Chapter 2: Chapter 2
Hohoho chapie 2 update, gomen kemaren banyak banget yang salah dan kurang pas *pudung* tapi di chapie 2 ini aku akan coba buat yang lebih baik.
Oke, silahkan dinikmati.
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Pair : Sasuke X Naruto
Rate : M
Genre : romance, family, dll *plak*
Warning : shonen-ai, *kikiki* gaje, abal, OOC, jelek, jadi harap yang gag suka jangan dibaca , ini peringatan loh.
Summary : Naruto yang berumur 12 tahun mendapat kado special diulang tahunnya yang ke-12 oleh orang tak dikenal. Kado dari orang tak dikenal itu benar-benar membuatnya syok, namun pada saat itu, Uchiha Sasuke –tetangganya- datang membantunya. Dengan menawari tinggal bersama, bagaimanakah kisah selanjutnya? Mari kita tengok XD
Sebelumnya…..
***Naruto POV***
Aku keluar dari kamar Sasu-nii dan segera berlari pulang kerumah. Dalam hatiku berkecamuk. 'bagaimana keadaan kaa-san dan tou-san?' aku membuka pintu rumah, dan dengan langkah cepat aku menaiki tangga, namun sebelum aku sampai dilantai atas, tiba-tiba badanku lemas, dan sepertinya sesuatu melilit kakiku. Dan
BRUUUKKKK
***Naruto POV end***
Suara debaman benda jatuh terngiang di dalam ruangan itu. Itulah Naruto, ia terjatuh dari tangga akibat tenaganya yang memang sangat lemah, serta tanda garis polisi yang memang berada di tangga. Sebagai tanda bukti adanya penyelidikan dirumah itu. Matanya terpejam, dan darah segar mengucur dari kepala bagian depan dan belakangnya. Naruto kembali tak sadarkan diri.
Chapter 2
20 menit setelah kepergian Naruto dari kamar Sasuke-rumah Sasuke-mulai khawatir.
"apa kususul saja dia?" gumamnya
"tapi dia butuh waktu buat sendiri!batinnya berkecamuk "tapiii…baiklah akan aku susul dia" Sasuke segera saja beranjak dari sofa. Dan segera keluar menuju rumah Naruto.
Setibanya, ia membuka pintu dan melangkah masuk kedalam, mencari Naruto berada.
"Naruto, kau dimana?" Sasuke kembali ruangan yang Nampak remang-remang itu. Ia melangkah keruang tengah dimana terdapat tangga yang menghubungkan dengan lantai atas. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat sesosok tubuh mungil remaja yang dikenalinya-naruto-tengah terbaring –tengkurap- diatas tatami berwarna cokelat gelap itu. Ia nampak kaku, tak bergerak sedikitpun.
"Narutoo!" Sasuke segera menghampiri Naruto. "hei…..apa-" pertanyaan Sasuke terpotong saat ia membalik tubuh ringkih Naruto. Dapat ia lihat walau samar, darah segar perlahan mengalir dari kepalanya. "ASTAGA" itulah ucapan terakhir Sasuke, sebelum ia membopong tubuh ringkih Naruto dan membawanya keluar dari rumah.
Konoha Hospital
"apa yang terjadi?" Tanya kepala rumah sakit Konoha a.k.a Tsunade.
"entahlah Tsunade-sama" Sasuke benar-benar merasa cemas dengan kondisi Naruto." Apakah dia akan baik-baik saja?"
"semoga saja begitu, aku akan memeriksanya! Kau…tenanglah, dan tunggulah disini." Tsunade beranjak memasuki ICU ruang Naruto dirawat.
Sasuke hanya memandang kepergian Tsunade.
Beberapa menit setelahnya,
"u-umm Uchi-Uchiha-san" panggil seseorang. Sasuke yang merasa namanya dipanggil segera memalingkan wajahnya guna mencari tahu siapa yang memanggilnya. Dan ternyata itu Shizune. Asisten pribadi Tsunade.
"Shizune-san"
" Uchiha-san aku butuh tanda tanganmu!"
"ehhh, aku? Untuk apa?"
"bodoh. Kau kan yang membawa Naruto kemari, jadi dalam artian kau ini adalah walinya! Nih…" Shizune menyerahkan beberapa lembar kertas yang harus di tanda tangan oleh Sasuke plus polpen tentunya.
"terimakasih" Shizune mengambil kembali kertas dan polpen tadi. "oh iya, sepertinya Naruto benar-benar dalam kondisi yang buruk, tapi…tenanglah. Baiklah aku pergi dulu! Jaa" Shizune bergegas pergi meninggalkan Sasuke yang mematung ditempat.
20 menit kemudian, Tsunade keluar dari ruangan serba putih itu.-ruang Naruto dirawat-
" Sasuke," Sasuke menoleh
"Y-ya," ia langsung berdiri.
"aku ingin menjelaskan kondisi Naruto padamu" Tsunade menghela nafas panjang lalu melanjutkan " sepertinya Naruto….kehilangan ingatannya untuk sesaat." Sasuke kaget dengan apa yang barusan dikatakan oleh Tsunade. "tapi mungkin 2 atau 3 tahun lagi, ingatannya akan kembali." Lanjut Tsunade.
"a-apa benar yamg anda katakan barusan Tsunade-sama?" ia nampak tidak percaya. "la-lalu, bagaimana dengan semua ingatannya tentang pembunuhan kedua orang tuanya?"
"itu…juga hilang." Sesal Tsunade
"jadi begitu," Sasuke terdiam, ia menundukan kepalanya. "Tsunade-sama, bolehkah aku minta tolong paadamu?" lanjut Sasuke 'ha…tentu saja, apa yang dapat aku bantu untukmu?" Tsunade berkata sambil tersenyum
"A-aku, umm… bisakah anda merahasiakan kejadian yang dialami kedua orang tua Naruto darinya?"
"A-apa?" tsunade terbelalak
"A…aku tidak ingin melihat Naruto bersedih. Oleh karena itu aku ingin minta tolong padamu untuk merahasiakan segalanya dari Naruto. Maukah anda melakukannya, Tsunade-sama?"
"A…akan aku pikirkan, nanti."
"Arigato, sekarang bolehkah aku masuk? Aku ingin menemaninya didalam!"
"tentu, nanti akan kusuruh Shizune mengantarkan obat dan beberapa keperluan Naruto.
"Ha`i, arigato gozaimasu Tsunade-sama." Sasuke membungkukan badannya-tanda hormat-. "err saya permisi dulu Tsunade-sama." Sasuke melesat memasuki ruang Naruto dirawat. Saat hendak memasuki ruangan, beberapa perawat yang bertugas bersama Tsunade tadi keluar sambil membawa kereta dorong yang penuh dengan kapas berdarah dan beberapa peralatan lainnya.
Saat ia memasuki ruangan serba putih itu, yang dilihatnya pertama kali adalah ranjang serba putih yang ditempati sosok rapuh itu.
"Naruto," Sasuke mendekati ranjang itu. Ia menyeret kursi yang memang disediakan untuk pengunjung sepertinya, lalu memposisikan dirinya tepat disamping Naruto.
"maafkan aku" Sasuke berucap seraya mengelus pipi kiri Naruto. Dapat ia lihat tubuh ringkih yang sangat butuh perhatian itu tengah tertidur dengan wajah damai. Dikepalanya terdapat perban yang melingkari kepalanya.
Sasuke benar-benar sangat bersalah. Didekatinya wajah Naruto, lalu dikecupnya dahi Naruto. Dikecupnya secara perlahan puncak kepala Naruto, walau terhalangn perban, namun tidak menghalangi keinginan Sasuke. Sebersit rasa tiba-tiba muncul di hati Sasuke. Rasa yang begitu hangat telah memasuki hatinya.
Deg
"rasa apa ini?"
Sasuke kembali pada posisinya. Namun kali ini ia mengambil tangan kiri Naruto, dan mengenggamnya secara lembut.
"huh, hangat!" keluh Sasuke. Entah mengapa, hatinya kini terasa hangat, rasa yang asing bagi Sasuke.
Karena merasa lelah, Sasuke pun tertidur dengan masih mengenggam tangan Naruto.
30 menit kemudian, Shizune masuk. Seperti yang dikatakan Tsunade tadi, kini Shizune datang dengan membawa keperluan Naruto, seperti obat, dan lainya.
Shizune mendekati meja yang memang terletak di samping ranjang Naruto. Ia tanpa sengaja memergoki kedua pria yang tengah tertidur itu.
"benar-benar menggemaskan, manisnya" Shizune berucap sambil tersenyum. Ia memandangi betapa manisnya, Sasuke yang nampak tertidur pulas dan masih setia mengenggam tangan Naruto, serta Naruto yang tertidur dengan tampang polosnya.
"benar-benar menggoda orang yang melintasi mereka, walau itu hanya sekedar untuk menatap keduanya" batin Shizune berkata
"hahahaha, kebetulan" Shizune mengambil handphone Sasuke yang memang terletak di atas ranjang tempat Naruto tidur. Tepat disamping tangan Sasuke. Dan..
JEPREET….
Shizune mengambil gambar keduanya. Beberapa gambar mungkin cukup untuk membuat Sasuke dan Naruto senang. Pikirnya.
Diletakannya kembali handphone milik Sasuke itu sebelum ia beranjak pergi meninggalkan keduanya.
Skip time
Tepat pukul 16.00 Sasuke terbangun dari tidur tidak enaknya. Kenapa tidak enak? Karena satu, tidur dengan posisi duduk itu benar-benar tidak enak, dua, apalagi dengan waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar. Wow, luar biasa tidak enak rasanya.
"ngh, hoambh…" Sasuke melihat tangannya yang masih setia mengenggam tangan naruto. Ia tersenyum. Masih dalam posisi duduk, ia berkata lagi " rasanya badanku mau remuk. Sial!" umpat Sasuke.
Remaja SMA KHS itu meruntuki dirinya yang dengan bodohnya tertidur dengan cara tidak elitnya.
Segera saja pria berumur 17-an itu bangkit dari posisi duduknya.
"haaahhh," lengguhnya saat sedang meregangkan otot-otonya yang kaku akibat tidur tidak enaknya. Sedikit melirik kearah Naruto yang masih tak sadarkan diri. Didekatinya pria kecil yang tergolek lemah diatas ranjang serba putih itu.
"ohayou….otouto," Sapanya lembut. Disapanya adik barunya itu dengan senyuman lembut yang memang jarang sekali ditunjukannya kepada orang-orang.
Disentuhya pipi tan milik pria kecil itu, lalu dikecupnya-lagi-dahi bocah pencinta ramen itu. Sedikit memandangi raut bocah itu, lalu ia segera bangkit. Tak lupa ia mengambil handphonenya yang terletak begitu saja di sisi tangan naruto.
"maaf, aku tinggal sebentar ya, otouto. Aku harus mengurusi beberapa urusan penting." Ucap Sasuke sebelum melegang pergi.
Sasuke melegang pergi menuju sebuah ruangan khusus milik seorang wanita bermarga Senju. Yap, Tsunade Senju.
Tok tok tok
Sasuke mengetuk pintu perlahan. Menunggu jawaban.
"masuk" terdengar suara dari dalam. Mendengar kata `masuk`, Sasuke kontan langsung saja memasuki ruangan pribadi milik Tsunade itu.
"oh, kau Sasuke, ada apa?" Tanya Tsunade langsung to the point
"huh, anda memang orang yang tidak suka berbelit-belit!" protes Sasuke. Sasuke melirik kursi yang memang dikhususkan untuk tamu dan pengunjung. Tanpa pikir panjang, Sasuke langsung mengambil posisi duduk dikursi itu.
"ku ulangi, apa maumu?" Tanya Tsunade diselingi nada kesal, karena waktu istirahatnya diganggu.
"tidak banyak. Hanya saja, saya ingin menanyakan pendapat anda tentang pertanyaan saya tadi pagi. Saya pikir jika saya bisa mendapat jawaban anda sekarang, mengapa saya harus menunggu sampai besok. Lagipula… lebih cepat lebih baik bukan? Aku… ingin jawaban anda…sekarang!" ucap Sasuke memaksa.
"kau memang orang yang tidak sabaran" keluh Tsunade, Ia mengambil posisi berpikir sekarang.
"tolong rahasiakan semua ini Tsunade-sama. Saya meminta bantuan kepada anda karena anda adalah kepala rumah sakit ini. Lagipula, saya sangat mempercayai anda. Jadi, saya harap anda dapat membantu saya!" Sasuke mengulang alasan mengapa ia meminta bantuan kepala rumah sakit itu. "saya juga berpikir, setelah semua ini, saya berencana akan pindah ke apartemen. Saya akan mengambil alih Naruto, saya akan mmenjaganya. Saya akan tinggal bersamanya dan menjadikannya adik saya." Lanjut Sasuke dengan mimik wajah serius.
Tsunade terbelalak dengan apa yang barusan diucapkan pria dengan rambut hitam-kebiruan itu."
"saya mohon anda menyetujui keinginan saya!" pinta Sasuke disertai raut wajah memohon.
"hmm…baiklah" ucap Tsunade kemudian.
"Hontou-ni?" Tanya Sasuke tidak percaya.
"tentu. Aku akan membantu sebisaku. Aku akan menyumpal mulut para bawahanku, err maksudku semua para dokter,suster,office boy, maupun pegawai yang bekerja disini!" ucap Tsunade dibarengi senyum manisnya dan seringai mautnya.
"a-ari-arigato…Tsunade-sama." Ucap Sasuke dengan senyum dipaksakan.
"lalu, bagaimana dengan polisi yang menyelidki kasus ini?" dan bagaimana dengan para tetangga yang mengetahui kejadian ini? Lalu, bagaimana dengan Minato dan Kushina?" Tsunade melontarkan beberapa pertnyaan langsung kepada Sasuke.
"errr…satu-satu Tsunade-sama." Protes Sasuke. " saya akan menjawab semua pertanyaan yang anda tanyakan." Sasuke mengambil nafas sejenak, lalu ia menjawab "saya akan menghubungi Kakashi dan Yamato. Saya akan menugaskan Kakashi dan Yamato untuk mengurusi masalah polisi dan tetangga yang melihat maupun yang ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Err…bisakah saya serahkan masalah Minato dan Kushina kepada anda? Tolong identifikasikan mayat keduanya!"
"jadi begitu!" Tsunade hanya manggut-manggut.
"hn, kalau begitu saya permisi dulu,saya serahkan semuanya kepada anda!" Sasuke membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruang pribadi sang direktur.
Blamm
Suara pintu yang ditutup pelan menandakan bahwa Sasuke telah keluar dari ruang pribadi direktur hospital tersebut. Kini Sasuke membawa langkahnya tepat menuju pintu keluar. Dimasukannya kedua tangannya kedalam saku depan celananya, dan berlalu.
Saat hendak memasuki lift, Sasuke berpapasan dengan Shizune.
"konichiwa Uchiha-san" Shizune penganggukkan kepalanya-tanda menyapa-kearah Sasuke.
"hn, konichiwa mo Shizune-san" kakashi menganggukan kepala,membalas sapaan Shizune.
"err…kau mau pulang Uchiha-san?" Tanya Shizune ingin tahu.
"hn," Sasuke terdiam sebentar, ia teringat sesuatu, "oh ya Shizune-san, bisakah aku menitipkan Naruto padamu saat aku pergi?" Tanya Sasuke penuh harapan
Shizune terdiam sebentar, nampaknya ia tengah berpikir. Atau itu lain bagi Shizune. Karena saat ini ia tengah terpesona dengan Sasuke.
"Shizune-san" panggil Sasuke.
"err…go-gomenasai" Shizune salah tingkah. Ia malu telah bengong dihadapan pria yang dikaguminya. "err… ba-baiklah." Ucapnya gugup. Dapat terlihat walau samar ada rona merah yang tengah menghiasi wajahnya.
"hn," Sasuke yang tak mengerti hanya bergumam 'hn' saja sebagai balasan. Ia mengambil handphonenya dan mengetik sesuatu disana.
TING,
Suara itu menandakan bahwa lift telah berada di lantai bawah. Dan secara otomatis pintu terbuka.
"aku duluan," pamit Sasuke sebelum meninggalkan lift. "oh ya, arigato Shizune-san" Sasuke berkata dan diakhiri dengan senyum mautnya. Lalu segera berbalik. Tanpa menolehkan kepalanya kembali kearah Shizune. Sasuke tahu, bagaimana tampang Shizune sekarang. Pasti sekarang Shizune sedang mengamatinya dari lift tadi. Dan disertai wajah yang memerah dan perasaan yang berbunga-bunga,-menurut teman-temannya- plus tatapan tidak percaya.
*** Sasuke house***
"jadi, apa yang harus aku lakukan?" Tanya pria bermuka seram itu.
"hn, aku hanya ingin kau beri mereka , jika perlu, suap saja mereka!" Sasuke berucap dari atas sofa biru tuanya.
"huh," pria itu menghela nafas berat.
"ayolah Tenzou!" mohon Sasuke
"baiklah Sasuke -sama!" Yamato membungkukkan badannya serta menganganggukan kepalanya.
"hei, sudah kubilang jangan panggil aku seperti itu!" protes Sasuke.
"tapi biar bagaimana pun, kau adalah majikan ku!"
"yayaya" Sasuke menaggapi perkataan Yamato dengan ogah-ogahan.
"dasar majikan" Yamato menggeleng-gelengkan kepalanya "kapan aku mulai kerja? Oiya, dimana Kakashi?" Tanya Yamato
"hahaha, kapan lagi? Pokoknya mukai hari ini. Lebih cepat lebih baik! Mengenai Kakashi,…"
"aku disini!" saut seseorang dari lantai bawah. Siapa lagi kalau bukan orang yang tengah mereka bicarakan.
"hei, sejak kapan kau ada disini?"Tanya sang empu rumah.
"baru saja!" jawab asuma santai. ia menghampiri Sasuke yang tengah berada di sofa . "lalu, apa misiku?" lanjutnya yang sudah tepat berada disisi Sasuke.
Sasuke, pria berparas tampan itu menhela nafas sejenak, lalu menjelaskan semuanya.
"apa kalian mengerti?" Tanya Sasuke membuka percakapan.
"ya." Keduanya menjawab tanda mengerti.
Mendengar jawaban dari kedua pelayan pribadinya, Sasuke mendesah lega.
"hah, hari ini anda tidak masuk sekolah?" Tanya Yamato
"hn" angguk Sasuke
"haaahh, anda memang benar-benar keras kepala tuan muda" keluh Yamato.
"hei, jangan panggil aku begitu." Sasuke mendelik kearah Yamato
Namun sang objek yang diprotes malah tak menghiraukan perkataan sang tuan mudanya. Benar-benar kebal.
Malamnya, sesosok remaja pria sebut saja Kakashi, masih setia terjaga, walau jam sekarang tengah menujukan pukul 12 malam.
"sial" umpatnya. Si remaja masih tetap di atas ranjang queen sizenya. Namun sejak tadi matanya tak menunjukan tanda-tanda mengantuk.
"huh,"sang pemuda kini berganti posisi. Ia memiringkan badannya.
"sial" dengusnya "kenapa aku tidak bisa tidur?"
Kakashi menerawang, kejadian apa saja yang bisa menyebabkan dirinya tidak bisa tidur seperti sekarang ini
"ooh,"gumam Sasuke pelan.
Nampaknnya Sasuke telah menemukan penyebab penyakit tidak bisa tidurnya.
"awas saja kau Tenzou!" geram Sasuke. Ia kembali masuk dalam selimutnya.
Rupanya Yamato tadi sempat membuatkan teh manis untuk Sasuke, entah mengapa! Padahal Sasuke sangat anti sama yang namanya TEH-MANIS. Jika ia minum teh, maka ia akan terjaga semalaman, kecuali jika ia minum obat yang khusus untuknya. Namun sepertinya hari ini persediaan obatnya telah habis. Jadilah ia begadang semalaman. Kasihan sekali Sasuke. Karena merasa sangat sebal, Sasuke akhirnya memutuskan untuk menjenguk Naruto, toh ia takkan membiarkan dirinya hanya termenung, sementara sang adik angkatnya sedang berjuang melawan sang penyakit.
Sekian dulu fic dariku,
Semoga para reader senang, hoiya, kmaren Risu berpikir, kalo sebaiknya cerita ini Risu ganti genre-nya. Toh Risu gag pandai buat yang berdarah-darah, alias gag sanggup. Takut sama darah dan penyiksaannya. :P Yoshhh sekian dulu.
Silahkan kalo ada yang mau ngasi kritik dan saran Risu terima sebagai awal dari karya Risu.
Yapp review saja…..
Arigato… ^^
