Birth Scene

Pair: 2Hyun, Ongniel

Cast: Hwang Minhyun, Kim Jonghyun (JR), Ong Seungwoo, Kang Daniel, Kim (Bae) Jinyoung, Kang (Lee) Woojin, Kang (Park) Jihoon

Length: Oneshot

Genre: M-preg

Rate: Nyerempet M

Kalau Minhyun tahu rasanya melahirkan akan sesakit ini pasti dia tak akan membiarkan Jonghyun menghamilinya. Walaupun ia sudah sangat mencintai bayi di perutnya dan tidak sabar ingin bertemu dengan malaikat kecilnya, tetap saja mulas yang dirasakan nya sudah membuat nya mengumpat sampai suaminya tidak bisa menghitung lagi.

'Ughhh, Jonghyun, ini sakit sekali, sialan' Minhyun kembali mengumpat untuk kesekian kalinya

Mereka sudah berada di ranjang rumah sakit dengan Minhyun yang menggenggam (hampir meremukkan) jemari Jonghyun digenggamannya dan tangannya yang lain mengusap perutnya berharap untuk menghilangkan rasa sakitnya. Minhyun tengah memejamkan matanya mencoba menerapkan cara bernafas yang diajari di kelas senam hamil.

'Aku tahu, sayang. Tahan sedikit ya, sebentar lagi kita akan bertemu baby, kay' Tangan Jonghyun yang bebas mengusap peluh di kening Minhyun dan mengusap lembut punggungnya


24 jam sebelumnya

Kandungan Minhyun sudah berusia 40 Minggu dengan kata lain overdue. Minhyun selalu uring-uringan karena dia bahkan jarang merasakan braxton hix. Apa bayinya betah sekali tinggal di perutnya sampai tidak ingin keluar?

'Sepertinya bayi kalian butuh diinduksi, Minhyun-ssi' Jelas Kang Dongho, dokter yang menangani Minhyun

'Caranya, Ho?' Minhyun langsung bersemangat mendengar penuturan dokter tersebut

'Coba makan makanan pedas, itu akan memacu reaksi di perutmu' Pasangan tersebut mengangguk mengerti, dalam hati akan melakukan apa yang Dongho perintahkan sesampainya di rumah

'Oh, atau.. Ada cara lain'

'Apa itu?' Penasaran dengan hal yang akan dikemukakan Dongho tak sadar membuat Minhyun setengah excited

'Kalian bisa melakukan seks. Hormon oksitosin di tubuh Minhyun akan meningkat dan merangsang kontraksi pada dinding rahim' Jonghyun langsung merona mendengar penjelasan Dongho yang terkesan blak-blakan

'Ehm, baiklah akan kami coba. Terima kasih sarannya Ho, kami permisi dulu' Jonghyun langsung menuntun istrinya untuk meninggalkan ruangan kerja dokter Dongho dan membawa mereka pulang

'Hyun-ie, let's have sex, should we?' Dengan nada yang super menggoda dan lidah yang sengaja membasahi bibirnya,

Jonghyun menelan ludahnya susah payah karena pancingan Minhyun barusan. Mereka memang sudah lama tidak melakukan seks sejak Minhyun hamil. Minhyun nya yang sama sekali tidak mood dan Jonghyun yang terlalu kasihan pada Minhyun kalau-kalau dia akan kecapean sehabis gelut mereka, membuat mereka hanya sekedar cuddling ataupun melakukan ciuman panas.

'Kita coba makan pedasnya saja dulu ya' Jonghyun masih tidak ingin membebani kesayangannya ini dengan rough sex yang biasa mereka lakukan

Minhyun dilain pihak merasa agak kesal dengan ketidak pekaan suaminya. Hey, Minhyun rindu setengah mati dimasuki Jonghyun. Dia nya saja sok jual mahal. Padahal beberapa bulan terakhir hormonnya sedang naik-naiknya dan ia sangat butuh Joghyun, sayangnya pada trimester akhir hubungan seks sangat tidak dianjurkan. Berakhir Minhyun yang selalu berusaha mengalihkan perhatiannya dengan hal-hal selain memaksa Jonghyun memasukinya. Tapi sekarang Dongho yang menyarankan, jadi bukankah ini sambil menyelam minum air? Kenapa sih Jonghyun tidak mengerti?

Jonghyun tengah sibuk memindahkan jjampong yang tadi sempat mereka beli dijalan pulang. Setelah selesai memindahkan dan membawa sumpit serta segelas air putih, Jonghyun membawa senampan makanan itu untuk disantap Minhyun yang sedang duduk diruang tengah.

'Sayang, ayo dimakan jjampong nya. Aku mau merapikan kamar dulu, sehabis itu akan ku temani nonton ya. Kalau merasa perutmu mulas langsung panggil aku, oke?' Jonghyun hanya mengusak rambut Minhyun dan berlalu menuju kamar mereka tanpa memperhatikan wajah Minhyunnya yang sudah dalam kondisi kesal. Jonghyun masih beberapa langkah meninggalkan ruang tengah tetapi suara Minhyun langsung menghentikannya

'Kim Jonghyun…. Masa bodoh dengan Jjampong. Aku mau kau. Sekarang!' entah dapat kekuatan dari mana Minhyun langsung membawa Jonghyun langsung kembali ke sofa dan menimpanya

'Sayang, perutmu..' Jonghyun langsung berhati-hati membuat jarak dari Minhyun dengan mendorong pelan bahu Minhyun hingga si cantik kembali terduduk di sofa

Jonghyun langsung gelagapan melihat mata Minhyun-nya yang berkaca-kaca dan siap menangis kapan saja.

'Minyoo, kamu kenapa? Tiba-tiba menangis begini?' Jonghyun mengusap lembut pipi Minhyun, tetapi tangannya ditepis oleh istrinya itu

'Jonghyun, jujur sama aku. Kamu udah gak cinta lagi kan ama aku?' Minhyun melampiaskan kekesalan nya dengan sedikit berteriak

'Kamu ngomong apa sih? Mana mungkin aku gak cinta lagi sama kamu?' Jonghyun kelabakan menenangkan Minhyun yang sejak tadi ia usap punggungnya untuk menenangkannya

'Aku memang jelek, udah mirip ikan paus sejak hamil besar. Makanya itu kamu gak pernah mau nyentuh aku kan? Atau jangan-jangan kamu udah punya yang lain diluar sana?' Minhyun yg semakin emosi serta merta menuduh Jonghyun sembarangan

'Kim Minhyun..' Jonghyun yang hampir kalap meninggikan suaranya, Minhyun disebelahnya terkaget. Tidak biasanya suaminya yang penyabar menaikkan suaranya. Minhyun berhenti dengan tuduhannya, tetapi air matanya malah bertambah deras. Minhyun benci kalau Jonghyun marah, ia takut.

Sadar kalau Minhyun takut dengan kemarahan Jonghyun, ia pun berusaha memeluk istrinya itu. Tubuh Minhyun dipeluk dari samping dan berat tubuhnya disanggahkan di lengan Jonghyun. Tangan kirinya mengusap pelan surai hitam Minhyun.

'Sayang, maafkan aku karena meninggikan suaraku' Minhyun tidak membalas ataupun merespon perkataan Jonghyun, ia hanya berusaha menghentikan tangisannya

'Minyoo, dengarkan aku oke. Aku akan terus mengulanginya sampai kamu bosan. Aku sangat mencintaimu, Minhyun. Sampai ku pikir aku bisa mati kalau kamu tidak ada disisiku' Perlahan Jonghyun menarik wajah Minhyun menghadapnya dan mempertemukan kening mereka

'Di mataku kamu yang paling cantik, sayang. Baik itu dulu sebelum kamu hamil sampai kamu hamil sebesar ini, kamu tetap cantik' Jonghyun mengusap pelan perut Minhyun

'Malah menurutku kamu tambah cantik' Walaupun mereka sudah menghabiskan 3 tahun pacaran dan 1 tahun menikah, Minhyun tetap saja bersemu ketika Jonghyun merayunya dengan mengatakan dirinya cantik. Awalnya sih ia tidak terima dengan pernyataan Jonghyun itu, tetapi seiring berjalannya waktu Minhyun jadi terbiasa dan akan sangat aneh bila Jonghyun tidak memanggilnya cantik lagi (yang hampir tidak akan terjadi).

Minhyun mencebikkan bibirnya dan memukul pelan lengan Jonghyun. Yang dipukul berpura-pura kesakitan.

'Aku hanya takut terjadi apa-apa pada mu dan bayi kita, sayang. Aku pernah baca buku yang menyatakan berhubungan intim saat hamil tua itu berbahaya' jelas Jonghyun masih menghapus bekas air mata istrinya itu

'Kamu tau kenapa sex tidak boleh saat hamil tua?' pertanyaan Minhyun hanya ditanggapi gelengan oleh Jonghyun

'Karena bisa meningkatkan hormon oksitosin..' jedanya sebentar, 'dan karena kita butuh hormon oksitosin itu sekarang,, kim jonghyun, fuck me NOW' Jonghyun agak lambat mencerna perkataan Minhyun, setelah ia sadar beberapa detik kemudian ia langsung 'memakan' istri cantiknya itu

'How I miss your body, Minyoo. I won't hold back, are you okay?' Jonghyun mengecup perlahan sisi rahang Minhyun dan tangannya sibuk melucuti pakaian istrinya itu

'Do me hard, babe' tanpa menunggu lama Jonghyun langsung melaksanakan hasrat tertundanya itu.

Dari kamar mereka terdengar desahan dari Minhyun yang tak berhenti sejak mereka memulai permainan mereka. Coba saja dari awal Minhyun tidak jual mahal dan Jonghyun tidak terlalu was-was akan kondisi Minhyun dan bayinya, mungkin mereka bisa merasakan nikmatnya kebersamaan mereka sejak awal.


Setelah bercinta sampai beberapa ronde, Minhyun benar-benar lelah. Jonghyun yang maklum akan hal tersebut berinisiatif membersihkan diri mereka. Jonghyun telah terlebih dahulu mandi dan membiarkan Minhyun beristirahat. Selesai membersihkan diri Jonghyun menghampiri Minhyun masih tertidur, mungkin sehabis ia bisa memandikan Minhyun. Sebelum dibangunkan, Minhyun sudah terduduk di ranjangnya. Wajahnya memancarkan kesakitan sambil memegangi perutnya.

'Sayang, ada apa?' Jonghyun menghampiri Minhyun kemudian ikut mengusap perut istrinya lembut

'Perutku mulas, barusan. Sekarang sudah tidak lagi' Minhyun kembali tersenyum tidak ingin suaminya khawatir

'Benar tidak apa?' Minhyun menanggapinya dengan anggukan

'Kalau begitu mandi dulu ya, habis ini makan' Jonghyun yang sudah siap menuntun Minhyun terheran melihat wajah memelas istrinya.

Minhyun menyodorkan tangannya agar digendong Jonghyun ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah hampir 15 menit mandi, Jonghyun perlahan membawa Minhyun ke meja makan. Kali ini Minhyun lebih memilih berjalan dengan bantuan suaminya. Jonghyun membawa sup juga nasi yang telah dihangatkannya di microwave.

'Ugh, aku mual. Gak mau makan' Minhyun menunjukkan wajah memelasnya agar Jonghyun memenuhi permintaannya

'Tapi kamu belum makan dari tadi, sayang. Makan sedikit saja, oke. Kau butuh makan, ya?' Jonghyun masih mengarahkan sendok berisi nasi dan sup ke arah mulut istrinya

Minhyun masih tidak mau makan, malah sekarang ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Jonghyun yang tidak habis pikir dengan kelakuan istrinya yang kekanakan memikirkan cara lain bagaimana kesayangannya ini tetap bisa makan.

'Sayang, makan buah ya. Ini ayo dimakan pisangnya' Setelah membuka kulit pisang, Jonghyun mengarahkannya ke mulut istrinya

Sayangnya, tanggapan yang sama diterimanya. Minhyun tetap menolak makan. Jonghyun menghembuskan napasnya sebentar, Minhyun bisa menjadi sangat keras kepala kadang. Ia kemudian memakan sendiri pisang di tangannya. Minhyun yang melihat akhirnya Jonghyun menyerah kemudian menjauhkan tangannya dari mulutnya. Tanpa bisa diprediksi Minhyun, suaminya langsung menciumnya sambil menyuapkan pisang yang tadi di mulutnya. Minhyun tidak serta merta melepas pagutan suaminya, dia semakin mengeratkan pelukannya pada leher Jonghyun untuk memperdalam ciuman mereka. Ciuman itu tidak bertahan lama, karena Minhyun mendorong tubuh Jonghyun dengan lumayan kuat. Beberapa detik kemudian Minhyun memuntahkan isi perutnya tepat diatas kaos Jonghyun.

'Ugh, hoek.. Hyun.. hoek.. maaf..' Mata Minhyun sudah berkaca-kaca sekarang

'Tak apa sayang. Sebentar aku ambilkan air oke, berbaringlah disini' Jonghyun mengusap pelan kening Minhyun yang berkeringat dan membantunya untuk berbaring di sofa mereka

Jonghyun bersegera melepas dan menyingkirkan kaos nya ke tumpukan baju kotor kemudian mengambilkan air hangat untuk istrinya. Saat dia sudah kembali ke sofa, Minhyun kembali dilihatnya meringis memegangi perutnya.

'Sayang, perutmu sakit lagi?'

'Uh, shit, tambah sakit, Hyun. Ahhhh, sssss' Minhyun menggenggam tangan Jonghyun yang mengusap lembut perutnya

'Kita ke rumah sakit ya? Biar kamu di cek, oke' Saran Jonghyun dibalas dengan anggukan dari Minhyun


Sesampainya di rumah sakit Minhyun dibawa ke ruangan yang sudah Jonghyun booking.

'Hai Minhyun, bagaimana kabarmu?' Dongho yang baru datang langsung memeriksa Minhyun yang berbaring kesakitan diranjang

'Sampai kapan aku harus menunggu dia lahir? Ini sakit sekali Dongho' Minhyun mengusap pelan perutnya, mencoba mengatur nafas disela kontraksinya

'Dilihat dari jarak kontraksinya, sepertinya masih agak lama' Penjelasan Dongho dibalas oleh tatapan kaget Minhyun, jadi dia harus tersiksa lebih lama?

'Boleh aku minta epidural, Ho?' Dongho mengernyitkan dahinya

'Kau bisa mendapatkan epidural jika kontraksinya sudah berjarak sekitar 15 menit atau kau sudah mengalami bukaan lima. Sebentar biar aku cek' Dongho menyibakkan gaun rumah sakit yang dipakai Minhyun dan membuka kedua paha Minhyun

'Kau masih 3 cm dilatasi. Sepertinya dia akan datang agak lama' Setelah melepas sarung tangannya Dongho kemudian menurunkan baju Minhyun dan mengembalikan posisi kakinya seperti semula

'Minhyun bisa berjalan-jalan ataupun duduk diatas 'birthing ball' agar mempercepat kontraksi. Aku akan datang beberapa jam lagi' Dongho kemudian meninggalkan pasangan itu

'Kau bisa berdiri? Mau jalan-jalan sebentar?' Minhyun mengangguk

'Bantu aku' Jonghyun membantu Minhyun berdiri, ia menyampirkan salah satu tangannya pada pinggang Minhyun dan satu tangannya menggenggam tangan Minhyun

Mereka berjalan perlahan sambil Minhyun tetap mengusap perutnya yang sudah sangat turun. Ia pun sudah merasakan bayinya di tulang pinggulnya. Sesekali bayinya akan bergerak perlahan ke jalan lahirnya dan Minhyun akan merasakan kontraksi.

'Argghh, f*ck, ini sakit sekali' Mereka berhenti sejenak saat kontraksi mulai menyerang Minhyun, Jonghyun membantu mengurangi sakit nya dengan cara mengusap pelan punggung Minhyun

Sesekali ia akan membisikkan kata-kata penyemangat dan ucapan 'aku mencintaimu' pada istrinya. Sejujurnya Jonghyun tidak tega Minhyun kesakitan seperti ini, jika bisa dia mau menggantikan Minhyun merasakan rasa sakitnya. Sayangnya hal tersebut tidak mungkin, maka hal yang dapat dilakukan Jonghyun hanya membantu Minhyun agar tetap rileks dan membantu mengurangi rasa sakitnya.

Mereka berjalan-jalan hingga beberapa menit. Waktu antara kontraksi sudah 20 menit dan kelihatannya Minhyun sudah lelah.

'Sayang, apa kita kembali ke kamar saja? Sepertinya kau sudah lelah'

'Ayo kembali, Hyun. Aku mau berbaring. Pinggangku sakit' Dan mereka berdua kembali ke kamar


Hari sudah berganti pagi, Dongho sudah memeriksa Minhyun lagi dan mengatakan kalau pembukaan Minhyun masih pembukaan lima. Minhyun sempat tidur selama tiga jam sebelum mengeluh merasakan kontraksi kembali yang memaksanya membuka mata.

'Kita suntik epidural ya, Minhyun-ssi. Berbaringlah menyamping' Minhyun dibantu Jonghyun berbaring menyamping dan perawat yang bekerja untuk menyuntik Minhyun menyibakkan gaun rumah sakitnya

'Ini akan sakit. Tahan sedikit dan jangan bergerak, oke' Minhyun hanya bisa mengangguk

Saat jarum suntik menembus kulit Minhyun dan mengenai tulang belakangnya, ia merasakan sakit yang luar biasa hingga ia harus menggenggam tangan Jonghyun sekuat tenaga.

'Ahh, gosh. It hurts so much' Lelehan air mata tercetak di pipi Minhyun

Jonghyun hanya bisa menatap istrinya kasihan dan tetap mengelus pelan perutnya. Setelah selesai disuntik Minhyun kembali berbaring. Rasa sakit karena kontraksi sudah berkurang, walaupun masih terasa sedikit.

'Babe, I'm so sorry you got to go through this. Aku merasa sangat tidak berguna' Jonghyun mengusap pelan pipi Minhyun yang basah karena air mata

'Don't be sorry, honey. Ini semua demi baby kita. Aku akan berjuang semampuku, jadi tetap bersama kami ya, papa?' Minhyun menggenggam tangan Jonghyun dan suaminya itu mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Minhyun lemah seolah ingin mentransfer kekuatannya pada istrinya itu

Minhyun sedang berbaring menyamping diatas ranjangnya saat sebuah suara menyapa mereka.

'Bagaimana? Ada perkembangan?' suara yang berasal dari pintu membuat pasangan itu serempak menatap ke arah pintu

'Tidak terlalu signifikan. Minhyun masih di bukaan 5 sejak tadi malam' Jawab Jonghyun mewakili Minhyun yang hanya bisa meringis sesekali menahan kontraksi yang datang

'Apa sebaiknya tidak operasi saja? Kasihan Minhyun menahan sakitnya. Ini bahkan sudah hampir 24 jam' Itu Seungwoo yang masuk ke kamar inap Minhyun dengan suaminya Daniel yang mengekor di belakang

'Tidak mau, Woo. Aku mau melahirkan normal. Aku masih kuat kok' Minhyun sekarang tengah memakan roti agar menambah staminanya untuk melahirkan nanti

'Nyoon, kau yang kuat ya. Aku tidak terbayang bagaimana sakitnya saat melahirkan si kembar nanti' Seongwoo mengusap pelan perutnya, kandungannya sudah memasuki usia 36 minggu kemarin, menurut perkiraan dokter Seongwoo bisa melahirkan kapan saja

'Ahhh, sshhhh. Shit. Kenapa ini sakit sekali?' Minhyun lagi-lagi merasakan kontraksi, kontraksinya sudah semakin dekat, sejak 2 jam yang lalu kontraksinya mengalami kemajuan

'Kontraksinya sudah berjarak sekitar 5 menit. Sabar ya, sayang. Sebentar lagi bayi kita lahir' Jonghyun menyemangati Minhyun yang sekarang pindah posisi ke atas 'birthing ball' dan menggerakkan pinggulnya untuk membantu mempercepat kontraksi

Minhyun memeluk pinggang Jonghyun yang tengah berdiri dan suaminya itu mengelus rambutnya pelan. Seongwoo dan Daniel masih betah duduk di sofa kamar dan sesekali Seongwoo akan mengalihkan perhatian Minhyun dari kontraksi dengan melontarkan beberapa lawakan.

'Ahhh,' Tiba-tiba Minhyun merasakan air merembes melalui pahanya dan membasahi bola yang sedang didudukinya

'Nyoon, air ketuban mu sudah pecah. Jonghyun panggilkan Dongho, biar ia memeriksa Minhyun' Seongwoo sudah heboh berdiri dari kursinya dan membantu Jonghyun memindahkan Minhyun ke ranjangnya

'Sayang, biar aku saja yang membantu Minhyun' Daniel langsung mengambil alih membantu Minhyun

Saat Seongwoo kembali ke sofa, ia merasakan mulas yang luar biasa pada perutnya

'Niel, perutku mulas sekali' Seongwoo mendudukkan dirinya pada sofa dan mencengkram kuat pinggiran sofa pada saat kontraksi datang

'Hah? Apa? Sayang, kamu mau melahirkan juga?'

Dongho datang saat Daniel masih mengecek keadaan istrinya.

'Sepertinya kita bisa mulai proses persalinannya sebentar lagi. Bukaan Minhyun sudah hampir sempurna. Jangan mengedan sebelum proses melahirkan kita mulai ya, Minhyun' Dongho mulai memrintahkan perawat untuk membawa semua peralatan untuk membantu Minhyun melahirkan

'Dongho, bisa periksa istriku. Sepertinya ia merasakan kontraksi juga'

'Seongwoo berbaringlah. Aku akan mengecekmu' Seongwoo menaati permintaan Dongho dan dokter itu memeriksa perutnya

Setelahnya ia membuka celana Seongwoo dan medapati lendir bercampur darah pada celana Seongwoo

'Sepetinya si kembar ingin lebih cepat bertemu dengan Mommy dan Daddy nya' Dongho memerintahkan seorang perawat untuk memberikan selimut untuk menutupi bagian bawah Seongwoo

'Katakan kepada dokter Minki pasien kesayangannya akan melahirkan hari ini' perawat yang diperintahakan Dongho sudah menghubungi dokter Minki dan meminta perawat lain untuk membawa kursi roda

'Kalian benar-benar tidak ingin terpisah ya, sayang. Minhyun melahirkan hari ini, kau juga akan melahirkan hari ini. Kalian ini benar-benar' Daniel membantu Seongwoo untuk naik dan duduk diatas kursi roda

'Sepertinya si kembar ingin cepat-cepat bermain dengan bayinya Minhyun' Daniel sudah membawa Seongwoo ke arah ranjang Minhyun

'Nyoon, good luck. Mudah-mudahan bayi kita berdua lahir dengan selamat' Seongwoo kemudian menggenggam tangan Minhyun

'Good luck for you too, Woo'

Seongwoo kemudian dibawa keluar ruangan menuju ruang operasi.

'Hyun jangan lupa kabari kalau Minhyun sudah melahirkan, oke?' Daniel berteriak dari luar kamar Seongwoo, yang diteriaki kemudian membalas

'Kau juga, kabari kalau si kembar sudah lahir'


Orang tua Jonghyun dan Minhyun datang sesaat sebelum Minhyun akan memulai proses melahirkannya

'Ma, maafin Minhyun yang selalu bikin salah sama Mama' Minhyun menangis sesenggukan di pelukan ibunya

'Enggak sayang. Kamu jarang bikin Mama kesel kok' Mama Minhyun mengelus rambut putranya dan sesekali mengecup kening Minhyun

'Ini sakit sekali, Ma. Rasanya aku mau mati saja'

'Hush, jangan bilang begitu. Mama tahu putra mama kuat. Kau sudah tidak sabar kan bertemu dengan Jinyoung mu?' Minhyun menganggukkan kepalanya pelan

'Kau setuju dengan nama Jinyoung, sayang?' Jonghyun langsung menunjukkan ekspresi bahagianya

'Jinyoung nama yang bagus untuk putra kita. Aku… argghh' Untuk kesekian kalinya Minhyun kesakitan karena kontraksinya

'Baiklah, akan kita mulai proses melahirkannya. Bapak, ibu bisa tolong beri ruang untuk kami bekerja?' Permintaan Dongho disanggupi oleh orang tua Minhyun dan Jonghyun

Dongho memulai mengangkat kedua tungkai Minhyun dan menyangganya keatas 'leg spreader' yang berada di sisi tempat tidur. Setelah membuka kaki Minhyun, Dongho dapat lebih mudah membantu Minhyun melahirkan.

'Aku akan memeriksa bukaanmu' Dongho memasukkan jarinya perlahan-lahan

'Oke, kau sudah dilatasi sempurna. Saat kau merasakan kontraksi mengejanlah sekuat tenagamu'

'Sayang aku tau kau bisa. Demi bayi kita, Jinyoung kita' Jonghyun menghapus keringat di dahi Minhyun dan mengecup keningnya pelan

'Argggg, sialan kau Jonghyun ini sakit sekali. Aku gak mau melahirkan, sakit' Minhyun melepaskan semua makian pada suaminya itu sambil mengejan sekuat tenaga

'Jonghyun, jangan dengarkan Minhyun. Dia tidak bermaksud mengatakannya' nasehat ibunya diiyakan oleh Jonghyun

'Nah, ayo sedikit lagi. Ejan lagi'

'Ahhhh, Jonghyun jangan berani menyentuhku lagi sehabis ini' Minhyun hampir mematahkan jemari Jonghyun yang digenggamnya, Jonghyun dibuat meringis karena tangannya benar-benar sakit

'Oke, ejan lagi ya, Minhyun. Lebih baik kau memfokuskan energy mu untuk mengejan daripada memaki-maki Jonghyun' Dongho memberikan nasihat sambil memantau pergerakan bayi Minhyun

'Bastard, I hate you so much Kim Jonghyun. I..' sebelum Minhyun melanjutkan makiannya Jonghyun sudah membungkamnya dengan bibirnya

'Sayang, dengarkan apa yang dikatakan Dongho. Mari fokuskan energimu untuk mengejan. Aku tidak tahan melihatmu terus tersiksa seperti ini' Omongan Jonghyun sedikit banyaknya menampar Minhyun. Sejak tadi ia mengumpati Jonghyun tapi Jonghyun masih peduli dengan kesakitannya

'Nnngghh,, ahhhhhh' kali ini Minhyun mengejan tanpa berteriak

'Aku sudah melihat kepalanya. Come on Minhyun a few push and you'll meet your baby' Minhyun menjadi lebih bersemangat saat tahu bayinya sudah hampir keluar

'Nnnggghhhhhhh.. aaahhh' dorongan terakhirnya berhasil membuat kepala si bayi keluar sempurna

'Oke, sekarang bagian tersulit. Kita akan mengeluarkan bahunya. One big push Minhyun'

Minhyun mencurahkan seluruh energinya yang tersisa untuk mengejan dan ia dapat merasakan bayinya meluncur keluar dari tubuhnya. Detik berikutnya ia dapat mendengar tangisan bayinya.

'Babe, you did it. Our Jinyoung, thanks for all your hard work, Mama. I love you' Jonghyun menciumi tangan Minhyun

'I love you too, Papa' Minhyun yang masih kelelahan hanya tersenyum membalas Jonghyun

'Bisakah kau kemari untuk memotong tali pusarnya, Jonghyun?' Jonghyun langsung menghampiri Dongho dan memotong tali pusar putranya

Jonghyun kembali ke sisi Minhyun, ia menyeka keringat di dahi istrinya dan menciumi keningnya. Tak lama perawat membawa bayi ke hadapan mereka. Jonghyun membuka kancing baju Minhyun agar putra mereka menerima skin to skin dengan ibunya.

'Hyun, Jinyoung kita sudah lahir'

'Iya sayang, dia sangat tampan. Selamat datang ke dunia Jinyoung-ie. Papa dan Mama akan menjagamu selalu'


Minhyun sudah dipindahkan ke kamarnya. Minhyun dibuat sekamar dengan Seongwoo yang sudah melahirkan bayi kembarnya juga.

'Sepertinya anak-anak kita akan jadi teman baik juga setelah dewasa nanti' Seongwoo menatap Minhyun yang tengah memberikan susu pada Jinyoung

'Ya, akan sangat bagus jika itu terjadi. Jadi siapa nama mereka berdua?'

'Yang aku gendong dan lahir terlebih dahulu namanya Woojin dan yang Seongwoo gendong namanya Jihoon' Daniel berjalan mendekat ke ranjang Seongwoo untuk mengambil Jihoon yang telah selesai menyusu

'Kembar kalian laki-laki perempuan, Niel?' Jonghyun ikut duduk dekat ranjang Minhyun, sedari tadi ia memperhatikan bayi Ongniel

'Mereka berdua laki-laki. Memang Jihoon cantik sekali persis anak perempuan' Daniel tersenyum sangat lebar saat melihat Jihoon perlahan menguap, sepertinya ada yang mengantuk

'Jihoon pasti bakalan jadi primadona saat dia dewasa nanti' Guyonan Minhyun ditanggapi oleh tawa dari para orang tua itu

'Welcome to the new world, Kang Woojin, Kang Jihoon. Daddy and Mommy love you'