Desa disebuah pinggiran sungai dan bukit hijau. Dihuni beberapa ras yang cinta perdamaian, Elf dan beberapa kaum bangsawan. Beberapa pedagang yang menyapa dan menawarkan dagangannya pada Gusion dan Alucard. Mereka banyak memilih memperhatikan dan menilai dua pemuda itu. Ada yang berbisik mencurigai ada pula yang terpesona.
Alucard memberi mereka senyum canggung, sedangkan Gusion berbalik melirik dengan sinis. Jika saja orang-orang ini tau dia dan Alu adalah utusan Odette, pasti sikap mereka tidak akan seperti itu. Nah, tentunya seluruh Land of Dawn sudah tau siapa itu Odette. Satu dari beberapa Queen bagian barat yang dijuluki Princess of Swan. Tapi Gusion tidak akan berteriak dengan bangga jika ia adalah utusan Odette.
Keduanya memasuki sebuah penginapan yang cukup besar. Seorang (atau seekor) siluman kucing (atau rakun?) menghampiri keduanya dari balik meja pesan. Siluman kecil itu tersenyum dan menyodorkan sebuah kunci dengan bandul kayu bertuliskan 226.
"Pesan kamar, kan?" tanya kucing itu.
"Ah tentu_" Alucard mengambil kunci itu dan tersenyum.
"Siapa namamu?"
"Nana! Aku disini bersama kakakku, Miya. Dia disana!" balas Nana yang lalu menunjuk seorang Elf yang sedang mengantarkan makanan.
"Ah, begitu. Baiklah, terimakasih Nana," ujar Alu sambil menggoyangkan kuncinya.
"Kau beristirahat dulu, aku ingin berkeliling," ujar Gusion. Ia melemparkan satu kantung kecil uang koin.
"Ha? Kau yakin tidak mau istirahat juga?"
"Tidak."
Setelahnya Gusion keluar penginapan. Alucard hanya berdecak kesal. Punya patner yang memiliki tingkat diatasnya itu menjengkelkan. Apa lagi dengan kemampuan yang gila seperti Gusion.
"Temanmu itu, Penyihir?" tanya Nana.
"Bukan penyihir juga sih. Mage sekaligus Assassin. Dia orang pertama yang aku akui kuat. Ya.. soalnya aku belum tahu kekuatan pemimpin kami dan seseorang yang dipanggil Ashura itu."
"Ashura?!" pekik Nana histeris. Beberapa orang menoleh padanya dengan ekspresi horor. Nana minta maaf dan memukul kepalanya.
"Kau tau?" tanya Alu.
"Siapa yang tidak kenal dia." Miya datang menghampiri keduanya. Elf itu memberikan Alu senyum ramah.
"Salah satu iblis yang selalu kami hindari. Bahkan jika ada perang sekalipun, kami coba untuk menghindarinya."
"Jadi, dia sangat kuat?" tanya Alu lagi.
"Seni bertarungnya dan kemampuan iblisnya cukup untuk menghabisi kami. Jika saja dulu desa ini tidak ditolong oleh keluarga bangsawan Vance. Putra keluarga itu sangat hebat dengan ilmu sihir, ditambah dengan seorang assassin yang membantunya dari balik bayangan," jelas Miya.
Alucard mengagguk paham. Ternyata Ashura tidak bisa dilawan dengan cara gegabah. Ia sendiri yakin jika ia dan Gusion pasti akan kalah telak, mengingat Ashura juga memiliki orang kepercayaan yang sudah menjadi tangan kanan Ashura. Alu berkedip.
"Hei, kalian tau siapa tangan kanan Ashura itu?"
-xoxoxoxo-
Gusion tidak berkeliling. Ia menemukan spot terbaik untuk beristirahat, dengan pemandangan lapangan latihan yang penuh dengan Elf muda. Gusion duduk dan bersandar diatas pohon, memperhatikan para Elf yang berlatih dengan sihir atau senjata mereka. Diantara para Elf itu, ada dua orang yang berbeda. Seorang pemuda kecil dan petwmpuan dengan senjata api. Pemuda kecil itu nampak mengajari sihir yang berbeda pada para Elf itu. Sedangkan perempuan yang satunya hanya mengamati dari belakangnya.
"Sniper, itu berarti anak itu adalah Harley," gumam Gusion menebak.
Tak lama kemudian pandangannya dengan wanita Sniper itu bertemu. Gusion yang merasakan gelagat aneh segera pergi dari tempat itu. Ia jelas melihat jika perempuan itu hendak mengambil senapannya. Gusion mendarat disebuah taman kecil. Disitu ia melihat seorang pemuda yang sedang tidur bersandar pada bangku panjang dibawah pohon. Ada seekor monyet yang memegang pistol kecil di samping pemuda itu.
Gusion menarik belatinya perlahan. Ia menyipitkan mata, menganalisa tato ringan yang menghias mata kanan pemuda itu. Gusion mundur selangkah dan memasang kuda-kuda. Pemuda itu tersenyum dan membuka matanya. Gusion mendengus dan menyimpan belatinya. Pemuda didepannya merenggangkan tangannya lalu berdiri.
"Kau berniat merampokku?" tanyanya langsung.
Gusion memberikan tatapan sinis sebelum meninggalkan pemuda yang sudah ia anggap gila itu. Dan samar-samar Gusion mendengar pemuda itu berteriak,
"Hei! Aku Claude! Siapa namamu?!"
Gusion hanya berdecak dan mengabaikannya. Tapi kalau dipikir lagi, ia seperti mengenal ciri tato seserhana itu. Nah, Gusion berhenti. Ia baru menyadarinya sekarang dan ia terlambat beberapa detik. Moncong pistol dari pemuda bernama Claude itu sudah menyentuh belakang kepalanya.
"Sedang apa?" tanya Claude mengejek. Ia menarik jubah (atau syal?) Gusion, membuat pemuda mage itu menggeram.
"Apa yang kau lakukan disini?" balas Gusion dengan pertanyaan.
"Hmm.. Apa ya? Kau tau kalau disini ada seorang raja? Dengan sebuah buku legendaris?" Claude tertawa dan berbisik ditelinga Gusion.
"We need the book."
Dan dari arah desa, terdengar sebuah ledakan yang cukup besar. Gusion terdiam, ada aura iblis yang cukup besar dari sana.
To Be Continue.
