Disclaimer :

Kuroko No Basuke milik Fujimaki Tadatoshi .

Warning !

YAOI

Adult Story.

AU

.

.

.

Shinjuku adalah kota yang tidak pernah tidur. Ada banyak tempat hiburan seperti bar atau tempat minum yang dibuka hingga hingga pagi menjelang. Bahkan ada yang 24 jam.

Ageha Bar and Nighclub. Itulah yang tertulis di bagian bangunan dengan tiga lantai . Adalah salah satu bar terbaik yang ada di distrik nomor dua Shinjuku. Bar kecil, dengan dekorasi bersih dan elegan.

Bisa dibilang, ini adalah salah satu ikon populer kehidupan malam, khususnya di kalangan usia muda dan eksekutif profesional muda. Di balik tampilannya yang terlihat kalem, tempat ini sebenarnya adalah salah satu bar yang cukup berbahaya, karena di sini banyak makanan dan minuman enak yang dapat dicoba sembari menari mengikuti irama musik dansa yang ada. Jangan lupakan juga kalau di sini menyelenggarakan berbagai macam aktivitas yang dapat membuat siapapun tidak sanggup menolak pesona kehidupan malamnya. Hanya orang yang berani membayar mahal kebanyakan kalangan atas yang bisa menikmati pelayanan kelas satu. Apalagi jika ingin menikmati 'service lebih' mengingat bar ini juga menyediakan penghibur dengan penampilan menawan.

Lantai 1 adalah tempat dilaksanakannya aktifitas utama. Seperti memesan minuman dan sekedar berdiam sambil melihat pertunjukan penari tiang dan juga lantai dansa. Sementara itu di lantai 2 terdapat meja biliar dan area bersantai, dan lantai 3 terdapat ruang karaoke dan hotel. Pemilik tempat ini adalah mantan penghibur kelas atas yang terkenal di masanya, kini orang sudah beralih profesi menjadi pemilik tempat usaha hiburan malam yang populer orang itu di ketahui bernama Mibuchi Reo.

"Tet-chan !"

Mibuchi langsung memberi Tetsuya pelukan ketika mengetahui anak itu sudah sampai di bar miliknya, seperti seorang kakak yang bertemu adik kesayangannya. Bagi Tetsuya ini tak lebih karena dia adalah aset utama penyumbang pemasukan terbanyak untuk usahanya . Tetsuya duduk di salah satu kursi di depan meja bar.

"Reo-nee, Apa aku bisa minta Vanilla Milkshake ?"

"Tunggu sebentar " Mibuchi memanggil salah satu karyawan dan memintanya membuatkan minuman yang dia minta.

"Padahal Banyak minuman Enak tapi kau selalu Minta minuman itu."

"Aku tidak suka minuman Alkohol , kau tau itu."

"Ha'i, Ha'i, lagipula kau harus berhati-hati kalau kau mabuk bisa di manfaatkan para makhluk buas di itu." Ucap Mibuchi menasehati Menyerahkan gelas Vanilla Milkshake yang dipesan Tetsuya.

Baru di bicarakan kini seseorang Terlihat berjalan ke arah Tetsuya. Dilihat dari penampilannya orang itu adalah seorang pekerja kantoran dengan jabatan tidak terlalu tinggi. Tipe orang yang punya uang pas-pasan tapi memaksakan diri untuk masuk ke tempat ini.

"Hai manis." Kata pria berambut hitam itu menyapa.

Tetsuya hanya tersenyum sebagai jawaban seraya meminum minumannya dengan anggun.

"Bagaimana kalau kita bersenang-senang berdua."

Tangan pria itu mencoba merangkul pundak yang terlapisi baju berbahan katun berlengan pendek dengan warna merah. Dan celana jeans hitam panjang. Namun dengan halus Tetsuya menyingkirkannya .

"Satu mobil untuk kencan dan satu rumah untuk pelayanan ranjang kalau hanya menemani minum seratus juta ."

"Apa kau berusaha memerasku !?"

Orang itu sedikit menaikkan nada suaranya . Sementara Tetsuya masih terlihat tenang. Dia sudah terbiasa menghadapi tipe pelanggan yang terlalu meremehkan seperti ini.

"Itu adalah harga standar tuan biaya tambahan bisa terjadi kapanpun."

Mendengar kalimat itu pria itu langsung pergi tak ketinggalan mengeluarkan kalimat umpatan dan yang terjadi setelahnya security mengusirnya karena mengganggu kenyamanan .

"Kau kejam seperti biasa ya Tet-chan." Ujar Mibuchi menatap prihatin pria yang baru di tolak Tetsuya .

"Jelas dia tidak punya banyak uang, itu bukan tipeku."

"Hey Tet-chan, kau lihat pria pirang di sana ?"

Jari telunjuk Mibuchi menunjuk ke arah seseorang.

"Yang pirang itu ?"

Tanya Tetsuya saat melihat seorang laki-laki yang duduk di Kursi VIP. Reo pun mengangguk.

"Dari tadi dia terus melihatmu, menurut informasi dia adalah petinggi perusahaan dari Amerika, namanya Mr Nash Gold Junior, kenapa kau tidak mencoba dekati dia ?".

Tetsuya melihatnya, laki-laki pirang bertubuh besar terlihat tato di bagian samping tubuhnya. Terus menatapnya penuh minat. Insting Mibuchi dan Tetsuya sama-sama kuatnya dalam mengendus sumber uang. Dan mereka tahu bahwa orang itu adalah orang yang tak segan membayar berapapun untuk hal yang diinginkan.

Tetsuyapun berjalan dengan langkah menggoda menuju pria yang telah menunggunya. Tanpa ragu langsung mengambil duduk di sebelah pria pirang itu, setelah terlibat pembicaraan singkat Nash langsung membawa tubuh kecil ke pangkuan. Tetsuya tampak tak keberatan ketika tangan besar menyusup masuk kedalam baju yang dia kenakan. Nash membisikkan sesuatu ke telinga Tetsuya dan di balas dengan anggukan.

Sepertinya kesepakatan sudah di dapat.

Reo Tersenyum dengan bangga karena Tetsuya tak pernah gagal untuk mendapatkan tangkapan besar. Kantongnya akan bertambah tebal setelah ini.

.

.

.

Akashi Seijuurou masih sibuk dengan pekerjaannya . Akhir bulan adalah saat tersibuk untuk perusaahan . Karena saat akhir bulan adalah saat untuk memeriksa laporan bulanan

sebagai tolok ukur apakah sebuah perusahaan termasuk perusahaan yang bisa bertahan untuk jangka waktu yang lama atau tidak. Suara ketukan pintu terdengar, Akashi langsung memerintahkan orang itu masuk . Ternyata dia adalah Kotarou.

"Ini adalah laporan keuangan bulan ini."

Kotarou meyerahkan map merah yang berisi laporan keuangan.

"Terimakasih."

"Mau pergi ke suatu tempat setelah pulang nanti ?"

"Kau tahu kita sedang banyak pekerjaan berhentilah membuang waktu untuk hal tidak berguna ."

Kotarou menghela nafas melihat Akashi, hubungan mereka lebih dari sekedar Atasan dan bawahan. Di luar kantor adalah mereka adalah teman dekat . Dia sedikit prihatin setiap melihat Akashi terlalu memaksakan diri dalam pekerjaannya .

"Atau kau mau pergi ke tempat itu lagi ?"

"Tidak."

Jawabnya dengan Tegas. Akashi bukanlah penyuka dunia malam. Dia tidak suka suara bising dan menyaksikan kumpulan orang yang tidak punya moral. Meskipun pada akhirnya dia juga mendapat pelayanan yang tidak terduga di tempat itu dan jujur Akashi menikmatinya

"Tapi kulihat dia berhasil menghiburmu." Ucap Kotarou menggoda Akashi.

"Siapa ?"

"Aku melihat kalian saat keluar dari bar dan menuju hotel ?"

"Daripada kau mengatakan kalimat tidak berguna itu, lebih baik kau gunakan mulutmu untuk presentasi saat rapat nanti."

Kotaro mendengus. Bosnya ini pintar sekali mengalihkan perhatian.

"Masalahmu sudah kau selesaikan.?"

"Untuk apa memisahkan dua orang yang saling mencintai."

"Tapi.."

"Akan kuselesaikan saat bertemu dengannya."

Pria pirang itu hanya mengendikkan bahunya.

"Yah.. Terserah, Lagipula itu urusanmu sih."

Setelah itu pergi meninggalkan ruangan sang atasan.

Saat Akashi sedang sibuk melihat laporan perusahaannya ponsel merahnya berbunyi menandakan pesan masuk. Seijuurou menoleh ke kanan dan meraih Smartphone tampaklah Pesan dari ayahnya untuk menghadiri acara ulang tahun perusahaan Kolega terdekat mereka. Jika boleh jujur dia enggan untuk menghadirinya .

.

.

.

Suasana pesta yang di gelar di rumah pribadi salah satu konglomerat negri itu terasa sangat ramai. Semua berlomba-lomba menunjukkan penampilan maksimalnya. Pakaian mewah dari brand dunia. Makeup tebal seperti badut bagi para wanita. Hingga aroma parfum menyengat yang dapat menyebabkan kepala pusing. Sementara bagi para pria berusia matang mereka menggunakan kesempatan ini menggunakan kemampuan merayu mereka berharap dapat menjalin kerjasama untuk kepentingan perusahaan mereka sendiri.

Dan Akashi sangat idak menyukai itu. Semua keakraban itu hanya topeng. Mereka hanya bersandiwara.

Akashi Seijuurou datang dengan setelan jas hitamnya membuat ketampanannya semakin terlihat.

Sudah pasti menarik perhatian bagi kaum submisive yang melihatnya. Para ibu berusaha mengenalkan anak mereka berharap bisa menjadikannya menantu. Namun mereka hanya bisa gigit jari karena pria tampan incaran mereka telah terikat hubungan serius dengan seorang wanita.

Acara ini selain untuk merayakan ulang tahun perusahaan juga untuk merayakan keberhasilan si anak sulung dalam membuka bisnisnya dalam bidang fashion.

Dia adalah apa yang di sebut dengan kesempurnaan untuk seorang wanita. Wajah cantik, otak cerdas dan berasal dari keluarga terpandang.

Gaun dengan warna biru tegas yang dikenakan membuatnya terlihat anggun dengan detail berupa bunga – bunga dari atas ke bawah serta kehadiran kain transparan di bagian bawah. Rambut coklat sebahunya dia biarkan tergerai dengan indahnya .

Seorang pendamping yang sesuai untuk Akashi Seijuurou tentunya.

Megumi Sugawara.

"Seijuurou-kun."

Ucapnya saat melihat Akashi , menampilkan senyum cantiknya dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Akashi. Membuat semua yang melihat mereka iri dengan interaksi mereka berdua. Sementara sang pria hanya tersenyum datar.

"Kau sudah lama datang ?"

"Tidak juga, aku baru selesai berbicara dengan ayahmu .

"Selamat atas di suksesnya bisnismu."

Disamping Akashi terdapat seseorang yang membawakan sebuah hadiah. Dan Megumipun menerimanya dengan senyum cerahnya.

"Terima kasih"

"Bisa kita bicara berdua ?"

"Baiklah, bagaimana kalau di sana ?"

Akashi mengangguk menyetujui.

Sebelum pergi Megumi memanggil salah seorang pelayan untuk membawa hadiah dari Akashi .

"Tolong bawa ini."

"Baik Nona."

Jawab sang butler sambil menerima paperbag mahal milik majikannya.

Mereka kemudian mereka berjalan meninggalkan tempat pesta menuju kursi berbahan besi berwarna putih yang ada di taman belakang .

"Apa kau mau ku ambilkan kue ?"

"Tidak, aku tidak ingin makan makanan manis."

"Jadi apa yang ingin kau bicarakan ?"

Akashi sangat tidak suka sikap pura-pura yang dilakukan wanita itu. Seolah dia adalah orang bodoh yang mudah dibohongi.

"Kau tidak perlu berpura-pura lagi , aku sudah tahu semuanya."

Awalnya Megumi tidak mengerti maksud perkataan Akashi namun melihat tatapan itu seolah mengatakan bahwa dia tidak perlu berbasa-basi lagi. Megumipun paham.

Wajah yang tadinya terlihat ceria kini berubah menjadi serius.

"Ya, benar aku berkencan dengan Shuuzou."

"Apa tidak ada orang lain yang bisa kau kencani selain sepupuku ? Tidak kreatif sekali ."

Wanita itu hanya diam sambil menggigit bibirnya dan mengepalkan tangannya . Tidak ada yang namanya kesempurnaan . Selama ini orang hanya melihat keadaan luarnya saja tanpa mengetahui cerita mereka yang sebenarnya. Meskipun memiliki wajah rupawan dan karir cemerlang

belum tentu merasakan kebahagiaan. Dan itulah yang dia rasakan sekarang .

"Karena hanya Shuzou yang selalu ada saat aku butuhkan."

"Siapa yang tahan jika tunangannya terlalu sibuk dengan pekerjaan, tidak pernah ada waktu untukku."

Terlihat jelas bahwa bahwa nada bicara itu sedang menyindir Seijuurou. Tapi itu tidak dapat menggoyahkan sang calon pemimpin perusahaan Akashi.

"Baru tunangan saja kau sudah mengeluh, bagaimana nanti kalau menikah ?"

"Kalau begitu kita akhiri saja, aku tidak bisa bertahan denganmu."

Ucapnya dengan suara bergetar karena menahan tangis.

"Jika memang itu yang kau inginkan aku tidak akan menahanmu."

Seijuurou bangkit dari kursinya . Bersiap untuk meninggalkan tempat acara.

" Aku biarkan kau yang mengatakan pada mereka agar pertunangan ini di hentikan."

Setelah itu Seijuurou pergi meninggalkan wanita cantik itu seorang diri. Tanpa menyadari air mata yang meluncur jatuh karena perkataannya.

.

.

.

Akashi meyetir sendiri mobilnya saat pulang dari pesta keluarga Sugawara. Dia tidak menyangka akan di selingkuhi karena masalah yang menurutnya tidak terlalu penting. Selain masalah hubungannya pikirannya tentang perusahaan juga tak kalah membuat kepalanya sakit. Sepertinya apa yang Di katakan Kotarou benar bahwa dia hanya butuh istrirahat . Di saat seperti ini dia teringat dengan anak yang menemaninya Minggu lalu. Dia ingat pikirannya kembali menjadi ringan andai saja dia tidak perlu bertemu lagi dengan Megumi .

Seperti semesta tahu akan apa yang dia butuhkan dia melihat anak itu duduk sendirian sedang menunggu bis di halte .

Seijuurou pun memutuskan menepikan mobilnya tepat di depan pemuda biru itu.

"Apa kau butuh tumpangan ?"

Mata biru itu sedikit melebar melihat siapa yang menawarinya tumpangan.

"Kau .. Seijuurou-kun ?"

"Masuklah."

Tetsuya mengangguk kemudian masuk kedalam mobil Akashi.

"Kenapa ?"

Tanya Akashi merasa heran karena Tetsuya menatapnya .

"Tidak biasanya ada pelanggan yang memberiku tumpangan."

"Apa kau mau pergi ke bar ?"

"Sebenarnya hari ini aku libur."

"Kau punya hari libur juga ?" Tanyanya jenaka.

"Tentu saja ! Kau pikir melayani pelanggan itu tidak capek ?! Tapi kalau kau memberi uang lebih aku bisa ambil lembur."

"Tidak. Aku ingin kau istirahat." Kemudian menyeringai "Karena besok kau harus menyiapkan tenaga lebih untuk menghiburku."

Mendengar kalimat itu seketika membuat Tetsuya tersentak. Tipe pelanggan seperti Akashi adalah pelanggan yang tidak akan puas hanya dengan satu dua kali permainan. Dia akan meminta bayaran tiga hingga empat kali lipat nanti.

Selama perjalanan tidak banyak pembicaraan Terjadi . Percakapan mereka hanya berasal dari Tetsuya yang memberi tahu arah jalan menuju rumahnya. Setelah itu Akashi fokus menyetir.

"Kita berhenti di sini saja."

"Apa sudah sampai di rumahmu ?"

Akashi bertanya saat yang dia lihat hanyalah jalan raya yang terdapat sebuah gang .

"Belum , tapi di sini saja sudah cukup lagipula sudah dekat."

"Besok kau langsung ke Apartemenku saja aku akan memberitahumu lewat chat nanti."

Tutur Akashi menyampaikan perintahnya saat Tetsuya melepas sabuk pengaman.

"Baiklah Terima Kasih tumpangannya."

Sebelum keluar dari mobil Tetsuya mencium pipi Akashi.

"Sampai besok ."

Tukasnya dengan senyumnya tak lupa mengedipkan salah satu matanya.

Akashi Hanya terdiam menyaksikan kepergian Tetsuya. Bahkan dengan Megumi yang berstatus tunangannya saja dia tidak pernah terlibat interaksi intim seperti ini.

Orang seperti Tetsuya memang mengerikan.

TBC

Maaf yaa kalau ada yang kurang nyaman dengan karakter Tetsuya di sini. Saya sudah mencoba bikin sehalus mungkin tapi rasanya kurang maksimal. Sekali2 Tetsuya nakal gapapa lah XD

Saya tidak menggunakan Momoi sebagai tunangan Akashi karena imege Momoi dalam benak saya adalah Fans nomer satu Tetsuya, jadi mana tega dia menyakiti Tetsuya XD

Sebelum lanjut ke chapter berikutnya saya ingin mengatakan bahwa ff ini akan menggunakan metode sedikit cerita banyak ANU :V

Jadi saya himbau untuk adek-adek yang masih di bawah umur atau anak baik-baik yang otaknya masih polos dan belum terkontaminasi virus Anu (?) untuk meninggalkan area ini. :)

Tapi jika masih nekat Saya tidak mau di salahkan atas tercemarnya otak kalian akibat membaca cerita saya. Walaupun sebenarnya saya tidak percaya ada reader yang benar-benar masih polos . Pasti kalian sering baca cerita Anu di luar sana.

Ngaku aja :p

Ya udah Sampai Jumpa. XD /