(Un)Lucky Fate

...

Im Jae Bum & Choi Young Jae

Mark Tuan & Park Jin Young (Jr)

...

Jackson Wang

Bambam

Kim Yu Gyeom

Min Yoon Gi (Suga BTS)

...

Hurt/Comfort, Romance, Family, Friendship

...

THIS IS YAOI FANFICTION

Typo everywhere~


All Author Pov

Mark berjalan santai memasukki rumah mewahnya. Tidak mempedulikan dua orang yang sedang bercengkerama di ruang tamu rumahnya. Namun saat ingin menapakki anak tangga untuk menuju kamar, suara sang ibu terdengar. Memanggil namanya dengan lembut.

" Mark, kemarilah sebentar. "

Namja tampan itu menghela nafas pelan. Ia berbalik dan melihat senyuman ibunya.

" Kenapa hanya diam disana? Kemarilah. " ibunya meminta.

Dengan enggan Mark berjalan mendekati nyonya rumah yang anggun itu. Kedua netranya menatap tajam seseorang yang duduk di sofa lain. Tepat di samping kanan ibunya.

" Jin Young datang ingin berbicara sesuatu denganmu. Jadi duduklah. "

" Mom, aku lelah. Aku hanya ingin istirahat. " Mark berucap sopan.

Wanita dengan paras cantik itu tersenyum kecil dan menggeleng. Ia berdiri, lalu mengusap pundak anaknya lembut.

" Dia sudah lama menunggumu disini. Sepertinya memang pembicaraan penting. Sebaiknya sekarang kau duduk, dan bicaralah dengannya. Mom ingin istirahat dulu. "

Setelah itu nyonya Tuan beranjak pergi. Membiarkan anak tunggalnya berdua dengan Jin Young.

Mark berdecak pelan. Dihempaskan tubuhnya untuk duduk diatas sofa yang tadi ditempati oleh ibunya.

" Cepatlah. Aku lelah dan ingin istirahat. " titahnya datar.

Jin Young yang mendengar itu mengeratkan tautan jari jemarinya.

" Aku.. melihatmu dengan.. Young Jae tadi. "

Tak ada jawaban apapun dari Mark. Ia diam menunggu perkataan selanjutnya dari namja yang pernah memilikki hubungan dengannya.

" A-apa.. kau dekat dengannya? " Jin Young bertanya gugup.

" Ya. " singkat. Singkat sekali jawaban yang di dengarnya.

" Sedekat apa? " suara itu terdengar lirih.

Mark bergumam sejenak, lalu kemudian mengangkat kedua bahunya acuh.

" Nado molla. Tapi melihat dan mengetahui pribadinya yang baik juga lucu, membuatku ingin semakin dekat dengannya. Aku jadi ingin lebih kenal dengannya sedalam mungkin. Wae? "

Kedua mata Mark memperhatikan Jin Young yang sedang menunduk.

" Apa kau.. menyukainya? " pertanyaan itupun terlontar. Membuat Mark berpikir sejenak.

Jin Young mendongak dan melihat Mark yang terdiam. " Hyung, apa- "

" Menurutmu, aku menyukainya atau tidak? " Mark balik bertanya.

Kedua matanya memicing. Memperhatikan bagaimana reaksi Jin Young atas pertanyaannya tadi. Tapi yang didapatinya hanyalah gelengan saja.

" Aku tidak tahu. Tidak mengerti. " Jin Young berucap lirih.

Mark menarik sudut kanan bibirnya. " Tapi tidak ada salahnya jika aku mendekatinya. Yah.. kau tahu? Mungkin aku mulai menyukainya. "

Tatapan mata itu berubah sendu. Hatinya sakit saat mendengar perkataan itu. Bagaimana Mark bisa berbicara setenang itu padanya tanpa mempedulikan perasaannya sama sekali.

" Apa hanya itu yang ingin kau bicarakan? "

Hening. Tak ada jawaban. Mark menghela nafas dan bangkit dari duduknya.

" Kalau begitu aku istirahat dulu. Jika kau masih ingin disini terserah. Sampai jumpa besok. " dan dengan begitu, Mark meninggalkannya. Berjalan menaikki tangga menuju kamarnya.

.

.

.

Young Jae melangkah lesu. Pagi ini sepertinya ia enggan pergi ke Universitas. Dia berjalan sambil menunduk, sementara kedua tangannya mencengkeram erat tali ransel yang dibawanya.

" Young Jae Hyung! "

Seruan itu membuatnya berhenti melangkah. Ia mendongak dan melihat Yugyeom yang berlari kecil menghampirinya dengan senyum ceria. Membuat wajah manis itu membalas senyumnya.

" Pagi Yugeyom-ah " Young Jae menyapa dengan pelan.

" Pagi juga hyu-eoh? Hyung.. kenapa kedua matamu bengkak? Kau habis menangis ya? "

Kedua mata Yugyeom menelisik wajah manis itu dengan teliti. Sementara Young Jae berusaha menutupi wajahnya dengan menunduk.

" Tidak. Hanya- "

" Hanya kelilipan, hanya kemasukkan debu, dan lain sebagainya yang akan menjadi alasanmu untuk kau katakan padaku hyung. Kuno sekali. " Yugyeom menggerutu.

" Yugyeom-ah.. "

" Kenapa menangis hyung? Apakah ada sesuatu yang terjadi? " Yugyeom memegang kedua bahu teman tersayangnya yang satu tahun lebih tua darinya itu.

Young Jae tersenyum dan menggeleng. " Gwaencanha Yugyeom-ah. " ia menjawab.

" Ey! Gotjimal! Aku tahu pasti ada yang tidak beres disini. Katakan padaku hyung. Ada apa? "

Namja manis itu diam. Sama sekali tidak ingin menjawab. Tidak ingin membuat Yugyeom khawatir karenanya.

Merasa Young Jae tidak akan menjawab, Yugyeom menghela nafas pelan. Ia melepaskan kedua bahu Young Jae.

" Baiklah jika tidak ingin menjawab. Mungkin memang belum waktunya hyung bercerita padaku. Tapi.. " Yugyeom menghentikan ucapannya sejenak. Mengundang tatapan kebingungan dari Young Jae.

" Tapi sekarang aku memaksa hyung untuk makan! Aku tahu hyung pasti belum makan dari semalam. Lihat! Wajahmu pucat sekali hyung. Dengan kedua mata yang bengkak, kantung mata yang tebal, bibir sedikit kering seperti itu, kau terlihat lebih mirip zombie daripada mahasiswa unggulan di Universitas ini! "

Ctak!

" Akh hyung! Appo! " Yugyeom mengusap-usap keningnya yang baru saja mendapat hadiah 'manis' dari Young Jae.

Bibir mungil itu mengerucut sebal. " Kau mengataiku zombie, hah? Kalau aku zombie kau apa? Dasar tiang listrik! "

Young Jae berjalan meninggalkan Yugyeom yang masih mengaduh kesakitan. Jitakkannya tidak main-main. Padahal kalau dilihat-lihat postur tubuh Young Jae itu kecil, tapi tenaganya, wow!

" Aish hyung! Kau juga mengataiku tadi! Hyung tunggu aku! Kita makan bersama! " teriakkan itu membuat seluruh mahasiswa yang ada disana terkekeh geli.

Tak terkecuali dua orang namja tampan yang sedari tadi memperhatikan interaksi mereka.

" Ah, jika begini terus, aku rela bangun pagi. Mereka sangat lucu. " Yoongi berkomentar.

Mark tersenyum mendengarnya. " Hm.. tapi sepertinya telingaku juga akan sakit jika mendengar Yugyeom berteriak terus setiap hari. " ia menimpali.

" Ya, kau benar. Ah tapi apa kau melihatnya? Wajah Young Jae. "

Mark menyilangkan kedua tangannya di depan dada. " Hu'um. Wajahnya sangat pucat dan terlihat sedih. Aku sangat yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengannya. "

" Dia tidak pandai berbohong. " Yoongi meneruskan.

" Tanyakan padanya nanti apa yang terjadi. Aku tidak mau melihat wajahnya seperti itu terus. "

Mendengar ucapan itu, Yoongi memicingkan kedua matanya. Menatap tajam Mark yang masih melihat lurus ke depan. Merasa diperhatikan, Mark menoleh. Mendapati Yoongi yang melihatnya penuh curiga.

" Wae? "

" Biar ku tebak. " Yoongi menegakkan tubuhnya yang tadi bersandar pada pohon di taman Universitas itu.

Namja dengan kulit putih pucatnya itu mencondongkan badanya ke arah Mark yang menatapnya semakin aneh.

" Mwoya? "

Yoongi mengeluarkan senyum jahilnya. " Kau.. menyukai Young Jae ya? "

Pertanyaan itu membuat Mark menjadi salah tingkah. Ia berdeham sejenak dan mengalihkan perhatiannya.

" Ayo kita masuk. Kelas akan dimulai sebentar lagi. "

Tanpa mempedulikan tawa Yoongi yang terasa menyebalkan baginya, ia berjalan masuk. Tidak ingin ikut menjadi perhatian aneh bagi mahasiswa lain.

.

.

.

Dengan beberapa buku tebal yang berada dalam pegangannya, Young Jae melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati. Tapi mungkin keberuntungan sedang tidak berpihak padanya. Seseorang dengan tidak sengaja keluar dari salah satu ruangan yang Young Jae lewati.

Menimbulkan debuman keras yang berasal dari buku-buku tebal tersebut. Buku-buku yang sedari tadi berada dalam pegangan Young Jae berserakkan dilantai koridor Universitas.

Young Jae menghela nafas pelan melihat buku-buku dibawahnya. Belum lagi kertas-kertas yang terselip dalam buku itu. Dengan perlahan dia berjongkok. Kembali mengambil buku-buku dan memungut kertas yang berserakkan juga.

" Ah! Maaf! Maafkan aku! Aku tidak sengaja! " orang itu berucap dengan nada panik seraya membantu Young Jae membereskan semua kekacauan itu.

Young Jae tersenyum. " Tidak apa-apa. Aku juga salah, tidak berhati-hati. "

Orang tersebut berdiri, diikuti Young Jae setelahnya.

" Sekali lagi maafkan aku. "

" Tidak apa-apa. Sungguh! Lagipula buku-buku dan kertasnya tidak ada yang kotor. " Young Jae menjelaskan.

" Syukurlah kalau begitu. " perkataan itu terdengar begitu lega dikedua telinga Young Jae.

Kedua mata beningnya yang berada dibalik bingkai kacamata memperhatikan wajah orang itu. Terasa asing baginya.

" Hm.. maaf. Apa kau mahasiswa baru disini? Aku baru melihatmu. " ia memberanikan diri untuk bertanya.

" Ah ya! " orang tersebut mengulurkan tangan kanannya sambil tersenyum ramah. " Perkenalkan namaku Jackson. Aku pindahan dari China. "

Tangan kanan Young Jae membalas uluran itu. Dan tersenyum tak kalah ramahnya.

" Namaku Young Jae. Aku mahasiswa semester satu disini. "

" Benarkah? Wah. Kalau begitu kau harus memanggilku hm.. hyung? Aku akan masuk di semester tiga. " Jackson menjelaskan setelah melepaskan jabatan tangan mereka.

" Eoh? Hm.. baiklah. Aku akan memanggilmu hyung kalau begitu. "

Jackson terkekeh melihat ekspresi lucu dari Young Jae.

" Oh ya. Bagaimana jika aku membantumu mengantarkan buku-buku itu? Kau terlihat kesusahan membawanya. Lagipula kau tidak mau kan kejadian tadi terulang lagi? " Jackson menawarkan. Sementara Young Jae terlihat berfikir.

" Tapi aku tidak ingin merepotkanmu hyung. "

" Ey~ anggap saja sebagai salah satu bentuk permintaan maafku. Okay? "

Tanpa mendapat persetujuan dari Young Jae, setengah dari buku-buku itu sudah berpindah tangan.

" Ayo! "

Young Jae tersenyum kikuk dan mengangguk pelan. Mereka mulai berjalan beriringan menuju ruang dosen.

Dan tepat pada saat mereka melangkah dari tempat itu, tiga orang namja lain kerluar dari balik dinding. Tempat mereka bersembunyi.

" Wae hyung? Wajahmu menyeramkan sekali. " seorang berwajah imut dan berpipi chubby bertanya.

Jae Bum menghela nafas kesal dan berdecak. Sementara Jin Young hanya tersenyum kecil melihatnya.

" Apa lagi yang akan kau lakukan kali ini Jae Bum? " ia bertanya.

Jae Bum melipat bersidekap. " Apa lagi selain mengerjainya? Aku tidak suka melihatnya bersikap sok manis di depan semua orang. "

" Hyung, sejujurnya aku bingung dengan ini semua. Yah.. kau tahu sendiri, Young Jae hyung sama sekali tidak mengetahui apapun dari semua masalah itu. " yang lebih muda berujar.

Sepasang mata tajam itu beralih menatap padanya. Membuat namja imut tersebut menelan air liurnya gugup.

" Jae Bum sudahlah. Kita ke kelas saja. Sebentar lagi mata kuliah pertama akan dimulai. " Jin Young menengahi.

Selain karena melihat wajah Bambam yang ketakutan karenanya, Jin Young tidak ingin mendengar ucapan itu kembali terlontar dari mulut Jae Bum untuk yang kesekian kalinya.

Jae Bum berdecak dan berjalan mendahului keduanya. Bambam meringisi kecil melihatnya. Kemudian kedua netranya beralih pada Jin Young.

" Aku salah bicara ya hyung? " ia bertanya sambil menggaruk pipi kanannya.

Jin Young tersenyum kecil dan menggeleng. Ia menepuk pundak bambam pelan.

" Tidak usah difikirkan. Sekarang lebih baik kau pergi ke kelas mata kuliah pertamamu. "

Bambam mengangguk. Namja thailand itu berbalik dan mulai melangkah. Dan sekarang hanya Jin Young yang masih berdiri disana.

" Choi Young Jae. " gumamnya.

.

.

.

Mark berjalan melewati lorong Universitas sendirian. Dengan tangan kiri yang berada dalan saku celananya, dan tangan kanan yang memegang tali ranselnya, sesekali ia bersiul ringan. Menciptakan sebuah melodi dari lagu yang diketahuinya.

" Mark hyung! "

" Kapjjagiya! Aish! Mwoya?"

Mark menatap kesal seseorang yang sudah mengejutkannya ditengah lorong Universitas yang sepi. Yah sepi, karena sekarang tengah berlangsung mata kuliah dari masing-masing semester. Hanya saja Mark sedang ingin menuju perpustakaan saat ini. Berterima kasihlah pada dirinya yang lupa memasang alarm, hingga ia harus terburu-buru berangkat dan meninggalkan satu buku mata kuliah di kamarnya.

Orang itu tersenyum kikuk. Kedua tangannya terulur, menyerahkan sebuah kertas yang dilipat padanya. Mark menatapnya bingung. Namun akhirnya ia mengambil kertas itu. Mungkin pernyataan cinta. Mark sudah sangat sering mendapatkan itu.

" Hyung, itu bukan surat pernyataan cinta ya. Hyung baca dulu isinya. "

Seakan tahu apa yang sedang difikirkan oleh Mark, orang itu berbicara. Dan Mark hanya bisa menatapnya dengan pandangan bertanya.

" Hm.. aku tidak bisa mengatakannya. Nanti hyung tidak mau datang. Sudah ya, aku kembali dulu. Annyeonghi gaseyo. "

Baru saja Mark ingin berucap, lelaki imut itu sudah pergi. Membuat Mark menghela nafas pelan. Dibukanya lipatan kertas itu dan mulai membaca isinya.

-Hyung ayo kita bertemu. Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Dan kumohon jangan mencoba untuk kabur. PJY-

Berdecak kesal, Mark meremat kertas itu kuat. Tapi akhirnya ia melangkah menuju tempat dimana biasanya ia bertemu dengan 'orang itu' .

Jin Young bangkit berdiri saat melihat Mark melangkah mendekat ke arahnya. Sejujurnya ia gugup untuk bertemu dengan Mark. Tapi setidaknya ia harus memberanikan diri untuk berbicara dengan sang visual di Universitas itu.

" Hyung maaf mengganggu waktumu. " Jin Young berucap setelah Mark berdiri tepat dihadapannya.

Mark hanya diam seraya menatapnya tajam.

" Aku hanya ingin meyakinkan ucapanmu kemarin. Apa kau benar mulai menyukainya? Menyukai Young Jae? " Jin Young sekuat tenaga memberanikan dirinya untuk balas menatap mata itu.

Lelaki tampan itu menyeringai. " Kau menyuruhku datang kesini dan membuatku meninggalkan mata kuliah pertama hanya untuk hal ini? Untuk bertanya hal yang bahkan kau sendiri sudah tahu jawabannya? Park Jin Young-ssi.. kau membuang waktu berhargaku. "

Kemudian Mark berbalik. Namun baru saja ingin melangkah, suara Jin Young sudah menginterupsinya.

" Jangan.. menjadikannya pelampiasanmu hyung. Young Jae anak yang sangat baik. " Jin Young berucap lirih.

Mark menghela nafas kasar. Dan kembali melihat Jin Young yang sedang menatapnya sendu.

" Aku? Menjadikannya pelampiasan? " Mark tertawa meremehkan.

Tatapan itu semakin menajam. " Dengar. Aku tidak seperti dirimu Jin Young-ssi. Tidak sepertimu yang sudah menjadikanku sebagai bahan pelampiasanmu disaat aku sangat mencintaimu. Kau dengar itu? "

" Hyung aku- "

" Jika aku mau, aku bisa mencari orang ataupun wanita murahan diluar sana untuk ku jadikan pelarian atau hal apapun itu untuk membalaskan rasa sakit hatiku. Tapi tidak, aku bukan orang yang seperti itu. Karena jika aku melakukannya, itu sama saja aku sepertimu. "

Jin Young ingin menangis saja rasanya. Mark yang dia kenal tidak akan berbicara kasar seperti itu padanya.

" Kau berubah hyung. "

" Aku berubah? Tidak. Aku masih Mark Tuan yang dulu. Jika kau merasakan aku berubah, mungkin itu karena aku sudah terlanjur membencimu. Ah! Kau ingin meyakinkan satu hal bukan? Ya. Aku menyukainya. Menyukai-Choi-Young-Jae. Dia bahkan jauh lebih baik darimu. Apa kau mengerti itu? "

Dan setelah itu, Mark melangkah pergi. Meninggalkan Jin Young yang mulai meneteskan air matanya dengan kedua tangan yang terkepal.

' Aku menyesal. Aku mencintaimu. Dan aku tidak akan menyerah hyung. Tidak akan pernah. ' Jin Young bertekad dalam hatinya.

.

.

.

Jae Bum menguap lebar. Kedua matanya menatap malas Mrs. Cha yang sedang menerangkan entah apa di depan sana. Ia tidak mau ambil pusing untuk memperhatikan. Toh dia akan lulus dengan kekuasaan ayahnya. Jadi dengan begitu, ia mengangkat tangannya dan meminta izin ke toilet. Hanya alasan sebenarnya. Ia ingin menuju tempatnya biasa bermalas-malasan –atap gedung- .

Tapi sepertinya ia mengurungkan niatnya itu. Ia melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang diekitarnya. Dan mulai melangkah untuk mengikuti seseorang dengan sangat pelan.

Yang diikuti tidak sadar, orang tersebut berbelok ke kanan dan masuk ke toilet khusus pria. Jaebum menyeringai kecil. Sekali lagi ia memastikan jika situasi disana sangat sepi, lalu setelahnya ia bergerak cepat masuk dan mengunci pintunya.

Young Jae yang semula ingin membasuh wajahnya terkejut. Ia menatap pantulan Jaebum pada cermin di depannya dan berbalik.

" Wah.. tidak kusangka kita akan bertemu disini Choi Young Jae. " Jae Bum berucap dengan langkah mendekati Young Jae secara perlahan.

Mendengar suara yang penuh ancaman itu, Young Jae melangkah mundur. Satu langkah maju untuk Jae Bum, maka satu langkah mundur untuknya.

Bruk.

Dan ya, dinding sialan dibelakangnya membuat dirinya tersudut. Melihat itu Jae Bum tersenyum penuh kemenangan. Young Jae gelisah. Panik dan juga takut secara bersamaan.

" Kenapa? Kau takut hm? "

Young Jae bergerak ke kanan, berniat untuk kabur tapi Jae Bum lebih dulu menahan kedua tangannya. Meletakkannya disisi kanan dan kiri lelaki manis itu. Kedua mata Young Jae terpejam erat. Tidak berani melihat Jae Bum yang kini sedang memperhatikan wajahnya begitu dekat. Sangat dekat.

" Hey.. kau manis juga jika dilihat sedekat ini. " dan kedua tatapan itu beralih pada bibir merah milik Young Jae. " Hm.. apa kau sudah pernah merasakan sebuah ciuman? " suaranya tersengar berat.

Young Jae menggigit bibir bawahnya. Yang entah kenapa membuat Jae Bum memaki dalam hatinya.

" Jae Bum sunbae, t-tolong lepaskan aku. " ia memohon.

Hal itu membuat Jae Bum tertawa. " Tidak. Sebelum aku merasakannya. Merasakan.. ini. "

Dan hal yang selanjutnya terjadi membuat Young Jae membelalakkan kedua matanya. Jae Bum menciumnya. Tepat dibibir.

To Be Continue...


Maafkan author #DeepBow

Author sangat berterima kasih untuk skripsi yang sudah harus kejar target #sigh

Mengharuskan author terlambat -sangat- update ff..

Di chapter ini sudah ada MarkJin-nya ya, hehe

Tapi maafkan author yang membuat mereka bertengkar #GarukTanah

Chapter depan enaknya pair siapa ya yang muncul?

Btw.. aku jadi nge-fans sama YoungJae jadinya, hihihi

RnR?

See you in next chapter ^^


Vernoonaa : Nggak kemana-mana nak.. cuma lagi berkutat dengan BAB IV #Nangis BarengYoungJae

Sudah update ya ^^ terima kasih sudah mau baca dan review ^o^

applelyy : sudah di update ^^ makasih udah mau baca dan review ya ^^

fad24 : *pukpukpuk.. udah nasib Young Jae #plak.. sudah update, terima kasih sudah mau baca dan review :D

markjinyoung : nah~ MarkJin sudah hadir.. bagaimana bagaimana? hehehe.. trima kasih sudah mau baca dan review ya ^^

Park RinHyun-Uchiha : banget! rasanya greget pengen nabok! makasih udah baca dan review :D

jinyoungie98 : sama! aku juga jadi suka 2jae nih gara-gara temanku, hahaha..MarkJin sudah kebagian adegannya disini.. makasih udah baca dan review ^^

ima-kun Hatsukoi : Masih ditunggu nggak? MarkJin sudah muncul nih, hehe.. terima kasih sudah baca dan review ^^

arschimchim : iya betul, ckckck.. enaknya diapain dia? haha.. terima kasih sudah baca dan review ^^