Musim dingin telah datang dan kurang dari tujuh belas hari lagi, natal akan datang. Meskipun natal masih lama, tidak sedikit yang sudah mempersiapkan persiapan natal. Mulai dari pohon natal hingga daftar hadiah yang dipinta pada Santa Claus. Santa Claus? Lelaki tua berjenggot panjang ini memang sangat diharapkan kedatangannya oleh anak-anak pada saat natal. Berharap segala hadiah yang diminta dikabulkan dan pada keesokan harinya, saat membuka mata melihat hadiah yang begitu diinginkan ada dan siap untuk dibuka.

Ngomong ngomong soal natal dan Santa Claus, ada hal yang menarik terjadi di natal 9 tahun lalu keluarga Kim. Hihi..

.

.

.

Santa Claus

My Appa Sequel Part 1

.

.

.

Lagu-lagu natal menggema di kediaman keluarga Kim malam itu, satu minggu sebelum natal datang. Pohon natal sudah terhiaskan dengan lampu berwarna-warni serta hiasan-hiasan kecil lainnya. Dari arah dapur tercium aroma khas kue kering yang baru keluar dari pemanggang. Rupanya malam itu, si nyonya rumah sedang membuat kue kering persiapan natal. Dengan celemek hijaunya, Kyungsoo mngeluarkan seloyang kue kering lagi dari dalam pemanggang. Bentuk kue-kue kering itu sungguh menggugah selera, ada beruang dan ikan. Setelahnya, Kyungsoo lalu mulai memasukkan kue-kue itu satu persatu ke dalam sebuah toples bening dan membawanya ke ruang keluarga di mana Jongin dan Hana sedang asyik menonton televisi.

Di musim dingin seperti ini, memang enak berkumpul bersama keluarga. Duduk-duduk di depan perapian sambil menikmati kue-kue yang baru keluar dari pemanggang. Hahh, nyamannya..

"Ini kuenya.." seru Kyungsoo pada suami dan putrinya yang sedang serius menonton drama televisi. Sejenak keduanya mengalihkan atensi dari televis ke arah wanita 30 tahunan itu. Hana lalu mengambil alih toples yang ibunya pegang dan membukanya. Mengambil satu buah kue lalu memakannya. 'Ahh, rasa jahe,' serunya dalam hati.

Kyungsoo lalu ikut bergabung bersama pasangan ayah dan anak itu. Dilihatnya Jongin yang begitu serius menonton drama televisi yang akhir-akhir ini katanya ratingnya memang sedang bagus-bagusnya. *bukan anak jalanan, lo ya -,-"

"Ah, kasihan sekali anak itu, " gumam Jongin.

"Seharusnya natal dirayakan dengan bahagia, kasihan sekali dia," lagi, Jongin bergumam. Kyungsoo hanya bisa terkekeh melihat kelakuan ayah satu orang anak tersebut.

"Masa iya, presdir perusahaan baper hanya gara-gara drama tv?" ejek Kyungsoo pada suaminya itu. Dahi Jongin berkerut tanda tak terima atas apa yang telah istrinya ucapkan. "Aku bukannya baper, tapi hanya terlalu menghayati, lihat kasihan sekali anak itu, " Jongin lalu menunjuk ke arah layar televisi yang kini menampilkan wajah seorang anak lelaki yang sedang kedinginan.

"Apakah Santa Claus akan memberinya hadiah?" celetuk Hana yang berada di antara kedua orang tuanya. Sama seperti Jongin, gadis duplikat Do Kungsoo ini juga sedang gemar menonton drama yang sama.

"Tentu Santa Claus akan memberinya hadiah. Bukankah dia anak yang baik?" jawab Kyungsoo seraya mengelus rambut hitam Hana. Hana mengangguk. "Dia memang anak yang baik, tapi benarkah Santa Claus itu benar-benar ada?" tanyanya lagi pada kedua orang tuanya.

"Mana ada? Itu hanya akkh.." ucapan Jongin terpotong saat Kyungsoo menginjak kaki Jongin dan melototkan mata bulatnya. Kyungsoo memberi isyarat pada Jongin untuk menutup mulutnya dan tidak mengatakan apa pun pada Hana.

"Tentu. Tapi Santa Claus hanya memberikan hadiah pada anak-anak baik saja, " ucap Kyungsoo lagi. Hana menatap ibunya dengan mata yang mengerjap polos. "Benarkah?"

"Iya, kalau Hana juga ingin diberi Santa Claus hadiah, Hana harus jadi anak baik. " Mata bulat Hana semakin mengerjap. Kyungsoo tersenyum pada anaknya itu.

"Kalau begitu, Hana akan menjadi anak baik mulai sekarang, " serunya girang. Pipinya yang cabi semakin membulat seiring dengan senyum berbentuk hati yang terkembang di bibirnya. Bahkan mata anak itu seperti ingin hilang saking senangnya ia.

"Hana jangan hanya karena ingin hadiah dari Santa saja lalu menjadi anak baik, " sela Jongin. Sambil mengunyah kue-kue kering olahan Kyungsoo, Jongin melanjutkan ucapannya. " Hana harus selalu menjadi anak baik. Kapan pun itu. Karena Tuhan juga akan menyayangi anak-anak baik, " ucapnya lagi. Jongin lalu mencubit pipi cabi Hana.

Hati Kyungsoo menghangat tatkala menyaksikan kedekatan antara pasangan ayah dan anak itu. Kyungsoo hanya tak menyangka, Kim Jongin yang sekarang berbeda dengan Kim Jongin yang ia kenal semasa sekolah menegah dulu. Di mana hanya ada Kai si penari terbaik sekolahnya yang memiliki tingkat kepekaan yang amat tipis. Dia bahkan tidak tahu jika Sehun, sahabat baiknya sendiri sedang sakit saat anak itu sudah dua hari tak masuk sekolah dan Jongin baru menyadarinya di hari ketiga.

Jongin hanya kurang peka, bukan berarti dia tidak peduli. Kyungsoo sangat takjub ketika di masa-masa kehamilannya, tingkat kepekaan Jongin mulai meningkat. Dirinya yang dulunya sibuk bekerja, mulai mengurangi aktivitas kantornya dan memilih pulang cepat untuk menemani Kyungsoo. Tanpa diminta, Jongin akan memijit-mijit telapak kaki Kyungsoo dan mengelapnya dengan handuk yang telah direndam air hangat. Kyungsoo sangat bersyukur akan perubahan Jongin.

Kalau Jongin tidak berubah, masa iya anak nangis Jonginnya malah bengong terus nanya, ' kenapa nangis?' Udah digoreng Kyungsoo dari dulu kali. -,-

.

.

.

.

Natal tinggal tiga hari lagi. Saat ini, Jongin dan Kyungsoo sedang rebahan di ranjang mereka yang hangat. Kyungsoo rebahan sambil membaca sebuah majalah dan Jongin hanya bergelayut manja, melingkarkan lengannya di pinggang Kyungsoo. Sesekali dia akan menciumi leher Kyungsoo. Mengirup aroma khas yang menguar dari tubuh istrinya itu.

"Yeobo, kau harum sekali sih.." gombal Jongin pada Kyungsoo. Mendengar gombalan Jongin, Kyungsoo hanya mendecih dan memencet hidung MANCUNG suaminya.

"Aishh, Jongin berhentilah menciumi leherku," gerutu Kyungsoo sambil menjauhkan wajah Jongin dari perpotongan lehernya. Namanya juga Jongin, mana mau dia menurut. Dirinya malah semakin menjadi menciumi leher Kyungsoo bahkan sesekali mengecupnya.

"Ahhh.." Upss, ada yang mendesah.

"Yeobo.." panggil Jongin pada Kyungsoo. Seringai serigala itu semakin menjadi ketika sekali lagi ia mendengar suara desahan halus yang keluar dari bibir istrinya ketika tangannya mulai merambat menuju dua gundukan kenyal milik sang istri.

"Aishh, aku sedang tidak ingin Jongin," seru Kyungsoo pada sang suami. Matanya melotot tajam ke arah Jongin yang masih menampilkan seringai mesumnya.

Mata Kyungsoo yang sedang membulat itu malah dianggap Jongin sebagai sebuah undangan menggoda dari Kyungsoo pada dirinya. *Jong, istri lu marah bukan lagi goyang dribble..

Dengan segera, Jongin meraup bibir bentuk hati sang istri untuk dilumatnya dengan. Kyungsoo yang pada akhirnya tak bisa menolak hanya bisa melingkarkan lengannya ke leher sang suami dan mulai membalas lumatan-lumatan lembut Jongin pada bibirnya. Hawa dingin dari salju yang turun malam itu kalah oleh hawa panas yang mulai menguar dari kamar pasangan suami istri tersebut. Bahkan saat ini Jongin sudah melepaskan piyama atasnya dan menindih Kyungsoo. Keduanya kembali berciuman di bawah selimut tebal. Sesekali terdengar desahan Kyungsoo yang semakin membangkitkan sisi liar Jongin. Tangannya bahkan sudah masuk ke dalam piyama sang istri. Bibir keduanya tak berhenti untuk saling memagut, menyalurkan rasa cinta dan kasih sayang lewat ciuman mereka.

Kancing piyama Kyungsoo mulai dibuka Jongin satu persatu. Lalu terlihatlah dua gundukan kenyal yang dari hari ke hari semakin terlihat mengggoda. Jongin lalu menciumi dada Kyungsoo sedang Kyungsoo melampiaskan kenikmatan yang sang suami beri dengan mengelus rambut belakang Jongin.

Ketika Jongin akan memasukkan salah satu gundukan itu ke dalam mulutnya, tiba-tiba dari arah samping, muncul sebuah kepala boneka pinguin yang Kyungsoo kenal betul siapa pemiliknya.

"Astaga, Hana-ya!" pekik Kyungsoo seraya mendorong Jongin dan mengambil piyama atasnya segera. Jongin yang didorong Kyungsoo hanya meringis sambil meratapi pantanya yang sakit karena menghantam lantai yang dingin.

"Eomma.." rengek si kecil pada sang ibu. Gadis kecil itu lalu menghambur ke pelukan sang ibu. Kepalanya tersandar nyaman di dada sang ibu yang beberapa saat lalu ternodai oleh ayahnya yang mesum itu.

"Aishhh, bagaimana bisa anak ini masuk?" gerutu Jongin. Kyungsoo yang mendengar gerutuan Jongin, lalu melototkan matanya tanda Jongin harus diam.

"Hana-ya, kenapa putri cantik eomma ini belum tidur?" tanya Kyungsoo seraya mengelus sayang rambut Hana dan mendekapnya lebih erat. "Hana kedinginan, eomma," rajuknya.

Mulut Kyungsoo membulat tanda paham alasan kenapa anaknya bangun dan datang ke kamar mereka.

"Hana kedinginan? Baiklah sini tidur sama eomma," ajak Kyungsoo tanpa dosa mengabaikan geraman halus Jongin yang kini sudah ikut merebahkan dirinya di sambping Hana.

"Bolehkah?" tanya Hana lahi pada Kyungsoo. Kyungsoo sedang ingin menjahili Jongin saat ini. "Bolehkan, appa?" tanya Kyungsoo dengan senyuman yang dibuat-buat. Hana juga ikut memandang Jongin. Memohon denagan tatapan pinguinnnya untuk diberi izin tidur bersama mereka malam ini.

"Aishh, boleh." Jongin lalu menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut tebal. Astaga, jika bukan karena dia menyanyagi Hana, sudah dipastikan anak itu akan diantarnya paksa ke kamarnya sendiri. Padahal sedikit lagi.. *Saya belum ada niatan nambah cast, Jong..

Sudah 30 menit berlalu, tapi sepertinya gadis penyuka pororo itu belum mau juga memejamkan mata bulatnya. Dengan nyaman ia masih meringkuk dalam pelukan hangat Kyungsoo yang menuai desisan samar dari Jongin. Dia mencintai Hana, tapi dirinya pun bisa kesal karena tingkah anaknya ini.

"Hana-ya," panggil Kyungsoo pada gadis kecil di pelukannya. Kyungsoo menepuk-nepuk halus pantat anaknya itu.

"Kenapa Hana belum tidur?" tanya Kyungsoo lagi.

Hana lalu mendongak memandang wajah sang ibu. Wajahnya terlihat murung. "Tiga hari lagi natal, eomma.." jawabnya menggantung, "dan Santa Claus belum datang."

Kyungsoo tersenyum kecil menyadari apa yang menyebabkan anaknya ini menjadi terlihat murung.

"Apakah menurut Santa Claus, Hana belum jadi anak yang baik?"

Kyungsoo menggeleng lalu mengeratkan pelukannya pada tubuh mungil Hana. " Anniya. Hana sudah jadi anak yang baik," jawab Kyungsoo.

"Tapi kenapa Santa Claus belum datang dan memberi Hana banyak hadiah?"

"Apakah Hana menjadi anak baik hanya karena ingin hadiah dari Santa?" tanya Kyungsoo pada Hana.

Hana yang dalam dekapan ibunya lalu mengangguk samar. Kyungsoo terkekeh. Tentu semua anak begitu, mereka dan pikiran polosnya.

"Hana-ya, dengarkan eomma.." Kyungsoo lalu menaikkan dagu Hana agar sejajar dengan wajahnya. Dipandanginya mata yang serupa dengannya itu dalam diam.

"Hana-ya, bukankah appa pernah mengatakan pada Hana, kalau Hana harus selalu jadi anak baik kapan pun itu. Karena Tuhan menyayangi anak-anak baik."

Hana masih menatap ibunya dengan mata polos. Mata yang memancarkan bahwa belum ada dosa yang ditanggungnya, mata yang memancarkan kesucian seorang anak.

"Jadi, Hana harus jadi anak baik meskipun natal sudah berakhir?" tanyanya. Kyungsoo mengangguk.

"Hana harus tetap jadi anak yang baik, oke?"

Hana lalu mengangguk dan kembali memeluk ibunya erat. "Tapi, bisakah tahun ini meminta sesuatu eomma?" Hana kembali bersuara walau samar karena teredam dekapan Kyungsoo.

"Hana ingin eomma dan appa selalu bahagia bersama Hana. "

.

.

.

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam di tanggal 24, dan beberapa jam lagi natal akan datang. Nuansa natal benar-benar terasa di kediaman keluarga Kim. Keluarga kecil itu sedang makan malam bersama. Rencanaya besok mereka akan berkunjung ke rumah orangtua Jongin lalu ke rumah orang tua Kyungsoo.

Di tengah-tengah acara makan malam bersama itu, Kyungsoo lalu memulai sebuah pembicaraan.

"Hana-ya, " panggilnya pada putri kecilnya itu. "Apakah Hana masih berharap Santa Claus akan datang malam ini?"

Gadis kecil itu terdiam sesaat, lalu setelahnya ia menggelengkan kepala. " Ani, Hana tidak lagi mengaharapkannya," ucapnya.

"Mmm, begitu," Kyungsoo mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Cha.. Kalau sudah selesai makan, jangan lupa gosok gigi dan cuci kaki sebelum tidur, arraseo?"

Hana mengangguk patuh dan beranjak pergi dari ruang makan meninggalkan Jongin dan Kyungsoo berdua.

"Yeobo.." Tiba-tiba, Jongin memanggil istrinya. Kyungsoo heran juga, selama beberapa hari ini Jongin memang jarang di rumah dan sepertinya ia sibuk melakukan sesuatu. Komunikasi di antara keduanya pun kurang beberapa hari ini. Apakah Jongin masih marah gara-gara kejadian berapa hari lalu? Aishh, kekanakan sekali suaminya itu.

"Bisakah kau membantuku?" tanya Jongin lagi.

Kyungsoo mengerutkan kening tanda tak paham dengan apa yang suaminya ucapkan, membantu apa?

"Membantu apa?

"Begini.."

You better watch out

You better not cry

You better not pout

I'm telling you why

Santa Claus is coming to town

"Hana-ya.. Hana-ya, bangun.." Kyungsoo lalu mengguncang-guncangkan tubuh mungil putrinya. Tak lama Hana terbangun. Dikuceknya mata bulatnya sambil menguap kecil. Kyungsoo lalu mengelus rambut Hana dan menariknya untuk berdiri.

"Hana-ya, selamat natal.."ucap Kyungsoo pada Hana. Gadis kecil itu masih belum sadar sepenuhnya hingga ia bahkan tidak sadar saat ibunya menyeretnya sampai di ruang keluarga.

He is making a list

Checking it twice

Gonna find out who is naughty or nice

Santa Claus is coming to town

"Hoho..hoho... Selamat natal Kim Hana.."

Mata bulat itu terjaga sepenuhnya saat mendengar suara lelaki yang mengucapkan selamat natal untuknya. Dia lelaki tua berjenggot putih denagn pakain merahnya. Membawa setumpuk hadiah yang Hana inginkan.' Santa Claus datang ' pekiknya malam itu.

Hana berlari ke arah lelaki tua itu dan dengan cepat ia sudah ada di gendongannya.

"Selamat natal, Hana-ya.. Selamat, kau telah jadi anak baik selama ini.." ucap si Santa. Hana tersenyum senang, matanya menggambarkan binar kebahagiaan bisa didatangi si lelaki tua.

"Sekarang katakan apa permintaanmu," ucap si Santa lagi. Hana menggeleng. "Ani, aku tidak minta apa-apa, ' jawabnya. Jawaban si gadis kecil mengundang kerutan samar di dahi Santa.

"Kenapa?" Santa kembali bertanya.

"Kata appa, aku harus jadi anak baik kapan pun itu. Karena Tuhan menyayangi anak-anak baik, " ucap Hana dengan riang.

Mendengar jawaban Hana, senyuman di wajah Santa merekah sangat lebar, begitu juga Kyungsoo yang sedari tadi menyaksikan Hana yang sedang digedong.

"Guere, kau benar. Tak perlu mengharap hadiah untuk jadi anak baik, karena Tuhan menyanyangi anak-anak baik."

Hana tertawa senang saat si Santa menciumi pipinya, dan selama satu jam penuh, Hana bermain bersama si Santa Claus.

He is sees you when you are sleeping

He knows when you are awake

He knows if you have been bad or good

So be good for goodness sake

Goodness sake

"Eomma, mana appa?

"Eoh, appamu belum bangun sayang."

"Kenapa belum bangun?"

"Appa kelelahan."

"Appa sakit?"

"Tidak, appa kelelahan karena tadi malam membagikan hadiah."

"Eoh? Appa seperti Santa Claus saja, hihihii.."

Santa is a busy man, he has no time to play

He is got millions of stockings to fill on

Christmas day

Santa Claus is coming to town

Halo, Nurul Hidayah di sini!

Karena banyak permintaan untuk buat sequel, inilah jadinya.

Terima kasih untuk yang sudah membaca, memfollow dan memfavoritkan My Appa, saya jadi terharu..*nangis bombay.

Untuk ff kali ini saya mengangkat tema natal. Maaf, kalo ada yang salah-salah, karena saya cuma sedikit tahu tentang tradisi natal.

Oh, ya, kata-kata Tuhan menyayangi anak-anak baik itu beneran.. Tuhan bener-bener menyayangi anak-anak baik, termasuk temen saya.

Jadi, jangan ragu jadi anak baik. Karena Tuhan sayang anak-anak baik, ya kan "kawanku"?

So, review plis?