Dia adalah orang yang ku pilih dari sekian banyak pilihan, ia adalah orang yang paling bercahaya dari semua orang yang paling bercahaya. Dan dia adalah orang yang mengisi kekosongan dalam hidupku, kau adalah warna untukku..
.
.
.
MY Honey
Annyeong, author kembali dengan nuansa berbeda. Hahahaha #plak
Mianhe untuk semuanya karna author memang sedang banyak pikiran, hemm sedikit ff baru yang nyempil di otak
Semoga kalian senang..
Gomawo
#BOW
"SSHHTT~SECRET!"
.
.
Preview
.
.
.
Untuk pertama, Chen menarik lengan Chanyeol.
Chanyeol menatap lengannya yang di tarik Chen, ia tersenyum sekilas lalu mengikuti arahan dari yeoja yang beberapa hari menjadi bagian dari hidupnya. Chen benar-benar menjadi tour gate yang menyenangkan untuk Chanyeol. Tidak ada yang Chen lewatkan, ia membawa Chanyeol dari ujung ke ujung kebun binatang bahkan ia menerangkan semua yang ia tau pada namja yang sama sekali tidak begitu mengerti tentang ilmu kebinatangan dan sukses membuat namja tinggi itu tertawa dan tersenyum dengan senangnya.
" Chanyeol-ssi?"
Suara lembut itu membuat senyum di bibir Chanyeol lenyap.
" jinja? Chanyeol-ssi benar itu kau?"
Chen menoleh ke arah seorang yeoja dengan dress selutut yang berdiri di samping Chanyeol. Ia memiringkan kepalanya lalu menatap Chanyeol yang terlihat berubah expresi.
" Chenie, bisa kau belikan aku minum?"
" eh?"
Melihat raut wajah Chanyeol yang terlihat terganggu ahirnya Chen mengangguk dan meninggalkan Chen dengan yeoja yang menurut Chen cantik.
.
.
.
.
#chapter 2
.
.
Chanyeol menatap datar saat seorang yeoja mendekatinya. Yeoja itu nampak anggun jika mata awam yang melihatnya, namun seringai di balik senyuman yeoja itu membuat Chanyeol merinding.
" stop! Cukup kau berhenti di sana saja—"
" tapi—Chanyeol-ssi"
" hentikan, sekarang katakan apa yang ingin kau katakan dan cepatlah enyah dari hadapanku!"
Yeoja cantik itu mengangkat kepalanya kemudian tersenyum sinis.
" kau tidak berubah Park Chanyeol, kau hanya akan menjadi alat orang-orang untuk hartamu"
" heh-itu milik keluargaku bukan milikku, lagi pula kau dan dia sama saja!"
" oh! Aku sangat terkesan karna kau mengingat kami—ya sudahlah, aku akan pergi. Senang bertemu denganmu…eum salam dari Byun Baekhyun"
Chanyeol berdecih dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Membiarkan yeoja cantik itu pergi meninggalkannya seorang diri. Hari ini perasaannya tidak begitu senang karna melihat beberapa orang mengikuti kencannya dengan Chen, di tambah lagi dengan keberadaan yeoja dari masa lalunya yang membuatnya kesal.
Chen kembali dengan membawa minuman kaleng dan ice cream, ia mengangguk saat yeoja yang baru saja meninggalkan Chanyeol menatap dirinya sinis. Chen mendekati Chanyeol.
" nuguya?"
" Chen—"
'GREB!'
Mata Chen terbelalak ketika Chanyeol dengan sekuatnya memeluk Chen. Bahkan namja tampan itu tidak mengindahkan ice cream di tangan Chen dan langsung menabrakkan tubuhnya. Chen terdiam setelah mendengarkan isakan lirih dari bibir Chanyeol.
" Ye—ol?"
" biarkan—biarkan seperti ini…"
Tidak ada kata-kata lain untuk menjelaskan apa yang tengah Chen rasakan, ia hanya bisa berdiam diri dan mencoba melepas tangannya yang berlumuran ice cream. Tanganya terlulur untuk menepuk punggung Chanyeol dan mencoba memberikan sebuah kehangatan untuk namja itu.
.
.
Chanyeol melepas pelukannya dan tersenyum ke arah Chen.
" gomawo—"
" ne—"
Chen tersenyum simpul saat melihat pakaian Chanyeol terkena noda ice cream, yang Chanyeol sendiri tidak menyadari sebelum Chen menunjuk pakaiannya.
" YAAA! Pakaian mahalku!"
" mian! Habis kau memelukku sembarangan!"
" kau kan bisa melawan!"
" Yaaa!"
Pertengkaran itu berujung pada mereka bermain kejar-kejaran mengitari kebun binatang.
Setelah lelah bermain kejar-kejaran mereka memilih untuk pergi ke sebuah festival untuk mencari baju ganti.
" kau harus ganti rugi!"
" ya! Tidak adil! Masa aku harus ganti rugi? Tsk, baiklah—aku akan mengganti bajumu. Dan kau mengganti ice creamku. Setuju?"
Chanyeol sedikit berfikir.
" cool!"
Ahirnya mereka mencari stand pakaian, Chen mengeluarkan dompetnya.
" yaah—uang tabunganku habis—"
Chanyeol menoleh, ia melihat isi dompet Chen dan tersenyum melihat hanya ada beberapa lembar uang receh.
" kita pilih saja yang paling murah—eum..ini!"
Chen menunjukkan baju dengan motif sama ke arah Chanyeol. Hanya saja ia memilih yang cocok untuk ukuran tubuhnya dan Chanyeol.
" manisnya!"
" bebek?"
Chen menoleh dan mengangguk.
" Ya! Ini untukmu!"
Namja tampan berambut merah anggur itu mengerutkan keningnya bingung.
" Chen—lebih baik kita ke toko langgananku saja, aku—"
" ya! Aku tidak punya uang yang cukup untuk membayarnya. Sudahlah cepat ganti sana!"
" aku akan membayarnya!"
Bisik Chanyeol.
Bagi Chanyeol yang terbiasa dengan pakaian bermerk dan berkelas, akan sangat aneh untuk membeli pakaian di festival. Terlebih, dengan harga yang jika dibandingkan dengan pakaian yang sedang ia pakai meskipun bekas masih bisa untuk membeli seluruh isi stand di mana ia berdiri kini.
" aku sudah berjanji! Cepatlah!"
" ta—"
" aku tidak mau ribut untuk sekarang!"
Dengan terpaksa Chanyeol masuk ke dalam ruang ganti dan memakai pakaian yang Chen pilihkan. Setelah selesai ia menatap tampilan wajahnya di cermin.
" tidak mengecewakan—"
Gumannya sambil menyunggingkan bibirnya membentuk sebuah senyum. Sekilas senyumnya hilang saat melihat 2 orang dengan pakaian serba hitam memperhatikannya, Chanyeol balik menatapnya namun 2 orang itu langsung pergi. Chanyeol merasa aneh dengan 2 orang yang beberapa hari ini mengikuti gerak-geriknya, awalnya ia mengira jika itu kerjaan dari kedua orang tuanya namun saat mendapat klarifikasi dari kedua orang tuanya ia menyerah.
Merasa dirinya tidak begitu nyaman Chanyeol pergi keluar dan mengejar 2 orang yang mengikutinya, hingga ia kembali dengan wajah biasa di hadapan Chen dengan tetap memasang radarnya untuk segera menyadari hal aneh yang akan terjadi. Chanyeol memaksakan untuk tersenyum melihat Chen sedang mencoba-coba sebuah bandana.
" manis! Manis!"
Pekik Chen.
Seorang pegawai stand mendekati Chanyeol dan memberikan tas kertas untuk membawa pakaian yang Chanyeol bawa.
" Agassi itu sangat lucu—keke beruntung kau memilikinya"
" eh?"
Chanyeol mengerutkan keningnya.
" ada apa Yeol?"
" aniya—jja!"
Ia membawa Chen ke luar dari stand untuk menghindari penjaga toko yang membuat jantungnya sedikit bergetar tidak jelas. Setelah membeli ice cream keduanya berjalan melihat-lihat pameran di festival.
" ada apa?"
Tanya Chanyeol saat melihat Chen menghentikan langkahnya, Chanyeol mendekati Chen saat merasakan punggung yeoja itu bergetar.
" ada apa?"
" hiks—"
Satu isakan itu lolos dari bibir Chen sukses membuat Chanyeol panik.
" ada apa?"
Chen menggeleng dan terisak dengan keras.
.
.
.
Chanyeol harus menggendong Chen ke dalam apartemennya, setelah Chen tertidur dalam tangisnya yang sama sekali Chanyeol tidak ketahui sebabnya.
" apa aku salah?"
Guman Chanyeol.
Chanyeol berjalan kekamar mandi untuk membersihkan badannya yang seharian berada di ruang terbuka. Saat ia kembali, ia menemukan Chen tengah terduduk di ranjang sambil menekuk kakinya.
" ada apa? Apa aku membuat kesalahan?"
Chen menggeleng.
" apa yang kau rasakan jika orang yang kau sukai justru mencintai orang lain—"
Chanyeol tidak mengerti, ia duduk di samping Chen.
Membiarkan Chen berbicara adalah langkah yang Chanyeol buat, ia hanya tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk membantu yeoja yang kini terlihat tengah putus asa.
" apa yang kau katakan?"
" apa ini takdir? Mengapa semua orang yang aku sukai justru menyukai orang yang sama? Aku bodoh—"
" ya! Kau sedang patah hati?"
Chen mengangguk.
" kenapa tidak kau katakan saja pada namja itu?"
" mengatakan apa? Mengatakan aku menyukainya? Menyatakan jika aku ingin dia menatapku?"
Chanyeol terdiam.
" tadi aku melihatnya…meskipun itu sudah lama tapi sungguh aku masih menyukainya"
" kau menyukai dua orang?"
Chen mengangguk.
" awalnya aku menyukai dia, namun saat tau siapa yang ia sukai aku mencoba mundur dan menyukai orang lain. Namun beberapa hari ini aku tau jika orang yang mereka sukai sama—sungguh menyedihkan.."
Yang bisa Chanyeol lakukan adalah berbaring sambil tetap mencoba terjaga untuk sekali-kali menyahuti apa yang Chen katakan.
.
.
.
Pagi hari yang cerah, Chen sudah mengawali harinya dengan berteriak-teriak pada Chanyeol yang susah di bangunkan.
" yayaya aku bangun!"
" palliwa! Pelajaran pertama Hanso soengsaenim!"
" aku tidak perduli!"
" tsk, pantas saja kau tua di SMA! Ya! Palliiwa!"
Selalu saja, terjadi perdebatan antara keduanya. Namun itulah yang bisa membuat mereka dekat, perdebatan yang membuka kartu mereka sendiri hingga mereka layaknya teman lama yang tinggal serumah.
Chanyeol muncul dengan seragam yang acak-acakan, membuat Chen geram dan reflex merapikan dasi dan pakaian Chanyeol. Sedangkan namja tampan itu sibuk memakan ham yang Chen buat untuk sarapan.
" au! Jangan kencang-kencang dasinya!"
" sebenarnya aku ingin mencekikmu dengan dasi ini!"
" tsk, galak sekali—pantas saja kau di campakkan!"
" siapa yang di campakkan?"
" kau!"
" bukannya itu kau?"
" kau!"
"kau!"
" Kau!"
" kau!"
" cukup! Tidak akan habis jika kita berdebat di pagi hari yang cerah ini Chen! Dan tadi kau bilang Hanso sonsaenim jam pertama?"
Tanya Chanyeol menghentikan aksi saling tuduh mereka.
" iya—wae?"
" kita telat!"
Teriak Chen dan Chanyeol bersamaan.
Untuk kali pertama mereka berlari dan berahir pada bersih-bersih lapangan halaman sekolah.
" sejak 2 tahun yang lalu aku tidak merasakan namanya dihukum..dan sekarang aku di hukum bersama dengan—"
" wae?"
Chen menggeleng.
" reputasi baikku musnah—"
Chen mencoba mendramatisir apa yang ada membuat Chanyeol terkekeh.
" kau tidak tau? Selama aku 4 tahun di SMA, sama sekali tidak ada yang berani menghukumku seperti ini—dan kau yang membuatku harus menerima hukuman anak SMA seperti ini!"
" tsk, bukankah bagus? Di kampusmu pasti tidak ada ya?"
Chanyeol duduk.
" eum, tidak ada—aku memang sering pindah sekolah, mungkin dalam 1 tahun aku pindah 3 atau 4 sekolah. Selain membuat ulah aku tidak naik karna mengerjai seorang guru, mungkin itu yang membuat mommy frustasi. Dan saat aku luluspun aku tidak menggunakan otakku saat ujian, karna daddy mengancam akan menikahkanku dengan ajumma-ajumma girang ahirnya aku lulus dan kuliah di jurusan yang daddy pilihkan. Dan yah—berahir dengan aku yang kembali ke kelas 2 SMA! Ditambah harus bersamamu..ckckckck"
"YA PARK CHANYEOL!"
Chanyeol tertawa keras saat Chen berlari mengejarnya. Keduanya terus bermain membuat seorang songsaenim menambah kerjaan mereka. Keduanya menghabiskan jam di sekolah hanya untuk bersih-bersih.
" Kim Jongdae!"
Chen menghentikan langkahnya untuk memukul Chanyeol dengan tongkat. Ia melihat seorang namja tampan dengan kulit putih pucat.
" Sehun?"
" eothokke? Apa kau sudah memberikan hadiahku untuk Minseokie noona?"
" eh?!"
" itu lho, yang di kotak berpita biru! Kau lupa?"
Tanya Sehun.
Chen mengerutkan keningnya, ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang hobaenya katakan.
" apa yang isinya coklat dari prancis?"
" nah itu! Eh? Kenapa kau bisa tau?"
Sehun mengarahkan tatapannya pada Chanyeol yang mengangkat bahunya.
" aku kira itu milik Chenie, jadi aku menghabiskannya.."
" MWO?!"
Chen dan Sehun sama-sama tidak percaya pada kepedean dari seorang Park Chanyeol. Mereka ahirnya menceramahi Chanyeol bergantian hingga seorang mendatangi mereka.
" Eh? Sehun?"
" a—noona?"
Sehun tersenyum dengan ragu-ragu sambil melirik ke arah Chanyeol berusaha mengingatkan kesalahan yang namja itu perbuat. Setelah itu ia memandangi tampilan Minseok dari atas hingga bawah.
" kau cantik sekali noona!"
" eh?"
Dengan senang hati Sehun langsung memeluk dan mencium pipi Minseok layaknya boneka.
" appoh—"
Chen hanya bisa mengenyitkan alisnya saat mendapati Minseok mengaduh dan menjauhkan Sehun dari tubuhnya.
"YA! Kau jangan sentuh Xiuminku!"
Chanyeol menatap seorang namja yang dengan cepat langsung membawa Minseok ke dalam pelukannya. Sedangkan Minseok benar-benar terlihat seperti boneka imut yang di rebutkan oleh anak kecil.
" apa mereka selalu begitu?"
Bisik Chanyeol ke arah Chen.
" Sehun selalu begitu sejak ia masuk ke sekolah ini, dan Luhan-ge ke sini karna Minseokie eoni"
Chanyeol mengangguk-angguk, ia sedikit menoleh ke arah Sehun dan Luhan yang sibuk dengan Minseok kemudian tatapan Chanyeol berhenti saat ia melihat expresi sendu di wajah Chen.
" kalian gila!kyaaa"
" Luhan ge! Kau mau bawa kemana Minseokie eoni!?"
Teriak Chen saat tau Luhan menggendong Minseok dan secepat kilat meninggalkan Sehun yang mengejar mereka dari belakang.
" tsk! Sial! Chen! Kau tau dari mana namja aneh itu datang?"
" dia—dia murid baru di kelasku—he—e-he"
Jawab Chen kaku.
" awas saja kalau dia menyentuh Minseokie ku! Aku akan mencarinya!"
Sehun langsung berlari mengikuti jejak Luhan membiarkan Chanyeol dan Chen mematung di tempatnya.
Chanyeol melihat apa yang Chen coba tutupi dan mencoba meraih bahunya.
" kau adalah yang terbaik!"
" eh?"
Chen tidak mengerti dengan apa yang Chanyeol katakan namun yeoja itu tersenyum dan berjalan mengikuti langkah Chanyeol, hingga Chanyeol menghentikan langkahnya saat seorang yeoja berdiri di hadapanya. Chen menatap Chanyeol—
" oppa, kau di sini?"
" tidak ku sangka kita akan bertemu kembali Byun Baekhyun"
Yeoja itu terlihat kaget, namun tidak lama ia mendapatkan kepercayaan dirinya dan menatap Chanyeol dengan tatapan yang menurut Chen 'menggoda'. Chen mengalihkan pandanganya ke arah Chanyeol yang justru memperpendek jarak dengan Chen.
" ahahaha—lama tidak bertemu, oppa? Oh-?"
Yeoja bertagname 'Byun Baekhyun' itu mengarahkan pandangannya pada Chen.
" apa yeoja ini yang menggantikanku?"
" jika yang kau maksud sebagai pengganti pengeruk kekayaan Park, mungkin iya—tapi sayangnya aku tidak perduli"
Baekhyun nampak kaget saat melihat tiba-tiba tangan Chanyeol menyusup ke dalam kemeja yang Chen kenakan, membuat yeoja itu terlihat berjengit kaget.
" kau tidak perduli? Tapi kau padaku—"
" mwo? Padamu? Bahkan aku tidak pernah melihatmu, kajja chagy—ruangan kita sudah menunggu"
Baekhyun menatap kaget kearah Chanyeol dan Chen yang sepertinya memasuki mobil bersama.
Di dalam mobil Chanyeol tersenyum lalu menyalakan mobil, tanpa sengaja ia manik matanya bertemu dengan manik mata Chen.
" PARK CHANYEOL PERVERT!"
Pekikan Chen membuat Chanyeol sedikit oleng, untung saja ia sudah terbiasa dengan teriakan 4 oktaf Chen sehingga ia bisa menyadarkan dirinya.
" kau bisa membuatku tuli, Chen!"
" kau pervert! Kenapa—kenapa?"
Dan wajah tak berdosa dari Chanyeol sukses membuat Chen terdiam.
Yeoja itu memilih menutup tubuhnya rapat-rapat.
" tadi—"
" dia, Byun Baekhyun—seorang yang pernah ku ceritakan padamu"
" pantas saja kau tertipu, dia cantik! Tapi apa benar dia—"
" kau bisa melihat sendiri bukan? Dan aku mohon jaga jarak darinya, aku takut kau bisa terluka"
" wae?"
Chanyeol mengangkat bahunya.
" hanya untuk jaga-jaga"
" tsk! Aku harus waspada padamu bukan pada yeoja itu! Ah! Nanti kita mampir ke apartemen Luhan ge! Aku yakin Minseokie eoni ada di sana"
Namja itu hanya mengangguk.
Chanyeol menoleh ke arah spion, sebuah mobil hitam mengikuti kemana arah mobilnya. Sedikit menoleh pada Chen yang terlihat sama sekali tidak memperhatikan bahwa mereka sedang di ikuti, dengan wajah dingin Chanyeol memutar arah mobilnya.
" kita mau kemana?"
" jalan-jalan sebentar, aku capek—"
" kan bisa tidur di rumah?"
Chanyeol hanya menggeleng.
"aku ingin udara segar—"
Chen yang tidak mengerti hanya mengangguk-angguk membiarkan Chanyeol fokus menyetir. Chanyeol dapat melihat kilatan senjata laras pendek yang tengah ada di tangan sang pengemudi saat sengaja ia memelankan mobilnya.
" apa mau mereka? Siapa mereka?"
Guman Chanyeol.
Chanyeol menarik gas mobil sekuat tenaga tanpa memperdulikan Chen yang berteriak kaget, dan mengomel padanya.
.
.
.
Minseok menoleh-noleh tidak mengerti mengapa ia berada di dalam apartemen Luhan. Apartemen mewah dengan hiasan warna putih dan cream yang memberikan kesan natural, Minseok memiringkan kepalanya saat melihat beberapa pigura yang menampilkan Luhan bersama dengan dua orang yang Minseok yakini sebagai orang tua Luhan di atas desk tempat lampu duduk. Ruangan mewah yang hanya di isi dengan buku-buku yang memenuhi hampir seluruh rak yang tersedia.
" apa Luhan tinggal seorang diri? Kenapa sepi?"
" tentu saja, aku kesini demi seorang yeoja"
Yeoja manis itu mengangguk-angguk kembali memperhatikan apartemen mewah Luhan, yeoja itu benar-benar tidak menyadari bagaimana namja tampan bernama lengkap Xi Luhan berfantasi aneh tentangnya. Bahkan ia tidak menyadari seorang Luhan tersenyum sambil memasukkan beberapa buah ke dalam blender. Ia menyeringai saat melihat bungkus putih di samping blender.
.
.
" ini akan menjadi hari baik untukku dan Xiuminie chagy! Hahaaha bocah tengik, hari ini aku akan memiliki Xiuminie seutuhnya hahaha"
.
.
Guman Luhan sambil memasukkan bubuk yang ia dapat dari di lab perusahaannya, yah cukup mudah untuk mendapatkan segala jenis obat bagi seorang direktur dan Luhan memanfaatkan itu untuk menjalankan fantasi-fantasinya pada yeoja manis yang kini menatapnya imut.
" Luhan mengatakan sesuatu?"
" ah, ani! Hanya saja—aku senang bisa menjauhkan si bocah ingusan albino itu darimu"
Luhan memblender ramuannya dan menghidangkan di depan Minseok. Ia melihat Minseok mengangguk-angguk dengan manis, jika tidak ingin kehilangan muka di depan yeoja pujaannya itu mungkin saat ini Luhan bisa menari-nari atau bahkan ia bisa berteriak kegirangan. Luhan menghentikan arah pandangannya pada Minseok saat merasakan phonselnya berdering.
.
.
From : Xing Yi Xing
Aku di korea, bisa temui aku?
.
.
Sedikit mengerutkan kening dengan kontak nama yang ia berikan pada nomor yang baru saja mengiriminya pesan. Luhan mencoba mengingat-ingat siapa yang memiliki kontak nama sejenis itu di phonselnya. Phonselnya kembali bergetar.
.
.
From : Xing Yi Xing
Jangan bilang kau melupakan asistenmu, XI LU HAN!
.
.
" ups—aku benar-benar lupa, siapa Xing Yi Xing?"
Guman Luhan sambil membalas sekenanya, ia mematikan phonsel itu setelah membalas pesan. Namja tampan itu tidak ingin hari indahnya bersama Xiuminnya rusak gara-gara dering phonsel. Luhan kembali tersenyum dan berfantasi bagaimana pandangan manis Minseok terlihat sayu, dan—Luhan menutup hidungnya yang mulai mimisan saat membayangkan tubuh mulus seorang Kim Minseok.
.
.
" Ah! Aku harus mandi dulu hahaha, aku ingin Xiuminku memintanya hahaha"
.
.
Guman Luhan.
" apa? Eh? Luhan kenapa?"
" eh, anny minumlah dulu. Aku mandi sebentar"
Minseok mengangguk dan membawa jus buatan Luhan ke ruang tamu. Ia tidak tau bagaimana fantasi liar seorang Xi Luhan akan dirinya hingga membuat namja tampan itu mimisan. Sambil menunggu Luhan mandi Minseok menghabiskan minuman di botol yang biasanya ia bawa kemana-mana.
'ting-tong'
Dengan gerakan perlahan Minseok mendekati pintu dan membukanya.
" Chenie?"
" hah! Syukurlah kau di sini—kau tak apa?"
Minseok mengangguk dan menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Chanyeol dan Chen.
" aku kira kau sudah di apa-apakan oleh dokter—ups! Oleh Luhan ge, di mana namja itu?"
Tanya Chen.
Ia langsung duduk di tempat Minseok duduk, di ikuti Chanyeol.
" Jus strawberry!"
" kebetulan aku haus sekali—aku benar-benar tidak tau rasanya dihukum seperti itu"
Chen dan Chanyeol dengan senang hati langsung melahap jus di hadapannya. Chanyeol dan Chen tidak memperdulikan apa reaksi Luhan nantinya yang mereka tau mereka kehausan karna Chanyeol menyetir mobil sembarangan.
" untung Luhan tadi membuat jus, kekeke—"
" tumben sekali, setiap aku ke sini dia hanya akan memberikanku sekaleng minuman bersoda atau air putih.."
Bisik Chen.
Minseok hanya mengangguk-angguk sambil kembali menikmati minuman di botol kesayangannya.
Ketiganya saling bercerita, tidak! Lebih tepatnya Chen dan Minseok yang bercerita tentang Sehun karna Chanyeol terlihat berbeda.
" Yeol?"
'GLUKK'
Chanyeol merasa suara Chen begitu sexy, ia menggeleng dan menatap Chen.
" wae?"
" kau setuju Minseokie eoni dengan Luhan ge atau dengan Sehun?!"
'OH TIDAK!'
Chanyeol ingin menjerit saat melihat peluh di sekitar wajah Chen.
" mungkin Sehun—eh"
" kenapa basah? Yeolie sakit?"
Suara itu membuat Chanyeol merasa terangsang. Ia menggengam tangan Chen dan berdiri.
" kita pulang saja, Minseok kami pulang dulu"
" eh? Apa kalian sakit?"
" ani—"
" kalian berdua terlihat gelisah, apa ada sesuatu?"
Chen dan Chanyeol menggeleng.
Minseok memiringkan kepalanya saat melihat Chanyeol dan Chen segera pulang.
Luhan muncul dengan wajah berseri-seri saat melihat gelas di depan Minseok telah kosong, ia bersyukur hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
" Xiuminie—"
Minseok menoleh, ia menatap bingung ke arah Luhan.
" wae? Kenapa Luhan tidak pakai pakaian?"
" Xiuminie—kajja"
" mwo?"
Luhan semakin mendekatkan tubuhnya pada Minseok.
'PLAK'
Sebuah cap tangan, menempel di pipi kiri Luhan.
" kalian gila!"
'BLAM'
Luhan memiringkan kepalanya tidak percaya menatap kepergian Minseok, ia kembali ke dapur dan mencicipi bekas jusnya hingga tubuhnya tiba-tiba memanas.
" tidak mungkin, masa dia kebal? Ughhh! Kenapa aku—"
Luhan berjalan menuju tempat Minseok tadi duduk, ia mengenyit.
" bahkan dia meminum 2 gelas? UGHH! Kenapa juga aku harus 'hard' tanpa pasangan—"
Luhan berlari ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam.
" sial! Sial!"
.
.
.
.
" aku mandi dulu—aiss kenapa tubuhku panas sekali?"
Chanyeol segera berlari ke kamar mandi meninggalkan Chen yang sepertinya juga merasa kepanasan.
" apa AC nya mati? Aduh! Kenapa—"
Chen melepas kancing kemejanya dan sedikit menekan dadanya.
" apa yang aneh denganku? Kenapa aku—merasa ingin di—"
Mata Chen terbelalak saat merasakan bagian sensitive miliknya sudah basah, terlebih saat mengingat sentuhan Chanyeol pada tubuhnya saat di sekolah. Tubuhnya terasa mendidih, ia sedikit menggeliat di kasur.
" apa aku salah makan? Aiss—bahkan aku hanya meminum jus—"
pikir Chen.
'CEKLEK'
Chen menoleh ke arah kamar mandi, dan mendapati Chanyeol dengan wajah kelelahan dengan rambut basah dan tubuh yang basah. entah mengapa Chen merasakan tubuhnya benar-benar panas.
" mandi—lah—"
chanyeol menghentikan kata-katanya saat manik matanya bertemu dengan manik mata milik Chen, pandangan sayu dan—jangan lupakan kancing kemeja yang telah terlepas dan memperlihatkan keindahan tertentu untuk namja.
" Chen—"
" neh?"
'BRUK'
Chanyeol menerjang tubuh Chen, ia mencium dan melumat bibir Chen memutar kepalanya kekanan dan kekiri untuk mendapatkan posisi nyaman. Tangan kirinya ia gunakan untuk mengusap punggung Chen sedangkan tangan kanannya ia gunakan untuk menekan tengkuk yeoja manis.
" apa—"
" aku—aku menginginkanmu!"
" eumppp"
Keduanya mulai membalas perlakuan satu sama lain.
" aggghh!"
Erang Chen saat Chanyeol menyusu buah dadanya membuat Chanyeol semakin bersemangat meraup buah dada kenyal milik Chen. Namja itu semakin terangsang saat tubuhnya dan tubuh Chen sama-sama dibasahi peluh. Entah apa yang ia pikirkan hingga ia mengeluarkan miliknya di dalam tubuh Chen dan terus menerus tergoda untuk menyentuh setiap tubuh Chen.
.
.
.
Minseok mengerjapkan matanya tidak percaya saat ia membuka pintu apartemen Chen dan Chanyeol setelah berhasil keluar dari apartemen Luhan.
Tiba-tiba sinar matanya meredup, ia merasakan seseorang menempelkan tangannya di matanya dan menarik tubuh Minseok keluar dari apartemen dua orang yang tengah dimabuk hasrat bercinta.
" ta—"
" sssstt—kajja, aku akan mengantarkanmu pulang"
Luhan mendorong Minseok untuk berjalan ke luar, sedikit ia mengerti bagaimana Minseok tidak terpengaruh dengan obat yang ia campurkan ke dalam jus setelah melihat dua orang tidak terduga mendapatkan efek dari obat yang ia campurkan.
" entah ini beruntung atau sial..huh! untung aku sudah menyiapkan penawarnya TT"
Gumannya.
Luhan menurunkan Minseok di depan rumah Chen.
" kau tak apa?"
Yeoja mungil itu menggeleng sekilas lalu menatap Luhan seksama hingga Luhan kaget dan gerogi.
" wae?"
Tanya Luhan.
" mereka tadi—apa yang mereka lakukan tanpa baju? Dan—kenapa Chen mengerang? Apa Chanyeol menyakitinya?"
" EH?!"
" bagaimana kalau dia menyakiti Chen?"
Luhan sedikit mengenyitkan keningnya.
" dia—po—los?"
Minseok memandangi wajah tidak percaya dari Luhan sambil menunggu jawaban dari namja cina yang kini sedang berhayal dengan fantasi tentang kepolosan Minseok. Luhan menatap tidak percaya kearah Minseok, mencari cela jika yeoja manis itu hanya menipunya namun tidak ada expresi lain kecuali kekhawatiran yang menurutnya membuat Minseok semakin manis.
" Eh Luhan?"
Luhan mengalihkan pandangannya pada seorang yeoja mungil dengan jas putih yang keluar dari rumah.
" Minseok? Kau dari mana? Eoma pikir kau masih di sekolah?"
Minseok menoleh kearah Wookie dan tersenyum.
" eoma tadi a—eummppp"
Tangan Luhan membekap mulut Minseok dengan cepat, ia tidak ingin yeoja polos itu mengatakan hal yang tabu di depan Wookie dengan wajah polos.
" dia sedikit sakit, Chen memintaku untuk mengantarkannya"
" oh? Kau perlu ku periksa?"
" tenang saja, kata petugas UKS hanya kelelahan ajumma—"
Wookie mengangguk-angguk sejenak lalu mengangkat tangannya dan melihat jam.
" ah—mianhe Minseokie, eoma tidak bisa menjagamu. Ah! Apa perlu aku meminta Chen menjagamu? Soalnya eoma pulang malam hari ini"
" aku! Aku akan menjaga Xiu—eh Minseok"
Wookie mengerutkan keningnya sekilas lalu tersenyum cerah.
" baiklah, Luhan tolong jaga Minseokie ne?"
Ahirnya Wookie meninggalkan Luhan dan Minseok berdua. Minseok mengangguk lalu membiarkan Luhan mengikuti langkahnya. Sambil menunggu Minseok ganti baju di kamarnya Luhan berkeliling ruang tamu yang memajang berbagai foto.
" aku tidak tau kalau Xiuminku manis sekali saat bayi!"
Pekik Luhan kegirangan.
Namja itu terus memperhatikan foto-foto keluarga Chen dan Minseok.
" Luhan mau minum apa?"
" eh?! Susu—eump!"
Luhan menutup mulutnya, ia merutuki mulutnya yang sepertinya masih terpengaruh obat perangsang yang ia cicipi.
" jus—kalau ada"
" oh~ Ah! Aku ingat! Kemarin appa membeli melon, kau suka melon?"
Minseok tersenyum dan segera ke dapur setelah mendapat anggukan dari Luhan. Dan namja tampan itu tidak ingin melewatkan bagaimana manisnya Minseok di setiap waktu. Dengan senyuman yang mengembang ia memandangi Minseok.
" aku benar-benar gila karna yeoja ini—"
Guman Luhan.
.
.
.
Seberkas cahaya menyinari sebuah ruang tertutup, sangat sunyi dengan kegelapan yang menyelimuti ruangan tak berpenghuni. Beberapa lembar foto berserakan di meja menampilkan wajah-wajah tak asing dengan berbagai pose yang berbeda. Di sebuah papan bening berkumpul foto-foto dengan banyak coretan yang saling menghubungkan foto satu dengan yang lain. Ruangan tertutup itu begitu gelap jika hanya untuk memastikan keberadaan beberapa senapan laras pendek dan pistol buatan amerika terbaru di sela Koran dan foto-foto tersebut.
'Krieet' seorang namja berpakaian serba hitam dengan kacamata hitam masuk, mendahului seorang yeoja tinggi dengan rambut kuncir kuda yang mengekor di belakangnya.
" jadi?"
" sudah ku jelaskan beberapa kali jika itu mereka! Kenapa kau tidak percaya padaku sih?"
Namja itu membuka koper yang berisikan lembaran uang dan sebuah map biru.
" karna kau masih amatiran, tsk! Kita tidak akan kehilangan mereka lagi!"
Namja itu menarik pelatuk di pistol miliknya dan 'pseeett' sebuah peluru mendarat di satu foto. Namja itu tersenyum dan menutup koper miliknya.
" kajja!"
" kita kemana?"
" memburu mangsa kita!"
.
.
Foto pertama : Wu Yi Fan/ Kris ( 22 th )
Code name : Dragon
Keahlian : menembak
Kelemahan : Lemah terhadap wajah memelas Tao
Posisi : Leader
Keterangan lain : Kris adalah anak dari seorang jendral tertinggi ( Wu Si Won )di kepolisian cina, sejak kecil ia sudah dilatih untuk mempertajam insting sebagai seorang mata-mata kepolisian. Selain sang papa yang menjadi jendral, Kris mendapatkan keahlian lain sebagai seorang polisi dan dektektif dari sang mama yang merupakan seorang dektektif wanita terkenal ( Kim Ki Bum ), status keluarganya 'DIRAHASIAKAN' untuk keselamatan Kris.
.
.
Foto ke 2 : Xi Lu Han/Luhan ( 22 th )
Code name : Deer
Keahlian : forensik ( bedah, analisis perkara, dan outopsi ), persenjataan
Kelemahan : apapun tentang Minseok
Keterangan lain : Seorang dokter handal dengan jabatan direktur sebuah rumah sakit yang memiliki analisis akurat tentang data-data riwayat hidup ( lebih kepenyakit/keadaan tubuh) seseorang hanya dengan sekali melihat. Seorang jenius yang kembali ke bangku SMA dengan alasan tidak jelas. Terobsesi pada Minseok. Wajah yang terlihat lebih muda dari umurnya yang sudah 22 tahun membuatnya tidak kesulitan untuk masuk ke SMA yang memang tidak pernah ia masuki karna kejeniusan yang dia miliki sebelumnya.
.
.
.
Foto ke 3 : Zhang Yi Xing/ Lay (22 th )
Code name : unicorn/ healing
Keahlian : penyembuhan, analisis obat sangat berguna pada saat menganalisis obat bius dan narkoba
Kelemahan : ceroboh
Keterangan lain : Asisten baru Luhan yang papa Luhan kirimkan untuk membantu Luhan di rumah sakit. Statusnya masih seorang mahasiswi magang, dan kebetulan saat ia melamar di rumah sakit yang papa Luhan kelola tidak membutuhkan bantuan sehingga ia di alihkan untuk membantu Luhan. Hingga bulan ke 4 ia magang di Rumah sakit yang Luhan kelola, Luhan sama sekali belum bisa menghafal namanya terlebih saat Luhan tiba-tiba pergi ke Korea. Pengagum Luhan dan Kris.
.
.
.
Foto ke 4 : Park Chanyeol ( 22 th )
Code name : Phoenix
Keahlian : menembak, menjaring koneksi
Kelemahan : reaksi lebih cepat tanpa memikirkan situasi
Keterangan lain : Terpaksa menikah karna kesalahannya sendiri. Mahasiswa tingkat 6 yang kembali menjadi siswa SMA bersama Chen untuk menyelesaikan masa study yang sebelumnya di lewati dengan seenaknya sendiri dan koneksi dari sang mommy. Tidak suka aegyo milik Tao karena pada ahirnya ia yang akan kena getahnya saat Kris bertindak, tapi pada dasarnya ia menyayangi Tao seperti dongsaengnya sendiri.
.
.
Foto ke 5 : Kim Jongdae/ Chen ( 17 th )
Code name : Scorpion
Keahlian : Beladiri
Kelemahan : ceroboh, penurut
Keterangan lain : ketenangan yang turunkan dari sikap sang appa membuatnya dapat membantu berbagai masalah, ia juga berencana menjadi dokter setelah melihat kedua orang tuanya dan Luhan menyelamatkan nyawa banyak orang. Mempunyai suami di umur 17 tahun adalah suatu yang tidak pernah Chen pikirkan sebelumnya, apalagi dengan Chanyeol seorang yang asing dalam hidupnya.
.
.
.
Foto ke 6 : Huang Zi Tao / Tao (16 th )
Code name : Panda
Keahlian : Matrial arts, pedang
Kelemahan : akurasi waktu
Keterangan lain : meski umurnya yang masih 16 tahun, tidak ada yang bisa menyangkan jika ia seorang inspektur di kepolisian cina. Berkat kecerdikannya dalam mengejar para pelaku kejahatan Tao di beri gelar inspektur meski statusnya 'DIRAHASIAKAN' karena umurnya yang masih muda, dan salah satu permintaan dari keluarga Huang yang tidak menginginkan anaknya hidup tidak normal dengan statusnya. Keluarga Tao adalah salah satu keluarga politisi kuat cina yang di segani oleh politisi lain. Mengagumi Kris sebagai sosok penolong untuknya.
.
.
.
Foto ke 7 : Xui Xiu Min /Cho Minseok / Kim Minseok (17 th )
Code name : Snowflorst
Keahlian : analisis
Kelemahan : terlalu polos
Keterangan lain : Anak dari inspektur Xui, atau mantan dektektif terkenal di benua asia yang kini lebih memilih hidup tenang bersama dengan istrinya yang merupakan seorang guru TK di cina. Karna statusnya yang seorang dektektif terkenal, ia menitipkan Minseok di tempat saudara jauhnya. Ia tidak ingin Minseok kecilnya menjadi bulan-bulanan para penjahat yang kasusnya ia bongkar, tentang Jiangming mama Minseok? Dia juga seorang Interpol wanita yang di kagumi banyak orang dan sekarang lebih memilih pekerjaan menjadi guru TK sebagai pekerjaan tetapnya. Analisis yang Minseok berikan kadang jauh dari kata-kata formal, melainkan kata-kata polos yang sama sekali tidak pernah dipikirkan oleh orang lain.
.
.
.
Foto ke 8 : Kim Jongin/ Kai ( 22 th )
Code name : Tan
Keahlian : menembak, memanah, dance
Kelemahan : Analisis yang ia buat sering berubah-ubah
Keterangan lain : seorang dancer muda yang memiliki bakat alami dalam menari, ia juga memiliki insting seorang polisi seperti ayahnya ( Kim Minho/ Choi Minho ). Tidak pernah ingin terlibat dengan ayahnya, dan hanya menganggap seorang 'Leetaemin' orang tuanya dikarenakan saat kecil hanya ibunya yang menjaga dia sedangkan sang ayah sibuk dengan pekerjaannya di kepolisian.
.
.
.
Foto ke 9 : Do Kyungso/ Kim Kyungso ( 17 th )
Code name : D.O
Keahlian : Merakit senjata, memasak
Kelemahan : membenci segala bentuk serangga.
Keterangan lain : menuruni bakat sang ayah yang merupakan seorang perakit senjata handal di Jepang, Kyungso atau lebih sering di panggil Dio bisa merakit senjata dari beberapa barang yang ada di sekitarnya dalam beberapa menit. Ketajaman yang di miliki tentang senjata tidak pernah di ragukan oleh orang-orang yang tau kemampuannya, terlebih sang appa. Dalam masa peralihan kekuasaan Yakuza jepang, Dio dikirim ke Seoul dan mengganti marga sesuai dengan keinginan sang appa yang tidak ingin terjadi apa-apa terhadap Dio.
.
.
.
Foto ke 10 : Oh Sehun ( 16 th )
Code name : Aero
Keahlian : Software engenering, Hacker
Kelemahan : apapun tentang Minseok
Keterangan lain : kemampuan Sehun dalam membuat software baru dan merancang sebuah alat computer tidak pernah diragukan. Terlebih kejahilannya membobol jaringan milik pemerintah membuatnya sering bolak-balik kantor polisi. Beruntung kedua orang tuanya memiliki posisi yang cukup bisa di perhitungkan untuk jabatan di kepemerintahan jadi tidak membuatnya ditahan. Terobsesi dengan Minseok sejak kelas 3 SMP saat Minseok tidak sengaja tersesat di sebuah perusahaan besar yang merupakan perusahaan milik orang tua Sehun.
.
.
.
Foto ke 11 : Kim Joonmyun / Suho ( 22 th )
Code name : Guardian
Keahlian : memiliki mengemudi
Kelemahan : gampang ditipu
Keterangan lain : seorang perwira muda dari kepolisian Beika yang di pindah tugaskan ke Seoul sebagai tindak lanjut kerja sama antara kepolisian 2 negara. Suho memiliki 2 kewarganegaraan ( Korea selatan dan Jepang ) sebagai penghargaan yang diberikan atas jasa Suho membantu memfasilitasi terjadinya perdamaian di Beika dan Tokyo.
.
.
.
Foto ke 12 : Byun Baekhyun ( 17 th )
Code name : light
Keahlian : penyamaran
Kelemahan : susah berbaur
Keterangan lain : Jika ditelusuri lebih lanjut, Baekhyun adalah masa kelam seorang Park Chanyeol. Seorang idealis yang tidak ingin di atur sama sekali—memiliki keahlian penyamaran yang sangat di percaya sebagai seorang model.
.
.
.
Dua hari sudah Chen menjauhi Chanyeol, ia benar-benar tidak ingin bertemu dengan Chanyeol. Kejadian dimana ia dan Chanyeol melakukan hal yang menurutnya belum pantas membuatnya malu, pipinya memanas seketika saat mengingat bagaimana Chanyeol menyentuhnya.
" sungguh! Di luar kendali!"
Pikir Chen.
Minseok duduk di samping Chen sambil memberikan sekotak susu.
" apa Chenie masih sakit? Apa Chanyeol menyakiti Chen?"
" eh?"
Chen mengerjapkan matanya sambil menatap wajah polos Minseok.
" Luhan bilang aku tidak boleh mengatakan kalau aku melihat Chanyeol menindih Chenie—"
"MWO?!"
Wajah Chen memanas.
" ne—Luhan bahkan menutup mataku saat kamu berteriak"
Yang membuat Chen ingin lari adalah bagaimana Minseok begitu polos menceritakan hal vulgar di hadapannya. Chen langsung menggeleng dan merebut Koran yang Minseok bawa, ia membaca sekilas berita berniat untuk mengalihkan perhatian yeoja baozie yang Luhan Klaim.
"ini—apa kau tidak khawatir tinggal di rumah sendirian? Banyak kejadian penculikan terhadap yeoja—"
" mana?"
Berhasil, Chen bernafas lega saat Minseok segera fokus dengan berita yang ada di Koran.
" dia menculik dan membunuh?"
" kau harus berhati-hati"
" tapi mama mengatakan padaku agar aku tidak khawatir"
Chen menatap Minseok.
" mamamu menelfon?"
" mama bilang akan menjagaku dengan baik"
" aduh! Kenapa kau percaya pada mamamu? Tsk, aku yakin papamu memonopoli dia darimu"
" benarkah?"
Chen mengangguk.
Meracuni pikiran Minseok adalah hal yang paling menyenangkan dan bisa membuatnya sedikit melupakan kejadiannya bersama Chanyeol. Minseok langsung mengeluarkan phonsel putih dengan gantungan butiran salju, Chen tersenyum melihat yeoja yang beberapa bulan lebih tua darinya tumbuh menjadi seorang yang jauh lebih polos darinya.
" eoni, saranghaeyo"
Chen tiba-tiba memeluk Minseok. Minseok menoleh setelah mematikan phonselnya.
" kau mengatakan kau mencintai Chanyeol dan sebaliknya waktu itu"
" MWO?!"
Chanyeol dan Chen sama-sama tidak bisa menahan reflex yang di akibatkan oleh kata-kata yang keluar dari bibir Minseok.
" XIUMIN! Aku kan sudah bilang jangan mengatakan itu pada mereka!"
Ucap Luhan menarik Minseok ke bangkunya. Chanyeol dan Chen memandang Luhan dan Minseok bergantian. Dan Luhan memasang wajah datar dengan dagu yang ia letakkan di bahu Minseok.
" kau—v?"
" untung saja aku menyusul Xiuminku kalau tidak—aku tidak tau berapa lama Xiuminku menjadi patung dan melihat kalian bercinta"
" MWO?!"
Chen menutup pipinya.
" ini gila!"
Ia berlari keluar dari kelas sambil menyembunyikan pipi merah padamnya.
" CHEN!"
Chanyeol berlari menyusul Chen, namun langkahnya berhenti saat melihat 2 orang berpakaian hitam membawa Chen masuk ke dalam sebuah mobil yang beberapa hari mengikutinya.
" CHEN!"
Ia berlari menghampiri mobil yang kemudian mengeluarkan secarik kertas.
" SHITT!"
.
.
.
.
Eotthokke? Apa yang terjadi ama Chen? Apa ? siapa mereka semua! Kok bisa!? See Ya next time
Author hanya bisa tertawa #epil hehehe
Berdoa aja semoga ff ini berfokus jelas hehehehe
See Ya next chapter!
Gomawo untuk reviewnya
