Karena fandom ini sepi, saya putuskan untuk meng-apdet kapanpun saya bisa tanpa menunggu review. Saya murni menulis fic ini lantaran rasa cinta saya pada anime menakjubkan ini. Jika ada yang ingin disampaikan, tidak usah sungkan saya mohon. Review seperti apapun akan sangat memotivasi saya.
"Bagaimana pe-ermu Jintan?"
Ketika Anaru melihat sosok yang sudah begitu tidak asing dihadapannya, ia menghampirinya. Ia berlari dari belakang Jinta, dan mengetukkan jari telunjuk lentiknya pada bahu si pemuda. "Oh, hei. 'Met pagi, Anaru."
Pipi si gadis – tanpa terasa olehnya sendiri berubah semerah buah mawar. "Pagi juga."
"Hei, kau bisa terangkan materi logaritma yang satu ini? Aku dan Poppo tidak mengerti sama sekali tadi malam." Jintan mengarahkan buku cetak matematikanya pada Anaru, dan si gadis dengan serta merta melirikkan matanya ke sana.
"Oh, kalau yang ini begini…"
Selagi mereka berdua hanya bersikap biasa (memang ada perasaan grogi diantara keduanya, lantaran sepuluh tahun telah dilalui tanpa tegur-sapa), beberapa kelompok siswa-siswi saling bertukar bisik-bisik. Ada yang dari perempuan ke sesamanya, dan ada pula yang ke lainnya. Yang jelas nama kedua sahabat itu disebut-sebut didalam gunjingan mereka semua.
Jintan dan Anaru menyadarinya. "…Jangan dipikirkan."
"…Jintan?"
"M-maksudku," Jintan kembali membuang wajahnya, tidak ingin bertemu mata dengan sahabat perempuannya. "…Kau ini mudah sekali teralihkan perhatiannya. Itu…tidak baik juga, kau tahu."
Jintan 'berusaha' sebisanya, ya—batin Anaru. "Aku mengerti."
Mereka berdua lantas melanjutkan jalan menuju kelas dengan tenang, tanpa bertukar obrolan lebih jauh lagi.
Gosip tentang Anaru yang terlihat di Love Hotel pada beberapa bulan yang lalu belum mereda juga hingga saat ini. Sementara berita mengenai Jintan, si drop-out tidak pernah diungkit-ungkit kembali. Seperti keberadaan si pemuda tersebut tak terasa sama sekali. Tapi itu lebih baik. Tidak mungkin Jintan harus emosi terhadap kedua masalah itu.
Ya, kedua masalah tersebut.
Dia sedikit terganggu dengan omongan para murid—khususnya dari para siswa yang terus membisikkan hal tidak senonoh terhadap Anaru, sahabatnya. Yaah, kita letakkan seperti ini. Jintan dan Anaru memang sepasang sahabat semasa kecil. Namun posisi mereka saat ini tidak lebih tidak kurang sedang berada dalam tahap 'perbaikan.' Walau bagaimanapun juga, ia menganggap Anaru sebagai temannya yang berharga.
Dan Jintan juga melihat itu lebih dalam lagi. Walau Anaru berusaha mengalihkan perhatiannya, tapi ia tidak bisa. Itu menekan dirinya. Memberikan beban pada dirinya. Itu menyebabkan 'stress' pada Anaru—serupa dengan yang sering disebut-sebut Jintan pada musim panas lalu dalam monolog-nya.
Jintan tidak memiliki teman kecuali Anaru di sekolah ini. Jika mereka tak bersama, berarti Jintan hanya seorang diri dalam menghabiskan waktunya.
Mereka berdua memakan bekal (Jintan makan roti kantin) di dalam kelas. Jintan memutar kursi mejanya ke belakang, menghadap meja Anaru. Si pemuda menggelar beberapa buku pelajaran di atas meja Anaru dan me-review hasil belajar pada jam-jam sebelum ini.
Namun ketika mereka tengah menikmati waktu-waktu damai mereka berdua, bisik-bisik memuakkan itu kembali datang. Anaru terpaku, tak bisa konsentrasi—Jintan menyadari itu kembali dan berdiri.
Ia melirik ke arah beberapa siswa yang bergerombol seperti ibu-ibu pasar yang selalu menggosip saja kerjanya.
"Apa? Ada masalah?" Awalnya wajah Jintan hanya berekspresi datar. Dia hanya tidak ingin menyebabkan keributan. Anaru terkejut melihat Jintan yang (sekali lagi) berdiri dan membela dirinya. Si gadis menatap wajah si pemuda—begitu gagah. Pipinya kembali merona. Para siswi yang sekelas dengan mereka menyadari itu, dan melanjutkan gosip-gosipnya selagi Jintan memusatkan perhatiannya pada siswa-siswa.
Para siswa menggeleng, dan perlahan memutar pandangan mereka kembali, mengurus urusan mereka masing-masing.
Jintan kembali melihat Anaru. "Ana—maksudku, Anjou, lanjutkan makan siangmu. Kita lanjutkan nanti saja diskusinya." Dia mengambil bukunya dari meja Anaru, dan membenarkan letak kursi. Namun ia kemudian sedikit mendekatkan wajahnya pada Anaru, dan berbisik. "Aku akan memberikan pria-pria bencong itu pelajaran."
"…Jintan, jangan," Bisik balik Anaru.
"Jangan dipikirkan. Ini urusanku dengan mereka."
"…Nanti kau-"
Jintan tidak mengindahkan imbauan Anaru, dan kembali duduk di kursi dan menghadap ke depan kembali. Ia nampak melanjutkan bacaannya, sementara Anaru di belakang (walau senang) tidak habis pikir keributan macam apa yang akan Jintan lakukan untuk melindungi dirinya.
Softball.
Jintan sangat mahir dalam bermain softball, dan sepertinya, pikir Anaru, Jintan belum kehilangan sentuhannya sedari dulu. Ketika tiba gilirannya memukul, ia mengarahkan pukulannya kepada beberapa siswa yang ia lihat begitu asik membicarakan kemolekkan tubuh Anaru, sahabatnya sedari tadi. Tidak hanya itu saja, mereka bahkan membicarakan bagaimana 'aksi' Anaru di ranjang dengan om-om yang bahkan mereka sendiri tak pernah melihatnya.
Jintan kesal.
Sangat kesal.
Berani sekali mereka.
Ketika mereka kembali mengulang tingkah mereka di ruang loker pria, ia membulatkan keputusan untuk memukul bola sekencang-kencangnya.
Satu. Dua. Tiga. Walau Jintan dikeluarkan karena sudah tiga kali melakukan 'Fault', tapi ia puas. Ketiga berandalan tengik itu kesakitan ketika salah satu bagian tubuh mereka menerima hantaman keras dari bola yang dipukul Jintan.
"Dia sengaja!" Seru salah satu siswa.
"Ya! Gughh…adu-duh, dia sengaja, sensei!" Lanjut siswa lainnya yang memegangi bekas bola pada pahanya yang telah memerah.
Jintan memasang ekspresi datarnya. "…Maaf, aku tidak terbiasa bermain softball. Aku hanya memukulnya sekeras yang kubisa."
"Ah, baik-baik. Sudah." Si guru olahraga melerai Jintan dari murid-murid pria yang menghampirinya—dan mungkin siap menghajarnya. "Yadomi, kau istirahat dulu."
Jintan berjalan keluar lapangan dan duduk di bench. Tepatnya di sebelah Anaru duduk menggunakan seragam olahraganya seorang diri. Kedua kepang khas milik si gadis masih terpancang dengan apik, dan pahanya yang putih mulus nampak begitu jelas oleh Jintan. Namun si pemuda tak memiliki waktu untuk memikirkan hal demikian. Tidak untuk saat ini.
"Itu sepertinya sangat sakit sekali."
"Itu mengajarkan mereka untuk tidak macam-macam denganmu."
Mereka berdua terpisah dari kumpulan murid-murid lainnya. Seolah mereka dijauhi. Tapi itu tidak menjadi beban di pikiran mereka berdua sama sekali. "Tapi yang 'menghajar' mereka adalah dirimu." Anaru menekankan kata-kata 'menghajar' sambil tersenyum geli terhadap sikap sahabatnya ini.
Jintan kembali mengalihkan wajahnya. "Bagaimana ya, em… Kau temanku, 'sih."
Si pemuda merasa malu mengatakan hal demikian. Tapi, ia secara tidak sadar menjadi semangat sendiri, seperti ketika saat dimana dia menguasai kelas yang ia masuki semenjak sd. Saat-saat ketika dia menjadi bos Super Peace Buster dan murid-murid di sekolah. Itu semua perlahan-lahan kembali ke dalam dirinya. Naluri alaminya sebagai seorang pemimpin.
Anaru menyenderkan punggungnya pada bench, dan menghela napas. Jintan berbalik dan menatapnya. "Kau…baik?"
Dia melihat Anaru yang tersenyum lembut walau tak menghadap ke arah dirinya. "Selamat datang kembali, leader."
~Bersambung
