Kuroko no Basuke characters belongs to Tadatoshi Fujimaki-sensei

This fanfic is written by yooneeriin

Genre: Hurt

Rated: T

Pairing: AkaFuri, AkaKuro

Warning: This fanfic is about boys love (yaoi), if you don't like it please click back ^^

Musim bisa berubah, tetapi tidak dengan perasaan ini.

Bittersweet:

The Letter

Teruntuk Akashi Seijuuro-kun

Bagaimana kabarmu hari ini? Jujur saja, aku sangat merindukanmu. Setiap detik yang berganti bagai racun untukku, yang kelak akan membunuhku secara perlahan namun pasti. Rasa kehilangan dan rasa kekecewaan ini tak pernah luput dari ingatan. Jujur, aku tak pernah menikmatinya ataupun beranjak dari masalalu. Karena ini sangat berat untukku, dan aku yakin kelak kau akan kembali kepadaku.

Yang ku cinta, Akashi Seijuuro-kun. Saat ini langit biru membentang layaknya samudera hindia. Tak kulihat sedikit pun gumpalan awan putih yang berarakan karena terbawa angin. Cuaca nan panas ini memang membakar. Tapi, aku bahagia, karena sebentar lagi festival kembang api akan diselenggarakan. Sebentar lagi kembang api akan beterbangan dilangit malam Tokyo. Hah~ andai aku dapat mengulang kembali waktu, mungkin aku akan memutarnya dan kembali pada masa dimana kita masih bersama. Menghabiskan waktu dengan bahagia, menikmati permen apel bersama dan melakukan hal menyenangkan lainnya.

Teruntuk Akashi Seijuuro-kun,

Aku tahu, bahwa aku tak pantas untukmu. Apalagi mengirimimu surat seperti ini. Tapi biarkanlah aku terus berkhayal dan bermimpi. Jangan bangunkan aku, tolong. Aku mohon padamu. Kau tak perlu membalas surat ini. Jangan berikan aku bunga-bunga harapan jika kau hanya akan membuatnya layu kelak.

Teruntuk Akashi Seijuuro-kun,

Jika kelak aku pergi dan tak kembali, tolong jangan cari aku. Karena aku tak akan berada dimanapun. Kelak aku akan pergi. Dan kelak aku akan menjadi malaikat pelindungmu yang akan selalu mengawasimu. Jika malam menjelang, aku akan bersinar menghiasi langit malam dan bersinar paling terang.

Teruntuk Akashi Seijuuro-kun,

Seribu kata sayang tak akan mampu mengungkapkan rasa sayangku padamu. Seribu kata cinta tak akan mampu mengungkapkan apa yang telah kupendam selama ini. Maafkan perasaan ini yang tak bisa kukendalikan. Rasa ingin memilikimu sungguhlah besar, tak terhingga bahkan. Namun pada akhirnya aku menyadari kalau aku bukanlah yang tepat untukmu. Aku berdo'a untuk kebahagiaanmu. Aku harap kelak kau akan menemukan kebahagianmu, bersama dia yang kau pikir tepat untukmu.

Salam Rindu,

Kuroko Tetsuya

Sudah kali kedua Akashi membaca surat yang dibalut dengan amplop berwarna baby blue. Tapi air wajahnya masih sama, datar dan tetap tak bergeming. Pria itu segera menyelipkan surat dari Kuroko ke dalam lembar-lembar buku tebalnya. Mencoba tak mempedulikan, tentu saja.

Tapi ternyata seorang Akashi Seijuuro masih mempunyai hati nurani. Ia mencoba membaca surat itu sekali lagi. Kali ketiga membaca surat itu, perasaan bersalah mulai menyelinap dihatinya. Ia merasa bersalah terhadap pria bersurai baby blue itu. Seandainya keduanya tak pernah bertemu, dan jika saja Kuroko tak menjadi pengganti sementara seorang Furihata, mungkin hal ini tak akan terjadi dan takkan ada hati yang tersakiti.

"Sei-kun, apa yang sedang kau lakukan?" suara Furihata memecah keheningan pagi itu. Pria bersurai coklat itu berdiri diambang pintu sambil mengamati kekasihnya dengan seksama. Akashi segera menyimpan surat itu kedalam bukunya. "Tak ada, aku hanya sedang membaca, manajemen bisnis." jawab Akashi seraya menunjukan buku tebal berjudul Manajemen Bisnis.

Furihata melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Cahaya lampu ruangan yang remang-remang cukup membuat pandangan Furihata menjadi tak jelas. Segera ia membuka gorden yang masih tertutup rapat dan membiarkan sinar matahari masuk hingga memenuhi ruangan. "Sei-kun, kau menangis?" tanya Furihata setelah melihat wajah Akashi dengan jelas. Airmata mulai menggenang dipelupuk mata Akashi. Ia tak bisa menutupi rasa sedih dan rasa bersalahnya. Tangispun pecah memenuhi sudut ruangan saat itu. Seorang Akashi-kun terlihat sangat lemah dan rapuh adalah hal yang langka. Namun, pria ini juga manusia yang masih mempunyai rasa bersalah.

Furihata mencoba menenangkan Akashi tanpa bertanya tentang apa yang terjadi. Dipeluknya erat tubuh itu hingga ia bisa merasakan isakan tangis Akashi.

"Sei-kun, aku tak tahu apa yang terjadi jika kau menangis seperti ini. Aku mohon, tenanglah."ucap Furihata sembari melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Akashi dengan seksama, dan memberikan sebuah kecupan singkat dibibir pria itu. Biasanya cara itu akan berhasil untuk menenangkan Akashi, tapi kali ini berbeda. Akashi tetap tak bisa berhenti menangis. Ini sifat Akashi yang tak akan bisa kau lihat dimanapun.

To be continue^^

Finally, after the struggling with assignment, I as the author could continue this fanfic ^^ hope u'll enjoy this chapter. ^^