Standard disclaimer applies
Review reply buat yang anon:
Nesia Yufa: Makasih reviewnya ya :) Yupp~ bakal banyak momen buat fangirling (semoga sih -plak-) Ini sudah diupdate, semoga menikmati~
Nyasar-tan males login: Ah, beneran? Makasih lho :) Adegan 'ehem'? Silakan coba dicari~ di chappie ini ada slight USUK kok *dibekep sebelum sempet promosi*
MariaDesu: Makasih reviewnya ya. Ehh? mmm yang RoChu mungkin entah bagaimana bisa diselipin, tapi GiriPan... di sini Kiku saya bikin jadi fudanshi single, jadi...nggak ada pairnya XD *kicked* Aduh. Drunken Mishaps nggak saya lanjutin, plot bunny-nya beneran mandeg di situ. Kalau nekat dilanjutin, saya punya perasaan bakal jadi jayus. Maaf lho.. *kluk*
Baiklah. Selamat membaca dan semoga menikmati :)
HAUNTED HOUSE
- chapter two -
Kalau saja tangannya tidak sibuk memegang peta dan senter, pasti Antonio sudah menggaruk kepalanya dengan ekspresi penuh kebingungan.
"Ehh jadinya...kenapa aku yang harus jalan di depan?" Pemuda Spanyol agak lemot itu bertanya polos sambil memiringkan kepalanya.
"Karena kamu yang bawa senternya, bego!" Lovino menghardik, mencengkeram bagian belakang jaket Antonio sambil mengutuk peta dan senter sialan yang membuatnya tidak bisa menggandeng tangan pac—CORET, si Spaniard bego yang-hanya-kebetulan-saja-dekat-dengannya-itu.
"Terus, kenapa mesti aku yang bawa senternya?"
Lovino harus menahan hasrat untuk tidak facepalm. "Karena dikasih sama Kiku, bego!"
"Kenapa Kiku ngasihnya ke aku?"
"...mana kutahu. Karena kamu bego dan nggak bisa baca situasi kali, idiota."
"Tapi kalau nggak bisa baca situasi kan masih ada si Jones, kenapa aku..."
"HEH! Yang barusan maksudnya apa tuh?"
"Maksudnya dia ngatain lo bego, you git. Dan kali ini sih aku setuju mendingan si tomato-freak itu yang di depan daripada kamu. Bisa berabe kita kalo kamu kabur sambil bawa senternya."
"Artie... Kau kejam... Jangan sadis-sadis dong sama pac-"
"Ahem. Daripada pembicaraan ini semakin melantur, bagaimana kalau kita mulai bergerak? Si Kiku sudah meninggalkan kita dari tadi." Ludwig, yang tampak sudah hampir facepalm saking putus asanya menghadapi ke-autis-an rekan-rekannya, memberi usulan yang waras seperti biasa.
"S't'ju d'ngan L'dwig." Berwald mengangguk menyetujui.
"Vee~ Fratello Antonio, pertama kita harus jalan ke mana?" Feliciano bertanya, menjulurkan kepalanya untuk melihat peta yang dipegang Antonio dengan lebih jelas.
Antonio menyorotkan senternya ke peta sementara teman-temannya berdiri mengelilinginya, memincingkan mata berusaha mengenali pola-pola yang tergambar di sana.
"Hmm... Pertama-tama ruangan A-201 ya. Berarti, kita harus naik ke lantai dua?" Antonio bergumam, menggulung kembali petanya lalu menatap teman-temannya.
"Kalau aku tidak salah ingat, di ujung koridor ini mestinya ada tangga." Tino berujar, jemarinya mengelus dagunya dalam usahanya mengingat-ingat. "Bagaimana kalau kita mulai dari sana?"
Mereka berdelapan bertatapan sejenak, sebelum mengangguk dan mulai berjalan. Antonio paling depan, menggenggam peta dan membawa senter untuk menerangi jalan. Lovino persis di belakangnya, masih mencengkeram jaketnya. Ludwig dan Feliciano di belakang mereka, dengan Feliciano mengganduli lengan Ludwig seperti koala mengganduli pohon pepaya (mohon jangan dibayangkan). Di belakang keduanya, Berwald dan Tino berjalan, tampak paling normal dibandingkan dengan kedua pasangan di depan—kalau saja tangan Berwald yang merengkuh pinggang Tino dengan protektif itu diabaikan. Sementara di barisan paling belakang, Arthur mulai sakit kepala mendengar rengekan pasangannya.
"Art...pokoknya apapun yang terjadi, jangan lepasin tanganku ya! Janji!"
Arthur menghela napas saat merasakan jemari itu menggenggamnya semakin erat, mulai merasakan simpati atas penderitaan Antonio di bab sebelumnya.
"Iya, iya Al. Aku nggak akan lepasin selama kamu nggak lari. Kakiku baru aja sembuh keseleo, belum boleh lari sama dokter. Whatever happens, DON'T. Bloody. Run. Away. Get it?"
"Baiklah, Art! I love you, sweetheart~"
Ketua OSIS jaim itu memalingkan wajah untuk menyembunyikan warna merah yang menjalar di pipinya, menggumamkan "Bodoh," dengan suara sepelan mungkin.
"Hoi, yang di belakang! Jangan pacaran aja, kita semua sudah di lantai dua nih! Cepetan naik!" Suara judes Lovino Vargas menyentak keduanya itu dari dunia mereka yang penuh...silakan isi sendiri. Mata hijau dan biru itu melebar ketika menyadari bahwa tinggal mereka berdua saja yang masih di lantai satu, tanpa penerangan, tanpa arah. Tinggal tunggu waktu saja sampai 'penampakan' memutuskan untuk menghampiri mereka.
"ANJRIT! TUNGGUIN KITA, WOYY!"
Engsel pintu yangs sedikit karatan itu berderak sedikit ketika Antonio membukanya perlahan, menyorongkan senter ke dalam ruangan, sebelum mendorong pintunya sampai terbuka sepenuhnya. Ruangan itu kosong, gelap, dan selain meja dan kursi yang posisinya agak janggal, tidak ada tanda-tanda keanehan lainnya. Antonio menyorotkan senternya sekali ke seluruh penjuru ruangan, sebelum melangkah masuk, yang lain mengikutinya sambil celingukan.
"Oi bastard, yakin nggak apa-apa nih, langsung masuk begitu aja?" Lovino berbisik pelan, pegangannya di jaket Antonio mengerat.
"Ngg... Harusnya sih nggak apa-apa. Oh ya, kalian jalannya hati-hati, mejanya random banget gini." Pemuda Spanyol itu berbisik mengingatkan.
Lovino sudah akan berbalik untuk memperingatkan Feliciano ketika suara teriakan memenuhi ruangan.
"Che diavolo-?"
"HUAA! ARTIE! BARUSAN ADA YANG NYOLEK PUNDAKKU!"
"Hei... Tung- Al, tenang dulu...pokoknya tenang dulu, goblok. HEI! Barusan kamu pegang apaan? Dasar mes-"
"YANG BARUSAN PASTI HANTU! PASTI HANTU! PASTI HANTUUUUU!"
"A-Alfred... Tolong tenangkan diri anda..." Suara lembut itu kemungkinan besar milik Tino. "Yang tadi belum tentu hantu kok. Saya cuma lihat bayangan putih besar dengan jemari bercakar..."
"TIDAAAAAAAAK!"
Terdengar suara gedubrakan, sumpah serapah dengan aksen British kental ditambah jeritan-jeritan dari seorang American. Suara gedubrakan itu bertambah keras dan Antonio akhirnya menyorotkan senternya ke belakang, menampakkan Alfred yang setengah menyeret Arthur berusaha menyeberangi lautan meja menuju pintu keluar.
"GUE GAK TAHAN LAGI! GUE MAU KELUAR DARI SINI!"
"ALFRED! Gue gak bisa lari nih, bego! Gue kan udah bilang kaki gue keseleo! Anjrit jangan maen seret aja lo, GIT! Sakit, tauk!"
Tidak setiap hari mereka disuguhi pemandangan seorang Arthur Kirkland terpincang-pincang dengan pisuhan mengucur deras dari mulutnya. Tanpa mempedulikan rekan-rekannya yang ternganga dan Antonio yang hampir menjatuhkan senter saking terkejutnya, Alfred langsung menyusupkan tangannya di bawah lutut Arthur dan mengangkat ketua OSIS itu dalam gendongan bridal style.
"MAAF TEMAN-TEMAN, HERO KABUR DULUAN!" Dia sempat-sempatnya mengumumkan sebelum ngacir ke pintu keluar, menggendong Arthur yang sekarang terdiam (entah karena kaget atau masih speechless impiannya jadi kenyataan) langsung keluar kelas.
Mereka masih terdiam sampai derap langkah pemuda America itu tak terdengar lagi, sebelum Ludwig memecahkan keheningan.
"Yang tadi itu...apa?"
"Ngg'k t'hu. Ngg'k l'hat apa-apa."
"Ahaha. Jadi tinggal kita berenam sekarang?"
"Sudahlah, nggak usah dibahas lagi. Oi, tomato-bastard. Berikutnya ruangan mana?"
"E-Ehhh..." Antonio memincingkan mata berusaha membaca petanya dalam keremangan ruangan. "Mmm ruangan A-206, lumayan jauh dari sini. Jadi, ruangan ini sudah selesai, nih? Hantunya mana?"
"Mana kutahu. Sudah, langsung jalan aja. Merinding lama-lama di sini." Lovino menyodok punggung Antonio, menyuruhnya berjalan ke arah pintu keluar. Setelah mereka semua keluar, Berwald—yang sekarang paling belakang—mengedarkan pandangan sekilas sebelum akhirnya menutup pintu ruangan. Tak satupun dari mereka melihat sosok yang tersembunyi di balik pintu, sosok yang tengah menyeringai sambil menjilat tangannya yang bercakar, mata violetnya berkilauan dalam seringai keji kekanak-kanakan.
"Rumah hantu yang aneh, vee~" Feliciano berkomentar riang ketika mereka menyusuri lorong menuju ruangan berikutnya. "Hantunya nggak keluar-keluar~"
"Anjrit! Jangan malah ngarep yang macem-macem, adek goblok!" Lovino mengumpat, mencengkeram jaket Antonio makin erat. Spaniard itu jelas harus menyetrika jaketnya nanti malam.
"Sudah, sudah, jangan bertengkar. Nanti hantunya keluar lho." Ludwig berkata kalem, mulai stress dan merasa salah lokasi. Seharusnya sekarang dia jaga stand menembak, bukannya babysitting bocah-bocah autis di rumah hantu nggak jelas…
"APA LO BILANG, POTATO-BAS-"
"Ssshhh Lovi, jangan teriak. Kita sudah sampai nih. Aku buka pintu sekarang, ya?" Tanpa menunggu konfirmasi, Antonio langsung mendorong pintu sampai terbuka, dan langsung disambut dengan kegelapan.
"Apa nih, terowongan?" Spain menyorotkan senternya ke lorong di depannya, memegang konstruksi yang sepertinya terdiri dari perpaduan kardus bekas dan entah substansi apa. Bubur kertas, mungkin.
"Buset, niat amat…"
"Jangan diem aja, bastard! Ayo cepet jalan!" Lovino lagi-lagi menyodok punggungnya, padahal sendirinya mengerut di baliknya. Antonio tertawa kecil dan mulai melangkah memasuki terowongan.
Konstruksi itu bisa dibilang cukup kecil, bahkan duo pemuda Italia yang notabene bertubuh cilik itupun terpaksa berjalan sambil merunduk-runduk. Bagi Ludwig dan Berwald, kita hanya bisa berdoa dan menyemangati mereka. Sialnya lagi, 'terowongan' itu sudah berkelok-kelok dengan tidak manusiawi, makin lama seperti makin mengecil, bahkan sampai ke titik di mana mereka semua diharuskan untuk merangkak.
"Sumpah, ini rumah hantu atau outbond indoor sih?" Lovino menggerutu.
"Hm. Tinggal tambah kawat beraliran listrik di atas, ini bisa jadi latihan militer. Konsep yang menarik." Sepertinya kegalauan situasi ini sudah cukup untuk membuat bahkan Ludwig pun OOC.
"Nggak ada yang nanya pendapat lo, potato-bas- OUCH! Merda, Antonio! Kenapa berhenti mendadak gitu, hah?"
Yang ditanya hanya menunjuk ke depan dengan senternya, menunjukkan sesosok tubuh yang terbaring tak bergerak di tengah terowongan. Wajahnya tertutup oleh rambut yang tergerai tapi dari struktur tubuhnya, terlihat seperti pria—atau wanita kekar?
"Itu…apaan ya?" Antonio bertanya, suaranya sedikit bergetar. Pertanyaannya direspon oleh keheningan sampai akhirnya Berwald menjawab dengan lugas.
"…or'ng m'ti."
Jawaban itupun direspon dengan keheningan. Terdengar suara menelan ludah, entah dari siapa.
"Unmöglich. Ini rumah hantu. Pasti itu cuma atraksi untuk menakuti-nakuti." Ludwig menggeram. "Carriedo, ayo jalan. Tunggu apa lagi?"
Antonio tampak bimbang sebentar, sebelum akhirnya kembali merangkak ke arah 'mayat' itu, bibirnya komat-kamit mengucapkan doa dalam bahasa Spanyol. Lovino memejamkan matanya erat-erat, berjengit ketika dia lewat di samping 'mayat' itu. 'Mayat' itu tetap terbaring tidak bergerak. Ludwig dan Feliciano merangkak melewatinya, menahan napas dengan tegang. Masih tidak bergerak. Berwald dan Tino merangkak pelan-pelan di sisinya, ketika mendadak tangan si 'mayat' mencengkeram pergelangan kaki si pemuda Finlandia.
"AAAAAHHH SU-SAAAAN!"
Jeritan Tino bergaung di terowongan sempit itu. Feliciano dan Lovino, terkenal expert dalam urusan melarikan diri, langsung merangkak secepat mereka bisa, menarik Ludwig dan Antonio bersama mereka. Ketika mereka mencapai akhir terowongan, bentuk mereka sudah tidak keruan, terengah-engah dengan jantung berdetak kencang.
"Whew… harus kuakui… lumayan seru juga…" Antonio masih bisa-bisanya nyengir lebar, sebelah tangan mengelus-elus dadanya.
"Seru apanya, idiota! Nggak bagus buat jantung, kali!" Lovino langsung menyembur pedas.
"Vee~ Luddie…seram, seram sekali, vee~"
Ludwig hanya mengangguk, merapikan rambutnya yang sempat berantakan. "Harus kuakui tadi cukup mengagetkan. Ngomong-ngomong, ke mana si Oxenstierna dan…?"
"D's'ni."
Tahu-tahu dinding terowongan di depan mereka robek ke dalam, menampaknya Berwald yang menggendong Tino yang masih gemetar dengan style yang sama waktu Alfred menggendong Arthur beberapa saat sebelumnya. Pemuda Swedia itu melangkah dengan tenang, melewati lubang yang entah bagaimana bisa ada di terowongan.
"Ehh… B-Berwald…kamu ngapain?" Antonio bertanya gugup.
"M'n'long T'no."
"Bukan itu. Err kamu baru saja merusak properti…?"
"M'n'long T'no."
"Terus si 'mayat' tadi gimana kabarnya?"
"M'ti."
Ludwig facepalm. Sungguh, ini pembicaraan tanpa ujung pangkal yang kalau diteruskan bisa membuatnya botak mendadak. "Sudahlah Carriedo, nggak usah dibahas lagi. Ruangan berikutnya di mana?"
"Emm… A-208… di sini." Antonio menyorotkan senternya ke papan nama di depan ruangan, alis cokelatnya bertautan. "Ruangan staff ya? Jujur aku belum pernah masuk sampai ke sini…"
"Bukannya cuma mereka yang part-time jadi teaching assistant doang yang boleh masuk ya?" Lovino berkomentar.
"Vee~ Berwald pernah jadi teaching assistant untuk kelas Social Psychology kan? Di dalam, ruangannya kayak gimana ya?" Feliciano bertanya polos. Mereka berlima terdiam, menunggu jawaban sang stoic Swedish.
"B'nyak m'ja."
Yang ternyata sangat gubrak.
"Err…oke, aku buka pintunya ya." Antonio berusaha menyelamatkan situasi yang sangat krik tersebut dengan memutar kenop pintu dan mulai menyenteri ruangan.
Dan langsung menyinari sosok berambut panjang yang tengah duduk membelakangi mereka.
Feliciano dan Lovino langsung ber-vee dan ber-chigi sambil memeluk (baca; mencekik) kekasih mereka, menyembunyikan kepala mereka ke dada bidang kedua seme mereka. Tangan Berwald otomatis bergerak ke depan Tino dengan sikap melindungi, matanya menatap tajam sosok misterius di depan. Sosok itu bergerak, perlahan-lahan berputar ke arah mereka.
Ludwig dan Antonio menelan ludah. Mata Berwald menyipit. Sosok itu mulai berputar, rambut hitam panjangnya tersibak…
Menampakkan wajah tertutup topeng babi yang sangat…tidak seram sama sekali.
Angin sepoi berhembus, jangkrik mengerik. Antonio menjatuhkan mulutnya dengan tidak elit, Ludwig sudah hampir facepalm lagi. Berwald masih tetap tanpa ekspresi. Tino, di sisi lain…
"Wahh! Kamu imut sekali, tuan babi!"
Keheningan langsung menyelimuti. Si 'babi' menunduk, gemetar, sebelum akhirnya berlari keluar, mengeluarkan apa yang mereka duga suara tangisan. Nah, coba dia gitu dari awal, mungkin bisa jadi sedikit lebih serem. Yang manapun, nasi sudah menjadi bubur ayam. Babi yang malang.
"Err…jadi kita ke ruangan berikutnya nih?" Antonio menawarkan.
"Tadi Kiku bilang kita harus memasuki ruangannya sampai ke ujung." Ludwig mengingatkan.
"Ahh iya juga ya. Kalau begitu, kita masuk nih?" Lagi-lagi tanpa konfirmasi, Antonio langsung nyelonong masuk, membuat yang lain terpaksa mengikuti.
"Bastardo! Bisa nggak sih nggak pake maen nyelon-"
"Waahh Berwald benar, banyak meja!" Antonio dengan girang menyorotkan senternya ke sekeliling ruangan, menatap meja-meja yang berjejer seolah-olah belum pernah melihat meja sebelumnya.
"Idiota! Dengerin kalau orang ngomong, toma-"
"Ssshh! Dengar suara yang barusan tidak?" Pemuda Jerman yang paling waras di antara mereka mendesis, mematikan argument pemuda Italia panasan itu seketika. Keenamnya langsung terdiam, menajamkan pendengaran. Memang benar, mereka bisa mendengar bunyi derak entah dari mana.
"Vee… suara apa itu, vee? Seramm…"
"S'p'rti… su'ra m'ja d'g'ser…m'ngkin…" Percaya atau tidak, inilah rekor kalimat terpanjang yang diucapkan seorang Berwald sepanjang dua chapter ini.
"S-Suara meja digeser?" Lovino menelan ludah, memandang takut meja-meja yang ada di sekeliling mereka. 'Hantu' itu bisa muncul dari mana saja…
GRAK!
Keenamnya berjengit, langsung bergerombol di belakang Antonio yang memegang senter.
"O-Oi! Kenapa jadi pada ngumpet di belakangku?" Pemuda Spanyol itu protes, tapi tidak bisa membantah karena dirinya yang memegang senter.
"I-Idiota! P-Pokoknya cepet cari pintu keluar! Terangin jalannya dengan benar!" Lovino lagi-lagi menyodok punggung si Spanyol keras-keras. Antonio menghela napas, sebelum berjalan pelan-pelan, tangannya yang memegang senter menegang.
GRAKK!
Keenamnya menahan napas. Antonio kembali menyorotkan senter ke sekeliling ruangan. Masih belum ada tanda-tanda penampakan. Sumpah, yang beginian bikin sport jantung aja…
GRAKK!
"ADUH!"
Kali ini, cahaya senter menyinari sosok gelap yang terpuruk di bawah meja di sisi kiri mereka, beberapa meter dari pintu keluar. Sosok bertopeng itu mengaduk kesakitan, memegangi perutnya. Pemahaman memasuki kepala mereka berenam secara bersamaan.
Si 'hantu' bermaksud meneror mereka dengan cara menggerak-gerakkan meja. Namun, entah bagaimana, si 'hantu' malah terjerembab dan menabrak si meja tak berdosa. Intinya: senjata makan tuan.
Kelimanya langsung tertawa laknat. Minus satu orang. Yang tentunya sudah bisa anda tebak siapa.
"Aduh, sepertinya sakit. Tidak apa-apa?" Pemuda Finlandia itu tersenyum manis, mengulurkan tangannya untuk menolong si 'hantu' yang tampak kesakitan.
Ah. Tino Väinämöinen memang terkenal baik. Terlalu baik, malah. Siapapun yang jadi hantu, marilah kita mendoakan harga dirinya yang terdegradasi dengan kejam. Amin.
"…Yuk, ke ruangan berikutnya." Antonio tertawa garing sambil berjalan cepat ke arah pintu keluar, memberi isyarat bagi teman-temannya untuk mengikutinya. Membiarkan si 'hantu' sendirian meratapi nasib sialnya.
"Jadi, ini ruangan terakhir, nih?" Lovino memincingkan matanya, membaca peta dari balik bahu Antonio.
"Ya, setidaknya untuk lantai dua. Berikutnya kita harus turun ke lantai satu lewat elevator." Antonio mengiyakan. Keenam pasang mata itu langsung terpaku pada mesin transportasi vertikal yang seringkali menjadi rebutan siswa di saat rush hour pergantian kelas. Sekarang, entah kenapa mesin yang sangat praktis itu terlihat seperti pedang bermata dua.
"Taruhan, pasti di dalam ada apa-apanya." Ludwig bergumam, keringat dingin mulai muncul di dahinya. "Dan dibandingkan dengan ruangan-ruangan yang kita lewati, elevator lebih sempit…kita bakal ditakut-takuti dari jarak dekat…"
"Yah, selama 'hantu'nya segaje yang sebelum-sebelumnya sih, nggak masalah kukira." Antonio berpendapat, menggulung kembali petanya. "Jadi, kita masuk, nih? Atau ambil tangga aja? Nggak ada kewajiban harus lewat elevator sih."
"Tapi…sayang uangnya, vee~ Kita masuk aja ya?" Tanpa diduga, Feliciano mengemukakan opini di luar dugaan. Kelima rekannya memandang pemuda Italia penakut itu dengan pandangan tak percaya.
"O-Oi, adek goblok, kamu nggak kerasukan, kan?"
"Feliciano, kau yakin…?" Bahkan Ludwig pun meragukan kewarasan pasangannya ini. Feliciano mengangguk-angguk bersemangat.
"Yup! Fratello Antonio, bisa tolong pencetin tombol elevatornya?"
Antonio tampak ragu-ragu sejenak, sebelum akhirnya memencet tombol bertanda panah ke bawah. Selagi menunggu elevator itu mencapai lantai mereka, dengan diam-diam tanpa ada yang melihat, Feliciano mundur sedikit, memencet tombol send di hpnya, mengirim pesan yang sudah disiapkannya sehari sebelumnya.
'Vee, Kiku~ Jikan da yo~'
Beberapa detik kemudian, hp-nya bergetar menunjukkan balasan dari Honda Kiku.
'Wakarimashita.'
TING!
Pintu elevator itu terbuka, mengundang mereka masuk ke dalam. Feliciano dengan cepat menyimpan kembali hp-nya, senyuman polos yang sedikit yandere menghiasi wajahnya. Mestinya dia dilarang mengambil kelas bahasa Jepang yang sama dengan Kiku di tahun berikutnya. Terkontaminasi sudahlah ke-inosen-an-nya.
Antonio dan Lovino sudah memasuki elevator ketika Feliciano mengeluarkan jeritan keras dan memeluk Tino dari belakang, gemetar dari kepala sampai kaki. Ludwig dan Berwald langsung menghampiri mereka, wajah pemuda Jerman itu campuran antara kekagetan dan kekhawatiran.
"Feli-" Antonio sudah hampir melangkah keluar dari elevator ketika terdengar bunyi 'TING' kedua dan pintu elevator itu menutup, memisahkan keduanya dari rekan-rekan mereka.
Ah, kalau saja mereka bisa melihat seringai Feliciano yang tersembunyi di balik lengan Ludwig yang tengah memeluknya…
-tbc
A/N: Ya ampun. Saya baru sadar merinding ngetik cerita horor(?) di saat sendirian di rumah gini ternyata lumayan bikin merinding. Ahh kenapa kedua housemate saya itu belum pulang-pulang jugaaa? Cepatlah pulang, kaliaaaan! Jatah karaage-nya kuhabisin ntar! *galau bentar*
Umm...chapter ini jayus, yah? *headbang* Yahh gimanapun, ini more or less terinspirasi pengalaman pribadi. Yang adegan Tino bilang 'imut' ke hantu babi dan mau nolongin di hantu yang nabrak meja, itu bener-bener dilakukan temen saya. Maklum mahasiswa galau menjelang mid-term *gampared*
Oh dan berikutnya adalah chapter terakhir. Aduh, sempet nggak ya update sebelum Halloween… *menatap sendu tumpukan essay* *tepar*
Adakah yang bisa nebak siapa 'hantu' yang ngegangguin Alfred? Kayaknya gampang ketebak sih, hahaha *dilempar helikopter*
Nggak ada sneak peak untuk kali ini. Bingung saya. Hahaha *kicked*
Umm…kritik, saran, maupun komen lewat akan sangat dihargai. Mau flame juga nggak apa-apa deh. Saya sadar benda ini sangat abal... *headbang*
Stay tuned for the next (and last) chapter :)
Regards,
Ryokiku
