BE GENTELMENT
DESTINY
.
.
-Wedding dress (Namikaze Naruto)
Musim gugur masih di guyur hujan. Angin nya berhembus kecang, berisik di luar sana. Seharusnya ini jadi hari yang sejuk. Sejuk jika kau tak harus berlarian di kolidor sekolah mengejar anak berandalan yang ketahuan merokok di gudang sapu. Sejuk jika kau tidak harus berteriak- teriak seperti orang kesetanan saat melerai perkelahian. Sejuk jika setiap kali matamu memandang kau disuguhi pemandangan wajah-wajah yang bersahabat. Bukan pencari musuh seperti yang setiap hari aku lihat. Hari ini suguh hari yang melelahkan. Lebih melelahkan dari empat hari lainnya. Besok sudah akhir pekan, dan tampaknya berandalan imut ini tidak membiarkanku untuk istirahat di akhir minggu ini. Kemeja ku sudah sangat lusuh. Itulah kenapa aku paling nyaman memakai setelan olahraga. Aku terkulai dikursiku, dengan keringat dan aroma badan yang aku sendiri muak menciumnya.
"Kurasa aku perlu mandi." Aku sedikit bergumam.
"Ya itu sepertinya ide yang bagus."
"Terima kasih sindiranmu itu Shiranui Sensei, itu sangat membantu."
" Hehe,,, jangan terlalu serius Naruto Sensei. Kau tahu aku hanya bercanda. Hari ini akhir pekan. Mau pergi minum?"
"Kurasa itu ide yang bagus." Aku beranjak dari kursiku.
"Kemana?"
"Mandi." Aku menjawab singkat.
Shiranui Genma adalah guru yang seangkatan dengan ku. Dulu bahkan kami satu universitas. Dia orang yang menyenangkan, ayah dan suami yang baik. Keluarganya harmonis. Dia punya 2 anak yang selalu dia sebut namanya dengan bangga. Dan dia punya waktu yang banyak hanya untuk membuat kami mendengarkan cerita tentang Shiranui junior. Dia agak mirip Kakashi, sejak Ryuu lahir Kakashi tak pernah absen untuk menceritakan apapun yang junior Hatake lakukan. Bahkan sampai hari ini. Barangkali setiap ayah memang seperti itu. Genma bilang anak adalah bentuk kesempurnaan hidup, Kakashi bilang anak adalah awal dari tujuan. Dan anak-anak berandalan disini juga adalah anak-anak kebanggaan orang tua mereka. Jadi meski aku kurang paham, aku berharap anak-anak ini tidak mencoreng kebanggaan orangtuanya.
Aku berjalan melewati tangga menuju lantai paling bawah gedung sekolah. Disana ada kolam berenang indoor, dan shower. Jam segini kegiatan klub belum dimulai dan sepertinya disana sedang sepi. Bukannya apa-apa, sebagai seorang guru dengan katagori paling di hindari aku juga sebisa mungkin tidak lengah. Murid-murid ku bisa melakukan apa saja untuk melampiaskan kekesalannya padaku. Dan aku sudah pernah mengalami hal yang terburuk. Jadi aku harus waspada.
Aku membuka pintu tempat shower dengan mantap, dan detik itu juga aku merasa terkena serangan jantung, mulut ku menganga melihat pemandangan yang ada di depanku. Sepasang- ralat- dua orang pemuda sedang saling memagut bibir dengan rakus, tangan mereka saling menyentuh 'milik mereka' . Mata mereka bahkan sampai terlihat juling jelas menikmati kegiatan. Aku tahu populasi gay di konoha memang banyak. Aku sering melihat mereka berkencan. Tapi melihat mereka sampai seperti itu. Aku bahkan tak pernah membayangkannya. Mereka melengguh bersamaan, sepertinya mereka sudah selesai. Segera aku bangkit dari rasa terkejut ku. Berharap aku bisa menampilkan wajah paling seram yang aku punya. Mereka berciuman sekali lagi sebelum tertawa dan berbalik melihatku. Mata mereka melebar. Dengan terburu-buru mereka merapikan pakaian mereka. Aku dengan setia memandangi. Mengintimindasi mereka.
"Rencananya aku kesini untuk mandi, tapi melihat kalian. Aku rasa aku perlu melu-rus-kan be-be-ra-pa hal." Aku menekan banyak kata dalan kalimat ku. Aku menutup pintu, menyilangkan tanganku,menatap mereka yang menunduk.
"Apa tepatnya yang sedang kalian lakukan?"
"Kami…pacaran Sensei." Yahiko menggumam kan hal yang seperti itu. Aku menghela napas sebentar, menenangkan diri. Sasori sudah tampak akan menangis. Mereka berdua tidak pernah terlibat masalah sebelumnya. Yahiko adalah senior, dia kapten tim basket. Wajahnya agak menyeramkan tapi dia sangat cuek dengan sekitar. Tak pernah terlibat provokasi apapun. Sedangkan Sasori, dia sekretaris osis, anak baik-baik yang manis. Sangat penurut. Tipe siswa favorit para guru, bahkan favoritku juga.
"Dengar aku tidak melarang kalian pacaran," kalimat yang ini membuat mereka berani menatapku. " kalian punya hak asasi untuk itu" yang ini membuat Yahiko tersenyum. "Lagi pula semua orang pasti pernah kasmaran." Sasori tersenyum kali ini, senyum Yahiko lebih lebar lagi. Aku memberi jeda sebentar.
"Tapi melakukan hal seperti itu!" aku agak berteriak sekarang. Membuat mereka mengkeret lagi.
"Hal yang kalian lakukan adalah hal yang tidak senonoh yang tidak boleh dilakukan di sekolah, aku tak peduli jika diluar sana. Terutama dihadapanku. "
"jadi kami boleh melakukannya jika tidak dihadapanmu Sensei?"
"Jangan mengajukan pertanyaan bodoh Yahiko atau aku akan benar-benar mengulitimu. Beraninya kau pada Sasori." Aku berdesis.
"Sensei Yahiko tidak bersalah maksud ku…kami melakukannya bukan karena sepihak." Manis sekali pembelaan itu.
"Aku tahu, tidak ada yang bisa menyalahkan kalian yang sedang kasmaran. Tapi jika aku melihat kalian lagi dengan posisi seperti tadi. .." mereka menatapku menunggu kalimat selanjutnya.
"Entah apa yang akan aku lakukan. Sekarang kembali kekelas kalian."
"Hai, Sensei. " mereka mengangguk sebentar padaku dan keluar dengan tangan saling bertaut. Mereka terlihat polos dan masih melepaskan ego mereka sesuka hati. Lagi pula jika pun aku melarang mereka berpacaran lalu apa yang harus aku perbuat. Aku menghela nafas. Sekarang yang perlu aku lakukan adalah mengawasi mereka. Selama salah satu tidak dirugikan dan mencoreng nama baik sekolah. Maka kurasa aku tak perlu bertindak terlalu jauh.
.
Setelah banyak hal yang aku lewati hari ini. Aku berharap alcohol bisa membantu ku. Awalnya aku minum dengan Genma , tapi anak nya menelpon dengan suara imut, mengatakan tentang ingin segera bertemu papa. Aku bersumpah melihat Genma menangis terharu dan melesat pergi, meninggalkanku sendirian di meja bar. Kakashi tiba-tiba duduk disampingku. Aku tidak merasa heran dengan kehadirannya. Ini bar langganan kami. Dia terlihat kusut,tidak seperti biasanya.
"Hari yang buruk?" aku bertanya, penasaran.
"Ya ,cukup buruk." Dia menelan ludahnya.
"Tentang pekerjaan mu?"
"Aaa,,,tidak. ,bukan tentang itu."
"Jadi?" aku bertanya hati-hati. Takut membuatnya tidak nyaman.
"Rin bilang padaku,orang tuanya akan datang ke Canada libur musim dingin ini."
Aku tak perlu bertanya apa masalahnya lagi. Jika keadaannya begitu maka sudah di pastikan Ryuu tidak akan pulang lagi kerumah ayahnya.
"Kenapa kau tidak ke Canada?"
"Kau pikir itu ide yang baik? Kau tahu bagaimana aku dan Rin jika sudah bertatap muka."
"Apa kau berpikir ada kemungkinan Rin berusaha menjauhkan Ryuu dari mu?"
"Dalam pikiranku,iya. Dalam intuisiku,tidak."
"Kau sudah menghubungi Ryuu."
"Ya,,dia bercerita padaku tentang menyenangkan nya memancing dengan papa Obito." Ada kepahitan dalam nada bicaranya. Sejak Ryuu menerima oranglain sebagai ayah nya. Kakashi tidak pernah berhenti cemburu. Meski nama keluarga Ryuu tidak pernah dirubah. Tapi orang lainlah yang memainkan peran ayah lebih banyak untuknya di banding dia yang ayah kandungnya. Udara tiba-tiba terasa sedikit sesak. Sangat tidak nyaman. Pengalihan topik apapun,sepertinya tidak akan begitu mempengaruhi. Dan aku memilih diam dan menemani Kakashi minum. Dia butuh dari sekedar mabuk.
Sekarang hampir tengah malam, aku minum cukup banyak. Tapi aku belum juga mabuk. Kurasa itu mungkin karena toleransiku terhadap alcohol semakin meningkat. Kakashi bilang itu sudah lumrah, karena semakin lama tubuh kita mengcover semua kebiasaan yang kita lakukan. Kakashi masih minum. Dia bahkan tak terlihat mabuk sama sekali. Saat aku meneguk minuman ku untuk yang kesekian kalinya. Ponselku menjerit meminta perhatian. Nara Shikamaru lah yang tertera pada layar. Nara Shikamaru adalah seorang opsir polisi. Junior ku saat di sekolah menengah. Dan jika seorang opsir polisi menelepon ku. itu berarti ada hal yang sudah terjadi. 'Semoga bukan narkoba'. Aku membatin. Karena jika itu masalahnya. Aku tidak yakin bisa menyelamatkan mereka.
" Ya, Shika?"
"Maaf senpai aku mengganggu mu malam-malam begini. Perlu aku jelaskan secara detail?"
"Narkoba?" aku bertanya dengan nada khawatir.
"Bukan hanya perkelahian yang melibatkan gaun pengantin." Diam-diam aku bersyukur.
"Aku tidak terlalu mengerti. Tapi aku akan segera datang."
"Baik terima kasih."dan dia menutup teleponnya begitu saja.
Aku pamit pada Kakashi,dia hanya mengangguk sebentar. Dan aku menyetir secepat aku bisa. Dalam kasus para remaja,terutama remaja pria tidak semua punya wali yang mau dengan tabah mengurusi hal seperti ini. Dan di sanalah fungsiku. Saat salah satu murid ku di tahan karena pelanggaran apapun,namaku adalah yang pertama mereka sebut. Dan entah kenapa walaupun ini sangat melelahkan,aku tidak pernah berhenti mengurusi mereka. Dan apapun yang terjadi dengan gaun pengantin ini. Aku harap tidak seburuk itu.
.
-Toilet and The Boy (Hatake Kakashi )
Hari ini bukan hari yang baik. Meski pekerjaan ku lancar seperti biasa. Satu telepon dari orang yang paling aku rindukan berhasil memanuver mood ku. aku sudah sangat kesal saat mantan istriku bilang jika Ryuu tidak bisa di jemput pulang olehku libur musim dingin ini. Dan kekesalanku bertambah saat anak ku menceritakan apa yang paling aku benci dari mulutnya. Papa baru yang dia punya. Dan apa yang 'dia' lakukan,yang seharus nya aku yang melakukannya. Aku tak bisa membohongi diriku sendiri, aku sangat iri pada lelaki itu. Aku tak peduli seberapa hebatnya dia membuat mantan istriku jatuh cinta. Tapi jika putra ku juga lebih menyukainya dibandingkan aku. Aku benar-benar ingin mengutuknya. Sudah hampir setahun saat terakhir kali aku menghabiskan waktu dengan nya. Ryuu selalu menelponku hampir setiap hari,memang. Kami tetap berkirim email tapi itu tidak memadamkan kerinduanku padanya. Ryuu adalah hal paling hebat yang aku akui sepanjang masa,yang Tuhan berikan padaku. Dan aku siap melakukan apa saja untuk mempertahankannya sebagai anakku yang sah. Tidak akan aku biarkan Uchiha Obito menyandingkan nama Uchiha di depan nama Ryuu menggantikan nama ku.
Dengan hati yang dipenuhi oleh amarah dan rasa cemburu yang begitu menekan dadaku. Aku menyetir ke bar langganan ,tempat biasa aku minum. Disana aku menemukan Naruto duduk sendirian. Tanpa ragu aku menghampirinya. Dia memandangku dengan tatapan bertanya dan khawatir. Aku tahu dia bisa membaca mood ku. Naruto paling hebat dalam hal membaca suasana hati orang lain. Jadi dia mengajak ku mengobrol dengan hati-hati. Berniat untuk tidak membuat ku merasa tidak nyaman.
Lelaki pirang ini sudah banyak berubah. Jika ini Naruto yang dulu, dia tidak akan berhenti mengoceh hingga lawan bicaranya memuaskan rasa penasarannya. Tapi sekarang setiap dia bicara, dia akan memilih kata yang tepat. Tanpa menyinggung,melukai,ataupun menekan. Aku mendengus dalam hati. Mengingat jika lelaki inilah yang dulu selalu memengang ujung baju ku. dan mengikutiku kemana saja aku pergi. Kini berganti jadi sosok matang yang siap menasehatiku. Tapi ternyata dia tidak mengatakan apa-apa. Kami minum dalam diam. Hanya suara obrolan orang lain yang berdengung dan irama musik jazz yang terdengar. Hingga ponselnya berdering cukup keras. Dia menjawab dengan nada tenang, meski ada kecemasan yang lolos dari suaranya. Dia pamit setelah hanya mengangguk sebagai balasan.
Tadinya aku memutuskan untuk mabuk,tapi sebanyak apapun aku menenggak minumanku. Itu tak membantu sama sekali. Jadi aku memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan semua organ tubuhku. Sebelumnya aku beranjak untuk pergi ke toilet. Efek dari banyak minum adalah penuhnya kantung kemih yang siap untuk mengeluarkan isinya.
Tapi saat aku sampai disana niat ku tidak terlaksana. Setelah aku membuka pintu. Aku melihat pemandangan yang ganjil. Seorang pemuda sangat muda diapit oleh pemuda yang lebih besar dari nya. Pemuda yang satu berada di belakangnya. Menahan tangan dan membekap mulutnya. Yang satu nya sudah berlutut dan memainkan alat genital si pemuda malang yang mungkin tengah kehabisan nafas. Air mata mengalir di dua matanya yang menatapku dengan tatapan memohon. Aku tahu apa yang sedang terjadi di hadapanku. Haruskah aku menginterupsi mereka? Aku bertanya pada diriku sendiri. Jika Naruto di posisiku sekarang, dia pasti sudah meradang dan memukuli penjahat-penjahat kelamin ini. Jika Itu Itachi dia pasti akan menyusun rencana untuk membebaskan pemuda ini tanpa terlihat campur tangannya. Jika itu Sasuke aku tidak tahu apa yang akan Sasuke lakukan. Barangkali dia hanya akan memutar mata dan melayangkan ejekan sarkasmenya. dan apa yang harus aku lakukan, untuk sesaat aku memutuskan untuk pergi, tapi setelah aku melihat wajah pemuda yang tampak masih di bawah umur itu. Tiba-tiba aku teringat anakku sendiri. Bagaimana kalau itu Ryuu,yang di lecehkan dan tampak tidak berdaya seperti ini. Tiba-tiba saja aku merasa marah. Secepat yang aku bisa aku mencengkram kerah pemuda yang sedang berjongkok melakukan blow job dan melemparnya. Ya jangan remehkan usiaku yang tidak muda ini.
"Apa yang kau lakukan Pak tua!" si pemuda satu nya berteriak marah padaku.
"Lepaskan dia atau kau akan menyesal." Aku berdesis berbahaya. Tapi sepertinya dia tidak gentar.
"Memang nya apa yang akan kau lakukan?"
"O…Banyak sekali yang bisa aku lakukan. Terutama aku orang dewasa yang lebih bisa di percayai. Dan aku pastikan bisa menjebloskan kalian ke penjara."
Mereka memandangku. Tapi tidak mengatakan apapun, dan melenggang pergi setelah memberikan tatapan kesal mereka yang terakhir kalinya padaku. Semua pemuda memang terlahir pengecut. Atensiku beralih pada si pemuda yang malang. Bajunya koyak ada luka bekas gigitan di lehernya yang sedikit berdarah. Di meringkuk sambil memegangi celananya untuk menyembunyikan sesuatu diantara selangkangannya. Dia menangis memilukan. Dan barangkali di dorong instingku sebagai seorang ayah aku menghampiri nya. Mengelus rambut nya perlahan seperti yang biasa aku lakukan pada Ryuu. Dia mendongkak dengan mata yang merah. Aku melepas mantel ku dan menyampirkannya di bahu pemuda yang terlalu kurus itu.
"Aku tahu kau tidak baik-baik saja. Tapi kau harus membenahi menampilanmu Nak. Aku tidak mau terlihat seperti om om cabul yang membuat mu berantakan begini."
Dia mengangguk sekilas dan masuk bilik toilet. Setelah menyelesaikan niat awalku. Aku berpikir untuk segera pergi. Tapi aku sedikit ragu. Jadi aku putuskan untuk menolong pemuda ini hingga tuntas.
"Hmmm…. Aku akan mengantar mu pulang. Ayo kau tak perlu takut lagi. Semua sudah aman." Aku berkata sedikit canggung.
Dia melirik ku tanpa bicara,dan hanya menunduk. Tapi dia mengikutiku keluar. Aku berbelok ke meja bar untuk meminta air mineral, anak ini harus segera di tenangkan. Dia masih mengikuti ku dengan patuh. Mungkin dia takut pemuda-pemuda tadi masih mengincarnya. Sampai di meja bar aku berbisik pada Hidan Bartender sekaligus pemilik Bar ini tentang kejadian tadi. Hidan tampak terkejut,dan dia segera membawa segelas air.
"Ini minumlah Nak."
Anak itu tidak mengucapkan apa-apa saat Hidan mengulurkan gelas padanya. Dia hanya mengambilnya dengan tangan gemetaran. Hidan menatapku meminta petunjuk apa yang harus dia katakan. Sementara aku sendiri tidak yakin harus mengatakan apa. Tangan anak itu masih gemetar. Dan kami berdua menatap nya semakin khawatir.
"Tenanglah Nak ,Kau aman sekarang bersama kami." Hidan memberi anak itu pengertian dengan lembut. Seperti ayah pada anaknya. Hidan memang seorang ayah sama sepertiku. Dan hal seperti ini sama-sama mengusik kami. Terutama kami berdua adalah patner yang selalu saling menyuarakan kekaguman kami pada anak kami masing-masing.
"Kakashi, kurasa aku akan mengantarnya pulang."
"Aku saja, kau masih bekerja kan."
"Terima kasih padamu. Dengar Nak Kakashi akan mengantar mu pulang. Dia paman yang baik, kau tak perlu takut ya."
Aku tersenyum geli melihat Hidan membujuk anak itu untuk mempercayaiku. Aku melirik pemuda ini. Dia melihat ku dengan ujung matanya yang gelap. Rambut nya juga hitam,dan kulit nya terlampau pucat. Badannya juga kurus. Semakin melihatnya semakin mengkhawatirkan. Setelah dia cukup tenang kami berjalan menuju mobil ku.
"Siapa namamu?" Tanya ku saat kami sudah memasang sabuk pengaman.
"Sai." Dia menjawab dengan pelan.
"Baik lah Sai. Dimana tepatnya rumah mu?"
"Aku tidak tahu ." gumamnya. " karena suatu hal ayahku mengusirku hari ini. Jadi aku tidak yakin aku bisa pulang."
Aku memandangnya terkejut. Ketika aku berusaha mebuat anakku terus berada disampingku. Ayah lainnya di belahan lain bumi ini mengusir darah dagingnya sendiri. 'O..dunia begitu adil'. Pikir ku sarkasme.
"Aku punya rumah yang cukup nyaman. Kau bisa tinggal kalau kau mau."
Aku memandangnya. Tatapannya terlihat ragu meski aku melihat kelegaan dari raut mukanya.
"Tenang saja Nak,aku masih sangat menyukai payudara. Jadi kau tak perlu khawatir. Ok?"
Dia mendengus dan tertawa.
"Anda tidak perlu mendeklarasikan hal itu sejelas itu paman."
"Aku hanya takut kau mengkhawatirkan hal itu."
"Tidak, aku hanya merasa sudah merepotkanmu."
"Tidak masalah. Aku tidak keberatan. Berapa umurmu?"
"dua puluh tahun."
"Benarkah." Aku cukup kaget." Kau terlihat lebih muda dari seharusnya."
"Mungkin karena badanku yang tidak cukup besar."
"Hmmm kurasa begitu. Kuharap kau betah di rumah ku. untuk sementara kau bisa menempati kamar putra ku."
"Terima kasih sekali lagi paman."
"sudah kubilang ,tidak apa-apa." Aku mengacak rambutnya sebentar sebelum menjalankan mobil. Sebentar lagi musim dingin. Tidak heran kalau udara sudah sangat dingin. Dan udara hangat yang berhembus dari penghangat mobil membelai Sai hingga tertidur. Melihat wajahnya yang polos aku jadi semakin merindukan Ryuu. Aku mengangkat ponselku dan mulai menulis pesan.
'Ayah sangat merindukanmu' .
.
-The Red Umbrella (Uchiha Sasuke)
Udara sangat dingin berhembus menembus mantel ku yang tebal. Hujan memang tidak selebat hari-hari kemarin. Tapi cukup untuk menahan ku berteduh di sebuah coffe shop yang dipenuhi oleh orang-orang yang berlindung dari hujan juga. Dengan secangkir espresso aku memandang hujan lewat jendela. Hari ini aku menyesal tidak membawa mobil. Setiap jumat malam adalah rutinitas kami untuk makan malam keluarga. Itachi menjemput ku di rumah dengan mobilnya untuk bersama-sama ke kediaman orangtua kami. Seperti biasa telinga kami panas mendengar omelan ibu tentang menikah. Ayah kami termasuk pendiam, jadi dia tidak terlalu banyak bicara. Hanya menanggapi sekena nya saat ibu menanyakan pendapat. Kami bertiga, aku,Itachi dan ayah tengah berbincang saat Itachi mendapat laporan penyelidikan dan pamit lebih awal karena pekerjaan nya. Itachi lebih terlihat seperti detektif dibandingkan seorang jaksa. Dia terlalu banyak melakukan penyelidikannya sendiri. Melihat wajah kecewa ayah saat Itachi pergi aku memutuskan untuk tinggal lebih lama untuk menemaninya. Ayah memintaku menginap, tapi sayangnya aku tidak bisa. Ada pekerjaan yang aku tinggalkan di rumah yang tidak bisa aku tunda. Dan disinilah aku terjebak sekarang.
Setelah cangkir espresso ku kosong, aku ingat jika tidak jauh dari sini ada sebuah mini market. Jika aku bisa berlari kesana mungkin saja aku bisa mendapat kan payung. Halte bus tinggal satu blok lagi dari sini. Dan berlari kesana-dibawah guyuran hujan- bukan ide yang bagus terutama jika sudah seumur ku. aku mulai berjalan cepat melewati deretan pertokoan sebisa mungkin menghindari hujan. Sampai di mini market aku bersyukur masih ada payung disana, ada dua, satu berwarna merah gelap, dan satu berwarna merah jambu. Aku memilih warna merah,karena merah jambu terlalu memalukan. Seorang wanita menyambar payung satu nya yang berwarna merah jambu. Wanita ini memiliki tinggi yang mungkin hanya sampai dadaku. Dia memiliki tubuh yang mungil, memakai office suit, sepotong rok berwarna pastel dan kemera soft pink, sepatu nya pink, bahkan rambut nya pun pink. Semua terlihat serba pink di mataku. Aku berusaha mengabaikan pinky berjalan ini dan mulai mengantri di kasir untuk membayar. Wanita pink itu ada di depan ku. aku bisa melihat puncak kepala nya. Antrian disini sangat panjang. Wanita pink itu sudah di depan kasir dan menunggu belanjaan nya dihitung. Dan mesin hitung otomatis mereka tiba-tiba tidak berfungsi. Kasir dan teknisi sedang berusaha memperbaiki saat seorang wanita hamil mendorong pintu sambil menggigil.
"Maaf Pak, Anda masih memiliki payung?"
Wanita itu bicara dengan gigi yang dirapatkan, bajunya sudah sangat basah kuyup. Dia pasti berjuang menembus hujan. Perutnya sangat besar , dengan perut sebesar itu, mana mungkin dia bisa berlari menghindari hujan.
"Stok kami sudah habis Nyonya. Mereka sudah membelinya. "
Penjaga toko menunjuk ku,dan si pink. Dan entah perasaan saja atau memang semua orang memandangiku. Tatapan mereka menghakimi ku. dan itu membuatku risih. Aku tahu apa yang ada di pikiran mereka. Mereka berharap aku melakukan sesuatu. Menawarkan payung ku untuk wanita hamil ini. Dan kenapa mereka hanya memandangku saat ada satu mahluk lagi yang sedang menggenggam payung juga. Tapi tentu saja. Karena aku laki-laki Yang harus bersikap Gentelment . si merah muda sudah akan mebuka mulutnya. Dan karena aku bukan seseorang yang nyaman di cap sebagai pria tidak sopan yang egois di konoha. aku mendahului nya. Lagi pula masih ada kemungkinan si wanita hamil ini menolak tawaran ku.
"Anda bisa memakai payung ini Nyonya." Aku mengatakannya dengan suara paling dalam. Aku bahkan tidak ingat dimana aku mempelajari cara bicara seperti itu.
"Benarkah? Terima kasih Tuan." Tanpa di sangka tawaran ku langsung di terima oleh nya. Ya aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Baiklah mungkin ini bukan hari baik. Sambil tetap mempertahankan senyum diplomasi ku. aku bergumam 'sama-sama' . semua orang tidak memandangiku lagi dan itu lebih baik. Aku sudah berbalik berjalan ke kotak rokok otomatis untuk membeli rokok. Saat aku mendengar wanita hamil itu ingin menukar payung nya dengan warna merah muda,milik si pinky. Tawa mereka masih bisa ku dengar. Dan aku hanya bisa menahan kesalku dengan bibir yang rapat.
Aku sedang berdiri di depan mini market sambil merokok. Harusnya dari tadi aku berlari saja ke halte bus. Tidak ada taksi yang beroperasi di kawasan ini. Kebijakan pemerintahan paman Namikaze untuk membagi lahan mencari napkah, yang masih di pertahankan oleh generasi-generasi sesudahnya –yang menjadi gubernur- meski aku setuju tapi ini sangat merepotkan. Aku menunduk dan melihat sepatu cantik berwarna merah muda. Aku mengeryit sebentar sebelum mendongkak. Aku langsung dihadapkan dengan warna sewarna dedaunan. Ternyata si pinky punya mata berwarna hijau. Dia tersenyum dengan bibir nya yang mungil dan penuh berwarna pink, baiklah sejauh ini warna pink yang paling aku suka dari semua pink yang melekat pada tubuh wanita ini adalah bagian bibir nya. Dan aku bersyukur dia sudah memakai mantelnya. Dan mantelnya berwarna coklat bukan pink yang menyakiti mata ku lagi.
"Maaf,tuan jika tujuan anda ke halte bus. Kurasa kita bisa berbagi payung. Anggap saja ini adalah hadiah untuk kebaikan Anda pada Nyonya tadi." Dia masih tersenyum selagi mengatakan kalimat tadi. Seandainya dia tahu umpatan-umpatan apa saja yang ada di hati ku. tapi sekali lagi aku tidak akan sukses berbisnis jika aku tidak punya senyum diplomasi seperti yang tengah aku terbitkan sekarang.
"Jika Anda tidak keberatan."
Di menggeleng sebentar. "Tidak sama sekali."
"Kalau begitu izinkan aku yang memegang payungnya untuk Anda." Dia tersenyum lagi pada ku sambil menyodorkan payung merah itu padaku. Aku membuang puntung rokok dan membuka payung. Banyak sekali aturan menjadi laki-laki yang tidak pernah di ajarkan tapi kami semua melakukannya. Pria harus berjalan disisi luar jika berjalan beriringan dengan kaum hawa. Dan aku melakukannya. Jika sedang berpayung, maka kita yang harus memegang payungnya dan mencondongkannya lebih kepada wanita. Dan aku melakukannya. Dan pria harus mengikuti langkah wanita. Dan aku juga melakukannya. Ini benar-benar tidak berguna, bahu kiri ku basah karena payung yang ukurannya kecil ini. Wanita ini berjalan lambat,mungkin karena sepatu tinggi nya. Kenapa wanita suka memakai hal-hal yang merepotkan begitu. Meski kami para pria menyukainya karena terlihat seksi. Sampai di halte kami bertemu lagi dengan wanita hamil tadi,dia melambai dan tersenyum. Dia menghampiri kami dengan cukup semangat membuat ku meringis khawatir dia terpeleset.
"Aku tahu itu" dia berseru agak kencang. " Benang merah mengikat orang-orang yang berjodoh." Aku mengerutkan keningku mencerna perkataannya.
"Tidak ada benang merah disini Nyonya, yang ada hanya payung merah." Aku berusaha menanggapi humor ini.
" Payung atau pun benang selama itu berwarna merah. Itu sama saja. Percayalah padaku ini sudah takdir." Aku tidak menanggapi kalimatnya yang itu. Si wanita hamil memandangku dengan mata yang berbinar, sementara si pink entah kenapa semua wajahnya juga menjadi bersemu merah muda.
.
-Konoha X Zone (Uchiha Itachi)
Jumat malam, seharusnya aku ada di rumah orang tua ku. didepan perapian bersama ayah dan adik laki-laki ku. mengobrolkan hal-hal ringan di temani oleh secangkir teh hangat dan kue jahe buatan ibu. Jangan lupakan suara merdu ibu kami yang selalu memulai kuliah yang sama. Menikah. Siapa didunia ini yang tidak mau menikah. Tapi seharusnya mereka yang paling tahu jika hal itu tidak semudah seperti di ucapkan. Kakashi juga pernah menikah dan dia gagal. Lihat hidupnya sekarang. Tidak ada lagi yang tersisa dari nya. Kecuali rasa sakit hati, dan cemburu. Tapi aku terpaksa meninggalkan Sasuke sendiri menanggung omelan ibu. Bukan di sengaja, tapi pekerjaan memanggilku. Dan disini lah aku sekarang. Di sebuah bar yang sedikit pengap di distrik X Konoha. distrik X ini adalah cerminan dari kesenjangan sosial kota besar. Sarang para gangster dan mafia sampai berandalan sekelas pencopet. Dan jika kau ingin menemukan penjahat paling di caripun semua orang di sini mengenal mereka. Para pelacur kecil usia di bawah dua puluh lalu lalang dengan pakaian mereka yang minim. Menghampiri pria-pria berjas yang kebanyakan membeli jas nya dengan uang haram. Aku di sini untuk bertemu informan rahasia ku. kasus ku kali ini cukup sulit, pembunuhan seorang anggota dewan yang melibatkan salah satu pelacur cilik disini, dan seorang perwira angkatan darat. Skenario kasusnya seperti ini, seorang anggota dewan ditemukan mati tertembak di kepalanya saat tengah berada di dalam mobil . Dan si pembunuh menyebutkan perwira tinggi angkatan darat inilah yang memerintahkannya. Dengan alasan memperebutkan seorang pelacur cilik dari distrik X. gadis itu pun –ku panggil gadis karena masih sangat belia- akhirnya harus diperiksa dan ditahan sebagai saksi. Dilihat dari segi mana pun skenario itu terlalu mengada-ngada. Drama itu bagaikan sebuah adegan paling dramatis dari novel misteri murahan. Dua orang yang sama-sama punya kuasa harus saling membunuh karena seorang gadis? Hah,, di lihat bagaimana pun itu tidak masuk akal. Malang sekali gadis belia itu, hanya karena dia penghuni distrik X, tidak seharus nya dia menghabiskan hidup dipenjara.
Seorang lelaki besar bercadar menghampiri ku. informan ku bernama Kakuzu, dia seorang renternir di distrik ini. Dan hebatnya, karena dia orang penting disini- penting karena kau pasti meminjam uang padanya- dia jadi tahu banyak hal.
"Boleh aku memesan Branndy?" dia bertanya setelah duduk dihadapanku.
"Tentu saja,silahkan."
Dia mencondongkan tubuhnya kedepan."Kau yang tertaktir?"
"Tentu saja." Aku tidak kaget kalau dia masih pelit.
"Apa yang kau dapat." Aku bertanya tanpa basa-basi.
"Aaa,, nama nya Tsu, begitu dia di panggil."
"Aku sudah tahu itu Kakuzu."
"Benarkah ?" dia menaikan alisnya,tanda minta negosiasi yang lebih tinggi. Dasar licik. "Boleh aku minta kacang?" dia bertanya padaku. Aku hanya merespon dengan anggukan dan tangan yang di silangkan didepan dada.
"Dia dijual ke rumah bordil saat umurnya 15, ayahnya kalah besar saat berjudi. Dan orang yang pertama membeli dan membayarnya adalah si perwira tinggi itu. Mereka bilang ada hubungan antara Tsu dan sang perwira tinggi."
"Hubungan apa?"
"Yang pasti lebih dari hubungan badan. Maksud ku jika Tsu sudah tahu banyak hal tentang si perwira ini dan tidak sengaja membocorkannya pada si dewan A ini. Kurasa tidak ada satu pun yang mau kehilangan harga diri. Begitukan para orang kaya itu. Mereka sama-sama bajingan tapi mereka sama-sama mengancam. Kami disini mencopet, tapi kami tidak mencopet dari sesama pencopet. Kami tidak pernah menuding orang lain yang pencuri karena kami juga mencuri. Kalau kau mengerti maksud ku."
Aku terdiam dan berpikir sebentar.
"Berikan uang cash untuk membayar yang sudah aku pesan."
"Kenapa."
"Berikan saja." Dia memerintahku. Dan aku menurutinya.
"Dengar kan aku. Keluarlah di pintu sebelah barat bar ini. Pergilah ke gang paling ujung dan lompati pagar di sana. Kuharap kau masih kuat diumurmu yang sekarang."
"Kenapa kau tiba-tiba menyuruhku pergi?" aku tidak suka acara bisik-bisik yang tengah berlangsung antara aku dan si cadar ini.
"Ikuti saja perintahku. Kasus ini cukup riskan. Banyak orang kotor yang terlibat. Dan mereka tahu kau ancaman besar mereka."
"Kau memberi tahu mereka aku ada disini. Sialan kau bilang kau tidak mencuri dari pencuri."
"Masalahnya kau bukan pencuri. Dan aku masih ingin hidup,ikuti saja perintah ku Tuan jaksa. Kau mengenalku dengan baik . benar begitu?"
Sayangnya dia benar. Aku mengenalnya dengan baik. Jika tidak aku tidak akan percaya padanya. Setelah melempar tatapan kesal aku mulai berjalan cepat ke pintu sebelah barat. Dan benar saja tidak lama kemudian sekelompok gangster masuk membuat banyak orang menjerit. Aku melihat salah satu dari mereka bicara dengan Kakazu. Dan tanpa rasa bersalah pengkhianat itu menunjuk kearahku. Sialan. Dan aku berlari secepat aku bisa. Aku mengutuk renternir sialan itu mati tenggelam di dasar laut. Aku bahkan belum dapat informasi apapun.
.
Aku yakin aku berlari cukup jauh meninggalkan bar, aku sudah membuang mantel dan topiku. Menyisakan kaos hitam lengan panjang yang aku kenakan. Udara cukup dingin. Dan gang paling ujung yang di tunjuk Kakuzu masih sangat jauh. Kaki ku sedikit gemetar karena lelah. Aku benci menjadi tua. Aku terhuyung dan menabrak seorang wanita. Dia memandang ku heran.
"Anda baik-baik saja."
"Y-Ya…Maaf." Aku tersenggal kehabisan nafas.
"Apa kau alasan kenapa para gangster itu terlihat gelisah?" aku hanya menatapnya. Sebagai upaya terakhir ku untuk menjawab segala pertanyaannya.
"Wow mereka kemari." Dia bergumam. Aku mengerang dalam hati dan akan berlari lagi. Tapi wanita itu menarik baju ku. membawaku ke gang gelap di sebelah tumpukan sampah kering. Wanita itu menarikku dan menjebak dirinya sendiri diantara aku dan dinding sebuah bangunan. Semua seakan bergerak lambat dalam memoriku. Suara derap kaki yang berlarian. Benda kenyal dan lebut menyapu bibir ku. tanganku tiba-tiba ada di balik bajunya. Aku tidak tahu bagaimana wanita ini membuat posisi tubuh kami jadi seperti ini. Aku terlalu lelah untuk berpikir lebih jauh. Bibir nya masih mengulum bibir bawahku saat dia membawa tangan kiriku ke bokong nya yang sudah polos , benar-benar menyentuh kulit. Dia membuat ku merabanya. 'Kapan dia membuka celana dalamnya?' . aku ingin bertanya tapi bibirku masih di insvansi oleh nya. Banyak orang yang berlari di belakang kami. Entah mereka memang tidak peduli atau pemandangan ini terlalu lumrah. Dengan suara kecupan paling panjang yang pernah ku dengar. Dia melepas bibirnya saliva kami masih menyatu. Wajah kami masih berdekatan dia terus menariku menghipitnya. Dan sebelum aku menyakan sesuatu. Dia sudah berbisik ditelinga ku.
"Buka celana mua Tuan. Kita harus terlihat meyakinkan."
'Apa?! Yang benar saja?' aku meneriakan itu dalam hati.
.
.
TBC
Seperti nya ane kebanyakan baca manga yaoi akhir-akhir ini.
Terima kasih sudah membaca.
The KidSNo Oppai,Daun Momiji,Rinne TEN,Widya20,Kanar Sasku,Guest,Yuka
ouh ya buat Rinne Ten percaya atau nggak meski umur saya kurang dari seperempat abad temen saya yang cowo banyak yang masih lajang umur segitu..hahahaha...dan mereka tuh asli nya pada jaim banget...so so an jadi cwo gentle padahal mah doyan ngeluh masalah cwe...
