Karena sebelumnya Tetsuna diberitahu untuk tidak bertemu dengan Pangeran Pertama, ia pun menurutinya. Ia kembali mendorong trollinya menuju dapur.

"Wah cepat sekali, apa mereka mau menerimanya?" Tanya pelayan lelaki yang sebelumnya meragukan Tetsuna.

"Un. Ah maaf, apa saya boleh bertanya sesuatu?" Tetsuna balik bertanya, pelayan yang ada di sampingnya hanya berdeham mempersilahkan.

"Sejak kapan para Pangeran bersikap begitu? Dan apa alasannya saya tak boleh bertemu dengan Akashi-sama?" pelayan itu tersentak, ia menghentikan pekerjaannya. Kali ini dia menatap Tetsuna dengan ragu, seperti ada banyak rahasia, dan misteri di balik pandangannya.

"Sebenarnya-"

"Oh jadi anda pelayan yang dibicarakan Raja?" belum selesai menjawab, seorang pria dengan pakaian rapi, datang. Para pelayan menunduk memberi hormat, sedangkan gadis yang tak tahu siapa pria itu hanya terdiam.

"Namaku Nijimura Shuuzou, seorang Pengajar Istana." Jelas pria yang menjadi Pengajar Istana dengan tatapan mata yang tegas.

Tetsuna membungkukkan badannya, dan ikut memperkenalkan diri. Memang tak ada ekspresi apapun di wajahnya, tapi sorot matanya seakan mengintimidasi pria di depannya.

"Senang bertemu dengan anda, nama saya Kuroko Tetsuna pelayan pangeran."

Setelah pertemuan itu pria bernama Nijimura mengajak Tetsuna berbincang di ruangannya. Suasana sangat hening, keduanya tak mengeluarkan sepatah kata. Sampai akhirnya Pengajar Istana tersenyum, ia menatap Tetsuna dengan senyum penuh arti.

"Tidak kusangka Raja sampai mendatangkan pelayan wanita untuk Pangeran." Tetsuna tertegun, Pelayan Wanita terdengar sedikit ambigu untuknya. Tapi melihat minimnya pelayan wanita di istana membuatnya heran. Kalau dipikir semua pelayan yang melayani pangeran hingga saat ini adalah pria, mungkin Tetsuna yang pertama.

"Padahal aku sudah bilang untuk menyerahkan Pangeran padaku, tapi sepertinya itu tidak cukup. Wanita tidak dibutuhkan di sini." Kali ini sorot matanya menajam, nada bicaranya sangat dingin.

"Apa maksud anda?" Tanya Tetsuna yang terlihat tenang, untunglah ia mudah mengontrol emosi, dan ekspresinya. Nijimura menghela nafasnya, kali ini ia menyandarkan punggungnya.

"Tidak mungkin Raja menjadikan orang luar sebagai pelayan para Pangeran dengan mudah. Apalagi dia sangat tahu, dan paham putranya susah diatur." Balasnya, Tetsuna masih menyimak, dan mengumpulkan banyak informasi.

"Aku sudah bilang untuk tidak mengkhawatirkan mereka, dan serahkan para Pangeran padaku. Tapi dia ternyata susah diatur juga." Sorot mata Tetsuna menajam.

"Apa perubahan Pangeran disebabkan oleh anda?" Tanyanya kembali.

"Hmmm mana kutahu~" Jawabnya, terlihat senyum yang menyimpan banyak misteri di baliknya. Namun entah mengapa Tetsuna tak berfikir bahwa Pengajar Istana adalah pria yang jahat. Dia memang menyembunyikan sesuatu, tapi tak tercium bau busuk kejahatan di dalamnya.

"Nijimura-sama, saya hanya menjalankan tugas sebagai Pelayan Pribadi. Saya tidak akan mengganggu bagaimana anda mengajari para Pangeran. Hanya saja, bisakah anda lebih tegas?" kali ini ekspresi Nijimura berubah, kedua matanya membulat keheranan.

"Apa maksudmu?" tanyanya, Tetsuna mulai menjelaskan tentang kesan pertamanya bertemu ketiga pangeran.

Nijimura nampak amat kesal, ia seakan siap memberi hukuman untuk para Pangeran.

"Sepertinya anda kesulitan mengajari mereka tata krama, bagaimana kalau kita bekerja sama?" tawar Tetsuna, untuk kedua kalinya Nijimura menghela nafas, tapi kali ini lebih berat, dan panjang.

"Aku sangat terbantu bila kau bisa lakukan itu. Sayangnya mereka tidak suka dengan wanita." Tetsuna masih terdiam, ia belum tahu betul apapun tentang Kerajaan atau bahkan Pangeran.

"Apa maksudnya tidak suka dengan wanita?" Tanya Tetsuna mencoba menggali lebih.

"Haaah… Jangan-jangan kau datang kemari tanpa mengetahui apapun?" gadis itu mengangguk mengiyakan, saat hendak menjawab lebih detil tiba-tiba seorang pelayan datang. Nijimura mempersilahkannya masuk, pelayan itu bilang bahwa jam pelajaran para Pangeran akan dimulai.

Nijimura mengambil jasnya yang ia lepas, kali ini wajahnya nampak gagah, dan benar-benar tak bisa diragukan bahwa dia Pengajar Istana. Gelar, kepandaian, serta karismanya adalah alasan utama ia dikerjakan di Istana. Namun bukan hanya itu, Nijimura adalah satu-satunya Pengajar yang bisa membuat Pangeran bertekuk lutut padanya.

Karena penasaran Tetsuna meminta izin untuk ikut dalam tugas Nijimura. Tentu saja ia tak langsung menerima permintaan Tetsuna, namun karena gadis itu juga menjadi pilihan Raja, maka tak ada salahnya.

"Kalau kau mau, kau bisa jadi asistenku." Kata Nijimura tak ragu.

"Saya seorang pelayan, bagaimanapun juga tugas utama adalah memenuhi kebutuhan para Pangeran. Apapun itu selama bisa membuat Pangeran merasa nyaman, dan aman." Balas Tetsuna, Nijimura hanya menghela nafas. Ia tak menyangka Pelayan kali ini sangat datar, dingin, tapi juga menarik.

.

.

.

Biasanya para Pangeran tidak akur, dan selalu menyendiri, atau menghabiskan waktunya masing-masing. Hebatnya bila Pengajar Istana datang, mereka bisa berkumpul bersama di aula, dan belajar dengan tenang.

Pengajar Istana tak datang setiap hari karena ia juga seorang dosen di sebuah Universitas Negeri yang sangat terkenal.

Setidaknya seminggu 3x Pangeran mendapatkan pelajaran keseluruhan dari Nijimura. Kali ini Tetsuna ikut mendampinginya, saat pintu aula terbuka angin berhembus agak kencang ke arah mereka berdua. Samar-samar Tetsuna melihat lelaki yang sebelumnya ia lihat tadi siang.

Tak berapa lama terlihat jelas bagaimana tampannya para Pangeran yang membelakangi matahari senja. Mereka hanya terlihat sibuk sendiri, tak memedulikan satu sama lain atau lingkungannya.

Tapi saat menghitung ulang, hanya ada ketiga Pangeran, dan satu lagi Pangeran dengan rambut blondenya.

"Ah! Kau!" seru Midorima, Aomine, dan Murasakibara bersamaan. Tetsuna menundukkan kepalanya, ia memberi hormat dengan sopan, dan tentu saja wajah datarnya.

"Selamat sore Pangeran." Sapanya, mereka berteriak bersamaan, dan langsung mengatakan betapa buruknya pelayanan yang Tetsuna berikan.

"Hm? Aominecchi mengenalnya?" Tanya Pangeran dengan rambut blonde, ia adalah Pangeran Kelima, Kise.

"Diam kau Kise. Kerjamu hanya bersenang-senang tidak jelas, itu sebabnya kau tidak tahu apapun." Balas Aomine kesal, Kise yang mendengarnya tentu saja ikut kesal, namun ia terdiam tak membalasnya.

"Midorima-sama, Aomine-sama, Murasakibara-sama, Kise-sama. Tolong perhatikan sikap anda dengan baik di depan orang luar istana." Mendengar nada Nijimura membuat semuanya tertegun, dan diam begitu saja.

"Dia adalah Pelayan Pribadi kalian, ini mungkin sulit diterima mengetahui betapa tidak sukanya anda sekalian pada wanita. Tapi, dia adalah orang yang Raja pilih sendiri, aku harap kalian bisa bekerja sama." Jelas Nijimura, Aomine hendak protes, tapi tatapan tajam gurunya membuatnya beku.

"Dimana Akashi-sama?" Tanya Nijimura.

"Entahlah, sudah berapa hari aku tidak melihatnya." Balas Midorima acuh, Nijimura hanya menghela nafas, tapi ia tetap melanjutkan pelajarannya hanya dengan keempat Pangeran.
Tetsuna sempat terheran, dan menerka-nerka apa yang tengah dilakukan Pangeran Pertama. Informasi yang dia dapatkan tentang para Pangeran masih sedikit, bila tak melihatnya langsung tentu membuat Tetsuna kesulitan.

Sepanjang pelajaran para Pangeran mengikutinya dengan baik, mereka bisa bekerja sama, berkomunikasi, bahkan Tetsuna bisa menikmati waktu yang ada di aula sampai matahari terbenam.

Namun, masih saja terasa ada dinding besar yang mengelilingi mereka, sehingga sulit untuk lebih saling mengenal, dan bercengkrama.

"Aaahhh aku haus." Keluh Kise, matanya ia kedipkan pada gadis yang sedari tadi hanya berdiri tenang.

Tanpa disuruh atau diperintah, Tetsuna keluar untuk mengambil gelas, dan air dingin. Ia mendekati para Pangeran, dan menata gelasnya dengan tenang.

Perlahan-lahan ia menuangkan air dingin ke gelas milik Pangeran. Benar-benar sangat sempurna, tak ada kesalahan.

"Ah, apa aku bilang ingin minum ini?" Tanya Kise dengan senyumnya yang menggoda.

"Apa ada yang ingin anda minum Pangeran?" Tetsuna tetap tenang, ia hanya memandang wajah Kise dengan polosnya.

Melihat ketenangan, dan kepolosan wajah Tetsuna membuat Kise tertegun.

Mungkin ini pertama kalinya ia melihat seorang wanita sepertinya. Tak menjual senyum, tak merayu demi sesuatu, dan yang lebih penting tak memiliki kebencian.

"Aku ingin minuman favoritku." Balas Kise, tanpa bertanya lagi Tetsuna mengangguk, dan melangkah mundur. Satu persatu Pangeran ia tanyai, kesempatan bagus bagi ketiga Pangeran untuk balas dendam. Mereka meminta minuman yang cukup sulit darinya, tapi tanpa mengeluh ia menunduk, dan pergi.

"Hei, kalian tidak pantas berbuat sejauh itu." Kata Nijimura, Aomine menyandarkan tubuhnya bebas ke sofa.

"Kalau kau keberatan kenapa tidak mencegah kami tadi?" Tanyanya, ia terlihat malas.

"Yah dia adalah Pelayanku, aku berhak menguji apa dia pantas untuk lanjut atau tidak kan?" Midorima membenahi kacamatanya, ia juga terlihat acuh.

Murasakibara hanya terkantuk-kantuk di tepi kursi, ia mulai menyandarkan tubuhnya dengan nyaman.

Sedari tadi Kise tak protes atau bicara apapun, dia adalah Pangeran paling cerewet, dan banyak omong di antara yang lain. Ia juga yang paling pandai berkomunikasi dengan orang-orang. Namun perhatiannya hanya tertuju pada Tetsuna, ada suatu rasa penasaran yang membuatnya terus berpikir.

Tak berapa lama yang dibicarakan datang, dengan hebat Tetsuna membawa semua pesanan para Pangeran.

Sebelumnya Nijimura sudah mengizinkan muridnya untuk menguji Pelayannya bila mereka memang belum percaya, ini juga menjadi tolak ukur seberapa pantas wanita bisa menjadi penunjuk bagi lelaki.

Keempatnya tak protes, dan langsung terkesima, tapi dengan cepat tersadar juga. Sifat dingin, angkuh, dan menyebalkannya mulai terlihat.

Aomine mulai meminta hal yang aneh-aneh, Midorima meminta hal yang sulit, dan Murasakibara terus menyuruhnya, hanya Kise yang terdiam menikmati minumannya, sambil memandangi kakak-kakaknya.

"Pangeran…" panggil Tetsuna, mereka semua menoleh mengira-ngira bahwa Tetsuna akan langsung mundur, atau protes seperti siang tadi, Nijimura pun sudah menantikannya.

"Akhirnya kau masuk jebakan kami." Batin Midorima, Aomine, dan Murasakibara.

"Apakah selama ini anda sekalian mempermainkan para Pelayan?" Tanya Tetsuna yang membuat semuanya tertegun, mereka masih tak bisa menerka apakah Tetsuna marah atau tidak karena ekspresi datarnya.

"Kalau begitu pergi saja dari sini. Kami tidak butuh pelayan sepertimu." Kata Aomine dengan sikap angkuhnya.

"Kuroko-san, apakah kau tahu apa yang sedang kau lakukan?" Nijimura membuka mulutnya, ia menatap Tetsuna tajam.

"Tentu saja saya tahu apa yang saya lakukan. Yang Mulia memberikan saya wewenang untuk mendidik Pangeran menjadi lebih baik pula. Saya tahu bahwa anda memang pengajar nomor satu Nijimura-sama." Kata Tetsuna, semua orang hanya mendengarkan.

"Namun sebagai seorang rakyat biasa yang tidak tahu apapun tentang istana saya merasa kecewa. Bagaimana bisa Pangeran yang dikenal pandai bersosialisasi, berhati hangat, serta sikap lemah lembut terhadap orang tua, wanita, dan anak-anak, ternyata seperti ini."

Tatapan Tetsuna berubah menajam, baik para Pangeran, maupun Pengajar Istana tak bisa membalasnya.

"Saya memutuskan untuk membantu Yang Mulia karena beliau adalah orang yang berharga bagi ayah saya. Tentu saja saya akan melakukan yang terbaik untuk Pangeran. Tapi, saya juga memiliki tujuan supaya Raja dapat terpuaskan oleh hasil kerja saya." Tambahnya, semua hanya terdiam.

"Kalau begitu ajari kami satu hal yang belum diajari oleh siapapun di Kerajaan ini." Tiba-tiba saja pintu aula kembali terbuka, kali ini lelaki dengan tatapan mata yang gelap, dan sangat dingin.

"Akashicchi! Akashi! Akachin!" seru semuanya bersamaan, Pangeran Pertama Akashi tersenyum, kali ini Tetsuna bisa merasakan sedikit keresahan, dan kegundahan.

Dia sedikit cemas, dan gelisah ketika Akashi mendekat padanya, namun bukan takut karena sesuatu, melainkan perasaan sesak di dadanya ketika menatap mata Akashi.

"Apa maksudmu pelajaran yang belum diajari oleh siapapun di Kerajaan, Akashi?" Tanya Nijimur sedikit jengkel, Tetsuna terkejut mendengar Pengajar Istana begitu lancang padanya dengan memanggilnya langsung menggunakan namanya.

"Seminggu ini aku penasaran, aku pun mencari tahunya dari banyak pihak sampai akhirnya merenungkan semuanya di kamar. Aku hanya ingin tahu makna dari cinta." Semua tercengang mendengarnya, ingin rasanya keempat pangeran tertawa, bahkan Nijimura sendiri sudah menahan tawanya. Mereka tak menyangka bahwa Pangeran yang berdarah dingin, dengan sifat absolutnya ternyata romantis sampai memikirkan cinta.

"Mungkin ini terdengar lucu, tapi aku benar penasaran. Apa memang cinta bisa membuat perubahan. Dan, perubahan seperti apa?"

Saat didengarkan lebih detil rasanya membuat semua orang ikut terbawa, dan jadi penasaran.

"Apa itu cinta? Dan bagaimana caranya mereka tumbuh? Apa itu berbahaya? Apa itu mengerikan? Kalau memang iya, kenapa mereka yang jatuh cinta bisa tersenyum?" nadanya begitu menyimpan banyak kesedihan, tatapannya juga sayu, dan tak berarti.

"Tapi kalau memang cinta sebuah anugrah, sebuah keajaiban, sebuah kebahagiaan. Kenapa mereka yang jatuh cinta terpuruk, dan menderita?" dengan cepat wajah Akashi berubah, ia terlihat penuh dengan amarah, kebencian, dan dendam walau tengah tersenyum.

Yang bisa Tetsuna pastikan satu hal adalah, Kerajaan yang dikelilingi oleh rakyat yang tersenyum hangat, yang selalu menyimpan pesona akan pemandangan alam yang indah, keadaan ekonomi yang makmur.

Rupanya Kerajaan itu menyimpan begitu banyak luka, dan penderitaan bagi pemimpinnya, bagi pilarnya. Pangeran yang selalu tersenyum di atas balkon istana. Pangeran yang dielu-elukan rupanya tak seperti yang dipikirkan oleh rakyatnya.

Semua orang di Istana, semua yang ada di Kerajaan ini seperti kehilangan sesuatu yang sangat penting, dan itu adalah kehangatan.

"Jaa~ Sepertinya menarik. Aku juga penasaran." Kise mendekati Tetsuna, ia berbisik lembut di telinganya hingga gadis itu terjingkak menjauh.

"Hoooh dia bisa malu juga rupanya." Kini giliran Aomine yang mendekap gadis mungil di depannya.

"Hya~" jeritnya dengan reflek.

"Hmm? Tidak berguna, tapi mungkin memang menarik." Midorima mendekat, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Tetsuna. Gadis itu mendorongnya, dan jatuh dalam dekapan Murasakibara.

"Hup.. Sepertinya Kurochin terlihat sangat manis, jadi aku ikut."

Tetsuna menjauhkan dirinya dari ke-5 Pangeran yang kini jadi Pemangsa mengerikan. Wajahnya tersipu, dan malu-malu, ia memang tidak masalah menjadi pelayan, tapi kalau sampai harus mengajari sesuatu yang dia sendiri tidak tahu, rasanya agak menyulitkan.

Terlebih lagi, sampai sekarang Tetsuna tak pernah bersentuhan langsung sedekat itu dengan lelaki. Kelemahannya adalah para lelaki!

"Nah, kita mulai pelajarannya." Ucap Nijimura yang juga ikut dalam permainan itu, para Pangeran tersenyum menatap Tetsuna yang tampak pucat, walau wajahnya masih benar-benar merah, ia tak menyangka akan jadi seperti ini.


Terima kasih telah membacaa mweheee~