Disclaimer: seluruh tokoh milik Fujumaki Tadatoshi. Tidak ada keuntungan finansial apa pun yang saya dapat dalam membuat fanfiksi ini. Dibuat hanya untuk bersenang-senang
Main pair: Seijurou/Tetsuya
Selamat membaca...
.
—Speculum Magica—
Bab 1: Cermin Ajaib
.
"Tetsuya, matamu kenapa?"
Kise Ryouta terheran-heran melihat penampilan Tetsuya yang acakadut hancurnya. Kantung matanya menghitam, tatapannya terlihat kosong, rambutnya sedikit berantakan. Ah, ada apa dengannya? Seperti kerasukan setan saja. Oh, apa jangan-jangan Tetsuya kerasukan setan?! Tetsuya tidak berniat menyahut. Tas bermotif panda ditaruh di atas kursi, dengan malas Tetsuya menidurkan kepalanya di meja kelas.
Kalau di dunia anime-anime mah, nyawa Tetsuya sudah melayang-layang di udara. Hanya raganya saja yang tertinggal di dalam kelas.
"Ryouta..." pada akhirnya, Tetsuya memanggil teman sebangkunya.
Ryouta yang merasa namanya dipanggil pun menyahut, "Ya?"
"Kamu pernah membayangkan siapa suami di masa depanmu?" Tetsuya bertanya. Kepalanya ditangkup pada sebelah tangan. Menatap wajah Ryouta yang tengah berpikir.
Ryouta sendiri sedang berangan-angan. Tipe suami di masa depannya adalah; pria dengan rambut biru tua, kulit eksotis, tinggi, seperti pemain basket yang lagi naik daun sekarang. Siapa namanya? Ah, Ryouta lupa.
"Pernah kepikiran kalau suami di masa depanmu adalah orang yang tidak terduga?"
"Pernah."
"Siapa orang itu?"
"Anggota Kiseki no Sedai."
Tetsuya memutar kedua bola mata. Ryouta tetap santai di kursi. Apa salahnya berkhayal? Toh, tidak ada yang melarang. Tidak tertulis di dalam undang-undang negara. Ryouta memiliki prinsip sendiri; selagi kamu punya mimpi, maka bayangkanlah mimpi itu setinggi mungkin. Bayangkan yang enak-enak saja. Yang tidak enak tidak usah dibayangkan—hidup ini sudah tidak enak sejak awal.
"Tumben sekali membicaran tentang suami. Kita lulus SMA saja belum. Jangan bilang kamu kebelet kawin ya? Pantas saja akhir-akhir ini kamu suka makan yang asin-asin."
Tetsuya hanya mendelik, "Sembarangan. Siapa yang kebelet kawin hah?! Lagi pula, nikah dulu Ryouta! Baru kawin."
"Apa bedanya? Sama-sama mengalami malam pertama ini." Ryouta menjawab dengan sangat santai. Tidak tahu jika wajah Tetsuya mulai memanas ketika membicarakan suatu hal yang agak dewasa (menurutnya).
Keduanya mulai diam. Jam masuk tersisa lima belas menit lagi. Tetsuya kembali bertanya pada Ryouta, "Ryouta, kamu tahu tidak?"
"Tidak tahu dan tidak mau tahu. Karena aku maunya tempe."
"Apa sih!"
Ryouta memamerkan gigi putih nan rapi miliknya, "Oke oke, kenapa?"
Tetsuya berusaha meredam emosi yang sempat membakar membara. Dihirup oksigen sebanyak-banyaknya hingga dada sedikit naik ke atas, lalu diembuskan perlahan—kalau menurut Ryouta mah seperti wanita yang akan melahirkan, "Jadi gini. Semalam aku pulang larut dan menunggu ayah di halte dekat sekolah. Aku tidak sengaja menemukan sebuah cermin. Awalnya aku hiraukan saja, tapi saat sampai di rumah entah kenapa cermin itu sudah ada di atas kasurku."
"Cermin? Hanya sebuah cermin?"
"Tunggu dulu, cermin ini beda dari yang lain. Dia bisa menunjukkan wajah seseorang yang ingin kita tanyakan."
Ryouta terlihat serius sekarang, "Jadi maksudmu cermin itu ajaib? Ah, lelucon macam apa ini. Mana ada cermin seperti dalam dunia donge—"
"Aku serius, Kise Ryouta." Tetsuya menajamkan tatapannya. Ryouta diam membatu. Tetsuya tidak pernah seserius ini ketika berbincang dengannya.
"Kamu memang menanyakan siapa saja di dalam cermin itu?" Ryouta penasaran. Walau masih agak tidak percaya dengan apa yang diutarakan Tetsuya, tapi kalau ini sungguhan—sungguh marveolus namanya.
Tetsuya memasang wajah mengingat, "Semalam aku menanyakan siapa orangtuaku. Dan tepat! Wajah orangtuaku muncul di dalam cermin. Terus aku menanyakan siapa temanku yang paling berisik, dan wajahmu yang muncul!"
"Kenapa aku identik dengan orang yang berisik..." Ryouta mendesah sebal, "Terus, kamu menanyakan apalagi?"
Tetsuya ingin menjawab. Ia ingat semalam dirinya menanyakan siapa—suami di masa depan. Ah, kenapa pula masih terbayang-bayang sampai sekarang wajah Akashi Seijurou yang tidak diharapkan Tetsuya sebagai calon suami!
"A—aku, menanyakan siapa suami di masa depanku." ucap Tetsuya jujur. Hah, lagi pula berbohong pun tidak ada gunanya.
Ryouta membulatkan matanya sempurna, "Suami? Woah, siapa laki-laki itu?"
Ah, haruskah Tetsuya menjawabnya?
Napas kembali dihirup paksa. Berusaha menghilangkan rasa gugup yang mulai menjalar hingga ubun-ubun. Bulu kuduk mulai berdiri sendiri. Sepertinya jika nanti Tetsuya akan melahirkan, ia sudah sangat mahir dalam mengambil napas dalam-dalam, "Tapi... Jangan terkejut ya."
"Iya, siapa dia?"
Sekali lagi, Tetsuya berusaha menutup kedua matanya, "Dia—"
"Dia—"
"Adalah—"
"Adalah—"
"Seorang manusia."
"Aku tahu dia manusia! Ah, nenek-nenek pakai bikini pun tahu! Oh, jangan bilang suami di masa depanmu itu manusia 2D?! Berarti kamu bau bawang..."
Tetsuya menjitak kepala Ryouta tiada ampun, "Mulutmu Ryouta! Ingin kujahit rasanya!"
"A—ampun! Yak! Lepaskan!" kini Ryouta berteriak keras. Karena Tetsuya berhati baik dan tidak sombong, ia melepaskan kedua tangannya dari kepala Ryouta.
"Mau kuceritakan tidak?" Tetsuya kembali bertanya. Ryouta mengangguk-angguk lucu. Takut dijitak lagi sama Tetsuya.
Entah sudah keberapa kali embusan napas keluar, Tetsuya berusaha tenang, "Suamiku... Akashi Seijurou."
"Oh, Akashi Seijurou. Kenapa tidak katakan sejak tad—APA?! AKASHI SEIJUROU?!"
Tetsuya segera menutup rapat mulut Ryouta. Tahu begini ia seharusnya membawa lakban hitam tadi. Tetsuya tersenyum canggung sekarang. Dirinya merasa seperti Miss Universe; karena semua mata tertuju padamu (begitu katanya). Ryouta sendiri meronta-ronta agar tangan Tetsuya melepaskan cengkramannya. Kecil-kecil begitu tenaganya besar juga.
.
Jam istirahat sudah berdering, maka Tetsuya serta Ryouta memilih untuk pergi ke kantin.
Biasanya mereka akan makan di dalam kelas (karena Tetsuya membawa bekal dan Ryouta yang akan meminta makanan Tetsuya). Tapi kali ini, dikarenakan pikiran Tetsuya sedang tidak jernih sejak pagi, maka bekal pun terlupakan. Jadilah mereka berdua di sini—di tempat yang amat menyesakkan. Banyak murid-murid yang sedang mengantre untuk memesan makanan. Tetsuya merasa tidak nyaman harus berhimpit-himpit dengan murid lainnya—bukan, bukan karena ia tidak suka keramaian. Tapi karena yang menghimpit tubuhnya adalah anak-anak cowok.
Ah, sangat tidak nyaman sekali.
Karena terlalu ramai macam mengantre pembagian sembako oleh pemerintah, Tetsuya dan Ryouta pun terpisah. Para siswa mulai mendorong-dorong satu sama lain. Tetsuya yang bertubuh kecil dan mungil pun terhimpit di dalam kerumunan mereka. Dilihatnya macam ingin mengajak tawuran. Tetsuya rasanya ingin mati saja sekarang. Napasnya tersenggal-senggal. Dan—sepertinya ia merasakan pantatnya diraba-raba.
Apa?!
Karena terlalu ricuh, Tetsuya tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya terombang-ambing sana sini. Pantatnya masih diremas-remas oleh siswa lain. Tetsuya ingin menangis rasanya. Oh Tuhan, untuk pertama kalinya ada yang melakukan hal gila ini padanya. Tetsuya berteriak keras—tapi suaranya terkalahkan oleh ricuhnya para murid yang membeli makanan.
Tanpa sadar, setetes air mulai turun dari kelopak matanya yang indah.
Semua murid yang awalnya ricuh tak karuan, kini mendadak diam tak berkutik. Tetsuya tidak tahu apa yang terjadi sebab matanya masih tertutup rapat dan meneteskan giliran cairan berwarna bening. Ia masih merasa takut.
"Buka matamu." sebuah suara memasuki gendang telinga Tetsuya. Suaranya—entah kenapa tidak asing.
Lantas, Tetsuya membuka mata. Dilihatnya sesosok pria berambut merah dengan tampang garang khas preman sekolah. Seragamnya tidak terkancing dengan rapi. Tetsuya bisa melihat ada beberapa tato yang menghiasi tubuh pria itu di balik seragam sekolah.
"Tidak usah cengeng. Kalau kamu merasa dilecehkan, hajar saja orang itu." lagi-lagi, pria itu berucap pada Tetsuya.
Tetsuya hanya bisa menatap dengan tatapan macam keledai. Dia adalah pria yang digadang-gadang akan menjadi suami di masa depannya—Akashi Seijurou. Matanya melirik ke belakang. Pria yang tadi meraba-raba pantatnya dipegang erat oleh geng Akashi.
Seijurou sendiri tidak berucap apa-apa. Seluruh penghuni sekolah diam seribu bahasa. Mereka tidak berani berbuat macam-macam jika sudah bersangkutan dengan Seijurou—sang pemimpin yang amat ditakuti semua preman di kota Tokyo. Kaki pria itu berbalik arah, "Bawa pria bajingan itu ke ruangan guru. Tidak seharusnya pria sejati melecehkan seseorang."
Akashi Seijurou memanglah pria berengsek dengan sejuta kelakuan bajingannya yang hanya melakukan tawuran, merokok, minum-minuman keras, dan melanggar peraturan dan norma-norma yang ada. Tapi dari semua itu, tidak pernah sama sekali terpikirkan olehnya untuk melecehkan seorang pria maupun wanita. Tidak pernah sama sekali.
Setelah berucap, kini matanya melirik pada seluruh penghuni kantin, "Dan kalian—mengantre makanan dengan tertib. Kalian pikir ini tempat untuk tawuran?"
Tidak ada yang berani menjawab. Semuanya menundukkan kepala. Seijurou pun melangkah pergi dari kantin dengan anak buahnya—serta anak yang tadi melakukan pelecehan terhadap Tetsuya.
"Tetsuya... kamu tidak apa-apa?" Ryouta langsung menghampiri Tetsuya, "Kurang ajar sekali dia. Beraninya melakukan hal gila itu padamu."
Tetsuya masih diam. Matanya masih setia menatap punggung preman sekolah itu lalu.
Dirinya kini sadar.
Yang terlihat buruk pun belum tentu seburuk apa yang dipikirkan.
.
Bersambung
Tangerang, 16 Agustus 2018 - 13:53 PM
Edited
Tangerang, 17 Februari 2019 - 10:13 AM
a/n:
terima kasih sudah membaca
luv, Dianzu
