Rujukan cerita: CSI Series | Pengantar Kriminologi | Identifikasi Forensik | Book Birdman: Psikopat berdarah dingin By Mo Hayder.
Peringatan: AU, Mature content.
I'm not plagiat! This story pure from my imagination and just for my pleasure.
Criminal Mind
Park Jimin X Min Yoongi
Other Cast
Bagi sebagian pembunuh,membunuh barulah sebuah awal dari kesenangan.
Breaking News
Di temukan satu mayat wanita berumur 20 tahun tergeletak tanpa menggunakan sehelai benangpun pada tubuhnya, menurut hasil pemeriksaan sementara. Wanita ini adalah korban pembunuhan dan pemerkosaan yang sama pada kejadian 1 hari yang lalu...
"Dia kembali berulah, kita harus selesaikan hal ini." Pria dengan surai hitam itu menekan tombol remote TV dan mematikannya. Min Yoongi, ia seorang ahli forensik kepolisian kota Seoul.
"Baiklah cantik, jadi apa yang kau temukan pada mayat kedua kita hari ini?" Pria dengan surai ash brown ini tersenyum pada lawan bicaranya, ia menggunakan sarung tangan karet dengan segera. Park Jimin, ia adalah seorang profiler.
"Jangan panggil aku dengan sebutan cantik, aku pria!"
"Aku rasa tadinya tuhan akan menciptakanmu sebagai wanita bukan pria, lagipula mana ada pria berkulit pucat sepertimu." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Yoongi memutarkan matanya malas. "Aku menemukan kandungan Heroin pada otaknya, di perkirakan ia menyuntikannya sebelum korban ia bunuh. Setelah di bunuh korban lalu di perkosa, tersangka adalah Necrophilia."
"Apa nikmatnya bercinta dengan mayat? Lebih nikmat dengan—aw!" Yoongi memukul kepalanya dengan map tebal berwarna biru.
"Ini bukan becanda Park, seriuslah!" Ia mendengus kesal dengan partner kerjanya ini, Jimin memang sering menggodanya. Yoongi sangat lucu saat ia goda pikirnya.
"Apa ada lagi?"
"Aku sudah menemukan identitas korban, ia bernama Kang Seulgi. Wanita ini pekerja seks pada salah satu klub bernama Red di daerah Gangnam, kau harus mencari petunjuk pada klub tersebut." Ucapnya sambil membuka kembali kulit kepala korban yang masih terbuka.
"Bagaimana cara dia menyuntikkannya?"
"Kau lihat lubang kecil ini? Dan lihat potongan pada kulit kepalanya?" Yoongi mengarahkan satu jarinya pada lubang kecil dan garis lurus.
"Jadi dia membedah kepalanya terlebih dahulu?" Tanya Jimin.
"Ya, aku mengecek cairan pada tubuhnya. Dia di berikan obat bius sebelum tersangka membedahnya dan menyuntikan heroin di sana." Jawabnya sambil melepas sarung tangan karetnya.
"Jadi tersangka ini sangat mengenal anatomi tubuh manusia, aku rasa dia juga terbiasa untuk membedah." Yoongi menggerakan kepalanya tanda iya.
"Hyung tunggu—kejadian satu hari yang lalu, wanita bernama Hyuna bukankah ia bekerja di sana juga?" Jimin mengambil salah satu map yang tersimpan pada meja di pojok ruang otopsi, pun ia segera membacanya.
"Kau lihat? Hyuna pun di ketahui bekerja di sana sekitar 3 bulan yang lalu, dan mereka di temukan di tempat yang sama. Sekitar gang kecil toko itu, aku rasa aku harus menanyakan beberapa informasi pada Shownu hyung. Terima kasih hyung."
Yoongi memperhatikan pria itu, hingga Jimin tak terlihat dari pandangannya. Lalu ia tersenyum, sebenarnya ia menyukai Jimin. Semenjak dirinya mulai bekerja di sana, Jimin memberikan banyak perhatian padanya sejak pertama kali ia mulai resmi bekerja, siapa yang tak senang jika di berikan banyak perhatian?
...
Kedua kakinya melangkah keluar dari ruangan otopsi dengan membawa map, pun ia segera masuk kedalam ruangan milik Shownu. Ia adalah seorang ahli IT dan Jimin menyebutnya si mesin informasi.
"Hyung, bisa kau cari sesuatu untukku?" Shownu sedang berada pada ruangannya sambil terduduk pada kursi yang berhadapan dengan komputernya.
"Baiklah, apa yang harus ku cari?"
"Bisa kau cari secara lengkap tentang klub Red yang berada di Gangnam? Dan coba kau ukur berapa jarak dari klub ke tempat kejadian." Shownu dengan lihai menekan setiap kata pada keyboardnya, mencari secara keseluruhan tentang klub.
Pun ia menemukan beberapa informasi yang tertulis pada layar komputer, dan segera membacanya. "Baiklah di sini tertulis, klub Red di miliki oleh Kim Heechul yang telah berdiri selama 5 tahun. Menurut informasi di sana pun terdapat wanita penghibur yang biasa ia sebut kucing, mereka di beri tingkatan sesuai pelayanan si pekerja. Klub ini juga menyediakan berbagai jenis narkotika secara legal, jarak klub dari tempat kejadian sekitar 1 Km."
"1 Km? Tidak lumayan jauh, baiklah terima kasih hyung." Jimin segera keluar dari sana.
...
Kim Taehyung dan Park Jimin, kini telah kembali ke TKP. Jimin akan segera memeriksa kembali secara detail. Sebuah gang kecil belakang toko buah, saat malam hari gang kecil ini memang cocok untuk menyimpan mayat atau membunuh, tidak akan ada siapapun yang datang kemari.
"Jim, kau lihat ini." Kim Taehyung adalah seorang polisi yang sekaligus teman dekat Jimin, ia akan terus di minta oleh Jimin untuk menemaninya. Pun Jimin berjalan ke arahnya dan memperhatikan dinding toko yang terlihat hancur.
"Ini seperti bekas pukulan dengan suatu alat, benar bukan?" Taehyung dengan segera memfotonya.
"Ya, jadi aku rasa awal pembunuhan berada di sini. Oyah kita harus segera pergi ke klub Tae." Taehyung menganggukan kepalanya, pun ia segera kembali memperhatikan ke seluruh sudut gang.
Jimin perlahan mencoba berjalan semakin masuk ke dalam gang dengan sangat perlahan sambil melihat kanan dan kiri, bahkan ia memperhatikan ke atas. Saat berjalan ia kembali menemukan percikan darah pada jalan aspal itu, ia segera memfotonya. Pola darahnya semakin banyak, menjadi sebuah jejak,
"Tae, kemarilah." Taehyung segera berjalan ke arahnya.
"Lihat jejak darah itu, kau ingat pada tubuh Kang Seulgi terdapat luka tusuk di perutnya? Aku rasa korban sempat melawan tersangka, bekas pukul pada dinding itu seperti menjelaskannya. Ia menggunakan alat pukul yang tumpul, ia akan memukulnya namun melesat, lalu korban mencoba pergi ke arah sini, tersangka malah menusuk perutnya. Pola percikan darah ini pun terbentuk, Seulgi mulai berjalan perlahan sambil memegang perutnya."
Taehyung mulai memperhatikan jejak darah tersebut. "Kita lihat sampai mana jejak ini Jim." Dengan segera mereka berdua perlahan berjalan mengikuti jejaknya. Jejak itu terus terlihat pada satu pintu yang berada pada belokan ujung gang, mereka saling menatap dan mengangguk.
Dengan keras Jimin menendang pintu berbahan kayu, pintu pun terbuka. Gelap, itulah yang mereka lihat. Jimin dengan segera masuk ke sana perlahan sambil membawa senter, Taehyung berjalan di belakangnya. Ruangan ini seperti gudang yang tak terpakai.
"Jim, lihat di sana." Jimin mengarahkan senternya pada sebuah meja besi yang tersimpan beberapa alat bedah yang bersih. "Kau panggil Yoongi hyung dan Shownu hyung kemari Tae."
Taehyung pun mengambil telepon selularnya, Jimin semakin fokus pada sekeliling ruangan, ia mencari saklar lampu setelah ketemu pun ia menekannya.
Di sana terdapat ranjang besi yang biasa di gunakan untuk melakukan bedah, bahkan pakaian wanita pun berada di salah satu keranjang di bawah ranjang, dan lampu khusus berukuran besar.
"Tae kita harus segera ke klub setelah mereka datang,"
...
Yoongi dan Shownu sudah berada di tempat kejadian, pun mereka membawa beberapa peralatan khusus untuk memeriksa lebih lanjut.
"Hyung, aku dan Tae akan pergi ke klub Red dulu. Kabari aku jika kau menemukan sesuatu." Yoongi menganggukan kepalanya. Jimin dan Taehyung dengan segera pergi ke klub Red dengan terburu, ia ingin hari ini kasus segera selesai.
Sekitar 10 menit, akhirnya mereka telah sampai pada klub Red. Pun Ia berjalan masuk, klub ini memang sudah buka pada siang hari. Di sekitar sini sangat jarang klub yang sudah buka pada siang hari, itulah sebabnya klub ini banyak peminatnya.
Satu pria bartender terlihat sedang mengobrol dengan pelanggan pria yang sedang meminum satu gelas berisi alkohol, pun Jimin berjalan ke arahnya.
"Apa yang kau inginkan tampan?" Pria itu tersenyum pada Jimin.
"Aku tidak akan memesan, aku di sini ingin bertemu dengan seseorang." Jawab Jimin lalu duduk pada salah satu kursi bar.
"Sebelumnya siapa namamu?" Tanyanya dengan menunjukan wajah sensual.
"Park Jimin, kami dari kepolisian kota Seoul. Aku ingin bertemu dengan Kim Heechul, apa dia ada?"
Pria itu membelalakan matanya terkejut. "Apa kau sudah punya janji dengannya?" Jimin menggelengkan kepalanya.
"Ah sayang sekali, jika begitu kau tak dapat bertemu dengannya." Jawabnya dengan wajah yang sendu.
Jimin mengepalkan tangannya karena kesal, tidak mungkin ia harus menunggu nanti untuk bertemu dengannya, waktunya tak banyak. "Aku mohon, urusan ini sangatlah mendesak. Aku perlu menanyakan beberapa hal padanya."
"Maaf tidak bisa, kau harus membuat janji dengannya dulu." Bartender itupun berbalik. "Ayolah aku hanya sebentar, jika tidak kau akan—"
"Ada apa Jo Kwon?" Di sebelah kiri Jimin, pria dengan surai hitam, rambut yang sengaja di tumbuhkan memanjang hingga bahu, pakaian kaos putih yang di balut dengan jaket berwarna merah terang dan celana bahan yang senada.
"Tuan Kim, dia bilang ingin bertemu denganmu." Bartender itu bernama Jo Kwon.
Kim Heechul sudah berada di hadapan mereka kini. "Perkenalkan aku Park Jimin dan partnerku Kim Taehyung, kami dari kepolisian ingin menanyakan beberapa hal padamu."
"Apa soal kejadian kedua kucingku itu? " Jimin menganggukan kepalanya. "Baiklah ikut ke ruanganku."
Jimin dan Taehyung melangkahkan kedua kakinya mengikuti pria itu, hingga akhirnya kini mereka telah berada di ruangannya. "Duduklah."
Pun mereka terduduk pada salah satu sofa berwarna merah. "Aku hanya ingin menanyakan pada saat hari kejadian, apa Seulgi bekerja malam itu?"
"Ya ia bekerja seperti biasa, aku rasa kau sudah tahu soal identitas kucingku satu itu. Ia adalah kucing kelas VVIP, ia hanya bisa di pesan oleh pengusaha, pejabat, atau hanya orang-orang tertentu yang dapat membelinya."
"Apa malam itu ada yang membelinya?" Taehyung pun mulai bertanya.
"Ya, dia salah satu pengusaha. Tapi maaf aku tak bisa mengatakan identitas pembeli, itu sesuai perjanji kami."
Jimin menghela nafasnya kasar. "Tuan Kim aku mohon, hanya kau yang dapat membantu kami. Kau tak inginkan kucing-kucingmu menjadi korban kembali? Apa tidak cukup dua pekerjamu mati terbunuh dengan mengenaskan, jika publik tau korban adalah pekerjamu. Usahamu akan hancur tuan Kim."
Kening lawan bicaranya mengkerut, tentu saja ini sangat tak baik untuk usahanya. "Baiklah, Oh Sehun seorang pengusaha tekstil."
"Jadi dia malam itu dia membelinya?"
"Ya, dia membayarnya bahkan dengan uang dollar malam itu. Ia mengatakan padaku akan membawa Seulgi ke tempatnya, tapi aku tidak tahu ia akan membawanya kemana."
"Lalu bagaimana dengan Hyuna?" Tanya Taehyung.
"Namanya Kim Jongin, dia salah satu anak pejabat. Kau lihat pria yang sedang minum-minum tadi? Dia adalah Kim Jongin."
"Baiklah, aku rasa hanya itu yang ku perlukan." Jimin lalu tersenyum padanya.
...
Kim Jongin kini berada dalam ruangan pemeriksaan bersama dengan Kim Taehyung.
"Kau membeli Hyunakan saat itu?"
"Ya, aku memang membelinya. Tapi demi tuhan bukan aku yang membunuhnya!"
"Jika bukan kau lalu ini apa? Sample spermamu ada pada tubuh Hyuna—sshi." Taehyung memberikan selembaran kertas hasil otopsi.
"Aku memang melakukannya! Baiklah aku akan ceritakan, malam itu aku memang membeli Hyuna. Aku mengatakan pada Heechul untuk membawanya ke hotel, kami memang melakukannya. Namun setelah itu pukul 2 malam dia pergi begitu saja, ia bilang akan bertemu dengan seseorang yang ia katakan kekasihnya. Setelah itu aku tidak tahu, ia hanya pergi begitu saja. Sebenarnya aku menyukainya sejak dulu, namun ia selalu mengatakan tak mencintaiku."
Jimin memperhatikan keduanya dalam kaca berukuran besar yang tak terlihat, wajah Jongin terlihat sangat sedih. Jimin yakin bukan dia orangnya, ia menyimpulkan tersangka sangat pintar untuk tak meninggalkan jejak sedikitpun. Di perkirakan ia adalah seorang dokter bedah, atau mungkin mantan dokter bedah?
"Jim, cctv hotel telah di periksa dan benar Hyuna pergi sekitar pukul 2 malam. Aku rasa kita takkan bisa menyelesaikan kasus hari ini." Ucap Yoongi.
"Hyung, bagaimana hasil pemeriksaan TKP?"
"Di temukan baju yang di kenakan Hyuna dan Seulgi, aku menemukan tongkat baseball juga di sana, bahkan masih ada sedikit bekas darah kering pada ujung tongkatnya. Setelah aku periksa darah itu milik Hyuna, luka pukulan keras pada kepala Hyuna dengan tongkat baseballlah yang membuatnya tak sadarkan diri. Jejak darah yang temukan positif milik kedua korban. Kau tahu bahkan ada darah Sehun pada aspal."
Jimin memalingkan wajahnya pada Yoongi. "Tapi kita harus memastikannya, jika ia benar pembunuhnya."
Jimin menganggukan kepalanya. "Jadi dia tak membius Hyuna?"
"Hm, hanya Seulgi yang ia bius. Oh Sehun telah berada di sini, apa kau ingin kita memeriksanya sekarang?" Jimin dan Yoongi dengan segera keluar dari sana, untuk segera bertemu dengan Oh Sehun.
...
Di lorong kantor polisi ada seorang pria dengan menggunakan pakaian kemeja putih dengan jas berwarna biru, celana bahan yang senada membuatnya terlihat cocok. Pria itu tinggi, dengan surai berwarna brown.
"Untung saja aku mengenalnya, jika tidak mungkin aku akan di seret dari rumahnya oleh pria besar berotot." Ucap pria itu, Kim Namjoon. Ia kepala polisi di kantor ini.
"Kau paling berkuasa dan banyak relasi, beruntungnya aku memiliki atasan sepertimu hyung." Jawab Jimin sambil terkekeh.
"Tsk, periksalah dia segera. Aku lelah menjawab pertanyaan wartawan yang gila akan informasi setiap harinya."
Yoongi dan Jimin masuk ke dalam ruangan besar yang tertutupi seluruhnya oleh kaca, dan duduk pada kedua kursi yang berhadapan dengan Oh Sehun. Tak lupa mereka membawa beberapa berkas.
"Malam Sehun—sshi."
Sehun memutar matanya malas. "Langsung saja, aku akan bertanya tentang kejadian pembunuhan Kang Seulgi ap—"
"Aku ingin satu syarat." Jimin dan Yoongi mengerutkan keningnya. "Syarat?"
"Ya, aku akan menceritakan semunya tapi ingat jangan katakan jika aku menjadi saksinya. Aku tidak ingin usahaku hancur karena hal ini."
"Hm baiklah." Ucap Yoongi sambil menggerakan kepalanya tanda iya.
"Malam itu aku memang membeli Seulgi, aku memiliki masalah dengan istriku saat itu. Jadi malam itu pergi ke klub Red, dan membelinya langsung pada Heechul juga mengatakannya untuk membawa ke tempatku. Lalu aku membawanya keluar klub sambil berjalan kaki dengan Seulgi, tepat saat berada di gang. Ada pria dengan menggunakan hoodie berwarna hitam datang pada kami dari arah samping."
"Kau tak boleh mendekatinya sialan!"Ucapnya sambil mencekik leher Sehun.
"Kau—Siapa—hah?"
"Aku kekasihnya! Jadi jangan sentuh dia!" Pria itu memukul perut Sehun dengan keras hingga ia mengeluarkan darah.
"Uhuk—sial."
Seulgi mulai menangis. "Jangan sakiti dia kumohon—hiks, ini pekerjaanku seharusnya kau tak seperti ini bodoh—hiks."
Pria itu mendorong Sehun hingga terjatuh. "Kau pergilah brengsek!"
Sehun dengan segera berjalan pergi meninggalkan keduanya yang masih terlihat saling beragumen dan berteriak.
"Kekasihnya?" Ucap Yoongi.
"Ya, aku rasa dia kekasihnya. Demi tuhan aku tidak membunuhnya, aku tidak berbohong padamu. Jika aku berbohong aku rela memberikan perusahaanku padamu, aku hanya ingin bercinta dengannya, tidak lebih."
Jimin dan Yoongi saling menatap. "Baiklah terima kasih Sehun—sshi atas bantuannya." Jimin mengulurkan tangannya pada Sehun, pun pria itu langsung pergi keluar.
"Besok pagi kita harus mencari siapa kekasihnya, sebelumnya kita coba melakukan rekonstruksi ulang dulu ok?" Yoongi menganggukan kepalanya tanda iya.
...
Saat pagi hari kepolisian mendapatkan rekaman cctv dari toko yang ternyata merekam tersangka saat menyebrangi jalan, pria yang baru di duga si pembunuh di temukan. Namjoon memeriksanya, namun karena belum mendapatkan bukti yang kuat, Jimin dan partnernya memutuskan untuk melakukan rekonstruksi ulang.
"Baiklah, aku akan menjadi tersangkanya. Taehyung akan menjadi Sehun, kita coba saat Sehun berjalan berdua dengan Seulgi." Ucap Jimin.
Yoongi mulai memperhatikan dari jauh. "Kau berjalan berdua perlahan dengannya, kau baru keluar dari klub."
"Aku pun memperhatikan setiap gerak-gerik kalian berdua dari samping persimpangan jalan—"
"Jimin, mengapa kau mengikutinya?" Tanya Yoongi dengan wajah bingung.
"Tentu saja karena dia kekasihku, lalu kalian perlahan berjalan berdua, aku mulai berlari menyeberangi jalan. Setelahnya bagaimana hyung?"
"Kau mendorongnya pada dinding dan mencekiknya, lalu kau mengatakan jika kau kekasihnya dan memukul perutnya hingga ia berdarah dan mendorongnya, Taehyung pun segera pergi."
"Aku rasa aku akan mengatakan sesuatu pada kekasihku, tentang pekerjaannya. Karena ia berteriak padaku lalu aku mencoba memukulnya dengan tongkat baseball."
"Namun pukulanmu melesat, ia sempat menghindar lalu berlari perlahan ke arah gang. Pada kantung celanamu terdapat pisau, kau menusuk punggung bagian bawah hingga pisaunya menembus perut depan." Ucap Yoongi.
"Seulgi mulai berjalan perlahan sambil menekan perutnya, hingga pada belokan gang. Kau menyuntikkan obat bius pada lengan kanannya, kau pun mulai membawa tubuhnya pada gudang di sana." Lanjut Yoongi sambil mengikuti Jimin masuk ke dalam gudang.
"Aku merebahkan tubuhnya pada ranjang besi, dan mulai menyiapkan beberapa alat bedah. Menyalakan lampu dan segera menyayat untuk membuka kulit kepalanya." Jawab Jimin sambil mempraktikan semuanya, seakan dialah pembunuhnya.
"Kau mengambil suntikan yang berisi cairan heroin dan menyuntikannya di sana dengan dosis tinggi, setelah selesai kau menjahit lukanya sangat rapih, kau tersenyum senang." Ucap Yoongi.
"Kekasihku mengejang, tubuhnya bergetar hebat hingga akhirnya ia mati dalam waktu sekejap. Aku mulai membuka pakaiannya dan memperkosanya, setelah selesai aku membuang mayatnya tepat di luar sana di gang kecil itu dengan tak menggunakan pakaian apapun."
"Tunggu ada yang aneh." Ucap Taehyung sambil seperti mencari sesuatu. "Pisau yang menjadi alat pembunuh itu gunakan."
Jimin kembali mereka ulang dengan sangat perhati dan fokus saat di mana ia mulai menyayat kepala korban. Ia membawa pisau itu untuk ia simpan pada meja nakas, namun ia terjatuh.
"Oh sial." Jimin terduduk lalu dalam bawah ranjang di ujung sana terlihat pisau kecil. Ia dengan segera mengambilnya dan memasukannya dalam plastik.
"Yoongi hyung, aku menemukannnya. Kita harus kembali ke kantor dan memeriksanya."
...
Kini Yoongi bersama dengan Namjoon telah berada dalam ruangan pemeriksaan dengan salah satu pria yanng di duga tersangka, Shin Hoseok.
"Aku tidak membunuhnya, aku mencintainya! Mana mungkin aku—"
"Kau yakin mencintainya Hoseok—sshi?" Ucap Yoongi dengan wajah remeh. "Lalu ini apa? Dan ini?"
Yoongi menyerahkan alat bukti pisau kecil dengan lembaran hasil pemeriksaan, di dalamnya. Lalu sebuah jaket miliknya yang terdapat cairan darah milik kedua korban. "Kau membunuhnya karena alasan mencintai? Tsk, pertama ku membunuh Hyuna sekaligus memperkosanya. Setelahnya Seulgi kekasihmu yang sebenarnya. Kau berselingkuh dengan Hyunakan? Seulgi mengetahuinya dan akhirnya ia mulai bekerja di tempat yang sama dengan Hyuna."
Pria di hadapannya terkekeh. "Kau tahu, mereka terlihat indah dengan memanggil namaku dalam surga dengan erotis. Wanita-wanita itu selalu tak menurut padaku, Hyuna. Wanita murahan yang mencintaiku hanya karena uang, aku benci dia, tapi aku membutuhkan tubuhnya saja. Tubuhnya itu sangat indah apalagi dengan surai hitam panjang yang tergerai indah, payudara besarnya..." Hoseok memejakan matanya menikmati.
"Dan Seulgi, dia wanita yang polos. Kekasihku sejak kuliah kedokteran, namun aku ini pria! Aku butuh untuk menyentuhnya, tapi ia tak ingin aku menyentuhnya. Lalu aku berselingkuh dengan Hyuna, ia pun mengetahuinya entah dari mana. Kau tahu, melihat mereka bercinta denganku dalam diam itu sangat nikmat. Aku bahkan memberikan mereka kesenangan mencapai langit ke tujuh dengan heroinku."
Yoongi membuang nafasnya kasar lalu tersenyum dan memberikan tanda pada polisi untuk memborgolnya. "Kau di tangkap Shin Hoseok—sshi, kau terbukti bersalah membunuh dan memperkosa kedua kekasihmu. Kau bisa memilih pengacaramu dalam sidang nanti, tapi aku harap tak ada yang mau menjadi pengacaramu. Selamat bersenang-senang."
Namjoon dan Yoongi segera keluar dari ruangan pemeriksaan, pria yang berubah menjadi tersangka itu terdiam lalu terkekeh dengan manik yang gelap.
...
Satu gelas cokelat hangat tiba-tiba mengagetkan lamunan Yoongi, Jimin menyimpannya pada meja yang langsung berhadapan pada wajahnya.
"Kau mengagetkanku sialan!" Jimin terkekeh.
"Minumlah agar kau semakin semangat bekerja hari ini, aku pergi ya. Selamat sore manis." Ucap Jimin sambil mengusap rambut Yoongi sayang.
"Tsk, menyebalkan. Padahal aku ingin lebih lama dengannya." Yoongi sambil tersenyum meminum sokelat hangat itu.
...
Wanita itu dengan sangat menyesal ikut bersama dengan pria tampan ini, ia memang mendapatkan uangnya tapi ternyata uang itu untuk membeli nyawanya.
"Kau tahu sudah sangat lama aku menginginkan darah ini, bersyukurlah aku terbiasa melihatnya di tempat kerja." Wanita itu sudah tak berdaya, bahkan tubuhnya sudah menjadi dua.
Darah semakin merambat ke lantai, bahkan tubuh kekar yang bertelanjang dada itu telah di penuhi darah maksanya malam ini. Wangi amis yang semakin menusuk indera penciumannya, membuat ia menutup maniknya.
Darah ini terasa manis, bahkan telah menjadi candu baginya selama bertahun-tahun, entah sudah berapa jiwa yang telah melayang karena obsesinya pada cairan pekat berwarna merah ini.
"Bereskan dia seperti biasa hyung."
"Hm baiklah Jimin" Pria dengan pakaian kemeja putih yang di balut dengan jas berwarna hitam dan celana bahan yang senada. Jung Hoseok, ia adalah asisten pribadinya sejak Jimin kecil. Ia akan menuruti semua perintahnya walaupun di perintah untuk membunuh sekalipun, ia sudah di anggap sebagai kakak bagi Jimin.
Hoseok dengan segera membawa tubuh wanita yang sudah terpotong menjadi dua bagian tidak—tiga bagian, jijik? Tidak, ini adalah pekerjaan yang biasa ia lihat dan lakukan sejak ia kecil.
Mayat itu ia masukan kedalam lubang tanah yang cukup besar dan dalam, di sana di penuhi dengan mayat yang bahkan sudah menjadi abu. Hoseok melempar mayat itu ke sana, pun ia mengambil korek api pada kantungnya.
Dengan cepat ia menjatuhkannya ke sana, api mulai menjalar pada tubuh tak bernyawa itu. Kobaran api perlahan semakin membesar, Jimin memperhatikannya dari jauh. Ia masih bisa mencium wangi amis nan manis itu di sana, pun ia tersenyum.
Park Jimin dengan obsesinya akan candu pada darah, tidak ada yang tahu pada manusia tampan, jenius dan baik ini. Ternyata memiliki sesuatu yang bersembunyi di dalamnya.
TBC
Necrophilia: Seseorang yang suka bercinta dengan mayat.
Selamat malam bae, bertemu denganku lagi. Aku mengetik ini dalam gelap, sedang mati lampu di sini. Aku usahakan demi kalian hehe...
Ada yang masih menunggu ceritaku ini tidak? Aku harap ya..
Tadinya aku akan memindahkan ceritaku di sini, yang berjudul Dark Side yang aku publish pada wattpad. Tapi aku rasa bakal lama pindahinnya mungkin nanti, oyah karena menyambut bulan ramadhan, aku akan meneruskan semua ceritaku lebaran nanti. Aku akan tetap menulis tenang saja bae...
Mohon bersabar untuk menungguku yah, mau menunggukukan?
Tinggalkan reviewnya yah bae...
