Pair: Akakuro, others.

Note: OC, OOC, yaoi, typos, modern-fantasy !AU full of weirdness.

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi, i gain no profit from this fic.

.

Wrap your tail around my wrists, and be ready for a feast...

.

.

Serpent: The Unexpected.

.

.

Bola mata biru melepaskan tatap dari cermin di hadapan. Satu napas berat dihela, dan ia mengabaikan beberapa ruam merah pada kulit di sekitar dua areola-nya. Tanda itu begitu vibrant, serupa rona apel ranum di tengah putih lautan salju. Terlihat cantik, namun mereka menyimpan berjuta rahasia yang sama sekali tidak Tetsuya tahu.

Bulatan kancing kemeja dikaitkan lambat-lambat, sementara otak berputar cepat demi mencari jawaban atas peristiwa ajaib yang belakangan ini menimpa.

Bagaimana bisa, kejadian dalam mimpi berimbas pada dunia nyata? Lalu, jika semalam cuma mimpi belaka, bagaimana mungkin tanda-tanda ini membercaki permukaan kulit Tetsuya?

Mereka muncul begitu saja saat ia terbangun—masih segar, seperti baru dibuat pada malam sebelumnya, di mana mimpi-mimpi absurd mendatangi tidur Tetsuya. Pada awalnya, ia mengira bahwa ruam-ruam itu hanyalah ulah serangga. Tetsuya tidak terlalu ambil pusing oleh hal-hal sepele macam ini dan kembali fokus pada realita. Tapi setelah berulang kali mengalami kejadian sama, Tetsuya jadi berpikir kalau ini bukanlah suatu hal yang biasa.

Lagipula, tidak ada sengatan serangga yang menyerupai pola gigitan manusia.

Seluruh tubuh Tetsuya seperti dijamah oleh tangan-tangan tak kasat mata. Ia pernah menemukan lebam keunguan di antara paha dalamnya—sewaktu pegal tak terkira ia rasa di sana.

Dan pada akhirnya, teka-teki mengenai hal aneh ini terjawab sudah.

Bahwa tanda pada tubuhnya sengaja dibuat lewat kedatangan satu sosok misterius sewaktu ia bermimpi. Dan bukan hanya sekali-dua kali, Tetsuya menyadari kalau ini sudah berlangsung selama berhari-hari.

(Mulanya 'dia' hanya diam memperhatikan dari jarak dekat di sekitar tempatnya berbaring. Tetsuya tidak pernah tahu makhluk macam apa yang tengah bersamanya saat itu, karena ia sama sekali tidak dapat membuka mata. Tapi belakangan ini 'dia' mulai berani bertindak agresif dengan menyentuh tubuh Tetsuya di sana-sini. Bunga tidur Tetsuya berubah serupa latar panas film-film erotik, dan ia mesti rela berakhir tragis: bangun dengan napas tersengal, juga celana basah-lengket akibat ulah sosok yang identitasnya masih menjadi misteri.)

Jelas sekali kalau ia tidak mungkin menceritakan perihal 'pelecehan gaib' ini pada para anggota keluarga. Yang ada, ia bakal dipandang sebelah mata, bahkan bisa dicap bagai orang gila oleh mereka. Apalagi Chihiro. Kakak sepupunya itu termasuk dalam golongan manusia paling skeptis di dunia. Si Pemuda bertubuh jangkung tidak percaya pada sesuatu yang tidak nyata. Semacam hantu atau sosok-sosok cryptid yang keberadaannya tak dapat diterima logika, dan kehadiran mereka belum bisa dibuktikan oleh ilmu fisika.

Oke. Sepertinya kali ini ia mesti menghadapi semuanya sendiri.

Tetsuya tidak takut—yaah mungkin sedikit—justru ia lebih penasaran dengan apa yang tengah terjadi, sewaktu ia terlalu lelap dalam mimpi.

.

Suasana ruang makan Keluarga Mayuzumi masih sama seperti hari-hari biasa. Hideto-san, sang Kepala keluarga, duduk santai pada kursi di ujung meja sebelum berangkat bekerja. Secangkir teh hitam yang masih mengepulkan uap tipis ke udara tersaji di hadapan. Beliau memang gemar minum teh dengan sedikit gula seusai menuntaskan sarapan.

Yuuko juga sudah selesai sarapan, dan mulai berbincang dengan Hideto. Sebuah cangkir lain—yang berpasangan dengan milik sang Suami, ada dalam pegangan kedua tangan, dan wanita itu berhati-hati agar pekat cairan teh tidak memerciki pakaiannya.

Di sebelah kanan Hideto, Chihiro terlihat tengah berusaha menghabiskan potongan telur gulung dan sisa nasi dari dalam mangkuk. Chihiro bukanlah seorang binge eater yang gemar memasukkan apapun ke dalam mulutnya selama sajian tersebut enak dimakan. Bukan pula seorang picky eater, karena ia akan makan apapun tanpa pilih-pilih hidangan. Hanya saja lambung kesayangannya terkadang suka mogok diajak kerja sama kalau sedang tidak mood di pagi hari. Alhasil, untuk menghabiskan semangkuk kecil nasi-pun membutuhkan perjuangan cukup besar bagi Chihiro. Jika saja ia tidak berada di bawah pengawasan mata tajam Yuuko—juga teringat akan janji lama mereka—mungkin sudah sejak dulu Chihiro selalu menyisakan jatah makannya dengan semena-mena.

'Apa kau tahu kalau banyak manusia kurang beruntung di dunia ini dibandingkan dirimu? Anak-anak di Afrika, atau negara berkonflik misalnya? Kau seharusnya bersyukur masih bisa makan tiga kali sehari, Chihiro... tapi lihat... kau malah menyia-nyiakan mereka. Chihiro sayang, kau harus berusaha lebih baik lagi untuk menghargai apa yang telah kau miliki.'

Kalimat Yuuko sangat membekas dalam ingatan Chihiro. Saat itu ia masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, dan ego masa kanak-kanaknya serasa ditampar oleh perkataan 'menohok' sang Ibu. Tumbuh menjadi anak tunggal dalam keluarga, seringkali membuat Chihiro terlena, hingga kadang membuatnya tak acuh pada keadaan sekitar. Padahal, meski kasih sayang tak henti tercurah, baik Hideto maupun Yuuko tidak pernah berlebihan dalam memanjakan pangeran kecil mereka.

Perhatian mereka sedikit teralih begitu mendengar langkah-langkah halus seseorang menapaki parket kayu menuju ruang makan.

"Ohayo!" Sambutan Yuuko dibalas gumam santun untuk menyapa semua. Kemeja berwarna toska muda dan celana panjang hitam, tampak manis membalut tubuh Tetsuya. Sebuah ransel ditenteng dalam pegangan tangan kanan, sementara tangan lain menarik kursi makan, lalu duduk bergabung bersama keluarga kecilnya. Semangkuk nasi pulen dan beberapa hidangan pelengkap sudah siap untuk disantap.

"Tumben sekali, beberapa hari ini Chihiro bangun lebih dulu dibanding Tetsuya..." alis Hideto naik sebelah. Tetsuya biasanya akan bangun lebih awal, lalu membantu Yuuko menyiapkan sarapan di dapur. Tapi sudah beberapa hari ini tidak. Tetsuya terlihat berbeda dari biasanya. Guratan hitam menghiasi bagian bawah mata, dan rona wajah itu serupa pucat bulan tanpa cahaya.

Tetsuya hanya tersenyum tipis menanggapi ujaran Hideto. Ia menyerukan 'selamat makan' dalam volume rendah, lalu fokus menghabiskan sarapan tanpa bicara apa-apa lagi.

Gerakan menyumpit telur gulung terhenti, Chihiro menatap Tetsuya dengan tanda tanya di wajah. "Kau sakit?" Mau tak mau, ia bersuara juga. "Wajahmu pucat."

Tetsuya ikut menghentikan gerakan tangan, bingung mendengar pertanyaan Chihiro. "Tidak." Balasnya diiringi gelengan singkat. "Apa aku terlihat begitu?" Ia melanjutkan kembali melahap potongan tumis wortel dan kapri dari mangkuk porselainnya.

Anggukkan tidak yakin diberi, Chihiro melirik Yuuko seakan meminta keabsahan sang Ibu atas pernyataannya barusan. Mereka saling menatap, dan Tetsuya tidak menaruh perhatian terhadap aksi terang-terangan tersebut.

"Apa Tetsuya-kun merasa kurang enak badan? Kau perlu ke dokter?" Cangkir berisi teh diletakkan perlahan, Yuuko memutuskan untuk bertanya langsung pada pemuda yang duduk di depannya. "Nak, wajahmu pucat." Bahkan Hideto ikut memperhatikan perubahan wajah Tetsuya, begitu istrinya serius berkomentar.

Kunyahan Tetsuya lagi-lagi berhenti. Setengah hati, ia coba berujar menenangkan. "Bu, aku baik-baik saja. Tidak perlu mengunjungi dokter," senyumnya tersungging secerah mentari di permulaan musim semi. Membuat Yuuko mau tak mau turut mengikuti gestur Tetsuya untuk tersenyum. "Mungkin ini sindrom awal menjadi mahasiswa. Kurasa... aku belum cukup baik beradaptasi dengan lingkungan kampus..."

"Apa ada bully di antara mereka?" Hideto mengorek informasi. Tetsuya bisa saja mengalami tekanan di tempat barunya menimba ilmu, sampai-sampai ia jadi bersikap begini. Mungkin ada di antara teman-teman kampus yang tidak suka dengan sikap Tetsuya. Well, anak itu memang pendiam, dan baru akan bicara jika ia merasa perlu melakukannya. Tetsuya sukar sekali mengekspresikan emosi, hingga membuat orang lain tidak dapat menebak apa yang kini tengah ia pikirkan atau rasakan. Dan hal ini kadang disalahartikan sebagai bentuk tindakan tidak acuh Tetsuya pada lingkungan sekitar—padahal bukan.

Tetsuya mungkin memang bukan krayon dengan warna paling cerah dalam kotak. Namun ia adalah seseorang yang istimewa bagi mereka yang sudah mengenalnya. Walau penampilan luar itu serupa bongkahan es antartika, tapi semua kalimat dan perbuatan Tetsuya selalu tulus selapang angkasa.

Tetsuya nyaris tersedak mendengar pertanyaan penuh selidik dari Hideto. "Tidak ada yang seperti itu, mereka semua baik, teman-teman baruku maksudnya..." gelas bening tinggi berisi air mineral diteguk cepat.

Hideto berdeham sebagai tanda mengerti. "Kau bisa meminta bantuan Chihiro kalau memerlukan sesuatu, oke?"

Tetsuya mengangguk paham, seraya meneruskan kembali sarapan yang tertunda. Ia berpura-pura tidak merasakan tatap datar Chihiro ke arahnya—yang jika saja ini film-film fiksi ilmiah—maka tatap itu bakalan sanggup mengeluarkan sinar laser dan menciptakan lubang menganga pada tengkorak Tetsuya.

.

"Jangan lupa telepon ibumu kalau akan pulang terlambat atau menginap." Hideto melambai lewat kaca jendela mobil yang diturunkan. Sedan hitam itu pergi setelah meninggalkan Tetsuya di depan salah satu tempat penitipan sepeda tidak jauh dari area Universitas Kyoto. Pekerjaan Hideto hari ini agak senggang, sehingga ia dapat mengantar Tetsuya terlebih dahulu menuju kampus. Setelah menemukan sepeda dan membuka kuncinya, Tetsuya bergegas membawa kendaraan kayuh itu keluar gerbang tempat penitipan.

Tepat sebelum ia mulai mengayuh, seseorang hampir saja bertubrukan dengannya. Tetsuya tidak melihat ada sepeda lain yang keluar dari jalur parkir sebelah kiri, dan hal ini membuat ia nyaris terjatuh dari sadel—juga membuat mulutnya nyaris mengeluarkan serapah.

"Ah, maaf."

Kalimat tadi terucap penuh kekhawatiran.

Tetsuya buru-buru menyeimbangkan posisi sepeda, dan menatap orang yang telah tidak sengaja hampir saja membuat ia terpental ke lantai. Sungguh, apakah orang-orang di sekeliling Tetsuya merasakan hal ini saat mereka berhadapan dengan hawa keberadaan tipisnya? Apa mereka benar-benar terkejut setengah mati dan nyaris menyumpah dalam bahasa 'tidak patut' yang mungkin sanggup membuat leluhur mereka bangkit lagi dari liang kubur?

Ini sama saja seperti senjata makan tuan. Tetsuya hampir menjadi korban dari hal yang selama ini terkadang ia lakukan 'tanpa sengaja' kepada orang-orang di sekitar.

"Kau tidak apa-apa?"

Seperti terkena kutukan, Tetsuya hanya mampu bergeming di tempat bagai patung penghias kolam. Retina matanya menangkap penuh penampilan sosok satu pemuda asing di hadapan.

Pada helai-helai rambut semerah warna Kyoto sewaktu dihiasi lembar-lembar momiji tua di musim gugur. Pada wajah tampan dengan bentuk rahang tegas. Pada postur tegap berbalut kemeja hitam, jeans kasual, postman bag dengan brand ternama, dan boots kulit trendi sebagai alas kaki. Pada kedua bola mata si Pemuda yang ternyata unik—Tetsuya baru menyadari ini, saat ia menatap mereka lewat bening lensa kacamata. Satu merah brilian layaknya rubi, sementara yang lain mirip lelehan madu terang dengan hints keemasan. Tetsuya sempat mengira jika dia memakai lensa kontak untuk bergaya, namun sepertinya bukan.

Heterokromia merupakan kasus satu banding sejuta di dunia. Ada, walau dapat dibilang tidak lumrah juga.

(Dan Tetsuya merasakan kengerian luar biasa—entah perasaan ini datang darimana—ketika ia menatap langsung pada dua mata dengan warna berbeda. Meski ia akui kalau jantungnya telah berkhianat dengan cara berdentum tidak karuan di balik kurungan tulang iga.)

Humph.

Apa dia mahasiswa juga? Atau idol menumpang lewat? Penampilan pemuda ini terlalu mencolok dan fashionable. Dia membuat Tetsuya terlihat bagai kutubuku ketinggalan zaman. Kalau saja pihak universitas memperbolehkan mahasiswanya mengendarai mobil sendiri, taruhan, ini bakal serupa kehidupan kampus ala drama-drama remaja di televisi. Di mana para arogan kaya nan culas menindas si Lemah tanpa belas kasihan.

"Hei, apa aku melukaimu?" Pertanyaan lain lembut menggaung, menginterupsi pemikiran aneh yang barusan melintasi otak Tetsuya. Bariton itu mengisi sunyi tempat penitipan sepeda—yang tiba-tiba mendadak sepi dari kehadiran manusia selain mereka.

Tersadar, Tetsuya buru-buru menggeleng. "Aku baik-baik saja," ia membetulkan letak ransel di bahu dengan gerakan sedikit canggung. "... maksudku, aku tidak terluka. Aku tidak apa-apa..." senyum tipis menggarisi wajah, Tetsuya tidak biasa berbincang penuh basa-basi—apalagi jika itu adalah orang asing yang baru saja ia temui.

"Oh, oke. Yokatta..."

Tetsuya membawa sepedanya menjauhi sosok si Pemuda berambut merah. "Kalau begitu, aku permisi..." ia masih sempat membungkuk sekilas sebelum mengayuh kendaraan roda dua itu keluar dari tempat penitipan, meluncur terus melewati lajur khusus di bawah batang-batang sakura pada masa akhir mekar mereka.

.

Dan Tetsuya tidak pernah menyadari saat sebuah senyum misterius terukir, begitu sosoknya perlahan menjauh pergi.

.

"Oi, Mayuzumi Tetsuya! Mau makan siang bersama?"

Tetsuya menengadah dari gurat pena dalam buku agenda. Ia mendapati wajah-wajah familiar masuk radius pandang. Koganei Shinji, Kawahara Koichi, dan Fukuda Hiroshi. Mereka teman-teman baru Tetsuya di Fakultas Sastra. Mereka mengambil kelas yang sama, juga rajin sekali mengajaknya berkumpul tanpa alasan jelas.

Bonding time—itu kata Koganei enteng saat ia ditanyai oleh Kawahara mengenai kegiatan kumpul-kumpul tidak jelas mereka.

"Aku membawa... bekal?" Ucap Tetsuya tidak yakin.

"Oh, itu bagus!" Koganei mengacungkan ibu jari. "Kami akan membeli kudapan di kafetaria, dan kita bisa makan siang di taman fakultas! Ayo semua, kita bergegas!"

Kawahara dan Fukuda menghela napas, mereka menatap Tetsuya seolah meminta maaf atas tingkah absurd Koganei barusan.

"Ah, kita juga bisa sekalian menyicil tugas yang diberikan Hyuuga-sensei untuk minggu depan... Kita 'kan sekelompok Tetsuya-chaaan..."

Tetsuya mengedip sekali, dompet dan ponsel sudah dikantungi, sementara kotak bekal terbungkus kain ada dalam pegangan dua tangan. "Itu ide bagus, Koganei-kun."

"Hahaha, aku benar 'kan...?!"

Bahu mungil dirangkul bersahabat, tidak ada yang dapat Tetsuya lakukan lagi saat langkah-langkah kakinya dipandu Koganei menuju kafetaria dengan seenak hati.

.

Tidak perlu repot-repot bagi Tetsuya selaku mahasiswa baru untuk mengetahui segala seluk-beluk tentang universitas tempatnya belajar. Ketiga teman ini—terutama Koganei—dengan semangat menggebu mengenalkan semua pada Tetsuya. Kebanyakan tentu saja hal-hal aneh di luar akademis, semisal gosip kampus atau aib-aib profesor yang mengajar.

"Profesor Mibuchi itu kabarnya berkelamin ganda..." Koganei berbisik penuh misteri sembari menggigit roti melon dalam pegangan tangan. "Mibuchi-sensei hampir berusia setengah abad, namun belum menikah juga..."

Fukuda memutar malas bola matanya sembari menggumam. "Menikah atau tidak, itu adalah prinsip pribadi, suka-suka Mibuchi-sensei juga, itu urusan beliau."

Kawahara menguping penuh minat walau ia lumayan sangsi atas gosip ini. "Maksudmu hermafrodit, begitu? Bisa berubah jadi lelaki dan perempuan? Heeh, yang benar saja?" Sari apel dalam kotak diisap perlahan, dan roti empuk isi sosis digigit penuh khidmat.

Koganei mengangguk. "Yeah, semacam itu..." padahal ia sendiri terdengar tidak begitu yakin. Berita-berita absurd ini Koganei dapatkan setelah ia bergabung dengan sebuah situs online dan grup chat kampus terselubung. Dimana admin-nya adalah salah satu mahasiswa asing dari Fakultas Teknik tahun kedua bernama Nash Gold Jr—yang memakai nama julukan Golden Poop sebagai identitas samaran.

Fukuda mendesah putus asa. "Jangan dengarkan dia," ia menatap penuh harap pada Tetsuya, "... sekrup di kepala Koganei sepertinya memang sudah banyak yang lepas..."

Namun Koganei tidak peduli, dan kembali melanjutkan memberi informasi. "Kau tahu, saat siang Mibuchi-sensei memang memakai jas dan dasi, namun kalau malam..., BAM! Dia suka sekali mengenakan lingerie..."

Dan Kawahara benar-benar sukses tersedak sari apel dalam kotak. Ia terbatuk heboh, sementara Koganei tertawa puas.

"Apa hubungan kelamin ganda dengan pakaian yang mereka kenakan? Jangan suka mendengar gosip-gosip aneh dan menyebarkan mereka, kalau kau tidak mengetahui kejelasan masalah tersebut. Itu bisa saja jadi fitnah 'kan?" selembar tisu diulurkan Fukuda agar Kawahara membersihkan lelehan likuid mencurigakan yang mengalir keluar dari dua lubang hidungnya.

"Geeze, kau ini tidak bisa diajak bercanda..." ia menggumam pelan agar tidak terdengar oleh Fukuda. "Setidaknya itu yang kudengar dari para senior." Jemari Koganei dengan lincah menari di atas keyboard notebook, melupakan tugas yang semula dijadikan prioritas dan alasan bagi mereka untuk berkumpul di taman fakultas. Ia kembali sibuk mencari-cari gosip lain yang mungkin bisa dijadikan bahan untuk konsumsi bersama.

Tetsuya mengunyah sosis berbentuk gurita dengan gerakan lambat—iya, Yuuko masih membawakannya kotak bekal dengan tema tertentu, terus kenapa? Udara taman yang sejuk membuat ia begitu menikmati makan siang kali ini. Beberapa mahasiswa lain terlihat melakukan hal sama, mereka mengisi meja dan bangku-bangku taman untuk bercengkrama atau bersantai sejenak dari kegiatan perkuliahan. Rimbun barisan pohon fuji dan camphor muda menjadi daya tarik utama bagi mahasiswa untuk melepas penat setelah aktivitas seharian di kelas.

"Ah! Ada!" Koganei tiba-tiba menjerit girang.

"Apalagi kali ini..." Kawahara menyusut ingus, ia memutuskan untuk berhenti minum karena takut kejadian serupa terulang. Ia tidak mau mati konyol akibat tersedak sari apel saat mendengar kabar burung mengenai dosen pengajar di kampus mereka.

"Akashi Seijuurou baru saja memutuskan Momoi Satsuki, si Primadona Fakultas Ekonomi! Ini baru berita spektakuler!" bisik heboh Koganei teredam oleh kedua telapak tangan yang menutupi mulut.

Tetsuya menelengkan kepala. Akashi Seijuurou? Siapa dia?

Koganei mengetikkan beberapa kata dalam kolom pencarian, tak berapa lama satu halaman berita terpampang pada layar notebook-nya.

Dan siraman memori tentang peristiwa tadi pagi membuat kunyahan Tetsuya terhenti.

Lewat piksel foto di halaman berita itu, ia melihat lagi sosok yang sama.

Akashi Seijuurou merupakan putra tunggal Keluarga Akashi, pemilik jaringan bisnis pariwisata yang tinggal di Distrik Higashiyama bagian timur. Banyak penginapan dan restoran berbintang—terutama pada kawasan-kawasan wisata di Kyoto—ada di bawah kuasa mereka. Keluarga Akashi merupakan satu dari barisan keluarga tersohor di seantero Kyoto.

Ah, pantas saja. Auranya terasa berbeda saat mereka berjumpa untuk kali pertama. Begitu regal, seakan tanpa cela. Mirip bangsawan walau tengah mengendarai sepeda.

"Senpai berambut merah dari Fakultas Ekonomi itu? Kudengar dia sangat populer, padahal masih mahasiswa tahun kedua." Fukuda menghabiskan gigitan terakhir roti isi ayam kecap dalam plastik pembungkus. "Kudengar juga, ia lumayan sering berganti pasangan. Tipikal playboy kebanyakan kalau kau kaya dan punya wajah tampan. Tapi... itu semua bukan urusanku." Bahu Fukuda terangkat tidak peduli.

Bibir Koganei mencebik. "Lihat... siapa yang lebih jago bergosip di sini, heh?!" ia sewot karena Fukuda ternyata mengetahui ini lebih dahulu dibandingkan dirinya.

Fukuda membuat tanda peace dengan jari dan memutuskan untuk tidak banyak bicara lagi.

"Setiap hari dia diantar-jemput kendaraan pribadi, atau naik motor sport kalau ke kampus. Nilai-nilai akademisnya selalu di atas rata-rata. Pakaian yang melekat selalu trendi, keluaran season terbaru, kebanyakan dari merk-merk ternama." Koganei membaca seluruh informasi di halaman tersebut disertai bonus beberapa foto Seijuurou yang diambil secara candid. "Kalau saja kampus kita menghilangkan larangan membawa mobil pribadi, aku jamin, dia bakalan terlihat keren sekali ala-ala drama. Semacam... Ferari? Lamborgini? Atau Bugati?"

Fukuda dan Kawahara hanya menatap datar Koganei. Mereka mengira jika pemuda dengan mulut serupa kucing itu mulai berbicara dalam bahasa planet asing yang sama sekali tidak mereka mengerti.

Tetsuya diam-diam setuju. Kenapa pemikiran Koganei bisa sama persis seperti yang ia bayangkan tadi pagi?

"Dia kelihatan sombong." Kawahara berkomentar pedas, padahal sebenarnya cuma iri saja. Ingat, iri itu tanda tak mampu. "Dia itu manusia atau bukan, sih... Jangan-jangan siluman..."

Koganei mendelik histeris. "Bicara begitu, dan bersiap saja lehermu terpelintir. Akashi Seijuurou itu pemegang sabuk hitam karate, tahu! Dia jago segala bentuk martial arts! Mau kusebutkan satu-satu?!"

Wajah Kawahara pias. "Tidak usah! Iya-iya aku paham! Akan kutarik lagi ucapanku, geeze..." Kawahara membalas cepat seraya memegangi batang lehernya yang mendadak jadi berdenyut ngilu.

Fukuda menghela napas lelah. Baru berteman dua bulan saja sudah seperti ini, apa jadinya kalau mereka berteman hingga bertahun-tahun nanti? Fukuda tidak yakin kalau ia masih waras ke depannya, atau berubah jadi gila seiring waktu berlalu. Yaah, setidaknya masih ada Tetsuya pada lingkaran pertemanan mereka. Itu juga kalau dia bisa bertahan...

Tetsuya memutuskan untuk membereskan kotak bekal seraya mencuri tatap pada foto-foto candid Seijuurou di layar notebook Koganei.

Satu foto diambil ketika Seijuurou melintasi koridor fakultas. Foto lain diabadikan saat ia melepaskan helm di parkiran fakultas, atau saat ia duduk santai menikmati makan siang bersama teman-temannya di kafetaria.

Decak kagum hampir keluar, sewaktu Tetsuya disuguhi seulas senyum tipis pada wajah Seijuurou.

"Kurasa dia orang baik."

Gumaman Tetsuya memancing tiga kepala untuk menoleh bersamaan. Tidak, Tetsuya tidak akan bercerita mengenai pertemuannya dengan Seijuurou pagi tadi. Atau membicarakan sikap ramah si Pemuda, sementara spekulasi yang beredar mengatakan jika Akashi Seijuurou adalah pribadi sombong—tapi kaya dan tampan—yang hobi sekali berganti pacar.

"Berganti pasangan adalah haknya, itu tidak salah. Menjadi kaya dan pintar juga sudah merupakan takdir Tuhan untuk setiap manusia. Jadi... buat apa kita membahas ini? Ibuku bilang, kita harus pintar bersyukur atas apa yang sudah kita miliki."

Hening sejenak. Wajah polos Tetsuya saat mengucapkan kalimat motivasi tadi membuat mereka tidak tahan untuk tidak menjeritkan kata 'Malaikat!' ke arah Tetsuya secara bersamaan.

Fukuda tertawa kecil, kepala mengangguk-angguk tanda setuju. "Tetsuya benar. Daripada bergosip tentang orang lain, kenapa tidak kita perbaiki kualitas diri?"

"Yeah..." Koganei mendengus pelan. "Tapi... aku akan terus memburu berita-berita hangat seputar kampus kita sebagai bahan konsumsi! Manusia juga tidak bisa lepas dari rumor dan pemberitaan mengenai orang lain 'kan? Itu juga takdir Tuhan..."

Fukuda dan Kawahara hanya mampu mengusap wajah hopeless.

"Oh, dan Tetsuya... Besok saja kita lanjutkan mengerjakan tugas dari Hyuuga-sensei," padahal mereka sama sekali belum melakukan apa-apa. "... kita bertemu di perpustakaan kampus seusai kelas. Di sana mungkin ada banyak referensi untuk tugas kita..." Koganei lagi-lagi mengacungkan ibu jari sebagai tanda approved secara sepihak.

"Baiklah, Koganei-kun."

Mereka berempat memutuskan untuk kembali sebelum kelas berikutnya dimulai.

.

.

"Hei ada apa? Kau baru saja putus dan malah terlihat... senang?"

Sebuah kaleng minuman ringan dilempar ke udara. Seijuurou dengan tanggap menangkap, dan langsung membuka segel untuk meneguk isinya.

"Apa dia juga tidak memuaskan? Sama seperti mantan-mantanmu terdahulu? Kukira dengan predikat 'seksi dan berdada besar' Momoi Satsuki cukup dapat diandalkan..." Nijimura Shuuzou menaikkan sebelah alis. "Kebutuhanmu memang luar biasa, ya? Pantas saja tidak ada yang kuat melayanimu, Seijuurou..." ia terkekeh usil, namun tetap menyodorkan sebungkus kroket kentang hangat ke arah Seijuurou.

Jemari kokoh menyapu sudut bibir yang ternoda diet cola. "Itu bukan salahku." Ia berujar ringan seraya bersandar pada kursi kafetaria. Mata berbeda warna itu mulai memindai suasana ramai di sekeliling mereka. "Kalau bisa, akupun tidak mau seperti ini."

"Yaah, kita sudah ditakdirkan untuk hidup begini. Kau tidak akan dapat melawan, sekeras apapun berusaha."

Seijuurou mengusap tengkuknya. "Kita sudah sering membicarakan ini, Shuuzou. Aku bosan."

"Sama. Aku juga bosan mesti selalu berganti pasangan..."

Plastik pembungkus kroket dibuka, penganan dari kentang itu lalu digigit perlahan oleh Seijuurou. Bagian dalamnya masih mengepulkan uap panas, dan isian daging giling ini terasa begitu legit di lidah.

"Aha!" Shuuzou tiba-tiba berseru. "Nanti malam ikut kami ke Minami's Bar. Kukenalkan dengan beberapa temanku di sana, kau bisa memilih satu di antara mereka. Ngomong-ngomong, hari ini cuma kita saja? Yang lain kemana?" Ia baru sadar kalau meja mereka sangat sepi. Biasanya akan ada celotehan ramai dari Kise Ryota, atau tawa nyaring milik Takao Kazunari.

"Entah." Seijuurou angkat bahu. "Mungkin di suatu tempat sedang menuntaskan hasrat biologis mereka... Kau tahu sendiri 'kan kalau rubah—dalam mode ingin kawin—itu seperti apa...?"

Shuuzou hanya meringis geli mendengar kalimat penuh sarkas milik Seijuurou.

Ah. Ingatkan dia untuk mengirim pesan bagi para kawan dalam kelompok pertemanan mereka yang berbeda fakultas.

Nanti malam, Shuuzou jamin bakalan full of blast!

TBC

A/N: Haiii, maaf telat banget apdet-nya... Tapi saya tetap berusaha untuk mem-posting ini cerita... Weird memang, idenya gak jauh dari film fantasi dan manga-manga yang pernah saya baca. Di chapter depan mungkin akan lebih diperjelas lagi mengenai hal-hal yang masih blur di chapter ini. Duh, semoga saya bisa lekas-lekas apdet, hahaha ^-^ Doakan ya! Terima kasih sudah membaca dan memberi komentar, saya benar-benar appreciate it banget pokoknya! Sampai jumpa lagi en ciao!