku akan keruangan mu" Jimin melepaskan pelukannya dan mengecup lembut kening Taehyung, utuk sesaat Taehyung melupakan kekhawatirannya yang terganti dengan rasa hangat yang mengalir dari tubuhnya karena ciuman Jimin dikeningnya,
Jungkook hanya bisa mengepalkan tangannya kuat dan menatap nanar adegan romantis yang tersaji didepannya, mengabaikan rasa sakit yang menjalar dari hatinya melihat Taehyung-nya disentuh oleh orang lain. Jungkook sangat membenci jika ada orang yang menyentuh miliknya.
.
Flashback On
dua orang anak kecil terlihat bahagia bermain di taman yang sepi ini. yang bergigi kelinci berumur lima tahun dan yang satunya yang memiliki senyum kotak manis berumur enam tahun,
"cepat Hyung kejar aku~ haha" tawa si anak yang bergigi kelinci dan berlari mengitari jungkat jungkit,
"Kookie~ aku lelah" ucap si anak yang memiliki senyum kotak atau Taehyung dengan bokongnya yang sudah mendarat ditanah,
"ah~ Hyung, kau belum menangkap ku" Jungkook menoleh ke Taehyung yang sedang duduk sambil mengatur nafasnya,
"hai Taehyungie, perlu bantuan" seorang anak lain datang menghampiri Taehyung dan berjongkok di depan Taehyung,
"hikss Kookie hikss" tangis Taehyung melihat orang yang berada didepannya, Taehyung sangat tidak menyukai anak yang berada didepannya ini. Karena anak ini selalu saja menggangunya,
"yak! Hoseok hyung! Jangan membuat Taehyungie menangis" Jungkook berlari ke Taehyung dan mendorong Hoseok yang tadi berjongkok di
depan Taehyung,
"akh appo kelinci pabbo!" ringis Hoseok yang tadi didorong Jungkook cukup kuat,
"jangan menyentuh Taehyungie ku dan membuat ia menangis Hyung, kalau Hyung tidak ingin aku melukai mu" ancam Jungkook dan berdiri didepan Taehyung sebagai tameng bagi Taehyung.
Walaupun Taehyung lebih tua dari Jungkook, tapi Taehyung begitu lemah dalam hal fisik dan lainnya, itu makanya Jungkook selalu berada disisinya dari pagi hingga malam tiba, mereka hanya akan berpisah pada pukul delapan malam ketika orang tua Taehyung sudah pulang dari bekerja.
Rumah kecil Taehyung berada tidak jauh dari panti asuhan tempat Jungkook tinggal, mereka berteman sejak mereka bisa berjalan. Orangtua Taehyung sering menitipkannya di panti asuhan. Sedangkan Jungkook sudah tinggal di panti asuhan ketika ia berumur dua bulan.
Jungkook akan selalu melindungi Taehyung dari anak anak nakal seperti Hoseok yang selalu mengganggu Taehyung-nya.
Jungkook sudah mengecap Taehyung sebagai miliknya ketika usia mereka sudah beranjak delapan tahun untuk Jungkook dan Taehyung yang berumur sembilan tahun.
Flashback Off.
.
.
Tidak ada yang mereka katakan selama Jungkook mengantar Taehyung keruangannya, yang berada di samping ruang kerjanya di lantai lima belas, lantai yang hanya terdapat tiga ruangan saja, satu ruang kerja Jungkook yang berada di pojok, ruangan yang akan ditempati Taehyung dan satu ruangan yang cukup luas, ruangan yang biasa digunakan untuk meeting atau pertemuan lainnya.
"ahjussi~ ahjussi sangat hangat, Ryu menyukainya" gumam Ryu diperpotongan leher Jungkook yang sekarang berada digendongannya. Ryu semakin menduselkan kepalanya keperpotongan leher Jungkook,
"benarkah? Kalau begitu ahjussi akan selalu menggendong Ryu seperti ini" ucap Jungkook dan mengelus lembut punggung Ryu.
Rasanya Taehyung ingin sekali berteriak di depan Jungkook sekarang dan mengatakan padanya bahwa yang ada dalam gendongnya adalah anaknya, anak kandungnya Jungkook yang selama ini Taehyung perjuangkan seorang diri.
Tapi tidak, Taehyung akan tetap menyimpan rahasia ini karena jika Jungkook mengetahuinya bisa saja Jungkook akan mengambil Ryu darinya, Taehyung tentu tidak ingin itu terjadi.
"ahjussi~ sepertinya Ryu menyukai ahjussi" Jungkook hanya tersenyum menanggapi gumaman Ryu ditelinganya,
"kalau begitu mulai sekarang kita berteman" ucapnya dan menurunkan Ryu dari gendongannya pada sofa yang ada di ruangan Taehyung, mereka sudah berada diruang kerja Taehyung omong - omong.
"janji~" Ryu menyodorkan jari kelingkingnya dihadapan Jungkook,
"janji" sambut Jungkook dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Ryu, Ryu bersorak senang karena permintaanya dikabulkan Jungkook,
Taehyung hanya menatap sendu kearah Jungkook dan Ryu, mengigit bibir dalamnya kuat hanya untuk meredam isakan tangisnya.
.
Jungkook menoleh kebelakangnya dimana Taehyung yang berdiri memperhatikannya dan Ryu. memposisikan dirinya berdiri karena tadi ia sedikit berjongkok ketika menurunkan Ryu dari gendongannya, Jungkook berbalik dan berjalan lurus kearah Taehyung yang sepertinya masih melamun memikirkan sesuatu,
"Taehyungie" panggil Jungkook yang sekarang sudah berdiri di depan Taehyung, Taehyung terlonjak kaget dan cepat menoleh ke Jungkook yang lagi menatapnya dengan tatapan sendunya,
"Hyung, apa ini sungguh diri mu Hyung" tangan Jungkook terulur ingin menyentuh wajah Taehyung, tapi dengan cepat Taehyung membuang mukanya kesamping, tidak menginginkan Jungkook menyentuhnya,
"Hyung, maafkan a_"
"ku mohon keluarlah Jungkook-ssi, terima kasih karena sudah membantu ku" Taehyung memotong ucapan Jungkook dengan cepat, melangkahkan kakinya ke Ryu yang sedang bermain di sofa, membiarkan Jungkook yang diam mematung karena tindakannya,
"kau bisa pergi sekarang Jungkook-ssi" lanjut Taehyung, Jungkook berbalik dan menatap nanar punggung Taehyung yang lagi membelakanginya,
"maafkan saya, maafkan atas kelancangan saya pada anda Taehyung-ssi, saya permisi" Jungkook membungkuk sekilas dan berlalu pergi dari ruangan Taehyung, Jungkook rasa Taehyung benar benar membencinya sekarang,
"aku membenci mu Kookie" lirih Taehyung,
"sangat membenci mu" membiarkan air matanya keluar dari sudut matanya,
"karena aku sangat merindukan mu" kedua tangannya memeluk Ryu yang terlonjak kaget karena tiba tiba saja Taehyung memeluknya erat.
.
.
.
Sudah seminggu Taehyung berada di JM Corp Pusat membantu Jimin yang benar benar kewalahan mengatasi permasalahan diperusahaan appanya.
Jimin sering kali melupakan makan siangnya kalau saja Taehyung tidak memaksanya untuk makan dan mengingatinya, kadang Taehyung akan membawa bekal dan menyantapnya bersama Jimin dan Ryu diruangannya Jimin ketika Jimin benar benar sibuk.
Sudah seminggu juga Ryu semakin dekat dengan Jungkook, Ryu akan menyelinap keluar dari ruangan Taehyung jika Taehyung tidak memperhatikannya, menyelinap keruangan Jungkook dan bermain dengan Jungkook. Taehyung bukan tidak senang Ryu dekat dengan Jungkook, hanya saja Taehyung terlalu takut kalau Jungkook sadar bahwa Ryu adalah anaknya.
Bahkan sudah seminggu Taehyung tidak pernah berbicara pada Jungkook, suara pertama dan terakhir yang Taehyung ucapakan hanya pada saat ia mengusir Jungkook keluar dari ruangannya dihari pertamanya datang ke JM Corp Pusat.
Jungkook sudah mengetahui hubungan Taehyung dengan Jimin yang berstatus tunangan. Tidak, tidak mungkin Jungkook tidak sakit hati mengetahui hubungan mereka.
Tapi apa yang bisa ia lakukan, karena semua ini dari awal adalah kesalahannya yang meninggalkan Taehyung dan mengingkari janjinya pada Taehyung. Janjinya yang meminta Taehyung menunggunya pulang di musim semi.
Jimin tidak akan pernah bertanya pada Taehyung tentang masa lalunya dan siapa appa dari Ryu, karena menurut Jimin, Taehyung pasti akan memberi tahunya sendiri tentang semua masa lalunya ke Jimin pada waktunya. Jimin hanya akan menunggu sampai Taehyung benar benar siap untuk bercerita dan berbagi padanya.
.
.
"ahjussi" panggil Ryu ke Jungkook yang lagi membuatkan minuman untuk Ryu,
"em, wae-yo Ryu-ah" Jungkook berjalan kearah Ryu yang duduk di kursi kerjanya dengan memeluk boneka panda yang dibelikannya dua hari yang lalu untuk Ryu,
"apa Ryu boleh memanggil ahjussi dengan panggilan appa?" Ryu memelankan suaranya pada kalimat akhirnya,
"hm, appa?! Bukannya Ryu sudah punya Jimin appa" entah mengapa ada bagian dada Jungkook yang merasa tidak terima dengan apa yang baru saja dikatakannya,
"tapi Ryu juga ingin memanggil ahjussi appa, Ryu sangat menyukai ahjussi seperti Ryu menyukai Jimin appa" Ryu meneguk susu yang tadi dibuat Jungkook untuknya hingga setengah,
"bagaimana dengan eomma Ryu, pasti eomma Ryu tidak menyukainya" tangan Jungkook terulur mengusap lembut ujung bibir Ryu yang berbecak susu,
"Ryu akan memanggil ahjussi jika tidak ada eomma atau Jimin appa, bagaimana? Ahjussi mau ya~" Ryu memelas meminta ke Jungkook agar menuruti permintaannya,
"baiklah kalau itu yang Ryu inginkan" Jungkook mengacak rambut depan Ryu gemas melihat wajah Ryu yang tadi memelas padanya,
"yeyy.. appa" riang Ryu dan memeluk Jungkook, Jungkook hanya bisa tersenyum dan mengabaikan bagian hatinya yang lagi berontak,
"seandainya saja Ryu adalah anak ku, aku akan mempertahankannya dan diri mu hyung" batin Jungkook merasakan sakit didadanya, karena kenyataannya Ryu adalah anak Taehyung dan Jimin, bukan anaknya - pemikiran Jungkook.
.
.
Taehyung benar benar menghindari Jungkook apa pun yang terjadi selama dua bulan ia berada Di JM Corp Pusat, bahkan ia sedikit pun tidak mau berbicara pada Jungkook, walaupun mereka berpapasan pasti Taehyung akan mengabaikan Jungkook.
Sepertinya Taehyung benar benar melupakan Jungkook dan membencinya jika dilihat dari tingkah Taehyung yang mengabaikannya.
Taehyung juga melarang Ryu untuk pergi keruangan Jungkook, kalau Taehyung mendapati sang putri berada diruangan Jungkook, Taehyung pasti akan memarahi dan membawa kembali Ryu ke ruangannya, membuat Jungkook benar benar merasa sakit dengan sikap Taehyung yang sangat berubah kepadanya.
"aku selalu merindukan mu Hyung" helaan napasnya terdengar lirih ketika ia bergumam sendiri di dalam ruangannya yang sunyi,
"bahkan aku masih ingat ketika aku menyatakan perasaan ku pada mu Hyung" Jungkook memejamkan kedua matanya, membiarkan rasa dingin akibat pendingin ruangannya menjalar kebagian kulit dalamnya,
.
Flashback On
Seorang namja berambut hitam kelam sedang menarik lengan namja yang berambut coklat madu menuju atap sekolah, atap sekolah yang selalu menjadi tempat favorite bagi mereka,
"Kookie ada apa dengan mu, hm" ucap Taehyung ketika Jungkook sudah melepaskan tangannya yang tadi ditarik Jungkook. Jungkook tidak menggubris perkataan Taehyung, ia hanya berjalan lurus kedepan dan menyandarkan badannya di dinding pembatas antara atap dan besi pagar, yang menutup bagian atap sekolah yang dibangun untuk menghindari siswa/i yang ingin bunuh diri,
"Kookie, kau membuat ku takut" Taehyung menghampiri Jungkook yang memandang kelantai tempat ia berpijak,
"Kookie, apa sesuatu terjadi" tangan Taehyung terulur menyentuh dan meremas lembut pundak Jungkook,
"Kookie, a_" ucapan Taehyung terpotong oleh Jungkook yang berucap cepat dengan satu tarikan napasnya yang mengatakan
"aku menyukai mu Hyung" katanya dengan menundukkan wajahnya malu, Taehyung melebarkan bola matanya seperkian detik dengan mulut sedikit menganga, sebelum ia mengubahnya dengan menarik sudut bibirnya,
Jungkook yang tidak mendengar sepatah katapun yang keluar dari mulut Taehyung, mengangkat kepalanya perlahan. Jungkook menarik sudut bibirnya seperti Taehyung, melihat ekpresi Taehyung yang tersenyum lembut kearahnya, Jungkook bisa memastikan bahwa Taehyung tidak menolak perasaannya,
"Hyung, aku mencintai mu" tangan kanan Jungkook terulur membelai lembut wajah Taehyung yang masih tersenyum hangat padanya,
"aku sangat mencintai mu Hyung" kedua tangannya beralih menarik jemari jemari lentik Taehyung untuk dikaitkannya dengan jemari jemarinya,
"aku juga mencintai mu Kookie" jemari lentik Taehyung menggenggam erat jemari besar Jungkook,
"dan sangat mencintai mu" Taehyung melangkah sekali dan berdiri di depan Jungkook dengan jarak yang cukup dekat,
"boleh aku mencium mu hyung" ucap Jungkook nyaris berbisik, Jungkook terlalu malu untuk mengatakannya, karena sungguh ini merupakan pengalaman pertamanya, karena dari awal ia hanya menargetkan Taehyung yang akan selalu mendampingi dirinya.
Tawa rendah Taehyung membuat Jungkook semakin malu dan merona, sumpah demi apa pun ia sangat malu akan apa yang baru saja dikatakannya, bukannya namja sejati akan langsung mencium pacarnya tanpa permisi, tapi ada apa dengan Jungkook yang meminta ijin ingin mencium Taehyung, sungguh sangat memalukan dan kekanakan – menurut Jungkook.
"tentu Kookie, tentu kau boleh melakukannya" tangan kanan Taehyung terulur menyentuh lembut wajah Jungkook,
"kau boleh melakukan apa pun terhadap diri ku, karena aku milik mu seutuhnya" Taehyung menutup kedua matanya dan menempelkan bibirnya tepat dibibir Jungkook.
Bukankah tadi Jungkook yang meminta tapi kenapa Taehyung yang melakukannya, tidak! Jungkook tidak ambil pusing siapa yang melakukannya terlebih dahulu.
Jungkook menutup kedua matanya dan sedikit memiringkan kepalanya, bibir yang tadi awalnya menempel kini perlahan bergerak menyesap dan melumat bibir Taehyung secara bergantian yang dibalas Taehyung dengan berlawanan arah.
Kedua tangan yang sedikit berotot milik Jungkook merengkuh tubuh kurus Taehyung dalam pelukannya, kedua tangannya berada dipundak Taehyung dan sedikit meremasnya.
Taehyung semakin merapatkan dirinya dengan tubuh Jungkook yang terasa hangat, dan melingkarkan kedua lengannya memeluk pinggang Jungkook.
Flashback Off
.
Jungkook membuka kedua matanya dan mengangkat kepalanya agar tegak, menutup matanya sebentar sebelum ia membukanya lagi, menghilangkan rasa nyeri dibagian kepalanya yang tiba tiba terasa sakit,
"sepertinya aku tertidur lagi" gumamnya dan berdiri dari posisi duduknya, mengambil jas kerjanya yang diletaknya di bangku kerjanya.
"seharusnya aku pulang dari tadi bukan tidur dan memimpikan mu seperti ini lagi Hyung".
.
.
Jungkook tidak bisa mengalihkan pandangannya melihat dimana Jimin merangkul mesra Taehyung menuju mobilnya yang terpakir tidak jauh dari mobilnya berada sekarang,
Jungkook mengeratkan pegangannya di stir mobilnya, sebagian dari dirinya ingin sekali menyerah atas Taehyung, menyerah dengan perasaannya yang sudah bertahun tahun dijaganya hanya untuk Taehyung,
Jungkook akui bahwa semua ini adalah kesalahan dirinya yang tidak memberi kabar pada Taehyung selama ia pergi meninggalkan Taehyung, kesalahannya karena mengingkari janji yang dibuatnya.
Tapi sungguh itu tidak dilakukan dengan sengaja oleh Jungkook, ia hanya ingin fokus untuk mencapai tujuannya selama di Seoul dan semua itu dilakukannya demi Taehyung, demi ia bisa bersama dengan Taehyung, untuk memenuhi semua kewajiban Taehyung.
Tapi dibagian dirinya yang lain, ia begitu menginginkan Taehyung kembali padanya dan memeluk Taehyung dengan erat, karena sungguh ia sangat mencintai Taehyung.
Jungkook tidak mengalihkan fokusnya pada mobil Jimin yang semakin menghilang dalam jangkuan pandangannya. Jungkook benar benar tidak tahu harus melakukan apa untuk menjelaskan semuanya pada Taehyung.
.
.
.
.
.
Tbc
Special terima kasih atas reviews nya :
mnikki12, jelitutfujoaddict, ayuarmy4, rika
terima kasih juga yang udah follow bahkan favorite cerita ini
dan maaf kalau banyak typonya, karena typo sebagian dari ff ku :D
see ya di next chap
