Remains
Gundam Seed/Destiny © Sunrise, Bandai, and their creators
This is just a fan work and no material profit gained from this.
Warning in first chapter's applied. Enjoy your reading!
.
Athrun Zala adalah seorang pembunuh.
Begitu juga Dearka Elsman, Yzak Joule, Nicol Amalfi, Rusty Mackenzie, Miguel Aiman, dan sederet nama lain yang sebaiknya tetap menjadi rahasia. Sudah menjadi tugas Nicol, salah satu tech and communication specialist, untuk menjaga daftar nama itu dan semua rahasia lain yang tersimpan agar tidak terlacak oleh 'orang luar', bahkan oleh orang dalam sekali pun.
Nicol baru bergabung dengan ZAFT selama satu setengah tahun. Selama itu pula ia belum pernah menarik pelatuk. Tetap saja, setelah menyaksikan kengerian yang terjadi di dalam Orb Square lewat mobil van-nya yang aman, ia ingin muntah. Mereka sudah memasang bom itu di tempat-tempat yang tidak banyak orang, tapi memiliki dampak ledakan yang besar agar efek yang diinginkan tercapai.
Meski begitu, korban yang tidak diinginkan masih ada. Noda itu tetap saja mengotori tangannya, meski secara tidak langsung.
Nicol mengepalkan tangannya erat-erat ketika suara-suara teriakan dan kesakitan menyusup lewat alat komunikasi Athrun dan Dearka yang berada di dalam. Meski ia ingin berpaling dari pemandangan penuh abu, asap, dan reruntuhan di depan monitornya, ia harus tetap memerhatikan.
"Jalan April 5th. Mereka sudah pergi."
"April 4th juga sudah."
"April 6th aman."
Jeda lima detik.
"April 7th bersih."
Nicol memerhatikan monitor di sebelah kanannya yang memperlihatkan peta kota berwarna hijau-hitam beserta titik merah yang bergerak menuju mereka. Ia berputar di atas kursinya dan mengangguk pada rekannya yang memantau situasi di lokasi utama, Pusat Penelitian Negara.
Rusty balas mengangguk dan kembali mengawasi monitornya. "Baiklah, Phantom, kalian bisa mulai," ujarnya tenang.
Nicol berputar lagi dan baru akan memberikan instruksi ketika suara panik Athrun terdengar. Mata cokelatnya melompat ke arah monitor yang memperlihatkan sambungan salah satu CCTV di dalam. Athrun tidak lagi berteriak. Dari gambar hitam-putih itu terlihat dirinya yang berusaha melepaskan diri dari seseorang yang menindihnya. Yang membuat Nicol heran setelah ia berhasil bebas, kenapa Athrun tidak langsung meninggalkan orang itu?
"Athrun, Dearka, kalian bisa pergi dari sana sekarang," ujarnya. Mungkin mereka kira situasinya belum aman?
"Aku sedang menuju Athrun," balas Dearka dengan napas tersengal. "Dia belum meledakkan bom kedua miliknya!"
Mata Nicol membelalak. "Apa? Kenapa?" Ia bisa merasakan tatapan bingung Rusty di belakang kepalanya. "Athrun! Ledakkan bomnya sekarang!"
Bunyi menggelegar itu terdengar sampai menggetarkan seluruh van. Ia melihat sosok Dearka yang baru menarik lengan Athrun sebelum asap hitam menutupi kamera seluruhnya.
"Ada apa?" Rusty, yang entah sejak kapan berada di belakangnya, bertanya. Tidak heran, mengingat jalur komunikasi mereka yang berbeda—Nicol tersambung dengan tim Clown sedangkan Rusty dengan tim Phantom—pasti rekan satu divisinya ini penasaran.
Nicol menggeleng. "Tidak tahu."
"Mereka baik-baik saja?" tanyanya lagi.
Nicol memerhatikan monitornya lagi, mencari keberadaan teman-temannya meski ia tahu dua titik berwarna biru di layar satunya masih terus bergerak menuju lokasi penjemputan. Akhirnya, ia meraih tombol yang tersambung dengan alat komunikasi 'tim evakuasi' sambil menggigit bibirnya. "Chammelion, waktunya masuk."
.
Membopong Athrun Zala bukan hal yang mudah.
Dearka tidak mengerti. Pemuda itu masih berlari kencang di sampingnya menuju pintu keluar mall seperti pengunjung lain tiga menit yang lalu. Begitu mereka sampai di pintu, pemilik rambut biru gelap itu tiba-tiba jatuh dan Dearka harus membopongnya karena Athrun tidak bisa berjalan dengan kekuatannya sendiri—kau terlalu menimpakan beban tubuhmu padaku, Bung, pikirnya. Ia tidak tahu apakah Athrun mengalami cedera saat ledakan atau dia memang seorang aktor yang handal. Ya, selain dirinya, Athrun dikenal sebagai salah satu agen dengan bakat akting yang alami.
Yang mana pun terserahlah, toh situasi (melelahkan) ini membantu mereka berbaur sebagai korban.
Begitu mereka keluar, sepasukan pemadam kebakaran menyambut mereka dengan tangan-tangan terulur—menjaga kepala mereka agar tetap tertunduk, memberikan sungkup oksigen, dan menyampirkan selimut melewati bahu mereka. Dearka mendongak saat dua orang paramedis menghampiri, meyakinkan para pemadam pemberani itu bahwa mereka bisa pergi untuk melakukan aksi penyelamatan lain.
Jadi mereka berdua dipapah, dinaikkan ke atas ambulans, dan dibawa pergi.
Bukan ke rumah sakit, tentu saja.
"Oke, aku butuh kejujuran kalian sekarang. Kalian terluka?" tanya Miguel sambil melepas maskernya. "Tidak, tetap pasang. Itu bukan untuk penyamaran," tegurnya dengan tatapan tajam ketika Dearka menjauhkan sungkupnya.
"Baik, suster," ledeknya. "Aku baik-baik saja."
"Athrun?" Suara Shiho Hahnenfuss mencegah adu tatap yang baru saja akan terjadi.
Miguel dan Dearka memusatkan perhatian mereka pada Athrun yang masih duduk terbungkuk-bungkuk di atas kasur dengan napas memburu. Beberapa bulir keringat yang berkumpul di dahinya dan menetes membentuk jejak di antara abu dan debu yang menempel di wajahnya.
Dearka terkejut dan memaki dirinya sendiri dalam hati. "Kau benaran luka?"
"Tidak," balasnya cepat, "Aku hanya ...," ia menarik napas beberapa kali lagi, "maaf, maafkan aku. Tadi itu cukup 'besar' dan ...," ia berhenti lagi, mengambil napas dengan rakus seolah udara di paru-parunya takkan pernah cukup, "maaf, aku butuh waktu ..."
Ah, ini memang misi 'besar' Athrun yang pertama. Selama ini mereka memang lebih banyak bekerja sendiri-sendiri atau dengan tim kecil. Dearka sudah pernah mendapat misi 'besar' seperti ini dua-tiga kali bersama Yzak. Tidak mudah, memang, ia bahkan sempat mengalami mimpi buruk selama seminggu penuh, namun ia tidak menyesal. Karena ...
"Athrun," panggilnya, menatap teman baiknya itu lurus-lurus. "Kita bukan orang jahat."
Athrun membalas tatapannya dengan intensitas yang sama sampai akhirnya ia mengangguk dan kembali mengatur napasnya, mengikuti instruksi yang diberikan Shiho dan membiarkan Miguel melepaskan jaket, kancing kemeja, dan ikat pinggangnya.
Dearka sudah terlalu mengenal Athrun sampai ia tahu kalau temannya ini sama sekali tidak menelan kata-katanya. Makanya, ketika mereka sampai di markas setelah mendapat kabar kesuksesan tim Phantom dan disambut oleh tatapan bertanya dan khawatir dari Nicol, Dearka hanya mengendikkan bahunya karena mereka sama-sama mengerti.
Ini misi yang berat bagi Athrun. Apalagi setelah misi kecil penutup malam itu.
Bukan hal mengherankan, sebenarnya. Dearka beberapa kali melihat mereka yang sudah bergelut dalam organisasi ini selama belasan tahun menangis setelah menyelesaikan satu-dua misi. Terkadang mereka mendatangi pemakaman korban mereka untuk mengatasi rasa bersalah. Agak ironis.
Karena itulah Dearka langsung mengiyakan tanpa banyak bertanya ketika Athrun memintanya menemaninya ke pemakaman—mengawasi punggungnya, katanya. Kenapa Athrun tidak mengajak Nicol yang lebih familiar dengan area penuh perasaan ini membuatnya heran. Mungkin, mungkin, itu karena Dearka melihat langsung reaksi Athrun ketika Kira Hibiki—putra dari target utama mereka—tergeletak tak bergerak dengan kaki terjepit reruntuhan langit-langit yang membuat genangan darah di sekitarnya. Mungkin juga karena Dearkalah satu-satunya yang mendengar percakapan keduanya sebelum Athrun membunuh Hibiki muda.
Ia merasa kasihan. Kira Hibiki seharusnya tidak perlu menjadi korban. Seandainya ia tidak melindungi Athrun waktu itu (ia melihat rekamannya lagi bersama Nicol diam-diam), dan seandainya ia tidak melihat Athrun menekan detonator ...
Bung, kalau mendengar cerita Athrun selama masa penyamarannya menjadi 'teman baik' Kira Hibiki, ia yakin laki-laki berambut cokelat itu orang yang lumayan asyik. Sayang sekali ...
Dari dalam mobil, Dearka mengawasi punggung temannya selagi ia berjalan perlahan menuju dua makam yang baru ditinggalkan para pelayat dan keluarga sepuluh menit yang lalu. Ia bisa melihat jelas ujung-ujung jemari tangan kanan Athrun yang menyapu batu nisan di sebelah kanan dengan sangat hati-hati, mengikuti garis tepiannya sebelum kembali lagi ke tengah. Laki-laki berusia dua puluh satu tahun itu tidak meletakkan bunga, tidak berlutut untuk berdoa, atau mengajak orang yang ada di bawah sana bicara. Athrun hanya mengunci mulutnya rapat-rapat dan menatap ukiran nama yang tertera di sana dengan ekspresi tenang, terlalu tenang.
Pemuda berkulit kecokelatan itu menghela napas panjang. Ketika Dearka melihat bibir Athrun bergerak, ia pun menggumamkan kata-kata yang sama.
"Aku bukan orang jahat."
Karena kalimat itu selalu menjadi pengingat mereka di saat mereka ragu tentang apa yang mereka lakukan, menyelamatkan dunia.
.
Yzak harus mengakui kalau ia terkejut melihat sosok Athrun yang hanya memakai kaos oblong dan jins membukakan pintu apartemennya dengan kantung mata setebal panda, wajah pucat, dan rambutnya berantakan seolah tidak pernah disisir seumur hidupnya. Ia sudah mendengar dari Dearka tentang mimpi buruk yang terus menghantui Athrun setiap malam dan cerita singkat yang mungkin menjadi alasan hal itu terjadi. Sosok Athrun Zala yang selama ini dilihatnya selalu rapi, tidak seperti pengangguran yang kehabisan uang dan dilanda masalah cinta seperti ini.
"Kau datang cepat. Teh?" tawarnya sambil membuka pintu lebih lebar, memberi isyarat untuk masuk.
"Kopi. Tanpa gula." Ia melepaskan sepatu dan menggantung mantelnya. Athrun sudah lebih dulu masuk dan langsung pergi ke dapur, sibuk mengisi air dan mempersiapkan gelas dan entah apa.
Yzak memerhatikan ruang tengah yang sudah dikelilingi lautan bola-bola kertas. Ia memungut kertas yang berada paling dekat dengan kursinya dan membukanya.
Ayahmu orang jahat.
Kami harus membunuhnya, jadi (coret)jangan marah(coret)
Ia mengambil gumpalan berikutnya.
Kau percaya senjata biologis yang diberikan pada penduduk secara diam-diam untuk ... untuk ... seperti yang biasa kita mainkan di game itu benar-benar ada?
Ayahmu membuatnya. Karena itulah kami membunuhnya karena kalau Doktor Hibiki tidak dibunuh maka
Yzak sudah membuka gulungan lain sebelum ia selesai membaca surat yang terakhir.
Kami bukan orang jahat.
Percayalah, kalau ada cara lain, ayahmu tidak perlu terbunuh.
Kami berusaha melindungimu.
(coret)Jika apa yang ayahmu lakukan sampai keluar ke media, kau tidak akan bisa membayangkan apa yang akan menimpamu dan(coret)
"Kuharap kau tidak keberatan menunggu." Athrun berdiri di belakang sofa krem di hadapannya, menumpukan satu lengannya di sandaran. "Airnya belum mendidih."
"Siapa peduli? Toh alasanku datang bukan untuk minum kopi." Ia meremas kertas itu lagi dan membiarkannya berada di kepalan kedua tangannya ketika ia mencondongkan badan. "Kenapa kau memanggilku?"
Athrun berjalan mengitari sofa dan tersenyum saat tubuhnya terempas ke sofa yang sudah tipis itu. "Mengobrol."
"Apa yang kau mau?"
Ekspresinya berubah serius. "Kau tahu apa."
"Apa karena ini?" Ia mengangkat surat gagal di tangannya dan melemparkannya begitu saja ke atas meja. "Karena kau tidak bisa mengirimkan surat pengakuan dosa pada orang yang sudah meninggal?"
Yzak semakin kesal ketika Athrun tidak menjawab dan hanya menatapnya lekat-lekat dengan ekspresi datar.
Orang ini sudah gila.
"Dengar ... Zala ..., aku tahu kau merasa bersalah. Kau berteman dengan orang itu satu tahun—ha—satu tahun itu waktu yang lama! Aku mengerti perasaanmu—"
"Sungguh?"
"Ya. Aku membunuh pamanku, yang sudah seperti ayahku sendiri, karena dia ternyata seorang penyelundup senjata perang yang duduk di pemerintahan!"
"Itu dia, Yzak. Kita tidak punya hak untuk menghakimi mereka dengan 'keadilan kita' sendiri. Apa yang kita lakukan itu salah. Kita sama saja—"
"Aku mengerti maksudmu. Aku mengerti, percayalah, aku juga pernah memikirkan itu beberapa kali, tapi itu ... itu bukan masalah yang akan kauhadapi sekarang. Sekarang, dengar," nadanya melemah. Tangannya yang kurus memijat-mijat puncak hidungnya dengan penuh tekanan. "Kau tidak bisa berhenti, Zala. Ini bukan cuma 'pekerjaan'. Ini berbeda. Tidak ada jalan keluar."
"Karena itulah aku mau kau membunuhku, Yzak."
Yzak tersentak. Athrun Zala masih mengeluarkan eskpresi datar itu yang tidak bergeser sedikit pun. Mata hijaunya menembus tajam—menantangnya, memohon. Yzak bisa membaca dengan jelas pikiran-pikiran yang menerornya sampai membuatnya memanggil Yzak Joule, rivalnya sejak tahun pertama di ZAFT, datang ke apartemen persembunyian sementara miliknya dan meminta pertolongan darinya, untuk membunuhnya.
Aku tidak bisa melakukan ini lagi.
Aku hanya akan semakin mengacau.
Harus berhenti.
Kau harus membunuhku.
Namun ada satu hal yang terbaca sangat jelas oleh Yzak di atas semua keputusasaan itu.
Ada sesuatu. Aku belum mau mati.
Akhirnya, ia memilih untuk pergi tanpa mengatakan apa pun. Ia masih punya misi. Ia masih memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Tidak mungkin ia—ia tidak punya waktu untuk—
Sial, kau meminta terlalu banyak dariku, Zala.
.
Miguel Aiman merasa seperti ditonjok ketika ia mendapat perintah untuk menghabisi Athrun Zala sebelum polisi mendapatkannya.
Miguel menghabiskan semalam penuh tanpa tidur dan hanya duduk memerhatikan berkas kasus Athrun. Kedua tangannya terlipat di depan dada. Cahaya satu-satunya dari lampu meja membuat wajah perseginya terlihat lebih pucat.
Kasus pembunuhan Dokter Hiroki Asuka—seorang peneliti hebat, sebenarnya, yang membuang etik dan ideologi profesinya hanya untuk memenuhi permintaan 'suatu oknum' untuk menerbitkan jurnal-jurnal 'palsu' yang tentu saja berhasil membuat orang percaya—ratusan ... ribuan ... jutaan peneliti di dunia?
Tidak biasanya mereka, apalagi Athrun, meninggalkan jejak yang dapat menuntun polisi ke arah mereka, sekecil apa pun. Cara yang mereka gunakan pun biasanya 'terkesan alami', seperti terkena penyakit jantung, kecelakaan, jatuh di tempat yang tidak menguntungkan—klasik. Kali ini, Athrun melakukan eksekusinya dengan pisau.
Miguel mengusap wajahnya dengan satu tangan yang langsung ditumpu di atas meja. Ia menyadari perubahan pada sikap Athrun sejak misi PPN waktu itu, namun ia membiarkannya karena hal itu wajar. Athrun masih shock, dan ia butuh waktu. Beberapa bulan kemudian ia terlihat biasa saja, kembali menjadi Athrun yang ia kenal bahkan sampai ia mendapat laporan tentang cara Athrun melakukan misi terakhirnya ini dari Komandan Rau Le Crausset dan mendapat perintah untuk membunuhnya sore ini.
Oh, teman macam apa dia.
Athrun yang ia tahu tidak akan melakukan hal seceroboh ini. Antara ia masih tidak bisa berpikir jernih untuk memikirkan metode penyelesaian misinya, atau dia memang sengaja.
Apa pun alasannya, ia tidak punya waktu untuk bertanya karena berdasarkan 'tikus' mereka yang ada di kepolisian, satu jam lagi mereka akan menggerebek apartemen Alex Dino dan menangkapnya.
Jadi, ketika ia mengendarai truk kontainer jasa pengiriman barang antarkota di tengah jalan yang sepi dan tepat mengarahkannya ke mobil polisi yang membawa Athrun, ia menekan pedal lebih dalam.
Ia mendengar decitan rem itu, mendengar suara metal yang hancur ketika mobil itu menabrak pohon dengan keras.
Ia menepikan mobilnya, menyingkirkan rasa bersalah di dadanya sambil mengatur posisi sopir truk sebenarnya yang tidak sadarkan diri di belakang kemudi. Miguel tidak punya pilihan. Athrun Zala harus mati, membawa rahasia ZAFT dengannya ke alam baka.
Standar operasional prosedur.
Ia berlari kecil menghampiri mobil yang terbakar dan hancur parah di bagian samping itu. Ia tidak bisa mendekat lebih jauh, udara panas membuat kulit dan hidungnya protes. Ia memutar, mencari posisi yang lebih pas untuk memastikan hasil pekerjaannya. Di sana, ia bisa melihat sosok dua orang yang tidak bergerak di dalam, dipeluk oleh belaian api panas.
Miguel ingin meninggalkan sesuatu di sana, sebagai permintaan maaf atau paling tidak sebagai penghormatan terakhir untuk Athrun Zala, temannya. Tidak boleh. Tidak bisa. Ia tidak boleh meninggalkan apa pun yang bisa menjadi bukti dan mengganggu 'panggung pertunjukkan'.
"Maaf," lirihnya, tulus. Ia berbalik dan pergi lima menit sebelum sirine-sirine yang dinanti terdengar.
Miguel tiba di markas di waktu yang sama dengan Dearka dan Nicol. Mereka hanya menyapanya saat mereka sama-sama menunggu lift, tidak bertanya apa-apa setelah mencium samar bau asap dari bajunya karena sudah bisa menebak apa yang baru saja dia lakukan. Wajah keduanya langsung tertekuk, berduka dalam diam. Mereka mengerti, tapi tetap saja sulit menerimanya.
Miguel tidak akan heran kalau ia mendapat perlakuan dingin dari mereka berdua selama beberapa hari ke depan. Yah, mau bagaimana lagi, Dearka Elsman dan Nicol Amalfi adalah teman baik Athrun Zala. Dia sendiri hanya berstatus sebagai teman biasa, tidak sedekat mereka, jadi meski menyesal, ia tidak terlalu merasa sedih.
"Oh, kalian datang pagi."
Yzak Joule datang dengan topi, namun ia bisa melihat bekas abu di sela-sela rambut dan lehernya. Ia pasti sudah mencuci muka lebih dulu sebelum datang ke sini. Bau asapnya bahkan lebih kuat dari dirinya meski ia sudah memakai jaket untuk menutupi seragamnya—tunggu. Matanya berhenti cukup lama di sekitar leher Yzak, tempat kerah hitam itu mencuat.
Seragam polisi?
"Baru menyelesaikan misi?" tanya Dearka santai, memecah perhatian Miguel dan membuatnya mengerjap beberapa kali.
"Ya, bermain peran sebagai polisi untuk memastikan bukti-buktinya hangus. Kasus Lord Djibril ini lumayang licin." Ia menarik resleting jaketnya lebih tinggi. Mata biru tajam itu tidak berpaling sedikit pun dari Miguel. "Kau juga?"
"Ya, kasus Athrun Zala."
"Oh." Matanya berpaling ke arah pintu lift yang akhirnya terbuka. Mereka berempat masuk. "Selesai?"
"Ya. Tinggal melapor ke Komandan," jawabnya, entah kenapa merasa ada atmosfer berat yang memenuhi ruangan kecil itu. Rasanya seolah berjalan di atas seutas tali, harus berhati-hati.
"Bagus," gumam agen yang dijuluki berhati es di sebelahnya. Yzak menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan. "Kita tidak memerlukan orang berhati lemah seperti dia. Seseorang pada akhirnya harus membereskannya juga."
Dearka meraih bahu temannya itu. "Hei, Yzak—"
Yzak bergeming, mengabaikan Dearka dan menatap Miguel lagi dengan keintensitasan yang sama—yang ia tidak mengerti apa artinya. "Terima kasih, Aiman."
Sarkasme? Atau tulus?
Akhirnya ia hanya mengangguk.
.
Cagalli Hibiki meletakkan wajahnya di kedua tangan dan menangis.
Berita itu ada di mana-mana. Penangkapan pelaku pembunuhan Dokter Hiroki Asuka, Alex Dino, seorang pemuda yang ternyata bernama Athrun Zala dan kemungkinan terlibat dengan kematian Kira Hibiki sebelum dia pindah ke Copernicus.
Polanya mirip, kata salah satu dari narasumber yang ada di TV, Dino—atau Zala—mendekati putra korbannya sebelum melakukan aksinya.
Tapi Kira Hibiki adalah temannya—atau begitulah yang ia rencanakan—dan dia yang menjadi korban, bukan ayahnya.
Tidak lama setelah kasus di Pusat Penelitian Negara di mana ayahnya, Doktor Ulen Hibiki terbunuh. Tidakkah kau melihat ada sesuatu yang menghubungkan ini di sana?
Tentu, itu masuk akal. Sayangnya, Alex Dino atau Athrun Zala ditemukan tewas bersama polisi yang membawanya pagi ini dalam perjalanan menuju kantor polisi. Apa Anda piki—
Cagalli bangkit dari sofanya dan berjalan keluar, masih dengan gaun tidur yang menutupi piyamanya.
Matahari pagi memandikan wajahnya ketika ia membuka pintu. Ia menyapa tetangga sebelah rumahnya, Bibi Murrue La Flaga, yang sedang menyirami kebun bunganya di teras. Ia merasa sedih kalau ingat Bibi Murrue sebentar lagi akan pindah, menyusul suaminya yang baru dipindahtugaskan ke Copernicus dua minggu lalu. Wanita itu—dan suaminya—selalu baik padanya dan Kira selama ini, mengantarkan makanan, merawat mereka saat mereka sakit. Dia bagai sosok ibu yang menggantikan peran ibu mereka yang meninggal sepuluh tahun silam.
Ia benar-benar menghargai perhatian dan dukungan moral yang dicurahkan untuknya terutama beberapa bulan terakhir. Bahkan Paman Mwu bersikeras ingin terlibat dalam penyeledikan kasus pembunuhan Kira dan menyelesaikannya sampai tuntas—meski Cagalli sadar tidak banyak petunjuk untuk mengungkapnya.
Semua jendela tertutup, tak ada bekas masuk yang mencurigakan, tidak ada petunjuk di rekaman CCTV, tidak ada suara, hanya sosok Kira yang terbaring dengan darah yang keluar dari lubang di dadanya, menodai baju dan seluruh seprai sampai menetes ke lant—
Berhenti, Cagalli.
Gadis itu menarik napas dalam-dalam dan mengambil tumpukan amplop dari kotak suratnya. Sesuatu terjatuh. Gadis itu mengambilnya dan menautkan alis ketika membaca isinya.
ARE YOU STRONG ENOUGH
TO JOIN THE FIGHT?
WRESTLING MATCH, 1ST OCTOBER 74
SIGN YOURSELF AND WIN THE MONEY
"Bibi Murrue," panggilnya, "Bibi juga mendapat ini?" tanyanya sambil mengangkat selebaran berwarna merah, putih, dan hitam yang dimaksud.
"Apa itu?" Bibi Murrue berjalan ke pinggir pagarnya, memicingkan matanya ketika Cagalli berjalan mendekat sambil mengangkat kertas di tangannya. Wanita berambut cokelat itu tertawa. "Pertandingan gulat? Tidak, tidak ada di kotak surat kami. Seseorang pasti mendapatkannya dan iseng membuangnya di kotak suratmu. Lagipula lihat tanggalnya, sudah lewat kemarin."
"Ah, Bibi benar," gumamnya, memerhatikan pamflet itu lagi. Ada sesuatu yang membuatnya merasa keberadaan pamflet ini di kotak suratnya tidak sesederhana itu.
"Cagalli." Ia tidak menyukai nada ragu di balik suaranya. "Kau sudah mendengar beritanya?" tanya Bibi Murrue hati-hati.
Cagalli mengangguk, tiba-tiba merasa sesak dan tidak nyaman. Ia menelan ludah dan melirik tetangganya dengan kaku. "Menurut Bibi itu benar? Athrun yang ...?"
Bibi Murrue mematikan alat penyiramnya dan memberinya tatapan 'itu'. "Oh, Sayang ..."
Cagalli mengambil langkah mundur ketika ia melihat gerak-gerik wanita itu yang hendak memeluknya. Tidak, ia tidak membutuhkannya sekarang. Ia sudah mendapat cukup pelukan selama beberapa bulan terakhir dan ia sudah muak untuk semua itu sekarang. Ia hanya menyunggingkan senyum tipis. "Terima kasih, Bibi. Aku ... aku harus bersiap-siap ..."
Bibi Murrue mengangguk mengerti. "Ya. Ya, tentu saja. Akan kusiapkan bekal makan siangmu saat kau sudah siap."
"Aku menyayangimu, Bibi Murrue!"
Cagalli menutup pintu rumahnya lagi dengan hati-hati meski ia sangat ingin membantingnya begitu saja.
Musik alternative rock itu kembali diputar.
Pemilik rambut pirang yang dipotong pendek itu mendesah. Ia berjalan menuju ruang tengah dan mengambil remote untuk mengganti penayangan detik-detik penangkapan yang sempat ditangkap media sebelum mereka diusir—tentu saja, bodoh, kalian mengganggu proses penangkapan! Meski remote itu sudah ada di tangannya, matanya masih memerhatikan sosok laki-laki yang berhasil merebut hatinya sekaligus orang yang pernah menjadi sahabat baik saudara kembarnya itu.
Athrun terlihat sangat tenang ketika polisi memborgolnya dan mematikan lagu latar yang dimainkan CD Player di apartemennya. Ingatannya melompat ke pertemuan tidak terduga dengan laki-laki itu sewaktu ia sedang menuju Universitas Mendel sehubungan dengan lomba debat yang akan ia ikuti—bukan karena ia membuntuti Athrun. Ia bahkan belum pulih dari keterkejutannya ketika Athrun menjerit, meneriakinya dengan kata-kata dan tuduhan kasar yang menusuk jantung, dan pergi lagi meninggalkannya begitu saja, seperti saat ia mengharapkan kehadiran laki-laki itu yang tak kunjung datang selama apa pun ia menunggu di pemakaman Kira.
Dua sosok itu, yang saat ini ia lihat di TV dan yang ia temui di Universitas Mendel, terlalu berbeda.
Apa waktu itu cuma pura-pura?
Cagalli memerhatikan rekaman yang kembali diulang: Athrun yang melakukan perintah polisi dengan tenang, lagu latar, senyum sangat tipis yang diberikannya pada kamera tepat sebelum Paman Mwu mengusir media, lagu yang dimatikan ...
Tatapan itu, senyumnya, lagunya.
Cagalli melempar remotenya begitu saja dan menyambar laptop yang berada di atas meja. "Judulnya ... judulnya ... apa judul lagunya ...," rapalnya dengan jari yang terus menari di atas keyboard. "Ah."
Gadis itu memasang headset dan menekan tombol play. Ia membuka tab baru, menekan judul lagu dan mencari liriknya.
You've read the books
You've watched the shows
What's the best way no one knows
Cagalli masih mendengarkan. Ia terus mendengarkan sambil meniti setiap kata dalam lembar liriknya. Jantungnya berdebar seiring tempo musik yang bertambah cepat.
First, you think the worst is a broken heart
What's gonna kill you is the second part
And the third is when your world splits down the middle
And fourth, you're gonna think that you fixed yourself
Fifth, you see them out with someone else
And the sixth is when you admit you may have fucked up a little
Air matanya menetes. Mulutnya terbuka, tidak percaya. Ia mendapat jawabannya, seberapa pahitnya ia menerima kenyataan kalau memang Athrunlah yang membunuh Kira.
Cagalli menyandarkan lehernya di puncak sofa, menatap langit-langit dan membiarkan air matanya kembali mengalir. "Kenapa kau memberikan pengakuan ini padaku, brengsek?" gumamnya pelan, tanpa amarah maupun kebencian. Hanya ... lelah. Ia sudah terlalu lelah.
Haruskah ia memberitahu Paman Mwu? Untuk apa? Toh, Athrun juga sudah meninggal, tapi paling tidak Shinn Asuka—laki-laki yang bersama Athrun waktu itu—bisa mendapatkan keadilan dan kejelasan atas pembunuhan ayahnya. Iya, kan?
Mata hazel itu melirik pamflet yang tergeletak di atas meja.
ARE YOU STRONG ENOUGH
Gadis itu mendengus dan tertawa. Tentu saja kau yang meletakkannya, kan, Athrun?
Cagalli mengusap matanya, meletakkan laptop di atas sofa dan berjalan ke dapur setelah mengambil ponselnya. Cagalli Hibiki adalah gadis yang kuat. Ia akan membuktikannya pada Athrun Zala (arwah atau apa pun). Jika yang membuat laki-laki berhati lembut (atau dingin?) itu melakukan semua hal yang dituduhkan padanya adalah kekuatan besar di balik layar, ia tidak akan melakukan hal bodoh dengan memberikan perlawanan dari garis depan. Tidak.
'When your world splits down the middle ...,' peringatan, eh, Athrun?
Ia akan mencari tahu hal itu lebih dalam nanti, ketika ia sudah punya lebih banyak kekuatan, orang, pengetahuan, dan keberanian. Akan butuh bertahun-tahun, tapi ia akan melakukannya. Sekarang, Cagalli Hibiki, seorang mahasiswa Ilmu Sosial dan Politik di tahun ketiga hanya akan menelepon Paman Mwu, memintanya datang ke lomba debatnya di Mendel Uni dua hari lagi dan memintanya menraktir makan siang, lalu mereka akan bicara.
.
"Ups! Maaf—maaf! Aku tidak melihatmu di sana."
Cagalli memutar bola matanya selagi ia membungkuk, mengambil kotak-kotak CD yang baru saja terlepas dari tangannya karena seseorang terlalu menikmati lagu sampai tidak bisa mengontrol gerakan tubuhnya.
Ia melihat headphone yang tergantung sembarangan dan masih memainkan lagu dari CD Player yang disiapkan khusus untuk para pelanggan ketika pemuda itu membantunya membereskan barang-barang.
Alisnya terangkat ketika ia mengenal lagu itu.
"'Six Degrees of Separation'?" tanyanya sambil berdiri, membetulkan letak tas tangannya yang merosot. Tatapannya tertuju pada sampul album berwarna abu-abu yang tergelak di samping CD Player.
Napasnya berhenti ketika ia mengangkat kepala dan melihat sosok yang menabraknya dengan jelas.
Pemuda yang mengenakan jumper abu-abu dan jins biru tua itu memiliki rambut hitam yang dipotong pendek seperti tentara. Kumis dan janggut tipis memenuhi rahangnya, membuat mata cokelatnya terlihat menonjol.
"Aku tahu. Lagu lama—sekitar ... tiga tahun? Tapi lumayan." Laki-laki itu tersenyum lembut, melihatnya dengan tatapan yang sangat familiar. "Mengingatkanku pada seseorang di masa lalu."
Cagalli tidak sadar ia melayangkan tangannya pada pipi pemuda itu sampai seluruh isi toko memusatkan perhatian pada mereka berdua.
Pemuda itu mengumpat dan meringis. "Hei!" protesnya sambil mengelus-elus pipinya yang memerah.
"Itu sebagai balasan karena sudah menabrakku dengan kekonyolanmu."
"Apa kau selalu menampar orang yang tidak sengaja menabrakmu?" gerutunya sambil memberi tatapan maaf pada orang-orang yang terganggu.
Satu sudut bibir Cagalli terangkat. Ia melipat kedua tangannya dan menjawab dengan angkuh, "Hanya pada orang brengsek yang pantas mendapatkannya."
"'Brengsek' ... agak berlebihan, kau tahu, kata itu." Pemuda itu mengangkat kedua bahunya. "Yah, kurasa aku memang pantas mendapatkannya."
Cagalli mengangguk puas. "Ngomong-ngomong, namaku Cagalli."
Laki-laki itu tersenyum dan memasukkan satu tangannya di kantung celana. "Namaku ..."
.
End of part 2
Selesai.
Wuah, akhirnya ...
Jadi inget, "Fake" saya buat karena lagi pengen buat fic dengan suasana lagu Exit Wound - The Script. Bedanya, kali ini saya duluan buat ficnya dan pas lagi denger lagu di soundcloud sambil nulis dan lagu ini diputer (Six Degrees of Seperation - The Script), saya cari liriknya dan kayaknya lumayan pas untuk jadi petunjuk yang ditinggalin Athrun untuk Cagalli. Waktu itu saya beneran belom kepikiran gimana petunjuknya ahahahaha. And so I should give my thanks to The Script for such imaginative and quite depressing lyric. Ahahahahaha.
Terima kasih banyak udah mampir dan membaca sampai selesai, readers dear! Saran dan kritik kalian sangat diterima~
Have a happy day!
