Please, Baby, Calm Down
Cast: SEVENTEEN Junghan & Wonwoo
Rating: M
Genre: ?
Warning: (aku bisa bilang fic ini sendiri adalah warning, tapi sebenarnya ini tidak kelewat bahaya sih, cuma dalam saja... untukku) Naraaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaasi, dengan sedikit sekali dialog, setting lompat lompat aku tidak marah kalau ada yang bingung, niat bunuh diri, niat membunuh orang, teman temanku sekalian jangan merokok itu tidak bagus untuk badanmu. (aku kacau, jangan dipikirkan).
X
Junghan tidak tahu hubungan antara manusia itu seperti apa, hubungan antara anggota keluarga itu harusnya bagaimana, hubungan dengan teman itu bagaimana, dan hubungan antara pacar itu bagaimana. Beda orang, beda peraturan, beda batasan. Junghan pergi dari rumah dengan pikiran bahwa dia akan selalu santai, peraturannya sendiri dan batasannya sendiri, tapi dia salah –karena selama dia masih berhubungan dengan manusia dia tidak akan pernah bisa santai dan nyaman. Hubungan itu rapuh sekali, seperti gelembung sabun, seperti rumah kartu.
dan Junghan adalah orang yang banyak berbuat salah, dia tidak diciptakan untuk hubungan. Dia akan merusaknya seperti merusak jeans Wonwoo dengan pewarna rambut.
Junghan pikir tidak ada lagi yang bisa dilakukan pada jeans malang itu, tapi Wonwoo berpikir sebaliknya. Dia mendorong Junghan untuk melakukan sesuatu dan Junghan benci sekali itu. Wonwoo selalu mendorongnya untuk melakukan sesuatu dan Junghan benci itu.
Kadang Junghan kalah melawan emosi, seringnya Junghan tidak punya batasan dan kontrol diri, dan itu sering sekali tidak baik untuk hubungan.
"Sepertinya aku salah memilihmu."
Lidah Junghan memang begitu, ambigu tapi menohok.
Wonwoo terkejut, matanya membulat dan ekspersinya jadi tidak enak –Junghan benci itu.
"M-maaf." Katanya, lalu dia pergi, meninggalkan Junghan bersama kekacauan sambil membanting pintu.
Waktu Wonwoo pergi Junghan terkekeh. Dia tidak bisa menyimpulkan kata katanya itu hanya sebatas emosi atau dia memang benar benar bermaksud mengatakannya.
Karena Junghan memang ingin mengatakannya, tapi juga tidak ingin mengatakannya.
Junghan seringnya tidak bisa menyimpulkan sesuatu. Dia melakukan apa yang Wonwoo tawarkan padanya, apa yang Wonwoo inginkan, pergi ke tempat yang Wonwoo mau, film pilihan Wonwoo, menu pilihan Wonwoo. Memutuskan sesatu adalah hal yang berat untuk Junghan.
Orang orang bilang Junghan pemalas, tapi kenyataannya dia cuma tidak punya keinginan. Satu satunya keinginannya cuma menghancurkan Wonwoo, itu tidak baik untuk Wonwoo tapi Junghan melakukannya tiap kali dia sempat.
Keinginan Junghan itu tidak ada. Junghan tidak pernah lagi terlalu heboh memikirkan sesuatu untuk waktu yang cukup lama, dia benci membicarakan ini dengan orang lain, tapi dia juga tidak bisa sendirian.
Gampangnya Junghan tidak pernah tahu apa yang dia inginkan.
Pikirannya selalu berbenturan antara satu sama lain, terlalu aneh bahkan dia bisa menerima dua hal yang kelihatannya berlawanan. Junghan hanya bertingkah seperti apa yang dia pikir orang ingin lihat darinya, dan itu membuat kekosongan yang besar. Kekosongan itu mengundang pikiran aneh lain.
Mungkin ini karena dia merokok, atau karena dia kebanyakan mendengarkan anak fahutan membicarakan soal kebakaran. Ketika Junghan memegang pemantik, dia ingin membakar.
Bahkan untuk masalah yang sebenarnya kecil seperti jeans Wonwoo, Junghan ingin membakarnya, jeans itu, saat Junghan memakai jeans itu, saat Junghan ada di dalam apartemen, biar semuanya terbakar.
Tapi untuk masalah yang besar, Junghan memikirkan ini tapi benar benar sangat tidak ingin melakukan, tapi dia tetap memikirkannya. Meminumkan Wonwoo bensin, lalu membakarnya.
Tuhan, Junghan butuh dokter. Tapi dia benci membicarakan ini dengan orang.
Junghan punya pikiran yang aneh, Sungai Han terlihat menarik dia ingin terjun, Namsan Tower terlihat menarik dia ingin terjun.
Kadang, karena tiba tiba merasa diterjunkan dari ketinggian, Junghan kesulitan untuk tidur.
"Kau tidak tidur, Junghan?"
Junghan merokok, bersantai di ranjang Seungchul yang minta dibangunkan jam tiga.
"Aku tidur, aku baru bangun barusan. Kan kau minta dibangunkan, bagaimana sih?"
"Sorry, linglung." Seungchul terkekeh sendiri, jelas masih belum sepenuhnya sadar, tapi ada tugas yang menunggunya jadi dia harus sadar.
Mungkin itu yang Junghan rasakan tiap bangun; linglung, bingung. Bingung harus apa dan bingung mau apa. Dia punya banyak hal yang orang pikir harus dia lakukan, tapi Junghan sebenarnya tidak ingin melakukan apa apa.
"Handphone-mu bunyi, Junghan."
"Biarkan saja, aku mau tidur lagi. Selamat berjuang, Choi Seungchul."
Junghan menarik selimut Seungchul sampai menutupi wajahnya. Memutuskan adalah hal yang berat dan Junghan tidak bisa memutuskan dia masih ingin bersama Wonwoo atau tidak.
"Aku lelah hidup tapi takut mati, Chul."
Seungchul tertawa, "Kau harusnya pergi ke tempat Josh supaya bisa mendengar khotbahnya, bukan ke tempatku."
"Ya, mungkin." Tapi Junghan tidak ingin mendengar khotbah.
Kacau, dia tahu dia butuh tapi dia tidak mau. Ya, memangnya apa yang benar benar dia mau di dunia ini?
"Pergi jam berapa?" tanya Junghan.
"Tujuh, kau harus pergi juga, Junghan."
"Ya, ya, aku pergi kalau kau pergi."
Tapi Junghan akhirnya berakhir di kafe Bora.
"Junghannie! Ya ampun, Junghan! Kau baik baik saja kan?" Yoon Bora, sepupunya itu langsung heboh ketika Junghan muncul di pintu kafe saat dia membuka kafe.
"Kelihatannya bagaimana?"
"Kau, kurang tidur, hm?"
"Ya, Begitulah."
Junghan mengiyakan karena lebih mudah menuruti keinginan orang daripada menjelaskan keinginannya sendiri. Meskipun itu membuatnya merasakan perasaan tidak tuntas.
"Kenapa? Ada masalah? Mau teh? Mau tidur di ruanganku?"
"Cuma pertengkaran kecil." Jawab Junghan, Bora menyeretnya ke dalam ruangannya.
"Dengan?"
Wonwoo. Dengan pikiran Junghan, ketidakbisaannya memutuskan sesuatu, keinginannya menghancurkan, dan ketertarikannya dengan Sungai Han dan Namsan Tower sampai dia ingin terjun.
Bora bertanya lagi, "Pacarmu?"
"Ya." Junghan mengiyakan.
Bora membuat teh yang kelewat manis, katanya minuman yang manis membuat cepat mengantuk. Junghan meminum teh itu tanpa berpikir, dia tahu itu terlalu manis dan dia tahu dia memang mengantuk, apalagi yang perlu dipikirkan?
Junghan pikir dia butuh hal ini, tidur di tempat asing dimana dia tidak punya kenangan apa apa pada tempat itu supaya pikirannya jadi benar benar kosong saat bangun. Bukan kosong yang terasa hampa, tapi kosong dimana dia tidak punya pikiran.
Dia bangun di ruangan yang bukan kamarnya, di sofa Bora yang empuk. Pikirannya kosong tapi sebentar lagi akan dipenuhi pikiran pikiran yang biasa dia pikirkan, dan pikiran tentang Wonwoo datang.
Junghan masih tidak bisa memutuskan mau melakukan apa.
"Kau harus pulang, Junghan."
"Iya."
Bagaimanapun Junghan harus tetap menjalani kehidupannya.
Fin.
Note: lagu yang selalu cocok dengan AU semi-BDSM dengan Jeonghan yang seperti aku dan Wonwoo yang terlalu sayang memang cuma Papi dari f(x). Saat ini aku tidak punya lagu itu, dan Rain dari BTS lumayan membantu membangun mood, walaupun aku cinta konsep HoC karena kehidupanku dengan orang yang harusnya terdekatku juga seperti rumah kartu, rapuh sekali. Dan karena aku tidak punya tempat curhat yang nyaman, jadi aku curhat lewat fic. Begitu ceritanya.
Note(2): Akhirnya yang membantu menulis fic ini adalah Press Your Number dan Drip Drop.
Note(2): Aku dalam mode kelewat sensi dan aku yang begini bisa menghancurkan apapun. Kalau keinginan untuk menghancurkan itu tidak tercapai jadinya aku seperti WW di fic yang satu lagi (KM)
Note(3): Seseorang tolong bawa aku ke karaoke.
Note(4): Sejujurnya sih aku tidak kuat melanjutkan, tapi aku mengerjakan fic ini dalam keadaan yang lebih tenang dari I Was Low Key. Aku betul betul heboh sendiri (dijalan yang tidak bagus) waktu menulis I Was Low Key.
