Meski ia harus terjebak dalam labirin penuh duri, haus kekeringan di hamparan Sahara, menangis dalam air, terbang tanpa sayap, terjun dalam jurang tanpa dasar, dan tenggelam dalam hal yang bernama cinta.

.

.

.

Who Are You?

voxjeonny

Vkook pair (김태헝 전정국) • 방탄소년단

BL • Boyxboy • Yaoi • Homophobic (warn!)

Romance • Sappy (sad-happy) • Drama • Supernatural

T or M I'm not sure. "Just enjoy the show."

DLDR!

.

.

.

Jarum jam bermekanisme sempurna menyuarakan tiap detiknya dengan jarum pendek mendekati angka dua belas malam dan jarum panjang berada di angka enam. 30 detik sebelum benar-benar tepat menunjukan keadaan tengah malam.

Bau infus memenuhi ruang 176 dengan seorang pemuda manis bergigi kelinci sedang menatap langit-langit kamar di pojok lantai tiga sebuah rumah sakit di tengah kota. Pendingin ruangan yang semakin membuatnya meringkuk kedinginan, tapi ia menikmatinya. Ditariknya selimut yang tadinya hanya menutupi bagian pinggangnya kebawah sekarang berada menutupi bahu Jungkook. Sebuah kehangatan dalam dinginnya sekitar adalah favorit pemuda itu.

Jungkook menghela napasnya kasar kemudian berlanjut dengan deru napas kecil. Perlahan kelopak matanya menghalangi pandangan onyxnya yang indah kian memudar. Ia terlelap begitu saja sementara kedua jarum jam berhimpitan, bertabrakan, dan sudah menunjukan bahwa hari telah berganti.

.

"Aku.. Baru mendengarnya, Yoongi-hyung." respon sahabat satu apartemen sekaligus seorang yang dianggapnya adiknya itu membuat Yoongi sedikit terheran. "Dia seperti sangat mengkhawatirkanmu, kau harus berterimakasih padanya, Jungkookie. Dan aku pun begitu." balas Yoongi membuat Jungkook semakin memutar otaknya, "Bagaimana bisa, hyung. Nama saja hanya inisial, siapa saja aku bahkan tidak mengenalinya."

"Maka dari itu, Jungkookie.. Kau harus mencari tahu siapa 'V' itu." ya, Jungkook memang sejenak berpikir bahwa perkataan hyungnya itu benar, tetapi ia memberikan respon gengsi dan mengurungkan niatnya itu. "Ah nanti juga ia yang datang padaku, hyung" sejujurnya Jungkook sangat ingin mencari tahu siapa pemuda berinisial hanya alphabetical tunggal itu.

"Kau yakin?" balas Yoongi dengan sebelah alis sedikit menukik dan smirk manis menggoda Jungkook. "Hentikan, hyung. Jangan meng-" ucapan Jungkook terhenti setelah mendengar sebuah pintu tergeser meninggalkan decitan dan gesekan pada lantai. Yoongi tersentak dan matanya terpatri pada manik kelabu seseorang yang tengah ditatapnya. "-godaku.."

Park Jimin. Pemuda 21 tahun dengan paras bak dewa langit. Seorang mahasiswa sekaligus tunangan Yoongi. Berdandan rapi dan formal, semakin membuat makhluk reinkarnasi dewa ini lebih tampan. "Halo Jungkook, bagaimana ke-" sembari melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang Yoongi, sapaannya tersela.

"Kau terlambat lima menit, bantet" sambil menampik lingkaran lengan kekar Jimin dan menyahut beberapa buah dalam paperbag yang dibawa pemuda seksi itu sebelum akhirnya memberikannya kepada Jungkook dan sadar sebuah otot-otot keras itu kembali ke pinggang ramping Yoongi. "Uh, kau galak sekali babe" berekspresi sedih, Yoongi hanya menggerakkan bibirnya acuh.

"Aku baik, sangat baik Jimin-hyung. Terima kasih buahnya." Jungkook tahu lanjutan kata-kata Jimin yang terpotong tadi dan langsung meresponnya "Yoongi-hyung suka menyela, Jimin-hyung. Tadi dia juga menggodaku" kekeh Jungkook mengundang balas pandangan mematikan dari pemuda dengan feline cantik itu.

"Sepertinya pacarku- um, tunanganku minta diberi pelajaran, kau jadi sering memotong perkataanku, sayang." Jimin menggoda Yoongi yang hanya merespon dengan tatapan cuek. Tapi ia tak bisa berbohong, tubuhnya merinding dan sebutir peluh mengalir di pelipis sebelum-

"Kau takut, babe?" -tangan Jimin terulur untuk melenyapkan peluh dingin di pelipis Yoongi dengan punggung jari telunjuk dan tengahnya dengan lembut, masih dalam pelukan di pinggang. "Yah! Jangan disini, Park Jimin!" Yoongi terjengat dan rasa panik yang bermuara di syarafnya.

"Park Jimin? Kau tidak memakai -hyung? atau.. -oppa?-" pukulan keras melayang di lengan berotot Jimin "-akhh, aku bercanda Yoongi-ya." pekik Jimin mengernyit kesakitan. "Jangan coba-coba, pendek sialan." rona merah di permukaan wajah putih pemuda bermanik dark itu menyeruak.

"Anyway, you look fabulous, Jimin-hyung. Kau akan berkencan bersama Yoongi-hyung?" pemuda Jeon kembali bersuara setelah beberapa menit terdiam sambil beberapa kali terkekeh ringan mendengar hyung-hyungnya berselisih. "Ya, seperti yang kau lihat, Jungkook-ah." Jawab Jimin sambil mengusap-usap lengan memerahnya.

Yoongi tersenyum iba kemudian menatap onyx Jungkook "Jungkookie, besok aku akan kembali. Beristirahatlah, sudah hampir larut malam. Kau perlu banyak istirahat.". "Hyung tenang saja. Aku sudah cukup baik. Baiklah aku akan tidur, hyung dan Jimin-hyung selamat menikmati kencannya." Kalimat terakhir Jungkook sebelum kedua pasangan itu tersenyum dan melambaikan tangan meninggalkan Jungkook.

.

Jam menunjukan pukul dua dini hari. Hening menyapa ruang tersebut, hanya hembusan udara pendingin ruangan menguasai dan mengatur suhu dalam ruangan itu. Lampu remang mengitari sisi wajah pemuda yang tengah terlelap, menyisakan siluet di sisi lain dari wajah imut pemuda yang tengah ditatapnya. Ia tidak sendirian, saat ini Jeon Jungkook sedang diperhatikan oleh seseorang.

Manik hazel pemuda berambut blonde itu mengerjap memper hatikan setiap lekuk wajah kelinci manis itu dengan seksama. Sepasang kaki jenjang yang sebelumnya berada di ambang pintu itu melangkah mendekat dengan pasti, hanya berjarak setengah meter dari pemuda yang secantik putri tidur. Jeon Jungkook, nama yang tak kalah manis dari parasnya, batin si blonde itu tersenyum tulus menatap kelopak mata Jungkook.

Tubuh pemuda yang tersadar itu mendekat- lebih dekat -kearah Jungkook, memajukan wajahnya hingga tersisa 30 sentimeter dari wajah bak putri tidur itu. Wajahnya tentu memerah, rona di kedua pipinya yang tak dapat ia sembunyikan, toh juga tidak ada yang melihat. Ia ingin sekali mencium bibir peach milik Jungkook. Tapi pemuda itu masih tahu diri, Jungkook bukan miliknya, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia ingin sekali mengklaim dan memiliki namja cantik itu sepenuhnya.

Ia menyukainya. Hari demi hari ia datang di kehidupan Jungkook, perasaan yang ia miliki begitu erat seolah ia adalah takdirnya. Meskipun ia tidak tahu apa yang sang Kuasa rencanakan. Hanya berusaha mengindahkan kesempatan yang dianggapnya sebuah takdir. Don't need to rush, pikir pemuda itu bijaksana.

Sebelum akhirnya ia menghentikan niatannya untuk menempelkan kedua belah bibir tebalnya ke kedua belah ranum milik Jungkook. Menggantinya dengan usapan pelan di kening si manis, mengusapnya terlalu pelan seolah Jungkook adalah pahatan kaca yang rapuh sekaligus mahakarya yang sangat berharga seolah jari-jarinya terlalu kotor untuk menyentuh kening bertutup belahan surai kukis kelewat terpanggang itu.

Sangat manis, sungguh sangat manis. Berhasil menahan hawa ingin-mencium-Jungkook pemuda itu menghela nafas lega sembari mengusap beberapa peluh mengalir pelan dari sebelah pipinya. Tersenyum sebelum akhirnya melangkahkan kakinya mundur beberapa langkah tanpa melepas pandangan hazelnya pada onyx dibalik kelopak yang bergerak kekanan dan kekiri.

Sebelum akhirnya pemuda itu berbalik, memunggungi Jungkook dan meraih gagang pintu dan menggesernya. Menampakan sorot cahaya kecil memasuki kamar 176 yang gelap namun remang, tersenyum singkat dan berbisik.

"Love me, and the world is ours"

.

.

I'll keep you in mind.

.

.

.

.

.

TBC!

.

.

.

Don't forget to leave a comment/review and let me know what you guys are thinking~

Thanks for all the reviews, I really appreciate it! keep reviewing for the next chap~

About the contents by the way I'm still confused. Thinking really hard for the next chapters ahead, changes are required and maybe there will be a possibility for this story to be changed to 'M' or maybe just hang on 'T'.. Omg it just~ I'm not pro at making an adult scene since this is the first. But I'm at my legal (not in some countries) age anyway~

And yes sorry if there were any typos and else, sorry for the bad plot and the way I express every characters in this story~

C U on the next chapter, minna-san!!~