Makhluk hijau kerdil itu terus mengomel dengan wajah lelah. Matanya setengah terpejam dan langkahnya gontai nyaris kehabisan tenaga. Ditangannya, Nintojo yang biasa ia gunakan sebagai senjata sekarang diperlakukan tak lebih dari sebagai tongkat penyangga tubuh.
"Sess- Sesshomaru-sama," keluhnya dengan nada sedih. "Mengapa anda kejam sekali meninggalkan Jaken di sini?"
Sudah hampir tigapuluh menit lamanya sejak Sesshomaru membawa pergi mayat InuYasha bersamanya. Agaknya, saat ini kondisi adik tiri dari sang tuan lebih penting sampai-sampai sang daiyoukai lupa untuk membawa serta pelayan setianya. Jaken sendiri tidak tahu kemana tuannya pergi - baunya sudah menghilang bersama angin sehingga tidak dapat dilacak.
Saat ini, yang amat dibutuhkannya adalah tempat bernaung untuk istirahat hingga sang tuan kembali. Ia tahu kemana harus pergi, namun kedua kaki pendeknya terlalu lelah untuk melangkah. Ia butuh kendaraan.
Sesuatu menggeram.
Ah-Un!
Naga berkepala dua berada 2 meter jauhnya dari Jaken, masih berada di tempat di mana Sesshomaru meninggalkannya tadi. Makhluk itu menatap sang siluman kodok dengan bingung. Kemana tuannya pergi? Kenapa hanya si pelayan yang kembali?
"Ah-Un!"
Belum pernah rasanya Jaken sebahagia ini melihat peliharaan kesayangan tuannya. Ia berlari sambil memeluk kaki naga itu dengan tangisan bahagia. "Akhirnya ... aku bisa pergi ke desa."
.
.
An InuYasha Fanfic
An Emotionless Concern
Chapter 2 : A Plan
InuYasha belongs to Rumiko Takahashi
don't like, don't read
.
.
Sang siluman anjing terbang cepat melintasi langit malam yang gelap. Matanya terus fokus menatap ke depan sementara kedua lengannya masih terus merangkul tubuh hanyou yang sudah tak bernyawa dengan sikap protective.
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali Sesshomaru mengunjungi ibunya. Itu saat ia meminta jawaban mengenai kekuatan Tenseiga dan Meidou Zangetsuha. Pengalaman terakhir bertemu ibunya nyaris meninggalkan kenangan yang buruk saat anak asuhnya - Rin - mati demi keegoisannya semata mencari kekuatan. Sang ratu penguasa istana langit itu memang sulit ditebak jalan pikirannya - itulah salah satu alasan mengapa Sesshomaru menjauhi ibunya sebisa mungkin. Ia bahkan tak pernah lagi pulang ke sana dan tetap memilih hidup nomaden di hutan.
Namun kini, ia akan kembali ke rumah ibunya. Demi InuYasha ... tidak, demi kehormatan garis keturunan ayahandanya. Jangan sampai satupun keturunan sang Inu no Taisho mati dengan cara yang memalukan.
Biasanya, butuh waktu berhari-hari untuk melacak keberadaan istana langit. Namun ingatan Sesshomaru masih amat tajam mengenai lokasi istana itu walau tiga tahun sudah berlalu. Jika ia mempertahankan kecepatan terbangnya, ia akan sampai di sana sebelum matahari terbit.
Tiba-tiba, sebuah pikiran menyentaknya. Apakah ibunya akan bersedia menolong InuYasha? Anak dari wanita manusia yang sudah merebut cinta suaminya?
Hmph, konyol. Ia yakin ibunya memiliki harga diri tinggi untuk tidak mencampur adukkan masalah pribadi dengan kewajibannya sebagai penjaga batu meidou.
Sesshomaru mempercepat laju terbangnya, cengkramannya pada tubuh InuYasha semakin erat. Saat jemarinya menyentuh leher sang adik yang semakin dingin, ia merasa waktunya tidak banyak, seolah-olah waktu pada jam pasir akan segera habis.
.
.
.
"Kagome-san?" suara seorang gadis cilik memanggilnya.
Yang dipanggil segera menoleh. Rin mengucek matanya. Tampaknya ia baru saja terbangun.
"Rin-chan?" tanya Kagome. "Kenapa kau tidak kembali tidur?"
Si gadis cilik mendekati Kagome yang sedang duduk di teras depan pondok. "Aku harus terus menjaja Kaede-sama."
Kagome tersenyum lirih. "Maaf, ya Rin-chan. Aku malah membiarkanmu menjaga Kaede sendirian di dalam."
"Tidak apa-apa," Rin balas tersenyum penuh pengertian. Agaknya, sifat kedua gadis itu sama persis sehingga tak sulit untuk saling mengerti. "Apa InuYasha-san masih belum kembali?"
Kagome menggeleng dengan sedih. Matanya menatap ke bawah tanah, menyembunyikan ekspresi khawatirnya.
"Jangan khawatir, InuYasha-san pasti akan segera kembali."
Kagome memasang senyum palsu. "Kau benar." Kemudia kembali termenung. 'Tapi ini sudah terlalu lama,' pikirnya. Airmata yang tiba-tiba mengalir tadi kembali membayanginya. 'Apakah sesuatu terjadi padamu, InuYasha?'
Agak lama kedua gadis itu duduk dengan kaki berselonjor di teras hingga mata Rin menangkap sesuatu dari balik pohon agak jauh darinya.
"Ah, itu!" Gadis kecil itu berdiri dengan wajah riang sambil menunjuk ke depan. Kagome menatap ke arah yang sama. "Jaken-sama!"
Sang siluman kodok tak kalah bahagia melihat gadis kecil yang pernah menemani perjalanan tuannya. Ia turun dari Ah-Un. "Rin!"
Rin berlari ke depan memeluk makhluk hijau itu. "Jaken-sama, Rin amat rindu dengan Jaken-sama." Kemudian tatapanya berpindah pada naga berkepala dua. "Ah-Un, kau sehat-sehat saja, kan?" Tangannya mengelus pipi salah satu kepala naga, yang mana membalasnya dengan sebuah raungan lembut.
Kagome membungkukkan badan agar lebih nyaman berbicara dengan Jaken. "Sesshomaru tidak bersamamu? Aku tidak melihat dia di sini."
"Ah, benar," Rin menyadari sesuatu. "Sesshomaru-sama tidak ada."
Mendengar nama itu, wajah bahagia Jaken kembali menjadi murung. Ia memalingkan wajah, menghindari tatapan kedua gadis itu.
"Dia ... Sesshomaru-sama ... sedang pergi," jawabnya pelan.
"Kemana?" Rin memburunya dengan pertanyaan.
Jaken melirik ke arah Kagome. Gawat, bagaimana ini? Apakah ia sebaiknya memberitahukan hal yang sebenarnya pada mereka? Bahwa InuYasha sudah mati dan sekarang tubuhnya sedang dibawa pergi oleh tuannya, entah untuk diapakan. "Uhm ... itu -," ucapannya terbata-bata karena ragu, "sebenarnya tadi -"
"Jaken-sama, kau baik-baik saja?" Rin memiringkan kepalanya, mengamati wajah si siluman. "Warna hijaumu jadi pucat."
Jaken biasanya akan marah jika Rin mengomentari hal-hal yang berhubungan dengan fisiknya. Namun tidak kali ini. Walau seorang siluman, namun ia tahu bagaimana perasaan seorang manusia jika mendengar kabar duka mengenai seseorang yang amat dicintai.
"Ngng ...sebenarnya tadi, Sesshomaru-sama sedang pergi bersama InuYasha."
Mendengar informasi itu, mata Kagome membesar. "Hah? Benarkah itu?" Ia berjongkok dan mengguncang bahu Jaken. "Mengapa InuYasha bisa bersama Sesshomaru?" tanyanya panik. "Apakah mereka bertarung lagi? Apakah InuYasha baik-baik saja?"
Jaken merasakan perutnya mual akibat guncangan dari Kagome. "InuYasha sudah mati," jawabnya singkat.
Guncangan pada bahunya berhenti, cengkraman tangan Kagome melemah, wajahnya pucat. Apakah ia salah dengar tadi? Ini pasti bohong. Jaken hanya sedang mempermainkannya.
"Jaken-sama, kau tidak boleh berbicara seperti itu." Rin menasehatinya dengan wajah polos.
Air mata yang mengalir tanpa alasan tadi ... apakah itu sebuah firasat?
"Aku mengatakan yang sebenarnya!" seru Jaken, kesal karena ucapannya malah ditanggapi santai. "Ia mati dalam keadaan menjadi manusia. Dasar bodoh," sang siluman kodok kembali ke sifatnya yang cerewet. "Padahal seharusnya ia tahu malam ini berbahaya, mengapa ia tidak tinggal di rumah saja, sih."
Itu benar. Seharusnya ia mencegah InuYasha pergi keluar.
"Ne, Jaken-sama pasti sedang berbohong, kan?" Sekarang, giliran Rin yang mengguncang-guncang bahunya. "InuYasha-san tidak mungkin mati, kan? Sesshomaru-sama tidak akan membunuhnya."
InuYasha mati ... Kagome merasakan kepalanya berputar.
"Dasar kurang aja! Mana mungkin Sesshomaru-sama membunuh InuYasha!"
InuYasha mati ... Telinga miko muda itu berdengung, tak dapat mendengar apapun.
"Apa?"
"Aku dan Sesshomaru-sama sudah menemukannya dalam keadaan mati dicabik-cabik oleh seekor siluma raksasa di hutan."
InuYasha mati ... Dunia terasa berputr begitu cepat, meninggalkan dirinya dan benaknya yang melemah.
"Tidak mungkin."
"Itu benar," Jaken memejamkan matanya, ia memegang nintonjo dengan erat. "Sesshomaru sama bermaksud menghidupkan kembali InuYasha dengan Tenseiga, tapi entah mengapa sepertinya tidak terjadi apapun. Sekarang Sesshomaru-sama sedang membawa adiknya pergi ke suatu tempat dan -"
BUUK!
Suara benda terjatuh terdengar. Rin dan Jaken berbarengan menoleh dengan terkejut.
Kagome jatuh pingsan.
.
.
Sang ratu siluman anjing penguasa istana langit duduk dengan anggun dan elegan di atas tahtanya. Sebuah senyuman kecil menghiasi wajahnya yang tenang. Ia tahu bau familiar yang sedang mendekat ke arahnya. Putra tunggalnya kembali datang menemuinya. Bukan untuk melepas kerinduan, tentunya. Sejak dulu, ia menganggap anaknya tidak tahu diri - hanya mengunjugi orangtuanya jika sedang butuh bantuan. Mungkin itu juga sebab mengapa mendiang suaminya tidak mempercayakan pedang Tessaiga pada anak mereka.
Bau yang lain ikut mendekat ke arahnya. Sepertinya Sesshomaru tidak datang sendirian. Namun bau yang ini agak aneh. Ini bukan bau dari salah satu pengikut anaknya. Ini bau mayat - mayat seorang manusia.
Oh, bagus. Apakah Sesshomaru datang membawa oleh-oleh untuknya? Seharusnya ia tahu ibunya tidak suka makan manusia.
Bau itu semakin mendekat. Bersamaan dengan tubuh Sesshomaru yang muncul perlahan menaiki anak tangga teratas, sang ibunda ratu tak dapat menyembunyikan rasa kagetnya.
Apa yang ia lihat ini? Putra kesayangannya datang dengan membawa mayat pria muda dalam pelukannya. Dilihat dari cara Sesshomaru memegang mayat itu, ia yakin mayat itu bukan untuk di makan.
"Lihatlah keadaanmu, Sesshomaru," Belum apa-apa, sang ratu sudah menyambut kedatangan anaknya dengan kata-kata sindiran. "Pertama kau membawa dua anak manusia. Dan sekarang mayat yang darahnya bahkan sudah mengotori pakaianmu."
Sesshomaru tampak tak memedulikan ucapan ibunya. "Aku ingin kau menghidupkanya," pintanya dengan nada datar, sedikit memerintah.
Ibunya sedikit menggeleng, tak paham dengan sifat anaknya. Ia tahu hati Sesshomaru sudah menjadi lebih baik sejak kejadian tiga tahun yang lalu setelah ia mendapatkan pelajaran untuk menghargai tiap kehidupan seseorang. Namun, apa yang dilakukannya kali ini malah terlalu baik. Ia tak menduga anaknya akan datang padanya dengan sebuah permintaan untuk menghidupkan satu mayat manusia. Ini seperti kau meminta orangtuamu untuk memperbaiki mainan rusak yang kau temukan di tengah jalan. Cukup mustahil untuk dilakukan seorang Sesshomaru, namun kenyataanya, itulah yang dilakukan anaknya.
Sang ratu menghela napas kecil. Ia tak akan menolak permintaan anaknya. "Baiklah, baringkan ia di sana."
Sesshomaru perlahan membaringkan tubuh InuYasha di kursi tahta panjang milik ibunya, mengatur kedua lengan dan kaki adiknya berada lurus sejajar dengan tubuhnya.
Sang ratu duduk di tepi kursi, sejajar dengan kepala InuYasha. Tangan kanannya dengan lembut menyingkap rambut dari wajahnya agar bisa melihat dengan jelas rupa dari sang mayat.
"Hm, dia cukup tampan dan menggemaskan," komentar sang ratu. "Apa itu sebabnya kau merasa sayang untuk membiarkannya mati?"
"Dia adalah anak kedua ayah," ucap Sesshomaru. Jawaban itu sudah lebih dari cukup untuk menjawab pertanyaan ibunya. "InuYasha."
"Oh," hanya itu respon sang ratu. Belum pernah sebelumnya ia melihat putra kedua suaminya. Ia kembali membelai rambut hitam InuYasha. "Aku tak tahu kau begitu peduli pada adik tirimu. Kukira kau amat membencinya."
"Aku ingin dia diselamatkan." Sesshomaru sama sekali tak menampik komentar ibunya barusan.
Mata sang ratu masih tak lepas dari memandangi wajah InuYasha. Diam-diam, ia merasakan keinginan agar anak kedua suaminya tetap hidup. "Jika hanya untuk menghidupkannya, bukankah kau sendiri bisa melakukannya?"
Sesshomaru mencabut Tenseiga dari sarungnya. "Pedang ini tidak berguna," jawabnya singkat. "Tenseiga tak mampu menyelamatkannya."
Sang ratu menoleh ke arah anaknya yang sedang memegang pedang penyembuh. "Kau tahu kenapa alasannya?" tanyanya.
"Entahlah," Sesshomaru kembali menyarungkan Tenseiga ke tempatnya. "Aku menduga InuYasha pernah diselamatkan sebelumnya oleh Tenseiga."
Sang ratu tertawa kecil. "Kau salah," ucapnya. Ia berdiri dan berjalan dengan anggung kembali duduk di atas tahtanya. "Dia belum pernah diselamatkan oleh Tenseiga sebelumnya."
Entah darimana ibunya tahu bahwa InuYasha belum pernah diselamatkan Tenseiga sebelumnya, namun jika itu yang dikatakan ibunya, berarti itulah kebenarannya. Lantas, mengapa Tenseiga tidak dapat menyelamatkan adiknya? Sama seperti waktu Tenseiga tak dapat menyelamatkan Rin untuk kedua kalinya di dalam dunia akhirat.
"Apa kau ingin tahu mengapa pedangmu sama sekali tak berguna untuk adikmu?" tanya ibunya. Sesshomaru tak menjawab, namun sorot matanya sudah cukup sebagai bukti rasa penasarannya. "Itu karena Tenseiga sendiri menolak untuk menyelamatkannya."
Ada jeda sebentar.
Tenseiga menolak untuk menyelamatkan InuYasha? Mustahil. Mengapa? Apa alasannya? Tenseiga tidak pernah menolak siapapun sebelumnya, kecuali Kagura. Itupun karena tubuh gadis siluman itu sudah hancur dan memang tak dapat diselamatkan.
Apa yang sebenarnya sedang terjadi?
"Mengapa?" tanya Sesshomaru singkat.
"Mana kutahu, mungkin ini berhubungan dengan hatimu."
Hatiku? Apa maksudnya?
Apakah ini artinya InuYasha benar-benar mati? Memalukan. Mana bisa ia membiarkannya mati di tangan siluman lemah. Suatu saat, mungkin akan tersiar kabar bahwa darah Inu no Taisho, siluman besar penguasa dataran barat, telah dapat dikalahkan dengan mudah oleh siluman rendahan.
"Katakan, Sesshomaru," kata ibunya. "Apakah kau datang mengunjungiku hanya untuk menyelamatkan hanyou ini?"
"Aku tak akan menginjakkan kakiku ke sini jika bukan karena itu."
Jawaban yang benar-benar jelas. Dengan nada tanpa keraguan pula.
"Kalau begitu akan kukatakan; 'Aku juga tak dapat menyelamatkannya seperti waktu aku menyelamatkan gadis kecilmu'."
Sesshomaru sedikit menyipitkan mata dengan curiga. "Apa maksudmu, Ibu?"
"Sama seperti pedang Tenseiga, batu meidouku hanya bisa digunakan sekali untuk menyelamatkan nyawa seseorang."
"Maksudmu InuYasha sudah tidak memiliki harapan lagi untuk hidup?"
"Oh, aku tidak berkata seperti itu. Apakah aku merasa kau benar-benar menginginkannya tetap hidup?"
"Jawabanku sudah jelas."
"Nah, kalau begitu," sang ratu bangkit dari tahtanya, "maukah kau kuberitahu satu cara untuk menghidupkannya kembali?" Ibunya bertanya lagi, seperti sedang menguji keyakinan anaknya.
"Apa kau bisa menyelamatkannya?"
"Bukan aku," koreksi ibunya. Tangan sang ratu menunjukkan batu meido kepada Sesshomaru. "Tapi kau. Kau lah yang akan menyelamatkannya."
Batu meidou itu, pikir Sesshomaru. Batu yang dapat membuka portal ke dunia akhirat. Kenangan mengerikan saat mengira ia akan kehilangan Rin untuk selamanya kembali membayangi pikirannya. Selain dengan ibunya, ia juga memiliki kenangan buruk berada di dunia akhirat.
"Rencana apa yang sedang kau persiapkan untuk Sesshomaru ini?"
"Oh, anak kandungku sendiri sedang meragukanku." Sang ratu berpura-pura memasang raut wajah kecewa. "Ini sungguh menyedihkan."
Namun Sesshomaru sama sekali tak menggubris sikap ibunya. "Segera beritahu apa yang harus Sesshomaru ini lakukan," ucapnya dengan penuh kesiapan.
"Oh, jadi kau benar-benar yakin mau melakukan apapun untuk adikmu?" Sang ratu kembali ke sikapnya yang tenang. "Sepertinya kau sudah menjadi kakak yang baik."
Sang ratu melepas kalung batu meidou miliknya dan mengangkatnya tinggi. Seketika, sebuah portal besar berwarna hitam terbentuk di antara Sesshomaru dan ibunya.
"Dengar Sesshomaru," ucap ibunya. "Batu meidou ini dapat membuka gerbang menuju dunia akhirat hanya sekali. Sebisa mungkin, aku akan membuka gerbang ini terbuka lebih lama. Namun jika kau terlambat sedikit saja, kau akan terjebak selamanya di sana."
Sesshomaru tak menjawab, perhatiannya hanya pada portal di hadapannya, memperhitungkan berapa banyak waktu yang harus ia gunakan untuk menemukan roh InuYasha di dalam sana.
Tanpa basa-basi, tubuh Sesshomaru melayang. Perlahan, ia terbang masuk menuju dunia akhirat yang amat dibencinya.
"Satu hal lagi," sang ratu memberi peringatan terakhir. "Tantangan ini dapat beresiko pada keselamatan nyawamu sendiri. Kau masih yakin untuk pergi ke sana?"
Sesshomaru memberikan tatapan tajam terakhir pada ibunya. "Sesshomaru ini tak akan mati dengan mudah."
Tubuh sang daiyoukai mulai terhisap ke dalam dunia akhirat yang gelap dan mulai berkelana tanpa arah yang jelas.
Sang ratu tersenyum simpul. Ia kembali duduk di tepi kursi tempat InuYasha berbaring. Tangannya kembali membelai kepala anak tirinya.
Sekali lagi, rencananya sukses.
Ya, ini adalah ujian lain yang sudah direncanakan oleh suaminya untuk Sesshomaru. Ujian agar putra tertua mereka menyadari betapa berharganya tiap anggota keluarga, tak peduli siluman, hanyou bahkan manusia sekalipun.
