Unspeakable

By Salt no Pepper

Naruto © Masashi Kishimoto

Summary: "Ada seseorang yang sedang kutunggu, orang yang sangat berarti bagiku. Karena itu, walau penantian ini bisa sampai bertahun-tahun, aku akan tetap menunggunya."

Warnings: OOC, AU, maybe typo(s), alurnya mungkin sedikit membingungkan bagi beberapa orang

Chapter 2

-The Waiting-

Sejak pertemuan itu, setiap hari sepulang sekolah aku selalu ke taman itu. Dan aku akan duduk di bangku tempat aku pertama bertemu dengannya, menunggunya. Ketika ada orang yang lewat, aku akan menunjukkan sebuah lukisan berukuran 15x20 dan berkata, "Jika kau melihat gadis ini, bisakah kau beritahu dia kalau aku menunggunya disini?" Mungkin bukan cara terbaik, tapi apa lagi yg bisa kulakukan?

Lukisan yang kutunjukkan adalah lukisan yang kubuat sendiri bergambar seorang wanita berambut biru panjang yang sedang tersenyum. Dialah gadis lavender yang selama ini kutunggu. Yeah, begitulah aku menyebutnya. Kedengaran norak memang, tapi lavender-lah yang selalu mengingatkanku akan dirinya.

Karena hal itulah, akhir-akhir ini aku jadi sering melukis bunga lavender saat ekskul lukis. Sai-sensei, pembimbing ekskul lukis di sekolahku, merasa heran padaku. Jelas saja, karena selama ini aliran lukisku adalah abstrak. Mungkin itu karena dulu aku belum mempunyai sesuatu yang ingin kucapai dalam hidupku. Makanya aku melukis dengan abstrak, tanpa ada makna apapun yang tersirat. Tapi sekarang aku punya! Gadis lavender itulah yang ingin kuraih, dialah tujuan hidupku.

######

Sudah 3 bulan sejak aku bertemu dengannya di bulan Februari. Selama 3 bulan itulah aku selalu menunggunya. Seorang gadis yang seenaknya saja mencuri hatiku, bahkan tanpa kutau namanya. Walau sudah cukup lama tidak melihatnya, wajahnya masih terbayang jelas di benakku. Kenangan tentang dirinya memiliki ruang istimewa di memoriku, karena itulah aku tidak pernah tersesat saat pergi ke taman.

Seperti murid kelas 3 SMA lainnya, aku mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi Ujian Nasional. Persiapan itu menguras banyak waktuku, sehingga aku jarang kembali ke bangku taman favoritku. Ini sungguh membuatku frustasi, tapi kemudian aku menemukan cara untuk menenangkan diri. Melukis. Jika aku merasa tertekan, aku akan melukis si gadis lavender atau padang lavender atau malah keduanya. Dan aku akan merasa rileks dan fokus kembali.

#####

Setelah hari-hari yang berlalu bagai neraka, akhirnya UN pun selesai, dan aku sungguh lega karenanya. Sekarang aku bisa dengan leluasa datang ke taman kapanpun aku mau. Aku belum memikirkan ingin masuk kuliah atau tidak, jadi hal itu bukanlah masalah buatku. Apalagi setelah aku diumumkan lulus, semua beban serasa terangkat dari pundakku. Dan sekarang aku bisa melakukan apapun yang kumau. Bahkan aku bisa saja menginap di taman kalau aku mau. Hei tunggu, kenapa tidak? Itu kedengaran seperti ide bagus bagiku.

Kemudian aku pun mulai menginap di taman. Memang tidak mudah, karena awalnya ayah dan ibu menentang keras keputusanku yang menurut mereka kekanakan. Tapi aku lebih keras kepala daripada mereka, dengan gigih aku berusaha meyakinkan mereka bahwa aku serius. Lama-lama mereka pun memahami keseriusanku dan membolehkanku tinggal di taman.

Maka hari itu juga, aku membenahi barang-barangku dan pindah ke taman. Tidak banyak barang yang kubawa, hanya sebuah sleeping bag, beberapa pakaian, payung, jam tangan, dompet, perlengkapan mandi, dan tentu saja lukisan si gadis lavender. Kebetulan di sekitar situ ada kamar mandi umum yang terawat, restoran cepat saji 24 jam, dan mini market 24 jam, jadi aku tetap bisa hidup teratur.

Sebagian besar waktuku kuhabiskan di bangku taman, terkadang aku akan berjalan mengelilingi taman yang berbentuk lingkaran ini. Jika hari hujan, aku akan berteduh di restoran cepat saji. Untunglah, Akamichi Chouji –manajer restoran itu- tidak keberatan. Dia bahkan memberiku pekerjaan di restorannya dengan shift malam. Ibuku juga sering memberiku buku untuk dibaca, jadi keseharianku tidak terlalu membosankan.

#####

Aku tetap menanyai orang-orang yang kutemui tentang si gadis lavender. Tapi entah kenapa, tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Mungkin saja dia terlalu malu untuk mengangkat kepalanya saat bicara, sehingga tidak ada yang melihat wajahnya. Tidak ada yang tidak mungkin, kan?

Selama aku tinggal di taman, tidak jarang orang-orang yang lewat memberiku uang receh. Aku selalu mengembalikan uang itu pada mereka dan bertanya tentang gadis lavender. Pernah juga, seorang polisi menghampiriku. Dia bilang aku tidak boleh tinggal di sini. Aku pun membalas,

"Ada seseorang yang sedang kutunggu, orang yang sangat berarti bagiku. Karena itu, walau penantian ini bisa sampai bertahun-tahun, aku akan tetap menunggunya."

Teman-temanku berpikir aku gila, mereka terus membujukku untuk menghentikan aksi konyol ini. Mereka ingin aku kuliah seperti mereka. Sayangnya, aku benar-benar keras kepala dalam hal ini.

Mereka semua -orang-orang yang lewat, polisi, teman-temanku- tidak mengerti. Tidak sama sekali. Aku tidak butuh uang, peringatan, maupun bujukan. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah kedatangan si gadis lavender. Meraka tidak tau betapa pentingnya gadis itu bagiku. Bagaimana mungkin aku pergi dari sini, sementara hatiku masih ada padanya?

#####

Sampai suatu hari, aku didatangi oleh seorang wanita berambut pirang panjang dan bermata aquamarine. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Yamanaka Ino, seorang penulis artikel majalah terkenal. Wanita yan lebih tua dariku itu memintaku menceritakan apa yang membuatku tinggal disini, sementara sebenarnya aku adalah anak dari keluarga mampu.

Awalnya aku enggan menceritakan tentang gadis lavender padanya. Tapi Ino bilang, jika ceritaku masuk majalahnya, maka peluang gadis itu menemuiku akan semakin besar. Kemudian aku pun menceritakan pertemuanku dengan gadis yang telah membuatku jatuh cinta. Gadis yang telah menorehkan kisah di halaman kosong cerita cintaku.

Ketika aku selesai bercerita, aku menunjukkan lukisan gadis lavender kepadanya untuk difoto. Dia pun pamit setelah aku menolak honor yang ditawarkannya atas ceritaku.

Ternyata Ino tidak bohong padaku, seminggu setelah wawancara itu, Sakura dan beberapa teman perempuanku datang mengunjungiku. Mereka memberitahuku kalau sekarang aku terkenal. Yap. Terkenal, sebagai pemuda yang menjadikan seorang gadis menjadi tujuan hidupnya. Orang-orang membicarakanku dimana-mana, di internet, di majalah, dan berbagai media lainnya.

Aku memang bukan tipe orang yang mengikuti perkembangan gosip, jadi wajar jika aku tidak tau. Teman-temanku juga mengatakan padaku, bahwa dengan banyaknya berita denganku di berbagai media, tidak lama lagi gadis yang kutunggu akan segera datang. Aku percayai saja perkataan mereka. Tidak ada alasanku untuk pesimis, kan?

#####

Sebulan berlalu sejak aku mulai terkenal, belum ada kabar apapun tentang gadis lavender. Jujur saja aku heran, kenapa ia tidak kunjung datang? Dengan luasnya jangkauan internet sekarang, hamper tidak mungkin dia tidak tau aku menunggunya.

Pikiran-pikiran buruk mulai hinggap di otakku. Mungkin saja dia merasa aku mempermalukan dirinya dengan bertingkah bodoh seperti ini. Atau mungkin, dia berpikir aku hanyalah orang bodoh yang tidak penting untuk ditanggapi. Atau jangan-jangan, dia malah mengira aku adalah pemuda cari sensasi yang ingin menjadi artis secara instan?

Aku tidak peduli jika hal-hal itu memang benar. Aku tau ini egois, tapi aku akan selalu menantikan kedatangannya. Aku tidak akan beranjak dari sini. Karena aku, mencintainya..

-TBC-

Halo semuaa! Salt datang membawa oleh-oleh chap 2 nih. Mungkin abis baca chap ini, beberapa readers udah ada yang tau sumber inspirasi Salt untuk fic ini. Buat yang belom tau, fic ini terinspirasi dari lagu The Man Who Can't Be Moved nya The Script. Gimana? Bagus gak?

Huwee~ Salt udah berusaha membuat fic ini se-logis mungkin, tapi maaf kalo ceritanya masih agak gak masuk akal. Maklumilah author baru yang cantik nan imut nan unyu ini #plakk. *Nengok ke atas* Waks! Pendek amat ya? Maaf Micchi-chan, Salt belum bisa bikin yang lebih panjang untuk chap 2 ini T^T

Salt boleh curcol dikit gak? Jadi, rencananya chap 2 ini mau Salt update hari Sabtu kemaren. Eh, rupanya warnetnya mati lampu. Hiks, padahal Salt udah PM-in author-author login yang ngereview chap 1 Unspeakable. Maafkan Salt ya! *ojigi*

Nah, ayo sekarang kita membalas review!

Yamanakaem0: Bagus? Keren? SERU? Selamat! Anda mendapatkan hadiah piring cantik karena berhasil membuat Author pingsan dengan pujian anda! #lebay. Huwaa, makasih! Salt seneng banget fic debut Salt dipuji begini *peluk-peluk* Baiklah, di chapter ini dan berikutnya, Salt gak akan menerima flame kecuali dalam bentuk uang! #plakk. Arigatou for review ^^

Buat yang login, review-nya dibales lewat PM

Ngomong-ngomong, fic ini termasuk drabble gak?

Sekarang, maukah kalian memberikan komentar dan concrit dalam bentuk review? Salt akan menerimanya dengan senang hati!

~('o' ~) (~'o')~