THE DEADLY GREEN WORLD

Chapter 1

Sakura menolehkan kepalanya kesana-kemari. Mencoba meneliti ruang lingkup hutan misterius yang akan dimasuki nya itu. Sebenarnya, hutan itu pun nampak seperti hutan-hutan pada umumnya. Hanya saja aura dari hutan itu yang berbeda. Seolah tidak memperbolehkan. orang lain memasuki wilayahnya. Sakura mengerutkan keningnya. Jelas ada yang aneh dengan hutan ini. Tapi apa ya?

Walaupun dahi nya lebar, bukan berarti otaknya encer. Sakura tidak pernah tau kenapa ayah dan ibu nya dulu selalu menghibur Sakura dengan mengatakan bahwa dahi lebar, artinya otak lebar. Dan otak lebar artinya pintar. Jujur saja, otaknya tidak secerdas Shikamaru yang bisa dengan mudahnya meneliti sesuatu. Bahkan Shikamaru saja tidak berdahi lebar. Malah kalau diingat-ingat, dari seluruh penduduk Konoha, mungkin hanya satu dua orang saja yang dahinya lebar. Seperti Sakura.

"Astaga…" , Sakura menghela nafas. Kenapa untuk menjalankan misi ini ia jadi memikirkan dahinya yang lebar ?

"Ada apa?"

Suara baritone itu membuatnya menolehkan kepala ke asal suara. Kakashi melirik Sakura dengan pandangan datar.

"Sejak kau terantuk tadi, rasanya kau jadi makin diam saja. Kepala mu baik-baik saja kan?"

"Dahi ku tetap lebar. Jadi kurasa kepala ku baik-baik saja" , Sakura menjawab asal-asalan. Kakashi mengangkat sebelah alisnya. Sakura mengerucutkan bibirnya.

"Kau lapar ? Kita bisa istirahat dan makan dulu jika kau mau."

Sakura menggeleng. "Tidak terimakasih. Aku tidak lapar. Lagi pula sebentar lagi kita memasuki hutan perbatasan itu kan? Semakin cepat semakin baik. Dan kita bisa cepat pulang ke Konoha"

Kakashi mengangguk-angguk.

Setelah itu suasana kembali hening. Tidak ada yang berani membuka suara. Sampai akhirnya Kakashi kembali membuka pembicaraan.

"Kau takut ya?"

"Eh?" , Sakura menoleh. Yang ditoleh tidak merasa sedang dipandangi. Ia malah mengeluarkan Icha-Icha Tactics dari dalam kantong senjatanya dan mulai membaca dengan tenang.

"Yah, mau bagaimana lagi? Sensei kan tau, misi ini berbahaya sekali. Kalau kita sampai terjebak disana bagaimana? Aku tidak mau itu terjadi."

Kakashi hanya mengangguk pelan. Sakura menatapnya datar, jelas sekali Kakashi lebih tertarik pada Icha-Icha ketimbang Sakura. Percuma saja ia bercerita panjang lebar kalau si pendengar hanya merespon dengan anggukan kepala. Tapi… daripada ia mati bosan disini, lebih baik bercerita saja. Maka, Sakura melanjutkan.

"Asal sensei tau saja, satu bulan lagi adalah hari ulangtahun ku. Kan tidak mungkin aku mati di usia ku yang masih sangat muda ini. Apalagi Ino sudah berjanji pada ku akan memberi ku hadiah yang sangat indah. Aku tidak tau itu apa. Tapi, sepertinya itu akan menyenangkan."

"Hm."

"Dan Naruto bahkan berjanji akan mentraktir ku ramen seharian penuh ! Astaga, aku pasti akan sangat kenyang nanti."

"…"

"Lagipula, Sasuke-kun saja bersedia datang ke pesta ulangtahun ku nanti. Ini benar-benar tidak bisa dilewatkan. Aku harus berdandan secantik mungkin dan membuat Sasuke-kun terpesona. Aku berani jamin, Sasuke-kun akan langsung jatuh cinta padaku malam itu."

Sakura tertawa. Kakashi hanya tersenyum menanggapi celotehan Sakura. Anak ini benar-benar bersemangat sekali ya untuk mendapatkan Sasuke?

"Tau tidak sensei? Saat aku pingsan di Rumah Sakit kemarin lusa itu, aku sedikit bermimpi kalau aku sedang digendong oleh seorang pria. Tapi aku tidak tau itu siapa. Saat aku bangun, aku menemukan Sasuke-kun berdiri disamping ku! Astaga, itu artinya Sasuke-kun yang menggendong ku!"

Kakashi tertawa pelan. Sedikit mulai terbawa cerita Sakura yang begitu antusias dan menarik. Kakashi menolehkan kepalanya ke arah Sakura dan menemukan si Kunoichi dalam keadaan wajah yang begitu memerah dan tersenyum tidak jelas. Kemudian ia menaruh kembali Icha-Icha ke kantong senjatanya. Memulai untuk menjadi pendengar yang baik.

"Kau bisa bayangkan sensei! Sasuke-kun yang begitu gagah, dengan lengan kekarnya dan dada bidang yang begitu hangat, sedang menggendongku dengan wajah cemas sembari memperhatikan wajah cantik ku yang sedang tertidur ini. Astaga, lalu dia menurunkan ku ke atas kasur dengan begitu lembut. Kemudian menyelimutiku sembari memperhatikan wajahku kembali. Dan…ah! Mungkin saja ia juga mengusap pipi ku pelan dengan tangannya yang halus itu. Lalu ketika ia akan pergi, aku sudah terbangun dari pingsan ku. Benar juga! Skenario nya pasti seperti itu." ,

Sakura mengusap-usap dagu nya bak seorang detektif yang tengah menyelidiki kasus pembunuhan. Untuk sesaat ia bahkan lupa kalau ia sedang berjalan menuju hutan misterius yang selalu dihindari nya itu. Kakashi memperhatikannya dengan seksama. Tersenyum kecil ketika melihat Sakura tiba-tiba tersenyum sendiri tidak jelas seperti orang gila.

Ya, gila karena cinta. Masuk akal juga. Tipikal remaja sekarang. Sedang digandrungi oleh yang namanya demam cinta.

"Lalu, kau berbicara dengan Sasuke setelah itu?"

Sakura menoleh sesaat. Sedikit terkejut bahwa Kakashi sudah tidak lagi membaca buku mesum nya itu.

"Errmmm, waktu itu…sepertinya…tidak.", Sakura menunjukkan cengirannya.

"Habisnya, Sasuke-kun hanya bertanya 'apa kau sudah baik-baik saja?' ,lalu pergi meninggalkan ku sendirian disana. Jahat sekali ya?" , Sakura mengerucutkan bibirnya.

Kakashi mengangkat sebelah alisnya. "Tadi kau begitu antusias bercerita tentang Sasuke padaku. Kenapa sekarang malah kecewa pada sikapnya ? Kau sudah tau kalau dari dulu ia memang seperti itu kan?"

"Ya, begitu lah. Tapi kupikir, sejak Perang Dunia Shinobi ke-4 berakhir dan kembali ke Konoha, ia akan sedikit lebih bersikap baik padaku. Ternyata, sama saja yah?" ,

Sakura tersenyum getir. Pada akhirnya, semua itu hanya menjadi mimpi-mimpi Sakura saja. Sasuke memang tidak akan pernah bisa ia raih. Dia sudah terlalu jauh berada di depannya. Sakura terlalu naïf. Ia bukan lagi gadis berusia dua belas tahun yang tergila-gila dengan ketampanan seorang Uchiha.. Sakura adalah seorang kunoichi berusia hampir sembilan belas tahun yang harusnya sudah bisa berfikir jernih.

Benar, lupakan soal cinta pertama itu. Tentang Sasuke-kun. Dan tentang cintanya yang tak pernah terbalaskan.

Ia sudah lelah. Kisah cinta Sakura dan Sasuke-kun sudah berakhir.

Sungguh? Apa benar begitu ? Jauh di dalam lubuk hati Sakura, ia masih ingin terus berjuang mendapatkan Sasuke. Tapi rasanya itu tidak mungkin. Sebab—

"Sakura!"

Sakura menolehkan kepalanya dengan cepat. "Hai!"

"Ada apa Kakashi-sensei ?"

Kakashi menghela nafas ringan. "Kau melamun. Mau terantuk lagi?"

Sakura menundukkan kepalanya pelan, malu. Benar juga, ia harus professional. Sakura tidak boleh mencampuri misi ini dengan perasaan pribadi nya.

"Gomenne, sensei. Lain kali aku tidak akan melamun lagi."

Kakashi tersenyum kecil. Ia mengacak-acak rambut Sakura pelan yang sontak saja mendapatkan injakan pelan pada kaki-nya sendiri.

"Aku sudah hampir 19 tahun. Jangan memperlakukan ku seperti anak kecil lagi, sensei."

"Ah, benarkah ? Sakura ku yang manja itu sudah hilang rupanya ?"

"Sensei.." , Sakura memukul lengan Kakashi pelan. Kakashi tertawa kecil. Baginya, Sakura tetaplah Sakura yang dikenalnya dulu. Gadis kecil manja yang selalu mencurahkan isi hatinya pada Kakashi dan berakhir dengan menangis di dada bidang gurunya itu.

Dan Sakura pun demikian, baginya, Kakashi tetaplah Kakashi. Pria dewasa yang suka datang terlambat dan gemar membaca buku mesum, tapi selalu melindungi murid-muridnya lebih dari apa pun..

Mereka tidak pernah berubah menjadi pribadi yang lain.

Sakura tersenyum, kemudian menoleh pada Kakashi. Kakashi tersenyum kembali. Membalas senyuman Sakura.

"Semuanya akan baik-baik saja. Jadi tenanglah dan jangan malu untuk mengejar Sasuke. Kalau kau mau, Sasuke pasti bisa menjadi milikmu. Jangan khawatir. Kau pasti bahagia nantinya."

ooooOOOOoooo

Naruto menguap lebar. Entah kenapa ia menjadi sangat mengantuk hari ini. Rasanya ingin tidur saja. Ia menaruh kedua tangan nya di belakang kepala pirang nya itu. Kemudian berjalan menyusuri Konoha dengan mata yang setengah tertutup.

"Astaga, aku bosan sekali."

Naruto mengeucutkan bibirnya. Tidak ada yang bisa menemaninya hari ini. Iruka-sensei sedang ada kelas. Konohamaru sedang liburan bersama tim nya ke desa sebelah. Ichiraku Ramen sedang tutup karena persediaan habis. Sasuke tidak mau diganggu. Dan Sakura sedang misi dengan Kaka-sensei.

Naruto mengerucutkan bibirnya, sebal. Kenapa hari ini sungguh membosankan ?!

Masa iya dirinya harus berkencan dengan Hinata lagi? Bisa-bisa ia ditendang ayahnya. Hm, menyeramkan.

Dan bodohnya ia juga menerima saja perjanjian yang dibuat sang Ketua Klan Hyuga itu.

Semenjak Naruto ketahuan memiliki hubungan dengan Hinata, ada jadwal khusus yang diberikan Hiashi Hyuga pada Naruto dan Hinata yang sudah resmi menjadi sepasang kekasih itu.

Pertama, tidak boleh berkencan lebih dari 3 kali selama sebulan. Dan bulan ini Naruto sudah berkencan selama 4 kali. Untung saja Hiashi sedang sakit, kalau tak begitu sudah pasti Naruto hanya tinggal nama saja.

Kedua, berkencan hanya diperbolehkan dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore. Memangnya mau berkencan model apa kalau siang-siang begitu? Berkencan di sawah ? Yang namanya kencan sudah pasti identik dengan makan malam bersama. Kenapa pak tua menyebalkan itu malah membuat perjanjian yang tidak masuk akal ? Astaga.

Kadang Naruto tak mengerti kenapa seorang Hiashi Hyuga itu sangat over protectic pada putri sulungnya? Bahkan sampai memberikan jadwal-jadwal gila yang harus diterima nya itu.

Klan Hyuga memang aneh.

Naruto menguap lebar. Memikirkan Hiashi hanya akan membuatnya tambah mengantuk.

Ia menoleh. Menemukan kedai makan dango yang tidak terlalu ramai. Yah, daripada ia menunggu Ramen saja seharian, sebaiknya ia mampir sebentar saja ke kedai dango itu.

"Konnichiwa…"

Sahutan ceria terdengar setelah Naruto mengucapkan salam dan beranjak duduk ke kursi kosong di dekat pintu. Sang pelayan kemudian menghampiri Naruto sembari menanyakan menu apa yang akan dipilih Naruto. "Aku dango biasa saja. Tiga porsi ya"

Sang pelayan segera menulis di catatan kecil dan beranjak masuk ke dalam. Naruto menopang dagu dengan tangannya. Kemudian mengela nafas ringan. Tidak lama kemudian ada dua pria bertubuh besar ikut memasuki kedai dango kecil itu. Mereka duduk di bangku belakang Naruto. Sementara sang jinchuriki Kyubi itu hanya melirik sekilas. Dua orang itu memulai pembiacaraan. Sang pria berambut hitam membuka suara terlebih dahulu.

"Hei, sudah dengar belum. Hutan misterius yang ada di perbatasan Konoha-Ame itu?"

"Ah, hutan ilusi itu ya? Hm, kudengar, siapapun yang masuk kesana tidak akan penah bisa kembali lagi." , sang pria berambut coklat menjawab.

"Ya, kudengar juga begitu. Yang aku bingungkan, kenapa masih saja banyak shinobi yang dikirim kesana? Apa mereka tidak takut ? Aku pernah lewat dilereng gunung yang ada disebelah hutan itu. Astaga, melihatnya dari kejauhan saja membuatku merinding."

Naruto terkikik kecil mendengar pembicaraan mereka. Tidak disangka pria bertubuh kekar itu bisa juga merinding hanya karena rerumbunan pohon.

"Benarkah? Hati-hati lah kau. Jangan lewat sana lagi. Bisa-bisa kau terbawa juga "

"Hei jangan mendoakan yang tidak-tidak dong."

"Habisnya kau itu."

"Tapi, tau tidak, pagi ini Hatake Kakashi dan kunoichi pink berdahi lebar itu dikirim kesana loh."

Naruto mengangkat sebelah alisnya. Mulai tetarik menguping sejak sang guru dan sahabat nya itu ikut terbawa dalam cerita si pria besar.

"Benarkah? Astaga, kalau sampai Hatake Kakashi saja tidak kembali, maka hutan itu benar-benar akan menjadi hutan telarang!"

"Kenapa bisa begitu?"

"Kau pasti tau kan, Hatake adalah shinobi jenius yang sudah terkenal seantero dunia ninja. Insting dan kemampuan akan mengantarnya ke hutan itu dan menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, begitu ia mengetahui nya, itu akan terlambat. Sebab ia sudah pasti terperangkap kesana juga. "

"Bagaimana kau bisa yakin ? Dia pasti bisa keluar dari hutan itu. Aku pun yakin. Karena itulah Hokage mengirimnya kesana."

"Yah, instingku mengatakan demikian. Kalau keluar dari hutan itu, siapapun bisa. Kemarin lusa saja sekelompok ANBU berhasil menyelidiki hutan itu dan kembali ke Konoha dengan selamat . Tapi penyelidikan mereka hanya sekilas saja. Karena itu lah kemungkinan Hatake disuruh untuk melanjutkan misi itu."

Sang pria berambut hitam itu terlihat mengangguk-angguk. Mulai percaya dengan yang dikatakan temannya itu. Tapi beberapa detik kemudian ia bersuara lagi.

"Tapi aku yakin, dia pasti bisa kembali."

"Hm, entahlah." , temannya itu mengangkat bahu enteng.

Naruto mulai memakan dango nya dengan pelan. Sedikit terkejut dango nya sudah berada di meja sedari tadi. Ia pasti terbawa cerita dua orang penggosip itu.

"Hei, mau bertaruh tidak?" , sang pria berambut coklat menawarkan. "Ayo kita lihat, apakah Hatake dan kunoichi pink itu bisa kembali atau tidak. Kalau mereka kembali, aku akan membayar mu. Tapi jika mereka tidak selamat, maka kau harus mentraktir ku selama dua bulan penuh."

"Heeii, kenapa taruhannya berbeda? Itu tidak adil namanya."

"Kau kan lebih suka uang. Aku lebih suka makanan. Jadi taruhan ini menjadi imbang."

"Hm, benar juga ya ? Oke-oke. Aku terima."

BRAKK

Naruto menggebrak meja dengan keras. Ia kemudian menghampiri kedua pria yang ada di belakangnya itu. Dengan mata yang berkilat-kilat, ia mencengkram kerah baju pria berambut coklat dan mengangkatnya dengan kasar.

"Berani-berani nya kau menjadikan keselamatan guru dan sahabat ku sebagai taruhan bodoh mu itu! Kau tidak tau siapa mereka?! Mereka pasti bisa selamat dan kembali ke Konoha dengan santai."

Sang pria berambut hitam sontak berdiri dan berusaha melepaskan cengkraman Naruto pada temannya itu, namun gagal. Mungkin Kyubi tengah membantu Naruto.

"A-aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku bertaruh atas keselamatan mereka. Jangan khawatir. Aku percaya mereka akan kembali."

"Cih, siapa tadi yang bilang bahwa Kakahi-sensei dan Sakura-chan tidak akan selamat ?"

Yang ditanya hanya terdiam bisu. Keringat dingin sudah membanjiri wajah hitamnya itu. Aneh, penampilan sangar tidak membuktikan bahwa jiwanya juga sangar.

"Jawab aku, preman!"

Orang-orang mulai melerai mereka berdua. Naruto melapaskan cengkraman nya dengan kasar dan mendengar batuk yang dibuat-buat oleh orang yang baru saja ia cekik itu. Ia masih menatap kedua orang brengsek itu dengan tangan mengepal. "Kalau berani kau membahas Kaka-sensei dan Sakura-chan seperti itu lagi, awas saja kau."

Dengan itu Naruto beranjak keluar sembari menaruh uang di meja nya sendiri. Ia kemudian berjalan dengan terburu-buru ke kantor Hokage. Sementara itu, samar-samar ia mendengar ada yang berbicara.

"Itu kan Uzumaki Naruto. Anak gelandagan yang sekarang sudah menjadi pahlawan desa. Hm, pahlawan desa apanya. Tidak ada pahlawan yang akan mencekik orang hanya karena salah bicara. Dasar ."

Naruto tidak menggubrisnya. Ia tetap melesat pergi menuju Kantor Hokage.

Hari ini memang benar-benar hari yang melelahkan.

ooooOOOOoooo

"Baa-chan !"

Teriakan Naruto membuyarkan pikiran Tsunade yang sedang menerawang jauh tentang rentetan kasus yang belakangan ini terjadi. Ia mendengus kesal melihat sang Jinchuriki datang ke kantornya dengan wajah yang berantakan. Tsunade menopang dagunya.

"Ada apa, Naruto? Sudah berapa kali aku bilang padamu, jangan masuk ke ruanganku sembarangan." ,ucapnya malas.

"Itu tidak penting sekarang! Yang ingin aku tanyakan, misi apa yang kau berikan pada Kakashi-sensei dan Sakura-chan ?!"

"Jangan membentakku!"

Naruto terperanjat. Kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari tersenyum rubah.

"A-aku..hanya ingin tahu, kau memberikan tugas apa pada Kakashi-sensei dan Sakura-chan ? Apa ini ada hubungannya dengan hutan misterius itu di perbatasan itu?"

Tsunade mengerutkan keningnya sesaat sebelum akhirnya menghela nafas pasrah.

"Darimana kau tau itu, Naruto? Itu adalah rahasia misi. Tidak boleh ada yang tau tentang misi rahasia selain ninja yang bersangkutan dan aku, tentu saja."

Naruto mendengus keras, yang sontak saja mendapat death-glare dari Tsunade.

"Misi rahasia apanya ? Semua orang sudah tahu, baa-chan! Semenjak eksistensi hutan perbatasan itu meluas, dan para kage juga sering mengirim ninja-ninja nya pergi, semua orang beranggapan bahwa ninja-ninja itu pergi untuk menyelidikinya. Sebab itu lah, ketika Kakashi-sensei dan Sakura-chan pergi, mereka pun berfikir demikian."

Tsunade menatapnya tajam.

"Dan kau tau bagaimana orang-orang menilai Kakashi-sensei."

Sang Hokage akhirnya menghela nafas, mengusap dahi nya pelan, "Sudahlah Naruto, kau tidak perlu berpikir yang tidak-tidak. Mereka berdua akan baik-baik saja. Lagipula, aku hanya menyuruh mereka menyelidiki hutan nya. Bukan 'inti' dari hutan itu."

"Inti ?"

"Hm, dan kau tidak perlu tau menahu soal inti dari hutan itu." , Naruto mendengus kembali, untuk kesekian kalinya.

"Kalau begitu beri aku misi ini juga. Biarkan aku menyusul Kakashi-sensei dan Sakura-chan."

"Apa? Apa-apa an kau ini?"

"Aku hanya ingin membuktikan kalau pendapat orang-orang itu sepenuhnya salah!"

Tsunade menhela nafas, untuk kesekian kalinya. "Lupakan itu. Aku punya misi lain untukmu."

"Misi ?"

"Hm" ,ia mengeluarkan gulungan rahasia dan dilemparkannya ke Naruto. Naruto segera mengerutkan keningnya. "Misi apa ini ?"

"Buka saja"

Naruto membuka gulungan misi itu dengan mata menyipit. Begitu membaca tulisan yang tertera di dalamnya, Naruto berteriak.

"Baachan!"

Tsunade tertawa. Ia memutar kursinya dan menatap Konoha dengan santai. Menghiraukan Naruto yang sekarang berteriak-teriak seperti orang gila. Ya, lagipula Naruto lebih cocok menerima misi itu ketimbang ikut Kakashi ke misi nya. Ia terkikik lagi. 'Rasakan kau, Naruto'

Misi : Menjadi Pengawal Pangeran Kerajaan Mahatari selama Pangeran berlibur ke Kumogakure

ooooOOOOoooo

"Ah iya, aku lupa bilang. Ketika kita sudah sampai sana, jangan sekali-kali kau menggunakan cakra."

Sakura menoleh, heran. "Kenapa?"

"Di dalam hutan itu ada pohon besar yang bagian tengah nya membelah. ANBU yang kemarin lusa kesana mengatakan, ada semacam cakra penyerap yang bersumber dari belahan pohon itu."

"Jadi..kalau kita sampai menggunakan cakra, kita akan diserap kesana, begitu?"

"Yah, semacam itu."

"Sensei, berseriuslah sedikit! Informasi sepenting itu kenapa tidak kau beritahukan pada ku dari tadi sih ?" , Sakura mencubit lengan Kakashi keras.

Sakura menggerutu. Kakashi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lagipula menurutnya, terlalu serius hanya akan mempersulit misi. Maka rileks saja dan semua akan berjalan dengan semestinya. Benar kan ? Tapi sepertinya Sakura sudah terlalu serius sejak mendengar misi ini. Jadi ya apa boleh buat?

Sakura berhenti melangkah. Membuat Kakashi yang berjarak sedikit di belakangnya ikut berhenti. Ia menoleh ke arah sang Kunoichi. "Kenapa?"

Sakura menatap di depannya. Pandangan nya sedikit terlihat ketakutan.

Kakashi menoleh ke depan.

Pohon besar dengan akar yang menggantung dan daun yang begitu lebat. Bagian tengah pohon itu membelah, layaknya tirai yang menyambut kedatangan mereka berdua. Hanya gelap yang terlihat sejauh Kakashi dan Sakura lihat ke dalam belahan pohon itu. Aura tak nyaman langsung menyembul keluar dan membuat Sakura bergidik sekilas.

Aneh, sejak kapan mereka memasuki hutan ini. Kenapa tau tau sudah di depan pohon besar itu? Astaga, pasti Kakashi melamun sampai-sampai tidak memperhatikan jalan.

Mungkin Sakura ada benarnya, berserius sedikit itu perlu.

Kakashi mulai melangkah lagi. Sakura mengikutinya dengan ragu-ragu.

"Tenang saja, kita tidak akan masuk kesana. Asal kita tidak menggunakan cakra , semua akan baik-baik saja."

Sakura mengangguk, yang tak bisa dilihat Kakashi. Copy nin itu kini sedang berjongkok dan mengambil sesuatu. Sakura menghampiri nya. "Apa itu yang ada di tangan mu ?"

"Hitai-ate ninja Suna, pasti ia sudah terbawa ke dalam sana."

"Ya."

Kakashi kembali berdiri, kemudian mendekati pohon besar itu. Sakura terkejut. "Sensei! Jangan mendekat kesana!" Sakura segera menarik lengan Kakashi. Kakashi menatap Sakura dengan heran.

"Apa-apaan kau itu? Kau mau ikut kesana juga?! Kalau sejak awal rencana mu itu aku tidak akan segan-segan menyetujui misi ini!"

"Hei-hei, aku bukan ingin kesana. Lagipula aku masih ingin membaca Icha-Icha lagi. Tidak mungkin aku membiarkan hidupku berakhir disini."

"Kalau begitu tadi itu apa, ha?!"

Kakashi menghela nafas. Menghadapi wanita memang sangat merepotkan. "Tadi aku mendekat kesana, sebab aku melihat ada sesuatu yang bergerak. Karena itu lah aku mendekatinya."

Sakura seketika terdiam sebentar. "Sesuatu..yang bergerak?"

"Ya."

Sakura kemudian melepaskan genggaman nya pada lengan Kakashi. Ia meneliti sekeliling. Apakah benar ada yang bergerak ? Saat ini ia tidak ingin berfikir yang aneh-aneh. Anggap saja yang bergerak itu mungkin daun yang terkibas angin. Itu saja sudah cukup.

Tapi semua pikiran positifnya itu seketika menghilang begitu ia merasa ada yang menggerayai kaki nya.

Sakura menoleh ke bawah.

"Sensei!"

Kakashi menoleh cepat ke arah Sakura. Kemudian terbelalak mengetahui ada sulur yang mulai berjalan mengikat Sakura dari bawah.

Ia segera mengambil kunainya dan memotong sulur-sulur disekitar Sakura. Setelah terbebas, Sakura melakukan hal yang sama dengan Kakashi. Ini sudah parah. Kini mereka berdua dikelilingi sulur yang bergerak mendekati mereka. Kakashi segera memotong sulur itu dengan cekatan. Ia bergerak maju agar akses sulur itu menyempit. Belum sempat semua terpotong, teriakan Sakura membuatnya terbelalak.

"Shannaro..!"

Sakura mengaliri cakra di kepalan tangannya dan segera memukul tanah untuk mengahabisi sulur-sulur itu. Sulur itu pun amblas masuk ke dalam tanah. Sakura mengehal nafas bangga. Akhirnya, sulur itu hilang juga.

"!" , ia terperanjat. 'Astaga, apa yang sudah kulakukan?' , Sakura menoleh pelan kearah tangannya sendiri. Cakra.

"Sakura, menjauh!" , teriakan Kakashi membuyarkan ketakutannya. Ia segera melompat, namun angin besar mulai menariknya masuk ke dalam pohon itu.

"S-sensei ! Tolong aku !"

Kakashi bergerak mendekati Sakura, menarik tangannya dan mencoba membawa nya menjauh.

Terlambat. Pohon itu mulai menyerap apa pun yang ada di depannya. Sakura mulai terserap. Ia tidak bisa melihat Kakashi walau ia yakin ia masih merasakan ada tangan yang berusaha menariknya. Kemudian kilatan cahaya putih yang begitu bersilau membuatnya menutup mata. Tidak lama ia mencerna apa yang terjadi, sebab ia memang benar-benar terserap.

Ke dalam dunia hijau yang mematikan itu.

Dan semua menjadi benar-benar putih, hingga ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

Sakura tak sadarkan diri.

ooooOOOOoooo

Yosh, ariagatou minna yang sudah mau me-review dan sudah menunggu lanjutan cerita ini. :) dan juga yang bersedia menjadikan cerita ini sbg salah satu cerita favorit kalian semua :') aku sangat terharu *lebay*

Gomen ne, lama. Butuh waktu dua bulan untuk hanya sekedar meng-update ch 2 ini *astaga saya merasa malu*

Anyway, semoga kalian menyukai nya *walau cerita ini mungkin GJ* :')

Jangan lupa meninggalkan jejak yaaaa :D

Beri aku saran juga bagaimana aku harus melanjutkan cerita ini, walau jujur saja cerita ini sudah tamat di otak ku :D *lupakan*

Akhir kata,

Sayounara, minna san ! :D