World War
Naruto © Masashi Kishimoto
Rate : M (untuk scene berdarah-darah)
Warning : AU, OOC (dua rangkaian mutlak), typo (bersembunyi dengan baik diantara kata-kata), bahsa mungkin gak baku, monoton, bertele-tele. Ah gak seburuk itu kok. Jika mengharap cerita yang bagus, well aku sudah berusaha.
ITADAKIMASU
.
.
.
"Aaarrrgghhhhh…"
Kabuto berlari menyusuri lorong menuju ke arah sumber suara. Ia berhenti tepat di sebuah pintu berpengaman kuat.
"Tuan Orochimaru…apa yang terjadi?" Kabuto menggedor-gedor pintu berharap mendapat jawaban."Tuan Orochimaru, buka pintunya. Anda baik-baik saja?"
Berapa kali pun Orochimaru menggedor, tidak ada tanda-tanda pintu akan terbuka. Suara erangan panjang tadi hanya sekali terdengar, selanjutnya hanya ada kesunyian. Kabuto justru semakin khawatir jika sesuatu terjadi di dalam ketika tidak ada suara apapun. Ia berlari menuju ruangan yang sebelumnya, mengobrak abrik seluruh ruangan. Dalam keadaan normal, Kabuto tidak perlu sampai menjatuhkan banyak barang demi mengambil kunci dalam lemari, tapi keadaan membuatnya panik. Kunci yang ia dapat, digunakan untuk membuka pintu dimana ia memanggil nama Orochimaru berkali-kali. Apapun yang dilihat Kabuto begitu pintu terbuka, jelaslah sesuatu yang buruk sedang terjadi.
.
.
.
Teriakan cempreng di sebuah rumah menggema. Tidak ada yang berbahaya selain seluruh rumah yang jadi berantakan. Naruto sama sekali tidak heran jika saja tidak lebih parah dari biasanya, dan juga sesuatu seperti menusuk-nusuk yang membuatnya terbangun. Dari balik selimut ada gerakan mencurigakan, Naruto mengira itu seekor landak tanpa berfikir ulang darimana kemungkinannya. Ia melompat dari tempat tidur, pergi ke dapur sebentar mengambil apapun yag dapat digunakan untuk memukul, kemudian menghampiri benda mencurigakan tersebut.
Naruto mengendap-endap berusaha untuk sesunyi mungkin. Memiliki landak sebagai binatang peliharaan bukanlah ide buruk, ia cuma perlu menangkap semut untuk makanannya. Itu yang naruto pikirkan.
Naruto terlonjak kaget mendengar suara gedoran dari pintu depan di antara kesunyian yang berusaha ia ciptakan. Ia menatap cemas pada antesi di balik selimut yang ia kira landak. Tidak ada pergerakan yang berarti, Naruto mulai merasa sia-sia dengan usahanya.
Gedoran di pintu sudah mulai diiringi dengan teriakan, Naruto bergegas menuju ke pintu depan. Ia tidak bisa menyembunyikan cengirannya melihat dua sosok sahabat terbaiknya berdiri dengan wajah datar dan malas.
"Shikamaru…." Terjang Naruto tiba-tiba. Sasuke spontan menyingkir sebelum jadi korban selanjutnya.
"Ish, lepaskan aku. Naruto." Shikamaru berusaha menahan kepala Naruto dengan telapak tangannya. Bukannya berhenti, ia terus saja mendesak mengharap pelukan.
"Aku kangen." Seru manja Naruto.
"Aku cuma pergi sehari saja kemarin." Shikamaru masih menahan kepala Naruto agar tidak lebih dekat.
"Bodoh." Umpatan dan jitakan di kepala sukses di daratkan oleh Sasuke.
"Sasuke, jahat…" rengek Naruto. Tapi beruntungnya Shikamaru berkat itu Naruto akhirnya menyerah.
"Kau tidak membiarkan kita masuk?"
Keributan kecil tadi menghalangi pintu masuk, menyadari keadaan tersebut Naruto buru-buru mendorong kedua temannya menjauh dari pintu dan menutupnya.
"Umm, kita ke kafe aja yuk." Naruto nyengir, merasa tidak bersalah.
"NA-RU-TO." Sasuke tanpa bisa dihalangi lagi menerobos masuk ke dalan rumah Naruto. Apapun yang telah dilihat Sasuke di dalam, mampu membuatnya melongo, Shikamaru menghela nafas berkali-kali, dan Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
.
Beberapa kali Naruto sesenggukan menahan tangis dan juga keringat yang mengucur sejak ia mulai melakukan pekerjaan bagai pembantu di rumah sendiri dari dua jam yang lalu.
"Shikamaru…" Naruto mencoba mencari belas kasihan sahabatnya yang ia kenal sedikit berhati lembut dari pada Sasuke yang kini berdiri berkacak pinggan di samping Naruto yang sedang mengepel dapur. Melihat panggilannya pada Shikamaru mendapat pelototan dari Sasuka Naruto kembali bekerja.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ini luar biasa Naruto." Komentar Shikamaru dari ruang tamu.
"Bukan salahku, sungguh. Aku memang biasa berantakan, tapi aku tidak mungkin menghambur semua barang di rumah ini kan? Paling-paling cuma bungkus camilan."
"Hah, aku lelah." Keluh Sasuke sambil melemparkan tubuhnya ke sofa terdekat.
"Harusnya aku yang bilang begitu,"protes Naruto,"aku di perbudak di sini."
"Ini rumahmu, dan sudah menjadi tanggung jawabmu untuk membersihkannya bodoh." Sanggah Sasuke tidak mau kalah.
"Ini bukan salahku, aku juga tidak tahu apa-apa. Lihat, di sana." Naruto menunjuk ke arah ranjangnya dimana terlihat jelas ada sesuatu di balik selimut."Itu sumber masalahnya."
"Ho, bagus kau menunjukkannya. Berikutnya kau harus membereskan itu."
"Sasuke sialan…" umpat Naruto.
Shikamaru berdehem, sejak tadi ia hanya mendengarkan perdebatan tidak penting dua sahabatnya yang memang tidak pernah akur itu. "Kalian cukup adu mulutnya. Aku merasa ada yang tidak biasa di sini Sasuke."
"Cih, mungkin saja dia semalam mabuk lalu mengamuk."
"Aku tidak pernah mabuk" balas Naruto sambil lalu membawa sapu dan kemoceng menuju ke ranjang tidurnya.
Naruto menyibakkan selimut lebih dulu demi memenuhi rasa penasarannya dengan sesuatu yang semula ia kira landak bersemayam di sana. Begitu selimut terbiak, ia hanya menatap dengan bingung.
"Shikamaru, Sasuke, kemarilah." Yang di panggil hanya berpandangan,"menurut kalian dia binatang apa?"
Shikamaru dan Sasuke menghampiri Naruto, turut melihat sesuatu berbentuk tikus besar dengan duri-duri tajam berwarna keabu-abuan.
"Naruto, bukankah ini terlihat seperti tikusmu kemarin?" Shikamaru menyimpulkan setelah mencoba berfikir sejenak.
"Eh? Tikus?" setengah penasaran dan tidak percaya Naruto berlari ke kamar, yang sudah menjadi laboratorium menengok ke kandang tempat tikus itu semula berada. Ia memang mendapati kandang itu kosong, tapi untuk kandang seukuran itu dan juga ukuran tikus yang disebut Shikamaru sangatlah tidak pas.
Naruto tetap membawa kandang itu menemui Shikamaru dan Sasuke."Ini tidak mungkin, lihat ukuran tikusku tidak mungkin sebesar itu." Katanya menenteng kandang kosong untuk diperlihatkan pada teman-temannya.
Sementara Shikamaru dan Naruto berfikir sambil memperhatikan kandang, Sasuke mencoba untuk mengusik makhluk itu dengan kemoceng yang sudah dilupakan Naruto. Makhluk itu terlihat sebesar kucing dewasa, Sasuke menjadi penasaran karena sudah sedari tadi ia dan dua orang lainnya di rumah itu berisik tetap tidak ada pergerakan. Kemoceng di tangannya ia usapkan mengenai bulu-bulu runcing menyerupai duri. Beberapa helai bulu kemoceng tersangkut dan rontok. Tampaknya duri-duri itu sangat keras dan kasar. Tidak puas dengan itu, Sasuke mulai sedikit menusuk-nusuk untuk mencari bagian yang lunak. Ia sedikit mengitari ranjang untuk mencari celah lain dari tubuh makhluk itu untuk di tusuk tusuk menggunakan ujung kemoceng. Sasuke melakukannya tanpa pertahanan, sehingga ketika ujung kemocengnya menyentuh bagian bawah moncong, tikus besar itu menunjukkan reaksi terganggu. Beberapa duri dari tubuhnya terbang sejurus ke arahnya. Salah satu dari duri tajam itu menancap di lengan bagian atas, sebagian menggores pipinya. Sasuke memekik terkejut sekaligus kesakitan mengundang Naruto dan Shikamaru untuk memperhatikan.
"Sasuke…" Naruto buru-buru menghampiri dan mulai panik melihar darah mengucur dari pipinya.
"Naruto, apa yang sebenarnya coba kau lakukan pada binatang itu?" Sasuke tampak kesakitan tapi ia masih dengan sempat menunjuk ke arah tikus besar berbulu duri di atas ranjang Naruto. Naruto bisa melihat binatang itu mendesis dengan mulut terbuka, memandang penuh ancaman pada semua yang ada di ruangan itu.
"A-aku tidak…bukan…" Naruto tergagap, ia juga tidak mengerti dengan yang sedang terjadi.
Shikamaru lebih mendekat ke arah Sasuke, ia mengamati duri yang masih menancap di lengan. Drasa penasarannya lebih besar dari rasa khawatirnya terhadap Sasuke sehingga mencabut begitu saja duri itu tanpa peringatan. Teriakan Sasuke menyadarkan Naruto, ia akhirnya beranjak dari tempat dan mencari-cari kotak kesehatan.
"Sakit, bodoh." Umpat Sasuke.
"Darah." Kata Shikamaru lempeng yang dibalas wajah hern Sasuke."Darah di lenganmu mengalir." Lanjut Shikamaru.
Sementara Sasuke mulai panik sendiri Shikamaru memilih untuk memperhatikan duri yang baru saja ia dapat. Ukurannya kira-kira sepanjang lima centimeter dengan diameter satu sampai dua mili meruncing ke satu sisi berwarna ke abu-abuan. Ia memperhatikan sekeliling, dimana ada beberapa yang lain berjatuhan di lantai. Shikamaru memunguti duri-duri itu lalu mencari kantong kecil untuk kemudian di masukkan ke dalamnya.
Naruto kembali dengan seperangkat alat kesehatan, matanya membelakan begitu mendapati ada banyak darah di tubuh Sasuke. Darah yang mengalir dari pipi mulai mengering, kemudian ceceran lainnya di baju dan celananya berasal dari lengan atas. Naruto tidak sanggup berkata-kata, jika seperti biasanya Sasuke akan berteriak kesal karena Naruto lebih lama terpaku melihatnya dari pada segera mengobati kali ini ia hanya bernafas berat. Tubuhnya melemas dan tidak sanggup berkata-kata. Wajah dan hampir seluruh permukaan kulitnya membiru.
"Shikamaru…."dengan nada bergetar Naruto memanggil Shikamaru yang masih terus memperhatikan sekeliling sambil merawat luka Sasuke seadanya.
"Ada apa Naruto?" tanya Shikamaru.
"Sasuke membiru…lihat dia tidak membuka matanya."
Demi mendengar pernyataan Naruto, Shikamaru mengalihkan perhatiannya ke Sasuke. Ia memeriksa suhu tubuh, mengecek nadi, serta mendekatkan wajahnya pada Sasuke untuk mengetahui apakah masih bernafas atau tidak.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit."
Naruto mengangguk, dan dengan segera mereka menuju ke rumah sakit.
Bersambung…
A/N : Aku sudah mangkir lama banget dari jadwal yang kutentukan untuk fic ini. Temanya yang berat membuatku kesulitan mencari mood untuk melanjutkan. Meski begitu sedikit-sedikit aku tetap menulis untuk fic ini. Bagi yang minat untuk jadi beta reader bagi fic ini, silahkan PM. Yoroshiku onegaishimasu.
