Naruto belong to Masashi Kishimoto,
Ecstasy Hearts belong to Silent Maru.
Enjoy the story and give your review below.
Thank You. :)
.
.
.
.
Summary:"Kita bertanding tennis. 10 tahun lagi. Kalau aku menang, kau harus meninggalkan keluargaku. Kau mengerti? Saat ini aku bisa berbagi Ibu. Tapi aku ingin Ibu pulang dan bukan tinggal di tempat ini."/ "Baiklah. Pertandingannya 10 tahun lagi. Tapi berjanjilah setelah itu kita berteman."ujar Sakura dengan senyum./ Naruto mendengus dan menatap ke arah ibunya. Dia harus menang untuk menjauhkan Sakura selamanya dari hidupnya. Jika dia kalah, Sakura akan mengambil segalanya darinya. Mungkin tidak hanya ibunya. Tapi kehidupannya./ "Baik, terserah saja."/
.
.
.
.
.
1. She's a curse, yes she know
.
.
Seorang gadis berambut merah muda dengan senyum menawan yang mampu membuat seluruh mata tidak berkedip menatapnya itu tengah melihat headline suatu majalah fashion ternama. Nama yang tertera membuatnya berdecak senang.
"Namikaze, uh? Sexy."gumamnya lirih sembari mengagumi gambar pahatan indah pria yang ada di sana. Pria berambut pirang dengan tanda lahir serupa 3 pasang garis yang terlihat bagaikan kumis kucing. Siapapun yang melihat pasti ingin menelusuri tanda lahir yang unik itu. Dan lagi... perut eight pack yang menggoda itu...
Ah, sebenarnya ada satu bagian lagi yang sangat sulit disadari orang lain jika melihat tubuh pria itu. Dan hanya gadis merah muda itu yang tau dimana letak tanda lahir istimewa yang selalu ingin dilihatnya lagi dan lagi. Tanda lahir yang berbentuk rubah tepat di atas pinggang sebelah kiri pria itu. Tanda itu tidak pernah menjadi perhatian orang lain. Tidak kecuali dirinya.
"Siapa yang menduga ketika kecil pria ini benar-benar membosankan?"gumam gadis itu dengan senyum yang semakin lebar.
"Para penumpang yang terhormat Selamat Datang di Tokyo, kita telah mendarat di Bandar Udara International Narita. Kami persilahkan kepada anda untuk tetap duduk hingga pesawat ini benar-benar berhenti..." Suara pramugari yang langsung mengusik lamunan gadis merah muda itu terhadap masa lalunya.
Gadis merah muda itu tersenyum. Dia telah sampai. Setelah beberapa tahun memutuskan pergi.
"Yatta... Maafkan aku sampai menunda pertandingan terlalu lama, Naruto. 2 tahun bukan waktu yang sebentar, ne? Semoga kau masih bisa diajak bertanding."
.
000
.
"Oi, Menma! Dengarkan Ibu dan jangan buat kekacauan! Haish!"teriak Naruto sembari terus mengejar adiknya yang masih berusia 8 tahun itu. Menma tergelak dan melangkah lebih cepat dari yang seharusnya.
"Menma! Kembalikan raketku! Demi Tuhan kalau aku berhasil menangkapmu aku akan membuatmu tidak bisa menonton TV selama 1 bulan."gerutu Naruto lebih keras.
"Onii-chan terlalu sering bermain dengan raket ini sampai mengabaikan permintaanku. Raket ini kusita sampai Onii-chan membiarkanku menang dalam sepak bola secara adil."
"Ya! Menma!"
"Onii-chan tidak akan menang dariku."
Naruto mengerang dan berlari mengejar adiknya. Bocah itu berlari dengan gesit. Pria kuning itu merutuki dirinya karena sudah lama dia tidak mengasah kemampuan larinya di atas treadmil. Dia bahkan tidak sempat berlatih karena jadwal pemotretannya yang luar biasa padat. Sial. Bahkan gadis itu sudah dijadwalkan pulang. Mereka sudah menunda 2 tahun untuk pertandingan. Dan jika ini tidak berhasil, dia harus menjadikan gadis itu teman. Sesuatu yang tidak disukai Naruto sama sekali.
"YA! MENMA!"
BRUK!
"Ittai!"
Naruto mengerang begitu terjatuh dan menabrak sesuatu yang... empuk?
"Ya... Mau sampai kapan kau menenggelamkan wajahmu di atas dadaku, mesum?"
Nani? Naruto bangkit dan terkejut dengan penampilan gadis berambut rose gold dengan pakaian yang... nyaris telanjang? Oke, itu menyeramkan. Tapi bagaimana cara menggambarkan gadis yang tengah berpakaian minim di hadapannya?
Gadis itu mengenakan tank top ketat berwarna hitam (walau Naruto sendiri tidak cukup yakin dengan makna ketat itu karena tanktop itu tertutupi oleh kaos), kaos longgar berwarna merah marun yang pada bagian bawahnya diikat. Naruto cukup yakin jika gadis itu mengangkat kedua tangannya, pusar gadis itu akan terlihat. Kaos itu cukup longgar hingga bagian atasnya memperlihatkan sebelah bahu mulus gadis itu. Sialnya, kulit gadis itu mulus sekali. Celana jeans super seksi yang melekat sempurna pada paha gadis itu. Panjang celana jeans yang dikenakannya bahkan tidak sampai setengah pahanya. Gadis itu mengenakan anting-anting bulat dan lebar. Rambut sebahunya dikepang longgar dan topi hitam dengan tulisan 'sexy' yang menegaskan keseluruhan tampilan gadis itu.
"Are?" Gadis itu terkikik. Luar biasa. Bahkan suara gadis itu membuat sesuatu dalam diri Naruto bangkit. Kenapa gadis itu punya suara yang sexy juga?
Klik!
Gadis itu tersenyum puas melihat hasil jepretannya. Wajah Naruto cukup menggemaskan saat ini. Pria itu memiliki banyak hal mengejutkan.
"Apa model sepertimu bisa berekspresi sebagus ini hanya karena mendarat di atas dada seorang gadis? Are? Apa cup B bisa membuat wajahmu menggelikan seperti ini?"
Naruto mengerang. Tidak menyangka bahwa gadis itu memotret wajah bodohnya dan.. dan... Kami-sama, dia bahkan mimisan.
"Hapus foto itu sekarang, Sakura!"
Sakura terkikik dan berdiri. Dengan sigap gadis itu menyimpan fotonya ke dalam emailnya dan membiarkan Naruto merebut ponselnya. Pria itu langsung menghapus foto itu dari galeri sembari tersenyum penuh kemenangan.
"Percuma. Itu kenang-kenangan yang kubutuhkan setelah 12 tahun tidak bertemu denganmu. Aku sudah menyimpannya ke dalam dropbox dan kau tidak akan bisa membukanya."ejek Sakura.
"Sial!"
"Kita sudah lama tidak bertemu dan kau sudah mengumpat sampai seperti itu." Sakura menggeleng-geleng dengan kespresi berpura-pura sedih. "Seharusnya kau bertanggung jawab pada pakaianku, Baka. Kau mengotorinya dengan darahmu karena otak mesummu itu."
"Nani?"
Sakura menunjuk noda darah di dadanya sembari tertawa. "Yare... Putra kesayangan Bibi Kushina bisa melakukan ini."godanya tanpa ampun.
"Jangan menggodanya, Sakura. Kau tau dia sudah cukup uring-uringan hari ini."sahut Kushina dengan senyum yang merekah. Tangannya membentang siap memeluk tubuh gadis yang sudah lama tidak dilihatnya.
"Aku tau. Pasti karena kepulanganku kan?"
"Ding-dong. Kau benar. Dia sudah memarahi Menma setidaknya 5 kali pagi ini. Membuat Shion menangis sebanyak 3 kali. Dan membuat Minato harus memakai headphone agar bisa konsentrasi memanggang roti."
"Menakutkan. Sepertinya aku sudah memberi efek buruk padanya."
"Tidak. Aku suka sekali kau datang. Kau tidak rindu padaku?"
"Tentu saja aku rindu Bibi. Dan... Selamat pagi Bibi. Sudah lama sekali tidak melihatmu. Kau masih cantik saja seperti dulu."
"Aku tau. Banyak sekali yang mengatakannya." Kushina menggiring Sakura masuk ke dalam rumah. "Kau bisa istirahat dulu. Masih jet lag atau semacamnya?"
"Sedikit. Tapi aku pasti bisa mengatasinya."
"Kau sudah konsultasi dengan Robert kan soal..."
"Bibi jangan khawatir. Mr. Dawson sudah menitipkan surat ini padaku. Dia memintaku langsung memberikannya pada Bibi begitu tiba di Jepang. Mr. Dawson tidak ingin Bibi menerornya dengan pertanyaan."
Gadis berambut rose gold itu memberikan amplop putih polos ke tangan Kushina. "Pastikan hanya Bibi dan juga Paman Minato saja yang tau, ne?"
"Jangan khawatir. Kau tau Bibi kan?"
Sakura menghela nafas lega dan memeluk wanita berambut merah itu dengan sayang. "Aku beruntung bisa bertemu Bibi Kushina dan Paman Minato."
Sementara dari jauh, Naruto menggeram. Kilasan balik masa kecilnya ketika Sakura membuat hubungan antara dia, ayahnya, dan juga ibunya mendadak 'dingin'. Tentang Sakura yang sering membuat ibunya menangis. Dan tentang kakeknya yang datang dan menyuarakan kebencian pada kedua orang tuanya. Hanya karena seorang gadis bernama Haruno Sakura.
.
000
.
Sakura menatap tatanan kamar yang oleh Kushina memang diperuntukkan dirinya. Kamar itu bernuansa pink. Sakura masih ingat ketika Kushina mengajaknya pergi ke Konoha beberapa minggu setelah Naruto datang ke Tokyo dan mengamuk. Kamar itu hanya sempat ditempatinya setengah tahun sebelum pergi. Dan kondisi kamar itu masih tetap sama dengan yang terakhir dilihatnya.
"Ibu bahkan melarang Shion main di kamar ini."ujar bocah berambut merah yang mengejutkan Sakura.
"Ah... Kau pasti..."
"Menma. Namikaze Menma."
"So desuka, Menma. Namaku Haruno Sakura."
"Kakakku membencimu. Dia banyak memajang fotomu dan mencoret-coretnya. Katanya kau sangat mengganggu ketenangan hidup. Aku tidak mengerti apa itu ketenangan. Yah... Kalau kau memiliki kembaran seperti Shion kau pasti akan mengerti bagaimana hidup tidak akan pernah tenang."
Sakura terkikik mendengar komentar penuh kejujuran itu. Dia tidak pernah tau Menma. Tapi pria cilik itu tidak terganggu dan malah mengajaknya bicara. Berlawanan dengan sikap sang kakak yang lebih senang mengenyahkan Sakura dari hidupnya. Dasar...
"Baiklah... Tapi aku tidak memiliki saudara jadi aku tidak tau bagaimana rasanya."
"Sungguh?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
Menma mengangguk. "Kau terlihat sedang berbohong dan sedih. Padahal dari tadi kau tersenyum menggoda kakak dan juga ibu. Tapi yang kulihat kau ingin menangis. Kenapa tidak menangis saja?"
Deg!
Sakura menelan ludahnya dan menetralkan perasaan yang berkecamuk atas kata-kata polos bocah di hadapannya itu.
"Oi, Menma!"
Sakura dan Menma reflek menoleh ke sumber suara. Naruto tengah berdiri di depan pintu dengan wajah gusar. Tidak suka memandang adiknya dekat dengan gadis yang tidak disukainya.
"Nani?"
"Ibu memanggilmu."sahut Naruto dingin.
"Sebentar Naruto-nii." Menma berbalik ke arah Sakura dan tersenyum. "Lain kali cobalah untuk jujur. Tidak akan sakit kok."bisik bocah bermata biru itu sebelum pergi meninggalkan Sakura.
"Jangan main-main dengan adikku pink." Naruto berusaha mengingatkan.
"Aku hanya bermain-main denganmu, Naruto."
"Kau dan aku terikat dengan pertandingan. Tidak lebih. Setelah itu kau harus pergi dariku."
"Ne, kita lihat saja nanti."
.
000
.
"Jadi apa rencanamu selanjutnya, Sakura?"tanya Minato setelah makan malam usai.
"Menjadi pengangguran sementara. Bermain tenis dengan Naruto. Aku tidak punya rencana apapun untuk saat ini Paman."
Minato mengangguk dan menaruh gelasnya di meja. "Aku melihat pertandinganmu dalam ajang tenis amatir internasional tahun lalu. Kau yakin tidak ingin menjadi pro?"
Sakura menggelengkan kepalanya dan menatap Menma yang berebut mainan dengan Shion. Mengingatkannya akan masa kecilnya bersama Naruto.
"Paman tau kondisiku. Bisa bermain 3 Set pertandingan tanpa pingsan sudah anugrah."
"Aku sudah membaca surat dari Robert. Aku harap kondisimu masih tetap baik sampai pertandinganmu dengan Naruto selesai. Setelah ini kau harus banyak istirahat."
"Jangan khawatir."
Minato mengangguk dan menatap prihatin pada gadis yang masih terlihat ceria di hadapanya. Kilasan kejadian 12 tahun yang lalu bermain di kepalanya. Tepat ketika Kushina memantapkan diri untuk membawa Sakura pulang ke Konoha bersamanya.
.
.
.
Flashback
"Maafkan aku sudah menelantarkan kalian sampai seperti ini, Minato."bisik Kushina sembari memeluk suaminya.
"Kita harus bisa melewati semua ini, Kushina. Naruto masih kecil. Karenanya dia bertingkah konyol. Dia hanya belum mengerti."
"Tapi dia jadi sulit diberitahu begini karenaku. Kalau saja sejak awal kita memberitahunya seara lebih dewasa..."
"Sudahlah."
Minato memeluk istrinya dan berusaha menenangkan wanita itu. "Tidak akan merubah masa lalu. Kita hanya harus lebih siap dan waspada."
"Aku tidak ingin Ayah tau sekarang, Minato."
"Kita akan berusaha sebaik mungkin."
Kushina mengangguk dan kembali menangis dalam pelukan suaminya. Menangisi nasib gadis mungil yang saat ini tengah terlelap bersama Naruto setelah berebut mainan. Gadis sekecil itu tidak seharusnya menerima tragedi seperti itu.
.
.
Kakashi menatap awas pada kakak perempuannya itu. Berita buruk baru saja diterima olehnya. Dan ini benar-benar tidak baik.
"Katakan saja permasalahannya, Kakashi. Kami siap mendengarkanmu."
Pria berambut putih dan senantiasa memakai masker itu menghela nafas panjang.
"Ayah sudah tau ada seorang Haruno yang selamat saat itu. Kalau kau menyembunyikannya di rumah ini, akan sangat berbahaya."
"Apa? Ba... bagaimana?"
"Aku tidak tau. Tapi aku menduga Kak Mikoto yang menemukan ini pertama kali. Tokyo bukan kota kecil baginya sampai bisa mendapat informasi dari rumah sakit. Tidak banyak waktu yang tersisa sampai Ayah benar-benar berniat menghabisi gadis itu."
"Tapi dia hanya anak kecil! Demi Tuhan!"
"Dia pewaris Haruno satu-satunya, Kushina-nee."
Kushina mengerang marah. Ini sudah keterlaluan.
"Kita terlahir sebagai pewaris Yakuza. Kita juga dididik berhati dingin. Dan kau tau Ayah tidak akan peduli dengan bagaimana seharusnya memperlakukan anak kecil. Ini hanya soal waktu."
"Apa kau memiliki solusi, Kakashi?"tanya Minato sembari mengusap punggung istrinya.
"Kita bisa menempatkan Sakura pada pusat pengembangan anak dengan kemampuan khusus. Aku sudah membaca pemeriksaan Dokter dan Sakura bukan anak biasa. IQ nya 200 dan dia memiliki kemampuan analisis yang bagus. Lembaga itu dilindungi pemerintah. Jelas bukan ranah yang bisa diotak-atik Ayah semudah itu."
"Kau yakin?"
Kakashi mengangguk.
"Kalau kau mengizinkan, aku memiliki teman yang juga salah satu anak yang dibina di dalam lembaga itu. Aku sudah bertanya prosedur penerimaan anak dengan kemampuan khusus. Ini berkasnya."
"Andai saja aku bisa merawatnya disini, Kakashi."gumam Minato sedih.
"Tragedi akan terulang, Minato-nii. Tidak akan baik. Jika ingin menyelamatkannya, kita harus menempatkannya pada tempat yang aman."
.
.
Flashback end.
.
.
.
"Paman Minato?"usik Sakura.
Minato terbangun dari lamunannya dan menatap gadis berparas mirip dengan istrinya itu. "Maafkan aku. Sampai mana tadi kau bercerita?"
"Aku sudah menyelesaikan program doktoralku, Paman."
"Oh, itu bagus. Kau masih 18 tahun tapi itu luar biasa, Sakura."
"Putramu juga luar biasa."
"Naruto?" Minato mengerutkan alisnya. "Aku tidak begitu yakin. Dia suka kuliah dan sudah menyelesaikan kuliah di 5 jurusan tanpa kesulitan. Tapi tetap saja tidak ada satupun yang membuatnya tetap tertarik. Kecuali kegiatan modelingnya dan tenis. Entahlah..."
"Dia harus serius dalam tenis Paman. Kami memiliki pertandingan yang harus diselesaikan."
"Aku harap kalian menghentikan taruhan konyol masa kecil kalian itu."
Sakura menggelengkan kepalanya penuh keyakinan. "Aku tidak bisa Paman. Pertandingan ini satu-satunya alasan aku bertahan sampai sekarang. Dan ini kesempatanku untuk memberikan salam yang pantas padanya."
.
000
.
"Yosh!"
Naruto tersenyum puas begitu sampai di rumahnya setelah berlari sejauh 10 km. Dia gila? Katakan saja seperti itu. Tapi berlari dengan perasaan kesal yang meluap sejak kemarin merupakan obat yang luar biasa. Lagipula dia bisa menghindar dari gadis menyebalkan itu.
"Kau terlambat untuk ukuran latihan pagi Naruto."ujar Sakura dengan suaranya yang seksi. Naruto bahkan harus mengumpat berkali-kali di hatinya karena tidak hanya suara gadis itu yang mengganggu tapi juga tampilan luar biasa gadis itu.
Topi putih, rambut diikat ekor kuda, memakai piercing bukan anting seperti kemarin ketika datang, tank top ketat berwarna merah muda, dan jeans pendek berwarna putih. Di kedua tangannya melingkar handband berwarna hitam. Oh dan jangan lupakan raket tenis berwarna marun yang tengah digenggamnya. Kami-sama... Ini bahkan lebih seksi dari kemarin.
"Bisakah kau... berpakaian yang wajar selama di sini?"tanya Naruto marah. Pria kuning itu gusar. Tidak nyaman dengan pemandangan yang tersaji karena mampu membuatnya tidak berkata-kata.
"Kau ingin aku mengenakan mantel musim dingin di udara seterik ini? Yang benar saja!"
"Setidaknya pakai kaos atau sesuatu yang... Kami-sama! Kau menggelikan."
Sakura menghela nafas panjang dan melempar sebuah raket ke arah Naruto. "Aku tidak punya banyak waktu untuk berdebat. Ambil raket itu dan kita mulai latihan."
"Nani?"
"Lakukan saja, Naruto."
Pria itu berjalan ke arah lapangan tenis di belakang rumahnya. Di sana, Sakura sudah menunggu dengan wajah bosan. Kedua orang tuanya bahkan sudah menyiapkan sarapan di pinggir lapangan. Sementara Menma dan juga Shion sibuk berebut bola.
"Kau mengundang seluruh keluargaku?"tanya Naruto penuh curiga.
"Paman Minato dan Bibi Kushina adalah orang yang mengerti tenis. Mereka bisa menjadi wasit yang objektif jika dibandingkan dengan hanya kita berdua."
"Ini bukan pertandingan, Sakura."
"Aku tau. Ini hanya latihan."
Naruto berdiri di satu sisi lapangan dan mengamati gadis itu berjalan. Sakura mengambil bola dan bersiap untuk melakukan serve.
"Siap?"tanya Minato memberi aba-aba. "1, 2, Mulai."
POK!
Sakura melakukan serve yang diluar dugaan, nyaris tidak terpukul oleh Naruto. Apa-apaan gadis ini? Tubuh ringkihnya bisa memukul bola sampai seperti itu?
"15-love."
"Ayolah Naruto. Tidak lucu kalau kau hanya melihat. Kau sudah berlatih selama 12 tahun ini kan?"tanya Sakura dengan nada mengejek. Naruto semakin mengeratkan genggamannya pada raket yang dibawanya.
POK!
Sakura melakuakn serve lagi. Bolanya terjangkau oleh Naruto. Pria itu membalas serangan sampai...
"30-love."
"Naruto..."bisik gemas Sakura. "Seriuslah. Kalau ini pertandingan sungguhan, kau tidak akan bisa mengusirku dari hidupmu, Baka."
"40-love."
Naruto nyaris melempar raketnya, marah. Apa-apaan ini semua? Kenapa dia bisa kalah dengan gadis ini?
"Fokus pada bolaku, Naruto." Sakura mengingatkan.
POK!
"Game. Sakura menang."
Naruto meletakkan raketnya dan mengambil botol minum yang sudah diulurkan Kushina padanya. Rasa kesal karena kalah 1 game dengan gadis itu membuatnya ingin marah. Apa yang sebenarnya dilakukan Sakura selama 12 tahun terakhir?
Tapi sepertinya gadis itu tidak ingin membuatnya tenang. Sakura membawa raket Naruto dan memaksa pria itu membawanya.
"Ayunkan raketmu seperti tadi."
Tak!
Naruto terkejut. ketika dia mengayunkan raketnya, Sakura menahannya dengan raket milik Sakura.
"Ayunkan lagi."
Tak!
"Lagi."
Tak!
"Apa maksudmu Sakura?"
"Itu tempo bolaku yang datang. Kecepatan dan juga kekuatannya."
"Nani?"
Sakura menghela nafasnya. "Kalau kau benar-benar ingin aku pergi dari hidupmu, maka seriuslah. Kalau tidak, lupakan saja mimpimu."
"Dan kenapa kau memberitahuku tempo bolamu?"
"Aku bukan lawan yang picik. Aku ingin pertandingan yang menyenangkan. Terlepas dari apa yang kita pertaruhkan."
"Kau tau kita musuh kan, Sakura?"
"I know. I know what you think about me. The most terrible part of your life. A curse and a monster. Whatever you think about me. Tapi aku tau satu hal. Kita terikat dengan takdir."
Sakura tersenyum dan mengacak rambut Naruto tanpa merasa bersalah. Gadis itu bahkan tidak menoleh ketika meninggalkan Naruto berdiri mematung menatapnya. Sakura bahkan tidak terlihat peduli. Gadis itu asyik melerai Menma dan juga Shion yang bertengkar.
"Ada apa dengannya? Apa yang bisa merubahnya sampai seperti itu?"bisik Naruto tanpa sadar.
.
000
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
Oi Minna. Jumpa lagi sama Chiyo. Sebelumnya, Chiyo mau ngucapin doumo arigatou buat yang klik fav dan follow di cerita ini. Kalian luar biasa deh pokoknya. :)
Nah, buat yang udah baca cerita ini makasih. Kalian awesome deh. Tapi akan lebih nyambung lagi kalau kalian baca cerita punya Kak SilentMaru yang judulnya Ecstasy Hearts. Kalian bakal tau seberapa sad cerita aslinya. Tapi ga baca juga gapapa kok. Nggak maksa. Saya cuma nggak suka dibilang plagiator pada endingnya. Buat kalian yang udah baca komik yang judulnya saya cantumin itu, kalian akan menemukan perbedaan yang cukup banyak dengan cerita ini. Bakal terasa beda kalau udah menginjak chap-chap berikutnya.
Oh ya, beda sama cerita saya yang Dancing With The Star, cerita ini saya ngetik langsung saya publish. Jadi alur mungkin aja berbeda sama kondisi yang saya rencanakan sebelumnya. Kalau Dancing With The Star itu cerita yang bikin saya riset banyak hal dulu sebelum bikin tiap chap. Terutama membangun konflik yang bakal pecah di Chap 14 dan 15. Wkwkwkwk... Penasaran ya? Sabar ya...
Tapi please buat penggemar NS dan SH yang baca Dancing With The Star dan mampir di sini, saya cuma mau bilang saya ga bakal ninggalin 2 couple ini di cerita itu. Yg NS lover bilang NS kurang banyak nggak sebanyak SH. Dan yang SH lover curhat kalau banyakan moment NS. Oke, itu bikin pusing. Ga mungkin kan ya dalam 1 chapter saya ngisi adegannya cinta-cintaan melulu. Dan jangan protes bilang kalau Sasuke banyak berkorban buat kisah cinta Naruto dan Sakura. Eleh... Ini salah besar ya bosque. Dia tokoh yang saya amanatkan buat menyelesaikan konflik 2 keluarga. Bukan konfliknya Narusaku doang. Jadi, kalau kalian minta salah satu lebih banyak dari salah lain... lah kapan kelarnya konflik itu? Wkwkwk... Mereka bakal sweet dalam moment tertentu. Udah segitu dulu aja cuap-cuap dari Chiyo. Makasih semuanya... Jaa matta ne. :)
