Toki: HAI! TOKI DISINI!

Yukiko: Wah! Ada 3 orang yang nge-review! Saatnya membalas review!

Toki: Untuk Sora Yasu9a 2230612, eh… Toki juga gak tau… Hehehe…

Yukiko: Halo juga ariadneLacie-san! Makasih untuk dukungannya!

Toki: (blush) Makasih Kasumi Shiragiku-san atas pujiannya!

Rukia: (nongol sambil teriak histeris) HUWAAAA! Kok dagu gue diperban gini?

Toki: (sweatdrop) Lo kan kemaren jatuh neng!

Yukiko: Ne To-chan! Yu muncul gak di fic ini?

Toki: Eh… Gak tau deh soal itu… Gomen… Sudahlah! Part kedua One Litre Tears for You! Dozou!


Disclaimer: Bleach never be mine…

Petunjuk:

"Hai" – percakapan

"Hai" – bicara dalam hati/percakapan di telpon

Hai – flashbask/isi diary Rukia


One Litre Tears for You

"A-aku… Tidak! Tidak mungkin! Dia masih berumur 15 tahun! Mana mungkin aku memberitahunya?"

Tidak ada yang aneh dengan tubuhku. Yah, kadang-kadang aku tak bisa berjalan dengan benar… tapi,

"Rukia?"

Rukia menghentikan aktivitas menulisnya ketika mendengarkan suara kakak iparnya itu. "Iya? Ada apa Nii-sama?"

Byakuya memasuki kamar Rukia dengan muka agak khawatir. "Lukamu… sakit tidak?"

Rukia berpikir sejenak. "Hanya sedikit kok! Nii-sama tak perlu khawatir!"

Byakuya menghela nafas lega. "Baiklah, lebih baik kamu istirahat saja, oke?"

Rukia tersenyum. "Hai!"


Hisana termenung seorang diri. Layar televisi yang menyala tidak dia perhatikan dengan baik. Sepertinya, percakapan dirinya dengan dokter yang menanggani adiknya terus terulang diotaknya.

"Sensei… Boleh saya bertanya?"

Unohana tersenyum. "Apa pun boleh"

"Bi-biasanya kan kalau orang jatuh, pasti dia menggunakan tangannya untuk menompa tubuhnya agar tidak jatuh kan? Ta-tapi, ketika aku melihat tangan Rukia… ditangannya tidak ada luka sama sekali… Aneh kan?" ujar Hisana panjang lebar.

Unohana hanya terdiam. Lalu tidak beberapa lama, dia memberikan resep obat kepada Hisana.

"Tembuslah resep obat ini di apotik rumah sakit ini. Adikmu harus meminum obat ini 3 kali sehari. Jangan sampai lupa ya" ujar Unohana tersenyum kecil.

Hisana melihat resep obat yang ada di tangannya.

"Sensei… Adikku tidak… apa-apa kan?"

KRING KRING!

Suara telpon membuyarkan lamunan Hisana. Karena cuma dia yang ada di rumah, mau tidak mau dia beranjak dari posisi duduknya. "Moshi-moshi?"

"Hisana-san? Bisa saya berbicara dengan orang tua anda?"

Mendengar suara Unohana, Hisana mengerutkan dahi. "Ano… Kenapa harus dengan orang tua saya?"

Hisana mendengar suara disebrang sana menghela nafas berat. "Menurut saya, orang tualah yang perlu tau hal ini terlebih dahulu"

Jantung Hisana berdetak kencang. "Ada apa ini?" pikirnya dalam hati. "Orang tua kami… sudah tiada…"

Suara disana terdengar kaget. Lalu dengan perlahan, Unohana berkata "Baiklah… Hisana-san, bisakah anda cepat-cepat kesini?"


"Rukia-chan! Kenapa kemarin kamu gak masuk? Lalu, ada apa dengan dagumu?" tanya Momo khawatir.

Rukia terkekeh. Ini bukan pertama kalinya Momo khawatir padanya. Waktu pertama kali tes masuk ke SMA Karakura, Momo juga khawatir karena dia datang terlambat dengan lutut berdarah dan baju basah kuyup.

"Ngomong-ngomong soal tes, dimana Ichigo?" tanya Rukia dalam hati.

Momo, yang merasa terabaikan, berteriak tepat di telinga kiri Rukia. "Hoi! Kuchiki Rukia! Jawab pertanyaanku dong!"

BRUAKK!

Rukia langsung jatuh dari kursinya ketika mendengar Momo berteriak. "Mo-MOMO! Sialan kau!"

Kedua sahabat itu pun kejar-kejaran di dalam kelas. Momo tertawa riang. "Makanya! Pertanyaan orang dijawab dong!"

Rukia mengejar Momo dengan muka kesal. "TAPI KAN GAK PERLU TERIAK DI TELINGAKU!"

Ketika asyik kejar-kejaran, tanpa alasan jelas, Rukia merasa kakinya tidak bisa bergerak. "E-eh?"

Sebelum badannya membentur lantai kelas yang terbuat dari keramik, tangan seseorang sudah mencegahnya duluan. "Heh! Hati-hati kalau berlari! Dasar!"

Mendengar suara Ichigo yang mengomelinya, Rukia langsung menjauh dari tangannya. "A-aku tak perlu bantuanmu, kepala jeruk!"

Momo mengeplak kepala Rukia. "Rukia-chan! Berterima kasih dong sama Kurosaki-kun!"

"A-aduh! Oke! Arigatou Ichigo…" ujar Rukia sambil mengusap kepalanya yang benjol.

Ichigo terkekeh melihat tampang Rukia. Beberapa saat setelah itu, bel pun berbunyi.


Unohana memandang dengan serius hasil x-ray kepala Rukia. Sesekali mengerutkan dahinya, merasakan ada keganjalan serius di gambar itu.

TOK TOK!

Mendengar suara ketukan pintu, Unohana berkata "Masuklah"

Dengan langkah ragu, Hisana masuk ke dalam ruangan itu.

"Hanya sendirian?"

Hisana mengangguk, lalu bertanya "Ada masalah apa dengan adikku sensei? Kenapa kita tidak bisa berbicara di telpon?"

Unohana menghela nafas berat lalu menatap Hisana tepat dimatanya. "Hisana-san, penyakit adikmu adalah…"


"Rukia-chan!"

Rukia langsung menoleh ketika Momo memanggilnya. "Ada apa Momo?"

Momo tersenyum. "Hari ini, kamu latihan basket kan?" tanyanya.

Rukia mengangguk. "Yup, kamu ingin melihatku latihan lagi? Tidak keberatan aku pulang sore?"

Momo terkekeh. "Daijobu!"

Sewaktu SMP, Rukia dan Momo mengikuti ekskul yang sama, yaitu basket. Hal itu disebabkan oleh Rukia yang ingin dekat dengan kapten basket putra mereka; Kaien. Alasan mengapa Rukia ingin memasuki SMA Karakura adalah dia ingin berada satu sekolah dengan Kaien.

Ketika SMA, Momo tidak mengikuti ekskul basket lagi karena dia memiliki hal yang paling dia sukai sekarang; melukis.

"Lagipula, sekalian aku ingin melukis Rukia-chan memasukan bola ke ring basket!" ujar Momo semangat, hal ini membuat Rukia tertawa.

"Apa menariknya melukis pemula sepertiku?"

Momo mendengus kesal. "Rukia-chan! Kau itu jago main basket lho! Jangan merendahkan diri dong! Bukannya kamu sekarang masuk regu regular karena kepintaranmu dalam basket?"

Rukia tersipu malu. "Eh… Iya, tapi…"

"Sampai-sampai, Kaien-senpai memujimu! Benarkan?" ledek Momo, membuat muka Rukia berubah warna.

"Mo-MOMO!"

Koridor sekolah yang kosong itu diiringi tawa riang kedua sahabat yang saling menyayangi itu, tidak mengetahui takdir kejam yang akan menimpa salah satu dari mereka.


Dengan lesu, Hisana memcoba memasukan kunci rumah kedalam lubangnya untuk kesekian kalinya. Tapi, hal itu selalu gagal. Dengan jengkel, Hisana memukul pintu rumahnya. Hisana benar-benar tidak menyukai takdir yang diberikan Tuhan kepada adiknya. "Kenapa? Kenapa harus Rukia?" tanyanya dalam hati.

"Spinocerebellar ataxia?"

Unohana mengangguk. "Ya, untuk lebih rinci, tolong lihat hasil x-ray daerah otak Rukia-chan dengan hasil x-ray otak yang normal"

Hisana menyipitkan matanya untuk sejenak. Benar, ada yang berbeda dari kedua gambar tersebut.

Unohana menghela nafas berat, lalu menjelaskan semuanya. "Ada tiga daerah yang membuat gerakan tubuh manusia menjadi luas, yaitu cerebellum, batang otak, dan saraf tulang belakang. Dan cerebellum itu selalu berkembang seiring perkembangan pemiliknya. Akan tetapi, milik Rukia-chan sepertinya… sudah berhenti berkembang…"

"Hisana?"

Hisana langsung membalikan badannya, mencari sosok yang memanggil dirinya. Ternyata orang itu adalah suaminya sendiri, Byakuya.

Byakuya menyadari tampang Hisana yang pucat bertanya "Ada apa?"

Hisana langsung tergagap. "A-ah… I-itu…"

Byakuya mengerutkan dahi. "Apakah ini soal Rukia? Apakah ini tentang hasil check-up-nya?"

Hisana masih agak tergagap, tapi kali ini menyanggupi pertanyaannya. "I-itu… ya… Ini tentang hasil check-up Rukia…"

Byakuya, yang melihat Hisana makin pucat, langsung memeluk dirinya. "Baiklah… Kalau kau tidak ingin memberitahuku… Itu tidak apa-apa…"

Hisana terisak. "Gomen nee… A-aku… tidak bisa mempercayainya…"

"Mempercayai apa? Apa kondisinya seburuk itu?"

"Itu…"

"Berhenti berkembang?"

Unohana mengangguk. "Ya,berhenti yang disebabkan berhentinya perkembangan cerebellum adalah penderita sering jatuh…"

Ya, Rukia memang sering jatuh…

"…penderita tidak bisa memegang benda dengan benar…"

Ya, Rukia sudah beberapa kali ini tidak bisa mengambil makanan dengan sumpit…

"…penderita tidak bisa mengukur jarak…"

Ya, Rukia akhir-akhir ini ketika dimintain mengambil botol kecap, butuh beberapa kali untuk berhasil menggapainya…

"…dan penderita tidak bisa berbicara dengan benar dan akhirnya…"

"Penyakit ini, ada obatnya kan?" sela Hisana, tidak ingin mendengar lebih jauh apa yang disebabkan penyakit yang diderita adik kesayangannya itu.

Unohana untuk kesekian kalinya menghela nafas dengan berat, seakan tau pertanyaan itu akan keluar cepat atau lambat. "Dengan teknologi sekarang ini, penyakit ini, belum ada obatnya"

DEG!

Jantung Hisana seperti berhenti berdetak. Sakit, itulah yang dirasakannya.

"Saya harap, anda memberitahu adik anda dengan cepat lalu melakukan program rehabilitasi agar dia dapat berjalan dengan benar untuk sekarang"

Hisana menahan air matanya. "A-aku… Tidak! Tidak mungkin! Dia masih berumur 15 tahun! Mana mungkin aku memberitahunya?"

Unohana tersenyum perih, bukan pertama kalinya dia mendapat jawaban seperti itu."Baiklah… Anda tidak perlu memberitahunya sekarang. Untuk sekarang, Rukia-chan harus rajin meminum obatnya ya"

Tangis Hisana pecah, membuat Byakuya makin erat memeluknya. "Ba-bagaimana ini…? Aku tidak bisa memberitahunya begitu saja! Aku… aku tidak mau melihat wajah sedihnya lagi!" teriaknya, teringat saat orang tua mereka meninggal dunia dan wajah sedih Rukia yang baru berusia 7 tahun.

Byakuya mencoba menenangkan. "Tenanglah Hisana… Kau belum bertanya kepada dokter lain bukan?"

Hisana mengangkat kepalanya, melihat wajah Byakuya yang berusaha memberinya solusi. "Be-benar juga… Mungkin saja… mereka berpendapat lain…!"

Byakuya tersenyum kecil sambil membelai kepala istrinya. "Ya… Dan aku akan membantumu melewati takdir kejam ini… Mana mungkin aku membiarkan adik iparku begitu saja?"

Hisana membalas senyuman Byakuya. "Arigatou… karena mau disampingku melewati semua ini…"

"Daijobu… Semuanya akan baik-baik saja… Percayalah"

~TBC~

What's coming up next?

"Nee-chan… Sebetulnya, penyakitku itu apa?"

"Unohana-sensei adalah salah satu murid terbaikku"

"Penyakit oto-chan itu… eto… apa ya namanya?"


A/N: Huwa! Gak percaya bisa bikin part ke-2nya sekarang! Ya, mungkin gak sebagus yang readers harapkan… Di chapter ini, kayaknya agak ByakuHisa deh… dan kayaknya, readers kesulitan buat tau dimana aja latar-latarnya… (-_-) Yosh! Terima kasih atas waktu yang terbuang untuk membaca drama gaje ini! Kalau gak keberatan… Boleh minta reviewnya?