Cast : Super Junior and EXO

Pairing : KyuMin

Rate : T - M : M for a blood scene

Genre : Crime, Horor and Fantasy

Warning : YAOI, Typo, OOC, Blood scene and a dark Fantasy.

Disclaimer : KyuMin is Real

Mereka milik pribadi masing-masing, Dhee cuma numpank pinjem nama

mereka he..he..

This is special for all readers in Rachael137.

Please, Don't copy and paste.

Jika tertulis "Jangan Dimainkan" berarti jangan pernah kau berpikir atau mencoba untuk memainkannya. Rantai kesalahan dan petaka akan menanti dengan pasti. ( The Reason )

.

.

.

.

The Reason

Lagi-lagi salju turun di pagi hari pada bumi Korea. Aiden dan Vincent baru saja melangkah keluar dari pintu apartemen mereka. Walaupun sudah berpakaian tebal dan menggunakan sarung tangan. Keduanya tetap saja merasa kedinginan. Uap putih keluar begitu mereka membuka mulutnya.

"Hyung, dingin sekali." Aiden menghentakan kedua kakinya begitu mereka tiba di halte bus yang terletak beberapa meter dari tempat tinggal mereka. Kedua tangannya digenggam erat berusaha memberi sedikit rasa hangat pada tubuhnya yang kedinginan. Vincent yang melihat tingkah sang dongsaengnya segera mengeluarkan syal rajut berwarna biru dari dalam tas selempang hitam miliknya dan memakaikan pada leher Aiden.

"Sudah kukatakan agar kau memakai ini tapi kau tidak mendengarkanku. Sekarang kau kedinginan." Vincent mengacak rambut Aiden sementara Aiden hanya tersenyum memamerkan barisan gigi putihnya.

"Hyung, busnya sudah datang."

Aiden dan Vincent segera masuk ke dalam bus yang akan mengantarkan mereka menuju Korea University of Art. Suasana di dalam bus tidak begitu penuh, masih tersisa beberapa bangku kosong yang terdapat di bagian belakang. Sepertinya para penumpang saat ini kebanyakan adalah mahasiswa karena terlihat dari seragam yang mereka kenakan sama. Hanya logo di sebelah kiri yang memberikan ciri untuk masing-masing jurusan.

Pandangan Aiden teralih pada sosok pria yang duduk di deretan kiri bangku belakang. Jaket hitam panjang menutupi kemeja biru yang pria itu kenakan. Sepertinya ia punya dunianya sendiri karena Ia hanya menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya berusaha mendengarkan sesuatu yang dihasilkan dari earphone putih yang terpasang ditelinganya. Aiden sempat ragu untuk duduk bersebelahan dengan orang yang Aiden tahu bernama Cho Kyuhyun. Baru saja Aiden ingin berbalik arah tetapi tangannya sudah terlebih dahulu ditarik Vincent dan mengharuskan untuk duduk bersebelah dengan Kyuhyun.

"Hyung, kenapa duduk disini?" Aiden sedikit berbisik pelan di telinga Vincent yang duduk di sisi kanannya.

"Sudahlah!" Vincent ikut memejamkan matanya dan membuat Aiden akhirnya berhenti untuk memberikan keluhan. Entahlah karena alasan apa Aiden sungguh tidak suka pada pria yang baru Ia temui kemarin. Sepertinya menurut Aiden sosok di sebelah kirinya itu adalah pria yang dingin, acuh dan sangat sombong.

Suara celoteh ringan dari para mahasiswa yang duduk di bangku depan sepertinya tidak berlaku pada deretan bangku belakang. Aiden kembali menghela nafas ketika melirik kedua pria di samping kanan dan kirinya hanya duduk bersandar dan memejamkan matanya.

"Aish, kedua pria ini benar-benar mirip orang yang sudah mati." Gumam Aiden kesal. Namun, secara tiba-tiba Aiden terkejut ketika Vincent membuka matanya dan terlihat sangat pucat. Buliran keringat kecil keluar dari keningnya hingga membasahi wajah putih Vincent. Nafasnya juga terdengar berat seperti orang yang mengalami sesak nafas. Aiden sangat panik, Ia segera mengendurkan syal yang dikenakan Vincent.

"Hyung, kau kenapa?" Aiden semakin bingung ketika Vincent tak juga menjawabnya. Semakin lama Vincent semakin kesulitan bernafas seperti ada sesuatu yang menganjal di saluran pernafasannya. Aiden menguncang-guncang tubuh Vincent berulang kali membuat beberapa mahasiswa yang di bangku depan menghampiri bangku belakang. Terlihat Suho dan Kyungsoo sudah berada di depan Aiden dengan memandang khawatir.

"Apa yang terjadi dengannya, Ahjussi? Apa dia sakit?" Suho mengeluarkan sapu tangan putihnya dan memberikan kepada Aiden. Aiden menggunakan sapu tangan itu untuk menghapus jejak keringat yang membasahi wajah Vincent.

"Apa ahjussi pengajar di Universitas?" Tanya Kyungsoo dengan sedikit ragu-ragu. Aiden hanya tersenyum dan mengangguk singkat.

"Bisakah kalian tenang dan kembali ke tempat duduk? Kalian hanya membuatnya semakin sulit bernafas dengan berdiri di depannya." Suara bass Kyuhyun yang terdengar tiba-tiba membuat baik Suho, Kyungsoo dan beberapa mahasiswa lainnya segera memilih kembali ke tempat mereka semula tanpa berkomentar lagi. Dengan perlahan Kyuhyun segera duduk dengan posisi berjongkok di depan Vincent.

"Apa dia sakit? Kau bisa turun di halte depan dan membawanya ke Rumah Sakit. Ia tidak mungkin mengajar dengan keadaan seperti ini." Kyuhyun menatap Aiden seakan memberikan sebuah perintah.

"Aku tidak apa-apa." Suara Vincent terdengar pelan membuat kedua pria di depannya kembali memperhatikan dirinya. Vincent sudah kembali normal walaupun masih terlihat pucat dan berkeringat. Nafasnya tidak lagi terputus-putus seperti tadi. Hanya saja ada yang berbeda kali ini dari fisik Vincent. Pupil matanya berubah warna menjadi biru tua. Kyuhyun yang berada tepat di depan Vincent menjadi terkejut hingga Ia terjatuh dalam posisi duduk menempel pada lantai bus dengan bunyi berdebam.

"Apa yang terjadi dengan matamu? Kenapa bisa berubah warna?" Tidak ingin membuat para mahasiswa yang berada di bangku depan melirik kearahnya. Kyuhyun bertanya dengan suara pelan memperhatikan Vincent yang juga ikut menatapnya. Sesaat ada kesan tersendiri yang tidak bisa Kyuhyun mengerti ketika Ia terlarut dalam pupil mata biru Vincent. Saat sorot mata itu dengan tenang seakan menghisap semua rasa kebencian yang tersembunyi di dalam diri Kyuhyun.

Secara naluri, entah karena alasan apa? Tangan Kyuhyun terarah untuk mengenggam tangan Vincent yang bisa Ia rasakan sangat dingin. Begitu tangan mereka benar-benar saling mengenggam satu sama lain. Kyuhyun menyadari perubahan tangan Vincent yang menghangat dan pupil mata Vincent seakan bersinar memberi warna biru yang terang. Sejenak Vincent menutup kelopak matanya. Begitu Ia membuka matanya kembali. Keadaan pupil matanya telah kembali normal menjadi gelap. Sekarang giliran Vincent yang benar-benar terkejut ketika melihat sosok Kyuhyun yang duduk bersimpuh di depannya serta mengenggam tangannya dengan erat.

Refleks, Vincent segera melepas genggaman tangan Kyuhyun dan melirik kearah Aiden yang duduk di sampingnya. Aiden hanya mengangkat kedua bahunya dan menggeleng singkat seakan memberi jawaban -"Akupun tidak tahu apa yang terjadi padamu, hyung"-

Kyuhyun juga ikut tersadar. Ia segera berdiri dan secara kebetulan bus berhenti di halte Universitas. Tanpa berkata apapun Ia berjalan turun dari bus dengan langkah terburu-buru.

"Ayo, Hyung! Kita turun." Aiden dan Vincent juga ikut turun dan bergabung dengan beberapa mahasiswa.

"Kurasa Kyuhyun hanya terkejut dengan apa yang baru saja Ia lihat. Tiba-tiba saja kau seperti orang yang kehabisan nafas lalu pupil matamu berubah biru. Ditambah secara tidak sadar kalian bergenggaman." Vincent menghentikan langkahnya ketika mendengar ucapan Aiden. Tubuhnya menegang dan wajahnya ketakutan.

"Tiba-tiba saja Aku merasakan kematian yang terjadi pada wanita itu. Seharusnya Kyuhyun tidak melihatnya karena hal itu akan membawa hal yang buruk padanya. Aku tak ingin orang lain ikut dalam permainan kita, Aiden." Vincent menundukkan kepala dan mengepalkan tangannya dengan sangat kencang. Melihat hal itu Aiden meletakan tangannya di bahu Vincent.

"Kita bicarakan itu nanti! Dua puluh menit lagi kelas akan dimulai." Akhirnya Aiden dan Vincent berjalan memasuki gedung Universitas.

00000000000

Senja sudah berada diperbatasan sebelah barat. Vincent masih berada di ruang Kelas vokal A. Saat ini Ia sedang sendiri karena kelas sudah selesai sejak setengah jam yang lalu. Vincent menaruh kepalanya di atas meja sambil mengecek ponselnya. Di hari pertamanya, Vincent harus mengajar sendiri kelas barunya. Ia benar-benar tidak bisa memahami pemikiran dari rekan kerjanya itu. Bagaimana mungkin Kyuhyun menolak kembali mengajar saat tiba di kelas mendapati sekitar lima mahasiswanya tidak hadir. Akhirnya Vincent yang mengambil alih kelas untuk mengajar dan menemani mereka hingga sore tiba karena banyak materi yang tidak mereka dapatkan.

"Melelahkan?" Kyuhyun tiba-tiba muncul dari pintu ruangan kelas dan segera mendudukan diri di depan piano hitamnya.

"Aku tidak membayangkan betapa mereka membenci dirimu? Apa kau tidak kasihan pada mereka yang ingin mendapatkan materi darimu? Setidaknya mereka berharap akan menjadi sepertimu kelak." Vincent sungguh sangat kesal melihat ekspresi Kyuhyun yang hanya menampilkan smirk-nya sebagai respon balasan dari ucapannya.

Kyuhyun tidak memperdulikan perkataan dari Vincent. "Menjadi terbaik butuh perjalanan yang sulit. Tidak dengan cara mudah untuk meraihnya. Itu yang aku terapkan untuk anak didikku."

Vincent berjalan mendekat ke arah Kyuhyun yang terlihat menikmati jari-jarinya yang bermain di atas tuts. Hanya menyentuhnya saja tanpa berminat untuk memainkan beberapa nada. "Kurasa kau tidak ingin mereka memiliki kemampuan yang sama denganmu. Benarkan pendapatku?"

Sejenak Kyuhyun menghela nafas panjang dan memulai memainkan beberapa nada rendah. "Kau tidak tahu apa-apa tentang diriku jadi berhentilah menilainya!"

Kemarin, dia menulis lirik hampa ini di atas daun kering

Sekarang, dia tinggal di tempat yang sunyi untuk menunggu

Suara Kyuhyun terdengar pelan saat menyanyikan dua bait lagu itu. Entah karena melodi yang dimainkan membuat terdengar sangat sedih di telinga Vincent. Seketika tubuh Vincent kembali menegang merasakan perubahan udara yang tercipta di ruangan kelas Vokal A. Saat itu memang sedang senja dan udara mulai terasa dingin. Namun, saat ini udara benar-benar terasa menusuk tengkuknya. Vincent kembali memperhatikan permainan piano Kyuhyun serta menajamkan pendengarannya untuk memastikan setiap bait yang Kyuhyun ucapkan.

Datanglah

Karena, dia tidak tahu siapapun. Dia butuh untuk membuka semua lukanya

"Apa yang terjadi?" Tiba-tiba saja Vincent mengepalkan tangannya dan bertanya di dalam hatinya. Ruangan ini tidak lagi hanya ada Vincent dan Kyuhyun. Ada mereka ...

Kyuhyun terus saja memainkan jemari-jemarinya di atas tuts walaupun kali ini Ia tidak lagi bernyanyi. Kyuhyun yang memejamkan matanya tak memperhatikannya. Vincent berulang kali menolehkan kepalanya untuk menatap kesegala arah. Tubuhnya tidak hanya menegang bahkan keringat dingin telah keluar dari pelipisnya membasahi wajahnya yang semakin pucat.

Sosok transparan dengan segala bentuk hadir di dalam ruangan itu. Wujud mereka semakin tampak jelas bersamaan dengan cahaya matahari yang terbenam dan digantikan oleh gelap malam. Vincent bukan takut, dia hanya kaget dengan semua yang terefleksi oleh pandangannya. Siapa mereka? Itu pertanyaan yang ada di dalam otak Vincent.

Tubuh-tubuh melayang dengan raut sedih seakan sedang memperhatikan sosok Kyuhyun yang begitu asyik memainkan pianonya. Vincent dengan langkah ragu-ragu memberanikan diri untuk mendekati salah satu sosok yang sedang berdiri beberapa langkah dari dirinya. Sosok itu terlihat seperti pemuda berumur belasan tahun. Setelah memperhatikan dengan teliti. Vincent menyadari bahwa ia mengenakan seragam yang sama dengan para siswa di Universitas.

"Apa kau dulu adalah murid di Universitas ini?" Tanya Vincent dengan suara pelan. Ia takut jika Kyuhyun menyadari kegiatannya. Sosok pemuda itu menoleh kearah Vincent. Sejenak sosok putih transparannya terlihat bercahaya ketika Vincent mengenggam tangannya. Perubahannya menjadi nyata dan bisa disentuh. Sosok berpipi chubby itu hanya mengangguk dan tersenyum.

"Ini caraku untuk berkomunikasi dengan kalian. Jika tanganku menyentuh tubuh kalian maka sejenak kalian akan menjadi makhluk padat sepertiku. Tapi jangan khawatir hanya aku yang dapat melihat dan menyentuh kalian." Vincent menjelaskan kepada pemuda itu. Seakan menjadi sebuah magnet. Sosok-sosok transparan lainnya yang semula melayang-layang disekitar ruangan kini mendekat kearah Vincent dan pemuda itu.

"Sungmin. Kau adalah a Soul Translator itu?" Sosok pria transparan bertubuh tambun mendekat dan menembus Vincent. Sejenak Vincent merasakan sensasi dingin luar biasa saat tubuh transparan itu berulang kali menembusnya.

"Hentikan!" Suara Vincent memang pelan tapi raut wajah dan tatapan tajamnya membuat sosok itu diam dan menghentikan ulah nakalnya.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" Kali ini suara Vincent terdengar menuntut. Bagaikan sebuah perintah tegas beberapa sosok transparan itu kembali terbang melayang menjauhi ruangan. Mereka sangat ketakutan dengan sosok Vincent. Sementara tangan putih Vincent masih mengenggam sosok pemuda itu. Vincent menyadari bahwa sosok itu juga ketakutan dan tidak berani untuk menatapnya

"Ma...afkan aku, Sungmin. A...ku hanya i...ngin men...dengar...kan perma...inan...nya saja." Ucapan pemuda transparan itu terdengar terbata-bata seakan Vincent akan menyiksa dirinya.

"Mengapa?" Kali ini Vincent melembutkan suaranya. Jujur saja, Vincent tidak berniat untuk membuat takut sosok di depannya itu. Perlahan tangan Vincent mengelus rambut pemuda itu dengan perlahan.

"Dia mewakili jiwaku, Sungmin. Mungkin juga seluruh roh-roh yang kau lihat tadi. Kami tidak akan menganggunya. Kami hanya ingin menemani dan mendengarkannya. Apa itu salah?"

"Sayangnya itu salah. Kau tidak boleh terlalu dekat dengan sosok yang berbeda dunia dengan dirimu sekarang. Siapa namamu?" Vincent memperhatikan wajah pemuda itu. Bisa Ia lihat wajahnya yang putih ternoda oleh jejak darah yang keluar dari hidungnya.

"Aku Xiumin."

"Baiklah, Xiumin. Pergilah sekarang dan jangan pernah terlalu dekat dengan sosok manusia. Jika mereka menyadari dan ketakutan. Kau akan mendapatkan masalah nantinya. Cukup di dunia saja kau menderita tapi jangan buat kau menderita lagi di dunia yang sekarang kau tempati." Tangan Vincent diletakan dikedua bahu Xiumin.

Xiumin mengangguk paham dan membungkuk hormat ke arah Vincent. "Sungmin, aku tidak tahu apa alasanmu menganti nama. Sejujurnya kau lebih manis menggunakan nama Sungmin."

Vincent kali ini benar-benar mendelik kaget dan mempoutkan bibirnya. Antara kesal dan senang walaupun yang memuji dirinya adalah sosok pemuda transparan yang jauh lebih muda darinya.

"Jangan marah! Jujur saja, pria yang sedang bermain piano itu cocok denganmu. Kalian sama-sama aneh. Oh, iya kurasa dia juga dapat membantumu untuk memecahkan semua misteri yang sedang kau tangani." Seketika sosok Xiumin menghilang bersamaan dengan ucapannya yang terhenti. Sementara Vincent hanya mengacak-acak rambutnya dengan kesal.

"Kemarin roh wanita itu, sekarang roh bocah bernama Xiumin yang mengatakan aku cocok dengan pria yang sangat menyebalkan itu. Kenapa roh-roh itu masih bisa berpikiran gila." Vincent berjalan keluar ruangan dengan raut wajah di tekuk meninggalkan Kyuhyun yang masih saja bermain dengan piano hitamnya.

Bisakah kau mendengarku ?

Ini bukan hanya tentangmu... tapi kita

Kyuhyun kembali menyanyikan dengan lirik yang lebih pelan setelah menyadari Vincent sudah berjalan keluar. Kyuhyun membuka matanya dan tersenyum sendu. Ia berdiri dan menyandarkan tubuhnya pada dinding putih.

"Aku tahu, Ia berbeda." Gumam Kyuhyun perlahan.

0000000000000

Vincent melangkah dengan langkah tertunduk menatap lantai di bawahnya. Hari ini Ia benar-benar sangat lelah. Tampak sekali wajahnya yang memucat dan pandangannya yang sayu. Ia baru saja akan menuruni tangga menuju lantai dua. Namun, langkahnya terhenti ketika Ia berada tepat di depan sebuah ruangan yang digunakan sebagai gudang penyimpanan alat-alat musik. Ada sebuah perasaan yang memerintahkan Vincent untuk masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan Vincent bisa merasakan ketika kakinya berjalan mendekat pada pintu berkusen cokelat itu.

Tangan Vincent sudah berada pada ujung kenop pintu dan berniat membukanya. Tiupan udara terasa hangat di tengkuknya.

"Seonsaengnim, kau sedang apa?" Tiba-tiba saja suara yang terdengar dari belakang mengagetkan Vincent hingga Ia melepas genggaman tangannya pada kenop pintu itu. Vincent memutar tubuhnya dan melihat seorang mahasiswa berkulit tan yang membungkuk hormat padanya.

"Aku hanya ingin tahu ini ruangan apa, Kim Jongin?" Vincent melirik ke arah nametag yang tertera pada kemeja mahasiswa itu.

"Ini hanya ruangan untuk menyimpan perlengkapan yang sudah rusak dan tidak terpakai." Vincent hanya mengangguk singkat sambil memperhatikan sebuah box yang dibawa oleh Jongin.

"Itu apa?"

"Oh, ini hanya beberapa kepingan cd serta music player yang sudah rusak. Hyukjae seonsangnim menyuruhku untuk menaruhnya di dalam gudang." Jongin mengeluarkan sebuah kunci dari saku celananya dan membuka pintu gudang dengan perlahan.

"Bolehkan aku membantumu, Jongin?" Vincent melangkah masuk mengikuti Jongin setelah Jongin mengangguk setuju.

Ruangan yang bisa dibilang gudang ini sangat rapi untuk ukuran sebuah tempat yang digunakan sebagai penyimpanan barang bekas. Cukup besar dengan pendingin udara, lantai berkeramik dan dinding yang bercat putih. Barang-barang diletakan teratur bahkan box-box ditumpuk hanya bersusun tiga. Alat-alat musik yang usang juga dipisahkan di dalam lemari. Perhatian Vincent tertuju pada sebuah piano yang tertutup kain putih yang terletak di ujung ruangan. Vincent melirik sedikit ke arah Jongin yang sepertinya sibuk dengan kegiatannya merapihkan beberapa barang milik kelas dance yang terdapat di ruangan itu.

Vincent berjalan mendekat ke arah piano itu dan membuka sedikit kain putih yang menutupinya. Tidak ada yang berbeda dengan piano itu, tetap terawat dengan sangat baik. Pianonya masih berwarna hitam mengkilap bahkan tuts-tutsnya pun masih terlihat baik. Bukan Vincent jika tidak melihat keanehan. Ia menyadari jika di dalam piano itu ada satu buah kayu penghubung tuts yang digunakan untuk menghasilkan bunyi, ada yang hilang. Vincent semakin merunduk dan mendapati bercak darah yang sudah mengering pada bagian kaki penyangga piano.

Vincent menutup matanya dan seakan tangan yang menyentuh bekas darah itu memberikan sebuah gambaran. Bagai sebuah roll film yang terputar pada mesin proyektor, gambaran tentang kejadian pembunuhan wanita itu tergambar jelas di dalam pikiran Vincent.

"Seonsaengim, anda baik-baik saja?" Suara Jongin kembali menyadarkan Vincent. Vincent hanya tersenyum dan mengangguk singkat melihat kekhawatiran di wajah mahasiswanya itu.

"Jika Kyuhyun seonsaengnim tahu anda membuka piano ini. Bisa ku pastikan Ia akan sangat marah besar dan akan memberikan aku detensi." Jongin mengaruk tenguknya dan menghela nafas panjang. Vincent mengelus pundak Jongin perlahan.

"Tenang saja, aku tak akan membiarkan dia tahu hal ini."

"Sungmin... cepat kau buka lemari itu! Ada sebuah petunjuk yang bisa kau gunakan." Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari sudut ruangan. Begitu Vincent menoleh, ia mendapati sosok transparan yang pernah ia lihat sewaktu di ruang vokal sedang berdiri dengan melompat-lompat. Sosok pemuda berpipi chubby bernama Xiumin. Pantas saja hanya Vincent yang mendengar suara itu sementara Jongin tidak.

"Jongin, kau bisa tunggu sebentar? Aku ingin mengecek lemari itu?" Vincent berusaha bersikap sewajarnya agar tidak menimbulkan kecurigaan dihadapan mahasiswanya itu. Setelah Jongin merasa tidak keberatan. Vincent mendekat ke arah lemari itu dan sosok Xiumin.

Vincent melihat sebuah buku usang bersampul hitam yang terletak di dalam lemari itu. Vincent membuka dan mengambil buku itu. Di halaman pertama kertas yang sudah berubah warna cokelat itu. Vincent bisa melihat sebuah foto wanita berusia dua puluh tahun yang mengenakan seragam. Tiga susunan huruf hangeul bertuliskan "Kim Hyoyeon". Vincent membuka lembaran berikutnya dan tertulis beberapa partitur not-not balok piano yang ditulis tangan. Ada beberapa lirik lagu yang sepertinya juga diciptakan sendiri oleh wanita itu. Nafas Vincent terasa berhenti ketika pada halaman terakhir terdapat foto wanita itu bersama dengan pemilik Universitas, Tuan Kangin. Serta seseorang lagi hanya saja bagian foto itu tersobek hingga hanya wanita itu dan Tuan Kangin yang masih terpasang.

Foto itu tersobek dan berlumuran darah yang sama nampak mengering seperti yang terdapat pada kaki penyangga piano tadi. Dan sebuah tulisan...

Aku telah membunuhnya

Untukku dan untuk kebahagiannya

Jangan pernah mengganggu kami... atau Aku akan membawamu untuk berhenti melihat dunia.

.

.

.

To Be Continued

*** Wuah,,,, dhee baru nongol… Maafffff buanget yach? Please,, maafin. Dhee kasih bonus update one shoot.

*** seperti biasa, Dhee selalu update menjelang malam.. maklum jelmaan "Jacob" munculnya klo orang2 udah pda tidur he…he..he…

***Chapter dua,, masih bingung yach? Maklum dah biz genre fantasi horor gini kalo dibuat cepet nanti malah jadi rancu… (biasa ngeles dah)

Regards

Dhee