cruelty is just a cover for my love that is too big for you.
Itu akibat karena kau berani bermain denganku [Uchiha]. Kau bisa miliki waktuku tapi bukan egoku [Sabaku]. Aku benci hal yang merepotkan, tapi tidak selama itu kau [Nara].
.
.
.
Naruto belongs to Masashi Kishimoto and I'm just borrowing the characters to show my creativity.
AU, OC, klik back sebelum menyesal T.T
.
.
.
Deru mobil terdengar begitu jelas memecah keheningan malam. Beberapa music yang terdengar rancak seolah mengajak siapapun tuk meliuk seirama nada. Diantara kerumunan gadis berpakaian mini, onyx dan grey beradu, seolah menegaskan siapa yang lebih pantas berkuasa. Ini bukan hanya tentang kedua marga, bukan hanya tentang kekayaan semata, tapi ini melibatkan dua sekolah bergengsi di Konoha. Persaingan begitu terasa saat mereka membentuk kubu yang terlalu kentara.
"What happening here?" Tanya Temari sesaat setelah membuka pintu mobil, tak menggubris pertengkaran dua sejoli yang masih meributkan kecepatan mobil.
Keriuhan itu seketika senyap saat semua mata tertuju pada satu sosok, satu sosok yang kebingunan ditengah hingar bingar. Satu sosok yang menyesal harus berada di tengah kerumitan tak bermutu yang ia hindari selama ini.
Sedangkan kedua bola mata berbeda warna itu hanya menatapnya tak berkedip, kini mereka akan mempertaruhkan segalanya, segalanya untuk gadis yang terefleksi secara cantik di netra. Jadi sekarang, benarkah ini hanya karena faktor adu gengsi sekolah? ataukah karena percikan yang kian membara di hati itu penyebabnya?
.
.
.
Chapter 2 : Sincerity
.
.
.
Penguasa AIS hanya mendecih sebelum melangkahkan kaki dengan angkuh menuju supercar bewarna kelabu yang terparkir cantik bersisian dengan Saleen yang nampak garang dengan dominasi merah itu. Menegaskan arogansi yang menguar bagai selimut kekal yang terlalu kentara. Berbeda dengan pemilik netra grey yang justru melangkahkan kakinya ringan menuju gadis bersurai laksana pasir gurun. Ia hanya menatap secara intens kedua bola mata bewarna jade. Sesimpul senyum tipis menghiasi wajah yang kerap kali terlihat mengantuk, kala netranya tak menemukan setitik pun kegugupan pada paras cantik di hadapannya.
"I will definitely win you." Bisik pemilik netra grey lantas berbalik seolah tak terjadi apapun.
Sang gadis tercekat, otaknya berusaha berpikir realistis, tetapi semua terasa begitu gelap kala hati telah merasa tersakiti. Deru mobil yang bersiap memecah aspal tak terdengar di sepasang telinga, kala yang mendominasi adalah jerit kekecewaan. Namun bagai gerak lambat, kelopak yang sempat terpejam perlahan terbuka, menampilkan teal yang terselimut kristal. Ia mantapkan hatinya sebelum kristal itu meleleh dan membentuk aliran anak sungai dengan pipi sebagai medianya.
Beragam tuduhan yang dialamatkan kepadanya terputar bagai roll film usang pada setiap langkah mantap itu. Hingga kata-kata terakhir pemuda bersurai hitam yang ditata seperti nanas kian menorehkan perih bagai tetesan cuka diatas luka. Ingin menegaskan bahwa ia bukanlah barang yang layak dipertaruhkan. Entah ia sudah terlalu lelah ataukah batas kesadarannya kian menipis. Ia langkahkan kakinya dengan cepat, dengan deru nafas yang memburu. Sapu tangan itu belum berayun, hitungan masihlah hendak menuju kearah tiga. Namun semua terhenti kala gadis pemilik surai emas mengetuk jendela Saleen dengan tak sabar.
"Ada apa?"
"Apa maksudmu?"
"Kurasa siswi berprestasi di AIS cukup jeli membaca keadaan." Balasnya masih tetap memandang jalanan tanpa melirik sedikitpun rupa cantik diluar mobil dengan jendela yang terbuka setengah sebagai sekatnya.
Tangan mungil itu terkepal erat, sorot matanya menajam, teal menantang, kepala ia tegakkan. Langkahnya mantap menuju kedua sahabat yang menatap bingung dari kejauhan.
"Sai … bolehkah?"
"Kau pasti bercanda Temari." Sai hanya menjawab disertai senyum lebar yang nampak memaksa.
"Jika yang kau takutkan adalah kerusakannya,"
"Aku tidak peduli jika itu hancur sekalipun, hanya coba pikirkan kembali,"
"Aku rasa ini salah satu solusi."
"Apa kau tahu alasannya?"
"Aku tak peduli alasannya Sai, pemuda Uchiha itu sudah terlalu sering menindasku yang bahkan aku tak tahu alasan ia begitu membenciku. Untuk Nara, aku tak mau ia menjadikanku piala yang mudah didapatkan untuk menghancurkan AIS." Jawabnya lirih namun tegas.
"Hei … hei, tunggu, apa sebenarnya yang kalian bicarakan?" Tanya Ino mencoba mengalihkan kedua sosok yang serius didepannya.
"Aku mohon Sai, aku akan mengganti,"
"Pakailah sesukamu Temari, jangan kau pikirkan hal buruk bahkan jika itu terjadi sekalipun, hanya tolong pikirkan dirimu sendiri."
"Ini juga untuk harga diriku, arigatou." Tutup Temari seraya melangkahkan kakinya menjauh saat apa yang diinginkan telah tergenggam.
Jeritan Ino teredam deru Bentley Continental Supersports yang mengambil posisi ditengah area. Nampak begitu anggun kala diapit Lamborghini Veneno dan Saleen S2 Twin-Turbo dikedua sisinya. Beberapa orang yang tadinya terdiam karena masih belum mencerna tertundanya lambaian sapu tangan, kini mulai bersorak. Mereka tak peduli pada pemicu, hanya kenikmatan akan jalannya pertandingan yang terpikirkan.
"Sai-kun, apa yang kau lakukan!" Jerit Ino masih mencoba melepaskan diri dari dekap erat sang kekasih hati.
"Tenanglah Ino-chan, semua akan baik-baik saja."
"Apanya yang baik hah! Temari bahkan hanya bisa menyetir jarak dekat saat aku mengajaknya berbelanja, dan sekarang, balap liar?" Jerit Ino frustasi.
"Bahkan kucing pun dapat berubah menjadi macan liar saat terdesak, Ino."
"Lihat saja, sampai terjadi sesuatu pada Temari, sepupu pantat ayammu itu yang akan aku jadikan kentucky!" Geram Ino.
"Disana juga ada pemuda rambut samurai, sayang."
"Dia sahabatku, dan dia tak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan, Sai-kun." Ada nada merajuk dalam lontar ucapnya.
"Sasuke juga tidak akan mengorbankan mutiaranya tanpa alasan yang jelas, Ino-chan." Balas Sai dengan menatap lembut aquamarine dihadapannya.
"Apa maksudmu? Tidak mungkin, tidak mungkin Sasuke … dan Temari," Aquamarine kian terbelalak kala anggukanlah yang terekam secara jelas.
.
.
.
Onyx itu kian menggelap. Tak perlu melirik untuk mengawasi, namun sempat ia tersembunyi sebelum muncul kembali dengan lebih garang. Kebencian kian menguar seiring ayunan tangan penanda hitungan ketiga yang terefleksi.
'Aku mohon, hanya tetaplah bersinar', batin bungsu Uchiha saat tarikan gas itu menjadi intro apik sebuah pertunjukan pemicu adrenaline.
.
.
.
"Kuso." Decih singkat pewaris rumah sakit Konoha Hospital saat ia harus menginjak pedal dengan ganas demi sebuah kemenangan. Penyesalan itu memang menyelubung bagai pusaran arus yang terasa begitu menghimpit hendak menenggelamkan. Namun ia juga ingin membuktikan bahwa pilihannya selalu tepat, ya, gadisnya adalah refleksi nyata dari pemikirannya.
"I make sure you won't get damaged dear." Bisiknya lirih kala netra itu membidik kearah Bentley yang melesat.
.
.
.
Ketiga mesin super berpacu, memberi pertunjukkan apik pada setiap monitor yang turut merekam setiap prosesnya. Cemas masih mendominasi gadis cantik pemilik tatanan ponytail, ditengah beragam pekik girang penonton kedua kubu yang sedari awal memulai perlombaan penghabis bahan bakar itu. Sebuah kejanggalan kala Veneno melaju bagai pengawal, sangat terlihat mengendalikan laju agar tak sampai mendahului Bentley. Sedangkan Saleen kini menjadi pemimpin pertandingan, meski grey setajam elang itu masih setia mengawasi dari kejauhan.
Temari menunjukkan kegigihannya dengan bukti bahwa ia tak patut diremehkan. Bentley nampak ngotot dalam persaingan, kini Veneno tak lagi bermain aman. Ketiga supercar benar-benar menyapu jalanan. Aspal itu bergetar, nyaris pecah kala terlindas karet yang memutar tanpa ampun. Bentley berusaha mencuri kesempatan di tikungan tajam, sedangkan Saleen masih berupaya mempertahankan posisi dan Veneno yang terus menderu meminta perhatian. Ketiga pedal itu terinjak dengan kuat, onyx menemukan celah, mencoba menyeruak diantara kedua pesaing yang memberi akses terbatas meski tak mudah. Sedangkan si pirang terlalu keras dalam berpacu hingga ia tak melupakan poin penting bahwa adu kecepatan tak hanya mengandalkan gas saja, tetapi juga membutuhkan pengendalian. Setir itu terasa bergerak sendiri, tak terkendali. Ditambah dengan hantaman Veneno yang mencoba memecah formasi awal.
Kejadiannya terasa begitu cepat. Grey terbelalak merekam putaran Bentley layaknya gasing. Sedangkan onyx menatap tak berkedip, memecah konsentrasi antara jalanan yang membentang dan tampilan pada spion tengah. Decit rem terdengar memekik, memecah malam yang kian sunyi.
Jelas sekali netra mereka menangkap moment mengerikan itu. Kaca depan Bentley bagai portal sebagai akses tubuh semampai itu, sedangkan body Bentley masih cukup baik selain goresan tajam di bagian depan dan serpihan kaca pada beberapa ruas jalan.
"Temari … bertahanlah!" Teriak Shikamaru kala mendapati gadis bersurai emas yang nampak payah mencoba tetap menggenggam bebatuan di pinggiran jurang.
Namun teal itu kian meredup, jemari lentik tak lagi kuasa bertahan, tubuh semampai kini terjun mengikuti arah gravitasi. Namun sebelum semua terlambat, sepasang lengan kokoh berusaha menggapai, meski kemungkinan untuk dapat meraih begitu kecil, namun jika cinta telah berkata, maka dewa pun tak dapat berkutik.
"TEMARI!"
Jeritan itu mengiringi dua tubuh yang kini menghantam derasnya air sungai yang dingin. Entah arus itu akan membawa mereka kemana, tapi satu yang pasti, pelukan itu begitu erat, bukankah tadi sudah kubilang bahwa cinta itulah yang membuat segala hal menjadi mungkin?!
.
.
.
"Hei, bangunlah pirang." Bisik baritone itu terdengar pilu, terasa begitu hampa. "Kuso."
Ia peluk erat gadis didekapannya, berharap kehangatan masih dapat tersalurkan meski tubuhnya pun bagai benang basah, begitu layu. Perlahan ia kecup bibir tipis yang tak lagi merona, pucat. Tak seperti sebelumnya, kecupan itu menyalurkan cinta yang telah lama terpendam, terasa begitu hangat meski kedua belahnya membeku. Tetesan air mengalir, tercampur dengan bulir air sungai yang membasahi pipi dengan rahang tegas nan rupawan.
"Gomenasai, hontouni gomenasai," Bibir itu terus berucap lirih, mengulang kosakata yang sama tanpa henti. "Aishiteru Temari." Kini kenyataan itu terungkap.
Benarkah ketulusan itu dapat diukur dari sebuah ucapan? Ataukah harus disertai tindakan nyata? Lantas bagaimana jika ketulusan itu terbungkus secara rapi oleh kekejaman bertubi, masihkan dapat dikatan cinta yang tulus ataukah obsesi? Sebenarnya lebih dominan mana antara cinta dan kebencian itu sendiri?
.
.
.
"Apa kau bilang Shika?" Pekik itu kian membahana ditengah hiruk pikuk lautan manusia pecinta kehuru-huraan yang terpaksa berakhir mengecewakan.
"Ck." Hanya decih yang sanggup menjawab beragam tanya.
"Lebih baik sekarang kira berpencar mencari mereka." Sahut pria berambut secerah mentari yang kini parasnya tak lagi secerah surainya.
"Aku ikut." Teriak Ino lantas menarik tangan Sai untuk segera memulai pencarian sahabat berikat empat kesayangannya.
"Sebaiknya kau disini saja Ino-chan, bersama Sakura, biar kami para lelaki yang mencari Temari." Tutur lembut Sai berusaha menenangkan aquamarine yang membelalak marah.
"Sai," Ino menggeram, amarahnya telah meluap, sedari awal ia telah menentang ide untuk mengijinkan Temari turut serta masuk ke arena balap, dan kini kekhawatirannya terbukti, sahabatnya menjadi korban pertandingan yang mengedepankan gengsi.
"Apa yang dikatakan Sai itu benar, lebih baik kau disini saja bersama Sakura, aku akan mencari Temari sendiri." Sahut Shikamaru berusaha mengendalikan situasi yang begitu berantakan.
"Kami juga akan mencari mereka." Sahut suara dari arah lain, rival.
"Jangan salah paham, kami mencari bos kami, dan kalian mencari gadis miskin itu." Pria berambut abu-abu berantakan yang bernama Sugeitsu itu menambahkan, dibalas anggukan angkuh suara pertama, Sasori.
Buagh
Hantaman itu tak memberikan persetujuan apapun, namun cukup untuk membuktikan bahwa keikutsertaan hanya diijinkan jika masing-masing entitas menjaga jarak jangkaunya.
"I will make sure your mouth is silent forever if you say bad things about Temari again." Bisikan itu merupakan ancaman dan sanggup membuat tangan korban mengepal, meski hanya sebatas itu tanpa melakukan perlawanan berarti.
Tubuh tegap dengan surai hitam yang diikat tinggi seperti nanas itu menjauh, tangan kokoh mengepal kuat. Auranya begitu pekat, ia marah, seperti semua yang peduli dengan kedua korban yang belum diketahui keberadaannya. Namun semua orang disana pun juga tahu, pemilik marga Nara itu belum pernah diliput emosi hingga seperti ini. Pria yang lebih mengedepankan logika dan selalu bersikap dewasa itu, kini bagai anak kecil yang kehilangan mainan berharganya, rapuh, namun kuat disaat bersamaan.
"Kau membuat semua jadi makin kacau, un."
.
.
.
Langit malam kian kelabu, awan pekat menutup sinar bintang yang tadi menghias dengan begitu anggun. Perlahan rintik hujan menyapa dedaunan, hingga kian lama, rintik itu menyerbu dengan derasnya. Kedua anak manusia berbeda gender kian merapat, bagai pinguin yang menghimpun hangat ditengah badai salju, lebih tepatnya sang lelaki lah yang mendekap erat. Tak ada tempat yang benar-benar dapat menaungi mereka tanpa tetesan air sedikitpun. Hanya pohon besar dengan daunnya yang lebat, tempat mereka mengistirahatkan diri.
Sang gadis kian meringkuk, bergerak gelisah mencari kehangatan. Ia gesekkan kepalanya menuju sandaran kokoh yang terasa hangat. Giginya bergemelatuk, kian sering seiring hujan deras yang menghantarkan kelembapan. Perlahan kelopak dengan bulu mata lentik itu terbuka, menampilkan teal yang nampak redup. Hembusan napasnya terdengar berat, seolah meraup oksigen begitu susah meski ia tak berada di ruang hampa.
"Sa … sas … uke?" Lirih ia menyapa, sedikit tak percaya, namun ia tak akan memaksakan diri untuk menolak kala kepalanya terasa makin pening. Sedangkan sang pelindung masih setia mendekap dengan erat, seraya kedua tangan kokoh itu menggesek perlahan menciptakan kehangatan.
"Hn."
"Ken … ngh, kenapa?" Berat, berat ia berucap, namun tetap dipaksanya untuk mengetahui hal yang masih sulit dicerna.
"Karena aku mencintaimu."
Onyx itu menatap teal dengan lembut. Untuk pertama kalinya, sejak mereka saling mengenal dan memulai persaingan tak beralasan. Teal itu membulat, mata sang gadis membelalak, terkejut. Dengan susah ia mencoba memberi jarak, berujung pada tubuh lemahnya yang kian terhuyung hendak mencium tanah.
"Ck, bisakah kau hanya diam? Kondisimu masih lemah, dan ini hujan, kau menjauh, maka kau akan semakin kedinginan." Temari kian terkejut mendapati bungsu Uchiha berkata panjang lebar dengan nada khawatir yang begitu kentara.
"Tidakkah kau lelah Uchiha? Kurasa sudah cukup kau mempermainkanku." Ucap temari sarkas, setelah ia terdiam lama mengumpulkan tenaganya agar dapat bicara tanpa tersendat, meski ia masih harus meraup oksigen dengan rakus.
"Kata-kata itu kukembalikan padamu Sabaku." Balasnya dingin, ingin berlomba dengan suhu sekitar rupanya.
Hening kembali melanda. Hujan masih sama derasnya, bahkan jangkrik dan katak yang ikut berteduh itupun seolah tak ingin mengganggu dengan suara mereka.
"Since a long time ago," Bungsu Uchiha memecah keheningan. "I love you at the same time I hate you,"
"Pengakuanmu tak akan merubah apapun Uchiha, hanya berhentilah berpura-pura."
Onyx itu terpejam, mecoba bersabar mendengar tutur lembut namun tegas dari gadis yang masih dipelukan.
"Hn. Kurasa kau sudah salah paham."
"Menjadikan AIS taruhan dengan aku yang menjadi korbannya,"
"Bukan."
"Lantas?"
Onyx itu kembali menatap lembut, begitu intim, seolah ingin menjelaskan semuanya tanpa harus berucap. Mencoba memancarkan ketulusan yang lama tersembunyi dibalik tembok kebencian.
"Taruhannya adalah keberadaan kami, Temari. Karena yang kalah harus menyerah, menguasai beragam aktivitas di sekolah yang kalah,"
"Astaga … kalian begitu konyol, setiap sekolah memiliki aturannya sendiri,"
"Itu awalnya, namun pertaruhan berubah saat kau datang." Onyx kian menatap tajam, kala ia menangkap sedikit getar ketakutan dari nadanya yang tanpa sadar meninggi, onyx itu kembali terpejam, lantas terbuka dan menatap datar kearah lain. "Yang kalah harus menjauhimu, bahkan aku berusaha menyakitimu agar bisa selalu berada di sekitarmu Temari, dan aku tak mau kalah dalam hal itu."
Teal terkesiap, pemilik surai emas tersenyum tipis, untuk pertama kalinya sepanjang malam ini, ia merasa begitu ringan. Entah sebenarnya apa yang ia rasakan, sebuah kenyamanan dari pemuda yang selama ini selalu mengisi harinya meski dengan menorehkan luka, mungkinkah? Benarkah masih kokoh tembok kebencian itu? ataukah telah melebur dan hanya serupa sekat tipis keraguan?
"Baka."
Bungsu Uchiha pun turut tersenyum tipis saat mereka bersitatap. Semburat merah menghias pipi pucat itu dengan cantiknya. Benarkah cupid barusaja menetapkan targetnya?
.
.
.
"TEMARI!"
"SASUKE!"
Teriakan itu terdengar dari beberapa arah yang berlawanan. Samar tapi mereka masih dapat mendengar ditengah kondisi yang kian lemah karena cuaca dan kejadian beberapa saat lalu. Dekapan itu masih sama eratnya, bahkan mungkin kian erat seiring gemetar gadis yang mencoba mencari kehangatan di cekung leher pemuda Uchiha. Kedua bibir yang kian membiru hanya terdiam, mencoba meraup oksigen ditengah kesadaran yang semakin menipis.
Seiring pandangan yang memburam, bau besi tercium bercampur dengan aroma tanah.
"Tem," Baritone itu tercekat saat tangannya teraliri noda merah yang pekat. "Cih," Ia mendecih, kesal dan lagi, tetesan itu mengalir diantara keangkuhan.
Ia terlambat menyadari keadaan seseorang yang sejak tadi berusaha dilindungi. Dengan segenap kekuatan ia mengangkat tubuh semampai yang nampak ringkih. Langkah begitu dipaksakan, karena jika ia menyiakan detik selanjutnya, nyawa gadis di gendongannya mungkin tak tertolong.
"Astaga bos, apa yang terjadi?" Pekik pria cantik berambut pirang yang hanya dibalas tatapan tajam ketiga pria lainnya.
"Apa yang kau lakukan Nara?" Onyx itu masih bersikeras menantang meski tubuh lemahnya hanya mendapat seringai ejekan dari beberapa orang dihadapannya.
"Membawanya ke rumah sakit secepat mungkin."
Kedua tangan itu masih saling berebut, hei … tak sadarkah kalian bahwa keegoisan hanya akan memperlambat keselamatan gadis itu?
"Aku yang akan membawanya."
Pemuda bermarga Nara hanya menyeringai, mencemooh, dan grey itu kian tajam melawan. "Dengan kondisimu yang seperti ini?"
Buagh
Bungsu Uchiha jatuh terduduk saat tulang keringnya dihantam secara tiba-tiba. Untung saja tubuh gadis digendongannya telah beralih dengan cepat dalam dekapan erat sang Nara. Kini pemuda berkuncir bagai samurai itu berlari kencang menembus hujan, mencoba menebus waktu yang telah terbuang percuma, meninggalkan perkelahian dibelakang sana dengan iringan tatapan onyx yang sarat akan luka.
.
.
.
"Astaga Tema-chan!" Pekik kedua wanita berambut pirang dan gulali.
Saleen S7 Twin-Turbo itu melesat meninggalkan area pertaruhan yang membawa bencana. Ditengah konsentrasinya menatap jalanan, jemari itu mengetik nomor yang telah dihafal diluar kepala dengan cepat.
"Moshi … moshi Tou-san,"
Sedangkan beberapa supercar lain mengikuti laju setan merah dengan kecepatan yang terkontrol. Kecemasan terasa menyelimuti setiap manusia dengan tingkat kelabilan yang tinggi.
"Sekarang kau puas Sai-kun?" Nada itu begitu dingin, terasa aneh saat wanita yang terbiasa berbicara dengan ceria itu mengucapkannya. Mereka kini terpaksa menumpang mobil Naruto karena Bentley harus masuk ruang operasi pula.
"Tapi bukankah kau juga melihat buktinya Ino-chan,"
"Ya, tapi haruskah Tema-chan jadi korbannya?" Kini ia meratap.
"Semua pasti ada harganya, sayang," Jemari pucat itu menggenggam lembut, mencoba menyampaikan pesan bahwa semua masih berada pada jalur seharusnya. Jade dan Saphire yang menatap dari depan hanya bisa menghela napas mencoba mengerti keadaan.
Sedangkan didalam Veneno, kini onyx telah sepenuhnya terpejam. Mencoba menenangkan diri sendiri akan nasib gadis yang selama ini ia sakiti sebagai alibi akan cinta yang dirasakan.
"Apa yang sekarang kau lakukan?" Tanya pria berambut merah mencoba memecah keheningan.
"Hn."
"Hei bung, tak adakah kosakata lain selain dua konsonan menyebalkan itu?"
"mmmm, anu, maksudku coba kau pikirkan lagi." Koreksinya saat onyx menatap tajam.
Hanya helaan napas yang menjawab. Pemuda berwajah baby face hanya dapat menggelangkan kepala dengan gemas, kala sahabat sekaligus bos geng yang ia hormati kebingungan akan cinta. Masih ia ingat dengan jelas setiap ide jahat yang dilayangkan pada gadis Sabaku setiap harinya. Setiap ditanya alasan yang mendasari, hanya kemiskinan dan kata tak pantas lah yang dijadikan jawaban.
"Kita juga ke Konoha Hospital?"
"Hn."
.
.
.
"Dia baik-baik saja nak, bagaimana dengan bekas suntikannya?" Tanya pria paruh baya yang serupa dengan lawan bicaranya.
"Hm, ini hanya luka kecil Tou-san, untung saja darah kami cocok."
"Masuklah, Tou-san harus menangani pasien lainnya, jaga dia." Anggukan mantap sebagai jawaban atas ketersediaan.
"Bagaimana kata Shikaku-jisan?" Tanya Ino cemas saat Shikamaru baru saja membuka pintu bangsal tempat Temari berbaring.
"Hanya kekurangan darah, luka dikepalanya juga sudah diobati, tinggal menunggunya siuman."
"Yokatta."
"Kalian pulanglah, biar Temari aku yang jaga." Ucap Shikamaru seraya mengambil posisi di dekat dara cantik yang kini terbaring lemah.
"Ne, mengambil kesempatan untuk mendekati Tema-chan, hm?" Goda Sakura yang melirik jahil kearah Shikamaru yang hanya memutar bola mata kesal.
"Mendokusei." Hanya dibalas kikikan kecil bagai penyihir dari kedua gadis cantik yang masih sepenuhnya sadar dalam ruangan.
Akhirnya setelah perdebatan panjang yang menjengkelkan menurut Shikamaru, semua yang mengkhawatirkan kondisi Temari memutuskan untuk pamit. Kini hanya tersisa dua entitas dalam ruang dengan pekat obat. Shikamaru menggenggam erat jemari lentik yang masih setia terdiam dalam buai bius pasca operasi kecil beberapa waktu lalu. Wajah mengantuk benar-benar lepas dari tunggal Nara itu. Masih ia tatap dengan intens gadis dihadapan, menilik secara cermat menelusuri pahatan mempesona Kami-sama yang ia kagumi sejak lama.
"Shika, astaga, apa yang terjadi? Tadi Tou-sanmu mengatakan hal buruk tentang gadis yang kau suka, ah! Inikah dia? Cantik sekali!" Pekik heboh wanita yang masih nampak cantik diusia pertengahan 50 itu. Hei, kecemasan itu cepat sekali tergantikan dengan keceriaan?
"Mendokusei, Kaa-san, ini rumah sakit." Balas Shikamaru lirih berharap ibunya dapat lebih mengontrol volume yang dikeluarkan.
"Yang bilang ini pasar juga siapa, anak bodoh! Lagipula ini rumah sakit kita, semua orang juga tahu bagaimana sikap Kaa-sanmu ini." Seru Shikaku yang tiba-tiba masuk menyusul istrinya, mungkin mengantisipasi agar tak terjadi hal yang menghebohkan lebih dari ini. Dan dibalas dengan delikan tajam dari Yoshino yang membuat kedua pria dihadapannya mengkerut.
"Jelaskan." Paksa Yoshino yang hanya dibalas kuapan malas anak tunggalnya.
"Kami balapan, ada Uchiha juga, lalu dia jatuh dan aku membawanya kesini."
"Uchiha?"
"Ya, Uchiha Sasuke, anak yang selalu melibatkan Temari dalam masalah selama ini, setidaknya itu info yang aku dapatkan dari Ino. Tapi ia juga yang menolong Temari tadi,"
"Yang benar yang mana? Kenapa seolah-olah ia penjahat yang baik disini? Robin-hood heh?" Tanya Yoshino merasa tak puas.
"Entahlah, aku tak tahu apa yang terjadi, tapi sepertinya ia menyukai Temari."
"Awas saja sampai kau melepaskan gadis ini! ah, siapa namanya tadi?" Ancam Yoshino yang dibalas tatapan malas anaknya.
"Temari, tentu saja tidak Kaa-san, selama ini aku selalu diam, bukankah kuda juga harus bergerak dengan aktif?"
"Ya, tapi pikirkanlah keinginannya juga," Sahut Shikaku seraya menatap iba pada gadis yang masih terbaring lemah.
Yoshino pamit, meninggalkan banyak sekali wejangan bagi anaknya yang malas itu setelah mengecup kening Temari dengan sayang, diikuti Shikaku yang masih harus melakukan kontrol ke beberapa ruangan pasien.
Sasuke masuk degan angkuh yang dibalas tatapan sengit dari Shikamaru. Sasuke hanya terdiam dengan jarak yang cukup jauh dari ranjang, masih memegang engsel pintu meski tangan yang bebas kini terkepal.
"Siapa kau?"
"Haruskah aku memperkenalkan diri?" Balas Shikamaru angkuh.
"Cih, she's mine Nara." Sasuke mencoba menegaskan hal yang masih terlampau samar.
"Aku tidak melihat sedikitpun tanda kepemilikanmu Uchiha."
"Kau tidak tahu apapun."
"Apakah pesonamu menghilang huh? Carilah gadis lain untuk kau jadikan mainan, karena aku tak akan melepaskan gadisku begitu saja."
Sasuke hendak melangkah sebelum kalimat usiran terdengar menyapa gendang telinga. "Pergilah, ini sudah melebihi jam besuk."
Dengan berat hati ia langkahkan kaki jenjangnya keluar, menyapa angin dingin di sepanjang lorong yang nampak menakutkan. Meninggalkan gadisnya bersama pria lain dan terlalu jauh dari jangkauan, ia bukan kalah, tapi hanya mencoba mengalah. Bukankah hal yang sangat jarang bagi keturunan Uchiha untuk melakukannya? Namun ia tak menyesal, karena kini segalanya akan ia lakukan, untuk mendapatkan atensi sepenuhnya dari gadis Sabaku yang telah lama terukir secara cantik mengisi kekosongan hati. Gadis yang berhasil menguatkannya sekaligus menghancurkan eksistensi bungsu Uchiha dalam hitungan detik.
Ia hanya tersenyum pilu menatap pantulan diri pada setiap jendela yang terlewat. Ia hanya tak sadar bahwa korban dari kebodohan cinta bukanlah ia seorang, tetapi juga termasuk pemuda Nara yang kini benar-benar telah keluar dari zona nyaman. Tak lagi mengalah atau berdiam diri, tapi telah menunjukkan taring tanda dimulainya sebuah pertaruhan. Harga diri ataukah cinta?
.
.
.
.
TBC
Mind to RnR minna?
.
.
.
.
Hikarishe wah apakah disini Temari sudah memenuhi standar Hika-san? Hehehe, gomen .
AiTemaah, semoga tidak discontinue karena Kei sendiri juga merasa miris kalau ada fic yang gak kelar
Oneofthegirlhihihi, ini kei udah lanjut, review lagi ya
Rara di chap ini gak terlalu kelihatan berantemnya sih, secara implicit aja pertarungannya, tapi semoga udah cukup menggambarkan konflik
Naraaa hehehe iya karena Kei pinginnya Ino tetep kayak canon yang ngedukung Shikatema, walaupun gak tahu lagi ya endingnya Sasutema atau Shikatema, ops!
Zevivira wah kalau 2 hari sekali bisa-bisa Kei keriting otak sama jari dong hehehe
Shikanara-chan ah arigatou, ini udah bisa lanjut
Gikkirinarayokatta hihihi Kei gak tahu sensasi apa yang dirasakan tapi arigatou
Dessertlily7 arigatou ya Lily-san untuk koreksinya hihihi, Kei tunggu reviewnya
