We Got Married
I do not owned the characters. All these characters are owned by Masashi Kishimoto. If you can't tolarate Naruto is the seme and Sasuke is the uke, you may click the X button or search another story. Respect author's story and please do not report it.
Update-an ini sebagai hadiah tahun baru buat kalian yang ngga ada kerjaan pas tahun baru ini, sama seperti aku. Hehehe. Selamat membaca dan HAPPY NEW YEAR 2017 ^^
Chapter 2
"Maksudnya, karena Hinata-chan mengandung anak laki-laki. Kau harus menikah dengan Sasuke, Naruto-kun. Kau akan menjadi suaminya Sasuke, sayang" jawab Mikoto lembut dan ada nada senang dalam suaranya.
Naruto speechless mendengarnya. Begitu juga dengan Menma dan Itachi yang baru pertama kali mendengar tradisi yang kedua. Sasuke tetap dengan ekspresi tak terbacanya.
Setelah terdiam beberapa menit untuk mencerna dengan jelas perkataan Mikoto, akhirnya Naruto menemukan suaranya dan mencoba bertanya. "Kenapa harus aku dengan Sasuke? Maksudku, kami berdua tidak begitu dekat"
"Keluarga utama dari klan Hyūga hanya mempunyai 2 anak perempuan dan 1 anak laki-laki. Hinata-chan yang menikah dengan Menma-kun, dan adiknya Hinata-chan adalah Hanabi-chan. Sedangkan Neji-kun yang akan menjadi kepala keluarga selanjutnya" jawab Mikoto.
"Tradisi yang kedua ini untuk menjaga agar kepala keluarga dari keluarga utama masing-masing klan tetap berada pada anak laki-laki pertama. Saat ini kepala keluarga dari keluarga utama klan Namikaze adalah aku. Jika Kushina melahirkan Menma sebagai anak perempuan, maka kepala keluarga akan berpindah tangan ke adikku. Sayangnya, aku tidak memiliki adik. Lalu jika jenis kelamin janin Hinata adalah perempuan, posisi kepala keluarga berikutnya akan jatuh padamu, Naruto. Dan kau akan menikah dengan sepupunya Sasuke, Izumi. Namun ada pengecualian jika salah satu keluarga utama hanya memiliki 1 anak laki-laki. Dia bisa menikah dengan klan lain. Contohnya aku dan kaa-sanmu yang berasal dari klan Uzumaki" jelas Minato panjang lebar.
"Jadi nanti Neji-ni-san bisa menikah selain dari klan Uchiha dan klan Namikaze?" tanya Naruto.
"Iya, sayang" jawab Kushina.
"Karena pernikahan akan dilakukan setelah Hinata melahirkan, jadi kalian lakukanlah pendekatan terlebih dahulu. Juga karena Naruto dan Sasuke masih duduk dibangku kuliah, lebih baik pernikahan kita lakukan secara tertutup. Cukup klan Uchiha, Namikaze, dan Hyūga saja. Bagaimana menurut kalian?" tanya Fugaku memulai diskusi tentang pernikahan Naruto dan Sasuke. Mikoto dan Kushina terlihat bersemangat membahasnya. Begitu juga Itachi dan Menma yang tertarik dengan pernikahan adik mereka. Hinata tidak kalah semangatnya dengan Mikoto dan Kushina. Para wanita bahkan sudah merencanakan baju seperti apa yang Naruto dan Sasuke kenakan nanti dan juga dress mereka.
Naruto yang masih shock memilih untuk ke taman yang ada dirumah itu untuk menjernihkan pikirannya. Dia mendudukkan dirinya di kursi yang ada dan mendongakkan kepalanya melihat langit yang penuh dengan bintang dan malam ini bulan sedang purnama. Tanpa dia sadari, Sasuke melihatnya dari arah dapur masih dengan poker facenya. Posisi Sasuke saat ini tersembunyi dari ruang tengah. Jadi orang yang berada di ruang tengah tidak akan bisa melihat Sasuke saat ini.
Bulan demi bulan berlalu. 4 bulan Naruto dan Sasuke diisi dengan jadwal kuliah, organisasi, dan persiapan pernikahan mereka. Mulai dari fitting jas yang berakhir dengan Naruto dan Sasuke akan mengenakan tuxedo putih, mengukur cincin, hingga makan malam romantis di hotel berbintang yang kaa-san mereka siapkan seminggu sebelum hari pernikahan, walaupun selama kencan itu mereka hanya diam menikmati hidangan yang ada. Designer tuxedo dan cincin berasal dari klan Namikaze dan Uchiha. Hotel berbintang itupun merupakan kepunyaan klan Hyūga. Persiapan benar-benar tertutup, berita pernikahan mereka benar-benar terbatas hanya di klan Hyūga, Uchiha, dan Namikaze saja.
Back to the present
Naruto terbangun di pagi hari masih dengan kemeja dan celana tuxedonya. Dia tidak tersadar tertidur di sofa ruang tengah. Mungkin tubuhnya terlalu letih untuk berjalan menuju kasur. Dia mencari jam dan melihat jam dinding yang terpasang di atas TV, jarum jam sudah menunjukkan angka 9. Dia segera bangun karena mengingat dia ada kelas jam 11. Saat terbangun, dia baru menyadari ada selimut yang menutupi badannya. 'Ternyata Sasuke baik juga, dia masih ada rasa kasihan melihatku tidur tanpa selimut' ucapnya dalam hati.
Tidak ingin terlambat, Naruto segera mandi dan berangkat kuliah tanpa memakan sarapan yang Sasuke buat untuknya walaupun hanya sandwich. Dia pergi menggunakan mobil lambourgini hitam dengan sentuhan orange berbentuk api kesayangannya. Saat dia terbangun tadi, dia menemukan dirinya sendirian di rumah. Sepertinya Sasuke ada kelas pagi sehingga tidak sempat membangunkan Naruto.
Naruto sampai di parkiran kampus jam 10:50. 10 menit lagi kelas akan dimulai. Sialnya, dosen untuk kelas hari ini tidak mengijinkan mahasiswa datang terlambat dan kelasnya berada di lantai 5. Lift yang dia tunggu baru saja turun dari lantai 8 dan 9. Karena tidak memiliki banyak waktu, Naruto memilih berlari menaiki tangga ke lantai 5. Dengan nafas terputus-putus, dia sampai di bangkunya jam 10:59. Tak lama setelah itu, dosenpun masuk dan kelas dimulai.
Naruto tiba di rumah jam 5 sore. Dia memiliki kebiasaan sejak kecil yaitu tidur sebelum makan malam. Karena saat ini belum malam, dia tidur sejenak. Seharian dia belum pernah bertemu Sasuke, walaupun gedung perkuliahan mereka sama. Sebelum perjodohan mereka, setiap hari pasti mereka bertemu, walaupun sekadar tak sengaja bertemu di kantin. Entah Sasuke menghindarinya atau tidak, Naruto tidak mau memikirkannya.
Jam 6:30 Sasuke baru saja pulang. Sasuke melihat sepatu Naruto di rak sepatu yang mengartikan Naruto pulang lebih awal darinya. Sebentar lagi jam makan malam, sebagai seorang istri, walaupun terpaksa menikah, Sasuke tetap memiliki tanggung jawab untuk memasak makan malam. Saat sedang melihat-lihat persediaan makanan di kulkas, bel rumah mereka berbunyi. Sasuke segera membukanya dan sosok Kushina tampak di depan pintu.
"Malam, Sasuke-kun" sapa Kushina ramah.
"Malam juga, Kushina-ba-san. Silahkan masuk"
"Kok manggil ba-san, sih? Kamu kan sudah jadi istrinya Naruto. Berarti panggil aku kaa-chan. Seperti Hinata-chan" Kushina cemberut karena Sasuke masih memanggilnya ba-san (tante) sambil berjalan ke arah dapur yang diikuti Sasuke dibelakang.
"Ka... Kaa-san... Kaa-san" jawab Sasuke kikuk.
"Kok kaa-san, Sasuke-kun? Ya sudah, tidak apa-apa. Mungkin kamu belum terbiasa. Tapi biasakan panggil kaa-chan ya" peringat Kushina dengan senyum maklum.
"Baik, kaa-san"
"Kamu mau memasak makan malam, sayang?"
"Iya, kaa-san. Aku mau memasak ramen dengan tiram. Entah kenapa persediaan tiram dan ramen banyak sekali, padahal yang lain sedikit" cerita Sasuke.
"Oh begitu" jawab Kushina dengan senyuman misteriusnya. Sasuke bingung dengan maksud senyuman Kushina tetapi dia memilih mengabaikannya. "Oh iya, kamu mau kue, sayang? Aku selalu membuat kue untuk dessert makan malam. Naruto sangat suka kue, apalagi kue cokelat. Kalian bisa memakannya nanti. Em.. Naruto mana ya? Belum pulang kuliah?"
"Naruto pulang terlebih dulu dariku. Mungkin dikamar. Kaa-san mau bertemu dengannya?"
"Tidak usah, sayang. Biasanya dia tidur sebelum jam makan malam. Biarkan dia tidur. Kalo begitu, kaa-chan kembali ke mansion dulu ya. Tou-chan sebentar lagi pulang, kaa-chan juga harus menyiapkan makan malam" pamit Kushina.
"Terima kasih kuenya, kaa-san"
"Sama-sama. Tidak perlu sungkan begitu, Sasuke-kun. Kau sekarang adalah anak kaa-chan juga. Jadi kalu ada perlu sesuatu, kamu bisa menghubungi kaa-san" ucap Kushina. Saat hendak melangkah pergi, Kushina berhenti depan pintu dan berbalik lagi. "Bilang ke kaa-chan ya, kalau Naruto berbuat kasar padamu atau menyakitimu atau membuatmu menangis. Akan kaa-chan hukum dia" pinta Kushina pada Sasuke dengan rambutnya yang berdiri layaknya ekor serigala berekor 9 yang melambai-lambai.
"Baik, kaa-san" jawab Sasuke dengan kikuk. Setelah Kushina pergi, Sasuke melanjutkan pekerjaannya. Sekitar 15 menit kemudian, makanan sudah jadi dan siap untuk disantap. Sasuke membangunkan Naruto yang tidur dikamar mereka. Ya, kamar mereka karena di rumah itu hanya 1 kamar tidur, 1 kamar mandi, ruang makan menjadi satu dengan dapur, dan ruang tengah berukuran sedang yang menghubungkan langsung dengan taman belakang serta kolam ikan kecil. Rumah yang mereka tempati saat ini bukan rumah mereka yang sesungguhnya. Tou-san dan kaa-san mereka sudah menyiapkan rumah mereka yang sesungguhnya yang berada di salah satu perumahan mewah di Konohagakure.
"Naruto, bangun. Ayo kita makan malam. Makanan sudah siap" panggil Sasuke dari ambang pintu. Seperti sebuah mantra, mata Naruto terbuka secara perlahan setelah dia mendengar kata makan malam. Naruto segera bangkit dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sasuke meninggalkannya ke meja makan duluan. Tak lama setelah Sasuke mendudukkan pantatnya di kursi, Naruto datang menghampiri. "Itadikamasu" ucap mereka bersamaan setelah Naruto duduk. Mereka makan dengan tenang. Setelah ramen mereka habis, Sasuke beranjak ke dapur dengan mengangkat mangkuk mereka ke tempat cuci piring dan kembali dengan kue cokelat.
"Ini ada kue cokelat. Kushina-kaa-san tadi datang membawanya saat kau tidur." Sasuke menyodorkan kue dan 1 garpu ke Naruto, garpu yang satunya lagi untuk dia pakai.
"Maaf merepotkanmu mengambilkan garpu untukku" Naruto menerimanya dengan sungkan.
"Tidak masalah. Walaupun kita sudah menikah, kita sudah sepakat sebelum acara untuk tinggal bersama sebagai roommate. Pernikahan ini terjadi karena tradisi kedua. Kita tidak dituntut untuk menjadi suami-istri yang sebenarnya" ucap Sasuke datar sebelum memasukkan kue ke mulutnya.
Naruto bergumam membenarkan. Mulutnya penuh dengan kue. Mereka makan kue itu langsung dari piringnya. Sasuke terlalu malas untuk memotong kuenya terlebih dahulu setelah itu memindahkannya ke piring kecil. Sedangkan Naruto memang lebih suka memakan dengan cara seperti itu.
Setelah suapan ke4, tiba-tiba Sasuke mulai bertingkah aneh. Sasuke menaruh garpu yang dia pakai di meja, kepalanya dia tundukkan dalam-dalam, dan deru nafasnya mulai memberat. "Kau kenapa, Sasuke?" tanya Naruto penasaran. Sasuke hanya menggelengkan kepalanya. Karena khawatir, Naruto berdiri dan berusaha menegakkan bahu Sasuke agar Naruto bisa melihat raut wajah Sasuke. Ternyata Sasuke terlihat menahan sakit dengan mata terpejam dan wajah yang memerah hingga telinga dan leher.
"Kau sakit?" tanya Naruto lagi yang kembali dijawab dengan gelengan kepala dari Sasuke. Naruto segera menyadari bahwa kue cokelat yang mereka makan terdapat rum didalamnya dan tiram memiliki efek samping yang mampu meningkatkan libido pria. Damn! Kaa-san! gerutu Naruto dalam hati dan secara reflex menarik tangannya dari bahu Sasuke. Sasuke membuka matanya dan memandang Naruto sayu.
"Na... Naruto" panggil Sasuke pelan.
"Y-ya, Sasuke?" jawab Naruto gugup. "Kau butuh sesuatu?" tawar Naruto. Dia berusaha untuk menghindari kontak fisik dengan Sasuke. Naruto merasakan akan terjadi suatu hal yang buruk dan mungkin akan mereka sesali nantinya.
Sasuke bangun dari tempat duduknya dan berjalan menuju Naruto. "Naruto, badanku rasanya panas dan sakit. Bantu aku untuk menghilangkannya. Kita roommate, kan? Dan juga kau suamiku. Jadi bantulah aku. Aku juga akan membantumu" bisik Sasuke di depan bibir Naruto dan mereka saling bertatapan. Naruto merasakan tubuhnya membeku saat Sasuke secara tiba-tiba mengalungkan kedua lengannya ke leher Naruto dan duduk di pangkuan Naruto. Sasuke juga menggesekkan bagian bawah mereka yang mengeras.
To Be Continued
Author note: Terimakasih uda kasih review. Semoga kalian suka dengan story yang aku bikin. Aku masih newbie dalam menulis, jadi maaf kalo berantakan ^_^
