Disclaimer: Kuroshitsuji (September 2006), Toboso Yana + Square Enix.

Writer's note: Halo lagi :D Sebelumnya makasih banyak buat yang udah baca chapter sebelumnya =] Akhirnya Chapter II selesai juga. Chapter ini dikarang kilat waktu jam-jam kosong di sekolah, makanya cepet selesai :P Chapter II ditulis dari sudut pandang Sebastian. Mudah-mudahan suka ^^

Sebastian Michaelis' POV

Rutinitas pagi hariku yang biasa.

Membuat teh, lalu membangunkan Bocchan-ku. Rutinitas yang sama setiap pagi, tapi aku tak pernah bosan melakukannya. Tahu aku akan mendapat balasannya, pada akhirnya. Hari demi hari, hingga bulan demi bulan kulewati dengan melayaninya karena kontrak yang terikat diantara kami berdua. Aku sabar, sabar menunggu hingga hari itu tiba, saat kontrak kami akhirnya terpenuhi. Rasa lapar itu, kuakui, memang menyiksaku. Tapi aku selalu bisa menahannya. Rasa sakitnya sepadan dengan apa yang akan kudapatkan. Jiwanya, pada akhirnya. Di akhir semua ini.

Inilah hal yang aku pikirkan setiap hari, setiap kali aku melayani segala perintahnya.

Seperti pagi ini. Aku mengetuk pintu kamarnya, lalu mengucapkan sapaan pagi yang biasa—hanya saja kali ini perkataanku terputus, saat aku melihatnya, matanya sudah terbuka. Sudah bangun rupanya. Tubuhku langsung tegang ketika merasakan hal yang tak beres. Lagi-lagi, aku merasa ada yang memata-matai rumah ini. Hanya saja, aku belum bisa meyakinkan akan hal ini. Bocchan belum memberi perintah untuk itu. Mungkin saat ini ia ingin membiarkan tikus-tikus penguntit itu untuk bermain sebentar.

Tanpa berkata apapun lagi, aku melakukan pekerjaanku yang biasa. Sambil memakaikan bajunya, aku mendiktekan jadwal hari ini untuknya. "Dan sore ini, Marchioness Middleford akan datang—" Perkataanku terputus untuk kedua kalinya hari ini. Aku mendesah pelan saat mendengar omelan Bocchan, yang langsung menghambur keluar ruangan. Menggeleng pelan, aku mengikutinya keluar ruangan.

Aku langsung sibuk mondar-mandir berkeliling Mansion House untuk membetulkan kekacauan yang ditimbulkan ketiga pelayan itu—Maylene, Bard, dan Finnian. Seperti biasa, mereka telah memporak-porandakan berbagai ruangan di rumah. Aku yang sudah terbiasa hanya melakukan semua perbaikan tanpa mengeluh. Apa jadinya kalau butler keluarga Phantomhive tak bisa melakukan hal seperti ini?

Tapi keanehan terjadi lagi. Setelah ditunggu berjam-jam, Marchioness belum juga datang. Biasanya wanita itu tak pernah terlambat.

Kemudian tiba-tiba aku mendengar suara kaca pecah. Aku menoleh ke arah asal suara dengan tubuh yang langsung menegang. Benar-benar ada yang tidak beres.

Aku beralih mengarahkan pandanganku pada Bocchan, menunggu perintah selanjutnya. "Kau tahu apa yang harus dilakukan." Ah, perintah yang tidak jelas, lagi-lagi. Tapi aku memang tahu apa yang harus dilakukan.

Aku tersenyum simpul dan membungkuk. "Yes, at once, Milord."

Aku berjalan cepat menuju tempat suara kaca pecah tadi. Dan letaknya ada di sayap kiri rumah, tak terlalu jauh dari ruang depan tempat kami tadi berada. Aku mulai memikirkan siapa yang mungkin berhasil menyusup ke dalam rumah ini. Dan aku punya beberapa tersangka yang paling mungkin bisa mematahkan pertahanan pelayan-pelayan keluarga Phantomhive.

Saat aku sampai di sana, benar saja, salah satu jendela telah pecah. Tapi juga ada sesuatu yang lain. Sehelai kertas tersangkut di bagian yang pecah. Aku melangkah mendekat, lalu mengambil kertas itu dan membaca isinya.

Ternyata… kejutan besar. Kertas itu tak berisi tulisan apa-apa. Nihil. Hanya sehelai kertas putih tanpa noda.

Telingaku menangkap suara samar desiran dari belakangku. Aku dengan cepat memutar badanku. Tak ada siapapun. Lalu tiba-tiba saja kakiku telah dibelit oleh lapisan tebal jaring laba-laba. Aku tersenyum, lalu berkata, "Mengagumkan, benar-benar mengagumkan, Claude."

Dari sudut mataku, aku bisa melihat si iblis laba-laba yang melangkah masuk melalui jendela yang pecah. Ia lalu melangkah ke depanku. "Sebastian," katanya sambil mengangguk sekilas padaku. Sekalipun ekspresinya terlihat datar, matanya yang menatap mataku berkilat-kilat. Aku balas memandang masuk ke matanya dengan kilatan yang sama.

"Jadi, apa yang membawamu ke sini?" kataku dengan nada santai, seakan ini adalah obrolan biasa.

"Ada… hal penting yang harus kubicarakan," katanya, terdengar jelas bahwa ia memilih kata-katanya dengan hati-hati. Aku mengangguk, memintanya meneruskan. "Lalu apa maksud semua penyambutan ini?" kataku ketika ia tak kunjung berbicara.

"Itu diperlukan," katanya. Aku tersenyum sarkastis padanya. "Dengar, sebaiknya kita tak membicarakan hal ini sekarang. Setidaknya, tidak di sini." Ia menjentikkan tangannya, dan begitu saja, belitan jaring laba-laba di kakiku terurai dengan sendirinya.

Saat itulah aku mendengarnya. Suara Bocchan, berbisik di telingaku, memanggilku. "Bocchan!" desisku, lalu berlari kembali ke ruang depan. Claude mengikuti tepat di belakangku. Saat berlari, aku bisa merasakan keberadaan Bocchan yang semakin menjauh. Dugaanku, ia diculik. Dadaku berkobar oleh perasaan marah. Tak ada seorang pun yang boleh menyentuh Ciel Phantomhive. Menculiknya sama saja berarti mengobarkan perang denganku.

Ketika aku sampai di ruang depan, semuanya sudah terlambat. Bocchan sudah jauh dari Mansion House. Aku merasakan perasaan marah menggelegak dalam diriku, membuat darahku terasa seakan mendidih. Tapi aku berhasil mengendalikan diri. "Claude," kataku dengan nada rendah. "Apa yang sudah kau lakukan—"

"Tunggu, Sebastian. Kau harus mendengarkan aku. Ini sangat penting." Cukup sudah. Sudah tiga kali perkataanku terpotong. Tak ada lagi yang boleh memotong perkataanku, siapapun dia. Tapi aku tetap diam dan mendengarkan, karena nada Claude sangat mendesak. Dengan tubuh tegang menahan amarah, aku menatap tajam pada Claude, menyuruhnya melanjutkan.

"Seperti yang kubilang tadi, Sebastian, tidak aman jika kita membicarakannya di sini. Ayo, ikut aku. Aku tahu tempat aman, yang belum tersentuh oleh mereka." Claude kemudian melangkah keluar, dengan aku berjalan mengikutinya.

Sabarlah, Bocchan, aku akan menyelamatkanmu dan membalas dendam pada orang yang melakukan semua ini padamu. Tunggu saja.

To be continued…

Reviews replies!

Fell Inferios: Makasih reviewnya Ini udah di-update, semoga suka ^-^

claraferllia: Salam kenal juga Ferl =} Bukan, itu yang bekep… Eh jangan dibocorin deh, nanti jadi spoiler =D Tenang aja, nanti di chapter 3 dikasih tau kok =)) Ini update-nya udah cukup kilat belum? =P

Sora'Chii-Ciel'Funtom: Makasih banyak! :3 Yup, kalau cerita misteri biasanya emang panjang kok. Ini juga niatnya dibikin panjang. Salam kenal juga, panggil aja Circe ya =))