WARNING!

IT'S CHENMIN/XIUCHEN! SLIGHT CHANBAEK, HUNHAN, XINGDAE/LAYCHEN! BOYxBOY! HOMOPHOBIC MENJAUH, GAK USAH DEKET DEKET SANA HUSH HUSH!

RATE SUATU SAAT BISA NAIK JIKA AUTHOR SEDANG MOOD :v

ALUR GAJE, CERITA PASARAN, BAHASANYA JUGA ACAK KADUT, NO JUDGE PLEASE :))

SELAMAT MEMBACA

.

.

Jongdae dan Minseok sudah sampai di kelas, mereka mengabaikan ocehan panjang Baekhyun yang tidak bermutu.

"Em, Jongdae.. tangan" Minseok berbisik. Jongdae menatap tangan kanannya yang sedang menggenggam tangan kiri Minseok. Buru-buru dia lepas genggaman itu.

"Mian," ujarnya. "Tak apa," Minseok duduk di bangku nya. Dia menatap papan tulis dengan malas.

"Hari ini belajar?" Minseok mengalihkan pandangannya pada Jongdae. Yang di tatap hanya mengendikkan bahu acuh. "Ish, jawab yang benar!" Seru Minseok kesal sambil mencubit pipi Jongdae.

"Aaah! Aku tidak tahu Minseok!" Jongdae melepas paksa cubitan menyakitkan itu. "Sensitif sekali, sih. Kau pms, hah?" tanya Jongdae sambil mengusap korban kejahatan Minseok, pipinya.

Minseok membulatkan matanya. "Yak! Aku ini namja, pabbo! Kim Jongdae pabbo!" Teriaknya keras sambil mengarahkan tangannya untuk mencubit Jongdae lagi, sekalian modus, he.

Tanpa peduli apapun, Jongdae melompat melewati meja demi menghindari cubitan maut yang bisa membuat pipinya mengendor. Tapi—

Bruk

—Dia tergelincir dan sialnya, kepalanya jatuh duluan mencium lantai dingin. Kesadarannya menghilang seketika.

Satu kelas hening.

1 detik

2 detik

3 det–

"JONGDAE!" dan mereka berteriak bersamaan.

.

.

"Bodoh, bodoh, Minseok bodoh. Bercandamu keterlaluan, Minseok. Bodoh bodoh." Minseok terus mengucapkan hal itu sambil menabrakkan kepalanya ke dinding berulang kali. Dia merasa sangat sangat bersalah dengan kejadian tadi pagi.

"Min?" Sebuah suara menghentikan aksi bodohnya. "Ku dengar kamu hampir membunuh teman sebangku—"

"Luhan, itu tidak lucu." Minseok menyela. Luhan nyengir, baru kali ini dia melihat Minseok merasa sangat bersalah kepada seseorang. Biasanya dia tidak peduli, atau malah ber-aegyo hanya untuk mendapat maaf dari sang korban.

"Oke, maaf. Jadi siapa korban mu kali ini, hm?" Luhan mengintip ke ruang UKS. Disana ada namja yang masih terbaring. "K.. Kim Jong Dae?" Luhan terkejut. "Kenapa?" Minseok bertanya.

"Minseok, hari ini kau karaoke bareng Yeol kan? Untuk hari ini dan selanjutnya, usahakan jangan sendiri, aku ada urusan dengan seseorang." Luhan menatap Minseok kemudian dia pergi.

"Kenapa sih? Tidak jelas," Minseok menghela nafas dan menatap Jongdae. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk ke kelas, berharap istirahat nanti Jongdae sadar.

.

.

Brak

Minseok kesal. Sangat kesal. Tadi saat dia masuk kelas, banyak obrolan tak jelas yang ia yakini tentang kejadian Jongdae. Belum cukup, ada yang menjegalnya saat mau keluar kelas, siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun.

Kesialan itu belum berakhir, di kantin, ada orang— lebih tepatnya Sunbae nya, yang sengaja menumpahkan jus jeruk ke kepalanya. Astaga, itu membuat dia harus pergi ke toilet dan membilas rambut coklatnya. Lalu saat dia sudah memesan, ada anak kelas sebelah yang sengaja menyenggolnya hingga makanan nya tumpah.

Dan disini dia sekarang, di meja kantin paling ujung, meratapi nasibnya yang sungguh mengenaskan. Minseok mengacak rambut setengah kering nya frustasi. "Setenar apa Kim Jong Dae sialan itu sampai aku harus sesial ini hanya karena dia?!" Serunya keras dan membuat beberapa orang menatapnya.

Minseok acuh. Dia bangkit dan berjalan keluar kantin dengan santai. Sampai dia tidak menyadari jika Sunbae yang menumpahkan jus tadi, menjegal kakinya.

"E-Eh!"

Buk!

Minseok meringis. Perutnya yang kosong ditambah bogem mentah Sunbae ini menyakitkan. Dia yakin perutnya akan membiru atau lebam. Sunbae itu mendekat dan berbisik.

"Jangan ganggu Kim Jong Dae, dia milikku, arra?"

"Nde sunbae, jeongmal mianhae yo." Minseok memilih mengalah sekarang, dia berjalan ke kelasnya dengan luka di tub— hati lebih tepatnya. Pikirannya melayang. Siapa Sunbae tadi? Pacar Jongdae? Atau siapa? Bukankah yang dekat dengan Jongdae itu Baekhyun? Ah, dia lelah memikirkan itu semua.

Masih dalam mode 'Minseok yang sial', beberapa orang membicarakan dirinya dengan Sunbae tadi. Dan hey! Suara mereka terbilang cukup keras. Membuat Minseok muak saja.

"Uwaah Minseok ku sayang~" Luhan tiba-tiba memeluknya ketika dia ada di depan kelas Luhan. Padahal dia mau masuk kelasnya, tapi Luhan menyetop dan memeluknya.

"Kukira kau akan jadi bakpao gepeng tadi, syukurlah kau baik-baik saja, astaga bisa bisa jadi rusa panggang aku jika Eomma mu tau kau jadi bakpao gepeng." Luhan meracau tak jelas. "Apaan sih?" Minseok lelah.

"Sunbae tadi itu namanya Zhang Yixing, dia anak konglomerat dari China, rumornya, dia menyukai Jongdae karena dulu mereka teman kecil, tapi sepertinya Jongdae tidak menyadarinya."

Minseok diam. "Ah terserah, aku lelah Han! Biarkan aku pergi!" Bentaknya sambil mendorong Luhan yang menghalangi jalannya untuk pergi ke kelasnya.

Luhan hanya menatap kepergian Minseok dengan wajah prihatin. "Semoga Minseok baik-baik saja."

Brak!

Minseok membuka pintu kelas dengan kencang, membuat beberapa murid melayangkan pandangan padanya. Kemudian dia mengarahkan pandangan ke seluruh murid yang ada di kelas. Dan matanya berhenti menjelajah ketika melihat Jongdae berbincang dengan Baekhyun.

Minseok reflek membalikkan badan. Takut Jongdae menyadari kehadirannya disana. 'Pabbo ya Minseokkie! Ayo minta maaf! Apa susahnya?!' Batin Minseok kesal.

Tapi Minseok tetaplah Minseok. Bakpao berjalan yang ego nya sangat tinggi. Dia hanya duduk di bangku nya tanpa memedulikan Death glare dari teman-teman sekelasnya.

"Heh sialan, bisa jadi bakpao gepeng kau pulang sekolah nanti."

Minseok memutar badannya dan menatap anak yang duduk di belakangnya. Dia namja. Kulitnya sangat putih seperti susu, wajahnya dingin, tapi, oh God, dia sangat tampan!

"Memangnya salahku besar, ya? Aku kan hanya ingin mencubit dia, dia sendiri yang melompati meja, bukan sepenuhnya salahku," Minseok membela diri. "Tapi pemicu dia melompati meja adalah kau. Dan satu kelas membencimu karena kau hampir membuatnya mati." Namja tadi mengatakan hal itu dengan muka datar tanpa ekspresi.

Minseok membalikkan badannya lagi dan menjatuhkan kepalanya di meja. Tidak peduli jika ada guru yang masuk, toh Minggu ini belum sepenuhnya efektif. Mungkin hanya perkenalan antara guru-murid saja.

Disisi lain, Jongdae hanya menatap Minseok dengan rasa bersalah setelah mendengar dari Baekhyun kalau Minseok menerima banyak cobaan karenanya. "Oh iya, aku juga sama sih, tadi sempat menjegal kakinya, tapi tadi aku hanya merasa kesal, tidak lebih, dan tidak ada niatan jahat padanya." Jelas Baekhyun lugas.

Jongdae langsung memberi death-glare. "Jangan salahkan aku, Dae-ie, oiya, dia belum makan, karena ada anak kelas sebelah yang menyenggolnya tadi."

"Okay," Jongdae berujar singkat dan langsung berlari ke kantin. Baekhyun hanya tersenyum karena tingkah sahabatnya.

.

.

"Jongdae?"

"Hey, itu Jongdae kan?"

"Dia sudah sadar? Syukurlah,"

Jongdae memutar bola matanya malas. Sejak pertama kali MOS disini, ah tidak, sejak pendaftaran, namanya melambung tinggi karena dulu di SMP dia pernah ikut lomba menyanyi disini dan memenangkan hadiah utama. Visualnya yang cukup dan suaranya yang indah mampu membuat para yeoja, bahkan namja mengaguminya.

Jongdae hendak mengambil roti anpan di salah satu penjual, tapi sebuah tangan menghalaunya. "Kenapa kau memilih roti? Bukankah seharusnya kau makan makanan yang berat, Jongdae-ie?"

"Bukan untukku, aku membelinya untuk Minseok, Yixing-ge." Jawab Jongdae dan mengambil roti anpan tadi lalu membayarnya. "Ck, kau masih mempedulikan nya setelah dia hampir membuatmu mati?" Tanya Yixing lagi.

Jongdae hanya mengendikkan bahu dan pergi meninggalkan Yixing begitu saja. Membuat amarah Yixing bergejolak dan rasanya dia ingin membunuh Minseok, yang bahkan belum seminggu mengenal Jongdae.

.

.

"Minseok.."

"Hm.." Minseok tidak mengindahkan panggilan itu, dia sudah kelaparan dan tenaganya menghilang.

"Yah, Han Minseok.." Jongdae mengguncang tubuh Minseok. Tak ada balasan.

"Minseokkie.." Jongdae masih tak mau kalah. Tiba-tiba dia menyeringai dan mendekatkan mulutnya ke telinga Minseok.

"Chagiya, palli ireona.."

"WUAAH!" Minseok langsung melotot karena terkejut. "Apa tadi? Chagiya? Kau pikir aku siapa?" Semprot Minseok pada Jongdae.

Yang terkena ocehan itu hanya mengulum senyum dengan manis. Astaga. Jongdae senyum? Pada Minseok? Okay ini berlebihan, tapi bagi Minseok, ini...

DAEBAKKKK! Ini sebuah kemajuan besar, Hahaha!

Tapi itu hanya bertahan sepersekian detik. Wajah Jongdae langsung berubah menjadi datar dan biasa lagi. "Kau belum makan, kan?" Jongdae langsung to the point sambil menawarkan roti tadi. Karena dia benci basa-basi.

Minseok mematung.

Krbkkkk~

Mukanya memerah ketika mendengar suara perutnya sendiri yang sangat memalukan. Jongdae menahan tawanya. Kemudian dia memukul perut Minseok.

Buk

"Kalau kau lapar, ambi—" ucapan Jongdae terpotong ketika dia melihat Minseok meringis sambil menahan tangannya agar tidak menyentuh perut Minseok lagi.

"Wae? Kau kenapa?" Jongdae panik. Minseok menggeleng pelan. "Gwaenchana, mungkin maag." Dia berbohong. Tentu saja. Mana mungkin dia berkata, 'Aku kena bogem Yixing-sunbae karena dia menyukaimu dan dia tidak suka aku dekat-dekat denganmu, maka menjauhlah dariku, bodoh!'

"Tapi maag bukan disitu, hey, jawab aku dengan jujur." Jongdae menarik dua tangan Minseok dan menahannya. "Jongdae, berhenti." Minseok mencoba melepas tangannya. Sementara Jongdae membuka beberapa kancing seragam Minseok.

"Shit." Jongdae mengumpat setelah melihat hasilnya. Lebam. Dan dia yakin sejak tadi Minseok menahan rasa sakitnya. "Siapa yang melakukan ini?" Lanjutnya. Minseok diam.

"Minseok, siapa?" Jongdae menatapnya dalam.

"Um..."

.

.

Next tidak? ini kenapa jadi acak kadut begini alurnya huweee T_T)

mind to review cerita gaje ini kak?:')