Malam, malam yang dipenuhi oleh cahaya lampu yang sedang berlari satu sama lain. Terlihat sangat indah bagi Tsumugi Kotobuki. Mungkin dia tidak tahu bahwa sebenarnya dia sedang berada di dalam Peugeot 807.
"Ah... Sejak kapan aku sudah ada disini?"
"Oh akhirnya sadar juga kau, Mugi. Kalau tidak... Mungkin kau sudah dibuang pas penggantian pengemudi tadi." Kata Ritsu.
"Ritsu-senpai! Parah deh. Jangan dipeduliin ya Mugi-senpai." jawab Azusa.
Mugi pun hanya tertawa karena ucapan Ritsu barusan. Kemudian dia berpikir dimana dia berada. Kemudian, kenapa Yui-chan yang mengemudi... Apa jangan-jangan mereka langsung membawaku ke tempat tujuan? Pada saat Mugi berusaha menanyakan apa yang ada dipikirannya... Sebuah Nissan Primera menyalip mereka dengan kecepatan luar biasa.
"Hoi! Itu Perimera gak takut kalo ntar tabrakan?! Nekat bener yang bawa!" kata Sawako yang kaget akibat manuver Nissan Primera itu barusan.
"Eh, itu kan... Nissan Primeranya Rizki!? Tapi kok nomor platnya berbeda dengan yang kita lihat waktu itu ya?" Tanya Yui yang kebingungan melihat Nissan Primera yang mereka salip.
"Sip. Akhirnya Peugeot 807 itu sudah masuk kedalam konvoi. Tinggal tunggu Legacy dan IS300 untuk bisa merapatkan jarak dengan 807 dan mobil ini." Gumam Rizki.
"Itu punyanya Rizki yang kau maksud, Yui-chan?" Tanya Sawako yang penasaran.
"Iya, Sawa-chan. Warna biru yang terinspirasi dari mobil balap... Suara mesinnya yang khas serta bunyi desingan pas deselerasi membuat mobil itu gampang dikenali." Jawab Yui.
"Terus yang membuat aku penasaran, kenapa dia sepertinya menahan kecepatan mobilnya? Atau jangan-jangan..." Kata Mio yang kebingungan.
"Jangan-jangan?" Tanya Ritsu.
Sementara itu, sebuah Lexus IS300 berusaha untuk masuk kedalam celah diantara 807 dan Primera. Dilihat dari pergerakannya, IS300 tersebut sepertinya meminta izin kepada pengendara 807 untuk memberikan celah untuk menyalip. Yui pun memelankan mobilnya agar IS300 tersebut bisa menyalip. Rizki yang melihatnya pun hanya bisa tersenyum melihat keadaan itu
"Akhirnya... Tinggal satu lagi, maka formasinya bakal sempurna."
Sebuah Legacy Wagon tiba-tiba mendekat dengan kecepatan yang luar biasa. Kalau saja pengemudinya tidak bisa mengendalikannya... Kecelakaan hebat bakal terjadi di Tomei Expressway. Untungnya, Legacy itu bisa melambatkan lajunya sebelum terlambat.
"Akhirnya... Walau tadi Kona-chan harus ngerem mendadak... Setidaknya, terkejar deh rombongannya Rizki." kata Tsukasa sambil menarik nafas lega.
"Ya ampun, Konata. Cara bawamu itu sama gilanya dengan Yui-neesan. Untung aja kau tak seagresif dia." Kata Kagami sambil facepalm.
"Seengaknya aku itu masih mending dari Kagami yang masih belum punya sim." Sahut Konata sambil memasang tampang meledek.
"KONATA!" Teriak Kagami sambil berusaha untuk melambatkan Legacy Wagon tersebut.
Pada akhirnya, usaha Kagami tersebut gagal. Bukan hanya gagal membuat Legacy itu berhenti. Namun, disisi lain... Kagami pun ditertawakan oleh hampir semua penghuni di konvoinya Rizki tersebut.
"Achoo"
"Kayaknya aku mulai kena flu ya?"
"Ok, karena semuanya berkumpul... Mari kita mulai koordinasi konvoi kali ini." Sahut Rizki.
"Sebelumya, aku mau nanya. Kok bisa ya... Pembicaraan di Legacy Wagon itu kenapa bisa terdengar sampai sini?" Tanya Kuroko yang kebingungan.
"Setiap mobil sudah terpasang sistem telepon. Dan alat itu hanya digunakan pada saat koordinasi konvoi atau hal-hal darurat." Jawab Rizki.
"Oh begitu." Jawab Kuroko.
"Ahem, konvoi kali ini menggunakan tema... High Speed Convoy!" Sahut Rizki.
"High Speed Convoy? Jangan dibilang nanti kita harus... Ngebut?" Tanya Misaka dengan penekanan pada kata ngebut
"You know what i mean, Misaka. Dan inget keceparan minimalnya 180 km/h ya." Sahut Rizki.
"180 km/h? Tak salah tuh Riz?" Tanya Konata. "Semoga aja mobilnya ndak ada speed limiternya." Katanya.
"Kalo itu sih namanya... Derita Lu." Jawab Rizki sambil ketawa.
"Baru ingat. 807 ini sanggup tidak untuk mencapai 180 km/h?" Tanya Mio.
"Sanggup tidaknya sih tergantung pengemudi. Kalo mobilnya sih emang sanggup." Jawab Rizki.
"Ano... Nanti kita istirahatnya dimana? Cape lo duduk dimobil dari tadi sore." Tanya Tsukasa.
"Tempat istirahat... Mungkin di pom bensin di jalur nasional 1. Atau kalau tak sempat ya berhenti aja di pinggir jalan." Jawab Rizki.
"Riz, kau itu serius tuh? Artinya di semua pom bensin di jalur nasional 1 harus berhenti dong." Sahut Misaka.
"Ya, gak gitu juga sih. Cuman pasti salah satu pom bensin bisa kita pakai sebagai tempat istirahat." Jawab Rizki. "Tidak ada pertanyaan lagi? Kalo begitu langsung saja dimulai konvoinya." Kata Rizki.
Setelah pembicaraan ditutup, keempat mobil yang didalam konvoi langsung menambah kecepatan. Karena perbedaan akselerasi, Primera dan Lexus IS300 bisa meninggalkan 807 dan Legacy dibelakang. Namun, karena mereka berpindah ke luar jalan tol, Rizki dan Misaka terpaksa memelankan laju mobil mereka. Sehingga 807 dan Legacy bisa mengejar. Namun, laju 807 sepertinya terlalu cepat.
"Oi, Yui. Apa ini yang namanya ketakutan karena kecepatan?" Tanya Mio sambil berpegangan pada door trim.
"Eh? Kan tadi Rizki bilang kecepatan minimal 180 km/h." Jawab Yui.
"Tapi kalo situasinya kaya gini sih... Yui-senpai, Awas!" Sahut Azusa.
Namun, Yui hanya sedikit menginjak rem. Sisanya dia hanya memutar setir dengan sangat cepat. Sehingga mobilnya mengalami sliding. Pada saat mobilnya sedang sliding, entah mengapa Yui malah melepas tangannya dari setir dan mengambil minuman kaleng yang ditaruh di cup holder.
"Eh, Yui-chan. Kamu lagi ngapain?" Tanya Sawako-sensei.
"Hem... Jadi kepingin minum pada saat begini." Jawab Yui yang dibalas dengan ekspresi shok pada Sawako-sensei dan personil HTT yang lain.
"Eh, Yui! Apa yang kau lakukan? Cepat pegang setirnya!" Sahut Ritsu yang mulai panik.
"Yui-senpai! Ah, Yui-senpai bodoh! Yui-senpai!" Teriak Azusa yang panik.
"Aku tidak mendengar apapun, aku tidak melihat apapun... Aku tidak mendengar apapun, aku tidak melihat apapun... Aku tidak mendengar apapun, aku tidak melihat apapun!" Sahut Mio sambil menutup matanya.
807 yang masih sliding itu pun akhirnya kembali stabil. Tentu saja tanpa menabrak pembatas jalan dan mobil lain yang melintas. Kebetulan Yui pun sudah selesai menghabiskan minuman kalengnya...
"Hm... Lumayan. Memang kalau soal setting suspensi Rizki lumayan bisa diandalkan." Kata Yui yang puas dengan manuver 807.
"Eh, Lumayan katamu? Tadi itu kau hampir membuat kecelahaan tahu!" Sahut Sawako.
"Oh? Sekarang waktunya untuk serius." Jawab Yui sambil memegang kembali setirnya.
807 tersebut berusaha untuk mengejar IS300 dengan segala kemampuannya. Yui membuat 807 tersebut meliuk-meliuk di tikungan dan ditengah lalu lintas dengan sempurna. Bahkan, kalau saja Yui turun di balapan Super GT atau sejenisnya... Dia bisa membuat banyak pembalap merinding. Sawako-sensei dan personil HTT pun merinding dibuatnya.
"Tolong keluarkan aku dari sini!" Sahut Mio yang ketakutan karena manuver yang dibuat Yui.
Akhirnya, Rizki dan pasukannya telah sampai di suatu pom bensin. Disana mereka mengisi bensin mobil masing-masing. Dan mereka pun bisa istirahat sejenak sabil makan malam di convenient store. Setelah makan malam, mereka pun berkumpul untuk mengobrol sesaat. Tak lama kemudian, sebuah mobil polisi pun datang menghampiri mereka. Kemudian, keluarlah seorang perempuan dari mobil itu. Lalu...
"Sepertinya kita sudah lama tidak bertemu ya... Primera."
Misaka dan kawan-kawan pun kaget mendengar ucapan dari polwan tersebut. Bahkan mereka pun berpikir siapakah 'Primera' itu. Namun, Rizki pun kaget dan menghampiri polwan tersebut.
"Kamikaze!?" Sahut Rizki.
"EEEEEEEHHHHHHH!?" Teriak Misaka dan kawan-kawan yang kaget akibat dari ucapan Rizki.
