Disclaimer: I do not own InuYasha, InuYasha belongs to Rumiko Takahashi-sensei!
Warnings : Character death.
~Flashback~
Suara kicau burung bersahut-sahutan, desir angin membelai rambutnya yang hitam. Kagome kecil berumur 12 tahun berbaring di padang rumput favoritnya menatap birunya langit, dikelilingi oleh ratusan bunga yang sedang bermekaran. Walaupun terkadang bau bunga yang terlalu manis membuatnya seperti ingin bersin, tapi, ia sangat suka berada di sana.
Bunga-bunga liar yang ia kumpulkan kali ini lebih cantik daripada biasanya, bunga kuning dengan putik merah ditengahnya dan belasan kuntum bunga melati putih kecil yang sedang banyak bermekaran dia masukan ke dalam lengan bajunya. Kagome akan menyelipkannya di baju nanti sehabis mandi, agar baunya sedikit menyerupai ibunya. Iya, bagi penciumannya, bau harum alami ibunya mirip seperti melati.
Setengah berlari, hanyou kecil itu menuju rumahnya. Sambil bersiul mengikuti kicau burung di kejauhan, sesekali Kagome melompat dengan riang. Matahari berada hampir tepat di atas kepalanya saat ia mencapai kebun tempat ia dan ibunya bercocok tanam, dia tahu, dia telah terlambat pulang untuk makan siang karena terlalu asik memetik bunga. Tetapi dia pun tahu, ibunya tidak akan marah kepadanya, karena ibunya memang tidak pernah marah kepadanya, tidak sekalipun.
Lima menit kemudian, pondok yang ia tempati telah terlihat. Sepintas keheranan berkelebat di kepalanya, tidak seperti biasanya, sang ibu tidak menunggunya di ambang pintu dengan wajah khawatir. Bau darah menyapa penciumannya, namun, cepat-cepat Kagome menepis segala praduga dan mempercepat langkah.
Ketika sampai di pintu, Kagome menangkis insting yang menjeritkan bahaya lalu memanggil sang ibu dengan ceria, "Okaa-san ... "
Telinga anjing di puncak kepalanya yang berwarna senada dengan rambutnya berdiri tegak mencoba menangkap suara sekecil apapun. Beberapa saat berlalu, tidak ada jawaban dari ibunya, tidak ada suara selain rintihan kecil, pelan, dan terlalu lemah untuk ditangkap oleh telinga manusia.
"OKAA-SAN!" Dengan panik Kagome memanggil ibunya sambil berlari secepat kilat dan menerobos kamar kecil yang mereka tempati.
Tangannya yang kecil mungil itu bergetar saat pertama kali menemukan ibunya tergeletak di kamar dengan berlumuran darah, kimono-nya terkoyak-koyak sedemikian rupa. Darah mengalir deras dari lima lubang yang kini menghiasi lehernya, lubang dalam yang ditimbulkan oleh cakar panjang dan tajam.
Sisa-sisa air mata membasahi pipi ibunya, napasnya tersengal-sengal. Wanita itu berjuang sekuat tenaga untuk tetap bisa menjejalkan udara ke paru-parunya, mulutnya membuka seakan ingin mengucapkan sesuatu.
Tanpa air mata, Kagome menggenggam tangan sang ibu yang tidak lagi hangat seperti biasanya. Hanyou kecil itu mengangkat tangan ibunya, lalu ia letakkan tangan wanita yang ia sayangi itu di pipinya.
Tangan wanita berusia tiga puluh tahun itu mulai dingin, kehidupan mulai meninggalkannya perlahan, dengan sunyi, dan menyakitkan. Wajah pucatnya ternodai oleh bercak-bercak darah, bulir-bulir keringat menuruni dahinya lalu bersemayam dirambut hitamnya yang tebal.
Melihat sang ibu, satu-satunya harta yang ia miliki di dunia ini, akan pergi meninggalkannya, membuat dada Kagome seperti dimasukkan batu sebesar kepala manusia, sakit yang ia rasakan begitu menghujam.
Napas gadis kecil itu tertahan, dengan suara parau, ia memanggil, "Kaa-san ..."
Walau hatinya menangis, sang ibu menguatkan diri. Pemandangan manalagi yang lebih menyedihkan bila dibandingkan dengan melihat anak yang sangat ia sayangi harus bersedih karena melihatnya sekarat? Meski batinnya sangat tersiksa kala memikirkan gadisnya yang tercinta akan sebatang kara hidup di dunia, dimana para youkai memburunya dan manusia membencinya, demi menenangkan putri kecilnya, dengan susah payah, ia tersenyum.
"Ka-go ... " dia terbatuk-batuk, semakin banyak darah yang keluar dari lubang di lehernya. Sebagai tanggapan, gadis itu mengangguk beberapa kali sambil membelai pipi sang ibunda dengan penuh cinta. Berusaha mengusir pilu hati, Kagome mengigit bibirnya tatkala ia mendengar bunyi yang mirip siulan setiap kali ibunya mencoba menarik nafas.
"Kagome, kumohon ... " perjuangan mengisi tiap kata sang ibu yang terbata-bata.
Mata Kagome mulai terasa perih, dengan suara bergetar, ia merintihkan satu panggilan, "Okaa-san.." dia memohon, "Kaa-san..." suaranya kian pecah.
"Tetap, hi-dup ... ba-ha-gia ... Aku menyayangimu, Kagome." Dengan itu, sepasang manik cokelat miliknya tertutup. Masa kebersamaan mereka di dunia telah habis.
"KAA-SAN!" Panggil Kagome dengan putus asa. Seketika itu juga, tangisnya meledak, air mata mengucur deras meninggalkan matanya. Dia memeluk erat-erat sebelum mengguncang mayat sang ibu beberapa kali sebelum memeluk erat jasad itu lagi.
"Okaa-san, kumohon... jangan tinggalkan aku... " Kagome menarik diri untuk bisa menatap wajah ibunya, dia membelai wajah sang ibu. "Kaa-san..." rengeknya seraya mengusap darah yang mulai mengental dan mengering di wajah ibundanya.
Tetes kesedihan berderai tanpa henti ketika Kagome memandang wajah pucat tak bernyawa itu. Tubuhnya berguncang kala ia mencium pipi ibunya yang dingin. "Kaa-san..." panggilnya dengan suara serak oleh tangis. Walau banyak kata yang ingin dia teriakkan, tapi hanya kata panggilan itu yang bisa keluar dari mulutnya.
'Bagaimana aku hidup tanpamu, hanya kaulah yang menyayangiku. Mengapa kau pergi secepat ini? Mengapa kau tidak membawaku bersamamu? Aku ingin selalu bersamamu. Aku sangat menyayangimu, bagaimana mungkin kau memintaku untuk tetap hidup bila engkau, napasku, telah terenggut dariku? Bagaimana mungkin kau memintaku tuk bahagia bila kebahagiaanku adalah dirimu ... Mengapa kau jahat kepadaku Okaa-san, kau meninggalkanku. Aku membencimu ... aku sangat membencimu ..., Kaa-san ...'
"KAA-SAN!" Teriaknya histeris. "Bangun kaa-san! Kumohon, bangun ... " Kagome roboh di atas dada sang ibu. "Aku mohon ..., aku mohon ... " isaknya. Dengan suara tercekat dan napas tersendat, Kagome kembali meratap, "aku mohon ... "
Kagome menyandarkan kepanya di atas dada sang ibu, ia ikut berbaring dan terus memeluk ibunya yang sudah tidak bernyawa. Hatinya semakin teremas sakit, irama detak jantung yang dulu selalu menjadi lagu pengantar tidurnya kini tak lagi terdengar. Dia tidak bisa lagi merasakan kehangatan pelukan yang ibunya berikan. Hanya sang ibu lah yang menerima keberadaannya di dunia ini, hanya wanita itu satu-satunya yang membuat ia merasa dicintai.
Kagome mengangkat kepala, sontak, kedua sudutnya alis dan bibirnya tertarik ke bawah, wajahnya kembali terguncang oleh pilu ketika ia menatap mata ibunya yang masih terbuka, namun hampa. Tidak ada secercah kehidupan yang terpancar di safir cokelat milik sang ibunda tercinta. Mata itu tak lagi dapat balik menatapnya, tidak ada lagi balasan senyum penuh ketulusan untuknya, tanpa wanita yang telah melahirkannya di dunia ini, ia sendiri.
Kagome mengangkat tangannya yang gemetaran, dengan lembut dia menutup kedua mata ibunya. Tangisannya pun kembali meledak, tubuhnya kembali berguncang oleh kesedihan. Setelah lelah menangis, dia masih terus memeluk mayat ibunya.
Tidak ada tenaga yang bersemayam di tubuhnya.
Tidak ada semangat hidup yang tersisa di dirinya.
Waktu yang berlalu seakan merangkak lamban saat Kagome memeluk ibunya, jasad ibunya. Tangan gadis itu membelai lembut punggung tangan sang ibu, merasakan kulit yang semakin dingin itu, Kagome memaksa diri untuk bangkit. Hanyou kecil itu hendak menutupi tubuh ibunya dengan selimut, saat itulah dia mendapati tubuh ibunya penuh dengan luka sayatan dan lebam. Dia terkejut saat mengetahui luka fatal yang dimiliki ibunya tidak hanya di leher, tetapi di banyak tempat.
Darah yang menggenang di sekitarnya perut ibunya membuat Kagome tidak tahan untuk tidak memalingkan wajah, dia tidak ingin melihat luka-luka itu, dia tidak ingin membayangkan rasa sakit yang dirasakan oleh ibunya. Dia meringis, menahan diri untuk tidak menangis lagi, dia memejamkan mata erat-erat sambil menarik napas panjang beberapa kali hingga akhirnya bisa menenangkan diri.
Tenang tak dapat ia raih, pada akhirnya, Kagome yang bermuram durja beranjak keluar dari pondok kecilnya. Pondok yang terletak di tengah-tengah hutan, jauh dari pemukiman manusia yang membencinya tetapi cukup aman dari youkai yang sering memburunya. Hanyou itu berjalan dengan tertatih-tatih, mencari tempat yang baik untuk mengubur ibunya.
Mengubur ibunya, kata-kata itu teramat menusuk-nusuk hatinya.
Amarah membara di dalam dirinya, Kagome berpaling dari tujuan awal, ia berjalan cepat jauh ke dalam hutan semakin cepat dan berlari dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Air matanya yang meluncur segera mengering oleh angin. Kaki-kaki kecilnya semakin melaju cepat, kedua tangannya terentang, dengan cakarnya, ia menebas dahan-dahan yang terlewati.
'Mengapa tidak ada youkai yang memburu disaat aku ingin sekali mati?'
Dia sudah tak mempunyai siapa-siapa lagi di dunia ini, apa yang hati kecilnya bisikkan adalah sebuah kehendak yang wajar.
Gadis itu berhenti di tepi sebuah sungai, dadanya turun-naik, yang menjadi sasaran cakarnya kali ini adalah batu sungai yang lebih besar dari tubuhnya. Kagome mengayunkan tangannya sekuat tenaga, berusaha mencabik-cabik batu yang tak berdosa itu. Tapi, untuk fisiknya yang belum matang sebagai seorang hanyou, batu itu terlampau kuat, tidak mudah hancur. Pada akhirnya, ia malah melukai kedua tangannya sendiri.
Kagome tidak berhenti menyakiti dirinya untuk waktu yang lama, tidak ada rasa sakit sama sekali yang ia rasakan walaupun darah mulai mengalir deras dari tangannya, sang inu hanyou kecil itu tidak berhenti sampai batu itu hancur menjadi kerikil.
Andai saja, rasa sakit ditangannya bisa menghilangkan rasa sakit di hatinya.
Kagome jatuh terjerembab di tepi sungai, kimono-nya ikut basah saat air menjilat-jilat lukanya di tangannya. Untuk beberapa menit berikutnya Kagome bergeming di tempat hingga air sungai kembali tenang. Dia ingin sekali menangis, tetapi air matanya seakan mengering. Untuk waktu yang lama, gadis itu hanya dapat tertunduk, merenungi nasib sambil memandang refleksi dirinya di sungai. Mata biru yang terpampang di pantulan dirinya terselimuti oleh takut, marah, sedih, putus asa, dan dendam.
Karena sedih, telinga di puncak kepalanya menempel di kepalanya. Setelah melihat salah bagian tubuhnya yang bersifat animalistic, Kagome menatap tangannya yang bercakar sebelum mencelupkannya ke sungai. Dinginnya air menyejukkan luka di tubuhnya, tetapi tidak dengan luka permanen di jiwanya.
Kagome mengangkat tangannya lagi dan melihat luka-lukanya, dengan amat sangat perlahan tetapi pasti, luka gores dan parut yang baru saja ia ukir mulai mengering sebelum menutup sempurna tanpa bekas sama sekali. Tepat saat itu, pemulihan diri yang cepat sebagai hanyou sama sekali tak disyukurinya.
Saat itu, yang ia inginkan hanyalah bergabung dengan sang ibu dalam kematian.
Tetapi, dia teringat wajah sang ibu ketika mengutarakan pesan terakhirnya, ia harus tetap hidup, ia harus untuk bahagia. Hal yang tidak mungkin, bagaimana mungkin dia bisa hidup bahagia bila ingatan terakhir tentang ibunya adalah akhir hidup yang mengenaskan? Membiarkan ibunya merasakan sakit di sekujur tubuhnya oleh luka yang terus mengalirkan darah, membiarkan dia tidak bisa bernafas, dan tenggelam oleh darahnya sendiri. Lagi-lagi ingatannya itu menyiksanya, amarah dan dendam kini bersemayam di dadanya.
Kagome menutup matanya, untuk beberapa saat dia bagai benda tak bernyawa sebelum sesuatu mengambil alih tubuhnya. Kedua matanya terbuka, dia memandang pantulan dirinya di sungai, pandangannya tak lagi menerawang.
Tangannya terkepal erat, ujung-ujung cakarnya yang meruncing terbenam beberapa sentimeter ke dalam daging di telapak tangannya. Tanpa sadar, darah mengalir deras dari tangannya lalu menetes ke sungai.
Darah yang menodai air sungai membuat Kagome terenggut dari lamunan. Raut wajahnya berubah tegas. Dahulu, dia selalu takut untuk melihat refleksi dirinya di sungai, karena yang dia lihat hanyalah monster. Dia ingin seperti ibunya, manusia, lembut, dan berparas cantik. Tetapi sekarang berbeda, Kagome bersyukur untuk kekuatan yang ia miliki.
Gadis itu lantas menatap tangannya, disaat itulah ia tersadar akan kekuatannya. Ya, dia mempunyai kekuatan. Dan, setelah kematian ibunya, kekuatannya itu dapat ia gunakan untuk mencapai tujuan hidup yang baru: Ia akan menuntut balas bagi siapapun yang telah membunuh ibunya.
Apapun yang akan terjadi, walau nyawa sebagai taruhannya.
Kagome tak lagi bersedia mengalah pada dunia, bukan salahnya bila dia terlahir sebagai hanyou, bukan pula salahnya bila ibunya yang seorang miko jatuh cinta kepada seorang youkai. Semua itu adalah salah manusia yang mengusir dia dan ibunya dari desa, semua itu salah para youkai yang tidak bisa menerimanya dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sangat dibenci. Bagi mereka Kagome si hanyou hanyalah suatu penyimpangan. Dan semua pandangan picik dan dangkal itu adalah salah mereka! Bukan dia!
Kagome bangkit, berlari lagi menuju rumahnya, untuk memberikan penghormatan terakhir untuk sang ibu, seorang miko, bernama Kikyo.
Dia berhenti sesaat di depan pondok yang ia tinggali berdua dengan ibunya. Kagome menarik napas panjang demi menegarkan hati. Ia mengerti, bahwa mulai detik ini, ia sendiri.
Sang hanyou kecil menelan ludah sebelum melangkahkan kaki, mencoba menekan emosinya dan membiarkan logikanya yang berjalan. Dia tidak akan melupakan keputusannya yang sudah bulat, dia akan mewujudkannya entah apapun yang akan terjadi. Dan, pertama-tama yang harus ia temukan adalah petunjuk, tak peduli sekecil apapun itu.
Dia meringis setiap kali matanya menelusuri sekian banyak luka di tubuh ibunya, luka sayatan, cakar, hingga luka merah karena benturan yang ia tahu akan menjadi luka memar yang membiru beberapa hari kemudian itupun jka sang ibu masih hidup.
Matanya menyelidik, menelusuri ruangan yang kacau balau karena perlawanan terakhirnya. Kedua sudut bibirnya sedikit terangkat, bangga dengan ibunya yang tidak akan pernah mudah menyerah dan begitupun dia, pikirnya. Dia tidak akan mudah menyerah walaupun tidak ada petunjuk apapun yang bisa dilihatnya dari ruangan itu, tetapi ada petunjuk tentang baunya. Walau tercemar dengan bau darah, samar-samar dia masih bisa mencium bau bajingan itu.
Kagome mengambil secarik kain kecil dari rak kayu sederhana yang mereka jadikan tempat menyimpan baju, lalu dia mengambil baskom kecil. Kain bersih dia gelar di ruang depan disamping perapian bersandingan dengan kain kecil dan baskom yang telah lebih dulu ia siapkan. Tanpa susah payah dia menggendong ibunya dari kamar ke tempat yang ia siapkan, secara perlahan dan hati-hati dia membasuh wajah ibunya dengan kain kecil yang dibasahi air.
Mendung menggantung di wajah gadis itu, kedua alisnya semakin berkerut di tengah setiap saat kain itu menyentuh luka-luka sang miko. Dia menepuk-nepuk kain itu pada luka sayat panjang dan dalam yang menganga secara vertikal dari dada hingga pusar dengan teramat lembut, seakan-akan tidak ingin menyakiti mayat ibunya lebih jauh lagi. Kagome mengelap lengan dan tangan ibunya secara bergantian kanan, lalu kiri, napasnya tercekat sesaat dia menyadari ada sesuatu di tangan kiri ibunya yang terkepal.
Terdapat beberapa helai rambut silver yang sangat halus dan panjang, seperti rambut milik ayahnya.
Apakah rambut itu milik ayahnya? Apakah ayahnya yang telah membunuh ibunya? Mau tidak mau itulah satu-satunya petunjuk yang mengarah pada si bajingan yang akan mati di tangannya. Dia telah menjanjikan kematian yang sangat perlahan dan menyakitkan, dan ia akan menepati janjinya itu, suatu saat nanti. Dengan segera dia menaruh rambut itu di secarik kain kecil melipatnya lalu menyimpannya di lengan kimono-nya, inilah yang dicarinya sepotong kecil bukti mahluk yang akan diburunya hingga ke ujung dunia.
Setelah tubuh itu bersih dan jubah miko sang ibu sudah dikenakan, tibalah waktu untuk berpisah. Walau jiwanya masih hancur dan hatinya masih terberai, tetap saja, beban di dada Kagome sedikit terangkat kala ia melihat wajah tenang sang ibu. Senyum kecil menghiasi wajahnya, setidaknya, tidak ada lagi kesedihan, kesusahan, dan rasa sakit yang ibunya rasakan. Hanya akan ada kedamaian disana untuknya di tempat yang terindah lebih indah dari tempat manapun di dunia ini.
Gadis itu telah meletakan jasad ibunya dengan hati-hati di lubang kubur, tubuh miko itu sudah tertutup tanah dari batas leher kebawah. Dua tetes air mata lagi-lagi menemukan celah tuk meluncur turun ke pipi Kagome kala ia menghadiahkan sebuah kecupan terakhir teruntuk sang ibu tersayang.
"Aku, sangat menyayangimu, Okaa-san..." katanya dengan tersendat.
Di atas gundukan tanah itu, Kagome meletakkan bunga yang telah dia petik pagi tadi. Lalu, sebuah kertas sutra penangkal youkai, ia sematkan di batu nisan itu.
Tangan mungilnya mengelus batu itu sejenak. "Tunggu aku disana, Kaa-san," bisiknya perlahan dengan suara pecah dan bergetar.
Waktu terentang selama beberapa saat, Kagome dengan rahang yang mengeras berdiri kaku membelakangi makam, matanya kosong saat menatap api menjilat pondok kecil mereka. Asap hitam mengepul, seakan hendak menodai birunya langit. Jelaga berterbangan, begitupun mimpi-mimpinya. Percik-percik api berwarna jingga muncul sebelum menghilang dalam sekejap mata, persis seperti semua harapannya. Bunyi keretak kayu yang dilahap api seakan simbol dari jiwanya yang terpecah. Arang bekas pembakaran di beberapa bagian pondoknya serupa dengan hatinya yang kini teramat pekat.
Harta paling berharga miliknya di dunia ini sudah dia kubur di bawah pohon besar yang telah hidup berabad-abad yang lalu dan akan terus hidup berabad-abad kemudian, harta itu adalah ibunya.
Dia tidak akan bisa menempati tempat yang akan selalu menghantuinya dengan bayangan kematian ibunya, oleh karena itu ia menyulut api.
Kagome hanya ingin mengingat ibunya yang hangat dan ceria di masa-masa indah mereka, walau itu susah.
Gadis setengah siluman itu terus berdiri di sana, terpaku menatap merah yang menyala dan hitam yang kelam, simbol dari kehidupannya di masa yang akan datang.
Gelap oleh kebencian.
Dan merah oleh pertumpahan darah.
E/N: Kedengarannya bodoh, tapi gw nangis waktu nulis ini sambil dengerin lagu Flares by The Script.
Btw thx for read and review, i really appreciate it.
Edit on 23-12-2015, mengganti panggilan Kagome dari mama ke Okaa-san karena lebih sesuai dengan setting tempat di sengoku jidai. Di anime Kagome memang manggil ibunya dengan sebutan mama, tapi di BHT dia hidup di sengoku jidai, jadi sepertinya Okaa-san lebih tepat :)
Revised 05/05/2017
