"Ia begitu dekat, namun kenapa ia terasa begitu jauh. Ia ada di depanku, tapi kenapa aku tidak bisa meraihnya?"

.

Your Promises in the Summer Rain

.

Cast: GFRIEND Yuju x Seventeen Dokyeom

Warning: Typo(s), typo(s) everywhere~ DLDR. First fict in this fandom and in this account, hehe

Note: [text] untuk kilas balik/flashback

.

.

Natalia Ivory

Enjoy!

.

Bahkan dengan suara studio musik yang keras, suara vokal seorang Boo Seungkwan yang sangat powerful pun, seorang Lee Dokyeom masih duduk dengan tatapan kosong, melamun meskipun di sekelilingnya begitu berisik. Beberapa teman Dokyeom saling berbisik satu sama lain, saling membicarakan Dokyeom. Meskipun Dokyeom tau, meskipun Dokyeom dengar, ia tidak memperdulikan ocehan teman-temannya.

Tatapan dan pikirannya benar-benar kosong. Ia terus melamuni hal yang sama.

Bahkan setelah lama tidak bertemu, kau masih saja terasa jauh, Yuju-ya

"O-Oi, Dokyeom-ah!"

Seorang pemudaㅡJoshua Hong, murid pindahan dari Amerikaㅡyang duduk di samping Dokyeom, menyadari bahwa memang sedari tadi ada yang aneh dengan temannya satu ini. Ia pun segera mengguncang tubuh besar Dokyeom ketika ia menyadari bahwa air mata Dokyeom turun menuruni pipinya. Reflek, semua orang di studio tersebut langsung menoleh ke arah Dokyeom

Dokyeom yang tersadar dari lamunannya memperhatikan teman-temannya yang mengerubunginya, masih dengan mata berlinang dan keheranan.

"A-Ada apa?" tanya Dokyeom yang terheran karena semua temannya mengerubunginya bagikan semut yang menherubungi gula.

"Harusnya kami yang bertanya ada apa." ujar Joshua. Diikuti anggukan dari teman-temannya.

Dokyeom tertawa pelan. Namun, tawaannya terdengar begitu miris dan menyakitkan. Joshua dan Seungkwan saling bertatapan satu sama lain sampai akhirnya Seungkwan menoleh ke arah Dokyeom dan berujar.

"Ada sesuatu yang mengganggumu?"

Dokyeom menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Orang-orang yang berada disiniㅡSeungkwan, Joshua, Park Jihoon dan Jeon Wonwooㅡtau bahwa Dokyeom tidak baik-baik saja. Jihoon menepuk pundak Dokyeom, ingin agar Dokyeom mengakhiri semua sandiwaranya.

"Katakan saja. Siapa tau bisa kami bantu."

Ucapan dari Jihoon malah membuat Dokyeom semakin menundukkan kepalanya.

"Aku sebenarnya sebelum pindah ke Seoul, aku memiliki sahabat. Dia baik sekali." Dokyeom mulai bercerita. Dan yang lain mulai mendengarkan dengan seksama.

"Kami selalu bermain hujan, apalagi di musim panas."

[Sore itu hujan turun lagi. Di musim semi, hujan turun lebih sering. Dan ini kesempatan untuk ku, untuk kami berdua bermain hujan. Aku dan teman perempuanku, Yujuㅡnama aslinya Yuna, aku lebih sering memanggilnya Yuju. Ntahlah. Itu seperti nama panggilan dariku untuknyaㅡsangat suka bermain hujan. Kami sudah bersahabat sejak kami masih duduk di bangku TK, dan kami selalu bermain hujan.

Dan Yuju sering sakit karena bermain hujan. Meskipun begitu, aku selalu merawat dan menemaninya. Menemaninya bermain hujan maksudku. Oke, aku bercanda.

Aku berlari mengejar Yuju mengelilingi taman yang terdapat di desa kami. Kami berdua tertawa di bawah hujan yang memgguyur kami berdua. Kami masih menginjak bangku pertama di SMP kala itu.]

"Aku pergi ke Seoul untuk melanjutkan sekolahku, dan kami tidak pernah bertemu sejak hari itu. Tapi kami berjanji satu sama lain."

[Yuju duduk di salah satu sisi jungkat-jungkit yang sisi lainnya aku duduki juga. Aku berada di sisi bawah jungkat-jungkit sedangkan dia berada di sisi atas. Sehingga kakinya ia ayunkan dengan bebas di udara. Kami sudah beranjak dewasa, dan sudah mulai dengan kesibukan kami masing-masing. Bahkan sudah lama kami tidak bermain hujan bersama lagi. Mungkin ada lebih dari sebulan kami tidak bermain hujan bersama.

Baik aku dan Yuju, sangat menyukai hujan di musim panas.

"Kau akan masuk SMA di mana?" aku membuka pembicaraan. Dia tampak berfikir agak lama.

"Aku ingin masuk ke SMA yang sama denganmu, Dokyeom."

Ya. Aku dan Yuju memang tidak pernah terpisahkan. Tapi kenapa aku sendiri yang malah memisahkan diriku dari Yuju?

"Aku.." suaraku agak tersendat.

"Aku ingin melanjutkan sekolahku di Seoul. Aku akan pindah bulan depan."

Yuju spontan langsung menoleh ke arahku, ia turun dari jungkat-jungkit dan berjongkok di hadapanku. Ia menggenggam tanganku, seolah-olah tak ingin berpisah dariku.

"Kau sudah diberikan izin untuk pergi?" ia bertanya. Suaranya agak samae untuk di dengar, tapi aku masih dapat mendengar suaranya dengan jelas. Aku tersenyum lembut, sangat lembut dan menggenggam balik tangannya.

Aku menganggukkan kepalaku, "Tenanglah, Yuju-ya."

Aku tak kuasa menahan tanganku untuk tidak menepuk kepalanya. Ia terlihat akan menangis, dan itu agak menyakitiku.

"Berjanjilah padaku kau tidak akan melupakanku."

Aku mengangguk. Mana mungkin aku melupakanmu. Aku pun menunggu sebelum berkata,

"Dan berjanjilah padaku, kita akan bermain hujan di musim panas berikutnya."]

Seungkwan, Joshua, Wonwoo, Jihoon terdiam ketika mendengar cerita panjang lebar dari Dokyeom. Wonwoo ingin angkat bicara namun dihalang oleh Jihoon. Mungkin mereka tidak pernah mengalaminya. Tapi setidaknya mereka mengerti apa yang Dokyeom rasakan. Seungkwan menepuk pundak Dokyeom, membuat pemuda tersebut langsung menoleh ke arah Dokyeom.

"Tadi aku bertemu dengan Yuju. Tapi ia langsung di tarik oleh temannya. Dan Seungkwan langsung menarik tanganku." dengan pernyataan itu, Jihoon, Wonwoo dan Joshua langaung meng-glare ke arah Seungkwan yang tidak tau apa-apa.

"Apa dia berasal dari SMA Khusus Wanita X?" Joshua menyelutuk, membuat Dokyeom langsung membelalakkan mata dan mengangguk. Ia menatap Joshua hingga membuat pemuda itu takut.

"Bagaimana kau tau?"

"Aku melihat bus dengan banner SMA Khusus Wanita X di dekat hotel."

Dokyeom langsung buru-buru beranjak. Namun lagi-lagi, tangannya dihalangi oleh Seungkwan. Seungkwan mencegat Dokyeom.

"Tunggu, Dokyeom. Sebaiknya, kau jangan terburu-buru." ujar Seungkwan, Dokyeom menepis tangan Seungkwan. Tapi, Seungkwan dengan keras kepalanya kembali menahan tangan Dokyeom.

"Kau kesana pun percuma." Jihoon terdiam sebelum melanjutkan ucapannya, "Dia pasti sedang berwisata. Dan tidak akan ada di hotel."

Jeon Wonwoo yang sedari tadi terdiam, terlintas ide di pikirannya, "Ah! Bagaimana kalauㅡ"

*

Ini sudah hari ketiga semenjak Yuna dan Eunbi berada di Seoul. Semenjak di pulang dari Istana Gyeongbokgung, Yuna terlihat murung dan lebih sering melamun dari biasanya. Eunbi bahkan tidak tau apa yang harus ia lakukan. Memang semenjak saat dimana Eunbi pertama kali melihat Yuna melamun saat mereka akan berangkat ke Seoul, Eunbi sudah tau ada yang tidak beres dengan Yuna. Dan saat ini Yuna malah terlihat lebih sering melamun dan lebih sering murung.

Ini sudah jam 4 sore, dan mereka baru saja kembali ke hotel. Sebelum jadwal makan malam, mereka bebas kemana saja. Eunbi berniat mengajak Yuna untuk pergi ke Namdaemun. Namun karena kondisi Yuna yang tidak memungkinkan, Eunbi mengurungkan niatnya dan pergi seorang diri.

Baru saja ia beranjak keluar dari kamarnya, salah seorang siswi yang berasal dari kelas berbeda dengannga menghampiri Eunbi.

"Ah, Eunbi-ssi. Ada Choi Yuna tidak?" sang gadis yang Eunbi yakin bernama Jung Yerin itu bertanya seraya tersenyum dengan senyum khas miliknya. Eunbi mengangguk singkat lalu langsung berujar, "Ada, sih. Tapi dia sedang tidak bisa di ganggu. Kenapa ya?"

Yerin mengangguk tanda mengerti, "Songsaengnim bertanya jadwal liburan sendiri miliknya. Hanya dia yang belum menyerahkan. Kalau sudah, tolong sampaikan ya."

Eunbi pun mengangguk, lalu Yerin beranjak pergi dari sana. Eunbi pun meneruskan perjalanannya keluar dari hotel karena ia ingin ke Namdaemun. Ia ingin berbelanja barang-barang yang tidak akan ia dapatkan di kampung halamannya.

Banyak siswi yang berasal dari sekolah yang sama dengan Eunbi berlau lalang keluar masuk hotel. Tapi, ada sekumpulan orang yang tidak Eunbi kenal, mereka berdiri di gerbang hotel dan memperhatikan Eunbi sedari tadi. Ntahlah Eunbi yang terlalu kepedean atau mereka memang memperhatikan Eunbi dari tadi.

Karena ini semua ide Wonwoo, Jihoon dan Seungkwan mendorong Wonwoo untuk bertanya pada Eunbi yang sebentar lagi akan lewat ke gerbang tempat mereka menunggu. Wonwoo menghela nafas pelan, dan akhirnya mengalah. Ia berdiri dan menunggu Eunbi lewat.

Eunbi menundukkan kepalanya dan berjalan melewati kelompok Wonwoo dan kawan-kawan. Namun, Wonwoo segera menghentikan langkah gadis pendek berambut pendek itu.

"M-Maaf, ada yang ingin kami tanya." Eunbi terlihat agak ketakutan, selang beberapa detik, ia menganggukkan kepalanya.

Wonwoo tersenyum lega mendengar respon dari gadis di depannya, "Kamu siswi dari SMA Khusus Wanita X?"

Eunbi mengangguk singkat. Dan ketika mendapatkan respon, Joshua yang berdiri di samping Seungkwan itu langsung berhambur menghampiri Wonwoo dan Eunbi

"Kami sedang mencari seseorang. Apa kau kenal dengan Choi Yuju?"

Jihoon menyela, "Choi Yuna."

"A-ah, iya. Maksudku Choi Yuna."

Eunbi dengan antusias mengangguk, tentu saja. Choi Yuna adalah sahabatnya, "Iya. Aku kenal. Aku sahabatnya Yuna, dan aku satu kamar dengannya." ia berujar dengan semangat, "Tapi, ada apa ya? Yuna sedang tidak bisa diganggu."

"Ada orang yang ingin kami pertemukan dengan Choi Yuna. Namanya Lee Dokyeom." ujar Wonwoo.

"Dokyeom ini sahabat nya Yuna-ssi yang telah lama hilang. Karena Dokyeom melanjutkan sekolahnya di Seoul, mereka sudah lama tidak bertemu."

Mendengar pernyataan dari Seungkwan, Eunbi langsung terpikirkan suatu hal. Mungkin ini alasan kenapa Yuna murung akhir-akhir ini. Mungkin jika ada yang bisa Eunbi lakukan agar Yuna tidak murung lagi, mungkin ini. Ia bisa membantu mereka agar Dokyeom dan Yuna bertemu lagi.

"Tapi, aku tidak mengizinkan kalian bertemu dengan Yuna sekarang. Dia sedang tidak bisa di ganggu." Eunbi menjelaskan.

Wonwoo nampak berfikir, namun Jihoon sudah berbicara duluan, "Besok kalian akan pergi kemana?"

"Kalau menurut jadwal yang diambil oleh aku dan Yuna, kami akan ke Lotte World dari jam 11 sampai jam 5 sore."

Wonwoo menoleh ke arah Jihoon, "Jangan bilangㅡ"

Jihoon mengangguk, "Kita bisa mengejutkan Choi Yuna dengan memaksa Dokyeom agar datang ke Lotte World."

Baik Wonwoo, Joshua, Seungkwan bahkan Eunbi terlihat berfikir dengan keras tentang ide yang dianjurkan oleh Jihoon.

"Bagaimana?" Jihoon bertanya.

Eunbi mengangguk antusias, ia sangat berterima kasih dengan kedatangan empat orang di hadapannya ini. Sepertinya ia bisa setidaknya memberikan secercah keceriaan untuk sahabatnya, Yuna.

Mereka pun bertukar e-mail agar memudahkan ketika berkomunikasi besok hari untuk menjalankan misi rahasia mereka.

"Oh, iya. Aku Seungkwan. Boo Seungkwan." Seungkwan memperkenalkan dirinya. Lalu dilanjut memperkenalkan teman-temannya, "Ini Jeon Wonwoo, ini Joshua Hong dan ini Park Jihoon."

"Aku Jung Eunbi. Salam kenal." Eunbi membungkukkan badannya sedikit.

"Oh? Eunbi-ya?"

Suara dari belakang itu mengangetkannya, ia langsung menoleh ke belakang dan tepat sekali. Choi Yuna. Eunbi sudah menyadari suara siapa yang tadi memanggilnya. Pasti suara sahabatnya, Yuna.

"E-eh?" Eunbi agak panik, takut percakapannya di dengar oleh Yuna, "Ada apa, Yuna? Kenapa kau keluar sendirian?"

"Karena kau meninggalkanku." Yuna memutar kedua bola matanya. Eunha tersenyum sweatdrop dan merangkul tangan Yuna, "Mereka siapa?"

"Ah, a-aku.. akuㅡ"

"Tadi Eunbi-ssi menanyai jalan kepada kami." Joshua berujar dan tersenyum. Yuna mengangguk.

"Kau mau kemana?" tanya Yuna.

"Namdaemun."

Yuna mengangguk lagi, "Kajja." ia menarik tangan Eunbi yang merangkulnya.

-TBC-

05/10/2017

Natalia Ivory