Matahari dan Bunga Matahari

2: Mengenang Matahari

.

Warning: HPA!AU.Quick-pace. OOC?Typo(s)? Quick typing as usual. Lack of description?

Disclaimer: NDRV3 © Spike Chunsoft, Kazutaka Kodaka(? masih mager nyari). Saya tidak mendapat keuntungan materi dari sini.

.

Terkadang Shuichi bertanya di dalam hatinya, apa yang ia telah lakukan selama ini hingga pantas mendapatkan gadis seperti ini. Gadis yang dapat diibaratkan sebagai matahari, yang bersinar dan memberi kehangatan, itu menjadi kekasihnya. Ia merasa tidak pantas menjadi laki-laki yang mendampingi seorang Kaede Akamatsu.

(Meski Kaito sering memarahinya karena ia kurang jantan untuk seorang laki-laki.)

Maksudnya, lihatlah Rantarou Amami. Ia sangat handal mengurusi dan memahami perempuan. Mungkin hal tersebut dikarenakan 12 saudara perempuannya. Tetapi, bukankah Akamatsu, maksudnya, Kaede akan lebih bahagia jika bersama Amami?

Pemuda dengan julukan detektif muda itu kembali teringat dengan awal hubungan spesial mereka dimulai. Pada saat kelulusan mereka, Kaede menghampirinya dan meminta kancing kedua seragam sekolah Shuichi. Karena ketidakpekaan pemuda berambut hitam itu, sang pianis mau tidak mau menjabarkan setiap maksudnya.

"Jadi, aku menyukaimu, Saihara-kun."

Shuichi membatu, tangannya tanpa sadar menggenggam tanda kelulusan lebih erat, suara meriah mendadak hilang begitu saja. Pemandangan di depannya terlalu indah ... Angin berhembus dan menerbangkan beberapa kelopak bunga Sakura yang telah berguguran, cuaca hari ini begitu cerah, dan gadis di depannya ... Sangatlah cantik.

"Saihara-kun?" suara Kaede menyadarkan lamunan Shuichi, "Kau tidak apa?"

Shuichi membuka mulutnya dan suara yang ia keluarkan bergetar, "A-apa ini mimpi?"

Kaede, perempuan yang ia sukai sejak lama, memiliki perasaan yang sama dengannya. Itu merupakan salah satu mimpi bagi seorang Shuichi Saihara. Tidak mungkin ia yang pemalu, tidak percaya diri ini disukai oleh gadis pianis itu.

"Hah? Tentu ini adalah kenyataan, Saihara-kun!" gadis itu menjawab dengan suara lembut.

Kejadian itu ditutup dengan Shuichi menganggukkan pelan kepalanya dan berbisik bahwa ia juga menyukai Kaede.

"Shuichi-kun!" suara yang menghiasi hari-harinya itu kembali terdengar.

Yang dipanggil segera tersentak, "Ya, Akamatsu-san?" sebelum ia dimarahi, ia segera meralat, "Ma-maksudku, Kaede ..."

Kaede yang sebelumnya menggembungkan pipinya tersebut kemudian menggenggam erat tangan kekasihnya, "Aku hanya bertanya, apa kau mau bermain piano bersamaku lagi? Kupikir aku menemukan lagu yang cocok untuk dimainkan bersama."

Shuichi tersenyum dan mengeratkan genggaman tangan mereka, "Tentu saja aku mau."

Mungkin ia terlalu banyak berpikir tentang hal tersebut. Mungkin ia telah membiarkan rasa ketidakamanannya mengambil alih. Mungkin yang terbaik untuknya sekarang adalah menganggap bahwa Kaede adalah malaikat yang dikirimkan ke dalam kehidupannya.

.

A/N:

Sekarang bagian fluff~ Berhubung asupan saiaka sedang menipis, jadi saya buat sendiri... Menunggu September terasa lama.

Thankies for reading and have a nice day!

Shaun.