sebelumnya..Hokage berambut pirang jabrik, berkulit tan, dan memiliki tiga coretan seperti kumis kucing di masing- masing kedua pipinya itu membelalakkan kedua mata shaphirenya karena menyadari kalimat-kalimat yang dilontarkan Hinata tanpa terbata-bata terkesan gugup seperti biasanya jika berbicara dengannya dan ia juga menyadari bahwa Hinata yang selalu menunduk saat bertemu dengannya kini tetap mengangkat kepalanya, ia melihat raut wajah datar yang biasanya terpasang di wajah temannya Sasuke, Neji, Shino atau bahkan si pemalas, Shikamaru kini juga terpasang pada Hinata.
SELAMAT MENIKMATI.. NEXT..
"H-Hinata.. kita ini t-teman seangkatan.. kan sudah ku katakan jika teman seangkatan ku jangan memanggil ku seperti itu.. dan lagi aku kan sudah mengumumkan jika para kunoichi tingkat chunin dan jounin diliburkan dari misi selama 2 bulan ini karena akan ada pesta dan perayaan berturut-turut jadi para kunoichi akan membantu persiapan-persiapan itu hanya di dalam desa."
Penjelasan ulang dari sang pemimpin desa pada Hinata yang masih tetap pada posisinya. Hokage itu mengakui bahwa ia sedikit merasa tidak enak mengatakan kata 'teman' pada Hinata entah karena apa tapi tidak hanya kata itu saja sebenarnya ia merutuki penjelasan yang keluar dari mulutnya itu yang menyinggung dengan 'pesta dan perayaan'.
"Gomennasai.. Hokage-sama.. saya sudah tahu tentang hal yang anda sampaikan tadi.. tapi saya tetap ingin meminta misi yang diharuskan keluar desa untuk saya sendiri."
Kata Hinata dengan datar. 'teman, pesta, dan perayaan' ulang Hinata sambil tertawa miris dalam hati.
'Jadi Hokage ini benar-benar tak pernah menganggapku? Seharusnya aku sadar dari dulu bahwa aku tak bisa menggantikan posisi Sakura pada hatinya. Ini benar-benar sakit kaa-san. Tolong kuatkan aku dari sana kaa-san'
Hinata berbicara sendiri dalam hati tapi mungkin kami-sama dan kaa-sannya pasti mendengar kata hatinya.
"Tidak Hinata..! kau tidak akan kemana-mana, kau harus tetap di dalam desa! Kau itu tamu penting dalam setiap perayaan itu Hinata, kau harus datang..! Oh, aku ulangi lagi, panggil aku Naruto dengan suffix –kun seperti biasa Hinata. Dan kemana saja kau Hinata? selama 1 bulan dari 2 bulan yang aku liburkan untuk para kunoichi yang tak memiliki kesibukan apa pun selain di dalam desa. Kau begitu sulit untuk di temui padahal kau juga tak membantu dalam persiapan-persiapan itu, Hinata. Selama seminggu pertama aku diam tapi setelah 10 hari aku mulai meluangkan waktu untuk melihat persiapan dan mungkin bisa bertemu dengan mu saat kau membantu disalah satu persiapan itu atau aku akan bisa menemukan mu di tempat yang biasa kau lewati tapi nyatanya kau selama 1 bulan ini seperti menghilang tanpa jejak. Tadinya aku sangat senang kau datang, Hinata.. aku ingin bercerita seperti dulu saat ada waktu luang dan karena hanya kau yang bisa mengerti aku Hinata. Jadi aku membutuhkan mu, aku mencari mu, tapi kenapa setelah aku bertemu dengan mu kau jadi seperti ini? Kau berubah Hinata.."
Hokage itu adalah Naruto, Uzumaki Naruto. Berbicara panjang lebar dengan nada yang berubah-ubah sambil berjalan pelan ke depan Hinata yang mematung. Ia sadar Hinata tak menatap matanya tapi menatap kosong ke jendela yang berada tepat di belakangnya. Benar, Naruto tadinya sangat senang melihat Hinata datang, karena setelah selama satu bulan tak bertemu secara tak sadar membuatnya rindu akan gadis itu yang begitu perhatian padanya dan selalu ada juga mengerti dirinya. Tapi ia di kejutkan oleh perubahan besar pada diri Hinata.
"Gomennasai.. Hokage-sama.. selama 1 bulan ini saya tetap di dalam mansion Hyuga tak kemana pun.. dan ada apa Hokage-sama mencari saya? Membutuhkan apa? Saya tidak berubah Hokage-sama.. seharusnya memang sedari dulu saya begini.."
Hinata menghiraukan perintah Naruto. Ia tetap memanggil Naruto dengan sebutan 'Hokage-sama'. Hinata sebetulnya benar-benar terkejut melihat naruto meninggikan suaranya seolah ia tak boleh terlukai sedikitpun dan merendahkan suaranya seolah ia begitu berharga juga suara yang begitu lirih seolah ia adalah segalanya bagi Naruto. Tapi Hinata dengan sigap menormalkan kembali fisiknya yang hampir kembali pada dirinya yang dulu. Ia tak akan semudah itu kembali terhanyut dalam emosionalnya. Ia tak akan segampang itu terbawa suasana yang ditimbulkan oleh Naruto dengan kata-kata, jadi dia harus menegaskan bahwa ia tak ada apa-apanya bagi Naruto.
"Hinata! Sudah kubilang panggil aku seperti biasa kau memanggil ku! Aku membutuhkan mu, aku ingin bercerita.. aku ingin bercerita tentang tradisi sebelum menikah itu benar-benar membuat ku gila karena tak bisa bertemu dengan Sakura-chan.. aku bisa mati kebosanan jika tak ada Sakura-chan ditambah kau juga menghilang, Hinata.. kan hanya kau yang sabar mendengar cerita keluh kesal ku disaat waktu luang Hinata.. dan kau tahu aku sangat merindukan Saku-"
Kalimat yang di keluarkan Naruto bernada tinggi semua, seperti orang yang terkena frustasi berat. Sayangnya cerita yang ingin dikeluarkan Naruto dipotong oleh Hinata dengan nada yang dingin dan menguarkan aura gelap seperti aura Uchiha Sasuke yang tak ingin diganggu. Naruto hafal betul sifat sahabat karibnya itu dan saat ini Hinata tak jauh berbeda dengan Sasuke yang berbeda adalah Sasuke yang seperti ini Naruto tak kan berpengaruh tapi Hinata yang seperti ini membuat Naruto bergidik ngeri melihat Hinata dan tak lama hati Naruto mencelos hampa mendengar perkataan Hinata.
"Gomennasai.. Hokage-sama.. saya lebih nyaman memanggil anda seperti ini. Saya juga bukan orang yang seperti anda ceritakan jadi saya tidak akan cocok untuk membantu masalah anda. Ah, itu memang sudah tradisi mutlak Hokage-sama.. jika selebihnya menyangkut tentang Haruno-san lebih baik anda berhenti melanjutkan kalimat bernada tinggi anda. Dan berikan saya sebuah misi."
Sebelum kalimat terakhir Hinata yang penuh penekanan di setiap katanya terlontar, Hinata maju satu langkah tanpa memalingkan wajahnya dari Naruto dan sekarang mereka berdua hanya berjarak setengah meter dengan Naruto yang terpaku menatap Hinata. Mungkin juga sangat sakit di lubuk paling dalam hati Naruto. Sampai lidahnya terasa kelu untuk menyusun kata-kata.
"H-Hina-"
"Berikan saya misi luar desa Hokage-sama.. misi apapun, ranking apapun, tingkat apapun, selama apapun, seberat apapun, resiko apapun. Saya akan menerimanya dengan senang hati karena yang paling terpenting bagi saya adalah saya bisa sesering mungkin keluar dari desa penuh siksaan ini dan tak terlalu terbebani dengan nama clan Hyuga juga Heiress yang melekat pada diri saya di dalam mansion menyesakkan Hyuga itu. Jika anda berkenan memenuhi permohonan saya untuk tidak hanya memberi ku misi di luar desa tapi juga membiarkan ku melepas marga Hyuga Heiress dan pergi dari desa ini, itu adalah suatu kehormatan besar bagi saya, Hokage-sama."
Dengan raut wajah datar kembali Hinata mengucapkan kalimat datar yang sangat berpengaruh bagi Naruto. Naruto tersentak dengan kata-kata Hinata, ia ingin mendekati Hinata dan menyentuh pundaknya tapi gadis itu menepis tangannya dan mundur tiga langkah menjauhi Naruto.
TBC
Terima kasih..
