Heartbeat
EXO Fiction
Characters: Chanyeol, Jongin (Kai), Jongdae, Luhan, Kris and others
Pairing: ChanKai, KrisKai
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Halo ini chapter dua, selamat membaca, maaf atas segala kesalahan, maaf jika updatenya lama, ada yang bisa main wattpad? Ajari saya hehehe. Happy reading all…
Previous
Luhan mendengus. "Kau menguntitnya, aku yakin kau sudah merencanakan pertemuanmu dengan Jongin hari ini." Kris tak menjawab dia hanya menyeringai. "Jangan bermain api aku ingatkan padamu. Jika kau terbakar aku tidak akan datang untuk menolongmu."
"Aku mencintai Jongin."
"Tidak!" tegas Luhan. "Kau terobsesi pada Kyungsoo dan sekarang kau melihat Jongin sebagai Kyungsoo."
Kris menghembuskan napas perlahan, meraih buku di atas meja nakas dan membacanya. "Kau bisa keluar Luhan aku ingin menyelesaikan bukuku hari ini."
"Bangsat!" Luhan mengumpat sebelum melangkah meninggalkan perpustakaan pribadi milik Kris.
BAB DUA
Sisi baik tidak ada teriakan dan omelan sisi buruk jam tidur Jongin berkurang. Setelah mandi dengan malas Jongin menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu. Kesibukan di kedai sudah dimulai, meski kedai belum buka. Nenek dan Ibu mengecek barang, Ayah dan Xiumin membersihkan meja-meja di dalam kedai.
"Jongin pergi ke toko bunga." Perintah Xiumin meski kedua matanya tengah sibuk meneliti daftar barang-barang di gudang penyimpanan.
"Tentu Hyung!" Jongin memekik bersemangat. Dengan langkah panjang-panjang Jongin menuju pintu kedai, ia memutuskan untuk pergi ke toko dengan berjalan kaki. Udara pagi musim panas yang segar sayang untuk dilewatkan. Jongin membuka kunci pintu kemudian menarik salah satu daun pintu ke dalam. "Ah!" terkejut karena seseorang menyodorkan buket bunga putih ke hadapannya.
"Selamat pagi Jongin."
"Ah Kris, kau mengejutkan aku." Jongin tersenyum manis.
"Aku sudah mengambilkan buket mawar putihmu."
"Terima kasih banyak." Cukup canggung Jongin menerima buket mawar putih pemberian Kris. "Aku bawa masuk, terima kasih Kris." Kris tersenyum tipis. Jongin bergegas kembali ke dalam kedai meninggalkan Kris di depan kedai. Ia lantas bergegas ke belakang konter berniat untuk mengganti bunga di dalam vas.
"Biar Ibu yang menata ke dalam vas, ajak temanmu masuk."
"Dia bukan temanku Ibu, kami baru saja kenal."
"Dia sudah baik mengantar buket bunga ke sini. Ajak dia masuk, sarapan sudah siap."
"Ibu mengajak Kris untuk sarapan?"
"Namanya Kris?" Jongin mengangguk pelan. "Ajak dia masuk."
"Baiklah." Jongin menggumam pelan kemudian berjalan meninggalkan konter.
Dari tempatnya berdiri menghadap kedai, Kris bisa melihat dengan jelas Jongin yang kini tengah berjalan menuju pintu kedai. "Masuklah Kris. Ah apa usiamu lebih tua dariku atau lebih muda?"
"Itu tidak penting Jongin, santai saja." Ucap Kris diakhiri dengan senyum tipis menawannya. Kris lantas berjalan di belakang Jongin.
"Hai Kris." Nyonya Kim menyambut kedatangan Kris dengan ramah, keduanya berjabat tangan. "Teman Jongin?"
"Iya Nyonya."
"Sarapan sudah siap, kau ingin mengobrol dengan Jongin?" Kris mengangguk pelan. "Baiklah pilih meja yang kau sukai, Bibi akan datang sebentar lagi dengan sarapan."
"Terima kasih Nyonya, Anda tidak perlu….,"
"Jangan ditolak ibuku tidak suka jika tawaran masakannya ditolak." Potong Jongin. Kris menoleh ke kanan menatap Jongin yang membalas dengan tatapan polos tanpa dosanya.
"Terima kasih Nyonya." Kris berucap sopan.
"Kau tidak keberatan dengan kopi, roti panggang, dan telur setengah matang, Kris?"
"Saya menyukai semua itu."
Nyonya Kim mengangguk dan tersenyum ceria. "Duduklah."
Kris memilih meja di dekat jendela, meja yang sama seperti yang dipilihnya kemarin. Jongin duduk tepat di hadapannya. Kris baru menyadari jika kulit Jongin berwarna kecoklatan. Warna kulit yang mengingatkannya pada orang-orang yang tinggal di pantai California. "Benarkah kau tidak keberatan dengan makanan yang ibuku tawarkan?"
"Tidak, sama sekali tidak. Aku bahkan lebih sering sarapan dengan sereal atau tidak sarapan sama sekali." Kris tersenyum tipis.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku Kris?"
"Hanya ucapan terima kasih. Tindakanmu kemarin—bagaimana mengatakannya ya. Berkesan, ya. Tindakanmu kemarin benar-benar membuatku terkesan. Rasanya sangat sulit bertemu dengan orang baik dan tulus akhir-akhir ini."
Jongin tertawa pelan. "Aku tidak sedang menyelamatkan dunia." Balas Jongin sebelum dia kembali tertawa.
Lelaki di hadapannya tampak kaya, aura uang dan kekuasaan tercium kuat. Memakai jas hitam dengan kemeja putih rapi, dan dasi hitam dengan empat garis putih horizontal, dua di bagian atas dasi, dan dua pada bagian bawah dasi. Sepatu mengkilat, mobil menawan dengan sopir pribadi. Kombinasi mematikan untuk menyuarakan sebuah kemapanan finansial.
Aroma harum roti panggang dan telur dadar tercium jelas membuat Kris dan Jongin menoleh cepat pada sumber aroma itu. Nyonya Kim tersenyum lebar. "Selamat menikmati."
"Terimakasih Nyonya." Kris menundukkan kepalanya singkat.
"Jongin tidak suka kopi jadi dia terbiasa minum teh dengan perasan lemon di pagi hari." Mendengar kalimat ibunya membuat Jongin harus berusaha keras untuk tidak mendesis. Ia merasa ibunya terlalu berlebihan bercerita pada orang asing.
Kris mengangkat cangkir kopinya, menghirup aroma harum kopi yang membuatnya merasa tenang. Berikutnya ia mencicipi rasa kopi di dalam cangkir. Rasa yang pas, manis yang pas. Kris tersenyum lebar. "Ada apa?" Jongin bertanya karena bingung dengan senyum Kris.
"Kopinya nikmat." Ucap Kris.
"Semua makanan dan minuman yang dibuat oleh nenek dan ibuku selalu lezat."
"Aku percaya itu."
Jongin menggigit kecil roti panggang dengan telur sarapannya sedangkan Kris memilih cara yang lebih elegan untuk menikmati sarapannya, menggunakan garpu dan pisau. "Apa yang ingin kau bicarakan, hanya terima kasih saja?"
"Sejujurnya aku ingin berteman denganmu. Apa kau bersedia?"
Kedua bola mata bulat Jongin mengerjap-ngerjap cepat. "Hanya itu saja, kenapa kau terlihat gugup. Mari berteman." Jongin dengan ceria mengulurkan tangan kanannya pada Kris. "Ah maaf." Ucapnya saat menyadari jika tangan kanannya kotor oleh remah roti panggang.
"Mari berteman." Kris menyambut tangan kanan Jongin, membuat sang pemilik tangan terkejut. Senyum lebar menghias wajah keduanya. "Sebenarnya ada hal lain lagi."
"Katakan aku pendengar yang cukup baik."
"Aku kakak Do Kyungsoo." Jongin meletakkan roti panggang di tangannya ke atas piring, keheningan tercipta, Jongin memandangi remah-remah roti panggang pada pinggiran piring. "Dia adik yang sangat baik, aku merindukannya."
Hening sejenak. "Ya, dia pasti orang yang sangat baik." Jongin mengangkat wajahnya menatap kedua mata tajam Kris. "Terima kasih banyak." Ia berucap tulus.
Kris mengangguk pelan. "Itu keinginan Kyungsoo, selalu ingin membantu. Dia menjaga tubuhnya dengan sangat baik berharap saat dia pergi organ tubuhnya bisa didonorkan."
"Itu terwujud." Jongin membalas kalimat Kris dengan nada pilu yang terdengar sangat jelas. "Maaf." Ucapnya sebelum mengalihkan tatapannya dari Kris ke luar kedai. Tangan kiri Jongin menarik beberapa lembar tisu dari kotak tisu di atas meja. "Aku menjadi emosional, maaf. Aku sungguh-sungguh minta maaf."
"Tidak apa-apa Jongin."
Setelah merasa kedua matanya cukup kering Jongin kembali menatap Kris. "Ucapan terima kasih tidak akan cukup untuk semua kebaikan kalian. Aku sungguh-sungguh berterimakasih untukmu dan seluruh keluargamu. Kalian memberiku kesempatan kedua untuk hidup."
"Kyungsoo pasti sangat bahagia di sana." Kris berucap pelan. Jongin tersenyum tipis. Keduanya bertatapan selama beberap detik melempar senyum dan kembali menikmati sarapan yang sempat tertunda. Kris sesekali menatap Jongin namun pemuda di hadapannya itu terlihat tak inginmemulai suatu pembicaraan. Kris memutar otaknya cepat, keakraban terjalin karena topik bicara yang menarik, begitukan? "Hmmm, Jongin."
"Ya?" Jongin mengangkat wajahnya menatap Kris penuh perhatian.
"Kapan kedai kalian buka?"
"Satu jam lagi."
"Hmmm. Apa semuanya berjalan dengan baik?" kening Jongin mengkerut, Kris tersenyum ia paham jika Jongin tak begitu mengerti dengan pertanyaannya. "Maksudku kedai teh di tengah banyak kafe kopi, apa semuanya baik?"
"Oh." Jongin menjawab singkat kemudian tertawa pelan. "Ya, sejauh ini semuanya baik-baik saja."
"Bisnis keluarga?" Jongin mengangguk pelan. "Semua pemasukan keluarga kalian dari sini?" Kris melihat dahi Jongin kembali mengkerut. "Maaf." Ia berucap cepat sedikit semas jika pertanyannya menyinggung perasaan Jongin.
"Bisnis keluarga namun bukan satu-satunya pemasukan, Ayahku bekerja di kantor."
"Dimana? Maaf aku tidak memaksamu untuk menjawab."
"Park entertainment."
"Ah." Kris menjawab singkat. Berharap agar ekspresi wajahnya tak menunjukan ketidaksukaan dengan jelas. "Park entertainment?"
"Ya ayahku memegang satu acara." Jongin tersenyum di akhir kalimat. "Kau boleh tinggal, aku harus membantu membuka kedai."
"Jika aku menunggu apa kau bersedia untuk mengobrol lagi denganku?" Kris menunggu jawaban Jongin. Denting vas bunga yang ditaruh di atas meja tamu terdengar nyaring. Menunggu.
"Maaf tapi aku harus bekerja. Setelah jam kerjaku selesai aku bisa mengobrol." Jongin menjawab, memberi penawaran terbaik.
"Kapan kau selesai bekerja?"
"Tujuh malam."
"Selama itu?"
Jongin tersenyum. "Aku karyawan di sini."
Kris menahan diri untuk tidak mengatakan apa-apa. Ia mudah aja memberi gaji kepada Jongin atau bahkan membeli kedai teh milik keluarga Kim. "Baiklah aku akan kembali pukul tujuh malam." Jongin ingin menolak, entahlah ia hanya merasa sangat aneh kenapa Kris begitu ingin berbicara dengan dirinya tapi dirinya sendiri yang menyanggupi untuk menjadi teman.
"Maaf jika aku membuatmu tidak nyaman Jongin. Aku hanya butuh teman untuk berbicara, aku tidak pernah memiliki teman yang bisa aku ajak bicara dan aku akan meninggalkan Korea besok." Itu adalah kalimat terpanjang yang Kris sebutkan. Dia hanya ingin lebih dekat dengan Jongin setiap detiknya, mengarang dan berbohong bukanlah hal yang besar. Jongin mengangguk pelan, Kris hampir bersorak merayakan kemenangan. "Baiklah aku akan kembali nanti, sampai jumpa Jongin."
"Sampai jumpa Kris." Jongin tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Kris sebelum lelaki tinggi itu mendorong pintu dan melangkah keluar.
"Biar Ibu yang membersihkan meja, Jongin bantu nenekmu mengecek barang di gudang." Jongin mengangguk pelan, iapun berjalan menuju belakang kedai dan berpapasan dengan sang kakak.
"Hanya perasaanku atau…," Xiumin menggantung kalimatnya. Jongin memberi perhatian penuh kepada sang kakak intuisi Xiumin cukup tajam jadi sedikit banyak Jongin akan mendengarkan nasihat dari sang kakak.
"Apa?" Jongin menuntut sang kakak untuk melanjutkan kalimatnya.
"Kris tertarik denganmu hanya saja…," Xiumin menggantung kalimat untuk yang kedua kalinya. "Sudahlah, aku sendiri juga tidak yakin." Kening Jongin berkerut namun sang kakak sudah lebih dulu melanjutkan kegiatannya membersihkan meja kasir dengan kain lap empuk warna cokelat tua. Jonginpun memilih untuk bergegas ke ruang penyimpanan.
Aroma harum yang khas menyapa penciuman Jongin, ia tersenyum melihat sang nenek berdiri di tengah ruangan dengan buku catatan pada tangan kanan beliau. Terlihat sibuk dengan cara klasik. "Ibu menyuruhku untuk membantu Nenek."
"Sudah hampir selesai Jongin, duduklah."
"Aku ingin membantu." Jongin bersikeras.
"Sudah hampir selesai dan Nenek rasa hanya mahkota mawar yang belum datang."
"Hmmm." Jongin menggumam namun ia melangkah cepat menghampiri sang nenek, ia tidak mau rugi setelah msuk ke dalam gudang penyimpanan. Sayang ketergesaan Jongin membuat tangan kirinya tak sengaja mendorong tumpukan kotak cangkir baru. PRANG! PRANG! PRANG! Kotak teratas jatuh, setengah lusin cangkir terhempas ke atas lantai. Nenek Kim menoleh ke belakang, Jongin melempar tatapan canggung. "Maaf." Ia berucap singkat.
"Keluarlah Sayang, dan suru ibumu kemari dengan alat pembersih." Nenek Kim berucap lembut. Jongin mengangguk pelan tatapan penyesalan nampak pada kedua matanya tanpa melawan Jongin melangkah keluar.
"Hei, kau sudah selesai membantu Nenek di gudang?" secara kebetulan Jongin langsung berpapasan dengan sang ibu. Ia mengangguk lemah. "Ada apa?"
"Sedikit kacau Nenek menyuruh Ibu untuk ke gudang dengan peralatan bersih-bersih dan mahkota mawar yang belum tiba, itu yang Nenek katakan tentang barang-barang di gudang penyimpanan."
Nyonya Kim hanya tersenyum kemudian mengacak puncak kepala Jongin dengan gemas. "Temani kakakmu, pelanggan belum berdatangan kalian mungkin bisa menghabiskan waktu menunggu dengan mengobrol."
"Hmmm." Jongin berucap pelan.
Xiumin duduk di belakang konter, majalah yang membahas tentang dekorasi rumah dan bangunan sedang ia baca dengan serius. Kedua matanya yang sudah sipit semakin menyipit, kening berkerut dengan bibir sedikit mengerucut. Benar-benar dalam mode serius. Perlahan Jongin mendekati sang kakak tidak duduk di samping sang kakak melainkan duduk di hadapan Xiumin dengan konter kasir sebagai pemisah di antara mereka.
"Hyung." Xiumin tak bergeming. "Sekarang bagaimana aku bisa bekerja di sini setelah kekacauan yang aku lakukan."
"Hmmm?" berhasil akhirnya Xiumin menurunkan majalah yang sedang ia baca. "Memang kekacauan seperti apa yang kau lakukan?"
"Memecahkan setengah lusin gelas di gudang penyimpanan."
"Nenek akan memaafkanmu." Xiumin menjawab dengan santai, iapun melanjutkan kegiatannya membaca majalah dekorasi dan bangunan.
"Kenapa semua orang selalu melepaskan aku dengan mudah." Jongin tidak bisa mencegah dirinya untuk mengeluh. "Apa karena aku…,"
"Jongin bisakah kau mengambilkan air putih dingin untukku." Sengaja sekali Xiumin memotong kalimat sang adik.
"Baiklah." Jongin berdiri dari kursi yang ia duduki berjalan menghampiri lemari pendingin berpintu kaca, menarik salah satu botol air mineral dari sana. Iapun melangkah kembali ke konter. "Ini Hyung."
"Terima kasih Jongin." Balas Xiumin dibarengi senyuman manisnya.
Saat jam makan siang kedai teh mulai ramai, musik dari para penyanyi yang sedang naik daun diputar di dalam kedai. Seluruh kipas angin di dalam kedai dinyalakan menimbulkan dengung berisik yang dengan cara aneh akrab di telinga. Pengunjung tersebar di dalam kedai mengobrol akrab dengan teman mereka, membaca koran, membaca buku, memainkan ponsel mereka, atau sekedar duduk diam menikmati hidangan.
"Haaahhh…," Jongin menghembuskan napas lega sambil menyeka dahinya yang berkeringat menggunakan kain lap.
"Jongin!" Xiumin memprotes pelan tindakan sang adik.
"Kenapa?" Jongin melempar tatapan bingung. "Kain lapnya kan bersih."
"Ada tisu." Jongin hanya tertawa pelan menanggapi kekesalan sang kakak, Xiumin menahan diri untuk tidak memukul lengan atau punggung adiknya yang menyebalkan itu. "Jadi?" Xiumin mengalihkan topik pembicaraan agar tak lagi merasa kesal.
"Apa Hyung?" Jongin tidak mengerti dengan maksud kalimat Xiumin.
"Yang paling laku hari ini?"
"Agar-agar buah dan teh oolong."
"Apa semua orang ingin menurunkan berat badan mereka?"
"Apa?" Xiumin mendengus iapun menyentil kening sang adik pelan. "Hyuuuuung." Jongin memprotes tindakan sang kakak.
"Teh oolong dipercaya bisa meluruhkan lemak bacalah lebih banyak catatan Nenek."
"Teh hijau yang lebih populer." Jongin memberi tatapan sengit kepada sang kakak percaya diri dengan pengetahuannya.
"Terserah." Xiumin mengibaskan tangan kanannya Jongin menjulurkan lidahnya sebelum berjalan pergi menghampiri lemari pendingin untuk mengambil air mineral.
.
.
.
"Jongin Kris menunggumu di bawah."
"Hah?" Jongin menatap sang kakak dengan tak berkedip.
"Aku sudah memberitahunya jika kau sedang mandi, dia menunggu di luar kedai. Apa kau membuat janji temu dengannya?"
Jongin nampak ragu namun pada akhirnya iapun mengangguk. "Ya, tapi aku tidak menyangka jika dia benar-benar datang."
"Kau sudah berjanji, temui dia." Xiumin melihat wajah sang adik yang nampak enggan. "Keluarga kita selalu menepati janji dan berlaku jujur."
"Iya!" dengus Jongin malas mendengar ceramah sang kakak. "Aku turun sekarang."
Kaos lengan pendek berwarna biru tua dan jins dengan warna biru yang lebih muda melekat pas pada tubuh Jongin, ia menuruni satu persatu anak tangga. Kedai sudah tutup, namun Jongin melihat punggung Kris yang berdiri dalam posisi membelakangi pintu kedai dengan jelas dari tempatnya berdiri. Jongin mendorong pintu kedai, pintu kedai akan dikunci setelah pukul sepuluh malam. "Kris."
Kris memutar tubuhnya dengan cepat mendengar namanya di panggil. Krispun tersenyum melihat siapa yang muncul. "Hai Jongin, apa aku mengganggu?"
"Aku sudah berjanji." Jongin berucap lembut diikuti senyuman di akhir kalimat.
"Masuk?" tawar Jongin.
Kris menggeleng pelan. "Aku ingin jalan-jalan sebentar, apa kau mau menemaniku? Hanya sebentar." Kris melihat raut keraguan tercetak jelas pada wajah Jongin. "Tidak akan jauh Jongin, jalan-jalan dalam artian yang sebenarnya. Menggunakan kaki, tidak dengan mobil."
"Ahhhh….," Jongin terlihat lega. "Ayo." Jongin menjawab dengan bersemangat.
"Aku tidak terlalu mengenal daerah di sekitar kedai tehmu."
"Aku akan menjadi pemandu wisatamu malam ini."
Aku tidak keberatan kau menjadi sesuatu yang lebih malam ini Kim Jongin, sungguh aku tidak merasa keberatan. Kris berucap dalam hati. "Kris ayo!" Jongin mengajak dengan antusias, Krispun mengangguk pelan dan mengikuti langkah kaki Jongin. "Di depan kedai teh ku ada toko pakaian dan berderet toko pakaian lain, belo ke kiri ada toko kue, toko bunga milik Yesung hyung kalau kau berbelok ke kanan dari kedai di sana ada toko pakaian lagi, toko keramik, swalayan, toko perhiasan, toko tas, restoran, kafe yang menjual kopi."
Kris mendengar dengan seksama seluruh kalimat yang Jongin ucapkan bahkan ia tahu jika Jongin sedikit tidak suka kala mengatakan kafe yang menjual kopi. "Apa kafe yang menjual kopi itu menurunkan pengunjung kedai tehmu?"
"Tidak, ah aku tidak tahu. Hanya saja….," Jongin enggan meneruskan kalimat.
"Hanya apa?"
"Beberapa orang meledek kedai kami, itu saja sudahlah tidak perlu dibahas lagi."
"Hmmm." Kris menggumam pelan, terlihat tak terpengaruh dengan kalimat Jongin padahal di dalam hati dia berjanji akan memberi pelajaran siapapun yang mengejek Jongin, keluarga Jongin, dan kedai teh mereka.
"Kris mau membeli camilan?"
"Tentu."
"Kau ingin apa? Es krim?"
"Aku tidak terlalu menyukai makanan manis."
"Ah." Jongin melempar tatapan kecewa.
"Tapi tidak ada salahnya dicoba."
"Bagus ayo! Aku tau tempat yang menjual es krim enak!" Jongin berseru antusias tanpa sadar ia menggenggam tangan kanan Kris dan menarik laki-laki jangkung itu untuk mengikutinya.
Kris tidak begitu suka dengan es krim, Kris tidak begitu suka dengan makanan manis. Namun, bersama Jongin ia tak keberatan untuk mencoba sesuatu di luar kebiasaannya. Membeli es serut murah dengan siraman sirup stroberi berwarna merah di atasnya, duduk di bangku depan salah satu toko topi. "Aku akan pergi ke Jepang selama tiga hari atau paling lama satu minggu."
"Jepang?" Jongin menoleh ke kanan cepat menatap Kris.
Kris mengangguk pelan. "Ya, Jepang. Kenapa Jongin? Ada yang aneh dengan Jepang?"
"Tidak!" Jongin memekik cepat ia tidak ingin Kris salah paham, mereka belum kenal dekat dan itu membuat Jongin salah bicara. "Negara yang hebat."
"Hmmm." Kris hanya menggumam, Jongin gelagapan ia semakin cemas salah bicara.
"Aku suka anime, aku suka sakura saat mekar, aku suka pesta kembang api di musim panas dan….,"
"Bukankah Korea juga memiliki semua itu?" tatapan Kris membuat Jongin mati kutu. Kedua mata bulat Jongin mengerjap-ngerjap cepat, ia tidak bisa memutar otaknya untuk memberi jawaban. Raut wajah Kris terlihat bosan dengan topik perbicangan yang sedang berlangsung. Keheningan menggantung selama beberapa detik hingaa…., "Hei." Kris menyapa Jongin, senyum lebar menghiasi wajah tampannya dan jangan lupakan tangan kiri Kris yang menyentil pelan dahi Jongin. "Kenapa kau terlihat tegang, aku tidak akan mengejekmu karena kau menyukai Jepang."
"Ahhhh….," wajah Jongin langsung terlihat tenang.
"Pernah ke Jepang?" Jongin menggeleng pelan. "Ah benarkah? Kurasa keluargamu mampu untuk pergi ke Jepang."
"Aku ingin pergi ke Jepang suatu saat aku akan mengunjungi Negara itu." Jongin berucap antusias.
"Kau belum menjawab pertanyaanku tentang kenapa kau tidak pergi ke Jepang."
"Itu karena…., karena belum ada waktu yang pas saja."
Kris mengangguk-angguk pelan, tak mengatakan apa-apa. Dia menikmati es serutnya dengan tenang. Tentu saja Kris sudah tau apa yang membuat Jongin tidak bisa pergi ke Jepang atau ke tempat lain, dan bahkan ke seluruh Seoul. "Kau suka topi?"
"Apa?!" Terlihat jelas jika Jongin terkejut dengan pertanyaan Kris.
"Kau suka topi?" Kris dengan sabar mengulangi pertanyaannya.
Topi. Tentu saja Jongin sangat menyukai topi, namun ia tidak ingin mengatakan semua hal yang ia suka atau ia benci pada seseorang yang bahkan belum genap satu minggu dikenalnya. "Aku tidak terlalu suka."
Jawaban Jongin hampir saja membuat wadah es serut yang ada di tangan kiri Kris remuk. Sungguh, Kris tidak menyukai penolakan. Seorang Kris Wu benci dengan penolakan. "Baiklah sudah malam Jongin, sebaiknya aku mengantarmu pulang."
Wajah Jongin terlihat bingung namun ia tak menolak dan berdiri dari bangku yang didudukinya. Keduanya berjalan beriringan, Jongin merasa canggung, entahlah, sulit dijelaskan, seluruh tubuh Kris menguarkan aura kecanggungan yang kental. Angin malam berhembus cukup kuat. Dengan es serut masih berada di dalam mulutnya, Jongin menggigil menggosokaan tangan kirinya yang bebas dari memegang wadah es serut pada lengan kanannya.
"Dingin?" Kris bertanya singkat.
"Ya, tapi aku tidak apa-apa dengan….," kalimat Jongin menggantung begitu saja. Kris melepaskan jas hitamnya. Suara gesekan lembut dari kain jas dengan kain kemeja. Bunyi desir bahan jas dan kemeja itu terdengar mahal. "Kris." Jongin menyebut nama Kris semakin canggung. Jas hitam Kris membuat tubuhnya terasa hangat. Tatapan Kris kaku. "Terima kasih Kris." Ucapnya, Kris tersenyum tipis selama beberapa detik.
"Kau bisa berdiri di dekatku jika masih dingin." Jongin tertawa pelan tak berapa lama diikuti oleh Kris. Semuanya butuh proses, Kris akan bersabar untuk mendekati Jongin. Pelan namun pasti Jongin akan menjadi miliknya. Milik Kris Wu bukan milik yang lain.
TBC
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah bersedia membaca cerita saya yang lagi-lagi aneh. Terima kasih review kalian njongah, juneeya100, jjong86, cute, Kim762, firstkai94, bottomjongin, thedolpinduck, babyblackbear, firstkai94, KeepBeef, jsarc, Kim Jongin Kai, YooKey1314, laxyvords, hunkailovers, ulfah cuittybeams, blackbearvampire, steffifebri, tobanga garry, ismi ryeosomnia, LulluBee, Putri836, Oh Kins, aNOnime9095, Ovieee, Lyn Monica, calista94, KaiNieris, vintinn, ohKim9488, kanzujackson jk, geash, ParkJitta, SparkyuELF137, Park Rinhyun Uchiha, hnana, hunexohan, sejin kimkai, msdnht, vivikim406. Sekali lagi terima kasih sampai jumpa di chapter selanjutnya.
